peperonity.com
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Forgot login details?

For free!
Get started!

Kugantikan Istrinya | ceritagay


Kugantikan Istrinya
Siang itu aku bermaksud mengajak sahabatku
jalan-jalan, maka kuhampiri ia di rumahnya. Saat
kuketuk pintu, ternyata yang membukakan adalah
ayahnya, yang selama ini aku kagumi. Ayahnya adalah
seorang tentara angkatan darat yang bertugas di
Semarang. Karena hari itu Sabtu, kupikir ia sedang
off.

"Angga ada, Pak?" tanyaku pada ayah Angga, yang kala
itu masih mengenakan seragam hijaunya lengkap tanpa
sepatu.
"Oo, Dik Bondan. Masuk dulu, Dik! Silakan duduk!"
katanya ramah mempersilakan aku untuk masuk dan duduk.
"Angga dan adiknya serta ibunya sedang ke Semarang.
Katanya ada urusan keluarga. Saya juga seharusnya ke
sana, tapi berhubung saya lelah, jadi saya urungkan
niat saya".
"O, gitu ya, Pak!" kataku sedikit kecewa.
"Benernya saya mau ngajak Angga jalan-jalan. Maklum,
habis ujian".
"Memangnya harus sama Angga? Nggak ada teman yang
lain?" tanya Pak Sigit, ayah Angga.
"Ya mau sama siapa lagi, Pak! Lha wong temen yang
paling deket dengan saya juga cuma Angga. Yang lain
paling udah punya acara sendiri-sendiri, Pak!" kataku
dengan logat Jawa yang cukup kental.
"Wah, kebetulan. Gimana kalau sama saya saja. Saya
juga lagi males di rumah sendirian" kata Pak Sigit
menawarkan.
"Tadi sih kirain ada istri saya, jadi bisa 'gituan'
setelah seminggu ini ditahan. Ee, malah ternyata istri
saya ke Semarang. Ya sudah, saya cuma bisa gigit
jari".
"O, ya nggak Papa, Pak!" jawabku singkat.
"Tunggu ya, Bapak ganti baju dulu!" katanya seraya
beranjak pergi.

"Oh My God! Aku akan jalan-jalan bareng Pak Sigit.
Cuma berdua, lagi. Duh, gimana ya rasanya? Asyik kali,
ya?" tanyaku dalam hati.
Terus terang, aku memang sangat suka pada ayah
sahabatku itu sejak pertama kali aku dikenalkan Angga
padanya. Walau Pak Sigit lebih pendek dariku, tapi
perawakannya begitu jantan. Tangan dan kakinya tampak
berotot, sementara bekas cukuran selalu membuatnya
tampak lebih macho. Aku belum pernah melihat Pak Sigit
bertelanjang dada, apalagi tanpa pakaian sepenuhnya.
Tapi, bukankah kesempatan itu pasti akan selalu ada
walau hanya sekali.
"Ayo, Dik Bondan" kata Pak Sigit sekeluar dari
kamarnya.
Suaranya yang khas membuatku tersadar dari khayalanku
tentang dirinya.

Akhirnya, dengan Pak Sigit sebagai pengendara, kami
berdua mulai meninggalkan kompleks rumah Pak Sigit.
"Keliling Jogja juga boleh, asal bisa melepaskan
penatku aja, Pak!" kataku pada Pak Sigit ketika ia
bertanya padaku tentang tujuan kami.
Selama perjalanan, aku tak henti-hentinya memandang
tubuh kekar Pak Sigit dari belakang. Sudah lama aku
impikan berdua sedekat ini dengannya. Kini, ia memakai
celana training tipis, kaos hijau ketat, dan jaket
yang membuatnya tampak lebih berwibawa.

Setelah beberapa waktu, aku mulai memberanikan diri
meletakkan kedua tanganku pada masing-masing paha Pak
Sigit. Tak tampak penolakan sedikitpun darinya.
Menyadari hal demikian, aku pindahkan tanganku,
sehingga kedua tanganku kini melingkar di perut Pak
Sigit. Hal ini pun juga tidak mengurangi konsentrasi
Pak Sigit dalam berkendara. Mungkin hal ini menjadi
hal biasa baginya, tapi bagiku ini adalah sebuah
kesempatan yang sangat sayang jika dilewatkan.

Kugesek-gesekkan tanganku secara perlahan pada
perutnya, dan ternyata dapat kurasakan kerasnya perut
Pak Sigit.
"Sebuah hasil dari latihan militer yang sedemikian
keras" pikirku.
Aksiku hanya sebatas menyentuh perutnya, tidak lain.
Aku tidak melakukan hal yang lebih jauh, karena aku
masih belum cukup bernyali untuknya. Akhirnya, dengan
tanganku yang melingkar di perut Pak Sigit, perjalanan
keliling Jogja kami habiskan dengan mengobrol kesana
kemari, termasuk seks.

Sebagaimana kudengar, Pak Sigit ternyata memiliki
libido yang cukup besar. Ia mengaku mudah terangsang
dan selalu ingin segera melampiaskan nafsunya itu.
Tapi untunglah, pekerjaannya mampu membantunya
menurunkan libido yang sering muncul secara tiba-tiba.
Biasanya, libido yang sempat ditahannya selama hampir
enam hari, ia salurkan dengan 'bergaul' dengan
istrinya, saat ia pulang ke Jogja pada hari Sabtu.
Setelah sekali main di sore hari, kemudian disambung
di malam harinya, lantas pada saat ayam jantan
berkokok. Itupun Pak Sigit mengaku masih kurang puas.
Biasanya secara diam-diam ia mengocok sendiri
kontolnya di kamar mandi.

Obrolan-obrolan kami itu ternyata telah membuat
kontolku ngaceng. Aku ingin berbuat yang lebih lagi
dengan Pak Sigit, tapi kuurungkan niatku itu karena
ternyata motor sudah membawa kami kembali ke kompleks
rumahnya. Setelah memarkir kendaraan, ia segera
mempersilakan aku duduk di ruang tamunya. Pak Sigit
masuk ke kamarnya, dan tak berapa lama kemudian ia
sudah keluar hanya dengan boxer dan kaos ketat
hijaunya. Kulihat sepintas, kontolnya agak menonjol di
balik celana berbahan katun itu.

Kami kembali terlibat dalam obrolan seru, namun kali
ini aku tidak begitu terfokus pada pembicaraan karena
aku lebih tertarik untuk mencuri-curi pandang ke
kontol Pak Sigit yang masih terbungkus boxer itu.
Sesekali, kulihat tangan Pak Sigit mengusap dan
menggaruk kontolnya.
"Trus kalau pas istri Bapak nggak ada gini, gimana
cara menyalurkan nafsu Bapak itu?" tanyaku selalu
menjurus pada hal-hal yang berbau seks.
Aku yakin bahwa ini akan membuka jalanku untuk berbuat
lebih jauh dengan Pak Sigit.

"Ya, biasanya sih suka ngocok sendiri. Nikmatnya sih
jauh beda dibanding sama istri. Lebih nikmat punya
istri" kata Pak Sigit dengan nada bercanda.
"Emangnya nggak mikir untuk nyoba dengan yang lain,
Pak?" tanyaku lagi.
"Maksudnya dengan pelacur, gitu?" tanyanya skeptis.
Aku hanya mengangkat bahuku.
"Nggak ah, takut penyakit. Siapa tahu di dalamnya
sudah banyak bibit penyakit yang nantinya malah nular?
Hii..!"
"Kan bisa pakai kondom, Pak!" kataku seolah mengejar
jawaban Pak Sigit.
"Rasanya kurang nikmat. Dulu pernah saya 'gituan' pake
kondom sama istri saya, dan saya kurang bisa
menikmati. Lebih enak alami, Dik!" katanya seraya
mengelus kontolnya lebih intens lagi.
"Udah kebelet ya, Pak?" tanyaku hati-hati.
Aku memberanikan untuk duduk mendekati Pak Sigit.
Kujulurkan tanganku ke kontolnya.
"Memangnya harus dengan istri Bapak? Gimana kalau sama
saya, Pak?".

Pak Sigit mengernyitkan dahinya tanda heran. Tangannya
menepis tanganku, tapi aku dengan berani meletakkannya
kembali ke atas gundukan di bagian depan celananya.
"Memangnya Dik Bondan yakin bisa mengimbangi libido
saya?" tanyanya padaku.
Aku tak memberi jawaban apapun, hanya saja tanganku
masih tetap mengelus bahkan meremas kontol Pak Sigit.
Akhirnya, tangan Pak Sigit meraih tanganku dan
membimbingku menuju sebuah kamar. Kupikir kamar itu
bukan kamarnya, karena sama sekali tidak menampakkan
sebuah kamar suami istri. Setelah kutanya, ternyata
Pak Sigit tidak mau menodai ranjangnya dengan
ber-intim dengan orang lain. Jadilah, Pak Sigit
memilih kamar Angga sebagai tempat kami ber-ah uh oh.

"Bisa pinjam jaketnya, Pak?" tanyaku ketika aku mulai
merebahkan tubuh Pak Sigit ke spring bed itu.
Ia segera beranjak dari rebahannya, dan mengambil
jaket yang tadi ia pakai, tanpa bicara. Kemudian, ia
memposisikan dirinya kembali seperti sedia kala. Jaket
itu kuletakkan di samping Pak Sigit, lantas aku duduk
di atas kontolnya yang sudah setengah ngaceng, dan
kusuruh ia menanggalkan kaosnya. Setelah ia melepas
kaosnya, tampaklah dengan jelas dada bidang berkulit
sawo matang, halus tanpa bulu. Bahu, dada, dan
perutnya tampak bagus tercetak oleh latihan militer
yang selama ini ia jalani. Ia lipat tangannya ke
belakang kepala, hingga ia berbantalkan kedua telapak
tangannya di atas sebuah bantal empuk.

Aku mulai menggoyang-goyangkan pantatku yang masih
mengenakan celana lengkap di atas kontol Pak Sigit.
Kali ini, bisa kurasakan kontol itu semakin membesar
dan memanjang.
"Buka pakaianmu!" perintah Pak Sigit dengan suara
paraunya.
Tampaknya ia telah terkuasai nafsunya. Aku tak
menuruti apa kata Pak Sigit kali ini. Aku masih duduk
di atas kontol Pak Sigit dan berlagak sebagai seorang
cowboy yang sedang ber-rodeo. Kudengar Pak Sigit
mengeluarkan desahan-desahan kecil.

Setelah melakukan aksi rodeo, lantas aku membuka boxer
Pak Sigit dengan mulutku. Kubuka perlahan ke bawah,
hingga kontolnya yang kini sudah ngaceng sepenuhnya
keluar dari sarangnya. Kontol yang disunat itu tampak
gagah dengan kepalanya yang memerah dan batangnya yang
berwarna coklat gelap. Aku tak tahu seberapa besar
kontol itu. Yang jelas saat kugenggam kontol itu dari
pangkalnya, sebagian dari batang dan kepalanya masih
jelas terlihat.

Kulucuti boxer itu, hingga kini tak selembar pun kain
yang menempel pada tubuhnya, kecuali bed cover
berbahan satin itu. Kuambil jaket, yang biasanya
dipakai oleh taruna angkatan udara itu, kemudian
kuperlakukan sedemikian rupa hingga kain halus yang
berwarna oranye berada di luar. Kedua tanganku
kuselimuti dengan jaket itu, dan kuletakkan bagian
berwarna oranye pada jaket mengelilingi kontol Pak
Sigit.

Pak Sigit sedikit tersentak dengan aksiku itu, tapi
detik selanjutnya ia merasakan nikmatnya dielus dengan
menggunakan jaket itu. Tak henti-hentinya kudengar
desah nafas Pak Sigit, yang semakin membuatku ingin
bertindak lebih jauh. Setelah beberapa waktu meremas
dan mengelus kontol Pak Sigit dengan jaket, aku segera
melempar jaket itu ke lantai dan menggenggam erat
kontolnya dengan tangan kananku. Kuludahi kontol Pak
Sigit dan kugerakkan kontol itu naik turun.
"Dik Bondan.. Uuhh.. Nghh.. Terus, Dik!" kata Pak
Sigit di sela-sela desah kenikmatannya.

Tak ingin membuang banyak waktu, aku segera
mendaratkan kecupanku di batang kontol Pak Sigit.
Masih kugenggam batang itu, sambil kumainkan lubang
kencingnya dengan jempolku. Kali ini, tampaknya Pak
Sigit tidak mau melewatkan saat-saat dimana kontolnya
diperlakukan dengan nikmat. Ia duduk dan segera
menyandarkan badannya ke sandaran ranjang. Setelah
itu, ia memberiku kode untuk bermain dengan kontolnya
lagi. Pak Sigit mengangkangkan kakinya, memberiku area
yang lebih luas untuk bermain.

Aku segera meletakkan bibirku kembali ke batang
kontolnya, dan mulai menjilatinya. Kemudian aku
berpindah ke kepala kontolnya yang telah mengeluarkan
pre-cum. Kujiati seluruh pre-cum yang ada, dan
perlahan mulai kumasukkan kepala dan batang kontol itu
ke dalam mulutku. Senti demi ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.