peperonity.com
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Forgot login details?

For free!
Get started!

Anak Ibu Kost | thegladiators


Anak Ibu Kost
[Sec#1] Akhirnya setelah berkeliling cukup lama, aku menemukan rumah yang bersedia menampung anak kuliahan. Walau rumahnya tidak besar tapi aku cukup beruntung mendapatkannya karena selain letaknya tidak jauh dari kampus, fasilitasnya lumayan lengkap dan harganya tidak mahal-mahal banget. Selain itu pemiliknya juga baik, jadi untuk saat ini aku merasa cukup. Tapi lebih dari itu semua ternyata ibu kost mempunyai anak perempuan yang sekarang duduk di kelas 3 SMU. Menurutku gadis berusia 17 tahun itu sama cantiknya dengan Ririn Dwi Ariyani bahkan sampai barisan gigi putihnya pun ia begitu mirip tapi mungkin yang agak membedakan adalah tingginya saja. Menurut perkiraanku tingginya sekitar 155 cm.
[Sec#2] Hari ini aku pulang agak cepat dan langsung ke kost. Namun ketika aku sampai ternyata pintunya terkunci. Kuketuk beberapa kali tidak ada sahutan sambil terus kupanggil-panggil. 'Ibu nggak ada di rumah, Mas.' terdengar suara seorang wanita di belakangku. 'Eh...Sinta!' seruku ketika tahu bahwa itu anak ibu kostku. Wajahnya yang cantik tampak agak kelelahan. 'Memangnya ibu ke mana?' aku biasa memanggil ibu kost dengan kata panggilan ibu supaya lebih akrab. Sinta berjalan menuju pintu lalu membuka kunci pintunya. 'Tadi pagi katanya mau ada hajatan di tempat paman, di ****.' jawab Sinta sambil melepas sepatu. Kulihat seragamnya basah oleh keringat. Sambil melepas lelah akhirnya kami ngobrol ke sana-sini sambil bercanda dan tak terasa aku dan Sinta semakin akrab dan tidak canggung lagi.
[Sec#3] Tidak terasa aku sudah hampir setahun kuliah dan Sinta juga mau menghadapi ujian akhir nasional. Sehingga kulihat ia begitu sibuk belajar dan sesekali ia bertanya kepadaku jika ada yang tidak dimengerti terutama matematika. 'Sin, jangan suka mengganggu Mas Aji,' kata ibunya ketika Sinta bertanya kepadaku. 'Nggak apa-apa, Bu. Sekalian saya juga belajar,' jawabku membela Sinta. Aku dan Sinta jadi semakin dekat. Terus terang aku menyukai Sinta dan mungkin dia juga begitu namun kami tidak pernah mengungkapkannya.
Malam ini aku janji pada Sinta untuk mengajarinya integral matematika. Setelah semua tugas dari dosen selesai, segera kutemui Sinta yang sudah menunggu di ruang tengah sendirian karena ibu yang biasanya nonton televisi sudah masuk kamar, katanya ia kurang enak badan. 'Sudah siap belajar?' godaku. 'Siap dong Bos!' jawabnya manja sambil tersenyum manis. Senyuman yang membuatku luluh. Aku pun duduk disampingnya lalu mulai kejelaskan prinsip-prinsip integral hingga kubahas beberapa contoh soal. Sebenarnya aku kurang konsentrasi karena terlalu dekat. Wangi yang tercium dari tubuh Sinta membuat nafsu setan bermain di benakku sehingga kuakhiri penjelasanku lalu kuganti dengan contoh soal agar Sinta terbiasa dalam mengerjakan soal.
'Mas, Sinta suka sama Mas Aji.' kata Sinta tiba-tiba padahal ia tadi sedang mengerjakan soal. Ia menatapku lekat-lekat. Akupun menatap dua bola matanya yang bening. 'Mas juga suka banget sama Sinta.' jawabku mengalir tanpa kurencanakan. Kulihat ia tersenyum. Begitu cantik. Tanganku bergerak memegangi kepala Sinta lalu kudekatkan wajahku ke wajahnya.
Kudekatkan tubuhku ke tubuhnya sambil menyandarkannya ke sofa lalu Sinta menekankan matanya seolah tahu apa yang kuinginkan. Kucium bibir merah mudanya dengan kecupan-kecupan lembut dan Sinta membalasnya. Akhirnya kami berpagutan dengan nikmat. Sementara jemariku bermain mengusap lehernya sehingga membuat Sinta bergidik karena terangsang.
Tak puas di leher tanganku turun ke dada Sinta dan meremas payudaranya dari luar dengan perlahan dan lembut. 'Ohh...Mass...!' rintih Sinta dengan suara bergetar. Lalu dengan cekatan aku membuka kancing daster yang ada di bagian dadanya itu. Setelah agak terbuka tanganku menyelusup ke balik BH Sinta. 'Ahh...hmm...,' desis Sinta ketika tanganku menyentuh bukit kembarnya lalu memainkan puting susunya yang bulat itu.
[Sec#4] Sinta kembali mendesah ketika putingnya kupuntir dengan lembut. Kuturunkan ciumanku ke lehernya yang jenjang dan tanganku juga turun semakin ke bawah. Kuraba-raba paha mulus Sinta dengan teknik sentuhan mengambang sehingga membuatnya merasa sangat terangsang. Sambil menciumi dan kadang menjilat leher Sinta, jariku menerobos ke dalam celana dalamnya yang kurasakan sudah basah.
'Ough...Mas, enak Mas...,' desis Sinta perlahan ketika aku menyelipkan telunjuk di vaginanya yang sudah terasa banyak rambutnya lalu memainkan clit miliknya. Aku terus mengorek-ngorek vagina Sinta sementara ciumanku turun mendekati pangkal payudaranya. Sinta berusaha menahan erangan nikmatnya. Hingga akhirnya kurasakan tubuhnya bergetar hebat.
'Ough...Mas, enak Mas...,' desis Sinta perlahan ketika aku menyelipkan telunjuk di vaginanya yang sudah terasa banyak rambutnya lalu memainkan clit miliknya. Aku terus mengorek-ngorek vagina Sinta sementara ciumanku turun mendekati pangkal payudaranya. Sinta berusaha menahan erangan nikmatnya. Hingga akhirnya kurasakan tubuhnya bergetar hebat. 'Maasss...akhh...akkh,' Sinta memeluk tubuhku dengan erat sambil mencium leherku.
'Oohhh...akhh...Mas!' Sinta menggigit bahuku untuk meredam teriakan nikmatnya. Kulepaskan telunjuk dari vaginanya yang basah karena cairan maninya lalu mengusap dan menepuk daging empuk itu. 'Enak sekali, Mas!' kata Sinta sambil memandangi tanganku menggilas rambut-rambut vaginanya.
'Oohhh...akhh...Mas!' Sinta menggigit bahuku untuk meredam teriakan nikmatnya. Kulepaskan telunjuk dari vaginanya yang basah karena cairan maninya lalu mengusap dan menepuk daging empuk itu. 'Enak sekali, Mas!' kata Sinta sambil memandangi tanganku menggilas rambut-rambut kemaluannya namun aku ingin melihat bentuknya karena vaginanya masih tertutup begitu juga dengan payudaranya.
Sinta menatapku lalu ia membungkuk dan meraba-raba isi celana dalamku. 'Jangan di sini, Sin. Nanti kedengaran ibu,' kataku sambil mengangkat kepala Sinta lalu membopongnya masuk ke kamarku. Di sana aku langsung melucuti pakaianku dan begitu juga Sinta walau dengan malu-malu akhirnya kami sama-sama bugil. Kudekap dan kuremas payudara Sinta yang begitu indah itu. Tapi Sinta malah berjongkok di depanku. Aku tahu maksudnya lalu aku duduk di tepi ranjang.
Sinta membelai penisku yang basah itu sehingga menimbulkan kenikmatan bagiku. 'Ohh...sayangku...!' kurasakan semuanya begitu nikmat ketika penisku dikulum dengan nikmat oleh Sinta. Kupegangi kepalanya yang bergerak maju mundur dengan cepat dan kadang tidak beraturan. Aku tersedak ketika biji miliknya dimainkannya.
Sinta membelai penisku yang sudah basah itu sehingga menimbulkan kenikmatan bagiku. 'Ohh...sayangku...!' kurasakan semuanya begitu nikmat ketika penisku dikulum dan dijilat dengan nikmat oleh Sinta. Kupegangi kepalanya yang bergerak maju mundur dengan cepat dan kadang tidak beraturan. Aku tersedak ketika biji miliknya dimainkannya.
Sinta membelai lembut penisku yang sudah basah itu sehingga menimbulkan kenikmatan bagiku. 'Ohh...sayangku...!' kurasakan semuanya begitu nikmat ketika penisku dikulum dan dijilat dengan nikmat oleh Sinta. Kupegangi kepalanya yang bergerak maju mundur dengan cepat dan kadang tidak beraturan. Aku tersedak ketika biji miliknya dimainkannya.
Sinta membelai lembut penisku yang sudah basah itu sehingga menimbulkan kenikmatan bagiku. 'Ohh...sayangku...!' kurasakan semuanya begitu nikmat ketika penisku dikulum dan dijilat dengan nikmat oleh Sinta. Kupegangi kepalanya yang bergerak maju mundur dengan cepat dan kadang tidak beraturan. Aku tersedak ketika biji miliknya dimainkannya. Semuanya menjadi begitu indah dan nikmat.
Ketika itu kurasakan air maniku mendesak mau keluar. Dan...'Akhh...akhh...hmm...,' sperma kentalku muncrat di mulut Sinta yang ternyata tanpa ragu meneguknya dengan nikmat. Aku merasa tubuhku sangat lemas sehingga aku langsung berbaring sementara Sinta sudah melepaskan kulumannya. Lalu ia bangkit dan berbaring disampingku. Layaknya seorang istri, ia menyeka keringatku.
Gairah sex yang tadi begitu menggebu terasa hilang. Memang menurut ilmu kedokteran seorang pria yang sudah orgasme bisa bergairah lagi setelah 20 menit. Cukup lama aku dan Sinta diam. Sementara Sinta terus menyapu tubuhku dengan lembut. Lalu ia mengangkat kepalanya dan melumat bibirku. Aku membalasnya sambil menggulingkan tubuhnya yang hangat ke tengah ranjang.
Gairah sex yang tadi begitu menggebu-gebu terasa hilang. Memang menurut ilmu kedokteran seorang pria yang sudah orgasme bisa bergairah lagi setelah 20 menit. Cukup lama aku dan Sinta diam. Sementara tangan Sinta terus menyapu tubuhku dengan lembut. Lalu ia mengangkat kepalanya dan melumat bibirku. Aku membalasnya sambil menggulingkan tubuhnya yang hangat ke tengah ranjang.
[Sec#5] Aku langsung turun ke bukit kembar Sinta. Kujilati buah 'khuldi' itu dan kuremas buahnya yang satunya lagi. 'Ohhh...Mas hebat, akhh...hmm..!' desah Sinta pelan ketika aku mengulum puting susunya. Begitu juga ketika buahnya yang satu lagi kuisap, tubuh Sinta bergetar hebat.
[Sec#5] Aku langsung turun ke bukit kembar Sinta. Kujilati buah 'khuldi' itu dan kuremas buahnya yang satunya lagi. 'Ohhh...Mas hebat, akhh...hmm..!' desah Sinta pelan ketika aku mengulum puting susunya. Begitu juga ketika buahnya yang satu lagi kuisap, tubuh Sinta bergetar hebat.
Puas bermain di dada aku pun turun ke perutnya. Sinta menggelinjang enak ketika pusarnya kumasuki dengan lidah. Namun aku tidak lama-lama di sana karena aku tidak sabar lagi untuk menikmati vagina Sinta. Kutatap vagina Sinta yang ditumbuhi rambut menghitam itu dengan penuh nafsu untuk beberapa saat lalu...
'Ouchh...hahh...ohhh...' Sinta meremas-remas buah dadanya sendiri ketika lidahku menerobos masuk dan menemukan klitorisnya. Untuk lebih mudah maka kubuka vaginanya dengan jempolku sehingga lubang merah Sinta membesar. Aku melihat bentuk klitoris yang sedang kujilat, persis seperti biji melinjo merah yang belum dikupas. Menggairahkan.
Kuperdalam jilatanku sehingga membuat Sinta merasa gila karena nikmatnya. Dan ia pun akhirnya melenguh panjang dengan tubuh bergetar keras. Sementara dari vaginanya keluar air cintanya yang bening. Kulepaskan jempolku lalu kujilat seluruh bagian permukaan vaginanya hingga rambut kemaluannya basah oleh air liurku.
[Sec#6] Kutindih tubuh pasrah Sinta. Kukecup hidungnya yang berkeringat sementara itu aku menghujamkan penisku ke liang senggama Sinta yang juga mengeras. 'Ahhh...,' Sinta merintih kesakitan sementara aku merasakan nikmat yang luar biasa. Ternyata vagina itu terasa hangat, licin, lembut, dan empuk. 'Mas, Pelan...pe..lan...,' rintih Sinta.
[Sec#6] Kutindih tubuh pasrah Sinta. Kukecup hidungnya yang berkeringat sementara itu aku menghujamkan penisku ke liang senggama Sinta yang juga mengeras. 'Ahhh...,' Sinta merintih kesakitan sementara aku merasakan nikmat yang luar biasa. Ternyata vagina itu terasa hangat, licin, lembut, dan empuk. 'Mas, Pelan...pe..lan..' rintih Sinta.
[Sec#6] Kutindih tubuh pasrah Sinta. Kukecup hidungnya yang berkeringat sementara itu aku menghujamkan penisku ke liang senggama Sinta yang juga mengeras. 'Ahhh...,' Sinta merintih kesakitan sementara aku merasakan nikmat yang luar biasa. Ternyata vagina itu terasa hangat, licin, lembut, dan empuk. 'Sinta masih perawan, Mas. Pelan...pe..lan...,' rintih Sinta.
Mendengar rintih kesakitan Sinta aku pun memperlambat gerakanku sehingga setiap mm gesekan begitu terasa apalagi Sinta masih perawan jadi vaginanya masih sangat sempit. Setelah beberapa saat aku berjuang menahan rasa nikmat yang luar biasa sendirian, akhirnya terdengar desah nikmat dari mulut Sinta. 'Mas, sekarang sudah...ohh..!' erangnya.
Kupererat dekapanku dan kugesekan dadaku ke dada Sinta sambil terus bergoyang. Kupagut bibir bawah Sinta yang tampak bergetar. Semuanya begitu hangat, indah, dan nikmat. Dan akhirnya aku dan Sinta mengerang panjang dengan tubuh berkelejat penuh kenikmatan. Air cinta kami kembali memancar dan menyatu. Beberapa waktu kami terus menikmati saat-saat yang begitu indah.
[Sec#7] Begitulah, akhirnya kami kembali berhubungan intim di malam berikutnya bahkan terkadang waktu malam minggu kami melakukannya sampai 4 kali ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.