You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Aku bukan manusia suci
Yang mencintai Penciptanya tanpa berbagi
Aku manusia biasa
Yang nyata perlu cinta dari hati ke hati
Ajarkan aku menjadi naif Senaif dirimu
yang mampu tersenyum dalam beban
Atau setidaknya ajarkan aku lagi Untuk menerima tanpa harus hanyut
Separuh nafas jiwaku kau minta
Aku coba berkaca pada air mata
Bertanya pada suara yang lelah
Apa aku masih punya yang kau minta?
Kuhadirkan kau ke dalam mimpi ini
Untuk setia mendengar cerita perjalananku
Tapi sampai saat ini kau hanya tersenyum
Padahal aku ingin kau menjawab
Mengapa aku masih harus mencintai kebaikan
Yang pada akhirnya juga akan sirna ...
Alur sungai di pipi itu telah kering
Tapi dia mungkin akan kembali
Seiring waktu, seiring doa, seiring rasa
Kenapa dunia tidak selalu seirama
Saat harap ... Saat lepas...
Saat itu aku menggigil Karena dia yang datang bukan yang aku minta ......
Aku kangen... Bukan padamu.
Tapi pada jiwamu
Ketegaranmu. Kemisteriusanmu.
Sosokmu
Tapi kau pilihanku.
Tolong ceritakan padaku Apakah cinta masih punya arti bagi kita?
Sedang nyata kita sudah terlelap
Dalam remang bilik yang kita bangun sendiri
Izinkan aku kecewa dalam kepasrahanku ini
Kenapa aku tetap harus menyerah
Pada barisan teka-teki
Yang bernama takdir?
Sering kutanyakan dalam hati
Mengapa kita semua harus terbangun Dari ranjang mimpi yang kita pilih sendiri
Padahal aku enggan Karena hidup, bagiku tak seindah mimpi
Berikan aku waktu sejenak untuk bernapas di sini Sebelum aku mati karena ikatan rindu
Sebelum aku pulang lagi ke tempat dulu
Sebelum... sebelum kau tahu Aku masih yang dulu
Tanya itu jadi satu di kalbu
Kala jejak sahabat menjauh
Tanpa ujung dan rasa yang tersisa
Kala mimpi ini tinggal separuh
Sebab separuh terjepit di tapaknya Separuh lagi?
Susah payah kuangkat di bahu ini
Kecewa ini tak pantas kubawa
Entah pada siapa atau pada apa harus kutimpakannya
Kecewaku kini tak bermuara
Tak sanggup lagi mengadu luka
Bahkan limpahkan rasa dalam air mata
Tuhan... Perkenankan aku mati untuk sementara