peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

Terjebak birahI - asmarabuana



Terjebak birahI
RUMPUT TETANGGA
Terjebak birahI - a
===== 0 =====
Sudah satu bulan aku tinggal dirumah tante Ivone. Akupun mulai mengenal tetangga sebelah rumah atau didepan rumah yg hanya dipisahkan jalan, jalan yg bisa dilalui mobil. Aku juga sering kumpul dngn warga apa bila ada undangan rapat atau sekedar pertemuan saja, sebagai wakil dari keluarga Ibu Ivone, yg biasanya diwakili oleh bang Udin. Aku juga mulai mengenal dekat dngn keluarga om Usman yg tinggal bersebelahan dngn rumah tante Ivone.
Om Usman seorang pensiunan PNS dan berusia sekitar 70 tahunan. Untuk mengisi waktu masa pensiunnya, beliau membuka usaha toko kelontong didepan rumahnya. Beliau mempunyai seorang istri yg bernama Evi dan seorang putri satu satunya yg bernama Adis. Lengkapnya Adisty Maurina, dia masih duduk dibangku SMA diwilayah Tebet Jakselt, usianya hampir sebaya dngn Nita. Jadi om Usman sekeluarga tinggal hanya bertiga ditambah seorang pembantu, seorang anak gadis yg sebaya dngn Adis putrinya.
Bu Usman atau tante Evi berusia 40thn, tinggi 162cm, berat badan 57kg, size bra 32b. Tubuhnya langsing, montok padat dan berisi, kulitnya kuning langsat, rambut ikal pendek sebahu, diwajahnya masih nampak guratan aura kecantikan dimasa mudanya dan pinggulnya 27 dngn bokong yg cukup besar. Sifatnya baik tapi sedikit genit, mungkin karena usia om Usman dan tante Evi yg cukup jauh jaraknya. Yang sepantasnya tante Evi sebagai anak buat om Usman. Sungguh beruntung om Usman dapat memiliki istri seperti tante Evi. Yang terkesan sangat baik dan setia. Kedekatanku dngn om Usman tak bedanya antara anak dan bapak, mungkin dikarenakan aku jauh dari orang tuaku. Mungkin juga dikarnakan om Usman tak memiliki anak laki laki, jadi beliau menganggap aku seperti anaknya. Disamping kami berdua memiliki hobby yg sama, yaitu bermain catur.
Aku memang hobby bermain catur selain sepak bola. Maka apa bila hari sudah menjelang malam, aku sering menemani om Usman bermain catur hingga larut malam dan tokonya tutup. Terkadang ditemani Adis anaknya atau teman teman yg lain, yg kebetulan hobby catur juga. Apalagi jika kebenaran tidak ada tante Ivone dirumah, aku terkadang sampai tertidur diteras rumah om Usman, tempat kami bermain catur.
Sebenarnya tante Ivone sudah melarangku tidur atau menginap dirumah om Usman. Tapi aku tak kuasa menolak ajakan atau keinginan om Usman yg sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri. Disamping menjaga hubungan baik sesama tetangga. Maka aku dengan sengaja melanggar larangan tante Ivone. Tanpa memberitahu om Usman dan keluarganya.
= 0 =

Sore ini setelah usai membantu bang Udin dan mandi. Aku berniat main ketoko om Usman disebelah rumah. Disamping ingin melihat sicantik, putri satu satunya om Usman. Yang bernama Adis. Tapi sebelum aku melangkah keluar, tante Ivone memangilku. "Fad, aku mau kerumah tante Rita, terus keBandung nanti malam!!" ujar tante Ivone. "Kalau kamu ga mau ikut, jangan kemana mana ya!?" sambungnya lagi. "Iya!!" jawabku datar, seraya membantunya merapikan koper yg ingin dibawanya. Tak lama kemudian bang Udin datang menghampiri kami berdua. "Taxinya udah ada non, menunggu diluar!?" kata bang Udin sambil membawa koper melangkah menuju taxi. Yang berhenti tepat didepan pintu gerbang rumah. " Hati hati dirumah ya say!!" ucap tante Ivone seraya mencium bibirku. Kemudian melangkah menuju taxi, aku pun membuntutinya menghantar hingga ke taxi. Tante Ivone pun naik ke taxi yg telah dibukakan pintu belakangnya oleh bang Udin. "Ingat, jangan kemana mana ya...." pesan tante Ivone sambil melambaikan tangannya kearahku. Lalu menghilang bersama taxi yg ditumpanginya.
Hubunganku dngn tante Ivone memang sudah diketahui oleh bang Udin dan bi Sum. Bahkan kami tak canggung lagi atau malu bila kepergok tengah bermesraan oleh bang Udin atau bi Sum.
Setelah tante Ivone pergi aku pun melangkah keluar rumah menuju toko om Usman disebelah. Dimana telah menunggu teman temanku, toko atau warung om Usman memang tempat nongkrong anak anak ABG disekitar perumahan ini. Yang sebenarnya bisa dikatakan kavling, karena kebanyakkan penghuninya pindahan dari Senayan dan sekitarnya yg telah dibangun kompleks olah raga oleh pemerintah DKI. Disamping itu juga, disebelah toko om Usman ada pos ronda atau pos kamling. Jadi enak dan setrategis buat anak anak atau warga nongkrong dan berkumpul.
Ditoko om Usman nampak tante Evi tengah mengobrol dngn tante Frisca dan Adis yg masih mengenakan seragam sekolahnya. Entah apa yg tengah mereka. bicarakan. "Sore tan!!" sapaku pada mereka seraya terus melangkah ke pos roda. "Ech iya, nak Fadhill...." jawab tante Evi seraya tersenyum nakal kearahku. Smentara tante Frisca hanya tersenyum dan mengangguk kearahku. Tante Frisca tinggal diseberang jalan, tepat didepan rumah om Usman.
Di pos sudah ada Dodi, Tono dan Erin. Erin seorang gadis belia kemenakkan tante Frisca dan tinggal dngn tente Frisca juga. Dia sebenarnya sahabat Adis putri om Usman, dikarenakan dia satu sekolah dngn Adis. Tapi Erin lebih sering berkumpul dan bergaul dngn anak anak cowok. Dia juga hobby dngn sepak bola dan sedikit mengerti catur. Apa bila ada pertandingan sepak bola di Senayan, entah pertandingan liga Indonesia atau pertandingan resmi lainnya. Dia acap kali sering datang menyaksikannya.
Seperti sore ini, kami brempat berkumpul dan membicarakan sepak bola piala UEFA. "Lo megang mana Fad, ntar malem Bayer lawan Manchesterd ne!?" tanya Erin dengan gayanya yg tomboy dan centil. "Gue Mancherterd dech!!" jawabku seraya duduk disisi Tono. "Kalo Lo Rin!?" aku balik bertanya kepada Erin. "Ya sama..!!" tuturnya seraya menyeringai kearah Dodi dan Tono. "Dodi tuch, yang megang Bayer ma si Tono!!" jelas Erin sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah Dodi. "Ya udah, kita liat aja ntar malem dech!!" ujar Dodi tenang. "Tenang Dod, Bayer pasti menang.., gue do'ain dech.!!" tambah Tono setengah mengejek kepada Erin.
Smentara suara gema adzan Maghrib tengah berkumandang dimenara Masjid. Menandakan waktu sholat Maghrib telah tiba. Memanggil semua umat muslim untuk segara menunaikan sholat Maghrib.
"Bubar yuwk dah Maghrib ne..!?" ujar Tono seraya berdiri mengajak Dodi dan aku bubar. Memang diantara teman temanku, Tonolah yg paling dewasa, dia sudah 20 tahun dan mahasiswa sbuah perguruan tinggi swasta diDepok Jabar. Akhirnya kamipun bubar, Tono dan Dodi pulang kerumahnya, aku dan Erin melangkah berlainan arah. Erin menemui Adis yg tengah menjaga tokonya. Sdangkan ku melangkah pulang. "Woeii.., ntar keluar lagi lo Fad!!" seru Erin kepadaku. "O. K, say...!!" jawabku sambil mengepalkan jari tanganku, lalu masuk kedalam dan menutup pintu gerbang.
Usai Maghrib, setelah pamit dan berpesan kepada bang Udin dan bi Sum. Aku kembali keluar rumah dan melangkah menuju toko om Usman atau pos ronda. Tapi ternyata hanya ada Adis dan ibunya atau tante Evi yg tengah menunggu tokonya. Di pos sepi, hanya ada tukang bakso yg sedang istirahat sekaligus mangkal menanti pembeli. "Ko sepi sich, Dis!?" tanyaku kepada Adis yg tengah asyik memakan kembang gula sambil menonton acara televisi. "Iya, tadi katanya si Erin mau keluar, pi belom ne!?" jawab Adis seraya menghampiriku. Smentara tante Evi tengah bermain dngn kalkulatornya.
"Ech Fad, Lo tau ga!?" tanya Adis sambil menatapku dngn kedua bola matanya. "Tau apaan!?" aku balik bertanya dngn rasa heran. "Erin tu, sbenernya suka sama Lo!?" jelas Adis seraya menatapku penuh selidik. "Ach ngaco Lo Dis??" jawabku tak peduli. " Bener ko, gue srius lho!!" Adis terus memburu jawaban dari bibirku.
Belum sempat aku menjawah ucapan Adis. Tiba tiba terdengar suara om Usman memanggilku dari teras rumahnya. "Dipanggil sama Papih tuch, Fad!!" ucap Adis setengah berbisik ditelingaku. "Iya, crewet!?" jawabku seraya brusaha mencium pipinya. "Whuexxx.., ga kena lage!?" ledek Adis, karna pipinya tak berhasil kucium. Membuat tante Evi berpaling dan tersenyum kearah kami berdua. Akupun melangkah menghampiri om Usman yg tengah duduk diteras rumahnya. "Sini temanin om ngobrol Fad!?" ucap om Usman saat aku telah berada didekatnya. Seraya tangannya menyodorkan sebuah kursi untukku. Akupun duduk menghadapinya diantara meja kecil yg ada ditengah kami berdua. "Ga main catur aja ne om!?" tanyaku. Sembil menyalakan sebatang rokok filter ditanganku. "Ndak usah dulu lah.,." jawab om Usman seraya mengisap rokok kretek ditangannya. "Kita ngobrol ngobrol aja..." sambung om Usman seperti menyimpan sesuatu. Yang ingin ia ceritakan atau ungkapkan kepadaku.
Akhirnya kami berdua mengobrol, awalnya om Usman menceritakan tentang masa kecil dan mudanya panjang lebar. Aku hanya terpaku diam, menjadi pendengar yg baik. Sambil sesekali menarik nafas dalam dalam om Usman terus melanjutkan ceritanya. Sementara tak terasa hari telah semakin malam. Tante Evi dibantu Adis telah menutup tokonya. Kemudian mereka masuk kedalam dan kekamar peraduannya masing masing. Sedangkan aku dan om Usman masih mengobrol diteras.
Semakin malam pembicaraan om Usman mulai kemasalah pribadinya. Mulai dari tante Evi, yg menurut ceritanya adalah istri yg ke dua setelah kematian istrinya pertama. Dulunya tante Evi adalah anak angkatnya dan masih kerabat jauh almarhumah istrinya. Yang kemudian dinikahi karna tante Evi telah dihamili oleh pacarnya, yg lari tak bertanggung jawab. Namun kandungan tante Evi keguguran diusia empat bulanan dan sampai saat ini belum pernah hamil lagi. Sambil menyimak cerita om Usman, aku brfikir. Inilah jawabannya, kenapa usia tante Evi dan om Usman terpaut sangat jauh.
Sedangkan Adisty juga bukan anak kandung om Usman dan tante Evi. Dia anak salah satu keluarga tante Evi yg tak mampu memenuhi biaya kebutuhan hidup keluarganya. Ada rasa iba terhadap om Usman yg selama ini terlihat tegar dan ceria. Ternyata banyak menyimpan permasalahan pribadinya yg kurang menyenangkan. Bahkan menurut penuturannya, dia juga sudah tak mampu lagi memberikan kepuasan bhatin buat istrinya. Yang masih bukup muda dan sangat membutuhakan belaian serta kehangatan tubuh. Apa lagi tante Evi cukup cantik dan menggiurkan, untuk dijamah serta digauli. Menurutnya hal inilah yg membuat dirinya merasa tertekan dan berdosa terhadap istrinya itu.
"Kamu sudah ngantuk belum?" tanya om Usman sambil menatap kearahku. Tak berapa lama tante Evi datang dngn mengenakan baju tidur berwarna bhru tipis, seraya membawa dua gelas kopi hangat dan sepiring tempe mendoan yg juga masih hangat. "Biar enak ngobrolnya...!" ujar tante Evi sambil membungkuk meletakan gelas brisi kopi dan mendoan tempe dimeja. Sehingga buah dadanya dapat tertangkap jelas oleh kedua bola mataku. Bulat dan cukup besar, meskipun masih terbalut dngn bra. Namun cukup mengundang nafsu kelakianku. "Belum tidur tan?" tanyaku berbasa basi. Menghilangkan perasaan yg ada dibenakku. "Belum.., habis ga ada yang dekepin se!?" jawab tante Evi bergurau seraya tersenyum kearahku. Membuat jatungku sedikit berdebar. "Pih., aku masuk dulu ya, mari Fad!!" ujar tante Evi berpamitan, seraya melangkah masuk kedalam. Dengan bokong bergoyang gemulai mengikuti stiap langkahnya yg tak luput dari tatapan mataku.
Akupun berpaling merasa tak enak dngn om Usman yg tengah menghirup teh hangat. Seakan tak peduli terhadap apa yg telah terjadi tadi. "Diminum nak, tehnya" ujar om Usman seraya memberikan gelas berisi teh hangat untukku. Akupun meraihnya menyambut gelas yg diberikannya. Lalu secara perlahan, ku hirup teh hangat tersebut. Dengan menahan nafas sesaat lalu menghembuskanya dngn perlahan. Om Usman melanjutkan pembicaraannya. "Begini nak, sbenarnya saya ingin minta tolong!". "Mudah mudahan kamu mau membantu...." ujar om Usman pelan, seraya menatapku yg masih memegang gelas teh ditanganku.
"Seperti yang tadi saya bilang, kalau saya sudah tidak mampu memuaskan kebutuhan istri saya!" papar om Usman polos. "Mm.., saya berharaf kamu mau menggantikan saya, memuaskan istri saya untuk malam ini saja...!?" jelas om Usman menatapku penuh haraf. Membuat aku terpaku heran, antara percaya dan tidak atas smua ucapan om Usman tadi. "Gimana nak, kamu mau kan menolong saya!?" ucap om Usman lagi dngn nada menghib, mengharaf belas kasih dariku.
Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku dngn tatapan bingung. "Trima kasih ya nak, saya berhutang budi denganmu!!" ujar om Usman dngn wajah sedikit ceria. Sambil telapak tangan kanannya menepuk nepuk bahuku. Kemudian beliau bangkit berdiri seraya mengajakku kedalam rumahnya. "Ayo nak masuk..." ucapnya sambil melangkah masuk kedalam yg diikuti langkahku. Om Usman membuka salah satu pintu kamar, yg ternyata kamar Adis putrinya. Nampak Adis telah tertidur dngn lelap diatas ranjangnya. Om Usman kembali menuvp pintu kamar tersebut. Lalu berpindah pada pintu kamar disebelahnya, yg tak lain merupakan pintu kamarnya sendiri. Dengan perlahan dibukanya pintu kamar itu dan mempersilahkan aku supaya masuk. Akupun memasuki kamarnya seraya memperhatikan sekeliling isi kamar tersebut. Nampak tante Evi tergolek diranjang sambil memeluk sbuah bantal guling disisinya.
Terdengar om Usman menutup kembali pintu kamar dan melangkah lalu tak terdengar lagi. Kini yg terdengar hanyalah suara nafas tante Evi, memecahkan kesunyian malam. Aku berdiri terpaku dan ragu menatap tubuh tergolek tante Evi. Tubuh tante Evi memang sangat montok dan kencang, apalagi memang usianya masih tergolong muda. Dadaku berdebar menahan detakan jantungku, tak kala tante Evi menggeliatkan tubuhnya. Nampak kedua payudaranya membusung naik dibalik baju tidurnya.
Tante Evi terjaga dan membuka kedua kelopak matanya, lalu duduk bersimpuh diatas ranjang. "Ooh kamu.., si om mana?" tanya tante Evi masih dngn mata mengantuk. "Keluar tan, ta.., tadi om menyuruhku masuk, tan!" jawabku dngn sedikit gugup dan kikuk. "Ooh gitu, ya udah sini Fad!!" balas tante Evi seraya meraih tanganku agar mendekat dngnnya. Kedua matanya mulai nampak segar. Akupun duduk didekatnya ditepi ranjang, shingga tercium bau harum tubuhnya. "Aku pengen lho Fad..!!" bisiknya perlahan ditelingaku, hingga nafasnya terasa berhembus masuk lobang telingaku. Dengan menempelkan janggutnya dibahuku, tangan tante Evi melingkar dan mengusap usap dadaku. Membuat kontol mulai tegak berdiri dselangkanganku. Ujung lidah tante Evi mulai menjilati leher lalu daun telingaku. Sehingga aku menggeliat kegelian dan mulai terangsang.
Membuat aku mulai berani menciumi bibir tante Evi, membuat tante Evi berdesah membalas ciuman mulutku pada bibirnya. "Ooocchhhh..." desah tante Evi seraya membuka mulutnya, membiarkan ujung lidahku menjilati bibir dan masuk menjelajah dalam mulutnya. Jari tanganku pun mulai berani menjamah dan meremas remas bagian dadanya. Sehingga tubuh tante Evi menggeliat dan terasa bergetar.
"Oooohhh Faaaddill...." desah tante Evi lagi seraya merenggakan tubuhnya dngnku. Membuat aku juga melepaskan mulutnya dari dekapan mulutku. "Sabarnya Fad..., ga pa pa kan tante nyebut namamu aja?" ucap tante Evi lembut sambil membuka seluruh pakaian yg dikenakannya. Sehingga kini dia dalam keadaan telanjang bulat. Dengan kedua buah dadanya yg bulat bergelayutan didadanya. Kemudian merebahkan tubuhnya terlentang dikasur yg empuk. Membuat aku tak kuasa untuk membuka juga seluruh pakaian yg aku kenakan.
"Aku juga boleh manggil tante, mamah aja kan!?" ujarku seraya merangkak mendekati tubuh telanjang tante Evi. "Boleh.." jawab tante Evi sambil membusungkan payudaranya yg bulat sperti jeruk bali. Yang kemudian kuraih dan remas remas dngn penuh nafsu. Tante Evi menggeliat dan jari jari tangannya membelai serta meremas rambut dikepalaku. "Aaaaachhhsss...., Faaaddill..., terrruuusss..., oochhhh..., puasssin, puasiiinnn..., oochhh." desis tante Evi mulai terangsang. Aku pun smakin buas melahap payudaranya, ku isapi dan jilati pentilnya yg berwarna coklat tua menggairahkan. Sesekali kuremas kuat bagian bukitnya agar puting itu mencuat dan dapat kuisap lebih banyak. Seakan akan tak ingin kulepas bagian penting dari bukit daging didadanya itu. "Aaaaacchhhh......, ooochhhsss....., nakallll,.,..., aaauuwwhhh..." rintih tante Evi seraya memejamkan kedua matanya dan tangannya merayap rayap mencari sesuatu diselangkanganku.
Setelah dapat apa yg dicarinya, tlapak tangannya langsung menggengamnya dan tak dilepaskannya. Bahkan terkadang dia menarik barang yg digenggamnya yg tak lain batang kontolku yg tegak mengeras. Jika aku terlalu keras mengenyot pentil payudaranya, yg terkadang membuatnya sampai tersentak menahan enyotan mulutku. Tangankupun tak hanya puas dngn meremasi buah dada tante Evi. Salah satu tanganku melorot turun kebawah pusar dan berhenti tepat pada selangkangan tante Evi. Dan mulai merayap mengelus elus bulu halus yg terasa amat lebat ditengah selangkangannya itu. Jari jariku pun mulai mengorek ngorek, mencari lobang memek yg berhutan lebat.
"Aaaagghhssttt..." jerit kecil tante Evi saat jari telunjukku masuk mencolok lobang memeknya. Membuat telapak tangannya yg mengenggam kontolku ikut tersentak dan membetotnya. Shingga aku harus rela melepaskan pentil payudara tante Evi, akibat menahan rasa ngilu saat batang kontolku dibetot tangannya tadi. Dikarenakan mulutku telah melepaskan pentil buah dada tante Evi, maka kini mulutku meluncur menjilati perut, pusar hingga sampai dihutan lebat milik tante Evi. Tante Evi segera mengangkang membuka kedua pahanya, shingga kini nampak jelas hutan lebat yg memang benar benar lebat adanya. Bulu jembutnya hitam dan tebal, hampir menutupi seluruh memeknya. '"Aaaaacchhhs...., teeerrusss...., oochhhh...., Faaadilll...., terusss..., jiiillaaaatts..., Fad.., oochhh...., eeennaakk sayaannng...., aaachhh." rintih tante Evi dngn kedua tangannya memegangi kepalaku. Sementara ujung lidahku kian masuk menjilati lobang memeknya yg sudah basah berlendir. Sesekali lidahku menjilati itilnya yg merah merekah. Membuat tante Evi tersentak kelojotan dan menggelepar gelepar.
"Aaaaoowwhh...., ooch uddaahh...., udaahh yaaannng..., aaammpun........., ooochhh....., aaagghhhh." rengek tante Evi seraya menahan kepalaku dan merapatkan kedua pahanya, menutup lobang memeknya.
Akupun bangkit dan merangkak menindih tubuh tante Evi. Akhirnya wajahku berhadapan dngn wajahnya, wajah tante Evi yg tersenyum manis seraya menatapku dalam dalam penuh arti. "Ayo dimasukin anumu, aku sudah mau banget....!!" ucapnya lirih seraya melingkarkan kedua tangannya dibahuku. Akupun mulai mengarahkan batang kontolku pada lob2ng memeknya, yg sudah dibuka kembali oleh tante Evi. Dengan mengangkangkan kedua pahanya lebar lebar.
Tante Evi menggigit sudut bibirnya dan memejamkan kedua bola matanya. Menanti kontolku melakukan penestrasi pada lobang memeknya. "Aaaaaoowwhhh....." tante Evi melengguh saat kontolku amblas masuk kelobang memeknya. Dengan perlahan bokongku pun mulai mundur maju, menghujami memek tante Evi dngn tusukan tusukkan batang kontolku.
"Aaaagbhhhh.,....., aauuchhhh....., och, teerrruusssz...., ooocchhhh...., iiiyyaaa..., aaaagghhhsss...., terus sayannng....., eeennak bangeeettts....., ooochhh." tante Evi meracau tak karuan dngn mengoyang goyangkan bokongnya, mengimbangi gerakkan mundur majunya bokongku. "Ooocghhh.... Faaddiiilll...., terusssszss..., aach..., yaaaa....., terruuusss..., ennaak...... Fadil...., aaachh...., ooochhh." ucap tante Evi terdengar sangat lirih, sambil menggerak gerakan tubuhnya tak beraturan. Seperti cacing yg menggelepar ditanah kering. Sementara aku juga tengah dilanda hawa panas yg tak menentu. Hawa panas yg menjalar diseluruh aliran darahku. Sehingga kadang kala gerakanku menjadi terganggu. "Oooocchhhh..,.,......, terruuussss......., aaachhhh......, iiiya, teruuusss....., ooowhhh Fadiilll......., puasssiiinnn aku sayaaaang...., yaaa...., terus puaaazssiiinn....., aaaachhhh." suara tante Evi seperti orang merintih dan memohon. "Aaaaowhhhh.,.., adduhhh....., Fad.., Fadilll tolong aku.,.., oochhhh....., cepatttt....., teeerruuuzzzss......, ooochh..,, yaaa......, aaagghhhh." rintih tante Evi seperti tengah dibayangi rasa takut yg teramat hebat.
"Ooowwhhhh..,.., ceeeppat sayaaang....., aku uddah mau keluar niii...,,, aaaacchhh,....., terusss......, oochh aku mau...,.., aassskkksss." tante Evi terus merintih dan mendesah. "Aaaaaggghhh........" akhirnya tante Evi melengguh panjang seraya melingkar kedua kakinya menjepit pinggulku. Membuat aku menekan bokongku hingga menempel dngn bulu jembutnya yg tebal dan lebat.
"Aaaaasschhh...., maaahhh." akupun mengerang seraya menekang bokongku hingga batang kontolku amblas semta kelobang memek tante Ivi. Serasa tumpah semua air maniku dan membanjiri lobang memeknya.
Akhirnya kami berduapun saling berpelukan penuh dngn kenikmatan serta kepuasan. Saling tatap, saling remas dan kembali berciuman dngn penuh kehangatan. Beberapa saat kemudian kamipun saling berpakaian kembali. "Kamu puas ga say...?" tanya tante Evi sambil merapikan pakaiannya. "E"em..,, tante puas ga?" aku balik bertanya seraya merapikan kancing bajuku. "Aku puas banget..., sering sering nidurin aku ya say...!?" ucap tante Evi dngn manja dan genit.
Setelah selesai berpakaian, aku pun keluar kamar untuk menemui om Usman. Kudapati om Usman tengah tertidur pulas disofa ruang tamu. Aku tak tega untuk mengusik tidurnya, biarlah masih ada hari esok untuk mengucapkan rasa terima kasih kepadanya. Maka aku melangkahkan kedua kakiku menuju luar rumah, meninggalkan om Usman seorang diri.
= ¤ =

coppyright
Pemuja hawA@2010
sorgamata producions
¤


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top