peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters).

IMPORTANT: Choose your name WISELY as you cannot change it later on! This is due to the fact that we will submit your pages to major search engines so that they can be found properly. 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Marzus and learn how to create your own mobile site!

Kenangan Pahit dari Jaman Jepang 1 - cerita.dewasa.1



Kenangan Pahit dari Jaman Jepang 1
Kenangan Pahit dari Jaman Jepang 1
“Sudahlah Mbah, lebih baik Mbah pulang saja nanti malah ikut sakit. Mbah ngga usah cemas, eyang putri sudah ada yang jaga.” anak dan cucu-cucuku bersikeras membujukku untuk pulang.Tapi tekadku sudah bulat aku harus tetap menemani istriku entah kenapa firasatku merasa ada yang lain. Rasa pengabdian yang dalam yang sudah tertanam puluhan tahun tak bisa digoyahkan begitu saja. Ya aku begitu mencintai istriku apapun keadaanya kini.
“Sudahlah kalian semua pulang saja… biarkan mbah mu ini menemani eyang putri mu waktu kami sudah tidak banyak lagi.”Segala bujuk rayu anak dan cucu-cucuku tetap tak merubah pendirianku.Aku menyadari mungkin waktu kami berdua sudah tak lama lagi dan aku ingin memanfaatkan waktu kami yang tersisa itu sebaik-baiknya.
“Hush bapak jangan ngomong sembarangan ah, pamali mbah Eling.” Sentot, putra tertuaku nampak cemas dengan ucapanku.
“Mbah yakin eyang putri bisa lebih cepat sembuh jika ditemani sama mbah.”Aku tetap bersikukuh untuk tetap tinggal,
“Hmm….ya sudahlah mbah kami tinggal dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon saja.” Akhirnya anak dan cucu-cucuku menyerah. Setelah berpesan pada para dokter dan perawat untuk baik-baik menjaga kami berdua akhirnya mereka semua pulang.
Aku menghela nafas panjang taman ini kembali sepi perlahan aku melirik kesamping Julia, istriku masih duduk termenung diatas hamparan rumput. Entah apa yang ada dalam kepalanya saat ia melamun seperti itu. Setidaknya dalam sedikit sisa umur yang masih disediakan Tuhan, aku cukup bahagia bisa menyaksikan anak-anak dan cucu-cucuku tumbuh dewasa dan telah mapan secara materi dan rohani. Aku sangat bangga dengan keberadaan mereka. Aku bersyukur nasib mereka tidak sepahit diwaktu zamanku. Diantara mereka semua, untung tidak ada yang mengikuti genku yang buruk rupa. Semuanya tumbuh sehat tampan dan secantik eyang putrinya semasa gadis perwan. Terutama cucuku Suryati. Ia sangat mirip dengan eyang putrinya sewaktu muda.

“Kamu siapa? Sedang apa disini….?”Suara parau mendadak mengagetkan lamunanku matanya masih seindah dulu menatap penuh curiga pada diriku.
“Ini aku Julia…suamimu Surip…” suaraku sedikit tercekat. Meskipun secara umum aku cukup bahagia, namun keadaan istriku beberapa bulan ini nampaknya semakin parah. Ingatannya lama kelamaan semakin menurun alias pikun menurut dokter penyakit linglung ini istilah kerennya dikenal dengan penyakit alzheimer. Penyakit itu menggerogoti memorinya sehingga kenangan-kenangan indah kami bersama seakan lenyap tak bersisa. Kadang ia bahkan tak mengenali diriku dan anak-anaknya sendiri.

”Surip…?…. Surip siapa ya…..???….siapa kamu?Aura sisa kecantikan masih terberkas di wajah rentanya. Mata birunya menatap penuh kecurigaan padaku, perlahan wajahnya berubah pucat. Berkas ketakutan mulai muncul di wajah ayunya yang mulai termakan usia.
“Dimana aku…? Tolong….tolong….Pulangkan saya!!!!!” Tiba-tiba emosi istriku melonjak dia menjerit-jerit histeris. Memang akhir-akhir ini ia sering bertingkah seperti itu.Mungkin kenangan buruk masa lampaunya kembali hadir menghantuinya
“Ada apa pak….? Semua baik-baik saja…..?”Beberapa perawat dengan tergopoh-gopoh berlarian menghampiri kami.
“Tidak….tidak….tidak ada apa-apa tinggalkan saja kami.”Aku lalu menjelaskan secara singkat tabiat serta kebiasaan istriku.

“Baiklah pak tapi kalau ada apa-apa jangan segan-segan panggil kami.”Meski dengan sedikit ragu akhirnya para perawat itu meninggalkan kami.
“Siapa kamu…..?”Kembali mata biru istriku menatap diriku. Ingatannya sekarang ini memang sudah semakin pendek saja..Terakhir kali ia mengingat kami semua cuma bertahan 2 jam saja setelah itu perlahan semakin lama semakin pendek ingatannya seperti yang terjadi seperti sekarang ini.
“Saya Surip….”Aku menjawab singkat sengaja aku pura-pura tidak terjadi sesuatu supaya istriku ini tenang.Aku kembali menatapnya harapanku berhasil. Ia kembali tenang seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
“Buku apa itu…?”Istriku menatap buku lusuh yang aku pegang sejak tadi. Buku ini telah menemani aku sejak aku berhasil belajar menulis kira-kira 60 tahun yang lalu aku bersyukur meskipun terlambat aku berhasil juga belajar membaca dan menulis banyak hal yang bisa aku tuangkan dalam tulisan dan buku inilah yang setia menemaniku selama ini. Buku ini penuh terisi kenangan-kenangan baik manis ataupun pahit sepanjang hidup kami.
“Oh ini….ini novel romantis kamu suka…?” sengaja aku memperkenalkan identitas lain aku mencoba menggunakan metode lain karena pendekatan dengan langsung berusaha mengingatkan istriku cuma berakibat membuatnya semakin histeris dan itu tak akan menghasilkan apapun..
“Oh ya…???….saya suka membaca novel maukah pak Surip membacakannya?” Suaranya masih tetap merdu di telingaku. Aku bersyukur ia merespons positif pendekatanku.

“Ya saya suka cerita romantis saya sudah tak sabar ingin mendengarnya.”Aku puas dengan responsnya. Aku berdoa semoga Tuhan memberi mujizat pada kami.Aku menghela nafas dalam dalam sebelum mulai mebacakannya..
Aku membacakan sebuah kisah yang sebenarnya kisah kami sendiri. Ingatanku melayang kebeberapa puluh masa yang silam. Saat aku masih bujang aku mengabdi di keluarga Belanda sudah 4 generasi keluargaku mengabdi ke keluarga Mener Van der Saar. Dengan perlahan mulutku yang telah keriput mulai membacakan buku harian kami Julia Van Osh istriku, dengan seksama mendengarkanku yang mulai kembali menggali kisah-kasih kami yang telah terkubur. Tidak seperti cerita-cerita sejarah yang aku baca dari buku-buku pelajaran sejarah cucu-cucuku, pada masa itu kehidupan terasa damai keluarga Mener Van der Saar begitu baik memperlakukan keluarga kami begitu juga penduduk sekitar beliau mempunyai tanah perkebunan teh yang luas di kaki Gunung Lawu yang sejuk. Keadaan masa itu bahkan lebih baik dibanding zaman sekarang yang katanya sudah merdeka. Sandang, pangan ,papan semua tercukupi. Sayur mayur dan ternak tumbuh subur dan sehat. Aku suka sekali dengan hawa pegunungan yang sejuk kedamaian terjaga dengan baik di desa kami.Bahkan ketika kedua orang tuaku wafat mener tetap merawat aku dan adikku, Laras. Kami tumbuh besar bersama dengan Nonik demikianlah kami semua memanggil Julia putri semata wayang mener Van der Saar. Waktu terus berlalu kini nonik Julia sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Matanya yang biru sebening kristal dari bohemia serasi dengan hidungnya yang mancung. Semua semakin sempurna dengan kulitnya yang putih bersih. Udara pegunungan yang sejuk dan bebas polusi semakin membantu kecantikan nonik Julia yang memang sudah cantik luar biasa. Hari itu kami semua sangat sibuk mempersiapkan pesta pertunangan nonik Julia dengan Edwin putra mener Pieter. Sebenarnya mereka akan melaksanakannya di negeri Belanda namun keadaan benua Eropa sedang berkecamuk perang. Maka akhirnya diputuskan cukup diadakan di desa kami saja. Acara berlangsung meriah dan rencananya 3 bulan kemudian mereka akan meresmikan pernikahan mereka.

Lastri adiku begitu terharu. Nonik Julia lalu menggodanya dan menjodohkannya dengan Dasirun mandor perkebunan tuan Pieter. Meskipun secara fisik telah menunjukan kematangan seorang wanita dewasa, nonik tetaplah masih seorang gadis yang sangat belia. Jiwa kekanak-kanakanya yang ceria terkadang usil masih terekspresi dari sikap dan tindakannya. Dengan tersipu-sipu malu Lastri akhirnya menerima perjodohan itu. Lastri cukup beruntung gadis secantik dia tak begitu sulit mendapatkan jodoh berbeda dengan diriku. Akibat terkena polio sebelah kakiku menjadi pincang. Tubuhku juga tumbuh tak sempurna aku lebih pendek dari anak-anak seusiaku tubuhku yang kerdil dan wajahku yang jelek tentu kalah jauh jika dibandingkan dengan Dasirun yang bertubuh atletis apalagi jika dibandingkan dengan Tuan Edwin yang tinggi besar dan gagah. Satu-satunya yang, entah ini berkat atau cacat adalah ukuran kemaluanku saja yang luar biasa besarnya. Dibandingkan dengan kakiku, kemaluanku malah lebih besar. Dengan diameter 8 cm dan panjang mencapai 35 cm kemaluanku malah lebih mirip sebuah kaki daripada alat kelamin. Meskipun sudah berumur 19 tahun aku sama sekali belum mengerti arti hubungan antara pria dan wanita. Demikian juga dengan Nonik dan Laras. Yang kami tahu setelah menikah itu pindah rumah, lalu menurut cerita mener, pria dan wanita yang sudah menikah katanya akan diantarin seorang bayi yang lucu oleh burung bangau. Itu saja yang selalu mener Van Der Saar ceritakan kepada kami tak pernah lebih. Keluarga Mener adalah keluarga puritan yang sangat teguh menjaga tata krama sehingga tak heran jika seusia kami, masih saja kami tidak tahu apa-apa mengenai hal-hal yang berbau atau menjurus ke arah sexualitas.Satu-satunya yang aku ketahui walaupun tak banyak adalah dari mentor ku Warto kacung gemblung tetanggaku yang selalu tampil jenaka.

Mungkin karena ukuran kemaluanku yang abnormal, Lastri dan kawan-kawan sepermainan kami sering menggodaku ketika kami mandi bersama-sama di kali sambil memandikan kerbau ternak kami. Mereka sering menyembunyikan pakaianku saat aku mandi di sungai sehingga aku sering kebingungan dibuatnya.Mereka meledekku dengan sebutan “Buto terong” salah satu tokoh pewayangan yang ciri-ciri fisiknya rada mirip-mirip kondisiku. Aku kapok membalas perbuatan mereka. Pernah suatu waktu aku balas perbuatan Lastri. Gadis itu kebingungan tak berhasil menemukan busananya. Aku kasihan juga melihatnya menangis meraung-raung. Bukannya berterima kasih, gadis cantik itu malah memarahiku habis-habisan bahkan setelah pulang perbuatanku diadukan ke Mener sehingga kupingku merah di jewer. Mener lalu memperingatkan aku agar tidak mengulangi perbuatan seperti itu apalagi terhadap perempuan mener cukup adil Lastri juga di hukum ketika aku komplain tentang perbuatannya dan teman-temannya yang juga sering mengerjaiku. Terletak di lereng gunung, Rumah kami begitu damai dan nyaman untuk siapapun penghuninya. Bangunan berarsitektur kolonial sesuai masanya, nampak indah bercat putih dengan langit-langitnya yang tinggi. Bagian barat desa kecil ini dikelilingi oleh tanah pertanian yang luas hanya ada satu jalan utama yang menghubungkan desa kecil ini dengan kota terdekat Di sebelah selatan dan timur, seluruhnya masih berupa hutan perawan yang luas. Semua pemandangan alam yang indah ini dapat dinikmati pada setiap jendela yang ada pada rumah ini.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak mungkin pepatah itulah yang paling tepat. Beberapa hari menjelang pesta perkawinan Nonik Julia, keadaan berubah 180 derajat. Tentara jepang Dai Nippon dengan brutal menyerbu desa kami. Semula aku kira mereka masih satu kerabat dengan babah Ahong, sahabat mener Van Der Saar. Hanya saja para serdadu itu lebih pendek dan lebih putih. Mereka sangat bengis bahkan babah Ahong menjadi salah satu korban pertama keganasan mereka akibat melindungi keluarga kami yang mengungsi. Kepala babah Ahong yang pertama kali menggelinding ke tanah disusul dengan kepala mener Pieter, mener Van Der Saar dan calon menantunya mener Edwin. Semuanya tewas secara mengenaskan dipenggal samurai bala tentara dai Nippon yang kejam. Sementara para mener Belanda yang sudah uzur, wanita dan anak-anak keluarga para mener Belanda yang dieksekusi digabungkan menjadi satu di dalam tahanan militer yang lebih mirip kandang, bahkan lebih buruk dari kandang ternak kami. Para pasukan biadab itu menjarah apa saja yang mereka lihat. Aku Lastri dan Dasirun suaminya cukup beruntung tidak mereka tangkap. Mener menyuruh kami semua untuk lari tepat sebelum para tentara biadab itu menyerbu rumah kediamannya. Sejak peristiwa itu aku tidak pernah bertemu nonik Julia lagi. Mungkin ia telah mati. Lastri sangat sedih hampir setiap hari ia terisak-isak bila teringat nonik dan mener. Dasirun yang kini telah menjadi suaminya tak kuasa menghiburnya. Beberapa hari sejak peristiwa pembantaian secara tiba-tiba Dasirun berlarian terengah-engah bersama Lastri. Kondisi mereka ...


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top