peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

Kenangan Pahit dari Jaman Jepang 1 - cerita.dewasa.1



Kenangan Pahit dari Jaman Jepang 1
Kenangan Pahit dari Jaman Jepang 1
“Sudahlah Mbah, lebih baik Mbah pulang saja nanti malah ikut sakit. Mbah ngga usah cemas, eyang putri sudah ada yang jaga.” anak dan cucu-cucuku bersikeras membujukku untuk pulang.Tapi tekadku sudah bulat aku harus tetap menemani istriku entah kenapa firasatku merasa ada yang lain. Rasa pengabdian yang dalam yang sudah tertanam puluhan tahun tak bisa digoyahkan begitu saja. Ya aku begitu mencintai istriku apapun keadaanya kini.
“Sudahlah kalian semua pulang saja… biarkan mbah mu ini menemani eyang putri mu waktu kami sudah tidak banyak lagi.”Segala bujuk rayu anak dan cucu-cucuku tetap tak merubah pendirianku.Aku menyadari mungkin waktu kami berdua sudah tak lama lagi dan aku ingin memanfaatkan waktu kami yang tersisa itu sebaik-baiknya.
“Hush bapak jangan ngomong sembarangan ah, pamali mbah Eling.” Sentot, putra tertuaku nampak cemas dengan ucapanku.
“Mbah yakin eyang putri bisa lebih cepat sembuh jika ditemani sama mbah.”Aku tetap bersikukuh untuk tetap tinggal,
“Hmm….ya sudahlah mbah kami tinggal dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon saja.” Akhirnya anak dan cucu-cucuku menyerah. Setelah berpesan pada para dokter dan perawat untuk baik-baik menjaga kami berdua akhirnya mereka semua pulang.
Aku menghela nafas panjang taman ini kembali sepi perlahan aku melirik kesamping Julia, istriku masih duduk termenung diatas hamparan rumput. Entah apa yang ada dalam kepalanya saat ia melamun seperti itu. Setidaknya dalam sedikit sisa umur yang masih disediakan Tuhan, aku cukup bahagia bisa menyaksikan anak-anak dan cucu-cucuku tumbuh dewasa dan telah mapan secara materi dan rohani. Aku sangat bangga dengan keberadaan mereka. Aku bersyukur nasib mereka tidak sepahit diwaktu zamanku. Diantara mereka semua, untung tidak ada yang mengikuti genku yang buruk rupa. Semuanya tumbuh sehat tampan dan secantik eyang putrinya semasa gadis perwan. Terutama cucuku Suryati. Ia sangat mirip dengan eyang putrinya sewaktu muda.

“Kamu siapa? Sedang apa disini….?”Suara parau mendadak mengagetkan lamunanku matanya masih seindah dulu menatap penuh curiga pada diriku.
“Ini aku Julia…suamimu Surip…” suaraku sedikit tercekat. Meskipun secara umum aku cukup bahagia, namun keadaan istriku beberapa bulan ini nampaknya semakin parah. Ingatannya lama kelamaan semakin menurun alias pikun menurut dokter penyakit linglung ini istilah kerennya dikenal dengan penyakit alzheimer. Penyakit itu menggerogoti memorinya sehingga kenangan-kenangan indah kami bersama seakan lenyap tak bersisa. Kadang ia bahkan tak mengenali diriku dan anak-anaknya sendiri.

”Surip…?…. Surip siapa ya…..???….siapa kamu?Aura sisa kecantikan masih terberkas di wajah rentanya. Mata birunya menatap penuh kecurigaan padaku, perlahan wajahnya berubah pucat. Berkas ketakutan mulai muncul di wajah ayunya yang mulai termakan usia.
“Dimana aku…? Tolong….tolong….Pulangkan saya!!!!!” Tiba-tiba emosi istriku melonjak dia menjerit-jerit histeris. Memang akhir-akhir ini ia sering bertingkah seperti itu.Mungkin kenangan buruk masa lampaunya kembali hadir menghantuinya
“Ada apa pak….? Semua baik-baik saja…..?”Beberapa perawat dengan tergopoh-gopoh berlarian menghampiri kami.
“Tidak….tidak….tidak ada apa-apa tinggalkan saja kami.”Aku lalu menjelaskan secara singkat tabiat serta kebiasaan istriku.

“Baiklah pak tapi kalau ada apa-apa jangan segan-segan panggil kami.”Meski dengan sedikit ragu akhirnya para perawat itu meninggalkan kami.
“Siapa kamu…..?”Kembali mata biru istriku menatap diriku. Ingatannya sekarang ini memang sudah semakin pendek saja..Terakhir kali ia mengingat kami semua cuma bertahan 2 jam saja setelah itu perlahan semakin lama semakin pendek ingatannya seperti yang terjadi seperti sekarang ini.
“Saya Surip….”Aku menjawab singkat sengaja aku pura-pura tidak terjadi sesuatu supaya istriku ini tenang.Aku kembali menatapnya harapanku berhasil. Ia kembali tenang seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
“Buku apa itu…?”Istriku menatap buku lusuh yang aku pegang sejak tadi. Buku ini telah menemani aku sejak aku berhasil belajar menulis kira-kira 60 tahun yang lalu aku bersyukur meskipun terlambat aku berhasil juga belajar membaca dan menulis banyak hal yang bisa aku tuangkan dalam tulisan dan buku inilah yang setia menemaniku selama ini. Buku ini penuh terisi kenangan-kenangan baik manis ataupun pahit sepanjang hidup kami.
“Oh ini….ini novel romantis kamu suka…?” sengaja aku memperkenalkan identitas lain aku mencoba menggunakan metode lain karena pendekatan dengan langsung berusaha mengingatkan istriku cuma berakibat membuatnya semakin histeris dan itu tak akan menghasilkan apapun..
“Oh ya…???….saya suka membaca novel maukah pak Surip membacakannya?” Suaranya masih tetap merdu di telingaku. Aku bersyukur ia merespons positif pendekatanku.

“Ya saya suka cerita romantis saya sudah tak sabar ingin mendengarnya.”Aku puas dengan responsnya. Aku berdoa semoga Tuhan memberi mujizat pada kami.Aku menghela nafas dalam dalam sebelum mulai mebacakannya..
Aku membacakan sebuah kisah yang sebenarnya kisah kami sendiri. Ingatanku melayang kebeberapa puluh masa yang silam. Saat aku masih bujang aku mengabdi di keluarga Belanda sudah 4 generasi keluargaku mengabdi ke keluarga Mener Van der Saar. Dengan perlahan mulutku yang telah keriput mulai membacakan buku harian kami Julia Van Osh istriku, dengan seksama mendengarkanku yang mulai kembali menggali kisah-kasih kami yang telah terkubur. Tidak seperti cerita-cerita sejarah yang aku baca dari buku-buku pelajaran sejarah cucu-cucuku, pada masa itu kehidupan terasa damai keluarga Mener Van der Saar begitu baik memperlakukan keluarga kami begitu juga penduduk sekitar beliau mempunyai tanah perkebunan teh yang luas di kaki Gunung Lawu yang sejuk. Keadaan masa itu bahkan lebih baik dibanding zaman sekarang yang katanya sudah merdeka. Sandang, pangan ,papan semua tercukupi. Sayur mayur dan ternak tumbuh subur dan sehat. Aku suka sekali dengan hawa pegunungan yang sejuk kedamaian terjaga dengan baik di desa kami.Bahkan ketika kedua orang tuaku wafat mener tetap merawat aku dan adikku, Laras. Kami tumbuh besar bersama dengan Nonik demikianlah kami semua memanggil Julia putri semata wayang mener Van der Saar. Waktu terus berlalu kini nonik Julia sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Matanya yang biru sebening kristal dari bohemia serasi dengan hidungnya yang mancung. Semua semakin sempurna dengan kulitnya yang putih bersih. Udara pegunungan yang sejuk dan bebas polusi semakin membantu kecantikan nonik Julia yang memang sudah cantik luar biasa. Hari itu kami semua sangat sibuk mempersiapkan pesta pertunangan nonik Julia dengan Edwin putra mener Pieter. Sebenarnya mereka akan melaksanakannya di negeri Belanda namun keadaan benua Eropa sedang berkecamuk perang. Maka akhirnya diputuskan cukup diadakan di desa kami saja. Acara berlangsung meriah dan rencananya 3 bulan kemudian mereka akan meresmikan pernikahan mereka.

Lastri adiku begitu terharu. Nonik Julia lalu menggodanya dan menjodohkannya dengan Dasirun mandor perkebunan tuan Pieter. Meskipun secara fisik telah menunjukan kematangan seorang wanita dewasa, nonik tetaplah masih seorang gadis yang sangat belia. Jiwa kekanak-kanakanya yang ceria terkadang usil masih terekspresi dari sikap dan tindakannya. Dengan tersipu-sipu malu Lastri akhirnya menerima perjodohan itu. Lastri cukup beruntung gadis secantik dia tak begitu sulit mendapatkan jodoh berbeda dengan diriku. Akibat terkena polio sebelah kakiku menjadi pincang. Tubuhku juga tumbuh tak sempurna aku lebih pendek dari anak-anak seusiaku tubuhku yang kerdil dan wajahku yang jelek tentu kalah jauh jika dibandingkan dengan Dasirun yang bertubuh atletis apalagi jika dibandingkan dengan Tuan Edwin yang tinggi besar dan gagah. Satu-satunya yang, entah ini berkat atau cacat adalah ukuran kemaluanku saja yang luar biasa besarnya. Dibandingkan dengan kakiku, kemaluanku malah lebih besar. Dengan diameter 8 cm dan panjang mencapai 35 cm kemaluanku malah lebih mirip sebuah kaki daripada alat kelamin. Meskipun sudah berumur 19 tahun aku sama sekali belum mengerti arti hubungan antara pria dan wanita. Demikian juga dengan Nonik dan Laras. Yang kami tahu setelah menikah itu pindah rumah, lalu menurut cerita mener, pria dan wanita yang sudah menikah katanya akan diantarin seorang bayi yang lucu oleh burung bangau. Itu saja yang selalu mener Van Der Saar ceritakan kepada kami tak pernah lebih. Keluarga Mener adalah keluarga puritan yang sangat teguh menjaga tata krama sehingga tak heran jika seusia kami, masih saja kami tidak tahu apa-apa mengenai hal-hal yang berbau atau menjurus ke arah sexualitas.Satu-satunya yang aku ketahui walaupun tak banyak adalah dari mentor ku Warto kacung gemblung tetanggaku yang selalu tampil jenaka.

Mungkin karena ukuran kemaluanku yang abnormal, Lastri dan kawan-kawan sepermainan kami sering menggodaku ketika kami mandi bersama-sama di kali sambil memandikan kerbau ternak kami. Mereka sering menyembunyikan pakaianku saat aku mandi di sungai sehingga aku sering kebingungan dibuatnya.Mereka meledekku dengan sebutan “Buto terong” salah satu tokoh pewayangan yang ciri-ciri fisiknya rada mirip-mirip kondisiku. Aku kapok membalas perbuatan mereka. Pernah suatu waktu aku balas perbuatan Lastri. Gadis itu kebingungan tak berhasil menemukan busananya. Aku kasihan juga melihatnya menangis meraung-raung. Bukannya berterima kasih, gadis cantik itu malah memarahiku habis-habisan bahkan setelah pulang perbuatanku diadukan ke Mener sehingga kupingku merah di jewer. Mener lalu memperingatkan aku agar tidak mengulangi perbuatan seperti itu apalagi terhadap perempuan mener cukup adil Lastri juga di hukum ketika aku komplain tentang perbuatannya dan teman-temannya yang juga sering mengerjaiku. Terletak di lereng gunung, Rumah kami begitu damai dan nyaman untuk siapapun penghuninya. Bangunan berarsitektur kolonial sesuai masanya, nampak indah bercat putih dengan langit-langitnya yang tinggi. Bagian barat desa kecil ini dikelilingi oleh tanah pertanian yang luas hanya ada satu jalan utama yang menghubungkan desa kecil ini dengan kota terdekat Di sebelah selatan dan timur, seluruhnya masih berupa hutan perawan yang luas. Semua pemandangan alam yang indah ini dapat dinikmati pada setiap jendela yang ada pada rumah ini.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak mungkin pepatah itulah yang paling tepat. Beberapa hari menjelang pesta perkawinan Nonik Julia, keadaan berubah 180 derajat. Tentara jepang Dai Nippon dengan brutal menyerbu desa kami. Semula aku kira mereka masih satu kerabat dengan babah Ahong, sahabat mener Van Der Saar. Hanya saja para serdadu itu lebih pendek dan lebih putih. Mereka sangat bengis bahkan babah Ahong menjadi salah satu korban pertama keganasan mereka akibat melindungi keluarga kami yang mengungsi. Kepala babah Ahong yang pertama kali menggelinding ke tanah disusul dengan kepala mener Pieter, mener Van Der Saar dan calon menantunya mener Edwin. Semuanya tewas secara mengenaskan dipenggal samurai bala tentara dai Nippon yang kejam. Sementara para mener Belanda yang sudah uzur, wanita dan anak-anak keluarga para mener Belanda yang dieksekusi digabungkan menjadi satu di dalam tahanan militer yang lebih mirip kandang, bahkan lebih buruk dari kandang ternak kami. Para pasukan biadab itu menjarah apa saja yang mereka lihat. Aku Lastri dan Dasirun suaminya cukup beruntung tidak mereka tangkap. Mener menyuruh kami semua untuk lari tepat sebelum para tentara biadab itu menyerbu rumah kediamannya. Sejak peristiwa itu aku tidak pernah bertemu nonik Julia lagi. Mungkin ia telah mati. Lastri sangat sedih hampir setiap hari ia terisak-isak bila teringat nonik dan mener. Dasirun yang kini telah menjadi suaminya tak kuasa menghiburnya. Beberapa hari sejak peristiwa pembantaian secara tiba-tiba Dasirun berlarian terengah-engah bersama Lastri. Kondisi mereka nampaknya sangat tidak baik tangan Dasirun yang menggenggam golok berlumuran darah segar sementara tubuh Lastri yang nyaris telanjang bulat nampak lemas digendong suaminya.
“Surip….!!!… tolong adikmu Rip sembunyikan dia.. Biar aku tahan sementara para mata sipit itu cepaaat jangan bengong saja sebentar lagi mereka akan dataaang!!!” tubuhku terpaku gemetaran. Aku bingung harus bagaimana dalam suasana genting seperti ini. Dengan terpincang-pincang aku gendong tubuh Lastri. Di dalam lemari pakaian yang cukup besar akhirnya aku putuskan untuk aku jadikan tempat persembunyian.
“BAGEROOO!!!!! BERANI BERANINYA KAMU MELAWAN !!!” tak lama kemudian suara erang kesakitan yang memilukan meluncur dari mulut Dasirun.

Dari celah-celah pintu aku menyaksikan sebelah tangan Dasirun hancur dihantam popor senapan. Pria malang itu terbungkuk-bungkuk sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah-darah. Golok yang semula dalam genggamannya kini nampak tergeletak begitu saja di lantai.
“Mas…jangan….jangan sakiti suamiku….!!!!!” melihat suaminya terluka parah, entah dari mana datangnya kekuatannya, Lastri yang sudah lemas tiba-tiba memberontak sekuat tenaga ia berlari menghambur keluar tanpa bisa aku cegah lagi.
Aku masih berusaha mengejarnya namun semuanya sia-sia. Derai tawa bekakakan meluncur bersahut-sahutan dari para serdadu mata sipit itu beserta ucapan-ucapan dalam bahasa yang tidak aku mengerti. Namun aku menebaknya itu sebuah kata-kata makian. Meskipun ketakutan setengah mati naluriku sebagai pria membuatku maju melindungi adiku satu-satunya.
“HA..HA…HA…MAHKLUK APA PULA KAMU INI…HA..HA..HA..BUK!!!!Sebuah pukulan keras bersarang tepat ke ulu hatiku. Aku terbungkuk-bungkuk dibuatnya.
nyeri sekali rasanya Para tentara itu semakin keras menertawakan kami tanpa perlawanan berarti, sebuah tendangan yang keras kembali mendarat di dadaku membuat ku jatuh terkapar tak berkutik lagi.
“Augh…jangan tuan…..jangan….”Lastri menjerit-jerit ketakutan. Para serdadu itu sengaja mempermainkan Lastri sebelum mereka memperkosanya.Dalam sekejap, serpihan sisa-sisa kain yang masih menempel di tubuh Lastri telah rontok. Kini tubuh Lastri telah polos tanpa busana lagi. Buah dadanya yang berukuran sedang terayun-ayun indah tanpa penyangga
“HA..HA…AYO LARI SANA MANIS…!!!!” pantat telanjang Lastri yang membulat kencang menjadi sasaran empuk tangan-tangan laknat serdadu itu. Dasirun dan aku hanya bisa melihat dengan miris perlakuan para jahanam itu. Dalam keadaan telanjang bulat Lastri kebingungan berlarian kesana kemari mencoba menghindari sergapan para serdadu cabul itu.

“PLAK….!!!
BAGERO!!! SUDAH…..DIAM KAMU!!! ” bosan mempermainkan Lastri, salah seorang prajurit Jepang itu tiba-tiba menghardik keras Lastri. Tubuh bugil Lastri nyaris terjerembab bagai daun gugur yang tertiup angin. Sebuah tamparan keras mendarat telak di wajah gadis malang itu.Seorang serdadu berkepala botak dengan cambang yang lebat langsung mengunci tubuh Lastri yang nyaris mencium tanah dan membuat gadis malang itu tak berkutik lagi.
“HAYO ISAAP…DAN PUASIN KAMI SEMUA…!!!
KALAU TIDAK KAMI CINCANG SUAMIMU ITU DAN KAMI BERI MAKAN ANJING KAMI DENGAN DAGING BUSUK SUAMIMU ITU!!”Dengan bahasa indonesia yang terpatah-patah, perwira Jepang itu dengan tergesa-gesa melucuti celananya sendiri.
“HAYOOO CEPAT BUKA MULUTMU..!!!” kemaluannya yang berwarna pink cerah agak kehitaman mencuat tegang mengacung.
Dengan kasar rambut Lastri yang panjang terurai segera dijambaknya. Disodorkannya kemaluannya yang sudah menetes-netes tepat di depan mulut gadis malang itu. Mata Lastri terpejam.Gadis itu tak berani membuka matanya. Aroma khas bau kemaluan laki-laki terasa kuat menusuk hidungnya. Dengan kasar benda berlendir yang menjijikan itu mendobrak bibirnya melesak maju mundur dengan cepat. Lastri merasa sangat mual. Seumur hidupnya baru sekali ini ia mengoral kemaluan laki-laki. Dasirun suaminyapun tak pernah memaksanya melakukan hal itu. Namun dibawah ancaman gadis cantik berambut panjang itu tak mampu berbuat banyak selain tunduk seratus persen kepada mereka. Lastri tak mau mengambil resiko dengan mempertaruhkan nyawa suaminya dan aku kepada pasukan Jepang yang terkenal sangat kejam.
“HOAAH….ARGH….HAH..HAH..SHHGH..HMM..ENYAK…ENYAK…EN YAK….HA…HA…ISEPANMU ENAK SEKALI. HA…HA…HA…HAYO LEBIH KUAT ISEPNYA!!!” tanpa mempedulikan Lastri yang hampir kehabisan nafas, perwira Jepang itu dengan kasar merengkuh kepala Lastri. Membenamkan kepala gadis malang itu dalam-dalam tepat ke selangkangannya

“Keparat Hentikan….!!”Dasirun memberontak sekuat tenaga.
Pria mana yang tak terbakar hatinya menyaksikan tubuh telanjang istrinya digagahi, meronta-ronta tak berdaya digumuli segerombolan serdadu liar yang cabul.
“BANGSAT DIEM KAMU…!!!” gagang popor senapan serdadu Jepang itu dengan telak mendarat diwajah Dasirun. Darah segar yang kental segera meleleh dari sudut bibir pria malang itu beberapa giginya turut tanggal akibat hajaran popor senapan. Perlawanan Dasirun tak berlangsung lama pria itu kepayahan kehabisan tenaga dihajar habis-habisan oleh para serdadu pemerkosa istrinya.
“Maaaasssss….JANGAAANN….!!!!!….Ouw….argh…argh….amp un tuan….argh….”Tubuh POLOS Lastri yang tak tertutup sehelai benangpun meronta-ronta liar. Ingin rasanya ia menghambur untuk melindungi suaminya namun apa daya tangan-tangan kokoh yang kekar membuatnya tak kuasa bergerak sama sekali. Gadis cantik itu hanya bisa sesenggukan menatap miris suaminya yang berdarah-darah.
“Ampun tuan saaakit…… jangan sikza saya arghhh…..” Lastri menjerit kesakitan. Prajurit Jepang itu dengan brutal memilin puting susunya kuat-kuat. Membuat ujung pentil susunya terasa sangat perih.Tubuh Lastri yang ramping padat berisi nampak kontras ditindih tubuh tambun Perwira Jepang yang putih kemerahan. Tanpa basa-basi ujung kemaluan perwira Jepang itu segera menjebol lobang kenikmatan surgawi gadis malang itu. Lastri menjerit-jerit kesakitan selangkangannya serasa panas membara lobang kemaluannya yang masih kering terasa perih diterobos kelamin serdadu laknat yang cabul.Tubuh gadis itu terguncang-guncang hebat. Butiran keringatnya mengalir deras. Lastri gadis cantik. Muda belia dan baru saja menikah keadaan saat ini sesungguhnya sangat menyakitkan dan merendahkannya sampai ke titik nadir. Namun sebagai wanita muda yang baru mengenal dan mengexplorasi nikmatnya malam pertama, tubuhnya terlalu jujur untuk mengingkari kenikmatan stimulasi-stimulasi cabul yang terfokus di area intimnya. Meskipun perbuatan itu dilakukan oleh pria yang samasekali tak mempunyai hak untuk mengakses tubuhnya. Secara perlahan namun pasti, bara api birahi mulai membakar gadis itu. Perlahan tubuhnya menggelinjang perlahan, beradaptasi menikmati belaian-belaian nakal pada area intimnya.

“BWA…HA..HA…HA…LIHAT IA SUDAH MULAI KEENAKAN HA…HA…HA…!!!”Lastri terkejut. Gadis itu kembali tersadar akan posisi dirinya. Tak dapat dilukiskan perasaan Lastri saat itu. Air matanya kembali jatuh berderai mengalir deras bagaikan anak sungai. Gadis itu jijik kepada dirinya sendiri yang entah bagaimana, tanpa bisa dikontrol lagi tubuhnya merespon kelamin pria asing yang bersarang di kemaluannya.
“Maaf mas…maafkan aku hu..hu…”Tangis Lastri pecah entah untuk kesekian kalinya. gadis itu sangat malu dan marah pada dirinya sendiri.
Pinggulnya kini bahkan bergoyang sendiri menyambut sodokan penis pemerkosanya. Liang kelaminnya yang telah lembab basah berdenyut-denyut kencang terekpose tepat diwajah suaminya. Gadis muda itu mencoba memalingkan mukanya. Dicobanya untuk menyembunyikan gurat-gurat nikmat birahi yang tergambar nyata pada ekspresi wajah cantiknya. Matanya tak kuasa menatap suaminya. Nuraninya tak mampu menguasai amuk birahi yang telah bergejolak hebat pada dirinya. Namun jari-jari yang sangat kuat mencengkram dagunya. Dengan kasar memaksa wajahnya nya untuk tetap menghadap suaminya yang tengah meringis kesakitan.
“Ugh…sssh…ahhhh…..maaafkan akuuuuuu masss aaaaaaccchhh….sssghhhhhhh oooouuuughhhhh..!!!” tanpa tertahankan lagi tubuh polos Lastri mengejang hebat.
Gadis itu telah mencapai titik orgasmenya. Liang kelaminnya beberapa kali berdenyut kencang meremas-remas daging kenyal batang kelamin yang menjejali lobang kelamin gadis cantik itu. Tubuh polos Lastri terkulai lemas bermandikan cairan lendir-lendir kenikmatan yang berwarna putih kental.
“WOOY LIHAT NIH….!!!
SUDAH AKU BILANG BUKAN? ISTRIMU INI KEENAKAN BWA…HA…HA…HA…HA…” para pemerkosanya tertawa kegirangan. Dipamerkannya cairan kewanitaan Lastri yang berlumuran dijarinya ke wajah Dasirun. Pria itu geram bukan kepalang. Hatinya remuk redam. Rasa kecewa yang amat sangat menusuk-nusuk hatinya. Jauh lebih sakit dari siksa fisik yang ada.Tak habis fikir olehnya bagaimana mungkin istrinya yang cantik dan setia bisa terbuai oleh permainan birahi yang menjijikan. Pria malang itu tak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya begitu menikmati perkosaan biadab itu.

Tak usai disini penderitaan Lastri. Tiga orang sekaligus langsung menggumuli tubuh telanjang gadis itu yang masih tergeletak lemas kelelahan. Segala jerit dan pekik minta ampun dan kesakitan gadis malang itu sama sekali tak digubris. Cairan sperma yang hampir mengering berceceran menghiasi anak-anak rambutnya yang terurai awut-awutan.
“Aduuuh…!! Ampunn sakiiit arghhh ah…ah…ahhh…ooohhh tidak jangan disituuu arrrgh…..”Tiba-tiba Lastri merasakan lobang anusnya digerayangi. Sebuah jari, tanpa permisi mencoba memaksa membuka sedikit-demi sedikit lobang pembuangannya yang paling pribadi.
Dengan kasar jari-jari itu semakin dalam menghunjam liang pantatnya yang kini serasa panas membara. Tak usai disitu saja, dua ruas jari sekaligus secara cepat mengocok lobang anusnya dengan brutal. Menimbulkan rasa nyeri dan panas serasa terbakar yang luar biasa. Seakan tak mau kalah, dua orang prajurit secara kesetanan mengulum-ngulum kedua belah payudara Lastri yang membulat sempurna secara bergantian. Pentil susunya yang memanjang sepanjang ujung ruas jari pertama segera lenyap di mulut jelek mereka. Dengan rakusnya, dihisapnya kuat-kuat ujung pentil susu yang kini sudah sepenuhnya dalam mulut mereka. Tak bosan-bosannya lidah-lidah kasap mereka memoles puting Lastri menimbulkan sensasi rasa geli yang luar biasa. Bagai dua orang bayi yang kelaparan, dengan buas serdadu Jepang itu menyusu pada bulatan indah daging kenyal yang menggantung indah menghiasi dada milik Lastri. Tubuh Lastri yang telah total tanpa busana semakin lemah tak berdaya menjadi bulan-bulan mereka. Baru kali ini aku menyaksikan proses persetubuhan antara pria dan wanita. Jujur sama sekali, walau sudah sedewasa ini, aku belum pernah tau tentang bersetubuh. Aku juga baru kali ini secara explisit menyaksikan tubuh telanjang seorang wanita dewasa dengan seutuhnya. Dulu pernah secara tak sengaja aku memergoki nonik Julia sewaktu sedang ganti baju
Lastri yang memergokiku langsung melotot dan menjewerku

“Kalau mener tahu kelakuanmu, kamu bisa di usir loh Rip, jangan main-main kamu.” mata Lastri yang hitam bening seakan menusuk jantungku.
“A..aku cuma lewat aku tak sengaja yakinlah sumpah…sumpah”Aku tergagap-gagap berusaha membela diri. Mata Lastri yang tajam menatap penuh selidik raut wajahku yang bersemu memerah menahan malu beberapa saat ia menatapku dalam-dalam penuh selidik namun ia akhirnya mempercayaiku
“Yo wis Rip lain kali jangan di ulangi ya.” aku bernafas lega, ia lalu melarangku untuk mengulangi lagi perbuatanku itu.
Meskipun Lastri adiku, namun pada kenyataannya ia malah mirip ibuku. Daya tangkapku yang lemah membuatku lebih mirip anak-anak yang terperangkap dalam tubuh dewasa. Sejak kedua orang tua kami meninggal, praktis Lastri yang menggantikan peran ibu dalam mengurusku. Malamnya aku tidak bisa tidur. Tubuh telanjang Nonik seakan menggodaku. Aku berusaha kuat untuk melupakan imajinasi cabul yang datang tak diundang itu. Entah kenapa sepertinya ada sesuatu dalam hatiku yang bergejolak liar Aku sendiri tak tahu pasti apa itu. Yang aku rasakan, semakin memikirkan apa yang aku lihat tadi, rasanya aku seperti ingin pipis. Seperti ada kekuatan gaib yang membimbing tanganku untuk mengusap-usap daging kenyal yang menggelantung tepat di tengah selangkanganku. Ada rasa damai dan nyaman luar biasa yang hinggap di hatiku. Perasaan nyaman yang dalam muncul begitu saja entah dari mana saat aku meresapi elusan jari jemari tanganku yang bermain-main pada batang kelaminku sendiri. Namun ancaman Lastri kembali menyadarkan pikiran warasku. Pikiranku bercabang antara mendengarkan ancaman Lastri dan pemandangan indah yang aku lihat tadi. Di samping sensasi aneh yang seakan-akan menendang-nendang keras selangkanganku. Semula aku mengira akan buang air kecil. Namun setelah lama aku menunggu untuk menuntaskan hajatku itu, tak kunjung datang pula. Angin malam yang semilir sejuk semakin membuaiku membuatku kelelahan .Tak lama kemudian aku tertidur. Esoknya aku kebingungan karena celanaku telah basah kuyup oleh cairan kental lendir putih pekat. Aku tak berani menceritakan itu kepada siapapun. Aku malu karena waktu itu aku mengira mengompol kelak baru aku tahu kalau itu sebenarnya mimpi basahku yang pertama.

“Keparat kalian….!!” bentakan Dasirun mengagetkanku dari lamunanku.
Usaha Dasirun membuahkan hasil. Prajurit yang menjaganya sama sekali tak menyangka Dasirun masih memiliki tenaga untuk melawan. Prajurit Jepang yang tengah lengah itu terpental diseruduk Dasirun. Tanah kering mengepul berhamburan seolah menciptakan cendawan debu dihempas tubuh tambun perwira Jepang yang sama sekali tidak menyangka korbannya masih berani melawan.
“MAMPUS KAMU ANJING….!!!!”. Tentara Jepang itu sangat murka kesenangan mereka terganggu. Kepala pria malang itu menggelinding kencang ditebas pedang samurai yang sangat tajam. Tubuh buntung yang telah kehilangan kepalanya itu segera tumbang berdebum. Tamat sudah riwayat Dasirun tanpa sempat mengaduh lagi.
“Maaassss…..tidaaaaakk……bajingan kalian semuaa!!!!!” Lastri nampak sangat shock menyaksikan suami tercintanya tumbang. Malaikat maut menjemput suaminya dengan cara yang sangat tragis.
Seakan kehilangan sukmanya, tubuh bugil Lastri hanya bisa tergoncang-goncang keras kian kemari dipermainkan sodokan demi sodokan kelamin pria-pria bejad yang terus menerus membombardir organ intimnya. Seluruh syaraf gadis cantik itu seakan putus sama sekali cubitan dan tamparan yang sebelumnya serasa menyakitkan, kini sama sekali seakan tak bereaksi lagi atas tubuhnya..Bibir gadis itu tercekat, rasa perih batinya jauh mengalahkan nyeri luka puting susunya yang terluka atau rasa perih pada anusnya yang serasa membara. Luka batin yang mengoyak-koyak jiwa jauh mengalahkan derita fisiknya.Tubuhnya membeku tak bergerak membiarkan jari jemari cabul yang terus menerus mempermainkan area-area intim organ kelaminnya. Entah apa yang kini sedang terjadi, tubuh bugil adiku itu kini seakan kosong tiada berjiwa lagi. Semangat perlawananya yang beberapa saat lalu gigih menghalau serbuan tangan-tangan cabul penjajah kelamin,kini seakan menguap lenyap mengiringi kepergian suami tercintanya.Tubuh polosnya yang indah terumbar bebas tanpa seutas benangpun menjadi bahan permainan terlarang para serdadu keparat itu.

Puas melampiaskan nafsu bejad mereka, para serdadu keparat itu menggiring kami berdua ke markas besar mereka. Disana kami dimasukan kedalam sel yang penuh sesak. Para tahanan wanita kebanyakan dalam keadaan tanpa busana sama sekali. Aku bergidik ngeri menatap satu persatu tubuh-tubuh wanita telanjang itu. Sebagian besar aku dapat mengenali mereka, tak susah untuk mengenali mereka karena desa kami adalah desa kecil mereka sebagian besar adalah para wanita terhormat istri-istri atau anak-anak dari para tuan tanah Belanda yang berhasil ditawan oleh bala tentara Iblis. Kehidupan mewah yang bergelimang harta, baju-baju indah berbahan sutera yang setia membalut tubuh indah para wanita terhormat itu, kasur empuk yang nyaman yang selalu siap untuk menerima tubuh lelah mereka. Tiada seorangpun dari mereka yang menyangka akan mengalami nasib seperti ini. Kini tembok kusam dan ruangan yang bau mengurung tubuh letih mereka. Jangankan baju sutera. Kini bahkan para wanita cantik terhormat yang dulu biasa hidup enak berkecukupan harus menggigil kedinginan meringkukan rapat-rapat tubuh putih mulus mereka yang kini tanpa busana lagi. Keadaan mereka bahkan lebih buruk dari hewan ternak peliharaan mereka dulu.
“Jangan…jangan….tiddaaaak…..tidaaaak….!!!” Mei-Mei putri babah Ahong satu-satunya keluarga babah Ahong yang selamat dari pembantaian Jepang menjerit-jerit histeris.
Aku masih mengenalinya. Tubuh bugilnya meronta-ronta tak berdaya ditindih seorang pria setengah baya yang berkulit hitam pekat entah siapa namanya, namun aku mengenalnya dulu sebagai seorang kuli di rumah babah Ahong. Aku terkejut dan merasa jijik menyaksikan perbuatan mesum tua bangka itu. Entah apa yang dipikirkan pria itu tega-teganya ia memperkosa putri majikannya sendiri. Padahal keadaannya sendiripun tidak lebih baik. Sekujur tubuhnya masih dihiasi luka bekas cambukan yang masih basah.

Memang nafsu birahi tak memandang strata maupun usia.. Naluri primitif itu sama tuanya dengan umur bumi. Hanya akal budi yang bisa menjadikannya menjadi suatu ikatan suci yang indah dengan batasan-batasan norma yang agung. Maka sejatinya orang yang akal budinya sudah tak mampu mengontrol nafsu birahinya, maka tiada bedanya lagi ia dengan seekor binatang. Dan hal itulah yang terjadi pada pria itu. Aroma kematian yang sudah sedemikian dekat pada dirinya masih tak mampu menyadarkannya.Pria itu lebih memilih memuaskan nafsu primitifnya pada putri majikannya yang cantik.Putri yang seharusnya ia lindungi. Nafasnya memburu kencang. Sama kencangnya seirama dengan pinggulnya yang dengan cepat memompa selangkangan gadis cantik putri majikannya sendiri. Hatiku terenyuh menyaksikan adegan mesum ini. Ingin rasanya aku menghalau pria separuh baya yang sudah bau tanah itu.Namun aku juga menyadari status dan keadaan diriku yang juga masih kacau balau bukan kapasitasku untuk mampu mencegahnya Para tuan-tuan Belanda lain yang dulunya sangat diseganipun tak berbuat apapun untuk mencegah perbuatan biadab yang sedang berlangsung di depannya. Mereka masing-masing terpekur dalam kesedihannya dan kerisauan hatinya masing-masing tanpa sedikitpun peduli terhadap keadaan sekitarnya. Lingkungan sel ini memang sudah menjadi kandang ternak yang buruk. Cuma binatang yang bertubuh manusia yang kini menghuni sel laknat ini.
“HA…HA…HA…BAGUS….BAGUS….HA….HA…..HA…HAYO BIKIN BUNTING MAJIKANMU ITU BWA…HA…HA…HA…HAH….!!!.” entah kenapa para prajurit brengsek itu selalu berteriak kalau berbicara.
Kasihan Mei-Mei tak seorangpun yang mau menolongnya prajurit penjaga malah justru tertawa terbahak-bahak menyemangati aksi cabul tawanannya. Para prajurit itu sengaja mengurung tawanannya bercampur jadi satu antara pria dan wanita. Prajurit itu ingin menciptakan kehancuran moral yang luar biasa untuk para tawanannya dengan demikian para tawanannya itu akan selalu dihantui oleh teror jahat yang tak mungkin dilupakan seumur hidupnya

Aku tak mau untuk memperhatikan mereka lebih lama lagi.Tubuh Mei-Mei yang putih bersih terlihat kontras dengan pria legam yang menggagahinya.Rintihan-rintihan gadis malang itu semakin lirih gadis itu menyadari nasib buruknya yang menakdirkannya menjadi budak pelampiasan nafsu hewani. Mataku menyapu seluruh ruangan berbau busuk ini. Aku berharap bisa menemukan nonik Julia. Setelah membaringkan Lastri yang pingsan, aku berjalan keliling di Sel yang cukup besar ini. Doaku nampaknya dikabulkan.Diantara para tahanan wanita itu aku dapat mengenali salah seorang wanita yang sudah tak asing lagi bagiku. Ya nonik Julia, nampaknya gadis malang itu pingsan. Meskipun tubuh bugilnya diam tak bergerak namun buah dadanya yang membusung indah dengan puting susunya yang berwarna pink cerah masih naik turun teratur beraktifitas mengolah nafas. Entah kenapa jantungku berdegup kencang tak menentu. Bayangan Lastri dan Mei-Mei yang diperkosa, tanpa permisi bersliweran didalam kepalaku. Keadaan gadis cantik itu sangat menyedihkan. Tubuhnya yang putih mulus kini penuh bercak-bercak merah bekas cupangan. Selangkangannya yang dihiasi bulu kemaluan yang pirang keemasan seperti bulu jagung nampak mengalir darah disertai cairan putih kental lengket yang membanjiri pahanya. Dengan hati-hati aku mencoba menyadarkan Nonik. Ragu-ragu aku mencoba membersihkan tubuh mulusnya. Entah kenapa tanganku gemetar hebat ketika kulit kami bersentuhan. Tubuhnya lumayan berat mau tidak mau aku terpaksa menjamah payudaranya yang begitu halus,lembut dan terasa kenyal saat aku mencoba menyeretnya agar bisa berbaring di samping Lastri. Aku terkejut tanpa bisa aku kendalikan kemaluanku perlahan-lahan bangkit berdiri. “Memalukan…memalukan sungguh terlalu kenapa aku ini..?” Aku mengutuki diriku sendiri. “Apa yang aku pikirkan….?” Aku mengambil nafas dalam-dalam aku samasekali tidak mengerti padahal aku tidak memikirkan sesuatu yang cabul.
Memang peristiwa pemerkosaan Lastri dan Mei-mei sempat melintas di kepalaku tapi aku cuma teringat saja. Aku tak mungkin terangsang oleh hal biadab seperti itu meskipun aku cacat dan bodoh tidak mungkin aku berbuat serendah itu. Aku akan loyal budi baik Mener akan selalu aku ingat.

“Rip tolong jaga putriku lindungi ia dengan segenap jiwa dan ragamu Rip, aku percaya kepadamu sama seperti leluhurku. Dulu kakekku bersama kakek buyutmu, sudah turun temurun keluarga kita saling menjaga.” itulah kata-kata terakhir mener kepadaku.
Aku bersumpah dengan segenap jiwa dan ragaku akan melindungi Nonik apa lagi saat-saat menjelang ajal menjemput mener, beliau sempat menitipkan Nonik padaku.
”Jadilah jujur dan setia itu saja Rip kunci menjadi seorang pria sejati.” pesan mendiang bapakku kembali terngiang.
Aku lalu menyobek bajuku menjadi beberapa serpihan kain. Aku lalu memakaikan potongan-potongan kain bekas bajuku ke tubuh Lastri dan Nonik. Walaupun tak cukup untuk menutupi tubuh telanjang keduanya. Aku hanya menyisakan secarik kain yang juga tak cukup sempurna untuk menutup seluruh kemaluanku yang besar. Tapi siapa peduli lagipula hampir semua penghuni sel ini senasib denganku jadi apa yang salah dengan kelamin kami. Demikian aku menguatkan hatiku.
”Surip…?!..”mata gadis pirang itu berkaca-kaca..
”Iya non…Non baik-baik saja bukan…?” pertanyaan konyol. Dengan kondisi tubuh telanjang dan berlumuran sperma yang telah mengering mana mungkin Nonik baik keadaannya.Tapi aku tetap konsisten mencoba menghibur putri majikanku itu.

Ia hanya mengangguk lemah isak tangisnya perlahan muncul gadis cantik itu tak kuasa untuk menahan kegetiran hatinya hal-hal buruk yang tak pernah tak terbayangkan sebelumnya secara kejam telah mengoyak-koyak kehidupan indahnya.
“Rip…mana suamiku Rip…? Mana dia….?” kembali aku dikagetkan Lastri yang rupanya juga telah siuman.
“Suamimu….suamimu telah meninggal nduk….?” Ada beban berat yang menghimpit pita suaraku membuat tenggorokanku begitu berat untuk meluncurkan kalimat itu. Aku tahu kenyataan itu sangat menyakitkan tapi aku tak bisa berbohong lagi walau begitu pahit kenyataan namun aku tetap berprinsip Lastri harus tahu.

“Kang mas…hu..hu…..hu….” aku membiarkan Lastri memelukku tangisnya pecah tak tertahankan lagi air matanya terasa hangat membasahi bahuku. Dengan ragu aku membelai-belai rambutnya.
“Sabar…ya nduk sabar….sementara sabar dulu nanti aku pikirkan cara untuk kabur dari tempat ini.”Aku sendiri sebenarnya tak yakin akan ucapanku. Namun mungkin itu satu-satunya kalimat bijak yang pantas aku ucapkan untuk memberikan secercah harapan pada dua gadis yang sedang ketakutan.
“Non sudah berapa lama disini..?” aku bertanya kepada Nonik nampaknya gadis itu lebih tegar dari Lastri walaupun gurat-gurat kesedihan masih membekas dalam pada raut wajahnya yang cantik jelita.
“Sudah seminggu Rip. Aku sarankan lupakan idemu itu Rip sudah banyak yang mencoba melarikan diri. Semuanya sia-sia. Prajurit biadab itu sungguh sangat kejam siapapun yang tertangkap akan disiksa habis-habisan dahulu sebelum kemudian dibiarkan mati sendiri.”Nonik menatap mataku mencoba menghalangi niatku untuk kabur dari tempat terkutuk ini.
“Non Julia…aku…aku….” Lastri tak mampu meneruskan ucapannya air matanya kembali berderai. Adiku terlalu sedih meratapi deritanya.
“Sudahlah….kita semua senasib yang penting sekarang bagaimana kita bertahan saja.”Nonik lalu memeluk Lastri.Adiku tersedu-sedu dalam pelukan majikannya yang kini senasib dengannya.
“Tidak…lebih baik aku mati daripada menanggung malu begini…..!!”Tangis Lastri semakin keras keduanya pun kembali larut dalam kesedihan.
“Mereka tidak akan membiarkanmu mati semudah yang kau pikir. Lihat diriku ini. Lihat gadis itu…semakin kamu melawannya, mereka semakin senang. Kamu akan semakin dipermainkan oleh para keparat itu” setengah berbisik suara gadis cantik itu seakan tertahan dibatang tenggorokannya.

Kami bergidik mendengar ucapan Nonik. Kulihat Mei-Mei tergolek lemas, selangkangannya yang dihiasi bulu kemaluan yang sangat lebat sudah basah kuyup oleh cairan sperma. Dengan terisak-isak gadis berkuning langsat itu mencoba membersihkan kemaluannya dari sisa-sisa sperma. Sementara pria bejad yang baru saja memperkosanya tersenyum-senyum penuh kepuasan memandang tubuh bugil korbannya. Tiba-tiba pintu sel terbuka. Beberapa serdadu bersenjata lengkap menyeruak masuk.Si Botak yang tadi pagi memperkosa Lastri nampak diantara mereka.
“Non mereka mau apa lagi Non..?” dengan suara bergetar ketakutan Lastri bertanya. Trauma perkosaan yang dialaminya tadi pagi belum juga sirna gadis itu menjadi sangat ketakutan setiap kali melihat Tentara Jepang itu.
“Kamu diam saja usahakan jangan sampai menarik perhatian mereka.” raut cemas tergurat di wajah cantiknya gadis itu nampak menahan nafasnya.
Suara langkah para prajurit itu terdengar nyaring memecah kesunyian. Beberapa diantara gadis-gadis yang sudah mereka pilih meronta-ronta. Tanpa ampun mereka yang masih mencoba meronta langsung dihadiahi tamparan. Jantungku terasa berhenti. Salah seorang perwira mereka berhenti tepat di muka kami. Matanya yang cabul menyala-nyala menjelajahi tubuh Lastri dan Nonik yang nyaris telanjang meringkuk menggigil ketakutan terpojok disudut dinding sel yang kotor
“BAWA YANG INI….YANG ITU JUGA HA…HA….DIA MASIH BARU MEMEKNYA MASIH SEMPIT TADI PAGI BARU AKU ENTOTIN KOMANDAN PASTI PUAS DEH BWA…HA…HA…” Si Botak yang bercambang lebat mirip wajah pepy itu cengar cengir kurang ajar menatap tubuh bugil Lastri dan Nonik yang menggigil ketakutan.


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top