peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

Pendatang Baru di Pulau Mentawai 3 - cerita.dewasa.2



Pendatang Baru di Pulau Mentawai 3
Pendatang Baru di Pulau Mentawai 3

Sesampai di rumahnya Virapun kembali kepada rutinitasnya bermain main dengan anak Bu Nur yang kecil dan lucu itu. Dalam keasikannya itu ia selalu dipantau Pak Nur. Pak Nur seakan merasa tak lama lagi Vira akan jatuh ke dalam pelukannya.tak sulit memang baginya. Pak Nur tahu kegundahan hati Vira saat itu yang ditutupinya dengan bermain main dengan anak anak Pak Nur. Bu Nur pun memanggil Vira dan mengajaknya makan di rumah itu karena baru saja masak. Tanpa sungkan lagi Vira pun memenuhi ajakan Bu Nur itu dan makan bersama. Di meja makan itu, Pak Nur berinisiatif membuka perbincangan. Ia ada rencana untuk ke daerah yang amat bagus pemandangan hutan bakaunya, tak hanya akan melihat pantai. Jika Vira berminat ia boleh ikut. Buru buru Bu Nur bilang bahwa ia tak bisa ikut karena ada petugas di puskesmas yang akan datang.
Tanpa berpikir panjang Vira menyetujui untuk ikut karena untuk mengisi kekosongan waktunya.Apalagi suaminya baru pulang 4 hari lagi. Pagi esoknya pak Nur bersiap siap dengan perahunya dan hanya Vira sendiri yang ikut karena Bu Nur tak bisa ikut. Mereka akan ke daerah yang dikatakan Pak Nur itu hanya berdua saja dan sorenya mereka kembali pulang. Virapun menyiapkan makanan kecil yang ia bawa dari rumahnya. Selama perjalanan dengan perahu itu, Vira amat antusias melihat hutan bakau dan sungai yang tenang. Tak ada hawa panas di sana, yang ada hanya bunyi hewan hewan seperti burung dan kera.cahaya matahari menembus sela sela pohon bakau. Ketenangan amat dirasakan Vira dengan segenap jiwanya untuk menghalau kegundahan hatinya. Ia amat bersyukur ada seseorang yang mau menemaninya jalan jalan seperti ini. Iapun mulai simpati kepada Pak Nur yang saat itu ada pekerjaan namun masih mau mengajaknya ke desa pedalaman. Vira merasa mendapatkan tempat untuk menghilangkan segala keluh kesahnya selama di pulau itu.

Sesampai di desa itu,memang penduduknya masih jarang dan Vira dapat menduga bahwa desa itu amat indah dan masih alami. Ia hirup udaranya sedalam dalamnya. Udaranya masih segar dan kicauan burung burung yang saling bersahutan. Kemudian mereka berdua memasuki desa dan bertemu warga desa yang sedang beraktifitas siang itu.

Tak lama hujan turun dengan deras dan angin kencang seolah ingin menghantam gubuk itu. Di dalam gubuk itu mereka berteduh dari guyuran hujan di luar halamannya.

Dengan terpaksa malam itu,mereka bermalam di gubuk itu.Tampak curah hujan amat deras dan membuat mereka tak bisa keluar gubuk

”Nah ibu bisa berbaring di dipan kayu itu” kata Pak Nur.Pak Nur berusaha menghidupkan lampu minyak yang ada di dinding gubuk itu.
Dengan penerangan seadanya malampun beranjak.
”Biar saya di bangku ini saja” terangnya lagipada Vira.

Dalam keasikan ia berpikir, tiba tiba Vira mendengar ada krasak krusuk di luar gubuk. Dinding gubuk seolah di dorong dorong dari luar. Sedangkan bunyinya semakin dekat. Ia bangun dari berbaring dan duduk. Tampak Pak Nur pun waspada dan memberi kode pada Vira untuk diam dengan melertakkan telunjuknya di bibirnya.

Dengan mengendap ngendap Pak Nur berjalan ke pintu dan memalang pintu dengan kayu balok yang ada. Ia lalu menuju ke arah tempat Vira duduk. Sambil berbisik Pak Nur bilang itu suara babi hutan yang mungkin kedinginan karena hujan, maklum di hutan, terang Pak Nur pada Vira. Saat itu Vira menjadi takut dan cemas.

“Pak aku takut pak” suara Vira halus.
Lalu tanpa di suruh ia pun memeluk tubuh tua di sampingnya. Ia tak berpikir siapa laki laki itu. Toh saat itu ia amat ketakutan dan ia pikir biasa saja. Pelukan Vira di sambut Pak Nur dengan pelukan erat, seakan berusaha melindunginya.

Dalam hati Vira berkhayal seandainya saat itu ia hanya berdua suaminya alangkah indahnya melewati malam dengan suasana menegangkan dan menakjubkan berdua.Namun khayalannya terputus saat Pak Nur menutupkan kain panjang yang ada di sebuah lemari kecil di gubuk itu pada Vira.Kain itu tampak bersih dan sengaja di tinggal di lemari itu. Vira menerima kain panjang itu dan menutupkan ke tubuhnya agar tak merasa dingin, sekali lagi ia simpati pada Pak Nur yang amat melindungnginya dari hawa dinginnya malam. Lalu dibalutkannya kain itu ke bahunya.Pak Nur kembali duduk di sampingnya.
”masih dingin ya Bu Vira?” tanyanya.
“Sudah agak mendingan Pak” jawab Vira, “Terima kasih ya Pak? Bapak baik sekali pada saya” imbuhnya lagi.
“Nah jika ibu mau berbaring ya baring saja” kata Pak Nur lagi.
”belum pak, masih belum ngantuk” jawab Vira lagi.
”O,,begitu ya Bu” jawab Pak Nur lagi.
Pak Nur lalu memberanikan diri meraih bahu Vira yang terbalut kain panjang itu untuk rebah di bahunya. Vira pun menurut seolah tak mempermasahkannya. Ia merebahkan kepalanya di bahu pak Nur dan berusaha memejamkan matanya. Tampak pak Nur mulai merangsangi ibu muda ini dengan perlahan. Dari balik daun telinganya, elusan tangan Pak Nur terus turun ke tengkuk yang berbulu halus itu. Vira merasa geli dan terangsang. Dengan gelisah ia berusaha menurunkan kepalanya ke paha Pak Nur, tanpa berusaha melepaskan diri dari elusan itu.matanya masih tetap terpejam seolah tertidur, namun saat itu ia membayangkan suaminya yang melakukannya. Telah lama ia merasa gersang dan tak di sentuh suaminya dengan cara yang seromantis saat itu.

Pak Nur tahu apa yang harus ia perbuat untuk menaklukan ibu muda ini.Selain itu semua ini adalah sudah di rencanakannya dengan rapi dan di restui istrinya.Maka Pak Nur dengan sepenuh hati akan berusaha mewujudkan keinginannya malam itu.Dan selama ini segala rangsangannya tak di tolak Vira maka berarti tak menemui kendala.Merasa kurang lancar usahanya mengelus Vira ,lalu pak Nur membangunkan tubuh Vira dan menyuruhnya berbaring saja di dipan.”Bu,,,berbaring saja ya?Ibu terlihat capai sekali”terang Pak Nur berbasa basi,padahal posisi Vira tadi tak membuatnya nyaman bekerja.Saat Vira sudah berbaring dan menghadap ke dinding membelakangi Pak Nur.Pak Nur pun berbaring di belakang Vira,dan dipan cukup untuk dua orang.Tangannya kembali membelai rambut hingga ke daun telinga Vira..Rasa geli dan gairah yang mulai timbul membuat Vira memegang jari tangan Pak Nur dengan erat.vira seakan ingin menghentikan elusan laki laki yang bukan suaminya itu.Saat di pegang oleh jari Vira,pak Nur membiarkan saja di genggaman tangan halus itu.Ia pun mengalirkan hawa hangat dengan membalas genggaman itu. Saat Vira mengenggam tangan Pak Nur,Vira pun membalikkan tubuhnya dan bangun dari baring.Ia lalu melepaskan tangan itu dengan hati hati takut menyinggung perasaan Pak Nur.Vira lalu duduk dan bersandar di dinding gubuk itu.Dalam temaram cahaya lampu,ia tak ingin tidur malam itu.Ia merasa kuatir nanti salah langkah dan berbuat yang terlarang dengan laki laki tua itu, bagaimanapun ia masih memiliki rasa cinta kepada suaminya.Namun hal tadi membuatnya sedikit bimbang. Di saat kebimbangan itu ,pak Nur pun bangun dari berbaring dan berada di sampingnya.
”ada apa Bu Vira?” tanyanya
” Nggak ada apa apa koq Pak?” jawab Vira, “saya hanya merasa kan dingin dan ingat suami”, jelas Vira menutupi kegugupannya.

Pak Nur bukanlah laki laki biasa.Ia dapat membaca apa yang dipikirkan istri Haryadi itu.Tangannya meraih jemari Vira yang masih melingkar cincin perkawinan itu. Sambil mengusap jari itu, Pak Nur menciuminya. Pak Nur lalu meraih wajah cantik Vira dan memandang matanya.
”Bu Vira,,,boleh saya menciumi ibu?” tanyanya.
Vira tak bisa menjawab sebab ia menjadi serba salah dan takut menyinggung perasaan orang tua yang amat berjasa padanya dan suaminya itu. Selain itu ia masih risih jika menyiyakan atau menolak. Sikap diam Vira ditanggapi Pak Nur sebagai persetujuan, pria itu lalu mendekatkan mulutnya yang bau dan agak dower itu ke bibir mungil Vira. Tak ada pemaksaan dari Pak Nur atau penolakan dari Vira saat itu. Saat bibir laki laki itu menyentuh kulit bibirnya, Vira hanya mampu memicingkan mata. Ia hanya diam pasrah menerima jejelan bibir tebal itu di mulutnya. Perlahan Pak Nur mulai mengulum dan mengecup bibir milik ibu muda itu. Vira seakan menikmatinya dengan menerima secara pasif kuluman itu. Perlahan lahan ia mulai terbakar gairah.Vira mulai membalas belitan lidah Pak Nur dan menerima hisapan lidah Pak Nur di mulutnya. Ia mulai tak peduli dengan bau busuk yang keluar dari mulut laki laki itu. Dalam keasikan kedua manusia berlainan jenis itu berciuman dan saling mengulum, tangan Pak Nur pun ambil kesempatan. Seakan tak mau kalah, jari jari pak Nur menyasar ke dada Vira dan memilinnya dari luar kaosnya. Saat itu Vira seperti tersiram air dingin ia sadar dan menolakkan tubuh Pak Nur. Sambil menepiskan tangan Pak Nur dari dadanya ia juga menghapus air ludah yang sudah belepotan di bibirnya.

Dengan mimik wajah sedikit malu dan kesal ia menatap mata Pak Nur. Ia tak menduga sama sekali Pak Nur akan seberani itu meraba dadanya. Padahal tadi ia mau menerima ciuman bibir Pak Nur hanya karena rasa terima kasih dan simpatinya atas segala bantuan Pak Nur kepadanya selama ini. Tindakan Pak Nur tadi membuatnya sadar bahwa ia masih punya suami.
”maaf pak…kita tak boleh melewati batas seperti tadi” jelas Vira tegas.
“Maaf Bu…” jawab pak Nur.

”Agar ibu tak kedinginan ibu boleh ke pangkuan saya aja bu” tawar pak Nur.
Vira masih tak merasa enak sebab ia tak ingin kejadian tadi terulang,namun belum sempat ia menjawab, pak Nur sudah memeluk tubuhnya ke dalam pelukannya.

Di telinganya Vira mendengar permintaan halus dari Pak Nur untuk menciumi bibirnya lagi.
”Buuu..Vira,,saya cium lagi boleh kan?” itulah pertanyaan yang sayup terdengar di telinganya.

Penerimaan tubuh Vira membantu memperlancar tindakan Pak Nur. Kaos tipis yang melekat di tubuh sintal dan mulus Vira ia angkat dan lepaskan. Vira pun seakan membantu melepaskan busana luarnya saat itu, tak sulit memang. Kaos luar Vira pun akhirnya lepas dan tersisa bra halus yang menutupi gundukan buah dadanya yang berukuran 34b. Vira sempat menutupkan kedua tangannya di dadanya. Ia seakan malu dan jengah dilihat Pak Nur dalam keadaan seperti itu.

Pak Nur tak membuang waktu berlama lama, tangannya dengan cekatan berhasil melepas pengait bra milik Vira.Vira terlihat kaget dan malu.
”ah,,,pak…saya malu” jeritnya sambil menutup kembali payudaranya yang putih mulus bergelayut di dadanya saat itu.
”jangan malu Bu Vira,..kan hanya kita berdua di sini” jawab Pak Nur menyakinkan Vira.”ibu tak akan saya sakiti” terangnya lagi.
Vira tahu arah tujuan kata kata Pak Nur. Namun ia tak mencegah semuanya itu terjadi sebelum terlambat. Vira seolah telah tersihir oleh kata kata yang diyakinkan Pak Nur. Kini Vira malah semakin menyerahkan tubuhnya dibaringkan Pak Nur di dipan yang dilapisi busa itu. Ia hanya memicingkan matanya menanti yang akan dilakukan laki laki tua itu pada tubuhnya. pak Nur membaringkan tubuh Vira yang lemah dan telah menurut itu. Lalu pak Nur pun berusaha melepas celana panjang yang dikenakan Vira saat itu. Tak susah memang celana panjang itupun lepas dari tubuh pemiliknya.

Kini di atas dipan kayu itu tubuh Vira perlahan ditelanjangi Pak Nur.

Penerimaan Vira terhadap pak Nur menambah semangat pria itu untuk memperlakukannya dengan sebaik baiknya malam itu. Ciuman dan gigitan pak Nur di leher dan buah dada Vira seakan minyak yang membakar api birahinya saat itu. Vira seolah kembali menemukan dunianya yang hilang selama ini. Dengus dan rintihan seolah minta agar pak Nur menuntaskan gairahnya disadari pak Nur. Meski saat itu di mata Vira terpejam dan ada lelehan air mata disudutnya. Namun pak Nur tahu itu adalah permintaan yang tulus dari seorang wanita matang dan dewasa itu. Ia akan memberikan apa yang diingini wanita cantik istri Haryadi. Apalagi Pak Nur juga beranggapan ia sudah memberikan seorang wanita pada Haryadi dan Haryadi juga harus membalasnya dengan merelakan Vira untuknya. Itulah yang ada di benak Pak Nur. Sejauh ini Vira tak mengetahui apa yang terjadi dengan suaminya yang telah terjerat gadis di pulau itu. Pada saat itu Pak Nur tetap sibuk membakar nafsu Vira agar dapat dengan mudah ia eksekusi. Pilinan dan remasan tangan Pak Nur perlahan di kedua buah dada ibu muda itu mampu membuat Vira semakin larut. Pilinan tangan dan jilatan berpengalaman laki laki tua itu mengalahkan pengalaman yang dimiliki Vira selama ini. Apalagi selama ini Vira hanya di perlakukan monoton oleh suaminya dalam berhubungan badan. Vira semakin terjerat oleh alunan gelombang yang di pancarkan jari tangan Pak Nur di sekujur tubuhnya. Pak Nur tahu dan mengerti Vira amat butuh bimbingannya saat itu. Tiba tiba pak Nur berhenti dan terlihat ia mengambil patung salib yang berada di dinding pondok itu. Patung itu ia turunkan dan letakkan di dinding sejajar dengan kepala Vira. Kemudian terlihat Pak Nur seolah berdoa dan berkomat kamit yang tak jelas di dengar Vira. Saat itu Vira hanya memejamkan mata dan hanya menunggu apa yang akan terjadi malam itu. Kemudian pak Nur mengambil air yang berada di sebuah bejana yang berada di dalam kotak kecil di dinding itu. Air itu di percikan ke tubuh Vira mulai dari atas kepala hingga ke kaki Vira. Mata Vira terbuka dan terkejut karena dinginnya air yang di percikan Pak Nur saat itu.

Dengan suara halus dan seolah menahan sesuatu Vira bertanya,
”air apa itu Pak Nur? dingin sekali” kata Vira.
Lalu dijawab pak Nur, “itu air suci agar kamu bisa tenang pikiran dan tak diganggu oleh pikiran pikiran negatif” terang pak Nur lagi.
Mendengar keterangan pak Nur Vira pun diam dan kembali memejamkan matanya. Percikan air tadi adalah ritual yang biasa dilakukan Pak Nur pada setiap wanita yang akan ia gauli dan biasanya setelah ia percikan air itu, wanita itu akan menurut pada tutunan dan bimbingan laki laki yang akan menggaulinya saat itu. Selesai ritual itu, Pak Nur kembali menyapu bibir Vira dan disambut Vira dengan penuh nafsu. Bulu bulu di tangannya seolah berdiri setelah disiram air percikan tadi. Kuluman dan jelajahan lidah pak Nur di rongga mulut Vira mampu mkembali menggiringnya mengikutinya. Sedang tangan Pak Nur tak tinggal diam. Dengan intens jarinya kembali meremas dan memilin buah dada putih yang kini sudah di beri cupangan tanda oleh pak Nur.Vira pun menyorongkan dadanya ke arah bibir Pak Nur yang kini sudah di lehernya sambil mengigit kecil.
“Aduh pak….mmmm….Pak…pak!!” hanya itu yang terdengar dari mulut Vira.
Vira lalu meraih kepala Pak Nur seolah tak mau ditinggalkan oleh gigitan dan jilatannya. Kini ia serasa amat membutuhkan Pak Nur dan rasa gatal di organ pusat kewanitaannya minta dibelai. Tak lama kemudian tangan Pak Nur turun kearah bawah pusar Vira yang masih tertutup cd putih itu. Sempat dilihat pak Nur selangkangan Vira itu mulai basah oleh cairan dari dalam tubuhnya padahal saat itu memang kedua tubuh mereka sudah amat basah dan licin oleh keringat. Tangan pak Nur masuk dari atas karet cd Vira, salah satu jari telunjuknya mencari celah yang terasa agak sempit itu. Terasa oleh Pak Nur ada cairan lengket yang mulai merembes keluar. Vira merasakan jari pak Nur masuk ke areal intimnya terkejut sdan kaget.

Dengan melepaskan tangannya dari kepala Pak Nur, tangan putih yang ditumbuhi bulu bulu halus dan melingkar gelang emas itu berusaha menarik keluar tangan Pak Nur dari organ kewanitaannya itu. Namun apalah daya Vira saat itu, selain ia sudah terbakar nafsu dari Pak Nur ia pun berada di posisi sulit saat itu. Kini tangannya hanya mampu memegang pergelangan tangan Pak Nur yang asik di dalam celana dalamnya. Tak hanya jari telunjuknya yang masuk ke celah vagina Vira, jari tengah pak Nur yang kokoh itu juga masuk. Vira hanya mampu menahan gairah yang tak lama lagi akan memuntahkan lahar dari liang sempitnya. Dan memang tak lama kedua jari Pak Nur asik memilin daging kecil di celah milik Vira itu. Tiba tiba Vira menjerit dan tubuhnya menegang.
“Awww,,,,ughhh,…Pak ampun….uhhhhhhhh,,,,uh.uh!!” dengan putus putus suara itu keluar dari mulut Vira.
dari jarinya pak Nur tahu Vira sudah orgasme dan di jari tangannya dibasahi lendir orgasme Vira. Tubuh ibu muda cantik itu kemudian melemah dan telentang di dipan dengan memejamkan mata menikmati orgasme yang baru saja ia dapatkan dari jari tangan Pak Nur. Pak Nur lalu menarik keluar jari tangannya dari liang vagina Vira. Tampak kedua jarinya basah oleh lendir kenikmatan Vira. Pak Nur lalu menjilat kedua jarinya hingga bersih, Vira sempat melihat perbuatan Pak Nur itum jauh di lubuk hatinya Vira amat merasa aneh dengan kelakuan laki laki tua itu, selama ia berhubungan dengan suaminya yang ia cintai belum pernah ia melihat kejadian yang seperti itu. Ia merasa Pak Nur amat menghargainya dan mampu memberinya kenikmatan sexual yang tak didapatnya dari suaminya, meski saat itu ia tak melakukan coitus. Pak Nur lalu sedikit menjauh dari tubuh Vira. Rupanya ia melepas celana dalamnya.dari temaram cahaya lampu dinding di pondok itu, tersembulah kelamin Pak Nur yang amat panjang dan besar seperti ular pyton itu. Kelamin Pak Nur seolah belum bangun saat itu. Vira tak menyadari bahaya yang akan ia alami malam itu.

Pak Nur menuju kearah Vira dan menangkupkan kedua tangannya ke buah dada yang sudah sering ia pilin tadi. Pilinan dan remasan itu membuat Vira kembali terbangun dari mimpinya. Vira merasakan lidah pak Nur melata di sekujur tubuhnya. Mulai dari kakinya hingga ke pusar dan melewati vaginanya. Jilatan lidah pak Nur tanpa jijik sedikitpun terus beranjak hingga ke buah dada dan leher juga jidatnya yang sudah mengering.Vira merasakan jilatan pak Nur seperti api yang kembali membakar nafsunya. matanya kembali terbuka meski dengan pandangan sayu dan letih setelah orgasme tadi. Sejauh ini ia belum melihat senjata pamungkas milik pak Nur sedang mengancamnya. Pak Nur lalu berusaha melepas celana dalam putih Vira yang basah oleh keringatnya. Vira tampak agak keberatan karena saat itu kesadarannya seakan mulai kembali, namun Pak Nur dengan sedikit paksaan berhasil melepas benda terakhir di tubuh istri Haryadi itu. Kini Vira sudah tak tertutup apa apa lagi. Tubuh putih mulusnya sudah terbuka semuanya seperti bayi dewasa yang putih bak pualam itu. Tanpa terdengar oleh Vira karena hujan kembali deras malam itu, pak Nur berdecak kagum melihat kesempurnaan tubuh indah milik Vira itu. Ia amat mengagumi keindahan yang ada di tubuh yang kini tergolek di dipan kayu itu.Tubuh putih itu seolah minta dikasihi dan dilindungi dari gangguan udara dingin malam itu. Vira hanya berusaha merapatkan kedua kakinya. Meski tadi organ kewanitaannya telah dicabuli oleh jari Pak Nur.

Melihat Vira diam dan memejamkan mata, Pak Nur meraih tangan halus ibu muda itu.Ia membawa tangan Vira ke arah kemaluannya untuk dipegang Vira sebagai pengenalan terhadap benda miliknya. Saat Vira memegang benda yang mulai mengeras seperti tonggak kayu itu, ia tersadar itu adalah kelamin milik Pak Nur. Vira buru buru melepaskan pegangannya. Ia kaget tak mengira benda milik Pak Nur sepanjang dan sebesar itu. Amat asing baginya, selama ia praktek kedokteran dulu tak pernah ia menemui benda yang sekuat dan sepanjang itu. Diam diam dalam dadanya berperang rasa takut dan jijik jika benda itu memasuki dirinya. pak Nur sadar itu amat berat bagi Vira, apalagi kini ia menyadari kemaluannya amat panjang dan besar namun ia tetap akan melakukannya juga malam itu bersama Vira. Lalu Pak Nur pun tak lagi memaksa Vira memegang kemaluannya.Pak Nur lalu menciumi bibir Vira agar pikiran ibu muda itu rileks kembali.Rabaan dan pilinan didada Vira mampu mengembalikan nafsu gairah Vira kembali.Pak Nur lalu menuangkan kembali air dari bejana tadi ke kepala Vira hingga kakinya. Seolah mendapatkan pengaruh dari air itu, Vira kembali diam dan menurut apa yang dilakukan Pak Nur. Pak Nur menarik tangan Vira ke arah kemaluannya untuk di pegang. Aneh, kini Vira tak lagi ketakuatan dan kuatir.Tangannya memegang batang kemaluan Pak Nur dengan erat. pak Nur menikmati tangan halus milik ibu muda itu memegang kemaluannya.Pak Nur lalu mengulum bibir dan leher Vira, lalu di telinga putih yang bergiwang berlian itu, ia membisiki Vira
“Bu…sekarang apa sudah siap untuk kawin?” bisik Pak Nur.
Seolah bisikan itu adalah permintaan dari suaminya,Vira hanya membuka sedikit matanya lalu terpejam kembali. pak Nur tahu itu adalah persetujuan Vira yang diucapkan dengan isyarat padanya. Lalu ia angkat kedua kaki Vira hingga terkuak liang sempit yang pernah dipakai Haryadi, suaminya.

Dengan lidahnya ia jilati telapak kaki Vira berulang ulang hingga ke pangkal pahanyanya yang putih sulit di ungkap dengan kata kata itu. Liang kewanitaan Vira ditumbuhi bulu bulu halus tertata rapi dan indah. Tampak pemiliknya amat memelihara dan menjaga area kewanitaannya. Selain itu kulit tubuh Vira amat terawat tak sama dengan kulit wanita di pulau itu. Jilatan dan permainan lidah pak Nur diliang kewanitaan Vira membuatnya tak melihat dirinya lagi. hentakan kakinya di kepala pak Nur seakan menambah nafsu pria itu untuk memesuki celah itu.
“Aduh….pak…ampun….pak…sudahhhh pak!” hanya itu yang keluar dari bibir mungil Vira.
Liang itu kemudian mulai berlendir siap untuk dimasuki kemaluan pak Nur. pak Nur memposisikan dirinya sejajar dengan tubuh Vira. Kedua paha Vira dibukanya untuk memudahkan ia masuki. Sesaat sebelum memasuki liang itu Pak Nur kembali berdoa. Sebelum memasuki liang Vira, pak Nur membuka kulit yang menutupi topi bajanya. Sebab kemaluannya memang tak disunat. Dan perlahan benda panjang miliknya mulai meretas jalan. Sedetik mulai berlalu, Pak Nur dengan kesabaran memasuki liang sempit itu. Agak sulit memasuki liang milik Vira. Kedua tangan Vira ia raih dan jari jarinya ia pegang dengan kedua tangannya dengan poisi membuak.
“Aw,,,,aw,,,aduhhhh..Pak….jangan pak jangan dipaksa pak!!” jerit Vira saat pertemuan kelamin keduanya, padahal saat itu baru kepalanya saja yang masuk.
Saat itu Pak Nur seperti memerawani seorang gadis. Jerit sakit dan pegangan Vira di tangannya ditahan Pak Nur dengan kuat. Dengan sedikit dorongan agak kuat pak Nur berusaha menembus liang sempit itu dan memang kemaluan pak Nur seperti merobek sesuatu, di dalam kemaluan Vira.Rupanya selama ini Vira tidak seutuhnya di perawani oleh suaminya. Selaput daranya termasuk agak tebal dan apalagi Haryadi juga tak intens menggauli istrinya itu. Jadi Vira masih sebagai gadis perawan hingga di masuki kemaluan Pak Nur. Jerit sakit dan dengus tertahan keluar dari mulutnya. Sekujur tubuhnya telah mandi keringat karena selain nafsunya yang telah terbakar juga ia melepas kegadisannya saat itu.

Pak Nur amat berpengalaman tentang itu dan mulut mugil yang menggairahkan itu ia sumbat dengan bibirnya. Vira hanya bisa meneteskan air mata karena berbagai sebab dan salah satunya karena saat itu ia tidur dan disebadani laki laki lain. Bagi Pak Nur itu wajar saja Vira menangisi dirinya saat itu. pak Nur belum menambah masuk kemaluannya ke liang Vira saat itu hanya sebagain saja. Ia ingin melihat ekspresi wajah cantik itu merasakan detik detik ia masuki. Kemudian tak terdengar lagi tangis sesegukan Vira. Kini Vira sudah menuruti kemauan Pak Nur. Pak Nur melanjutkan mendorong dan tak butuh waktu lama, dengan jerit tertahan di mulut Vira, semua batang kemaluan Pak Nur amblas. Pak Nur kembali mendiamkan poisinya saat itu. Ia lalu membisiki Vira
”Bu Vira, kini kita sudah kawin, apa ibu rela?” tanya Pak Nur.
Vira tak menjawab dan hanya memejamkan matanya saja saat itu. pak Nur tak membutuhkan jawaban bibir Vira saat itu. Penyerahan diri Vira malam itu saja sudah merupakan tanda baginya bahwa wanita itu tak lagi menolak keinginannya. pak Nur lalu melanjutkan dorongan maju mundur kemaluannya kedalam liang sempit milik Vira. Berulang ulang ia masuki dan keluarkan kemaluannya yang perkasa itu dari liang kewanitaan ibu muda itu. Yang terdengar hanya dengus Vira dan suara paha keduanya yang beradu hingga menambah semnagat Pak Nur menggagahinya. Vira akhirnya orgasme dengan mencengkram bahu Pak Nur dengan amat kuat hingga pria itu merasakan sedikit perih di bahunya. Namun pak Nur sadar Vira sudah melalui masa terence nya. Tubuh putih itu lunglai dan melemah pasrah kalah. pak Nur tetap saja memasukan kemaluannya ke dalam liang Vira hingga ia sempat minta berhenti.
”sudah pak….saya gak kuat lagi…ampun pak!” suara permohonan Vira pada Pak Nur.
Namun sebagai laki laki perkasa dan kuat Pak Nur tak begitu saja mau menuruti permintaan ibu muda cantik itu. Berulang ulang ia maju mundurkan kemaluannya di dalam rahim Vira hingga Vira sempat menjerit sakit dan terdiam pingsan. Meski Vira saat itu pingsan Pak Nur masih terus memaksa masuk ke kelamin Vira hingga ia pun membasahi rahim ibu muda itu dengan cairan pembuat bayi miliknya. Pak Nur ingin mebuahi rahim Vira saat itu. Bagaimanapun ia ingin melihat bagaimana jadinya jika Vira hamil oleh benihnya.

Malam itu perkawinan kedua mahluk berlainan suku,dan usia juga agama itu terlaksana dengan lancar tanpa hambatan.

Subuh harinya keduanya terbagun, masih membekas di mata Vira sisa sisa tangis dan penyesalan malam itu. Ia turun dari dipan namun dilarang Pak Nur. ”Bu Vira di sini saja dan jangan berjalan dulu, masih sakit kan?”imbuhnya.

Vira diam saja dan menag ia merasakan pangkal pahanya terasa nyilu dan sakit jika digerakan.Tiba tiba Vira sadar subuh itu ia tak berbusana. Dengan kedua tangannya ia tutup buah dadanya yang sudah merah merah itu. Pak Nur merasa iba pada Vira dan berusaha mencari kain di lemari.

“Apa ibu mau mandi nanti?” tanya Pak Nur.
“nggak usah Pak” jawab Vira, “hujan kan sudah berhenti, bagaimana jika kita pulang saja?” sarannya lagi.
“Ya itu yang saya ingin bilang pada Ibu, namun apa ibu sudah kuat untuk berjalan?” tanya Pak Nur lagi.
”ya, bisa Pak, tapi bapak bimbing ya?” pinta Vira.
Pak Nur dan Vira akhirnya meninggalkan pondok kenangan itu pagi harinya.

Seminggu kemudiannya Pak Nur bertandang ke rumah Vira. Sesampai di rumah Vira, pak Nur di tawari minum kopi.
”ngopi dulu pak?” basa basi Vira menghilangkan kekakuannya sambil membuka kunci rumah..
”boleh Bu, sudah lama saya gak minum kopi bikinan ibu” jawab pak Nur.
Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah dan tanpa disuruh Pak Nur langsung duduk di ruang tamu. Sementara Vira terus ke arah dapur membikinkan kopi buat pak Nur. Tak lama kemudian Vira keluar dengan membawa segelas kopi dan sepiring kue kecil
“diminum kopinya Pak dan kue hanya ini yang ada” jelasnya
”Ah jadi merepotkan Bu”, sahut Pak Nur.
Vira tak menjawab lagi perkataan Pak Nur, ia hanya memperhatikan Pak Nur minum kopi bikinannya.
”Enak amat kopinya Bu”puji Pak Nur.
”ah..biasa saja koq pak” jawab Vira, “ini kopi saya beli di Padang bulan kemaren bersama Mas Haryadi” terang Vira, “bulan ini mas Haryadi tak bisa mengantar saya ke Padang, apa bapak Bisa menemani saya ke Padang minggu depan?” tanya Vira.

“Baiklah Bu, saya bersedia ke Padang menemani ibu” jawab pak Nur lagi.
Di rumah Vira Pak Nur disuguhi kopi dan makanan kecil. Sambil menyuruh Pak Nur menghabiskan minumannya Vira minta diri untuk ke kamar sebentar. Pak Nur merasa itu adalah undangan Vira buatnya untuk ke kamar juga mengulangi kejadian beberapa hari yang lalu. Jika Vira marah padanya sejak kejadian itu,mana mungkin Vira akan mengajaknya menemani ke Padang.

Vira mengenakan pakaian kemeja tidur dan celana pendek sebetis. Siang tadi ia telah memasak makanan untuk makan malam bersama laki laki tua itu. Terlihat saat itu Vira amat membutuhkan kedatangan Pak Nur ke rumahnya dan ingin ia layani dengan baik seperti seorang istri menunggu suami tercinta datang. Namun sore itu tiba tiba cuaca berubah gelap dan hembusan angina yang semakin kencang. Tak lama kemudian hujanpun turun dengan derasnya. Sempat Vira merasa pesimis laki laki tua itu akan datang. Hujan turun tanpa henti dan senjapun menjelang. Suasana sekitar rumahnya semakin sepi dan Vira pun mengunci pintu ruang tamunya.harapannya seakan pupus saat itu melihat hujan yang tak kunjung reda. Virapun akhirnya hanya memainkan laptopnya, namun rasa gelisah dan harap harap cemas semakin ia rasakan. laptop tak mampu menghilangkan kegundahan hatinya saat itu. Akhirnya ia matikan laptopnya dan beranjak ke kamarnya. Di atas ranjang peraduan yang biasa ia tiduri bersama suaminya, ia rebahkan tubuh sintalnya, matanya tak juga mampu terpejam. Bunyi ketokan di pintu jendelanya membuat Vira bangun dari baringnya.
”siapa?” tanyanya.
”saya bu” terdengar suara Pak Nur.
”buka aja pintu belakang bu…saya akan masukkan motor di dapur saja” terang suara Pak Nur dari balik jendelanya.
Vira pun keluar kamarnya dan membuka pintu dapur. Terlihat Pak Nur dengan mantel hujannya masuk sambil mendorong sepeda motornya.
“Hujannya deras Bu, dari tadi gak berhenti berhenti, apalagi mantel ini juga robek makanya pakaian basah semua”, kata Pak Nur.
”Ya Pak” jawab Vira lagi sambil memberikan sebuah handuk kepada Pak Nur.
Pak Nur pun membuka mantel hujannya yang basah dan menghapus air hujan di tubuhnya. Mantel hujan tak begitu bisa melindunginya dari air hujan, pakaiannya basah, Vira pun berinisiatif memberikan pakaian ganti milik suaminya ke Pak Nur untuk ia pakai.

”ini baju mas Har..Pak,,,saya rasa muat”, kata Vira.
Pak Nur lalu kekamar mandi dan mengenakan baju pinjaman itu. Tak lama kemudian ia keluar dengan memakai kaos Haryadi. Pak Nur lalu mengambil sebuah bungkusan dari sepeda motornya. Sambil mengeluarkan rantang dan memeberikannya pada Vira.
“Ini tadi ibu menitipkan lauk buat Bu Vira”
“Duh koq repot amat pak” basa basi Vira sambil menyambut rantang itu, “apa isinya Pak?” tanyanya.
“Itu ada sop…yang dibikin tadi siang.” terang Pak Nur, “mungkin aja Bu Vira lapar kan bisa makan sop hari hujan begini” kata pak Nur lagi.
Vira pun meletakkan rantang sop itu di meja makannya. ia juga melihat Pak Nur ”apa perlu saya buatkan kopi Pak?” tanya Vira lagi.
”Ah nggak usah Bu, kan ada anggur ini”, jawabnya lagi.
Pak Nur mengambil gelas dan membawa botol anggur itu ke ruang tengah.
”Tadi ibu sudah tidur ya?” tanya Pak Nur.
”Belum Pak”, jawab Vira lagi.
“Ah ibu pasti lagi nunggu saya ya?” Pak Nur bertanya lagi.
“Ah siapa bilang?” bantah Vira bersemu merah merasa malu ditanya demikian.
“Yah…kalau begitu kita ke kamar aja ya Bu” ajak Pak Nur sambil menarik tangan Vira mengikutinya ke kamar.
Vira terpaksa menurut tarikan tangan Pak Nur itu. Pak Nur juga sempat mematikan lampu ruang tamu dan semua pintu telah dikunci Vira semenjak Pak Nur datang tadi. Sesampai di kamarnya,Vira didudukkan pak Nur di ranjang yang bersih dan wangi itu.

Botol dan gelas anggur ia letakkan di meja kecil yang berada di samping ranjang. Lalu lampu di stel meredup oleh Pak Nur. laki laki itu lalu mendekat ke arah Vira dan mengecup bibir yang ranum dan telah siap menunggu itu. Kuluman dan jelajahan lidah Pak Nur di mulut Vira dibalas wanita cantik itu dengan sepenuh hati. pak Nur lalu melepaskan satu demi satu kancing kemeja tidur Vira hingga terlihat bra hitam yang menutupi buah dada yang putih itu. Perlahan bibir dan lidah Pak Nur turun ke leher jenjang yang mulai berkeringat itu. Lidah Pak Nur melata di dinding dada Vira dan dengan tangannya Pak Nur melepas pengait bra hitam itu di punggung Vira. Bra itu ia letakkan di lantai dan mulai lah ia pilin dan remas dengan kedua telapak tangannya. Setiap sentuhan tangan Pak Nur di kulit Vira mampu membuat ibu muda itu memercikan nafsu beribu ribu perintah di syarafnya. Vira pasrah dan sesekali hanya menggerumas kepala pak Nur. Pak Nur terus dengan jilatan dan sedikit gigitan mesra di dada indah itu. Puas di dada Vira, tangan pak Nur lalu melepas celana tidur yang sebetis itu. tak sulit memang karena Vira juga membantu membuka celananya itu. Kini di tubuh Vira hanya tersisa secarik celana dalam putih yang mulai basah di celahnya. Baru awalnya saja di rangsang Pak Nur, wanita itu sudah menggelepar ingin bersama laki laki itu. Pak Nur turun dari ranjang dan melepas kaos yang ia pakai hingga celana dalamnya. Ia ingin bebas berbugil ria di kamar dan ranjang itu bersama Vira.

Laki laki itu kembali mengulum bibir Vira dan memilin payudara putih yang sudah ada cupangannya. Dengus dan rintihan Vira terdengar seolah cepat dilakukan persenggamaan. Tak lama kemudian ia pun melepas celana dalam wanita cantik itu. Cd Vira di kumpulkan bersama pakaiannnya yang lain yang telah terlepas dari tubuhnya. Kini Vira amat mempesona Pak Nur. Tak ada paksaan dan jengah dari keduanya. Liang kewanitaan Vira tampak masih rapat dan bulu halus di sekitar bibir liang itu amat mempesona dan terawat. Perlahan nafsu kelakian Pak Nur bangkit melihat tubuh indah yang sulit diungkap dengan kata kata itu berada di dekatnya dengan pasrah. Dengan nakal jari tangan pak Nur masuk ke liang sempit itu. Vira terkaget dan menggelinjang kegelian dan gelisah. rasa gatal akibat jari tangan Pak Nur di liang kemaluannya adalah rasa gatal ingin segera bersenggama. Gerakan memilin dan memutar klitoris Vira membuat ibu muda itu tambah terbakar dan berkeringat. Pak Nur menarik jarinya dan mengambil anggur di meja kecil itu. Anggur ia tuang ke gelas tak penuh memang. Ia minum sedikit dan sisanya ia basahi ke kening, leher, turun ke buah dada, perut, vagina, paha dan kedua kaki putih yang mengkilap itu. Kemudian gelas itu ia letakkan di meja kecil. Dari kaki Vira Pak Nur menjilat cairan anggur yang ia tuang itu dengan lidahnya. Vira kegelian dan merasa amat dihargai sebagai wanita. Ia hanya mampu memicingkan matanya menikmati bimbingan laki laki yang ia kenal di pulau itu. Jilatan demi jilatan lidah Pak Nur hingga lelehan anggur itu tandas, semua tanpa ada rasa jijik di diri laki laki itu. Saat melewati liang kemaluan Vira, lidah Pak Nur memainkan klitorisnya dan sesaat Vira akan orgasme, Pak Nur menghentikan jilatannya.

Vira terlihat sudah amat siap melakukan coitus sebab kedua buah dadanya telah tegak mengacung dan kedua pahanya tanpa diminta Pak Nur sudah membuka minta dimasuki oleh Pak Nur. Pak Nur tak membiarkan Vira berlama lama menunggu nya. Pak Nur lalu masukkan kemaluannya ke dalam liang Vira. Tak sulit karena liang itu sudah amat basah dan siap dimasukinya. Perlahan dan menimbulkan rasa sedikit nyilu pada Vira. Ada rasa penuh di dinding rahimnya karena pergerakan gesekan pertemuan kelamin keduanya. Dengan sabar dan perlahan akhirnya kemaluan Pak Nur masuk meski tak seluruhnya. Tiada rasa sakit dirasa Vira saat itu, namun bagi Pak Nur ia belum semuanya masuk.
”Bu….ditahan ya Bu, ini belum semuanya”, bisik pak Nur di telinga Vira.
Vira hanya mengangguk.Pas Pak Nur mendorong semua batang penisnya masuk, ia terlonjak menjerit.
“Aduh,,,,,sakit Pak, tahan dulu”, mohonnya.
”Ini juga sudah masuk semua Bu, gak apa kan?” tanya Pak Nur.
Vira diam dan memejamkan mata saja. Lalu kedua kakinya diangkat Pak Nur ke arah bahunya. Vira merasa nyaman saat itu, karena tak sakit lagi, yang ada hanya rasa gatal dan penuh di dalam rahimnya. Pak Nur lalu menarik dan mendorong kemaluannya ke dalam liang milik Vira berulang ulang. Kini hanya terdengar dengus dan rintihan kenikmatan kedua anak manusia berlainan jenis dan usia itu berulang ulang. Beberapa menit kemudian Vira menjerit karena orgasme telah ia dapatkan. Ia mencengkram kedua bahu laki laki itu dengan erat. Pak Nur masih terus maju mundur dan masuk sedalam dalamnya di liang sempit dan hangat milik wanita muda cantik itu. Vira telah mendapatkan orgasmenya. Tubuhnya melemah pasrah diam dan mengangkang.

Kedua buah dada Vira ikut bergoyang karena gerakan laki laki penuh tattoo itu. Vira hanya dapat melihat dan memperhatikan gerakan maju mundur pak Nur memasuki dirinya dan yang terlihat olehnya adalah tato salib bawah pusar Pak Nur antara kemaluan dan pusarnya itu seolah membuat laki laki itu amat percaya diri membimbingnya dalam hal itu. Kemudian gerakan Pak Nur semakin kuat dan cepat, Vira sudah tak kuat lagi mengikuti Pak Nur karena ia sudah 2 kali orgasme. Pak Nur menumpahkan air cintanya di rahim Vira dan membasahi liang itu. Gerakannya seolah tak ingin lepas dari liang itu dan organ intim keduanya terlihat menyambung dengan sangat eratnya. Tubuh tuanya yang sudah amat basah oleh keringat dan sebagian jatuh ke tubuh Vira. Tubuh laki laki itu ambruk memeluk tubuh telanjang di bawahnya. Tak lama kemudian keduanya tertidur dengan nyenyak. Tengah malam Vira terbangun karena merasakan hawa dingin mulai menusuk tulangnya. Vira hanya memandang mata Pak Nur yang terlihat kuat dan memancarkan hawa maksiat amat kental itu. Vira lalu menutupkan tubuhnya dengan selimut dan berusaha untuk tidur dan membelakangi tubuh Pak Nur. Namun sia sia saja sebab tangan Pak Nur menahan gerakannya. Tubuh Vira kembali berhadap hadapan dengan Pak Nur.

”Bu..kita makan yuk…saya lapar amat”, ajak Pak Nur sambil turun dari ranjang.
Laki laki itu mencari celana pendeknya dan mengenakannya.

Vira pun berusaha bangun dari baringnya dan mengumpulkan pakaiannya yang teronggok di samping ranjang. Ibu muda itu pun berpakaian tanpa mengenakan celana dalam sebab ia merasa tak nyaman sebab liang kewanitaanya masih terasa lengket dan basah oleh kegiatannya tadi bersama Pak Nur. Vira pun berjalan keluar kamar yang pintunya sudah dibuka Pak Nur. Sesampai di meja makan di dapur itu, ia melihat Pak Nur sedang menghangatkan sop yang ia bawa dari rumahnya. Tanpa segan segan Pak Nur menghidangkan makanan di meja makan. Karena Vira juga merasa lapar karena begitu kerasnya aktifitasnya tadi, ia pun melahap sop dan nasi yang disuguhkan Pak Nur. Sop yang ia makan itu adalah sop yang dibikin Bu Nur dari daging buaya yang ada di pulau itu ditambah dengan bumbu untuk meningkatkan libido dan nafsu bagi yang memakannya. Saat itu Vira seakan merasakan khasiat dari sop yang dibawa Pak Nur. Tubuhnya merasa hangat dan nyaman dan segar. Tenaganya seolah pulih kembali. Pak Nur memandangi Vira yang melahap sop bikinan istrinya itu. Seperti sepasang suami istri, keduanya makan sambil senyum senyum dan kaki Pak Nur dengan nakal bermain di paha Vira.Vira membiarkan kelakuan Pak Nur itu. Selesai makan, mereka kembali masuk kamar. Setelah menutup dan mengunci pintu kamar, mereka pun kembali berpelukan dan saling mengulum. Seolah telah sejiwa, keduanya pun kembali saling membuka pakaiannya. Vira tak malu dan sungkan lagi tubuhnya dipandang Pak Nur dalam keadaan telanjang bulat.

Vira semakin merasakan ia amat beharga dan disanjung sebagai seorang wanita. Pikirannya pun kini terbuka untuk menerima Pak Nur dalam kehidupannya. Dengan rabaan dan pilinan di sekujur tubuhnya, akhirnya kedua anak manusia itu kembali melaksanakan ritual perkawinannya. Kedua tubuh itu semakin menyatu seolah tak terpisahkan oleh ruang dan waktu. Di tengah derasnya hujan dan petir yang menandakan terjadi penyerahan jiwa seorang wanita muda dan cantik itu untuk di bimbing oleh seorang laki laki tua penguasa pulau eksotis itu. Dengus dan rintihan kenikmatan tak henti keluar dari mulut Vira. Dengan sentakan kuat, akhirnya kedua manusia berlainan jenis itu saling mencapai titik tertinggi dalam hubungan badan malam tersebut. Semenjak malam perkawinannya itu, Bagi Vira, pak Nur amat berarti bagi hidupnya kini. Pak Nur seolah tahu apa yang ia ingini dan suaminya sendiri sudah tak mau peduli dengan dirinya. Selama pak Nur berasik masyuk dengan Vira, Bu Nur tak sedikitpun merasa cemburu. Justru ia merasa senang sebab ia tak akan tersiksa lagi jika berhubungan dengan Pak Nur. Sementara Vira tak keberatan jika dari hubungannya itu mengakibatkan ia hamil
Visits: 28373


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top