Pertualangan Alfi
Alfi, si Loper Koran dan Sandra, pacarku
Sudah lima tahun aku pacaran dengan Sandra. Kami kuliah di perguruan tinggi yang sama. Enam bulan kuliah kami berdua bakal selesai.Lalu tahun depan berencana menikah. Sandra pacarku adalah seorang gadis yang cantik, pandai, populer di kampus. Body bak model dengan tinggi 174 cm, 32-28-32, dengan rambut hitam panjangnya yang indah seperti model-model iklan shampo. Nilai plus lain baginya adalah ia masih perawan, ya…selama ini kami memang hanya bercinta sebatas peting. Aku memiliki fantasi seks, sejak kecil aku ingin bersetubuh oleh seorang gadis dewasa, namun hal itu tak pernah jadi kenyataan. Hingga akhirnya muncul pikiran gila ini. Aku berpikir untuk meminta Sandra membantuku mewujudkan mimpi itu. Aku mengatakan keinginanku pada Sandra. Awalnya ia menolak mendengar permintaan aneh dariku. Bahkan ia sempat marah karena heran bagaimana aku rela dirinya ditiduri oleh orang lain apalagi sampai menyerahkan kegadisannya pada seorang bocah ingusan seperti Alfi.
“Please manis…aku benar-benar memimpikannya sejak kanak-kanak. Dan aku akan tetap mencintaimu setelah itu terjadi.”
“Tapi itu benar-benar gila Dit!”
“Memang itu ide gila sayang…tapi kepada siapa lagi aku hrs minta tolong?”
Begitulah, setelah setiap hari kubujuk dan kuyakinkan bahwa aku tak akan meninggalkannya, akhirnya ia bersedia melakukannya. Pilihanku jatuh pada Alfi, seorang pengantar koran langgananku yang baru berusia 15 tahun. Dari segi fisik, Alfi tak bisa dibilang tampan, penampilannya lusuh, kulitnya gelap karena sering terjemur matahari, tubuhnya pun krempeng. Ibunya seorang pelacur di lokalisasi X. Sejak usia 7 tahun Alfi sudah merasakan hubungan seks dengan beberapa pelacur yang tinggal di sana termasuk ibunya sendiri. Penis anak itu menjadi besar, jauh lebih besar dibanding anak lain seusianya, bahkan menyamai milik orang dewasa, warnanya hitam legam, panjangnya 15 cm diameter 3,5 cm, kepala penis merah pekat panjang 3,5 cm diameter 4 belum disunat kulit kulupnya meruncing menutupi glans penisnya. Jembut pun baru muncul beberapa helai. Aku sangat bernafsu membayangkan anak itu bercinta dengan Sandraku yang cantik.
Setelah direncanakan matang-matang, hari itu pun tiba. Aku menyewa sebuah cottage dengan satu kamar tidur di pinggir laut yang sepi, satu ranjang besar bersprey putih, dan satu set sofa empuk di ruang tengah. Setelah makan malam Alfi segera masuk dan menunggu di kamar. Sandra meminta waktu bicara denganku di ruang tengah. Aku tahu ia masih ragu dan nervous untuk melakukan hal itu
“Sayang, apa kau benar-benar ingin aku melakukannya dengan anak itu? kau pasti tahu resikonya setelah ini aku bukanlah gadis suci lagi”
“Tentu manis sejak awal aku tidak mempermasalahkannya”
“Apakah kau tetap mencintai dan tidak akan meninggalkanku setelah ini terjadi?”
“Tentu manis, ku mohon demi aku ….”
“Baiklah”
Sandra masuk ke kamar, tapi pintu kamar dibiarkannya terbuka lebar. Semua lampu cottage kami padamkan agar tak ada orang mengintip dari luar. Meski demikian cahaya bulan cukup menerangi pandanganku. Sesaat sebelum lampu padam, aku sempat melihat Alfi, ia sudah telanjang bulat di atas kasur. Akupun melepas pakaianku hingga telanjang lalu rebah di atas sofa menunggu. Kudengar mereka bicara tak jelas. Kemudian kudengar desah Sandra, agaknya mereka sudah mulai. Aku bangkit perlahan merayap menuju kamar hingga di dalam. Pada jarak 3 meter jarak pandangku cukup jelas, aku duduk bersandar pada dinding tanpa terlihat oleh mereka berdua. Tanganku mulai ngocok penisku. Kulihat Alfi sedang menetek pada Sandra. Ternyata selama ini aku salah
Alfi yang benar caranya menetek. Wajar saja gurunya para lonte pro. Ngemut persis bayi, tidak hanya putting dihisap, mulutnya dibuka lebar-lebar lalu sebanyak mungkin payudara Sandra ia lahap membuatnya merintih dan menggelinjang. Kurasa ia mengakui
Alfi lebih pandai dari aku. ‘Plok!!’ puting itu terlepas dari mulut Alfi, ujungnya memerah, indah dan mengacung tegak, aerolanya pun ikut mengembung bagai bukit di puncak payudaranya. Kemudian Alfi menggarap payudara Sandra yang satunya. Menit demi menit berlalu, aku terus menonton hingga akhirnya Alfi naik ke atas tubuh Sandra
kembali menetek pada payudara Sandra seperti tadi
“Kak, Alfi ngentot kakak sekarang ya?”
“pelan-pelan ya, Fi, Kakak masih perawan kakak takut…punya kamu besar banget”
“Alfi janji nanti Alfi ngentotnya pelan-pelan”
Alfi memegang penisnya dan diarahkannya tepat dibelahan basah tersebut. Ujung kulupnya dengan mudah menyelip di celah vagina Sandra. Alfi menekan penisnya
“Engg!!” kulihat Sandra menggigit bibir bawahnya, entah merasa sakit atau nikmat
‘Jleb!!’ bibir vagina Sandra pun membelah dan penis hitam Alfi mendesak masuk. Kepala penisnya sudah tak nampak menancap kaku dalam mulut vagina Sandra
“Tahaan dulu Fi, sakittt!” Sandra mendorong perut Alfi mencegahnya maju lagi
Alfi menurut, ia diam, sepertinya ujung kulup penisnya sudah menyentuh selaput dara Sandra. Setengah menit berlalu, nampak Sandra sudah tenang
“Ih, gede banget!”
Bibir vagina Sandra melingkar ketat pada leher penis Alfi
“Enggghhh!!” Sandra kembali merintih, tapi kali ini bukan karena sakit
“Udah ngga sakit kan Kak?” bisik Alfi
“He eh” angguk Sandra sambil mendesah lirih
Pinggul Alfi mulai bergerak mundur maju mengocok lembut vagina pacarku itu. Ia lalu mundur sedikit namun tak sampai penisnya lepas tercabut lalu kembali melesak masuk lagi sedalam tadi. Memang tak banyak gerakan yang dibuat Alfi, namun itu cukup untuk membuat Sandra menggelinjang nikmat. Pompaan kecil itu berlangsung sejenak hingga tiba-tiba ‘Plop!!’ kepala penis Alfi terlepas dari jepitan mulut vagina Sandra. Alfi memang sengaja melakukannya. Kepala penis anak itu basah bekilat berlumuran lendir licin.
“Fiii kenapa dicabut? Kakak tadi sudah enak ngga sakit lagi kok!” protes Sandra, sepertinya ia sudah bisa menikmati
Alfi kembali menekan masuk kepala penisnya, , ‘Clep!!’ sedalam tadi. Sandra mencengram pinggul anak itu, seolah kuatir Alfi mencabutnya lagi
Ouuggghh!
“Enak kakkk?”
“Iyaaa..eenakk sekalii, Fihh”
“Kakak suka sama punya ku?”
“He e…”
“Besar ya kak..?”
“Iya besar bangettt!”
Kembali Alfi mengenyot payudara Sandra. Kini Sandra sudah tak berkutik lagi, ia terlentang pasrah menikmati dirinya dicabuli oleh Alfi kecil, dada dan selangkangannya tersengat kenikmatan, erangannya pun terdengar meninggi. Sedetik kemudian
“Ouuughhhh!! Fiiiiii!!!! Enakkk!!” Sandra terpekik nikmat
Ia mencapai orgasmenya,Alfi, si loper koran itulah yang membuatnya orgasme. Meski penis hanya tertancap sedikit, anak belasan tahun yang jembut saja baru tumbuh satu dua helai itu telah membuat seorang gadis perawan cantik dewasa bertubuh sintal dan indah itu menggelepar dalam sengatan kenikmatan. Vagina Sandra berdenyut-denyut keras
mengempot dan menghisap penis Alfi untuk masuk semakin dalam memprovokasi penis anak itu untuk berejakulasi. Namun Alfi berusaha keras bertahan, nampaknya ia berhasil mengendalikan dorongan itu. Perlahan orgasmenya reda, Alfi masih di posisi semula mengangangkangi tubuh pacarku dengan kepala penis tertancap dalam vaginanya. Sandra membelai rambut anak itu
“Kemari Fii!!” Sandra membuka bibirnya melumat bibir anak itu
Mereka berciuman penuh gairah, Alfi berhasil mendapatkan cinta gadisku. Tubuh Sandra memang jauh lebih tinggi dari Alfi kecil sehigga gadis itu harus sedikit melengkungkan tubuhnya untuk dapat berciuman dengan anak itu. Kulihat pinggul Alfi bergerak-gerak lembut mengocok perlahan agar tautan bibir mereka tak terlepas
Kenikmatan kembali mendera Sandra. Alfi melepas ciuman mereka
“Kenapa?”
“Kakak ..Allfi … udah mauuu…” ujarnya terbata-bata dengan tubuhnya gemetar, wajahnya pucat sekali
“Engg… Alfi …kepingin muncrat?” tanya Sandra
“Iyaa… punya kakak sempit sekali… Alfi ngga tahan lagiii…”
“Fii, kamu cabut dulu burungnya, nanti muncratin di seprey…ya”
“Engga mau…enakan di dalem punya kakak aja…”
“Jangan Fi nanti kakak hamil anak kamu”
“Kakak ngga usah kuatir, kata dr Lila mani Alfi belum ada benihnya, masih kosong jadi kakak ngga mungkin hamil”
“Eng…dr Lila bilang begitu?”
“Iya kak, lagian enakan muncrat bareng kak,”
“Boleh ya, kak? Alfii udah ngga tahannnn…ughhh” pinta Alfi sambil terus menggenjot
Aku tahu Sandra masih ragu, namun ia tak lagi mencegah Alfi untuk berejakulasi di dalam vaginanya. Mungkin juga ia kasihan mendengar rengekan anak itu. Alfi melahap putting susu Sandra, menghisapnya kuat-kuat seolah ada air susunya. Pantatnya bergerak mengocok naik turun, awalnya pelan sekali lalu semakin cepat
“Alfiii!!! Sayanggggg kakakkk keluuu…aarrr lagiii!!!!”
“kak Sandraaa sekarang kakk!! Alfiiii jugaaa muncraattt”
Alfi memeluk pinggang Sandra, penisnya ia benamkan seluruhnya dalam-dalam sejauh mungkin penisnya dapat masuk. Seketika itu juga…cretttt, crettttt, cretttt, ia berejakulasi melepas benih-benih kejantanannya di dalam rahim Sandra.
“Fiiiiii!!! Sakiitttttt!!!” Sandra terpekik antara kenikmatan dan sensasi rasa sakit ketika untuk kedua kalinya penis Alfi memberinya orgasme.
Kali ini lebih dasyat dari yang pertama, penis anak 15 tahun itu menerobos masuk ke liang vaginanya dan merobek selaput daranya
Penis Alfi kini tertanam seluruhnya, aku hanya melihat testis kecilnya menempel di selangkangan Sandra. Belum kulihat lelehan sperma maupun darah keperawanan Sandra. Semuanya masih terkumpul di dalam vaginanya tersumbat oleh ketatnya tautan kemaluan mereka, mungkin juga disebabkan kentalnya sperma Alfi. Alfi telah menyetubuhi gadisku, pacarku yang cantik, calon istriku, sekaligus merengut kegadisannya dan memberinya orgasme pada coitus pertama yang tak mampu dilakukan kebanyakan pria dewasa manapun membuat Sandra rela menerima anak itu berjakulasi dalam vaginanya
tanpa kondom atau pencegah kehamilan lain sama sekali dengan resiko dapat terjadi kehamilan akibat siraman benih Alfi pada rahimnya. Satu menit sudah berlalu sejak orgasme bareng tadi. Keduanya masih enggan berpisah dan masih menikmati sisa kenikmatan dasyat tadi. Kaki Sandra menyilang menekan pinggul Alfi, tampaknya ia belum rela anak mencabut batang kemaluannya. Perlahan aku mendekat ke kasur, kuhidupkan lampu kap di samping Sandra. Keduanya baru melepaskan ciuman saat melihatku. Alfi membenamkan wajahnya di leher jenjang Sandra. Kini semuanya dapat kulihat dengan jelas. Pemandangan yang membuat gairahku melonjak naik. Sandra yang bertubuh tinggi sintal dan berkulit putih dalam keadaan menyatu dengan Alfi yang bertubuh kecil krempeng dan berkulit hitam. Bercak-bercak noda merah di seprey membuatku yakin kalau keperawanan Sandra telah berhasil dirobek total oleh penis anak itu. Lalu…aku mengintip bagian intim mereka yang belum terpisahkan sejak tadi. Labia luar Sandra terbuka lebar menampung diameter penis Alfi yg besar. Disela-selanya ada lelehan sperma anak itu bercampur darah yang mulai mengalir keluar. Sampai saat ini batang penis Alfi tetap dalam kuluman vagina Sandra sementara ujung kulupnya mengeram di dasar liang cinta itu. Pipi Sandra bersemu merah tersirat kepuasan, mungkin ia merasa malu padaku
“Dit, kamu ngga pa pa, kan? kini aku sudah ….”
Aku mengecup keningnya yang basah oleh keringat
“sayang … sayang, tadi itu begitu sempurna” aku berusaha menenangkan dirinya, “kamu telah membuat mimpiku menjadi kenyataan, terima kasih manis.”
“masih sakit ya, San?”
“Iya tadi ngilu sekali .. tapi sekarang dah ngga lagi…”
Kulihat masih ada sekitar satu sentian batang penis Alfi yang tak masuk ke vagina Sandra
sepertinya ujung sudah mentok
“Kak Didit, apa Alfi boleh entot kak Sandra sekali lagi?”
“Tentu, Fi…Kak Sandra adalah milik kamu selama kita di sini. Kamu boleh melakukannya sesering kamu mau”
“Uhhh…Dit, titit si Alfi kurasakan membesar dan mengeras lagi punyaku terasa penuh” kata Sandra
Aku ingat perkataan dr Lila tempo hari, anak seusia Alfi memiliki libido sangat besar, mereka sangat cepat pulih setelah berejakulasi dan penisnya kembali mengeras sehingga mereka selalu dapat melakukan persetubuhan berulang-ulang tanpa henti sepanjang malam. Sebab lain selain cantik yang Sandra masih perawan dan Alfi belum pernah dapat perawan sebelumnya. Liang vagina Sandra yang sempit juga sungguh tak terlukiskan nikmatnya, tentu hal itu membuat Alfi ingin mengulanginya lagi…lagi dan lagi.
“Fi, kalau kak Sandra mu ngga tahan dan minta berhenti, kamu mau ya?”
“Iya, kak, Alfi juga mau kak Sandra kapok entotan sama Alfi “
“Sstt kak, waktu entotan tadi Alfi buat kak Sandra muncrat dua kali, dia juga bilang suka sama titit Alfi, katanya besar enak” Alfi nampak bangga, ternyata ia tak mengetahui jika aku menyaksikan persetubuhan mereka dalam suasana gelap tadi.
“Oh ya, kata Mbak Sriti kamu emang hebat Fi”
Aku pernah dengar komentar salah satu pelacur lokalisasi X yang adalah teman sekamar ibu Alfi, masih muda dan cantik. Alfi paling sering ngentot dengan gadis itu ketimbang pelacur lain, bahkan Sriti lah yang pertama kali mengenalkan seks pada Alfi. Wajah Sandra bersemu kemerahan membuatnya semakin cantik mungkin ia malu kami ngomong soal itu di depannya. Menit- menit berlalu persetubuhan kembali terjadi.
Alfi kembali memompa penis yang masih kukuh berdiri tegak ke dalam vagina kekasihku
dan Sandra melingkarkan kakinya mengunci pinggul anak itu.
Alfi mengocok bagai bintang porno profesional menghajar pacarku. Dia terus memompa dan memompa dengan ganasnya. Gadisku dibuatnya merintih tak karuan, matanya memutih. Kali ini batang penis Alfi dapat Sandra rasakan seluruhnya, vaginanya mencengram kuat daging nikmat itu. Tak menunggu lama buat Sandra kembali orgasme.
Orgasme berikutnya susul menyusul sangat cepat, kenikmatan demi kenikmatan hanya berkelang detik.Selangkangannya disengat kenikmatan yang tiada putus-putus dan semakin lama semakin menggila. Aku takjub melihat kenyataan Alfi membuat Sandra orgasme berkali kali. Luar biasa stamina jantan kecil ini pikirku, sudah dua kali penisnyai memuncratkan sperma sejak yang pertama, namun anak itu terus menerus mengocokan kemaluannya tanpa henti bagai sebuah mesin seks. Akhirnya kali ini keduanya terpekik bareng, mereka memperoleh orgasme pada saat yang bersamaan. Tak terasa dua setengah jam sudah persetubuhan ini berlangsung, tak terhitung sudah berapa orgasme yang mereka peroleh. Sandra mengeluh vaginanya ngilu, Alfi menghentikan pompaannya,
kelihatan ia masih ingin mengulanginya. Perlahan ia mencabut penisnya hingga terlepas. Penis Alfi basah bersimbah lendir spermanya sendiri. Kupandangi benda perkasa
yang telah mengaduk aduk kewanitaan Sandra itu. Sungguh beruntung ia berkesempatan memerawani pacarku yang cantik itu. Penis besar itu meninggalkan lobang merah mengaga pada vagina Sandra. Dari situ cairan putih kental mulai mengalir tumpah membasahi sprey. Aku berbisik meminta giliranku, Sandra menganguk lemah mengiyakannya.
“Parlahan ya sayang.. punyaku masih ngilu” pintanya
Aku pun menindih Sandra dan memasukan penisku, merasakan untuk pertama kali vaginanya, vagina gadis yang kelak menjadi istriku. Sandra yang masih dalam kondisi mengangkang menyambut hujamanku. ‘SLep!!’ duh…seretnya meski sudah diaduk-aduk oleh penis Alfi, nikmatnya bukan kepalang. Karena sejak awal disuguhi persetubuhan mereka, aku sudah dalam tegangan tinggi dan konak, akibatnya aku gagal mengontrol diri..
“Sayang ..jangan muncratin di dalam nanti aku hamilll”
Hitungan detik…aku masih sempat mencabut penisku dan…
“Sandra sayangggg!!! aaaaakkkk!!!”
Spermaku pun berlomba bermuncratan di atas perut Sandra tanpa tertahankan.
Crooottttt…. Croottt ..crottt
Aku pun terkulai di samping Sandra, aku tak seberuntung Alfi yang bisa berejakulasi di dalam kuluman nikmat vagina Sandra. Bahkan sampai berkali-kali. Demikian malam itu kami tertidur lelap bertiga. Saat pagi harinya saat aku terjaga, baik Sandra maupun Alfi sudah tidak terlihat di kamar ini. Kupikir mereka sudah terbangun lebih dahulu. Aku beranjak bangun menuju ruang tengah. Di sanalah aku melihat mereka, entah sejak kapan mereka sudah bersetubuh. Sandra terlentang di atas sofa sementara Alfi dalam posisi menindihnya. Kedua putting payudara Sandra tegak berdiri, ada sisa air liur membasah di situ. Selangkan Alfi bertumpu dengan milik Sandra, tak kulihat kocokan ganas seperti semalam, hanya ayunan lembut dan itupun hanya sekali-sekali, terkadang gerakan itu berhenti sama sekali. Mereka berdua saling memandang mata dalam-dalam seolah sepasang kekasih kasmaran, mungkin ingin lebih menikmati penyatuan alat kelamin mereka
“oughh!!! Fiii…!!” aku tahu Sandra orgasme
Sungguh luar biasa tanpa banyak gerakan dilakukan Alfi kembali menaklukan kekasihku, entah untuk yang keberapa kali nya pagi ini. Mereka berciuman, saling melumat mesra. Aku tak ingin mereka tahu keberadaanku di situ agar tak mengganggu, bukankah hal ini yang menjadi fantasiku selama bertahun-tahun?
“Kakkkk!!!”
“Kenapa Fii…enak?”
“Ya..enak sekaliii..kak,”
“Kak..
“Iya..”
“Alfi cinta sama kak Sandra…kak Sandra cantik sexy … “
“Tapi kalo ngentot sama mbak Sriti Alfi lebih kuat.”
“Emang kenapa kalo sama kak Sandra?”
“Lobang Kak Sandra kecil sempit terus jadi kalo nyedot titit Alfi rasanya enak bangeeeet!”
“Ih, kecil-kecil udah pintar ngegombal!
“Kalau gitu kamu mau ngga…. nikah sama kakak?”
“Mauu kak…”
“Kepingin ngga ..ngebuntingin kakak?”
“Ouughh!!! penggenn kakkkk!!!”
Sampai disitu Alfi tak mampu lagi membendung dorongan orgasmenya. Spermanya memancar deras keluar ‘crettttt……crotttt….crettt!’ Tubuh kecil itu mendekap pinggang Sandra menekan dalam-dalam penisnya. Untuk kesekian kali menyuntikan benihnya ke rahim Sandra. Selang beberapa menit. Alfi meminta agar merubah posisi senggamanya menjadi women on top. Namun Sandra menolak, ia lebih menikmati bila liang kewanitaannya ditikam oleh penis Alfi dari atas. Alasannya ia merasakan sensasi lebih dikuasai dan tak ketidakberdayaan saat Alfi mencabulinya. Demikianlah, selama tiga hari aku menyaksikan mereka mereguk kenikmatan tanpa henti. Sepanjang hari persetubuhan berlangsung hingga malam terakhir kami di sana. Berkali kali ia menghantarkan Sandra ke puncak kepusaan sebagai wanita dewasa diatas peraduan mereka berdua. Di kamar itu hanya aku yang menjadi saksi persebadanan dua insan berbeda jenis dan usia tersebut. Menjelang pagi akhirnya mereka menyudahi persetubuhan itu dan tertidur dengan saling berpelukan dan keringat yang membasahi tubuh keduanya. Paginya Setelah check out, Alfi kami antar pulang ke pool bis. Ketika berpisah dengan gigolo kecil itu, mereka sempat saling melumat bibir. Sesaat sebelum Alfi turun dari mobilku dalam perjalanan pulang ke rumah, Sandra lebih banyak diam. Mungkin ia sulit melupakan pertualangan bersama Alfi. Sejak saat itu kami tak pernah lagi bertemu dengan Alfi, iapun tak pernah lagi mengantar koran ke rumahku. Kudengar ia ikut ibunya pindah ke kota H. Sandra sering merengek memintaku mencari Alfi. Aku tahu ia ketagihan ngentot sejak malam itu
Meski demikian ia tak pernah memintaku melakukan hubungan seks dengannya. Nampaknya Sandra hanya menginginkan persetubuhan dengan Alfi. Aku cukup maklum dan tak pernah memaksanya melakukan itu, Alfi memang seorang pejantan sejati. Sebelas bulan berikutnya kami menikah. Malam pengantin aku memberinya surprise
Setelah resepsi aku ajak dia keluar dari kamar pengantin yang telah disediakan oleh panitia. Dengan mata tertutup selembar kain ia ku ajak ke sebuah tempat. Ketika kain penutup dibuka..
“Alfiii?! Kamu…”
Sandra menghambur ke arah kasur di mana Alfi menunggu dengan tubuh bugil dan
penis telah mengacung tegak. Mereka melumat satu sama lain melepas kerinduan
akan kenikmatan.
“Kakak kangen sama kamu!” kata Sandra setelah ciuman mereka terpisah
“Alfi juga kangen sekali sama kak Sandra”
“Kamu jangan pergi lagi Fi, kakak sangat membutuhkanmu”
“tenang saja kak.. kemarin kak Didit bilang Alfi bakal tinggal serumah dengan kakak berdua”
“Benarkah?”
Sandra menoleh padaku, aku tersenyum dan mengangguk
“kakak, ada yang mau Alfi kasih tahu ke kakak”
“Apa Fii?”
Sandra menoleh ke arah ke kemaluan Anak itu yang tegak
“Fiii.. punyamu tambah besaarrr.”
Gila! Memang saat kuperhatikan titit Alfi sudah tambah panjang dan besar dengan jembut bergerombol pada pangkal batangnya. Kupikir benda itu akan terus tumbuh hingga bebarapa tahun ke depan.
“Kak Sandra, Dr lila bilang benih Alfi sudah subur dan kak Didit sudah bilang ke Alfi…katanya Alfi boleh membuat kak Sandra Hamil duluan. Kak Sandra maukan Alfi setubuhi sampe hamil?” Alfi bertanya sambil menoleh kepadaku seakan memintaku menepati janjiku omonganku kemarin.
Aku berhasil menemukannya minggu lalu di kota H. Atas izin ibunya, aku mengadopsi Alfi. Semua ini aku lakukan demi kebahagian Sandra dan demi kelanjutan fantasiku tentu saja.
“Oh.. Alfii kakak bahagia kamu miliki” dekap Sandra
“Kak Sandra, Alfi mau ngentot kakak sekarang. Alfi sudah tidak pernah lagi ngentot sejak berpisah dengan kak Sandra dulu, Alfiii mau sekarang kakkk” rengek Alfi
“Ohh.. Alfi ..puasin dirimu sayang, sejak malam ini aku adalah milikmu, habiskan benih kejantananmu di rahim kakak”
Demikianlah malam pertama pengantin kami akhirnya berlansung indah dan sejak saat itu kami menjadi keluarga yang bahagia. Alfi selalu menyetubuhi Sandra tanpa pengaman jenis apapun, ia bebas berejakulasi dalam liang senggama istriku. Sedangkan aku diwajibkan pakai kondom atau melakukan coitus intruptus.Meski demikian Sandra tak kunjung hamil, namun kamipun tak pernah memusingkan hal itu, yang penting hubungan aneh ini berjalan lancar. Aku yakin akan hal itu. nyoksebatang
Hardcore Kakis
Join Date: Jul 2006
Posts: 101
26-10-2009, 10:17 AM #2
Re: Pertualangan Alfi
Perkenalanku dengan Alfi
Pertama-tama perkenankan aku memperkenalkan diri, namaku Dian, 24 tahun. Aku kini hampir setahun bekerja di sebuah biro iklan tak lama setelah lulus kuliah. Dilihat secara fisik aku terbilang cantik, setidaknya begitulah yang dikatakan orang-orang. Tubuhku 169 cm dengan kulit putih mulus dan membentuk lekukan indah. Rambutku hitam panjang sedada dan mata yang bulat. Oke kukira cukup perkenalan diriku, kalau kebanyakan ntar dibilang narsis lagi hehehe. Kisah ini terjadi ketika seorang sahabatku, Sandra, akan berangkat keluar kota menyusul suaminya ke kota G tempo hari, ia telah memintaku sekali-kali untuk menengok keadaan rumahnya selama ia tidak di rumah. Rumah mereka hanya ditinggali seorang anak asuh mereka, Alfi yang usianya baru akan beranjak 17 tahun. Ia bertubuh kurus dan berkulit hitam, mereka baru sekitar satu tahunan mengadopsinya. Tak banyak yang kutahu mengenai anak itu. Setahun belakangan semenjak Sandra menikah aku jarang mampir ke rumah mereka hanya sempat kadang telepon-teleponan dengannya. Sandra juga mempergunakan jasa pembantu bik Nah, orangnya sudah tua namun hari ini ia minta izin untuk pulang mudik selama satu minggu. Kebetulan hari sudah agak malam saat aku mampir, Alfi yang membukakan aku pintu, kulihat ia senang sekali melihatku datang.
“Fii, Bik Nah udah berangkat ya?” tanyaku
“Iya kak, tadi pagi-pagi sekali…Kak, Kakak nginap di sini,kan?”
“Ngga Fii, kakak hanya sebentar. Habis nengok Kak Sandra kakak langsung pulang”
“Nginep aja kak, temani Alfi. Soalnya Alfi takut tinggal sendirian di rumah”
Aku menimbang permintaan Alfi, mungkin ada baiknya aku nginap di sini. Walau bagaimanapun Alfi masih anak-anak berbahaya baginya tinggal sendirian saat ini.
“Baik, kakak nginap malam ini”
“nah gitu, sekarang Alfi buatin kakak minum dulu ya”
Alfi menghilang ke dapur, tak lama ia kembali dengan segelas air jeruk hangat. Tak menunggu lama kuhabiskan sebab aku memang haus dan penat.
“kakak tidur di kamar kak Sandra saja ya. Air hangat juga ada di kamar mandi”
Aku tersenyum geli mendengar ucapan anak itu, tentunya Sandra mendidik ia agar bisa mandiri dan bertanggung jawab.
“makasih Fii, kakak mau mandi dan mungkin langsung tidur. Kamu sudah periksa semua kunci pintu keluar kan?”
“Sudah semua Kak”
Semua lampu pada semua ruangan segera dimatikan Alfi. Aku segera membuang kepenatanku dengan mandi air hangat di bawah siraman shower. Selesai mandi rasa haus masih mengangguku hingga aku bergegas ke dapur untuk mengambil minum. Tanpa menghidupkan lampu aku mampu melihat arah menuju ke dapur. Saat melewati kamar di lantai bawah, aku tercekat…kudengar suara nafas yang agak memburu dan desah tertahan…dan semakin jelas ketika aku mendekat, kulihat pintu kamar tidak tertutup rapat dan ada sedikit celah yang memungkinkan aku bisa melihat isi kamar dari pantulan cermin yang terletak berserangan dengan letak pintu, dan kini aku yang terhenyak. Dari pantulan cermin kulihat Alfi, telentang di atas ranjang telanjang dan tangannya sedang menggenggam kemaluannya, bergerak teratur naik turun, tentu saja aku tahu kalau anak itu sedang bermasturbasi. Aku pernah membaca suatu artikel bahwah Remaja seusia Alfi sedang memasuki masa puber. Mereka mulai tertarik dan menyukai lawan jenisnya. Remaja seusia itu sedang berkembang organ reproduktif. Angan-angan dan fantasi seks membawa mereka untuk melakukan masturbasi. Namun yang membuatku terpana adalah ukuran kemaluan anak itu…, sangat besar dan panjang…bahkan terlalu besar untuk ukuran anak seusianya. Aku pernah melihat kemaluan pria dewasa pada sebuah situs X di internet, kubandingkan dengan milik Alfi ternyata ukurannya nyaris sama besarnya! Sekilas terlihat kalau genggaman tangan anak itu sama sekali tak menutupi kepala kemaluannya yang tampak merah dan belum disunat. Alfi masih mendesah perlahan dan tiba tiba ia mempercepat gerakan tangannya lalau tubuhnya mengejang dan dari lubang pipis kepala kemaluannya keluar dengan semprotan yang cukup keras melambung keudara dan cairan itu mendarat didadanya, beberapa kali kepala kemaluan itu Nampak menyemprotkan cairan dan akhirnya dengan lesu tangan pemuda berusia 16 tahun itu mengendur dan menggapai tissue di meja sisi ranjang. Suatu perasaan ‘menggelitik’ mulai menerpaku turun ke ke bawah ke antara kedua kakiku…aku tahu kalau kemaluanku mulai melembab menyaksikan pemandangan itu. Aku baru menyadari kalau celana dalamku ternyata sangat basah. Aku yang sempat terpana segera sadar dan cepat cepat menuju ke kamarku, kalau saja sampai terlihat, aku… menonton ia bermasturbasi wah
Malam itu aku tertidur cepat, rasanya kepalaku begitu berat dan ngantuk. Tidak biasanya aku seperti ini, terkadang aku masih betah berjam-jam di depan TV saat pulang kerja.
Begitu ngantuknya aku hingga lupa mengunci pintu kamarku. Kasur Sandra yang empuk mempercepat perjalananku ke alam mimpi. Lama setelah terlelap sampai aku dihinggapi sebuah mimpi. Aku merasakan sesuatu terjadi pada diriku, diawali muncul rasa geli yang aneh pada selangkanganku. semakin lama yang kurasakan geli itu berangsur menjadi rasa nikmat yang dasyat yang belum pernah kurasakan selama ini. Kini rasa nikmat itu semakin tak tertahankan menjalar ke sekujur tubuhku. Sampai akhirnya aku terjaga mulanya bingung rasa nikmat tadi masih terasa bahkan lebih menyengat, sesaat aku sadar. tapi belum sempat aku bereaksi, aku menjerit kaget, ketika tahu-tahu, Aku mendapati Alfi berada di antara sela-sela kedua paha putih mulusku. Wajahnya terbenam berada tepat di hadapan selangkanganku. Tanpa harus melepas terlebih dahulu cukup dengan jarinya Alfi menyingkap kesamping celana dalam yang tipisku. ia begitu asyik melumat kewanitaanku. lidahnya menjilati setiap jengkal daging kemaluanku yang mulai basah bagai seekor induk kucing memandikan anaknya
“Fiiiii..apa yang sudah kamu lakukan pada kak Dian…ouhhhh?”
Anak itu tak menghiraukan pertanyaanku ia tetap asyik dengan kelakuan cabulnya.
Percuma saja aku berusaha untuk merapatkan pahaku, percuma aku mencoba mendorong kepalanya dan terlambat, bibir mulutnya telah menguasai bibir daging kemaluanku secara total, yang kurasakan kini sensasi gatal nikmat yang menggila
Ouuggggggh!!!
Ada yang tak kumengerti aku Aku tak kuasa menolak keinginan Alfi dan membiarkan diriku ia jamahi. Mataku terpejam tak sanggup menahan malu, selama ini belum pernah ada laki laki yang berani menjamahku karena aku sangat galak menjaganya, tapi kali ini aku tak berdaya menolak seorang bocah dibawah umur berusaha mencabuliku. Tubuhku mengelinjang gelinjang menahan birahi karena cumbuan Alfi kini berpindah ke dadaku, secara bergantian Alfi menghisap hisap kedua puting susuku yang kenyal itu bagaikan bayi yang kehausan.
“oohh… oohhhh… ooohhhhhh”suara rintihanku tak dapat lagi kutahan. anak ini benar benar pintar merangsangku.
Kemaluanku mulai terasa basah dibuatnya. Perlahan kurasakan Alfi celana dalamku diplorotkannya kebawah, tak lama menyusul lepas sehingga tubuhku yang indah sudah tak tertutup selembar benangpun. Aku mengeluh pasrah ketika Alfi mendorongku hingga rebah terlentang diatas kasur. Aku berusaha merapatkan kedua kakiku agar kepala Alfi menjauh dari celah intimku. Namun semuanya percuma. Alfi berhasil membenamkan wajahnya pada selangkanganku, lidahnya menemukan apa yang ia cari dan inginkan
dengan penuh ketelatenan dia melahap dan menghisap hisap vaginaku yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitorisku. Rasa geli dan sengatan birahi membuatku semakin tak mampu menahan laju gairah Alfi. Aku terpekik pekik kecil dibuatnya, anak ini benar benar sudah sangat berpengalaman. Perlakuannya sungguh membuat diriku serasa terbang, tubuhku menggelinjang-gelinjang geli diiringi erangan nikmat. Sampai akhirnya kurasakan otot vaginaku mengejang dahsyat,
“ouuughhhh!!!!…Fiiiiiiiiii” pekikku tak kuasa menahan rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan jilatan-jilatan lidahnya.
Inikah yang disebut orgasme? Begitu dasyat kenikmatan yang kurasakan. Dan aku memperoleh orgasme pertamaku dari seorang anak kecil di bawah umur yang sedang mencabuliku. Saat itu kurasakan seluruh tubuhku menggeletar, pandanganku nanar, serasa jiwaku melayang tinggi, ragaku serasa terendam ke dalam samudera kenikmatan ragawi yang tak bertepi. Kesadaranku seperti hilang, yang kulihat hanya warna putih yang berpendar di mataku lalu menjadi kabur. Entah berapa lama aku tak sadar. Lalu perlahan-lahan bisa kurasakan kesadaranku telah hampir sepenuhnya pulih. Kurasakan lidah itu masih saja bekerja menjilati dan menjalari seluruh relung vaginaku. Tanpa sadar pula aku malah membuka keduabelah kakiku seolah-olah berharap Alfi menjilat dan menghisap isi vaginaku yang membanjir.
“Sluurrpp… sluurpp.. sshhrrpp..” bunyi yang timbul ketika Alfi menghisap habis tiap tetes cairan cintaku tanpa sisa.
Sesaat setelah itu seperti terlambat kusadari bahwa Alfi telah mengambil posisi menindihku, pinggulnya tepat di atas pinggulku yang terbuka, dan tubuhnya di antara kedua kakiku yang masih terpentang lebar.
“Alfi… kamu mau apaaa?..”
“Kak Dian, Alfi ngentot kakak sekarang..”bisik Alfi ke telingaku..Aku terbelalak, dan juga memandangnya dengan tidak suka. Tahulah aku, anak ini hendak menyetubuhiku, sekaligus merenggut kegadisanku
Kehormatanku sebagai wanita yang sesungguhnya hanya lagi tersisa …Keperawananku.
Dan Aku semakin yakin Alfi sangat menginginkan ini. Aku masih ingin memberikan keperawananku ini pada calon suamiku kelak. Aku merasa amat teledor senja tadi, harusnya aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlarut oleh rangsangannya, Namun kini semua sudah terlanjur terjadi. Aku semakin tak punya pertimbangan lagi. dan amat rapuh sebagai seorang wanita. Mengingat kebodohanku dan mudahnya aku rapuh saat ini membuatku meneteskan air mata. Aku makin terdesak saat kurasakan daging kelaki-lakiannya telah menempel pada kewanitaanku. Sedangkan saat itu tubuhku masih terasa lunglai dan lemas, dan benar-benar tak mampu menghindar lagi. bahkan kedua kakiku yang telanjang begitu lemas ketika ia membukanya lebar-lebar dan menekuk lututku, sehingga bisa kurasakan saat itu kalau kelopakku kewanitaanku langsung bergesekan dengan penisnya tanpa penghalang sedikitpun. Aku hanya mampu menunggu dengan perasaan was-was dan perasaan berdosa yang perlahan menyeruak di antara kesadaranku. Aku sempat menahan nafas .Aku tahu aku akan kesakitan sebab ini adalah yang pertama bagiku.Dari cerita2 temanku disaat saat melakukan coitus pertama kalinya akan merasakan kesakitan. Apalagi, kulihat kemaluan Alfi demikian panjang dan besar. Lalu kurasakan dengan perlahan Alfi mulai mendorong pinggulnya ke arahku berusaha memasuki pintu kemaluan sehingga bisa kurasakan kelopakku tertekan ke dalam..
Namun plett …kepala kemaluannya terpeleset jauh, aku lega tusukan pertamanya luput, kucoba mengeser pinggulku ketika ia mulai mendorong lagi. Dan Alfi mencoba lagi, plett..yang kedua kali… juga meleset.
“Uhhh…punya kakak sempit sekalii!!!” Ujar Alfi penasaran bercampur napsu berahi yang makin memuncak.
Aduhhh ibuu… aku seperti terselamatkan ketika ia tak kunjung bisa menembusku. Aku masih berdebar debar dan menahan nafas, dibukanya kedua kakiku makin lebar, bahkan kali ini jemarinya membuka kedua bibir vaginaku dan membantu mengarahkan penisnya tepat pada kewanitaanku. Alfi mendorong pinggulnya lagi ke arahku sehingga bisa kurasakan ujung penisnya mulai menyelusup seakan membelah kelopak kewanitaanku.
Aku merasa takut… takut sekali. Dan nampaknya kali ini ia akan berhasil memasukiku dan menodaiku!! Akhirnya aku hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata menunggu detik-detik ketika penisnya menerobos vaginaku
“Auuw ..Akhh… auuww..! ” Aku memekik kesakitan sambil meronta ketika batang penis Alfi mulai memasuki lubang kewanitaanku.
Keringatku bercucuran membasahi tubuhku yang telanjang bulat, keperawananku yang selama ini kujaga mulai ditembus oleh Alfi tanpa sanggup kucegah lagi. Aku meronta ronta kesakitan… Alfi yang sudah berpengalaman tak ingin tusukanya luput karena rontaanku segera ia memeluk pinggangku, lalu dengan cepat, ditekan pantatnya kembali kedepan sehingga separuh batang kelakiannya pun amblas masuk ke dalam vaginaku.
“Aakkhhh… !” Aku memekik kesakitan bersamaan dengan jebolnya keperawananku. Hancur sudah kehormatanku di tangan anak kecil itu. Sesaat aku masih meronta ronta pelan, namun karena pegangan kedua tangan Alfi di pantatku sangat kuat hingga rontaanku tiada arti. Batang penis terus menerobos masuk mengkoyak koyak sisa sisa Perawanku. Tangisanku mulai terdengar lirih diantara desah napas Alfi yang penuh birahi.Tubuhku yang putih mulus kini tak berdaya dibawah himpitan tubun Alfi yang kecil .Sesaat Alfi mendiamkan seluruh batang penisnya terbenam membelah vaginaku sampai menyentuh rahimku, perutku terasa mulas dibuatnya.
Alfi sambil mulai menggoyang pantatnya maju mundur perlahan. Penis Alfi kurasakan terlalu besar menusuk vaginaku yang masih sempit, setiap gesekan penis Alfi menimbulkan rasa nyeri yang membuatku merintih rintih. Semakin lama batang penis Alfi semakin lancar keluar masuk menggesek vaginaku karena cairan licin vaginaku mulai keluar secara alamiah, rasa sakit dikemaluanku semakin berkurang, rintihanku perlahan mulai hilang berganti dengan suara napas yang berirama dan terengah engah. Bocah nakal ini ternyata memang pintar membangkitkan nafsuku. hisapan hisapan lidahnya pada putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Bagaimanapun juga aku adalah manusia normal yang juga punya napsu birahi, sadar atau tidak aku mulai terbawa nikmat oleh permainannya, tak ada guna menolak. lebih baik kunikmati saja persetubuhan ini.
“Ooooh… , oooouugh… , aahhmm… , ssstthh!” .erangan panjang keluar dari mulutku yang mungil.
Akhirnya aku biarkan diriku terbuai dan larut dalam goyangan birahi Alfi. Aku memejamkan mata berusaha menikmati perasaan itu, aku masih sulit percaya membayangkan yang sedang mencumbui tubuhku ini adalah seorang ABG berumur 16 tahun. Penisnya kini mulai meluncur mulus sampai menyentuh rahimku. Aku mengerang setiap kali dia menyodokkan penisnya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin menikmati persetubuhan ini, aku tidak perduli lagi orang ini sesungguhnya adalah anak kecil yang sudah merenggut kehormatanku. Darah perawanku kurasakan mulai mengalir keluar membasahi seprai dibawah pantatku. Rasa sakitku kini mulai hilang. Sambil bergoyang menyetubuhiku bibirnya tidak henti-hentinya melumat bibir dan pentil susuku, tangannyapun rajin menjamahi tiap lekuk tubuhku sehingga membuatku menggeliat geliat kenikmatan. Rintihan panjang akhirnya keluar lagi dari mulutku ketika mulai mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali. Keringat bercucuran membasahi tubuhku yang polos itu sehingga kulitku yang putih bersih kelihatan mengkilat membuat Alfi semakin bernapsu menggumuliku. Birahi Alfi semakin menggila melihat tubuhku yang begitu cantik dan mulus itu tergeletak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluanku yang mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang cukup besar itu. Sungguh ironi memang, gadis muda secantik aku terpaksa mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan kekasihku, akan tetapi dengan anak kecil yang sedang mencabuliku.
“Ouughh..oohhh… ooohhhh… “Aku merintih halus ketika kurasakan batang penis Alfi besar masih bersarang di vaginaku sementara ujungnya menyentuh rahimku.
Rintihanku semakin keras saat anak itu mulai melumati buah dadaku sehingga menimbulkan perasaan geli yang amat sangat setiap kali lidahnya memyapu nyapu puting susuku . Kepalaku tertengadah lemas ke atas, pasrah dengan mata setengah terkatup menahan kenikmatan yang melanda tubuhku sehingga dengan leluasanya mulut Alfi bisa melumati bibirku yang agak basah terbuka itu. Setelah beberapa saat puas menikmati bibirku yang lembut dia mulai menggerakkan tubuhku naik turun.
“Ouuhhh… kak!!! Jepitan vagina kakak enak sekaliii… “suara Alfi sayup sayup kudengar ditelingaku.Aku tak memperdulikannya lagi, saat ini tubuhku tengah terguncang guncang hebat oleh goyangan pinggul Alfi yang semakin cepat. Terkadang bocah ini melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa seperti diaduk-aduk. Aku dipaksa terus mempercepat goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakannya makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu. Dan ketika orgasme kedua itu sampai, aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. pinggulku terangkat sedikit aku lakukan itu tanpa sadar karena takut kontol Alfi terlepas dari cengkeraman vaginaku ternyata nikmat sekali sensasi ini. Benar-benar dahsyat yang kuperoleh walaupun bukan dari pria dewasa. Walau pun masih kecil tapi Alfi masih mampu menaklukan gadis dewasa sepertiku. Kali ini dia membalikkan badanku hingga posisi tubuhku menungging lalu mengarahkan kemaluannya di antara kedua belah pahaku dari belakang. Dengan sekali sentak Alfi menarik pinggulku ke arahnya, sehingga kepala penis tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluanku. “Oooooouh… ouuuhhgh!” untuk kesekian kalinya penis laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang vaginaku dan Alfi terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang kurus itu menempel ketat pada pantat mulusku. Selanjutnya dengan ganasnya Alfi memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang vaginaku yang masih rapat itu. Inilah pengalaman pertamaku dijamah oleh laki laki yang sudah sangat berpengalaman dalam bersetubuh, Walaupun berusaha bertahan aku ahirnya kewalahan juga menghadapi Alfi yang ganas dan kuat itu. Bocah cabul itu benar-benar luar biasa tenaganya.
Sudah hampir satu jam ia menggoyang dan menyetubuhiku tetapi tenaganya tetap prima. Tangannya terus bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuhku. Harus kuakui sungguh hebat anak lelaki seumur dia dapat bertahan begitu lama dan membuatku orgasme berkali-kali, mungkin karena sebelumnya dia sudah biasa, aah… entahlah.. aku tidak perduli hal itu, yang penting aku sudah ia bikin merasakan kenikmatan ragawi walau harus merelahkan kegadisanku. Aku pasrah saja ketika tubuhku kembali di terlentangkan Alfi diatas kasur dan digumulinya lagi dengan penuh birahi. Rasanya tak ada lagi bagian tubuhku yang terlewatkan dari jamahannya. Alfi terus melakukan gerakan maju mundur beberapa kali, yang awalnya perlahan, lalu semakin cepat dan beberapa menit kemudian
Ougggggh…Kakkkk Diannnn!!!” Alfi terpekik nikmat sambil memuncratkan spermanya di dalam rahimku.
Ada rasa hangat didalam rahimku saat ia muncrat itu. Gerakannya semakin melemah lalu ambruk di dadaku. Kemaluannya sudah kembali keukuran semula dan terlepas dari kelaminku, aku lalu mendorongnya ke sampingku. Ia pun rebah di sana. Kini aku berusaha bangun dari rebahan. Aku merasakan rasa sakit dan nyeri di selangkanganku.Benar yang dikatakan temanku bahwa jika telah diperawani untuk pertama kali, akan susah berjalan, aku hanya bisa duduk. Rasa nyeri mendera liang kelaminku. Saat itu aku melihat lelehan darah segar di pahaku, juga di sprey yang kusut itu.Kesedihan amat mendera sanubariku yang paling dalam.Aku menyesalinya kenapa aku menyerahkan diri pada lelaki lain dan bukan pada suamiku kelak.Aku juga menyesali ketidak mampuan diriku menahan rangsangan-rangsangan yang diberikan Alfi padaku.Aku sungguh merasa bersalah, ini bukanlah semata mata kesalahan Alfi. Aku juga andil menyebabkan dia mengambil apa yang bukan haknya. Dalam kesedihanku setelah berhasil di renggutnya kehormatanku oleh Alfi. Aku hanya duduk terdiam di sandaran ranjangku. Dimataku masih ada jejak jejak tangis. Tubuh telanjangku aku tutup dengan selimut tebal. Selain kesadaranku sudah pulih ditambah hawa dingin yang masih terasa.
Aku lihat di sampingku tergolek tubuh hitamnya. Alfi yang baru saja merenggut kehormatanku. Ia terlihat sangat nyenyak, juga di wajahnya tersirat kepuasan. Di dalam hatiku aku serasa ingin marah dan mengusirnya yang masih tidur di ranjangku.Aku pandangi wajah bocahnya. Mulai dari kepalanya, hingga perutnya yang hitam juga benda panjang yang baru saja mengaduk aduk kewanitaanku. Dia masih terlelap dan saat itu tubuhnya hanya tidak tertutup apapun juga.Aku heran dia tidak merasakan dingin, sedangkan aku hampir saja menggigil. Aku berusaha untuk tidur, namun rasa nyeri dan agak linu di kemaluanku membuatku susah untuk memicingkan mata. Di saat aku berusaha untuk memicingkan mata Alfi terbangun. Ia lalu membelai bahuku dan menghembuskan nafasnya yang hangat.Aku sadar ia sepertinya ingin merangsangku kembali. Namun perbuatannya itu aku biarkan saja tanpa menggubrisnya. Ia semakin meningkatkan rabaanya di bahu dan payudaraku. Aku merinding saat itu, dan berusaha menghalangi dia mencium tengkukku. Usahaku tidak berhasil, malah dia yang semakin berusaha membalikan wajahku untuk berbalik ke arah wajahnya.Dalam keadaan itu akupun terpaksa menghadap wajahnya. Lalu ia raih daguku dan ops…bibirku langsung disergap dengan ciuman. Tangannya tak tinggal diam, meremas dan membelai buah dadaku. Aku semakin merintih menahan rasa geli dan hangatnya belaian tangan kecilnya. Lalu tangan kirinya turun ke bawah, kearah liang kewanitaanku. Membelai belai klitorisku lalu dengan jarinya tengahnya ia merogoh bagian dalam liang kewanitaanku yang kini sudah tidak perawan lagi. Aku semakin tak kuasa menahan setiap gerakan jarinya. Aku sudah mulai terbakar birahi lagi. Mukaku kembali memerah dan keringat ku kembali timbul, karena aku merasakan tubuhku tidak dingin, kini sudah panas karena birahi. Alfi beranjak bangun sambil menyingkirkan selimut yang menutupi kami saat itu.Kini tubuhku dan Alfi sudah sama terbuka. Ia berusaha membuka kedua pahaku kembali dan memposisikan tubuhnya tepat diantara pahaku.Aku tahu ia kembali ingin menghabiskan malam itu denganku dengan melakukan hubungan badan kembali. Dan sepertinya iapun tahu jika aku sudah siap untuk disenggamainya lagi.
Aku kini sudah merasakan tidak ada lagi yang akan aku pertahankan dan semua sudah terlanjur basah. Kini aku cenderung menurut apa yang akan ia lakukan. Malah kini aku membantunya dengan membuka kedua pahaku lebih lebar untuk di masukinya. Kini kami sudah berhadap-hadapan, siap untuk melakukan keintiman. Bertahap dan penuh kehati-hatian Alfi mulai mengarahkan kemaluannya ke dalam vaginaku. Aku kini merasakan sensasinya amat dalam. Kini aku sudah tidak terpaksa lagi. Awalnya hanya kepala kemaluannya yang menyentuh bibir liang senggamanku, lalu berangsur semuanya.Aku kini merasakan sentuhan kemaluan Alfi masuk ke dalam liang vagina hingga menyentuh rahimku. Meski rasa perih dan nyilu masih terasa, namun aku sudah tidak memperdulikannya. Alfi bergerak maju mundur mengocok dengan teratur. Kini Ia tak tergesa-gesa seperti saat ia pertama kali menjebol kegadisanku. Kali ini begitu penuh perasaan dan kelembutan. Ketika ia terus memandangi mataku, aku jadi malu sehingga kupejamkan mataku ini. Lalu gerakannya kembali berangsur cepat dan cepat. Aku merasakan ada sesuatu yang akan meledak di dalam kewanitaanku. Aku berusaha menahan rasa itu hingga tanpa bisa aku halangi, kini malah tubuhku serasa mengejang dan otot-otot diseluruh persendianku mengeras.
“Arggggg!!!…Fiiii” pekikku nikmat
Aku mendapatkan orgasmeku,namun Alfi masih saja tetap masih dalam gerakan memompa semakin cepat. Tangannya tak tinggal diam sambil meremas kedua payudaraku. Aku semakin tak bisa mengendalikan diri lagi. Aku raih bahunya, dan aku jepitkan kedua kakiku di pinggangnya. Hingga beberapa menit kemudian tubuh Alfi langsung mengejang dan gerakannya pinggulnya seakan mendorong kemaluannya ke dalam rahimku. Ia seakan ingin memasukan kemaluannya lebih dalam lagi. Tanpa bisa aku cegah lagi, ia pun menumpahkan air spermanya dalam rahimku. Ia lalu memelukku amat erat, seakan tak mau terpisah dari tubuhku. Keadaan kami masih dalam posisi berdempetan dengan tubuhku di bawah tindihan tubuh kurusnya tanpa melepas ikatan kelamin kami. Dengan tubuh masih basah oleh keringat dan lendir sisa sisa persenggamaan, Aku pun akhirnya tertidur bersama Alfi sambil berpelukan di ranjangku.
Paginya aku terbangun dan sudah tidak melihat Alfi lagi di sampingku. Aku berusaha bangkit dari ranjang, baru saja akan menginjakkan kaki di lantai, oh…aku kembali merasakan nyilu di kemaluanku. Dengan tertatih aku berjalan keluar kamar menuju ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku dari sisa sisa persebadanan kemarin. Semua lendir dan jejak jejak yang menempel di tubuhku aku bersihkan dengan sabun. Kemudian aku masuk kamar untuk mengambil pakaian. Kulihat Alfi sudah berada di dalam kamarku. Ia tampak baru saja mengganti kain sprey yang sudah kotor dan ternoda darah kehormatanku. Ia kemudian membawa sprey itu ke luar kamar dan merendamnya. Tidak lama kemudian ia masuk lagi ke dalam kamarku. Aku kaget dan agak kesal padanya yang seenaknya masuk kamarku dan mengecup bahuku. Ia diam dan malah memandang mataku dalam-dalam.
“kak Dian marah sama Alfi?”
“Engga.. kakak cuma sedih karena …”
“…keperawanan kakak Alfi pecahin tadi malam, ya kak..?” sambungnya
“Maafin Alfi ya kak… Alfi tidak tahan lagi sudah satu bulan Alfi ngga ngentot…begitu liat kak Dian Alfi jadi nafsu banget.”
“ka.. kamu sudahh sering melakukan ini ,fii?”
Alfi mengangguk. Sudah kuduga anak ini pasti sudah sering sekali melakukan hal ini. Hanya saja aku heran bagaimana mungkin ia leluasa berbuat itu dalam pengawasan Sandra. Sungguh teledor sahabatku itu, tanpa sepengetahuannya mungkin saja Alfi begituan dengan pembantu sebelah atau perempuan apalah, sehingga dalam usia masih dibawah umur Alfi sudah terlanjur mangenal seks bebas, pikirku.
”Kalau boleh kakak tahu sama siapa kamu sering melakukan itu, Fi?” Alfi nanpak terlihat ragu-ragu ketika kutanya hal itu
“Kamu sudah mengambil semua milik kakak tapi memberi tahu hal itu kamu tidak mau”
“Tapi kakak jangan bilang siapa-siapa ya..”
“Ok Kakak janji”
“Betul ya kak, Alfi takut orang lain tau, Alfi bisa celaka”ujarnya memelas.
“Bukankah sejak tadi malam kakak sudah jadi istri kamu, seorang istri khan harus menjaga rahasia suaminya ,ayo fii bilang sama kakak” rayuku sungguh aku penasaran siapa perempuan yang selama ini telah tidur dengan pejantan kecil ini.
“Alfi akan kasih tahu kakak siapa dia? …gadis itu ..Kak Sandra”
Aku kaget bukan kepalang, seakan tak percaya apa yang ku dengar dari pengakuan Alfi
“Apaaa??…Sa..Sandraaa? Kamu tidak sedang main-mainkan fii”
“Ngga kak, Alfi jujur sma kakak sebab Alfi sayang kak Dian”
“se..sejakk kapaannn Fiii?” aku tergagap
Lalu Alfi menceritakan suatu kisah yang sungguh luar biasa buat kudengar. Tak pernah terbayangkan olehku sahabatku Sandra juga telah menyerahkan kegadisannya untuk direngut Alfi yang kala itu belum genap berusia 16 th. Lebih gilanya lagi hal itu atas permintaan sang calon suaminya, Didit, dan selama satu tahun ini mereka melakukannya nyaris hampir setiap hari, malam-malam Sandra diisi dengan persetubuhan panas dengan sang Alfi si ABG ingusan ini. Didit sendiri lebih puas hanya bermasturbasi di sofa menonton persetubuhan istrinya dengan anak itu. Aku mendengarkan sambil melongo dengan takjub dan napsu birahiku naik menjalar keseluruh tubuhku sepanjang Alfi bercerita,
”Kakakpun kini sudah tenoda oleh ulahmu tadi malam, kamu tidak akan meninggalkan kakak kan, Fii”
“Tentu kak, Alfi cinta kak Dian, Alfi sayang kak Dian..Alfi juga mau jadi suami kak Dian kalo Alfi sudah cukup umur menikah”
“hi hi.. kecil-kecil pintar ngegombal kamu, Fii. Lantas bagaimana dengan Sandra?” godaku
“mulai sekarang Alfi akan membagi waktu buat kak Dian dan kak Sandra, Alfi sanggup kak”
Alfi menunjukan tekatnya padaku, sambil kembali mencium bibirku, aku bahkan kini membalas ciumannya dengan liar.
“kak..Boleh Alfi malakukannya lagi sama kak Dian?” bisiknya
Entah terpengaruh oleh cerita Alfi barusan atau memang aku sangat ingin Alfi melakukannya sehingga aku diam saja saat Alfi membaringkan tubuhku di ranjang. Ia lalu menciumi rambutku yang masih basah karena keramas. Iapun sedang berusaha untuk melepaskan handuk ku. Aku seakan tak berdaya, menolaknya. Dan akhirnya di pagi hari itu, kami kembali mengayuh kebersamaan ragawi bersama.Aku beberapa kali mengalami orgasme. Tubuhku seakan semakin mampu membalas perlakuannya. Kini tak ada lagi rasa sakit di kewanitaanku saat bersebadan. Aku pun sudah tak malu malu lagi memegang alat kelaminnya yang masih kokoh itu. Selama tiga hari aku tak ngantor, kubuat saja alasan sakit. Selama tiga hari itu pula aku dikekapi Alfi. Aku rela dijadikan budak nafsunya. Celana dalamku tak pernah sempat terpasang lagi. Sepanjang hari kerja kami hanyalah bersenggama, bersenggama dan bersenggama saja. Untunglah makanan selalu tersedia di lemari es Sandra sehingga aku tidak perlu keluar rumah. Tak kami sadari saat Sandra pulang. Ketika itu kami berdua sedang mengarungi puncak ombak lautan birahi, tentu saja ia memiliki kunci untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri. Persetubuhan kami mendadak terhenti, aku terkejut melihat Sandra sudah berdiri di muka pintu kamar .Entah sudah berapa lama ia berdiri di situ melihat perbuatan kami. Bukan main malu sekali rasanya tertangkap basah dalam keadaan seperti itu. Dekapan kami terlepas dan aku mencoba meraih selimut untuk menutup tubuhku yang telanjang. Sementara Alfi berdiri ketakutan.. kasihan anak itu hanya tertunduk tak berani menatap wajah Sandra.
“Fii sinii!!” Alfi mendekat dengan takut-takut dipanggil temanku itu
Sungguh diluar dugaan Sandra malah memagut bibir Alfi dan Alfi yang terkejut karena senang membalas menciumnya dengan liar dan akhirnya mereka saling melumat.
“Fii..kakak kangen” ujar Sandra manja
“Alfi juga kak, jangan tinggalkan Alfi lama-lama lagi ya kak”
“iya kakak janji Fii”
“Kakak ingin kamu intimi tapi sekarang kamu mandi dulu sepertinya kamu ngga mandi berhari-hari.. ya, mentang-mentang nemu perawan cantik”
Alfi nyengir lalu menghilang ke arah belakang. Kini tinggal aku berdua dengan Sandra
“Sannnd…kamu sudah pulang?” aku berusaha menyapanya meski rikuh.
Aku bertambah salah tingkah saat tiba-tiba Sandra tersenyum-senyum nakal.
“hi..hii..hiii.. Dian sayang, akhirnya kamu ketemu batunya sama Alfi”
“Maaf ya Sand… aku tak bermaksud merebut Alfi darimu…aku..”
“ngga pa pa kok aku rela berbagi sama kamu..aku sengaja pulang lebih awal karena takut Alfi direbut perempuan lain karena tak kuat menahan nafsunya. Untung Alfi menemukan kamu manis.”
“Bener kamu ngga marah Sand?”
Senyum merekah Sandra membuatku yakin akan perkataannya.
“Malah aku harus minta maaf telah mengganggu kemesraan kalian Aku suka kamu melakukannya sama Alfi ketimbang kau digituin sama cowok2 keren tapi ngga mampu ngasih kepuasan sama kamu”
“Sand..apakah aku bakalan hamil?, Alfi tak pernah sekalipun memakai kondom atau kontrasepsi ketika berhubungan badan denganku.”
“maybe yes..maybe no..hi..hi.hi”
“Sannnd…”
“jangan kuatir Dian sayang… selama satu tahun kami tak pernah sekalipun menggunakan pengaman saat senggama namun aku tak kunjung hamil meski aku dan Alfi sangat menginginkannya dan kalau pun kamu hamil anakmu nanti biarlah aku yang mengurus”
Ujar Sandra membelai rambutku.
“Sand..”
“ya?”
“ironis sekali, dulu sewaktu smu juga saat kuliah sudah berapa cowok kita campakkan tapi kini kita berdua malah jatuh di kaki seorang anak ABG di bawah umur macam Alfi”
“Alfi memang berbeda dari anak lain seusianya. Bahkan, kalau boleh aku jujur, hanya dengan Alfi-lah, aku mendapatkan kepuasan yang sejati meski cintaku hanya buat suamiku”
Sejak saat itu, hubungan antara aku dengan Alfi tak terpisahkan lagi. Hari-hari kami diisi oleh persetubuhan-persetubuhan yang amat panas. Alfi berlaku bagai seorang suaminya yang baik, mampu mengiliri aku dan Sandra, bahkan terkadang kami lah dibuatnya kewalahan melayani libidonya yang besar. Sandra memintaku untuk tinggal bersama serumah dengan mereka dulu. Sebuah kamar baru mereka buatkan untukku, bahkan Sandra juga tidak menghalangi apalagi melarang aku untuk berhubungan seks dengan suaminya Didiet. nyoksebatang
Hardcore Kakis
Join Date: Jul 2006
Posts: 101
26-10-2009, 10:32 AM #3
Re: Pertualangan Alfi
Alfi Kecilku yang Menghamiliku - Part 1
Sebelum memulai kisahku, aku ingin memperkenalkan diriku dulu, namaku Nadine, umur 25 tahun, bagian marketing di sebuah perusahaan asing di Indonesia. Tubuhku termasuk tinggi, 172 cm, ditunjang dengan bentuk tubuh yang pas hasil dari menjaga tubuh secara rutin dengan senam. Rambutku panjang sedada agak bergelombang, biasa kuikat bila sedang bekerja. Hari itu aku pulang agak cepat karena ada beberapa klien yang mengubah jadwal appointmentnya, meminta pak supir untuk langsung menuju rumah sahabatku Sandra. Sesampainya di sana aku turun di depan pagar dan kupikir supirku suruh pulang siapa tahu ibuku ada keperluan dan pastinya aku tidak bakalan bisa pulang cepat. Sekian lama tak berjumpa pasti Sandra akan menahanku lama di sini. Semenjak suaminya tugas di kota G, Sandra kerap mengundang kami, hanya aku dan Dian sahabat karibnya untuk sering dimintanya ke rumahnya bahkan menginap. Dian, kutahu telah sering menginap di sini. Sedangkan aku baru kedua kali ini mendapat kesempatan datang disebabkan jauhnya tempat tinggal kami. Kerap tetangga Sandra yang rata-rata masih muda seumuran datang berkunjung ke rumahnya pada akhir minggu. Ada beberapa kawan Sandra yang kukenal yaitu Tina dan Tamara. Mereka mempunyai hobi bergosip terkadang omongan mereka menjurus ke hal-hal urusan kamar tidur kalau sudah begitu ramailah suasana. Keduanya yang kuketahui bernasib sama dengan Sandra sering ditinggal suani ke luar kota bahkan sampai berbulan-bulan. Pada satu hari saat aku pertama kali datang tanpa sengaja aku mendengar ocehan mereka saat melintas ruang tamu tempat mereka ngobrol
“Sand, apa kamu ngga kesepian tanpa suami.” (Sand yang dimaksudkan itu adalah Sandra)
“Kadang-kadang sunyi juga tapi aku sentiasa sibukan diri dengan pekerjaan. jadinya bisa lupa jauh dari suami,” aku mendengar jawaban Sandra.
“Kalau kesepian kamu boleh ikut kami. Kami berdua sering mengadakan acara kecil secara rahasia di rumah Tamara. Kamu bisa ikut kalau mau.”ujar Tina
“Acara apaan sih?”
“itu tu, ketemu dan kenalan dengan pejantan muda.” aku terdengar suara salah satu dan disambut tertawa cekikikan yang lain.
“Paling besar usia 16-17 an tahun loh, boleh pilih, ada Melayu, Cina, India.” ujar Tamara ngoceh tanpa malu-malu lagi.
“Betul kata Tamara. aku suka si Kikan, orangnya kurus tinggi dan barangnya besar dan panjang, bikin gua ketagihan” sahut Tina
“Kalau gua sih sukanya si Aliong, bocah Cina itu putih kulitnya dan kepala burungnya yang merah walau ukuran barangnya belum setanding dengan milik Kikan.”
“Ahh.. edan kalian berdua,” kata Sandra.
“Ngga papa dibilang edan Sand, ketimbang gua harus nahanin napsu, bisa-bisa benar-benar jadi edan“
Aku dengar riuh tertawa mereka semua bila membicarakan lelaki-lelaki muda. Aku pikir lelaki-lelaki ini pasti lelaki bayaran. Kata orang, gigolo atau brondong. Aku pernah dengar-dengar tentang aktivitas para istri kesepian yang menggunakan jasa gigolo untuk melampiaskan hasrat seks mereka.
“Sand, lu boleh cobain Aliong atau Kikan, atau juga Ipung anak India satu itu memang paling hebat. Menjerit melolong gua dibuatnya hari itu. Nikmat ngga ketolongan, gila banget deh”
“Mereka itu kan tidak disunat, apa kalian ngga jijik dan geli?” aku dengar suara Sandra bertanya. berminat jugakah Sandra, aku bertanya dalam hati.
“Kamu belum coba aja, Sand. Malah yang tak bersunat itulah yang membuat aku ketagihan.”
Aku naik ke atas karena tak kuasa mendengar cerita-cerita seks para istri kesepian itu. Biarkanlah Sandra ngalur ngidul dengan kawan-kawannya itu. Tak mungkin aku yang lajang ikut-ikutan nimbrung obrolan bersama mereka yang sudah menikah. Kesunyiaan Sandra akan terisi dengan kedatangan kawan-kawannya, dan biarkanlah mereka dengan cerita orang dewasa. Lebih baik aku menunggu mereka pulang. Siangnya aku diperkenalkan Sandra dengan Alfi, anak asuh mereka yang tadinya adalah loper koran yang sering mengantar koran ke rumah Didit. Alfi baru pulang dari sekolah. Anak itu baru berusia 16 tahunan. Aku cepat akrab dengan Alfi dan menyukainya karena tingkah lakunya yang sopan dan ramah. Sandra memang memberi kami berdua serep kunci rumahnya, ia ingin kami leluasa memakai sekaligus mengawasi rumahnya saat ia berangkat menyusul suaminya di kota G. Aku masuk ke dalam rumah dengan kunci tersebut aku ingin memberinya kejutan seperti saat-saat kami masih kuliah dulu.
Suasana rumah terasa sepi, aku melirik jam tanganku, pantas…baru pukul setengah sebelas lewat sekarang ini, masih agak pagi. Aku lalu menuju ke tingkat atas. Saat tiba di depan kamar Sandra aku terdengar suara orang bercakap mesra. Melalui pintu kamar yang sedikit terbuka sehingga aku dapat mengintip dari celah pintu ke dalam kamar Sandra. Bukan main kagetnya aku melihat pemandangan di sana. Aku melihat Sandra tidak sendirian melainkan bersama seorang pria yang tak lain adalah Alfi. Dan yang membuat aku benar-benar terperanjat bila melihat Sandra yang hanya berpakaian baju tidur tipis transparan sedang membuka kancing resleting celana Alfi. Anak itu sudah tidak berbaju. Sandra duduk di pinggir ranjang sementara anak itu berdiri di hadapannya. Apa yang sedang mereka lakukan. Apakah Sandra telah berselingkuh sepeninggal suaminya keluar kota seperti yang dilakukan oleh kedua tetangganya Tina dan Tamara? Dan yang lebih membuatku tak habis berpikir Sandra melakukannya dengan Alfi yang merupakan anak asuh mereka yang masih anak ABG. Apa yang membuat hal ini terjadi padahal usia perkawinan mereka belum genap satu tahun. Selama ini sudah tak ada rahasia diantara kami bertiga. Apabila salah satu dari kami mempunyai problem yang lain membantu mencarikan solusinya. Apakah untuk hal yang satu ini ia malu mengatakannya padaku karena menyangkut masalah tempat tidur dengan sang suami? Entahlah, yang jelas apa yang terpampang di depan mataku saat ini sungguh membuat nafasku sesak. Suatu perasaan ‘menggelitik’ mulai menerpaku…turun ke ke bawah ke antara kedua kaki ku…aku tahu kalau kemaluanku mulai melembab menyaksikan pemandangan itu. aku baru menyadari kalau celana dalamku ternyata sangat basah. Kulihat tanpa disuruh Alfi menarik lepas celana dalamnya sendiri. Sekarang ia berdiri telanjang bulat di hadapan Sandra. Sejak masih sekolah dulu memang aku sudah biasa melihat Sandra telanjang jika bersama aku dan Dian begitupun sebaliknya ketika sehabis olahraga sepulang sekolah kami bertiga selalu mandi di bareng di rumah Dian atau rumahku. Dan menjadi kebiasaan kami mandi telanjang beramai-ramai. namun kali ini cukup aneh bagiku menyaksikan seorang anak laki-laki berbugil di hadapan sahabatku Sandra.
Nampak Sandra tersenyum melihat benda pada selangkangan anak itu …batang kemaluan Alfi! Gila…. ia memegangnya! Benda itu berwarna gelap hitam menegang keras. Kepala kemaluannya berwarna merah gelap masih ditutupi kulit kulup. Sandra nampak begitu suka melihat kemaluan Alfi yang besar dan panjang itu. Batang Alfi yang berkepala bulat besar itu terhangguk-hangguk. Kepala pelirnya yang hitam memang besar luar biasa mirip sebuah tomat berukuran sedang. Sekarang penis itu hanya beberapa inci di hadapan muka Sandra. Sandra tersenyum melihat penis Alfi yang terhangguk-hangguk di hadapannya. Ia memegang batang besar itu dan mengurutnya lembut. Kepalanya mulai kelihatan bila Sandra menolak kulit kulup ke pangkal. Kepala bulat itu licin berkilat terkena cahaya lampu. Sandra menempelkan batang hidungnya yang putih dan mancung ke kepala penis yang licin itu. Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam menghirup bau kepala pelir Alfi. Alfi hanya tersenyum melihat Sandra menikmati aroma kepala pelirnya. Tangan kiri Sandra memegang dan mengocok pelan batang pelir Alfi. Kepala penisnya yang berwarna merah itu hanya sepertiga saja kelihatan. Aku jadi teringat obrolan Sandra dan kawan-kawannya tempo hari kala itu ia mengatakan kalau ia merasa dia jijik dan geli dengan alat kelamin pria yang tak bersunat. Tapi sekarang dia sendiri malah membelai mesra dan sedang menghidup aroma kepala pelir yang tak bersunat. Bahkan menciuminya dengan penuh gairah. Sandra mengurut kemaluan Alfi dengan perlahan-lahan. Alfi tersenyum puas melihat Sandra mengurut kemaluannya. Tangan lembut Sandra bermain-main dengan kulit kulup. Didorong dan ditarik hingga kepala merah gelap itu terbuka dan tertutup. Lama juga Sandra bermain sorong tarik kulit kulup Alfi. Aku lihat kemaluan besar dan berkepala tomat itu makin tegang. Bagiku bentuk zakar Alfi amat hoboh, tapi Sandra melihatnya dengan penuh gairah dan bernafsu. Aku cukup banyak tahu soal anatomi alat repreduksi laki-laki dari situs-situs porno di internet saat aku iseng mengaksesnya dengan teman di kantor.
Dari dulu lagi aku rasa geli melihat batang pelir yang tak berkhitan. Kulit kulup yang menutupi kepala pelir sama sekali tidak cantik. Tapi agaknya pandangan setiap wanita berbeda. Wajah Sandra yang bersinar penuh gairah membuktikannya. Dengan nafsu yang membara dia medorong dan menarik kulup di kepala pelir. Kulit lebihan di kepala licin diremas-remas penuh nafsu. Ternyata selera Sandra sama saja dengan selera Tina dan Tammi yang menyukai zakar tak bersunat. Aku lihat Sandra tidak hanya memberi perhatian kepada batang zakar Alfi. Biji testis yang berwarna hitam itu ikut diremas-remasnya. Penis epal yang licin dan lembab itu dicium penuh gairah oleh Sandra. Aku dapat melihat Sandra meresapi dalam-dalam aroma kepala zakar Alfi. Lama sekali Sandra mencium kepala licin dan bongkok seperti pisang tanduk itu. Telur Alfi yang berkedut dan berbulu keriting itupun dicium Sandra penuh rakus. Badan dan paha Sandra bergetar dan berombak. Terangkat-angkat badannya menikmati aroma zakar Alfi. Seterusnya Sandra menghisap-hisap kepala kemaluan Alfi dengan penuh nafsu. Terlihat lidah Sandra bermain-main di sekitar kepala zakar Alfi. Lidah Sandra yang kasar dan basah itu menari-nari di kepala licin. Kepala tomat itu menjadi sasaran belaian mulut Sandra. Bibir Sandra yang merah basah itu mencucup penuh mesra kepala hitam kemerahan milik Alfi. Kembung kedua pipi Sandra bila kepala tomat itu menhujam ke dalam mulut Sand