Karen, pacar baruku
Pada kesempatan kali ini, aku ingin menceritakan pengalaman menarik dan seksi yang lain antara aku dan Karen. Hubungan kami telah berlangsung selama hampir 1 tahun lama-nya. Sejak kejadian malam itu, kami berdua semakin sering melakukan hubungan badan. Paling tidak 3 sampai 4 kali dalam seminggu atau tidak sama sekali, terutama kalo aku atau dia sedang banyak kerjaan di kantor. Dan kami melakukan-nya hampir kapan saja. Tapi kebanyakan kami melakukan-nya di rumah (kebanyakan di sofa dan kamar tidur). Tapi kami pernah melakukan 2 kali di parkiran mobil di apartment kami. Yah, aku akui saja kalo melakukan hubungan seks di dalam mobil adalah paling tidak nyaman. Selain sempit, susah sekali untuk bergerak bebas. Tapi tantangan dan perasaan berdebar-debar takut kepergok orang lain itulah yang kami nikmati pula, membuat kehidupan seks kami makin berwarna.
Hubungan ini tentu saja tidak ada yang tau menahu, terutama pacar Karen waktu itu dan Lisa yang sekarang ini sudah berada di Indonesia. Sampai pada akhir-nya Karen memutuskan hubungan-nya dengan pacar-nya. Alasan yang Karen pakai untuk putus dengan pacar-nya adalah hilangnya perasaan cinta-nya terhadap dia. Aku sendiri pun tidak berani bertanya kepada Karen apa sekarang ini hanya akulah yang ada di dalam hati-nya.
Terus terang, aku juga tidak mengerti dengan perasaan-ku terhadap Karen waktu itu. Apakah aku suka padanya karena dia menarik hati-ku secara seksual atau lebih dari itu. Karen pun tidak pernah menanyakan kepadaku apakah aku sebenar-nya telah menaruh hati kepada diri-nya. Jadi perasaan-ku saat itu seakan-akan lambung, dan penuh dengan ketidakpastian serta kekhawatiran.
Banyak yang harus dipertimbangkan dalam hubungan ini. Aku tidak berani melaju 1 langkah lagi. Mengingat Karen adalah kakak bekas pacar-ku yang dulu, dan bagaimana nanti apabila orang tua kami berdua mengetahui hubungan ini. Apalagi aku sendiri tidak tau antara aku telah mencintai Karen sebagai pacar atau karena seks saja. Mungkin aku terlalu egois untuk memikirkan hal-hal yang seperti ini, karena aku tidak mempertimbangkan perasaan Karen.
Semua ini telah terjawab saat aku berada di Sydney untuk tugas di sana selama 50 hari dari awal bulan November 2006 sampai pertengahan December 2006. Perusahaan-ku mengirim 1 team (total 4 orang) termasuk aku ke kota Sydney untuk membantu team lain di sana mengembangkan system dari perusahaan ternama di Australia. Kantor pusat kami berada di Sydney, dan salah satu kantor cabang di mana aku bekerja tetap adalah di kota Melbourne. Paling tidak tiap 3 bulan sekali, kami harus berkunjung ke Sydney untuk briefing atau branch meeting. Dan itupun hanya untuk beberapa jam saja, jadi aku tidak perlu sampai harus bermalam di Sydney. Tapi kali ini berbeda, karena aku harus tinggal paling tidak selama 50 hari di Sydney.
Karen ternyata tidak menyambut gembira kabar ini. Tapi dia pun tidak mempunyai pilihan yang lain untuk menahan aku pergi, karena ini proyek yang tidak bisa diremehkan.
Aku berangkat hari Senin pagi bersama teman-teman kerja yang lain. Kami berkumpul di kantor cabang Melbourne, lalu menyewa taxi melaju ke Melbourne domestic airport. Sesampai di Sydney, kami disambut oleh utusan dari kantor pusat dan mengantar kami ke hotel. Hotel kami berada 1 block dari kantor pusat, dan berada di lokasi yang amat strategis. Akses mudah ke pertokoan dan restaurants, jadi urusan makan dan shopping tidak perlu kuatir. Semua akomodasi ditanggung oleh kantor pusat termasuk uang jajan pribadi.
Pada hari pertama di Sydney, malam hari-nya aku menelpon Karen menanyakan kabar-nya. Kami banyak berbincang-bincang sambil tertawa canda. Banyak kali Karen bertanya kapan aku pulang dari Sydney. Aku sendiri tidak tau kapan bisa selesai proyek ini, yang pasti 50 hari itu adalah perkiraan perusahaan kami. Tapi aku mengatakan pada Karen kalo aku akan bekerja keras agar proyek ini bisa selesai lebih cepat 2 atau 3 hari dari perkiraan.
Aku mengusulkan kepada Karen kalau aku bisa terbang ke Melbourne tiap Jumat malam dan kembali ke Sydney hari Senin pagi hari. Karena perjalanan Melbourne – Sydney dengan pesawat terbang hanya sekitar 1 jam saja. Tapi usulan ini ditolak Karen, karena tidak ingin membuat aku letih atau sakit. Juga kata Karen baik untuk kami berdua untuk saling membiasakan diri jauh dari masing-masing.
Minggu-minggu pertama, kedua, dan ketiga, aku bisa mengendalikan perasaan-ku dan karena sibuk-nya pekerjaan, aku bisa melupakan kerinduan-ku kepada Karen.
Sampai pada akhir-nya sebulan lama-nya, aku sudah tidak tahan lagi ingin bertemu dengan Karen. Aku masih ingat malam itu, hari Kamis malam di akhir bulan November 2006. Aku teramat sangat rindu terhadap Karen. Sampai akhir-nya aku menelpon dirinya dari kamar hotel-ku.
"Hallo Karen? Gimana kabar-nya? Sudah dinner belon?", sapa-ku hangat.
Terdengar balasan suara lembut dari sana.
"Hallo kak Ditto. Karen tadi beli take away saja, males masak. Karena masak buat Karen doang is such a waste", jawabnya.
"Karen abis ini mau ngapain?", tanya-ku sekali lagi.
"Hmmm…mungkin nonton TV atau browsing Internet. Apalagi dong kalo selain dua itu?", canda Karen sambil tertawa ringan.
"Emang kak Ditto pengen Karen ngapain? Kak Ditto ngga ada di sini, jadi Karen menganggur.", goda Karen.
"Anu…emang Karen lagi pengen?", tanya-ku lagi. Mengerti kan maksud dari pertanyaan-ku ini.
"Yeee… kak Ditto ge-er nih. Selama kak Ditto di sini Karen kan ngga usah masak, potong buah buat kak Ditto.", jawab Karen bercanda.
"Iya benar juga sih. Emang Karen menikmati hari-hari menganggur ini?", tanya-ku penasaran.
"Tentu saja tidak. Karen pengen kak Ditto di sini. Karen sepi banget di sini. Cepat pulang dong?! Masa ngga kangen ama Karen?", pinta-nya manja.
"Tentu saja kangen, tiap hari aku rindu ama Karen loh", jawab-ku.
"Emang kak Ditto rindu apa-nya dari Karen? Kak Ditto anggap Karen sebagai siapa?", tanya-nya sedikit serious.
Bak kesambar petir, aku tau suatu hari Karen pasti menanyakan hal ini. Dan aku terdiam beberapa saat, tidak mengerti harus menjawab apa. Suasana hening sesaat, sampai pada akhir-nya Karen bersuara.
"Sebenar-nya kak Ditto mengganggap Karen sebagai apa? Karen kadang-kadang tidak tau apa yang sedang kak Ditto pikirkan atau rasakan. Karen takut bertanya-tanya mengenai hal ini kepada kak Ditto. Tapi perlu kak Ditto mengerti bahwa bagi Karen, kak Ditto adalah orang paling penting di hati Karen.", sambung-nya.
"…", aku pun masih hening. Aku seperti mencaci maki diriku. Apa sebenar-nya mau-ku ini? Wanita lembut, baik hati, dan amat menyayangi-ku sedang memberi-ku sinyal, dan aku tidak tau harus bertindak bagaimana.
"Kak Ditto?!", tanya-nya lagi.
"Iya Karen. Aku masih di sini", jawab-ku.
"Apakah lebih baik kak Ditto tidak menelpon Karen sampai nanti kak Ditto kembali dari Sydney?", minta-nya serious.
"Lho, kok begitu?", tanya-ku heran.
"Karen ingin kak Ditto berpikir dengan perasaan kak Ditto, apakah sebenar-nya arti Karen bagi kak Ditto? Karena Karen ingin menjadi orang yang paling berarti buat kak Ditto melebihi orang lain. Apa pun alasan-nya.", dengan nada serius.
Aku masih belon bisa menjawab pertanyaan Karen. Karena aku sendiri pun masih belum menemukan jawaban-nya malam itu. Akhir-nya percakapan kami ditutup pada malam itu.
Setelah percakapan malam itu, aku berusaha untuk tidak menghubungi Karen selama sisa waktu di Sydney. Ingin gila rasa-nya, aku benar-benar rindu pada-nya. Tapi aku berusaha keras untuk tidak menghubungi-nya, agar aku juga bisa berpikir dengan leluasa.
Karen, Karen, Karen, dan Karen. Begitulah isi otak-ku saat itu. Tiap kali makan, tiap kali mandi, tiap kali shopping, selalu saja wajah Karen yang muncul di otak-ku. Aku tidak menyangka betapa penting-nya Karen bagiku.
Sampai pada malam terakhir di Sydney, perusahaan kami mentraktir kami semua makan malam sebagai ucapan terima kasih kepada team Melbourne yang telah membantu pengembangan proyek tersebut. Meskipun system itu belum 100% selesai, tapi kami yakin team dari kantor pusat bisa menyelesaikan-nya dengan baik. Karena kantor cabang kami yang di Melbourne juga telah memohon kantor pusat di Sydney untuk (istilah-nya) mengembalikan asset mereka (kami berempat) secepat mungkin.
Sekembali di hotel, aku mengirimkan sms kepada Karen. "Hallo Karen. Besok aku kembali ke Sydney. Aku pengen ngomong sesuatu buat Karen. Karen sabar yah. See u 2morrow".
Tak lama kemudian Karen meresponse sms-ku. "Hallo juga kak Ditto. Karen dah ga sabar lagi sampai kak Ditto pulang. Ati-ati di jalan ya".
Aku sms Karen lagi. "Let’s celebrate my arrival. Tolong booking restaurant di Sails on the Bay. Check di Internet untuk nomer telp mereka".
"No problem. Tapi kok pilih restaurant mahal sich?!", jawab-nya di sms.
"Kalo sekali-kali ngga apa-apa. Pengen romantic dinner ama Karen.", jawab-ku.
"Ok deh. Can’t wait to see you. :-)", jawab-nya Karen.
Esok hari-nya, setelah berpisah di kantor pusat, kami berempat dengan segara meninggalkan Sydney menuju Sydney Airport. Selama perjalanan pulang, aku terus berpikir tentang kata-kata apa yang ingin aku ucapkan untuk Karen. Perlu diketahui, aku telah memutuskan untuk menjadikannya pacar bagiku. Tapi aku ingin menyusun kata-kata proklamasi yang baik dan benar. Maklum, I am not very good at this.
Sesampai di Melbourne, kami berempat kembali menyewa taxi lagi menuju kantor cabang di Melbourne. Maklum juga, kantor cabang Melbourne hanya memiliki 2 mobil kantor, dan selalu saja kedua mobil tersebut tidak pernah sepi. Hari itu adalah hari Jumat, jadi sesampai di kantor cabang Melbourne, kami banyak briefing project development kami di Sydney dengan head manager kami dengan suasana santai. Jam masih menunjukkan pukul 3 sore, masih ada 2.5 jam lagi sampai pulang. Tapi head manager kami memperbolehkan kami untuk pulang lebih awal.
Tawaran langka yang tidak bakalan kami lewatkan. Aku putuskan untuk jalan-jalan dulu di Melbourne city, sambil window shopping juga. Looking for something nice buat Karen. Akhir-nya aku berhenti di depan toko jewellery Tiffany & Co, dan aku melihat kalung yang sungguh indah. Tanpa berpikir panjang aku masuk toko tersebut dan membeli kalung itu. Aku yakin Karen akan semakin cantik mengenakan kalung tersebut.
Jam telah menunjukkan pukul 5, aku buruan saja pulang ke apartment-ku. Booking time buat dinner kami jam 7 malam. Karena bulan itu adalah musim panas, jam 7 malam masih terlihat terang di kota Melbourne.
Sesampai di apartment, semua tampak terlihat sedikit berbeda. Semua-nya serba rapi dan teratur, serta bersih. Aku jadi malu pada diri-ku sendiri, berarti aku orang yang paling berantakan di apartment ini. Sebulan lebih tanpa aku di sini, semua jadi rapi kembali. Ini pasti hasil kerja Karen selama aku di Sydney. Dia sangat rapi dan organised sekali kepribadian-nya.
Tanpa berpikir panjang lagi langsung menuju kamar mandi dan segera membasahi diriku. Selama di dalam kamar mandi, aku terus berpikir tentang apa yang akan aku katakan kepada Karen.
"Karen, I love you. Be my girlfriend", pikirku singkat. Jangan deh, terlalu singkat dan urakan lagi kesannya.
"Karen, I can't live without you.", pikirku lagi. Gile, terlalu singkat dan muluk lagi.
"Duh, gimana nih?!", tanyaku pada diri sendiri.
"Sudah lah, let it flow like wind. You can do it.", jawabku dengan setengah percaya diri.
Setelah selesai mandi, aku hanya keluar dari kamar mandi dengan bagian tubuh bawah ditutup oleh handuk. Maklum musim panas, aku malas sekali berpakaian lengkap sehabis mandi.
Aku melihat tas kerja Karen di atas sofa. Jadi aku tebak Karen sudah pulang dari Kantor.
"Karen, where are youuuu?", panggilku manja.
"Kak Dittoooo, mana oleh-oleh nyaaa?", jawabnya manja pula sambil menghampiriku dan memelukku erat.
"Ntar dulu, sewaktu dinner nanti.", jawabku sambil tersenyum.
"Sip sip. Karen mau mandi dulu. Kak Ditto siap-siap aja dulu. Setelah itu panasin mobil yah kalo sempat.", pinta Karen.
"Ok", jawabku singkat.
Setelah diriku siap, aku dengan segera mengantongi kalung yang aku beli dari Tiffany & Co yg terbungkus kotak kecil dengan hiasan yang mungil.
Aku duduk di sofa sambil menonton siaran TV yang kebetulan menayangkan film seri The Simpsons. Jam masih menunjukkan pukul 6, jadi I take my time relaxing di sofa.
Tak lama kemudian Karen keluar dari kamar mandi dan segera menuju kamarnya. Kudengar music dan suara bising hair dryer dari dalam kamar-nya. Bisa aku menebak kalo Karen sedang sibuk berdandan di dalam kamar-nya.
Setengah jam kemudian, Karen akhirnya keluar dari tempat persembunyian-nya. Tampak dia berdiri di samping sofa tempat aku yang sedang duduk dengan kaki menjulur dengan nikmatnya.
"Kak Ditto, Karen dah siap berangkat.", sapanya ringan.
"Oh my goodness...", pikirku dalam hati. Karen malam itu mengenakan gaun warna biru muda. Rambut panjangnya dibiarkan terlepas tanpa mengenakan jepitan atau ikatan apapun. Bau parfum yang dikenakan sungguh harum dan cocok dengan gaun yang dikenakannya pula. Ditambah dengan bros warna pink berbentuk hati makin membuatnya anggun malam itu. Apapun yang dikenakannya malam itu tampak simple atau sederhana, tapi apabila digabung semuanya di tubuh Karen, membuatnya luar biasa indah.
"You look beautiful.", kataku tanpa berpikir panjang.
"Thanks", jawab Karen sambil menunjuk dan mencium pipiku.
"We will be late. Yuk kita berangkat sekarang.", pinta Karen.
Kita sampai ke tempat tujuan pukul 7 lewat 10 menit. Restoran pilihanku memang tidak salah. Selain interior designnya yang menarik, lokasinya pun tidak kalah menarik. Lokasi restoran tersebut tepat di pinggir pantai. Kami telah memesan meja di dalam with ocean view. Bagian luar yang menghadap pantai dilapisi oleh dingin kaca yang besar, sehingga tamu restoran dapat menikmati pemandangan ocean sambil menyantap hidangan mereka.
Setelah memesan entree, main, and dessert kepada waitress yang melayani kami, kami pun ngobrol santai sambil menunggu pesanan kami keluar. Kebanyakan aku yang mendominasi percakapan, karena aku ingin bercerita tentang pengalaman kerjaku selama di Sydney. Karen pun hanya senyum-senyum saja mendengar ceritaku. Aku ngga tau apa Karen malam itu mendengarkan ceritaku atau hanya sekedar mendengar. Ah, tidak apalah, lagian tidak terlalu penting juga buat Karen.
Pinot Noir wine pilihanku and Cabernet Sauvignon wine pilihan Karen mewarnai suasana malam yang indah itu. Tidak ada yang perlu kita kuatirkan karena besok adalah hari Sabtu, dan malam ini adalah malam yang panjang untuk kita berdua.
Jam telah menunjukkan pukul 9 malam, dan warm sticky date pudding dessert-ku telah aku santap habis. Tampak Karen yang masih menikmati lemon cheese cake-nya. Kini saatnya aku harus mengatakannya kepada Karen apa yang ingin aku katakan padanya.
"Karen, thank you for coming the dinner tonight?", kataku sambil memulai percakapan baru.
"Ah Kak Ditto, jangan formal gitu dong. Please.", jawab Karen sambil tersenyum ramah.
"Karen. ... I have a confession to make. But before that I like to give you something", jawabku secepatnya sambil merogoh-rogoh kantung celanaku.
Kuletakkan kotak kalung itu dan kudorong pelan-pelan menuju pinggir piring dessert Karen.
"What is it?", tanya Karen dengan pipinya yang telah berubah menjadi kemerahan.
"Please, open it. I know you're gonna like it.", jawabku singkat.
Setelah kotak itu dibuka olehnya, tampak mukanya menjadi berseri-seri bercampur malu-malu. Tanpa berpikir panjang, Karen berdiri dari tempat duduknya dan dengan segera memelukku sambil mencium pipi kiriku.
"Thank you kak Ditto. It's cute. Karen suka banget", jawab Karen. Kubantu dirinya memasang kalung tersebut, dan benar juga menurutku, she looks even prettier dengan mengenakan kalung itu.
"Well, Karen. Masih ada lagi yang pengen aku kasih buat Karen. Tapi ini bukan barang.", kataku lagi.
Kali ini tampak wajah Karen sedikit berubah. Berubah menjadi bertanya-tanya dan wajah ingin tau.
"Karen, I hope you know that I like you a lot. Like di sini buat dalam arti sekedar suka. Tapi like di sini ... hmmm ... berarti lebih daripada suka.", kataku sambil grogi.
Karen masih diam, dan kali ini sorot matanya menatap mataku tajam.
"I know this is going to hard for both of us, but if we both work together - aku yakin we can make it. Mungkin ini saatnya kita harus mengakhiri hubungan ini ... dan ...", kataku sambil menggoda.
Tak karuan saja Karen terkejut dan shocked. Sorot matanya makin tajam menusuk.
Kini cepat-cepat aku lanjutkan kata-kataku, "... dan mari kita memulai hubungan kita yang baru, di mana itu lebih memiliki masa depan untuk kita berdua.".
"Karen, would you like to be my girlfriend and to love me as your boyfriend?", pintaku kepadanya.
Mendengar pertanyaan ini, sorot mata Karen menjadi sayu, dan Karen hanya bisa menunduk sambil menatap lemon cheese cake dessertnya yang tinggal separoh. Karen diam saja. Aku menjadi salah tingkah, dan tidak tau harus berbuat apa sekarang.
"Sorry kalo pertanyaan ini membuat Karen shocked, but I hope I can hear a Yes or No answer dari Karen.", jawabku.
"Kalo Karen butuh waktu untuk menjawabnya, aku ngga keberatan to give Karen sometime to think.", sambungku lagi.
Karen masih diam saja, tapi kali ini Karen melanjutkan lagi menyantap sisa lemon cheese cake-nya tanpa sepatah kata pun. Aku makin bingung dibuatnya.
Setelah habis menyantap dessert-nya, Karen meneguk sisa wine yang masih tersisa sedikit dan kembali menatap wajahku. Kami saling memandang, dan kemudian Karen tersenyum simpul.
"Hari ini Karen benar-benar dikasih dua hadiah yang indah dari kak Ditto. Apalagi hadiah yang kedua.", kata Karen.
"Jadi, it's a Yes or it's a No?", tanyaku.
Karen sedikit maju, dan wajahnya mendekat ke wajahku sambil tersenyum manja dan berkata, "It's a big YES".
Kami berdua saling tersenyum, dan kucium kedua tangannya.
Hari proklamasi-ku memang sangat traditional, tapi sangat berkesan bagi kami. Sejak malam itu, hubungan kami menjadi official (istilahnya).
Kami meninggalkan restoran pukul 10 malam, dan kami tidak langsung pulang ke rumah. Tapi kami menyempatkan diri jalan-jalan di pinggir pantai malam itu. Sambil bergandengan tangan, kami bercakap-cakap mengenai rencana hubungan baru kami ini dan bagaimana nanti kita memberitahukan orang tua kami tentang hubungan ini. Mengingat Karen adalah kakak kandung dari Lisa, mantan pacarku yang dulu beberapa taon yang lalu. Tidak jarang aku mencium bibir manisnya ketika kami berjalan sambil bergandengan tangan.
Jam menunjukkan hampir jam 12 tengah malam. We thought it's wise to go home. Selama perjalanan pulang dan sesampai di depan pintu masuk apartment kami pun, tangan Karen masih tidak ingin terlepas dari genggaman tanganku.
Setelah bersiap-siap untuk tidur, Karen tidak mau lagi tidur dengan kamar terpisah dan memutuskan untuk tidur di kamarku saja sejak malam itu.
Aku putar music jazz Diana Krall dengan lampu setengah redup. Di atas tempat tidur, kami saling berciuman mesra dan lembut. Lidah kami saling bertemu seakan-akan saling mengelus-elus satu sama lain.
Malam itu, Karen yang lebih dominan di atas ranjang.
"Kak Ditto, I will make you the happiest man tonight.", kata Karen menantang.
"I can't wait.", jawabku dengan semangat.
Karen mengambil posisi di atasku, dan duduk di atas selangkanganku sambil menunduk dan mencium bibirku. Tangan kanan-nya masuk ke dalam baju piyamaku sambil mengelus-elus lembut dadaku. Jantungku berdekup kencang, tanda bahwa aku telah mulai terangsang oleh rangsangan Karen. Kali ini aku membiarkan Karen memegang kendali percintaan malam itu.
Karen terus berusaha melepas semua piyama-ku dan ingin secepatnya membuatku terlanjang. Setelah membuatku terlanjang tanpa busana apapun yang menempel di tubuhku, Karen tersenyum manja. Dengan cepatnya Karen kembali menciumi bibirku, dan kali ini tangan kanan-nya mengelus-elus lembut batang penisku yang telah berdiri sejak tadi. Karen benar-benar mengerti how to make a guy like me dibuat seperti cacing kepanasan. Aku paling suka ketika Karen menjilat lembut puting susu-ku, karena itu adalah daerah paling sensitive buatku. Dan kali ini Karen tidak lupa untuk menjelajahi bagian ini.
"Karen, ahhh...", hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Karen seperti tidak menghiraukan apapun yang keluar dari mulutku. Karena memang bukan kata-kata yang perlu dihiraukan. Hanya suara erangan nikmat yang keluar dari mulutku. Semakin keras eranganku, semakin bersemangat Karen menjelajahi tubuhku. Kali ini bibir Karen telah sampai di batang penisku. Seakan-akan mengerti apa yang aku inginkan, tanpa dikomando mulut Karen mengulum abis batang penisku. Tangan kanan-nya mengelus-elus lembut kedua buah pelirku sambil tangan kirinya mengocok-kocok dan mulutnya mengulum batang penisku. Seketika saja batang penisku terasa amat basah oleh air liurnya, dan eranganku semakin menjadi-jadi. Karen makin mempercepat gerakan mulut dan tangan kirinya. Aku tidak ingat berapa lama Karen telah memberiku blowjob dan handjob malam itu. Yang pasti kuingat hanya satu ... 'gila, enak banget'.
"Ahhh ... Karen ... enak bangettt ... ahhh...", aku hanya bisa berucap begitu saja. Aku mencoba untuk berkonsentrasi agar aku tidak cepat datang karena blowjob dan handjob dahsyat Karen ini. Tapi kelihatannya, aku sudah tidak kuat lagi. Pengen keluar rasa-nya semua isi di dalam batang penisku. Ini baru pertama kali aku di blowjob oleh Karen yang aku sudah tidak mampu berkonsentrasi lagi menahan batang penisku agar dia tidak cepat datang.
"Karen, aku mau datang ... mau datang nihhhh ... stop stop ... pleaseee ...", aku benar-benar memohon padanya. Tapi seakan-akan tidak mendengar permintaanku, Karen tetap aja melanjutkan kulumannya kepada batang penisku. Kali ini lebih cepat lagi, seakan-akan dia tau kalo sebentar lagi pertahananku bakalan bobol.
Benar saja, tidak lama kemudian bobol juga pertahananku. Batang penisku tidak mampu lagi menahan, keluarlah semua air mani di dalamnya, dan menyembur desar di dalam mulut Karen.
"Akhhh ... akhhh ... aku dapettt nihhh... akhhh ...", aku berteriak kecil. Kuluman Karen berhenti menjadi sedotan yang kuat. Seakan-akan ingin menyedot semua air mani di dalam batang penisku. Karen tampak tidak jijik oleh semburan air maniku, bahkan tanpa ada rasa jijik untuk menelan semua-nya. Semua otot-otot sendiku dibikin lemas oleh Karen. Masturbasi pertama dari Karen yang berhasil membuatku bobol. Tidak heran bila Karen mengatakan bahwa malam itu akan membuatku the happiest man alive.
Setelah itu, tak henti-hentinya aku mengatakan padanya bahwa dia sungguh hebat melayaniku malam itu. Sampai akhir-nya aku ketiduran akibat kecapekan. Yang aku ingat sebelum ketiduran, Karen terus mengelus-elus lembut rambutku dan sesekali mencium-nya. Aku bisa merasakan betapa sayang-nya dia kepadaku.
Tidak tahu sudah berapa lama aku ketiduran, tiba-tiba aku bangun karena harus buang air kecil. Batang penisku masih terasa basah & lembab karena air liur Karen. Setelah membilas batang penisku, aku kembali ke kamarku. Matahari sudah menampakkan diri, tetapi jam masih menunjukkan pukul 6 pagi di hari Sabtu. Good thing we don't have to work on Saturday. Jadi aku kembali ke tempat tidurku lagi. Tampak Karen yang masih tertidur pulas di tempat tidurku sambil menutupi perutnya dengan selimut tipis dan mengenakan daster tidur yang tipis. Maklum meskipun musim panas, tapi karena sudah terbiasa memakai selimut, tidur tanpa selimut membuatnya merasa beda atau aneh.
Melihat kecantikan wajah Karen and keindahan serta kemulusan tubuhnya Karen, membuatku kembali bersemangat. Mengingat semalam aku dibuat tidak berkutik oleh Karen, membuatku ingin membuatnya tidak berkutik pagi ini. Aku juga tau betul favorite Karen, yaitu sex in the morning. Dulu-nya dia sering menggodaku karena setiap pagi tanpa ada rangsangan apapun, batang penisku bangun dan mengeras dengan sendiri. Aku bilang padanya bahwa itu sangatlah normal, dan setiap lelaki normal pasti mengalaminya. Tapi itu justru yang membuat Karen makin suka melakukan sex di pagi hari. Dia pernah mengatakan padaku bahwa di pagi hari (sewaktu baru bangun tidur), batang penisku bisa terasa lebih keras daripada di saat-saat yang lain. Aku tidak tau apa ini benar, atau hanya dipikiran dia saja. Tapi itu sama sekali tidak mengganggu pikiranku, karena selama Karen senang menikmati batang penisku, itu sudah lebih dari cukup buatku.
Kali ini aku yang memulai action-nya. Pertama-tama aku kecup kening-nya, dan kemudian mengelus-elus lembut rambut-nya yang hitam. Karen kemudian melihatku dengan kedua mata yang masih terkantuk-kantuk sambil tersenyum manis, dan akhir-nya memejamkan matanya kembali. Tapi aku masih belum ingin berhenti sampai di situ. Aku mencoba mengubah posisi tidur Karen menjadi terlentang dari posisi tidur sebelum-nya yang menyamping, dan berhasil. Aku tarik selimut tipis-nya, dan aku lempar ke samping tempat tidurku. Terlihat paha mulus dan putih Karen, membuatku menelan ludah. Aku mengambil posisi di sebelah kanan Karen dan berbaring menyampingi tubuh-nya yang sedang terlentang. Tangan kiriku menopang kepala dan leherku, sementara tangan kananku mengelus-elus rambut-nya. Karen tampak menikmati setiap sentuhan yang aku berikan padanya.
Kemudian tangan kananku turun menuju dada-nya yang masih tertutup kain daster tidur-nya. Karena kain daster itu tipis sekali, aku bisa merasakan tonjolan puting susu Karen dengan jelas di telapak tanganku. Aku mendekatkan muka-ku untuk berusaha mencium bibir manis-nya. Dengan masih setengah mengantuk, Karen membalas serangan ciumanku tapi tanpa tenaga alias pasrah. Diatas kain daster-nya, aku memainkan tangan kananku memaini puting susu-nya. Kadang-kadang aku cubit lembut, dan kadang-kadang aku elus-elus. Terdengar hela-an napas Karen yang berubah menjadi lebih panjang. Kali ini Karen mulai terangsang. Mengetahui hal itu, aku semakin bersemangat menjelajahi tubuh-nya. Tangan kiriku sekarang tidak lagi menopang kepala dan leherku, tetapi ikut berpetualang dengan tangan kananku. Kutarik lepas daster-nya ke bawah agar tidak membuat Karen merasa tidak nyaman karena harus berdiri dulu tubuh-nya untuk melepas daster-nya.
Karena Karen tidak mengenakan BH dan celena dalam, dalam sekali tarik, terlanjang-lah tubuh Karen tanpa sehelai benang apapun yang menempel di tubuh-nya. Karen masih berpura-pura tidur. Aku tau jelas dan pasti bahwa Karen sudah sejak tadi telah terbangun dan mengeluarkan hela-an napas terangsang-nya. Kudekatkan wajah-ku di puting susu-nya yang sebelah kanan, dan menjilatnya dengan lembut. Puting susu yang berwarna coklat muda dan bersih itu membuatku makin terangsang, dan ingin mengulum terus menerus. Secara bergantian puting susu-nya aku jilat, kulum, dan kadang kala aku sedot sedikit keras. Napas Karen kali ini makin memburu tidak karuan. Bunyi erangan-nya pun kadang kala sempat keluar dari mulut-nya. "Ahhh... kak Ditto ...", kalimat terputus-putus itulah yang sering terucap dari mulut Karen.
Setelah puas berkelana dia kedua puting susu Karen, kali ini aku menuju ke tempat yang paling penting dan tujuan paling akhir untuk foreplay ini sebelum menuju ke main menu. Bau khas memiaw Karen telah menjadi favorite-ku dalam bercinta dengan-nya. Aku mengakui bahwa bau memiaw Karen tidak membuatku enggan untuk menjilatnya. Dari semua wanita sebelum Lisa (termasuk Lisa pun) memiliki bau memiaw yang membuatku enggan untuk menjilati-nya. Terus terang bau-nya anyir dan tidak nyaman. Kebanyakan aku hanya memainkan tangan-ku untuk membuat mereka orgasme atau datang di waktu foreplay (makanan pembuka). Maka-nya mereka mengatakan bahwa aku memiliki magic touch di jari-jari tanganku yang mampu menundukkan mereka dan membuat mereka bak cacing kepanasan. Dengan Karen berbeda sekali, bau-nya pun tidak anyir, wangi pun tidak (karena tidak mungkin kalo sampai wangi, selain abis mandi), tapi memiliki magnet yang membuatku menyukainya.
Bulu pubis Karen halus dan tidak begitu lebat, sehingga memudahkan aku untuk menjilatinya serta memainkan memiaw-nya dengan lidahku. Seperti biasa-nya, seperti terkena setrum listrik tegangan tinggi, tubuh Karen mulai tersendak ketika lidahku berkelana di daerah clitoris-nya.
"Ahhh ... kak Ditto sayang ... enak bangettt ... ahhh", seru Karen makin menjadi-jadi. Napas-nya pun makin memburu kencang. Kadang-kadang dia menjambak rambut-ku.
"Kak Dittooo ... Karen hampir dapetttt ... ahhh", tambah Karen sekali lagi.
Kedua selangkangan Karen kubuka lebih lebar lagi, agar bibir vagina-nya lebih merekah lagi. Kali ini aku jilati bagian labia minora-nya dan berusaha untuk mencari dari G spot-nya. Hentakan tubuh Karen makin mengencang, dan napas-nya pun seperti seseorang yang telah berlari sejauh 10 kilometer. Kali ini memiaw-nya terasa sedikit asin, dan bisa dipastikan vagina Karen telah mengeluarkan cairan menandakan sebentar lagi the 'Big' one is coming very very close.
Mengetahui bahwa sebentar lagi Karen akan orgasme, aku mempercepat tarian lidahku di memiaw-nya.
"Kak Dittoo ... kak Dittooo ... Karen dah ngga kuuaattt lagi ... dah diujung nihhh ... pleaseeee kak Ditto", pinta Karen.
Tak lama kemudian, terdengar jeritan Karen mengisi seluruh kamar tidurku.
"Ahhhh ahhhh ahhhh ...", jerit Karen kencang, dan dengan segera dia menutup mulut-nya dengan tangan-nya sendiri agar suara pekikan-nya tidak sampai terdengar keras.
Aku tetap menjilati memiaw-nya, sampai Karen menyuruhku untuk berhenti. Setelah itu, tanpa perlu diperintah, aku melucuti semua pakaian tidur yang aku kenakan. Tanpa ada usaha dari Karen, batang penisku telah mengeras dan siap untuk berkelana di dalam memiaw Karen. Seperti biasa, sejak berhubungan sex dengan Karen, aku tidak perlu menggunakan condom, karena Karen pun tidak menyukaiku memakai condom. Demikianlah pula denganku.
Aku tidak mengalami kesulitan memasuki memiaw Karen, karena sudah teramat basah dari tadi. Kudorong pelan-pelan batang penisku, dan tanpa ada kesulitan, terbenamlah semua batang penisku di dalam memiaw-nya.
"Ahhh ... kak Ditto ... t*t*t-nya keras bangettt ...", kata Karen.
Seakan-akan tidak mendengarkan Karen, aku memaju-mundurkan pinggulku perlahan-lahan, memberikan sensasi erotis ke dalam memiaw Karen. Kadang-kadang dorongan itu aku hentikan, dan memeluk Karen sambil mencium bibir-nya penuh dengan napsu. Lidah kami saling berperang di dalam bibir kami yang telah menyatu. Setelah puas berciuman, aku kembali mendorong maju dan mundur pinggulku agar batang penisku seakan-akan menusuk-nusuk lubang memiaw Karen.
"Ahhh ... Karen, memiaw Karen bener-bener hebat. Enak bangettt ... bikin geli banget. Suka ngga dengan t*t*t ini?", kataku yang sudah ngaco.
"Sukaaa bangettt ... kak Ditto janji yah, sayangin Karen terus ... dan Karen akan selalu membuat kak Ditto puas jiwa dan raga ...", pinta Karen dengan nada yang terputus-putus.
"Janji ... janji akan sayang Karen terus ...", jawabku dengan napas yang terburu.
Semakin lama hentakan dan hujaman batang penisku semakin aku percepat. Pagi itu kita tidak bercinta dengan gaya yang bermacam-macam. Cukup gaya missionaries, tradional, man on top style. Seperti tidak pernah kering, memiaw Karen selalu saja basah. Memberi sensasi luar biasa di dalam bercinta ini. Akibat dari percepatan hujaman batang penisku, tubuh karena mengalami reaksi yang sunggu dahsyat. Tanpa ada peringatan apa-apa, tiba-tiba Karen memelukku sambil berteriak panjang.
"Ahhhhhh ... kak Ditto jahat ... Karen dapet lagiii ... ampun kak Ditto ... Karen minta ampunnn ...", kata Karen sambil memelukku erat-erat dengan tubuhnya yang mulai menegang.
Aku biarkan Karen memelukku, dan menghentikan goyangan pinggulku, agar memberikan udara buat Karen untuk mengatur napas-nya kembali.
Setelah beberapa menit kami berpelukan, aku berniat untuk menyelesaikan permainan sex ini, karena it is time for me to come.
"Karen, aku bentar lagi mau datang. Kalo bisa sama-sama yah datang-nya?", pinta-ku.
Karen hanya mengangguk menandakan bahwa dia setuju, dan kemudian mencium bibirku lagi.
Kembali aku mengambil posisi favorite-ku untuk ejakulasi, dan memulai memainkan pinggulku sekali lagi. Aku perlahan-lahan menggoyangkan pinggulku dengan irama yang pasti. Aku berusaha menhujamkan batang penisku dalam-dalam, agar memberikan sensasi seksual lagi kepada Karen. Karen pun tidak tinggal diam, dia tau betul bagaimana membuatku ejakulasi dengan cepat disaat kami telah bersenggama. Kedua telapak Karen menempel di dadaku, dan kedua jari telunjuknya mulai memainkan puting susuku. Daerah yang paling sensitive untukku.
"Ahhh ... Karen ... terus Karen ... aku bentar lagi mau datang.", kataku.
Karen pun mulai terlihat kembali bergairah. Aku pun mempercepat permainan ini. Aku tau kalo sebentar lagi batang penisku tidak akan sanggup lagi menahan bendungan air maniku yang sejak tadi meronta-ronta ingin keluar.
"Kak Ditto ... kok keras lagi t*t*t-nya?", goda Karen dengan napas terburu-buru.
"Emang dari tadi ngga keras yah?!", tanyaku heran dengan tidak menghentikan goyangkan pinggulku.
"Ngga kok ... cuman kali ini Karen tau kak Ditto sebentar lagi mau datang ... datang barengan yukkk ...", pinta Karen sambil tersenyum.
Aku buat lebih cepat lagi goyangan pinggulku, dan batang penisku semakin meronta-ronta ingin memuntahkan air mani-nya. Aku hentakan dan menghujamkan batang penisku makin dalam, dan Karen pun sudah dari tadi mengigau tak karuan. memiaw Karen semakin basah, dan gesekan batang penisku di dalam memiaw-nya seakan-akan mengeluarkan bunyi seperti pipi seseorang yang sedang ditampar. Aku sudah tidak tahan lagi, kali ini benar-benar harus keluar. Tubuhku mengejang hebat. Melihat perubahan tubuhku itu seperti memberikan aba-aba kepada Karen, kedua kaki Karen menjepit erat pinggulku seperti ingin agar semua batang penisku tertanam penuh ke dalam memiaw-nya.
"Ahhh ... Karen ... aku dah mau dapettt ... dah diujung ... Karennnn", kataku yang sudah kacau.
"Kak Ditto ... Karen juga mau datang lagiii ... I love you kak Ditto.", jawab Karen.
"Karennnn ... ahhhhhhhh ...", ingauan-ku sudah tak karuan.
Batang penisku mengeras sesaat, dan kemudian disusul dengan semburan air maniku di dalam liang vagina Karen. Kedua kaki Karen terus menekan pinggulku, seolah-olah haus dengan semburan hangat air maniku di dalam liang vagina-nya. Aku tidak menghitung berapa kali batang penisku memuncratkan semua isi air mani yang dari tadi dibendung-nya.
"Kak Ditto ... hangattt lohhh ...", kata si Karen.
"Enak ngga?", tanyaku.
"Always the best sayanggg ...", jawab si Karen manja.
Posisi kami masih berpelukan. Karen mulai mengendurkan kedua kaki-nya dari pinggulku. Batang penisku dari tertanam di dalam memiaw Karen. Membiarkan-nya perlahan-lahan melemas di dalam. Oh betapa senang-nya aku melakukan hubungan sex dengan Karen. Ide untuk menggunakan alat kontrasepsi selain condom adalah pilihan utama kami. Untung-nya Karen pun tidak menyukaiku memakai condom. Yang penting pencegahan pregnancy (kehamilan) tetap dijaga baik-baik.
"I love you, Karen. I will always love you. Sorry if I didn't say it in the first place", kataku.
"It's ok, kak Ditto. I love you too, and I know that I love you. Karena selama ini Karen selalu melakukan-nya karena Karen cinta ama kak Ditto. Meskipun Karen dulu-nya kadang-kadang sedih memikirkan apakah kak Ditto cinta atau hanya ingin 'ini' (sex) doang dari Karen.", kata Karen dengan nada sedikit sedih.
"I am sorry, Karen. Sekarang aku telah mengerti bahwa sejak dari dulu aku sudah sayang ama Karen. Sorry for making you worried and confused.", pintaku.
"Ngga perlu sorry, kak Ditto. Sekarang semua sudah jelas, jadi Karen tidak akan worried lagi. Apapun yang kak Ditto mau dari Karen, Karen pasti beri semua kepada kak Ditto.", jawab Karen.
Mendengar ucapan Karen, seakan-akan seperti udara sejuk bagiku. Akhir-nya kucium bibir manis-nya, dan perlahan-lahan kucabut batang penisku dari liang memiaw-nya. Cepat-cepat aku tutup dengan tissue memiaw-nya, agar air maniku tidak tumpah keluar membasi tempat tidur-ku. Karen pun cepat-cepat beranjak dari tempat tidur, dan dengan segera ke kamar mandi. Mencuci dan membersihkan memiaw-nya.
Jam telah menunjukkan jam 7 pagi lewat. Tapi badan kami sudah letih sekali. Telah 1 jam lebih kita berpetualang dalam cinta. Pagi itu kami memutuskan untuk kembali tidur, dan benar saja kami tertidur sampai jam 12 siang. Malam-nya kami mengulangi lagi petualangan cinta dan sex kami yang tidak kalah menarik-nya, dan begitulah hari-hari berikut-nya. chaoz
Hardcore Kakis
Join Date: Jun 2009
Posts: 104
13-08-2009, 11:40 PM #22
Koleksi Chaoz
Kesenangan menjadi penyesalan
saya adalah seorang salah satu siswa smu yg cukup disenangi banyak orang, mungkin hal itu karena saya adalah seorang aktivis muda yg ulet dalam segala hal dan saya juga seorang pendiri sebuah organisasi pecinta misteri alam yg terkenal. saya memang paling susah menolak kalau sudah namanya “wanita n seks”, namun saya bukan playboy atau buaya darat. anda boleh memanggil saya ” The Women’s Lover” dan begitulah panggilan saya pada saat itu, sebagaimanapun saya berusaha menyembunyikannya pasti ketahuan oleh orang lain. saya tidak pernah bangga karena tidur dengan banyak wanita, dan perlu anda tahu ini adalah kedua kalinya saya menceritakan pengalaman seks saya secara langsung setelah cerita yg sebelumnya saya masukan kewebsite ini. saya seorang yg sangat hiding, bisa dibilang saya tak suka mengumbar cerita apapun tentang diri saya. namun entah kenapa, saya ingin mendapat komentar dari orang lain tentang masa lalu saya.
saat itu saya berada diposisi teratas dikalangan cowok2 yg cukup dikagumi, sehingga tak sulit untuk mendapatkan wanita untuk menemani waktu senggang dan bercinta hingga bosan. setiap hari, setiap waktu luang selalu saya habiskan dengan wanita yg berbeda-beda dan tak ada seorang pun yg pernah menolak saya. sampai suatu hari saya berjumpa dengan seorang gadis yg umurnya 2 tahun lebih muda dari saya, sebut saja Linda. Linda adalah seorang siswi kelas 1 smu saat itu, dia adalah gadis yg cantik dan sangat ramah. aku menyukainya dan mecoba mendekatinya namun ia langsung menolak dengan tegas.
aku sangat terkejut karena ini pertama kalinya bagiku ditolak oleh seorang gadis apalagi yg masih bau kencur, dia punya 2 alasan untuk menolakku. pertama ia sudah punya pacar, kedua ia tahu siapa aku dan bagaimana aku. aku sangat kesal dan ini membuatku gusar.
aku membuat suatu rencana jahat, kuberjanji dalam diriku kalau aku akan mendapatkan segalanya dari Linda dalam satu minggu. Linda berasal dari keluarga bawah, ekonomi susah. kebejatanku adalah memanfaatkan situasi itu, aku mencoba mendekati keluarganya dan memberikan dua kakaknya pekerjaan diperusahaan omku, karena semua keluargaku memang berasal dari pengusaha. akhirnyapun dalam 3 hari menjalankan misi jahatku ia tunduk dan memutuskan pacarnya, sebenarnya dia bukan gadis materialistis hanya saja aku tahu ia hanya ingin membahagiakan keluarganya. dalam 5 hari aku mendapatkan cintanya, dan saat itu tentu tak kusia2kan.
kujemput Linda sepulang dia sekolah dan kubawa kerumahku, seperti yg pernah aku bilang bahwa aku tinggal sendiri dirumahku karena orang tua dan saudara2ku semua sibuk dengan usahanya yg berada diluar kota/ negri. aku makan siang dengan hidangan yg disediakan pembantuku, lalu kusuruh pembantuku untuk pulang lebih awal sehingga aku leluasa berdua.
kami duduk diruang santai sambil menonton tv, perlahan aku mendekatkan tubuhku ketubuhnya yg masih berpakaian seragam. dia hanya tersenyum sambil menonton acara ditv. lalu aku langsung menciumi lehernya dan merambta kebibir tipisnya, awalnya ia diam dan memberi sedikit respon. namun pada saat tanganku mulai “belanja” keselangkangannya iapun berontak dan melepaskan ciumannya. dia takut kalau aku akan meninggalkannya seperti yg kulakukan dengan gadis2 lain sebelum dia. namun otak picik dan kata2 indah dari mulutku akhirnya meluluhkan pendirianya, akupun melakukan serangan kedua dan kali ini lebih dahsyat.
sekarang tvlah yg menonton kami, diatas sofa empuk yg besar aku memulai pembalasan dendamku atas penolakan yg pernah ia lakukan. aku menciumi bibirnya dan sesekali memainkan lidahnya, ia sangat amatir dalam hal ini. meskipun aku yakin ia pernah berciuman dengan mantanya dulu namun mungkin dia tak sehebat aku,pikirku dengan bangga. aku mulai meremas buah dadanya yg kecil dari luar seragamnya, diapun mulai menggerang nikmat, perlahan posisi kami berubah dari awalnya duduk bersampingan,kini ia berada diposisi bawah dan aku diatas. perlahan aku membuka kancing bajunya serambi bibirku masih melumat bibir kecilnya, seragamnyapun terlepas kini buah dadanya hanya tertutupi dengan BH hitam yg lucu,hmmm aku sangat suka gadis dengan underwear hitam. akupun meninggalkan bibirnya dan mulai menciumi dan menjilati leher serta wilayah sekitar dadanya. ia hanya mengerang sambil menahan kenikmatan. aku terus menciumi sekitar buah dadanya yg masih terlindungi, perlahan tanganku membuka roknya dan ia hanya diam. kini ia hanya memiliki CD hitam dan Bh hitam ditubuhnya, aku benar2 terkesima dan mencoba menahan nafsuku yg menggebu gebu melihat tubuh mulusnya.
akupun membuka baju dan celanaku, aku hanya memakai boxer yg menutupi samuraiku yg sudah mengeras ini. aku sengaja tidak langsung membuka underwearnya karena aku ingin melakukanya dengan tenang sehingga ia takkan melupakan kejadian ini. aku mulai menciumi perutnya dan tanganku meraba dada dan pahanya. sesekali aku kembali menciumi bibirnya yg mendesah pelan, aku berusaha konsentrasi menciumi bagian selangkangan dan pahanya sementara tangan kananku mulai memijit bagian sensitivnya dari luar CD hitam yg sudah basah. dia sangat mendesah dan terangsang karena perbuatanku ini, bibirku mulai menciumi vegynya dari luar CD dan sesekali aku beri dorongan dan hisapan kuat kevegynya yg basah. tongkolku sudah tak tahan berada didalam boxerku, akupun menghentikan basa basi ini dan langsung mengangkat tubuhnya yg mungil menuju kekamarku.
sambil terus berciuman, aku menggendongnya menuju kamar surgaku. perlahan aku membaringkan tubuhnya dikasurku yg luas, aku kembali menciumi vegynya sementara tanganku bermain main dengan dadanya. kini aku benar2 menyedot dan mencium kuat vegynya yg masih tertutupi CD tiba2 ia mengerang hebat, ternyata ia mengalami orgasme pertama. ia terkulai lemas, namun ini belum apa apa karena “apa apa” yg sebenarnya masih tegar menanti dibalik boxerku ini. ia memberi tahu padaku bahwa ternyata ia masih perawan, gila aku tak tahu harus senang atau bingung. aku hanya ga mau terjebak dalam hubunga yg berdasar dendam ini. keapalang basah aku takperduli, samuraiku tak mungkin tunduk begitu saja karena situasi ini. aku kembali minciumi bibinya dan turun hingga kevegynya, aku menurunkan CDnya dengan lembut sambil bibirku tetap menjilati vegynya yg dilapisi bulu-bulu tipis indah. aku jilat semua meskipun becek karena cairannya yg keluar begitu banyak saat orgasme tadi. aku naik keatas tubuhnya dan melepaskan BH hitamnya dan langsung menjilati putingnya yg sudah mengeras dan berwarna pink itu.
akupun melepaskan boxerku dan membiarkan tongkolku menggantung gagah didekat selangkangannya karena aku masih konsen dengan buah dadanya yg indah itu. dia memintaku untuk tidak menyakitinya, aku tersenyum dan meyakinkan dia kalau permainan ini takkan dapat ia lupakan. perlahan aku menarik tubuhnya kepinggir tempat tidur agar aku bisa berposisi berdiri yg baik, aku siap menancapkan tongkolku kelubang senggamanya yg becek, perlahan aku tempelkan tongkolku dan menggesekannya kebibir vegynya, iapun menggerang kuat. aku mencoba menekan kepala tongkolku hingga masuk kevegynya, ia menjerit menahan sakit. aku pelankan coblosanku sehingga ia sedikit tenang, kepala tongkolku sudah berada didalam vegynya, perlahan kutekan lagi dan darah perawanpun mulai mengalir sehingga wajah Linda kini menggeram menahan sakit, tampak air matanya sedikit mengalir. pelan aku tekan lagi tongkolku sehingga kini sudah masuk 1/4nya, darah dan cairan hangat terasa mengalir dibatang tongkolku. aku menggesekannya perlahan dan mencoba membuatnya tidak begitu kesakitan.
BLESHHH… tongkolku masuk sempurna hingga mentok, mungkin karna tongkolku memang sedikit besar dan panjang. ia menggerang kesakitan sambil merasa nikmat untuk pertama kalinya. namun kini semua seudah terkendali, perlahan aku menggenjot vegynya yg basah. sambil masing2 tanganku memegangi buah dada dan pantatnya
, ia tampak lebih tenang dan mulai menikmati vegynya yg kugenjot. aku mempercepat genjotanku, ia mendesah kuat dan memintaku lebih perlahan. aku menurut, aku coba untuk mengatur kecepatan enjotanku.
aku merasa tongkolku benar2 dijepit sesuatu yg hangat dan berlendir, aku benar2 menikmati vegynya. wajah Linda kini tampak penuh nafsu dan mulai mengikuti irama enjotanku.
beberapa menit berlalu, aku mulai mempercepat enjotanku dan ia mulai mengerang tanda ingin orgasme. BYUUURRR tongkolku serasa disiram oleh air susu yg hangat, dia mendesah nikmat untuk orgasme keduanya dengan sempurna. tak lama ia orgasme aku merasa tongkolku mulai tak tahan menahan kenikmatan, aku mempercepat enjotanku diiringi desahannya yg sesuai irama, saat enjotan nikmat yg cepat aku langsung mencabut tongkolku dan memuntahkan semua spermaku diatas perutnya, iapun hanya tertawa dan perlahan tangannya meraih tongkolku yg mulai melemas diatas perutnya. aku benar2 menikmati game ini, vegynya sangat luar biasa. aku masih berdiri diselangkangannya sambil membungkukan tubuhku, ia yg masih posisi mengangkang sambil tanganya mengocok lembut tongkolku dan berkata “ini ya yg masuk kedalam punyaku, pantes sakit” aku tersenyum dan perlahan aku merebahkan tubuhku disampingnya sedangkan tangannya masih saja mengelus2 tongkolku yg sudah lemas.
“enak banget ya, tapi aku takut hamil yank”katanya,”tenang aja kan aku ngeluarinnya diluar”jawabku dengan tenang. aku kembali menciumi bibirnya dengan lembut sedangkan tangannya tetap aktiv mengelus tongkolku, tongkolkupun mulai mengeras kembali. kini aku memintanya untuk ikut kekamar mandiku, kami mandi berdua dan terus bercumbu ria dibawah shower sambil menunggu bathupqu terisi penuh.
perlahan aku masuk kebathup dan ia mengikuti, kini aku ingin melakukannya didalam air. iapun masuk kedalam bathup dan kami kembali berciuman dalam kondisi bugil, aku langsung mengarahkan tongkolku yg sudah mengeras kedalam vegynya, posisi ini sangat sulit apalagi ia baru saja melepas keperawanannya tentu saja vegynya masih cukup sulit dibobol. namun aku berhasil, dan kami bermain dibathup, tak lama kugenjot mekinya iapun orgasme. karena aku merasa tak nyaman akupun memintanya untuk ganti gaya, kami keluar dari bathup dan aku memintanya untuk membungkuk (dogystyle) iapun menurut.
dalam gaya ini aku adalah rajanya, aku sangat leluasa dalam menggenjot vegynya. ia bertumpu pada dinding dibawah shower, untuk menambah gairah aku menyalakan shower sehingga permainan kami dibasahi oleh rintik2 air yg lembut. dia hanya mendesah nikmat sementara aku terus menggenjotnya. tak lama ia kembali orgasme, aku benar2 tak bisa menahan pejuku yg sudah diujung karena tembakan orgasmenya benar2 membuat tongkolku hangat. akupun tak tahan dan mencabut tongkolku dan menarik tangannya untuk mengocok tongkolku, dia menurut dan dengan sigap ia mengocoknya cepat. CrOOOt cRoooT pejuku menembak ke dada dan dagunya, iapun tertawa sementara aku mendesah nikmat. ia terus mengocok tongkolku dengan lembut hingga kami selesai mandi. setelah itu kami melakukannya sekali lagi diruang tamuku sebelum ia pulang.
keesokannya aku diundang dalam pertemuan organisasi pecinta alam, ditempat ini aku bertemu dengan seorang gadis sebut saja Reva. Reva adalah ketua dari salah satu organisasi yg cukup hebat juga dikota itu. umurnya 3 tahun lebih tua dariku, namun ia sangat menarik dan dia tipekal wanita yg bisa dibilang Sangat Cantik. aku langsung cepat dekat dengannya, dia anak yg sangat asyik untuk diajak bicara. dia juga anak dari seorang pengusaha yg kaya, dia tinggal sendiri dirumahnya karena nasib kami hampir sama.
hubunganku dengan Linda hanya bertahan dua hari setelah perkenalanku dengan Reva, hari itu aku sedang tidak sehat dan Linda datang untuk menjengukku. sengaja aku menyuruh pembantuku untuk tidak usah kerumah hari ini. aku dan Lindapun melakukan ritual seperti biasa dikamarku, tak berapa lama kami selesai ritual pertama terdengar bunyi bel rumahku. Reva datang untuk menjengukku, aku keluar hanya menggunakan boxer saja, aku tak terkejut melihat Reva karena aku sudah menelponnya sejak pagi bahwa aku sakit dan ini adalah salah satu bagian dari rencanaku. Linda menyusulku diruang tamu dengan menggunakan piyama, dengan tenang aku meminta mereka untuk berkenalan. aku tetap ngobrol dengan Reva diruang tamu, lalu Linda memanggilku dari dalam. akupun meninggalkan Reva diruang tamu dan menemui Linda diteras belakang rumah, “siapa dia?”tanya Linda. “dia temanku diorganisasi!” jawabku santai, “kamu suka dia ya?”tanyanya lagi, “yah ga tahu juga sih, mungkin iya mungkin ngga… sudahlah mending kamu pulang aja, ntar malem aku telpon” jawabku santai. Linda tertunduk diam tanpa expresi, lalu ia menuju kamar untuk ganti baju sedangkan aku kembali keruang tamu. Linda pamit denganku dan pergi meninggalkanku dan Reva diruang tamu, akupun tak merasa bersalah ataupun kasihan saat itu.
Reva sedikit bertanya tentang hubunganku dengan Linda, dengan santai aku menjawab apa adanya. Reva tampak tak perduli dengan jawabanku dan tetap tersenyum penuh harapan dariku,akupun memintanya untuk bersantai diteras belakang sambil menungguku membuat minuman. setelah itu aku berpura2 pusing dan ingin kembali kekamar karena aku hanya ingin melihat responnya. ternyata ia tak ingin pulang dan membiarkanku masuk kekamar. aku sengaja membiarkan pintu kamarku terbuka, tak lama aku dikamar iapun menyusul masuk. “aku ikutan tidur ya?”tanyanya seraya bercanda, “ya udah silahkan, anggap aja kamar sendiri”jawabku. iapun berbaring disebelahku, karena lelah setelah ritual bersama Linda tadi akupun tertidur sesaat.
tiba2 bibirku merasakan hangat karena sesuatu yg menyentuh lembut, aku tetap berpejam agar tak merusak situasi. bibirku terasa dilumat dengan lembut, dan kini aku memulai sandiwara seakan terkejut.
“Reva???” tanyaku dengan gelagat sok bingung, Reva tak terlihat kaget dan ia malah tersenyum sambil berkata “sorry… udah lama aku tahu tentang kamu, ga nyangka akhirnya bisa kenal ma kamu… tapi sayang kamu udah punya pacar,,, hmmm beruntung ya Linda bisa dapetin kamu!”… tanpa berkata lagi aku langsung melumat bibirnya, iapun membalasnya dengan liar, anak ini sangat pengalaman. kamipun bercumbu hebat diatas ranjang yg penuh noda itu, akupun langsung mebuka bajunya dan ternyata iapun membantu hingga membuka celananya. kini kami sama2 hanya memakai underwear, payudara besarnya yg masih tertutup oleh Bh menggesek-gesek dadaku. kami bercumbu dengan liar dan penuh nafsu, akupun tak sabar untuk membuka Bhnya, kini Bhnya bebas dari pelindung dan akupun langsung melumat putingnya.
Ia mengerang nikmat sambil tangannya mengelus elus tongkolku dari luar boxer, aku terus menjilati susunya sambil sesekali menggigit putingnya sementara ia tetap aktiv mengelus tongkolku. tanganku mulai menjamah senggamanya yg mulai basah, sementara mulutku berusaha melumat semua payudaranya. ia berhenti mengulas tongkolku dan membalikan tubuhku,kini aku dibawah kendalinya. ia melepaskan boxerku dengan lembut, tongkolku yg sudah tegang dengan gagah itupun langsung disambarnya. dikocoknya tongkolku dengn cepat sambil sesekali menjilatinya,aku hanya pasrah dalam kondisi nikmat yg hampir mirip dengan adegan pemerkosaan ini. diapun menguluym tongkolku dengan ganas, sesekali ia menggigit kepala tongkolku, itu sakit yg nikmat. karena tak tahan atas perbuatan liarnya itu, aku langsung menarik wajahnya dan melumat bibirnya dan langsung membalika tubuhnya.
aku lepaskan Cdnya dengan sedikit kasar dan langsung menyedot vegynya yg basah, ia mendesah nikmat dan aku semakin liar menyedot dan tanganku meremas pantatnya dan buah dadanya. ia berontak dan menarik tubuhku dan membuatku terlentang diatas ranjang, dia langsung jongkok diatas tubuhkun dan mengarahkan tongkolku kearah vegynya. BLESSSH,,, tongkolku masuk dengan cepat dan ia mulai menggenjot naik turun, desahan kamipun seirama. semakin bernafsu dia semakin liar, genjotannyapun makin beragam,naik turun dan goyang kiri kanan. akhhh,,, aku sangat terbuai dengan liarnya dosa yg nikmat itu, baru kali ini aku merasakan vegy dari seorang gadis yg begitu liar dalam berseks. ia makin mendesah kuat dan mempercepat genjotannya, aku mencoba memegangi badannya karena aku merasa sedikit tidak nyaman dengan enjotannya yg kasar. BYUUURSHHH,,, dia orgasme dan membuat tongkolku becek ga karuan, dia langsung menciumi tubuhku sampai kemulutku, dalam kondisi tongkolku masih didalam mekinya ia terus menggenjotnya.
akupun tak tahan dengan pembantaian secara sepihak ini, aku langsung mengangkat tubuhnya dan posisi kami berdiri untuk sesaat. aku memeluknya erat dan menggenjotnya dalam posisi berdiri.
lalu kuturunkan ia kekursi yg besar yg biasa kujadikan tempatku nyantai sambil maen game dikamarku itu. aku berusaha mengatur agar tongkolku tak tercabut dari liang senggamanya, setelah posisi ia duduk ngangkang dengan sempurna akupun langsung mempercepat genjotanku. ia mendesah kuat lagi, aku mulai tak mampu menahan nikmatnya vegy Reva. “aku mau keluar lagi…” katanya… “bentar aja, bareng”jawabku… desahan serentak kami benar2 sempurna… tak lama, Byurshhh… dia orgasme… Ah ah ahk… terus…. katanya. akupun keluar… CROOOT crooot… aku tembakan pejuku didalam liang senggamanya… ahhh… enak banget Rev… perlahan ia menempelkan tubuhnya dan memeluku dan terkulai lemas dilantai,aku dibawah dan ia diatas.
“uhhh enak banget,udah lama aku pengen gini ma kamu…!”katanya sambil menciumi dadaku dan sesekali menggigit puting mungilku,”aku juga senang banget bisa gini ma kamu, ga nyangka kamu hebat ya” jawabku. perlahan tongkolku mulai melemas didalam vegynya, tapi sesekali ia menggenjot dan menggoyangkan pinggulnya pelan. kami melakukannya lagi diruang TV keluarga dan dikamar mandi.
ssetelah hari itu aku tak pernah berjumpa atau menghubungi Linda lagi, aku asyik dengan hubunganku dan Reva. karena ia juga tinggal sendiri dirumahnya, kami pernah menghabiskan waktu selama 3 hari dirumahnya tanpa menggunakan busana. seks liar kami mainkan dengan gila dirumahnya, saat itu aku sadar bahwa Reva sangat mencintaiku dan tak ingin kehilangan aku. timku dan tim Revapun bergabung, kami sering camping bersama dan melakukan seks liar dihutan,pantai, bahkan kami pernah melakukannya didalam gua yg konon sangat angker. namun kegilaan dan liarnya kami membuat kami tak perduli pada apapun dan siapapun.
beberapa bulan berlalu, sampai suatu hari aku pergi clubing dengan Reva dan teman2 perempuannya, entah kenapa perasaanku sangat tidak enak saat itu. aku melihat seorang pria paruh baya bersama seorang gadis yg cantik dengan dandanan yg exotis. entah kenapa mataku tak lepas darinya, Reva asyik dugem dengan teman2nya dilantai bersama orang2 gila lainnya. saat pria itu menggandeng gadis cantik itu dan berjalan meninggalkan keramaian menuju pintu keluar, gadis itu sempat menatapku dan berlalu dipintu… aku sadar dan sangat mengenali wajah gadis itu, dia adalah Linda.
entah apa yg terjadi padaku, aku merasa bersalah, menyesal, sakit, cemburu, dan menderita diwaktu yg bersamaan. tak terasa air mataku mengalir, dan aku langsung lari keluar mengejar mereka. dari kejauhan aku melihat pria tua itu membukakan pintu mobil marcy E300 clasic dan meminta gadis itu masuk, sepintas gadis itu melihatku dan mereka melesat dihadapanku. aku bisa tahu mobil itu. (karena aku memiliki mobil yg sama dan aku juga maniak otomotif jadi aku sangat mudah mengenali tipe mobil meski hanya dari jauh). aku hanya berdiri tanpa ekspresi, lalu aku kembali kedalam. aku ambil minumanku dan meminumnya hingga habis, aku masih berdiri dengan penuh emosi dan sesaat aku langsung membanting gelasku sehingga semua terdiam sunyi, ruangan yg awalnya sangat hingar bingar itu kini sunyi dan semua mata menuju padaku, aku tak perduli. Reva langsung mendekatiku dan bertanya tapi aku diam dan meninggalkannya. aku pulang kerumah…
Reva menelpon namun tak kujawab. esoknya aku menemui Reva dirumahnya, ia menyambutku dengan ciuman mesra namun hanya sebentar dan aku mengelak. aku duduk diatas sofa ruang tamunya, dia duduk didepanku dan bertanya apa yg terjadi padaku….aku diam seribu bahasa,lalu aku berkata dengan tegas tapi tenang “hubungan kita tak bisa dilanjutkan, kamu harus meninggalkan aku dan menemukan pria yg lebih baik. keputusanku tak dapat dipertanyakan, semua berakhir Reva,,, hari ini juga… selamat tinggal!” aku diam dan menatapnya, wajah bingungnya berubah menjadi wajah tanpa expresi. lalu aku pergi meninggalkannya.
aku bingung dan tak tahu harus berbuat apa. esoknya salah satu teman Reva menelponku, dia bilang Reva tak bisa dihubungi dan memintaku untuk mengecek rumahnya. beberapa saat setelah itu akupun pergi kerumahnya, dari kejauhan aku melihat ada keramaian didekat rumahnya. aku memarkirkan mobilku agak jauh dari keramaian, aku melihat ada ambulance dan mobil polisi. salah seorang yg ada disitu berbicara pada temannya ” kasihan ya, koq bisa sih cewek itu bunuh diri?”… aku mendengarnya dengan jelas, aku termundur dan terdiam. aku langsung meninggalkan tempat itu dan pergi kevilla milik ayahku tak jauh dari kota.
telpon2 dan sms2 makian masuk keHPku, Linda gantung diri pada malam dihari aku memutuskan hubungan kami. rasa bersalahku tak dapat diungkapkan dengan kata2, aku habiskan 2minggu divillaku bukan karena takut akan polisi namun aku ragu untuk melanjutkan hidupku. teman2 timkupun datang kevilla, mereka tahu apa yg terjadi padaku. merekalah yg berusaha membangkitkan semangat hidupku. sangat sulit bagiku untuk melupakan dosa dan kesalahanku pada mereka, namun kebejatanku tetap saja ada hingga kejadian yg hampir serupa terjadi lagi satu tahun setelahnya, itu lah yg kuceritakan pada moment sebelum cerita ini.
cerita ini sangatlah memukul aku, karena aku menghancurkan dua jiwa sekaligus.
saat ini aku hidup dengan damai dan aku tidak sebejat dulu, aku berusaha hidup menjadi orang baik. tapi aku sadar, sampai kapanpun bayangan kebejatanku takkan hilang dari setiap mimpi2ku.
sekarang aku benar2 sadar, indahnya melakukan kesalahan namun lebih sakit setelah penyesalannya dan semua itu takkan berguna… penyesalan takkan berakhir…
ambilah maknanya dan hindari penyesalannya… chaoz
Hardcore Kakis
Join Date: Jun 2009
Posts: 104
13-08-2009, 11:43 PM #23
Koleksi Chaoz
Maling pemerkosa
Tiba-tiba sebuah suara keras membangunkan kami di tengah malam. Fatimah istriku memeluk lenganku saking ketakutannya. Suara itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Naluriku mengatakan ada hal yang tak beres ada di dalam rumah ini. Aku bangun dan menyalakan lampu. Istriku berusaha menahan aku. Dengan hati-hati aku bangun dan membuka pintu dan melangkah ke dapur.
Aku kaget dengan ketakutan yang amat saat muncul sosok asing di bawah jendela dapurku. Nampak di lantai kaca jendela pecah berserakan. Pasti dia ini maling yang hendak mencuri di rumah kami. Sama-sama
kaget dengan gesitnya pencuri ini berdiri dan melangkah pendek menyambar pisau dapur kami yang tidak jauh dari tempatnya. Orang ini lebih gede dari aku. Dengan rambut dan jambangnya yang nggak bercukur nampak begitu sangar. Dengan pakaiannya yang T. Shirt gelap dan celana jean bolong-bolong dia menyeringai mengancam aku dengan pisau dapur itu.
Aku memang lelaki yang nggak pernah tahu bagaimana berkelahi. Melihat ulah maling ini langsung nyaliku putus. Dengan gemetar yang sangat aku berlari kembali ke kamar tidurku dan menutup pintunya. Namun kalah cepat dengan maling itu. Aku berusaha keras menekan untuk mengunci sebaliknya maling itu terus mendorong dengan kuatnya. Istriku histeris berteriak-teriak ketakutan,
“Ada apa Maass.. Toloonngg.. Tolongg..”
Namun teriakan itu pasti sia-sia. Rumah kami adalah rumah baru di perumahan yang belum banyak penghuninya. Tetangga terdekat kami adalah Pak RT yang jaraknya sekitar 30 rumah kosong, yang belum berpenghuni, dari rumah kami. Sementara di arah yang berbeda adalah bentangan kali dan sawah yang luas berpetak-petak. Sejak pernikahan kami 2 tahun yang lalu, inilah rumah kredit kami yang baru kami tinggali selama 2 bulan ini.
Upaya tarik dan dorong pintu itu dengan pasti dimenangkan oleh si maling. Aku terdepak jatuh ke lantai dan maling itu dengan leluasa memasuki kamar tidur kami. Dia mengacung-acungkan pisau dapur ke isteriku agar tidak berteriak-teriak sambil mengancam hendak memotong leherku. Istriku seketika ‘klakep’ sepi. Sambil menodongkan pisau ke leherku dengan kasar aku diraihnya dengan menarik bajuku keluar dari kamar. Matanya nampak menyapu ruangan keluarga dan menarikku mendekat ke lemari perabot. Pasti di nyari-nyari benda berharga yang kami simpan.
Dia menemukan lakban di tumpukkan macam-macam peralatan. Dengan setengah membanting dia mendorong aku agar duduk di lantai. Dia me-lakban tangan dan kakiku kemudian mulutku hingga aku benar-benar bungkem. Dalam keadaan tak berkutik aku ditariknya kembali ke kamar tidurku. Istriku kembali berteriak sambil menangis histeris. Namun itu hanya sesaat.
Maling ini sungguh berpengalaman dan berdarah dingin. Dia hanya bilang,
“Diam nyonya cantiikk.. Jangan membuat aku kalap lhoo..” kembali istriku ‘klakep’ dan sepi.
Nampak maling itu menyapukan pandangannya ke Kamar tidurku. Dia melihati jendela, lemari, tempat tidur, rak kset dan pesawat radio di kamarku. Dia sepertinya berpikir. Semuanya kusaksikan dalam kelumpuhan dan kebisuanku karena lakban yang mengikat kaki tanganku dan membungkam rapat mulutku.
Tiba-tiba maling itu mendekati Fatimah istriku yang gemetar menggulung tubuhnya di pojok ranjang karena shock dan histeris dengan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan lakbannya dia langsung bekap mulutnya dan direbahkannya tubuhnya di ranjang. Aku tak kuasa apa-apa hanya mampu tergolek dan berkedip-kedip di lantai. Aku melihat bagaimana sorot mata ketakutan pada wajah Fatimah istriku itu.
Ternyata maling itu merentangkan tangan istriku dan mengikatnya terpisah di kanan kiri kisi-kisi ranjang kayu kami. Demikian pula pada kakinya. Dia rentangkan dan ikat pada kaki-kaki ranjang. Dan akhirnya yang terjadi adalah aku yang tergolek lumpuh di lantai sementara Fatimah istriku telentang dan terikat di ranjang pengantin kami.
Perasaanku sungguh tidak enak. Aku khawatir maling ini berbuat diluar batas. Melihat sosoknya, nampak dia ini orang kasar. Tubuhnya nampak tegar dengan otot-ototnya yang membayang dari T. Shirt dekilnya. Aku taksir tingginya ada sekitar 180 cm. Aku melihati matanya yang melotot sambil menghardik,
“Diam nyonya cantiikk..” saat melihat istriku yang memang nampak sangat seksi dengan pakaian tidurnya yang serba mini karena udara panas di kamar kami yang sempit ini.
“Aku mau makan dulu ya sayaang.. Jangan macam-macam”. Dia nyelonong keluar menuju dapur. Dasar maling nggak bermodal. Dia ngancam pakai pisauku, ngikat pakai lakbanku sekarang makan makananku.
Nampak istriku berontak melepaskan diri dengan sia-sia. Sesekali nampak matanya cemas dan ketakutan Memandang aku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan maksud melarangnya bergerak banyak. Hemat tenaga.
Sesudah makan maling itu gelatakan membukai Berbagai lemari dan laci-laci di rumah. Dia nggak akan dapatkan apa-apa karena memang kami nggak punya apa- apa. Aku bayangkan betapa wajahnya akan kecewa karena kecele. Kudengar suara gerutu. Nampaknya dia marah.
Dengan menendang pintu dia kembali masuk kamar tidur kami. Membuka lemari pakaian dan mengaduk-adukkannya. Dilempar-lemparkannya isi lemari hingga lantai penuh berserakan. Dia buka kotak perhiasan istriku. Dibuang-buangnya perhiasan imitasi istriku.
Karena tak mendapatkan apa yang dicari Maling mengalihkan sasaran kekecewaan. Dia pandangi istriku yang telentang dalam ikatan di ranjang. Dia mendekat sambil menghardik,
“Mana uang, manaa..? Dasar miskin yaa..? Kamu umpetin dimana..?”
Tangannya yang mengkilat berotot bergerak meraih baju tidur istriku kemudian menariknya dengan keras hingga robek dan putus kancing-kancingnya. Dan yang kemudian nampak terpampang adalah bukit kembar yang begitu indah. Payudara Fatimah yang sangat ranum dan padat yang memang selalu tanpa BH setiap waktu tidur. Nampak sekali wajah maling itu terkesima.
Kini aku benar-benar sangat takut. Segala Kemungkinan bisa terjadi. Aku saksikan adanya perubahan raut mukanya. Sesudah tidak mendapatkan uang atau benda berharga dia jadi penasaran. Dia merasa berhak mendapat pengganti yang setimpal. Maling itu lebih mendekat lagi ke Fatimah dan dengan terus memandangi buah dadanya yang sangat sensual itu. Pelan-pelan dia duduk ditepian ranjang.
“Dimana kamu simpan uangmu nyonya cantiikk..?” sambil tangan turun menyentuh tubuh Fatimah yang sama sekali tak bisa menolak karena kaki dan tangannyaterikat lakban itu. Da