Bercinta dengan yussi
Perkenalanku dengan Yussi bermula dari chatroom. Waktu itu tahun 2001 dan aku masih duduk di tingkat 3 sebuah PTS di Medan dan usiaku masih 20 tahun. Sedangkan Yussi sudah berumur 22 tahun dan duduk di bangku kuliah tingkat akhir universitas swasta Jakarta Jurusan Teknik. Kala itu Yussi masih bekerja di perusahaan telekomunikasi swasta sebagai seorang programer.
Perkenalanku dengan Yussi semakin akrab walaupun kami tidak pernah ketemuan atau copy darat (maklumlah dia di Jakarta sedangkan aku di Medan). Setelah persahabatan kami berjalan 2 tahun akhirnya kami mempunyai kesempatan untuk ber-copy darat. Waktu itu bulan Desember 2003 aku memperoleh kesempatan untuk berlibur di Jakarta.
Singkat cerita akupun sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada tgl 26 Desember 2003 dan dengan berbekal beberapa lembar foto kirimannya, aku sore harinya pergi ke Mall Taman Anggrek untuk menemuinya.
Pertama sekali kumelihatnya, aku sungguh terpana. Bagiku, Yussi lebih cantik aslinya ketimbang di fotonya. Ditunjang lagi oleh penampilannya yang semakin dewasa yang disesuaikan dengan profesinya kini sebagai programer software di PT JS di kawasan Gatot Subroto Jaksel. Hal ini membuat aku semakin tertarik dengannya dan membuat birahiku naik secara perlahan-lahan.
Setelah bertemu, kami berdua mengelilingi Taman Anggrek hingga malam dan dinner disana. Setelah dinner kami berkesempatan mengelilingi Jakarta dan akhirnya kami pulang dan kuantar dia sampai ke rumahnya di kawasan Duri Kepa Jakarta Barat.
Pertemuan itu membawa kenangan tersendiri bagiku dan oleh sebab itu aku kembali mengajak Yussi keluar jalan-jalan keesokan harinya yang bertepatan dengan malam minggu.
Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku menjemput Yussi setelah itu kami pergi makan pagi bersama dan mengelilingi Jakarta beserta mallnya hingga jam 10 malam. Sebenarnya aku masih sangat ingin bersamanya hingga larut malam, namun Yussi menolak karena katanya tidak ada yang menjaga rumah, sebab Papa, Mama, Koko, Kakak ipar dan Dedenya sedang ke Bogor menghadiri kondangan familinya.
Sebenarnya aku kecewa juga mendengar penolakannya itu, tapi kekecewaanku ternyata tidak lama. Terbukti Yussi waktu itu langsung mengajakku untuk menginap di rumahnya, karena dia tidak berani tidur sendirian. Akupun tidak mengiyakan secara langsung penawarannya itu, aku berpikir beberapa menit. Setelah berpikir beberapa menit aku pun mengiyakan tawaran Yussi dan tampaknya ia sangat senang sekali. Akhirnya kami sampai di rumahnya pukul 10 lewat 30 malam.
Segera setelah turun dari mobil, Yussi membuka pintu pagar dan pintu rumah. Lalu akupun masuk ke dalam rumahnya yang lumayan besar itu dan menempelkan pantatku pada kursi sofa di ruang tamunya. Seketika itu pikiranku melayang-layang membayangkan seandainya aku dapat menyalurkan hasratku pada Yussi. Terus terang saja, selama ini aku selalu horny jika mendengar suara dari Yussi dan aku pun selalu beronani membayangkan sedang menyetubuhinya. Bahkan tidak jarang pada saat kutelepon dia, aku sedang naked dan beronani sambil bertelepon dengan dia dan Yussi pun tahu semuanya itu.
Setelah mengunci pintu rumahnya, Yussi permisi padaku untuk mandi dan aku pun mengiyakannya. Mendengar Yussi mau mandi pikiranku bertambah kotor setelah sebelumnya aku membayangkan bisa menyetubuhinya. Lalu dengan langkah berjingkat-jingkat kuikuti langkah Yussi yang berjalan ke arah kamar mandi di ruang makan hingga aku melihat Yussi masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
Akupun segera memutar otakku mencari celah agar dapat mengintip Yussi. Namun belum sempat aku mendapatkan cara mengintip yang pas, tiba-tiba Yussi keluar dari kamar mandi dengan naked dan berteriak karena ada kecoa. Aku yang melihat Yussi keluar dengan naked hanya bisa terpaku dan diam. Mataku langsung tertuju pada dua daging kenyal yang bergantung di dadanya. Sungguh indah sekali buah dada Yussi yang berukuran 34 A (kuketahui ukurannya, karena aku pernah menanyakan ukuran bra nya lewat SMS dan dia pun memberitahu aku) dengan putingnya yang berwarna kecoklatan. Ingin rasanya lidahku langsung menyeruput wilayah dadanya itu. Pandangan mataku kini tertuju pada lubang vaginanya yang ditumbuhi oleh ilalang asmara walaupun tidak begitu lebat. Penisku pun langsung bangkit dan berdiri tegak. Waktu itu yang hanya ada di pikiranku hanyalah bagaimana caraku untuk meniduri Yussi. Tanpa pikir panjang akupun mendekati Yussi dan kurangkul tubuhnya lalu kutempelkan bibirku pada bibirnya yang lembut mereka itu. Yussi tidak memberikan perlawanan bahkan ia pun mengulum bibirku.
"Ah.." dia mendesah.
Aku pun semakin berani setelah mendengar desahannya itu. Lidahku keluar masuk ke rongga mulutnya yang mungil dan tanganku pun bergerilya meremas-remas dan terkadang meraba-raba onggokan daging kenyal di dadanya sambil memilin-milin putingnya yang sudah mulai mengeras. Sementara itu ia juga mulai mencoba menarik resleting celanaku dan tanpa kesulitan dia berhasil menurunkan celanaku dan menarik kaosku serta melemparnya ke lantai kamar mandi. Saat itu, ia sedikit terkejut, ketika tanpa sengaja tangannya menyentuh penisku yang masih dilapisi oleh celdamku.
"Oh.. Very big buanget tongkolmu, Dave"
Aku hanya menanggapinya dengan senyum dan tanganku masih bekerja memilin-milin puting susunya. Ciumanku mulai kuarahkan ke lehernya dan terus turun ke bawah dan berhenti di bagian putingnya. Di sini aku permainkan putingnya yang indah itu dengan lidahku. Terkadang kuemut, kuhisap dan kugigit lembut putingnya itu, sehingga membuat Yussi tak kuasa untuk menahan hawa nafsunya yang sudah hampir meledak. Tampaknya ia juga sudah tidak sabar untuk melihat dan merasakan penisku karena Yussi sedang berusaha menarik turun sempakku. Dan kemudian tanpa halangan yang berarti Yussi akhirnya berhasil menurunkan celdamku.
"Jangan disini Yos, kita cari tempat yang enak, ok? Gimana kalau kita maen di kamar kamu Yos?"
"Oh iya.. Enakan di kamar gue. Kita bisa ngent*t sampe puas".
Lalu kugendong tubuhnya ke loteng dan kubawa ke dalam kamar tidurnya dan selanjutnya kurebahkan tubuh bugilnya diatas ranjang alga yang empuk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera kuhisap puting susunya yang sudah semakin mengeras lagi.
"Ah.. Dave," pekiknya.
"Yos.. Toket loe indah buanget. Gue suka buanget sama toket loe," celetekku dengan penuh nafsu.
"Terus Dave.. Oh.. Geli.." desahnya.
Mendengar desahannya aku semakin bernafsu. Lambat laun ciumanku merambat turun ke pusarnya lalu ke gundukan di selangkangannya. Kemudian kumainkan clitorisnya dengan lidahku dan aku terus memasukkan ujung lidahku ke dalam lubang vaginanya yang harum itu. Kemudian dia mengangkat pinggulnya dan berseru,
"Oh.. My god.. Is very great.. Oh.. God.."
Sementara aku masih mempermainkan wilayah vaginanya dengan lidahku, Yussi semakin kencang menggoyang-goyangkan pinggulnya, kemudian dengan tiba-tiba dia berteriak,
"Dave.. aku.. ke.. lu.. aarr.." dan seketika itu tubuh Yussi mengejang dan matanya terpejam.
Sementara itu di gua keramatnya terlihat cairan kewanitaannya membanjiri vaginanya. Kuhisap cairannya itu dan kurasakan manis bercampur asin dengan aroma yang wangi dan hangat. Kuhisap cairannya dengan rakus sampai habis dan tubuhku kembali merambat ke atas menghisap putingnya kembali yang tampak indah bagiku. Rasanya bibirku masih belum puas menyusui putingnya itu.
Tak lama kemudian kulihat Yussi kembali menggeliat-geliat dan mendesah-desah. Ia tampak terangsang kembali dan memintaku untuk segera memasukkan penisku yang berukuran 16 cm dengan diameter 3 cm ke dalam gua keramatnya yang sudah basah sekali.
"Ayo.. Dave.. Masukkan tongkolmu ke memiawku. Gue sudah enggak tahan lagi," pintanya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi kuarahkan penisku ke dalam lubang vaginanya dan secara perlahan-lahan namun pasti penisku pun mulai menyeruak masuk ke dalam lubang vaginanya yang masih sempit (maklumlah Yussi masih virgin) dan akhirnya penisku berhasil masuk 3/4 ke dalam lubang vaginanya.
"Aduh.. Pelan-pelan ya, please," erangnya sedikit tertahan.
Kembali kutekan penisku untuk masuk ke lubang vaginanya secara perlahan sehingga akhirnya aku berhasil memasukkan semua penisku ke dalam lubang vaginanya dan menyentuh dasar vaginanya.
"Oh.. Nikmat buanget.." katanya yang disertai dengan desahan halus.
Aku semakin bernafsu untuk menggenjotnya setelah mendengar desahan dan erangannya. Semakin dia mendesah, aku semakin mempercepat genjotanku di lubang vaginanya.
"Oh.. Dave.. ak.. uu.. suudahh.. ma.. uu.. kke.. luarr.. rr.. laggii.."
"Tahan Yos.. aku juga.. u.. da.. mau.. ke.. luuaarr, keluarkan di.. mana.. Yos?" tanyaku.
"Di.. Da.."
Belum sempat ia menjawab, aku sudah tak bisa menahannya lagi, sehingga akibatnya,
Crot.. Crot.. Crot.. Crot..!
Beberapa kali penisku menembakkan maniku yang banyak ke dalam lubang vaginanya dan saat itu juga aku merasakan cairan hangat Yussi beserta aliran darah perawannya menyelimuti batang penisku yang masih tegak di dalam vaginanya.
"Terima kasih Yos.. Kamu sudah memberikan aku kenikmatan malam ini.." ujarku sambil mengecup lembut bibirnya dan menarik keluar penisku.
"Aku juga ingin terima kasih ke kamu, karena telah memuaskan nafsuku untuk melakukan hubungan sex denganmu yang selama ini kupendam dalam anganku," katanya tanpa malu-malu dengan mata yang sayu.
"Ayo.. Kita mandi berdua," ajaknya sambil menarik tanganku.
Dan di kamar mandi itu, batang penisku kembali bereaksi ketika Yussi mengelus-elusnya. Tanpa malu-malu aku langsung menarik pinggang Yussi dan menyuruhnya menungging ke arahku. Aku pun secara perlahan lahan memasukkan penisku yang sudah menegang ke sela-sela pantatnya yang tidak begitu besar. Sejenak, Yussi tersentak, namun hal itu hanya berlangsung sebentar saja, karena Yussi kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya ketika dirasakan penisku sudah masuk semuanya ke dalam lubangnya.
"Ah.. Dave.. a.. kk.. uu.. ke.. ll.. uu.. aa.. rr.. l.. aa.. g.. ii.." erangnya dengan lembut.
"A.. k.. u.. juu.. ggaa.." kataku sambil menyemprotkan maniku ke lubang vaginanya kembali.
Setelah itu kami melanjutkan acara mandi kembali dan setelah mandi, sebelum tidur, aku mengent*tnya sekali lagi. Keesokan paginya pada saat aku bangun jam 7 pagi kembali kugenjot dia dan malam harinya kami kembali ber-ML ria..
Sungguh liburan yang berkesan dengan teman chatting. Terima kasih Yussi atas virginmu. chaoz
Hardcore Kakis
Join Date: Jun 2009
Posts: 104
14-08-2009, 08:30 PM #62
Koleksi Chaoz
Kesalahan yg indah namun begitu memilukan
Sebelumnya aku memohon maaf karena didalam cerita ini nama dan kota adalah samaran, karena sekarang aku adalah seorang enterteiner yang pasti anda kenal. Aku adalah seorang Pria dan panggil saja aku Exel (ins). sewaktu SMA aku sangat nakal dan gila akan adventure. dan Inilah ceritaku yang nyata…
dikota itu aku sangat terkenal karena aku memimpin sebuah kelompok pecinta misteri alam yang diakui, sehingga tak sedikit orang yang memujaku.
aku memiliki seorang kekasih bernama Vivi (ins), tentunya sex bukanlah hal tabu untuk kami berdua dan dia selalu ikut kemanapun aku pergi termasuk ketoilet karena aku tinggal sendiri dirumah orang tuaku sedangkan dia adalah seorang wanita mandiri yang saat itu telah berusia 23tahun dan memiliki karir yg bagus.
Vivi juga seorang gadis pemanjat tebing yang hebat, sehingga pada akhirnya dia menjadi pacarku. dia memiliki tubuh yang sangat indah dan terlihat sangat feminim, sebenarnya dia lebih pantas menjadi model atau artis. Vivi memiliki seorang adik angkat bernama Lola (ins), Lola adalah seorang anak broken home yg lugu, Vivi mengasuhnya sejak berumur 14tahun sampai aku mengenalnya saat dia telah berumur 17 tahun.
hingga pada suatu hari aq harus pergi kesalah satu hutan yang paling berbahaya disebuah kota dikepulauan itu, Vivi tak dapat ikut bersamaku karena dia harus keluar negri jadi dia menyuruh Lola untuk pergi denganku dan teman2ku yang lain. sebelumnya Lola juga sering ikut bersama kami dan dia termasuk gadis yang tangguh untuk medan adventure.
kamipun pergi, Lola yang menganggapku seperti kakaknya juga tak merasa risih ataupun takut sama sekali, padahal dia perempuan satu2nya saat itu karena misi ini sedikit berbahaya aku tak mengajak anggota lain dan hanya membawa 4 temanku yang benar2 hebat dalam adventure.
singkat cerita, terjadi sesuatu hal yang membuatku luka parah dan nyaris mati.
Lolalah yang menjagaku didalam tenda berdua sedangkan temanku yang lain sedang berpencar untuk mencari apa yang ingin kami temukan disitu.
sekitar jam 23… aku terbangun dan aku merasa jauh lebih baik, aku melihat Lola terbaring disampingku dengan switer ketat sambil kedinginan.
“anak ini tampak lugu sekali”fikirku, awalnya tak ada niatku untuk melakukan apa2, aku hanya merapat dan berusaha menghangatkannya sebagai tanda terima kasihku. saat kulihat dia tidur pulas aku berfikir sangat kotor “gila,ni anak belum pernah ciuman ataupun ML padahal tubuhnya sangat bagus apalagi bibirnya” aku tak mampu menahan nafsuku yang menggebu dikala malam yang dingin ini, aku perlahan mendekati wajahnya dan melumat bibirnya dengan lembut. Ia terbangun dan membuatku sangat terkejut, “kakak?” tegurnya.
“maaf La, kakak ga bermaksud gitu” jawabku gugup, tiba2 dia tersenyum dan berkata “jujur selama ini, aku menunggu kakak yang menciumku untuk pertama kalinya”. aku sangat terkejut, anak selugu dia bisa berfikir untuk merebut pacar orang yang paling melindunginya. namun aku makin tak perduli dan aku langsung menciumnya lagi. cukup lama aku melumat bibirnya dan berusaha memainkan lidahnya, dia tampak gugup dan sangat pasif hal ini membuat aku kesal karena aku terpaksa untuk mengajarinya.
aku melumat bibirnya tanpa lepas dan aku mulai meraba payu daranya yang tidak begitu besar, awalnya ia mencoba menahan tanganku namun akhirnya ia pasrah. kini aku bekerja cukup keras, melumat bibir dan memainkan dada seorang gadis amatir sangatlah melelahkan. akhirnyapun aku mencoba melepas switernya dan dia menurut, namun bibirku berusaha untuk tetap dekat dengan bibirnya karena aku takut dia tiba2 sadar dan menghentikan permainan yang lebih lanjut tentunya hal ini bisa membuatku gila!
kini ia hanya menggunakan kaos tipis tanpa bra didadanya,putingnya tampak mengeras dan aku merabanya dari dalam baju sambil terus melumat bibirnya.
kini aku menarik celana panjangnya yang tebal, dia berhenti dan membuatku terkejut. “kakak yakin akan melakukan ini?”tegurnya, “pertanyaan itu sebaiknya untukmu”jawabku, karena aku tak ingin dilihat sebagai PK(penjahat kelamin). “terserah kakak” jawabnya. aku tak melepas kesempatan ini, aku langsung melucuti kaos dan celananya hingga ia hanya menggunakan underware pink saja,aku lbih suka permainan yg seperti ini. pelan tapi pasti!
kami berciuman hebat dan tangannyapun mulai beraksi, “wow, anak ini cepat mengerti rupanya”pikirku. tangannyapun mulai menghelus tongkolku dari luar celana, aku berhenti mengerjai bibirnya dan aku berlanjut pada putingnya yang orisinil itu. dia mengerang kuat saat aku mengisap putingnya dan tanganku yang satu meraba puting yang sebelah. aku menjilati sambil sesekali menggigitnya lembut sehingga ia benar2 menikmati permainan pertamanya ini.
tangannya terus mengelus tongkolku yang mulai mengeras, namun aku tak perduli aku harus tetap fokus pada tubuhnya yang tak boleh aku sia2kan.
disaat mulutku tetap berada pada putingnya tanganku yang satu mulai menjamah lubang kenikmatannya yang telah becek, kini ia menggerang lebih kuat saat aku mulai meraba meki indahnya dari dalam underwarenya. ia menghentikan helusannya ditongkolku, namun hal ini malah membuatku jadi bersemangat untuk menyetubuhinya.
perlahan aku menjilati putingnya dan turun hingga keperutnya, aku melihat wajahnya yang sangat menikmati. “tunggu sebentar sayang,ini baru permulaan”pikirku. aku turunkan underwarenya perlahan, dan langsung menghisap mekinya yang telah basah. wajahku terasa anyir namun aku menukmatinya, aku jilat terus sambil tangan kananku meraba susunya yang sudah keras sejak tadi tampaknya ia tak sabar untuk merasakan permainan yg sesungguhnya.
mulutku terus aktif dengan mekinya dan aku mencoba membuka celanaku yg dari tadi seudah tak terkancing,kini aku hanya menggunakan underware dan kaos. aku menghelus pahanya yang mulus dan menjilatinya sebentar lalu kembali kemeki yang basah, dia tampak tak kuat dan menarik kepalaku dan menciumi bibirku. “kak jangan main2 lagi, masukin aja”katanya sambil melumat bibirku, akupun melepas bajuku sehingga hanya underware yg tersisa. aku berdiri dengan tenang untuk sesaat dan melihatinya dengan santai dari ujung kaki hingga kepalanya, aku merasa tak percaya bahwa aku akan mengent*t orang yg paling disayangi oleh pacarku sendiri.
tapi kemulusan tubuhnya membuatku menepis rasa bersalah itu, tampak jelas sekali saat aku berdiri, kakinya yang indah tanpa cacat, mekinya yg dihiasi dengan bulu2 tipis yg basah saat itu, susunya yang telah mengacung, dan bibirnya yang merekah indah, dia tersenyum dan berkata “tunggu apalagi sayang”.
aku tersenyum seperti setan, aku lepaskan celanda dalamku yang menutupi tongkolku yang telah menanti sentuhan lembut tubuh Lola.
dia tersipu malu melihatku dan aku perlahan duduk kembali,perlahan aku melihat tubuhku yang terluka karena accident tadi sore membuatku sedikit canggung untuk bermain hebat karena aku takut kalau jahitannya akan terbuka lagi, Lola mencoba meyakinkanku bahwa lukaku akan baik2 saja.
dia menghelus lembut luka2ku yang dibaluti dengan perban dan menciuminya sedangkan tangannya mulai mengelus tongkolku.
“ini yang namanya penis ya kak?”tanyanya, “ini rudal meki La”jawabku tenang, dia tertawa namun tetap bernafsu. dia semakin kencang memainkan tongkolku, dalam posisi duduk seperti ini aku merasa sangat tak nyaman dengan kocokannya ditambah lagi luka2ku mulai terasa perih karena keringat.
aku membaringkan tubuhnya dan mengangkangkan kedua kakinya hingga terlihat jelas lubang meki yang sempit nan menggairahkan itu. “jangan dilihat kak, aku malu”tegurnya, aku langsung menjilati mekinya dan memainkan klitorisnya dengan lidahku.
dia kembali mengerang keras dan kini ia tampak akan orgasme untuk pertama kalinya, ” AH OHHH KAK, AH AKU MAU…”desahnya. aku semaikn gila dan kini aku mulai menggunakan jariku untuk sedikit meregangkan lubangnya, dia menggejolak hebat dan terus mendesah ga karuan… tiba2 BLESHH,,,BLESH dia orgasme hebat dan mebasahi tanganku “AAAH OOOH, ENAK KAKAK SAYANG,,, TERUSIN JANGAN BERHENTI”…
pada saat seperti ini adalah saat yang bagus untukku mulai kepermainan yang sebenarnya, aku menjilati putinganya dan mulai mengarahkan tongkolku yang gagah kearah lubang senggamanya yang becek, aku menggesekan tongkolku kepermukaan mekinya dan iapun semakin mendesah “masukin kak, robek perawan aku”. kini perlahan aku masukan kepala tongkolku yang cuku besar kelubang mekinya, ia merintih sakit sambil nikmat, meskipun cukup sulit aku tetap berusaha memasukan tongkolku,mungkin ukuran tongkolku dan lubang senggamanya jauh berbeda sehingga membuat dia semakin kesakitan.
kinni aku mencoba lebih keras dan memintanya untuk menahan rasa sakitnya, BLESSSHHH… tongkolku berhasil masuk walaupun hanya kepalanya tapi ini membuat mekinya mengeluarkan darah cukup banyak namun hal ini tak membuatku khawatir karena aku sering melakukan ini sebelumnya dengan perawan2 lain. dia merintih kuat, namun aku langung melumat bibirnya agar ia tak begitu merasakan sakitnya. perlahan aku maju mundurkan posisi tongkolku yang perlahan masuk kedalam mekinya.
desahan dan rintihan sakitnyapun kini menjadi satu, setidaknya situasi lebih terkendali. kini aku lebih bersemangat untuk fokus pada gerak tongkolku dan mekinya, meskipun ia merasa sakit ia tetap berusaha menikmati permainan.
aku terus menggenjot mekinya yang telah becek oleh cairan ovum dan darah perawannya.
“AAAHM OH, TERUS KAK, ENAK, UH UH, MASUKIN LABIH DALEM KAK…”
tampak ia sudah mulai tenang, aku semakin semangat untuk menggenjot pepeknya lebih dalam. aku merasa tongkolku dijepit dengan keras, mungkin karena pepek ini baru sekali menerima tongkol mengebornya tak bera[a lamapun ia kembali orgasme namun aku tak perduli dan tetap menggenjotnya.
beberapa menit berlangsung dengan gaya standart, lalu aku memintanya untuk dogistyle. aku terpaksa harus sedikit mengarahkannya karena ia awam dengan hal ini, posisi dogi ini sangat sempurna untuk benar2 menjebolkan pertahanan memiawnya sehingga kini aku tak tanggung2 untuk menggenjotnya. dia merintih kesakitan n memintaku untuk lebih perlahan. aku menurut namun tetap menggenjotnya dengan lebih tenang,”ahhhhh ohhhhh, aku mau keluar lagi kak…”katanya,”sabar sayang, barengan aja”tegasku. akupun mulai tak kuat menahan permainan ini, kugenjot lebih cepat mekinya sehinga dia mendesah lebih kuat dan BBLESH BLESSH… dia orgasme untuk ketiga kalinya dan aku semakin kencang menggenjotnya dan akhirnya CROOOT…crooot…crooot… berkali kali aku menembakkan pejuku diliang senggamanya, sengaja kutak mengeluarkan diluar karena ini akan mengurangi kenikmatan permainan pertamanya.
aku mendesah nikmat pada akhir permainan,akupun langsung memeluknya dan menciumi tubuhnya… kubiarkan tongkolku meredam dengan sendirinya didalam memiawnya yang basah. kami berpelukan erat sambil berciuman, lalu ia berkata “aku takut hamil kak”, “tenang aja banyak solusi koq”jawabku dengan tenang sambil mendorong majukan tongkolku yang sudah melemah didalam memiawnya. dia tersenyum tenang, kulihat waktu sudah pukul 01… tak terasa permainan begitu melelahkan, aku mencabut konttolku perlahan dan berbaring disisinya. Ia mempertanyakan tentang Vivi padaku namun aku hanya diam, diapun akhirnya diam sambil mengelus tongkolku yang becek karena pejunya.
lukaku kini terasa semakin perih, namun helusan tangannya yang lembut membuat tongkolku kembali tegang. kamipun melakukannya sekali lagi dengan gaya yang baru. pukul 2 lewat aku kembali berpakaian sedangkan dia tampak tidur pulas tanpa busana dan hanya kututupi dengan selimut tebal.
aku keluar dari tenda dan aku sangat terkejut ternyata dua temanku sudah duduk sekitar 7 meter dari tendaku, mereka diam sambil merokok. mata mereka menunjukan kekecewaan besar padaku.
aku mendekati mereka dan membakar sebuah rokok, kami hanya bertatapan tanpa berbicara sepatah katapun.
aku menyadari bahwa mereka kecewa bukan karena aku ngent*t dihutan ini karena aku memang sering melakukannya pada Vivi dan cewe sebelum Vivi itu sebabnya aku dianggap paling gila, tapi mereka kecewa karena aku dan Lola telah menghianati Vivi. mereka sangat mengagungkan Lola, dan bangga Lola ada dalam timku karena kejadian ini mungkin semua akan berubah.
3hari kemudian kami kembali, meskipun telah menemukan apa yang kami cari tapi kami merasa kalah karena salah 1 temanku meninggal dihutan itu.
aku dihantui rasa bersalah yang tiada tara, aku rasa kesalahan yang aku buat itulah yang membuat aku harus kehilangan salah satu temanku yang terhebat.
Timku mulai kacau, meskipun Vivi tak tahu apa yang terjadi antara aku dan Lola dan teman2kupun bungkam.
gilanya aku tetap melakukan hubungan itu dengan Lola, beberapa kali kami check in dan ngent*t karena terlalu beresiko untuk melakukannya dirumahku.
teman2ku pada akhirnya memaafkanku dengan syarat aku menghentikan perbuatan gilaku kepada Lola dan Vivi.
akupun menjauhi Lola dengan perlahan namun hal ini malah membuat Lola menceritakan kejadian sebenarnya pada Vivi sepulang Vivi dari rumahku yang baru saja selaesai ngent*t denganku.
Vivi yang amat terpukul akan cerita itu membuatnya bingung siapa yg harus disalahkan, orang yg sangat dia sayangi atau pria yg paling ia cintai.
kegoisanku mengambil keputusan untuk pergi dari kota itu dan meninggalkan mereka, aku menyerahkan kepemimpinanku pada temanku yang paling aku percaya.
aku pergi meninggalkan mereka hingga hari ini, terakhir aku dengar Vivi membuka usaha tekstil yang maju pesat dan belum menikah sedangkan Lola pergi meninggalkan kota itu juga dan terkahir aku dengar Lola telah meninggal karena kecelakaan.
Kesalahan ini membuatku tak bisa memejamkan mataku dengan tenang disetiap malam2ku. aku berharap dimanapun mereka berada, aku selalu memohon maaf atas semua dosaku.
akan ada satu ceritaku lagi dilain kesempatan yang akan kubeberkan pada kalian,
tujuanku hanya 1 jangan lakukan kesalahan yang tak kau mengerti karena kau hanya akan menyesali kesalahan itu. chaoz
Hardcore Kakis
Join Date: Jun 2009
Posts: 104
14-08-2009, 08:32 PM #63
Koleksi Chaoz
Angga sayang...
Aku kini benar-benar terbangun setelah mendengar dengkuran Mas Har beberapa lamanya. Kuperhatikan dada dan perutnya yang padat lemak itu naik-turun seirama dengan suara dengkur yang makin menjengkelkanku.Aku turun dari ranjang dan berjalan menuju cermin besar di kamar tidur kami. Kupandangi dan kukagumi sendiri tubuh telanjangku yang masih langsing dan cukup kencang di usiaku yang tigapuluhan.Kulitku masih cukup mulus dan putih, payudaraku tetap bulat dan kenyal, pas benar dengan bra 34B warna pink favoritku saat kuliah. Dan wajahku masih halus, semua terawat oleh kosmetik yang aku dapatkan dari uang Mas Har.Ah, aku masih sangat menarik.Tentu saja, tanda-tanda ketuaan tak bisa dihindari, namun tubuhku belum pernah melar karena hamil, apalagi melahirkan. Aku masih ingin meniti karierku, aku ini wanita yang menikmati kekuasaan.Dan menikah dengan Mas Har membuka lebar-lebar kesempatan untuk meraih ambisi itu. Kualihkan pandangan pada sosok lelaki tambun di ranjangku. Mas Har yang dulu tampil sangat jantan, bisa sangat berubah dalam waktu 12 tahun.Rambut halus di dada dan perutnya dulu yang selalu membuatku bergairah bila dipeluknya, kini tumbuh makin lebat dan liar, sedangkan Mas Har tidak pernah mau mencukurnya.
Perutnya yang kokoh dulu kini ditutupi oleh selimut lemak yang sangat tebal.Memang otot dada dan tangannya yang kekar masih bertahan. Namun kalau aku bercinta dengan Mas har sekarang, rasanya aku sedang ditiduri oleh seekor gorilla. Memuakkan. Meski begitu, hasratku akhir-akhir ini makin tak tertahankan.Seringkali, akulah yang meminta duluan ke Mas Har untuk memuaskan nafsuku. Namun gara-gara stamina Mas Har yang loyo di usianya yang setengah abad lebih, aku hampir pasti tidak terpuaskan dan kebanyakan aku sendiri yang menyelesaikan "tugas" Mas Har.Sama seperti yang terjadi sore ini, tinggal sebentar lagi aku merasakan orgasme, tiba-tiba Mas Har keluar, dan dengan napas tersengal-sengal ia membelai-belai tubuhku kemudian tertidur lelap di sampingku.Lagi-lagi harus jari-jariku sendiri yang memuaskanku.Aku sudah tak tahan. Aku tidak peduli lagi pada nilai dan norma yang berlaku bagiku sebagai perempuan.Kubulatkan tekadku, kemudian aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari bekas cumbuan suamiku yang memuakkan.Selesai sarapan Mas Har pamit padaku dan mengatakan betapa menyesalnya dia harus meninggalkanku akhir pekan ini ke Singapura, demi kepentingan lobby perusahaannya.Mas Har memang pernah menawarkan padaku untuk pergi bersamanya, tapi aku menolak dengan alasan aku lelah dengan pekerjaan kantorku dan sedang tidak ingin pergi begitu jauh hanya untuk berbelanja. Dan kesempatan ini akan aku gunakan sebaik-baiknya.Sore ini aku akan punya kegiatan yang lebih menarik dari sekedar berbelanja, di Singapura sekalipun. Supir kami mengantar Mas Har pergi dan 30 menit kemudian aku pergi menuju kantor membawa sedanku sendiri.
Setelah makan siang aku kembali ke kantor dan menyelesaikan sebagian pekerjaanku hari itu dan dua jam sebelum waktu pulang, aku menyerahkan sisa pekerjaan itu ke bawahanku.Mereka tidak terlalu senang dengan tugas mendadak itu, tapi nampaknya mereka sudah terbiasa dengan perangaiku.Mereka paham bahwa aku tidak ingin menjadi lelah, karena sepulang kerja nanti aku akan pergi bersama teman-temanku, eksekutif wanita muda yang lain. Hanya saja mereka tidak tahu kalau hari itu, aku sudah membatalkan acara jalan-jalan kami.Kukemudikan sedanku ke arah rumahku, namun kemudian berbelok menuju tempat lain. Sekitar 15 menit kemudian aku berhenti di samping sebuah lapangan basket di dalam suatu perumahan. Di sana sejumlah remaja SMU sedang bermain.Aku turun dari mobilku dan duduk di samping lapangan tempat tas-tas mereka diletakkan,lalu menyaksikan permainan mereka. Salah satu dari mereka, mengenakan kostum basket warna merah, yang kemudian melihatku, tersenyum dan melambaikan tangannya.Aku membalas dengan cara serupa. Dia adalah Angga, anak salah satu bawahanku yang sedang kutugaskan pergi ke luar kota selama beberapa hari.Hubunganku dengan keluarga mereka cukup akrab untuk mengetahui bahwa Angga mengikuti latihan basket dua kali seminggu di sana.
Sepuluh menit kemudian permainan berakhir dan sejumlah remaja itu menuju ke tas mereka, yaitu ke arahku.Aku berjalan menuju Angga membawa sebotol minuman yang sudah kusiapkan pagi tadi. "Ang, minum dulu nih.Ternyata tadi di mobil Tante masih ada sebotol", tawarku. "Oh iya, Tante, makasih!", jawabnya tersengal. Nampaknya ia masih kelelahan.Angga mengambil botol dari tanganku dan segera menghabiskan isinya.Kami berjalan menuju tasnya. Dan ia mengeluarkan handuk untuk menyeka keringatnya.Aku mengintip sebentar ke dalam tasnya dan bersyukur aku memberikan botol minumanku kepada Angga sebelum ia sempat mengambil 6minuman bekalnya sendiri. Sebagai pemain basket, Angga cukup tinggi.Dari tinggi badanku yang 168 cm kuperkirakan kalau tinggi Angga sekitar 180-an cm. Bisa kuperhatikan tangan Angga cukup kekar untuk anak seusianya, sepertinya olahraga basket benar-benar melatih fisiknya.Figur badannya menunjukkan potensinya sebagai atlet basket. Aku beralih ke wajahnya yang masih nampak imut walau basah oleh keringat. Dengan kulit yang kuning, wajahnya benar-benar manis. Aku tersenyum.Setelah menyeka wajahnya, Angga memperhatikanku sebentar dan berkata,"Tante Nia dari kantor? Kok pake ke sini?" "Nggak, males aja mau ke rumah, enggak ada temannya sih.Om Harry lagi ke Singapura. Jadi tante jalan-jalan.. terus ternyata lewat deket-deket sini, sekalian aja mampir.." ujarku setengah merajuk.Ia beralih sebentar untuk ngobrol dan bercanda dengan temannya."Sama dong Tante, Angga lagi males nih di rumah, nggak ada orang sih!" "Nggak ada orang? Ibu sama adik kamu ke mana?" "Nginep di rumah nenek, besok sore pulang. Aku disuruh jaga rumah sendirian".
Angga menaruh handuknya dan duduk di sampingku."Oh, kebetulan banget ya.." kata-kata itu tiba-tiba terlepas dari mulutku. Yang dikatakan Angga benar-benar di luar dugaanku, tapi justru membuat keadaan jadi lebih baik.Aku tidak perlu bersusah payah untuk mencari tempat ber.."Kenapa, Tante? Kebetulan gimana?" "Iya, kebetulan aja kita sama-sama cari teman.." Angga tersenyum.Angga mengangguk lalu kami berjalan menuju mobilku.Angga melambaikan tangan pada teman-temannya dan meneriakkan kata-kata perpisahan. Kuperhatikan teman-teman Angga saling berbisik dan tertawa-tawa kecil melihat kami pergi."Di rumah benar-benar nggak ada orang yah, Ang?"Cuma aku doang, Tante. Untungnya sih Mama ngasih uang lumayan buat cari makan." "Aduh.. Kaciann.." kataku manja."Tapi biasanya seumuran kamu pasti ada pacar yang nemenin kemana-mana kan.." Angga menoleh dan tersenyum padaku."Wah, Angga nggak punya Tante. Belum ada yang mau!" "Ah, masa? Cowok keren kaya kamu gini loh!" Kutepuk pelan lengannya, mencoba merasakan sejenak kekokohannya."Kalau Tante sih, sudah dari dulu Angga tante sabet!" Angga hanya tertawa ramah, ia sudah biasa dengan gaya bercandaku yang agak genit itu.
Padahal sebenarnya, sosok Angga benar-benar sudah mempesonaku saat ia diperkenalkan padaku dan Mas Har setahun yang lalu.Perjalanan ke rumah Angga memakan waktu sekitar 30 menit karena jalanan sudah penuh oleh mobil-mobil orang lain yang menuju rumah masing-masing. Dalam perjalanan aku tetap memperhatikan Angga.Aku ingin tahu apakah minuman yang tadi Angga minum sudah menunjukkan reaksinya. Biasanya aku menggunakan obat itu untuk memancing nafsu Mas Har dan mempertahankan staminanya. Aku mungkin sudah gila..Mencoba untuk tidur dengan bocah SMU anak pegawaiku sendiri.. Tapi biarlah.. Gelegak di diriku sudah tak mampu lagi aku bendung.Tadi pagi aku memberikan dosis ekstra pada minuman yang kuberikan pada Angga,dan sekarang aku penasaran akan efeknya pada tubuh muda Angga. Bisa kulihat sekarang napas Angga mulai naik-turun lagi setelah sempat tenang duduk dalam mobil.Duduknya juga nampak sedikit gelisah. Aku menepi.Kami sudah sampai. Ia membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. Aku duduk nyaman di sofa ruang tamu dan ia menuju dapur untuk menyiapkan segelas minuman buatku.Rumah Angga tidak besar, sekedar cukup untuk tinggal empat orang. Sekali lagi aku menanyakan pada diriku sendiri, apakah aku ingin melakukan hal ini.. Dan sedetik kemudian aku menjawab: aku memang benar-benar menginginkannya..Kutanggalkan jas dan blazerku,menyisakan sebuah tank-top putih untuk melekat di bagian atas tubuhku. Tadi pagi aku sudah mematut diri di kaca dengan tank-top ini.Sebenarnya ukurannya sedikit lebih kecil dari ukuranku, hingga cukup ketat untuk memperlihatkan dengan jelas bentuk payudaraku, bahkan puting susuku. Aku tersenyum geli ketika meihat diriku di cermin pagi itu.Rok miniku kutarik sedikit lebih tinggi, dan kusilangkan kakiku sedemikian rupa hingga Angga yang nanti kembali dari dapur akan memperhatikan pahaku yang mulus. Angga keluar beberapa menit kemudian membawakan segelas sirup dengan batu es.
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju meja di depanku. "Panas banget, Ang. Makanya Tante copot blazernya", kataku setengah mengeluh. "Iya, memang di sini nggak ada AC seperti di rumah Tante".Suara Angga sedikit terbata, nafasnya naik-turun, dan mencoba tersenyum. Kulihat Angga juga berkeringat, tapi aku tahu hal itu bukan hanya karena panas yang ada di ruang tamu ini.Aku mengambil gelas yang dingin itu dan menggosokkannya pada bagian bawah leherku yang berkeringat. Segar sekali.. "Ahh.. Seger baget Ang. " Angga menelan ludahnya. Kuminum sedikit sirup itu. "Uhh.. Top banget. Enak, Ang", ujarku setengah mendesah."Hmm.. Tante.. Angga.. Angga cari kunci lemarinya papa dulu ya.." kata Angga. Anak ini pemalu juga, kataku dalam hati. "Oh, iya deh, Tante tunggu."Angga kemudian bergegas menuju satu lemari besar di samping sofa dan mulai membuka laci-lacinya.Aku bersabar sedikit lebih lama. Aku tahu dari tingkah laku Angga yang makin gelisah, kalau obat itu sebentar lagi akan benar-benar memberi efek. Setelah 10 menit mencari dan belum menemukan kuci itu.
Aku berjalan ke arah Angga yang masih membungkuk, mencari kunci itu di salah satu laci. "Ang.. Apa nggak lebih baik.." Angga lalu berdiri dan membalikkan badannya menghadapku. Aku tahu dia sempat mencuri pandang ke arah dadaku sebelum melihat wajahku.Ia menelan ludahnya. Aku mendekat padanya hingga jika aku melangkah sekali lagi tubuhku akan langsung bersentuhan dengannya. Angga mencoba mundur, tapi lemari besar itu menghalanginya. "Kenapa..? Tante..?", nafasnya terasa menyentuh dahiku.Aku mendongak sedikit, menatap wajahnya. "Lebih baik kamu.." Tanganku meraba otot bisepnya, padat.. "Mandi dulu.." Tanganku yang satu menyentuh tepi bawah kostum basketnya.. "Terus ganti baju.." Kedua tanganku mulai mengangkat kausnya.."Kan, kamu keringetan gini.." Tanganku setengah meraba otot-otot perutnya yang keras sambil terus membawa kausnya ke atas.."Nanti.. Kuncinya.. Dicari lagi.." Dadanya cukup kokoh, dan terasa sekali paru-parunya mengembang dan mengempis semakin cepat, jantungnya berdegup kencang.. Wajahku terasa panas, jantungku ikut berdetak cepat. Angga mengangkat lengannya dan berkata,"Ya Tante.." Tapi suara Angga lebih mirip desahan berat. Kuangkat lagi kausnya ke atas dan Angga dengan cepat meneruskan pekerjaanku dan kemudian melemparkan kausnya ke samping. Angga sekarang bertelanjang dada, dengan celana selutut masih dikenakannya.Aku merapatkan badanku padanya namun tiba-tiba aku berhenti setelah merasakan sesuatu mengenai perutku.
Aku mundur sedikit dan melihat ke arah dari mana sentuhan di perutku berasal. "Oh..!", bisikku sedikit terkejut.Dari dalam celananya terlihat tonjolan yang cukup panjang dan besar. Penis Angga.. Siluetnya terlihat jelas dari celana basketnya yang longgar. Aku melihat wajah Angga. Ia juga melihat tonjolan di celananya itu, sedikit terkejut, kemudian melihatku.Napasnya menderu. "Eh, maaf tante.. aku.. Nggak pernah.. Pake.." "Celana dalam? Nggak.. Pernah..?" potongku. Ia hanya menggeleng dan kembali menatapku. Aku tersenyum. "Nggak apa-apa.. Lebih baik gitu.." Wajah imutnya memperlihatkan keterkejutan.Tapi aku segera kembali merapatkan tubuhku dan maju lebih berani. Kucengkram batang kemaluannya dari luar celananya. Angga napak semakin terkejut dan badannya berguncang sedikit. Kemudian semua berjalan menuruti nafsu kami yang bergelora.Angga memelukku, membawa bibirku rapat ke bibirnya dan melakukan ciuman paling bernafsu yang pernah aku terima dalam satu dekade ini. Lidahnya bergelut liar dengan lidahku,bibirku digigitnya pelan.. Kupegang kepalanya dan kurapatkan terus dengan wajahku.Kuacak-acak rambutnya seakan aku ingin seluruh tubuhnya masuk ke dalam ragaku. Angga mencoba menyudahi ciuman itu. Aku khawatir ia akan menolak untuk bertindak lebih jauh, hingga aku tidak membiarkannya.Tapi aku sudah sulit mengatur napasku, dan akhirnya kulepaskan wajahnya. Aku tersengal, mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ternyata Angga sama sekali tidak berhenti.
Saat aku ditaklukkan nafsu saat berciuman tadi, Angga sudah berhasil melepaskan tank-topku tanpa sedikitpun aku menyadarinya. Tank-top itu kini berada di bawah kakiku. Dan kini Angga mulai menghisap dan menjilati leherku dengan buas."Ohh.. Anngghh.." ini dia yang selama ini kudambakan, gairah dan energi yang begitu meluap.. Lidah Angga bergerak lagi ke bawah.. Membasahi belahan dadaku.. Berputar sebentar di sekitar puting kiriku, memberikan sensasi geli yang nikmat..Kemudian Angga melahap payudaraku. "Ouuhh.. Kamu.. Ahh.. Kurang ajar yahh.. Hmmpphh.. Terusin Anngg.. Ahh.. Mmmhh.." Bocah ini.. Benar-benar bernafsu.. Ia lalu melakukan hal sama pada payudaraku yang sebelah kanan dan segera membawaku ke ambang orgasme..Aku merasakannya.. Sedikit lagi..Tapi ia tiba-tiba berhenti, membuatku melihat ke bawah, ingin tahu apa yang terjadi.
Ia berlutut, dan mencoba melepaskan rok miniku.Tanganku bergerak cepat membantu Angga dan dua detik kemudian rok itu sudah jatuh ke lantai. Aku mencoba melepaskan pula celana dalamku, namun Angga lebih cepat.. Ia merobeknya.. Sejurus kemudian lidahnya beraksi lagi.. Dalam liang kewanitaanku.."Anggahh.. Kamuhh.. Nggak sopann.." Kumajukan pinggulku, rasanya aku ingin membenamkan seluruh wajah Angga ke dalam vaginaku.. Lidah Angga yang tak terlatih, membuatku harus membantunya menyentuh daerah yang tepat dengan menggerakkan 6kepala bocah itu."Uuuhh.. Di sini Anngghh.. Ohh.. Yeeaahh..!!" Angga terus bergerilya dalam gua-ku hingga aku merasakan gelombang kenikmatan yang hebat. "Angghh.. Tante.. Mau.. Aaahh!!" Tubuhku menggeliat seiring dengan orgasme yang melandaku.Angga dengan liar menjilati cairan-ku sampai tetes yang terakhir. Kakiku terasa lemas.. Pelan-pelan aku terduduk.. Dan kemudian berbaring di lantai.. Merasakan sisa-sisa kenikmatan yang telah Angga berikan sambil terengah-engah..Aku melihat ke arah Angga. Ia juga sedang terengah-engah. Badannya berdiri kokoh di hadapanku. Badan kekarnya yang berkeringat, berkilat oleh pantulan matahari sore yang menerobos jendela kamar. Dan.. Tak ada lagi celana basket yang melekat di badan itu.Pistolnya.. Mengacung tegak ke arahku. Batangnya begitu besar..Pasti lebih dari 20 cm, dan tebal.
Rambut tipis dari kemaluannya berlanjut ke atas menuju pusarnya.Oh.. Begitu muda dan gagah.."Tante.. Aku.." "Giliran Tante, Ang!" Aku berdiri, menghimpit tubuhnya dan menjilati badan remaja itu. Tangannya yang kuat mengelus mendekapku sambil mengusap punggungku.Saat kugigit-gigit putingnya, Angga mendesah perlahan dan rambutku diacaknya.Tanganku dengan mudah mendapati penisnya, kemudian kukocok pelan. Sementara itu lidahku mengembara di otot-otot perut Angga.Kini aku sampai pada pusarnya. Lidahku terus bergerak turun dan kulahap pucuk batang kejantanan Angga.Angga menggeram.Kukulum batangnya dan aku puas mendengar Angga terus mendesah. "Ooohh.. Tante.. Ahh.." Kucoba untuk menelan lebih dalam, tapi ukuran penis Angga terlalu besar.Sudah saatnya.."Ayo Ang, biar tante ajarin caranya jadi lelaki.." Kuajak dia berbaring di lantai, lalu pelan-pelan aku duduk di perutnya sambil memasukkan pistol Angga ke 'sarung'-nya, memastikan agar aku mendapatkan kenikmatan yang aku mau."Aaahh.. Angga.. Punya kamuhh.. Besaarr.. Uuhh.." Aku membelai dadanya, dan mulai bergerak naik-turun.Angga melenguh dan memejamkan mata, meresapi setiap gerakan yang kubuat."Uuuhh.. Eegghh.. Aduhh.. Nggak pernah.. Angga.. Ngerasain.. Enak kaya ginihh.." Setelah mulai terbiasa dengan ritmeku, Angga membuka matanya.Tangannya memegang kedua payudaraku yang naik turun. "Tante Nia.. Oohh.. Seksi banget.. Ahh.."Ia memerasnya..Dan terasa sangat nikmat.. Kini aku yang menghayati permainan Angga.Tapi aku segera tersadar,kali ini Aku yang akan memuaskan Angga.
Aku mempercepat gerakanku, sambil sesekali memutar-mutar pinggulku."Ohh.. Tante.. Terusiinn.. Enaakk.. Aahh.. Mmmhh.." Tangannya beralih ke pantatku, mencoba ikut mengatur ritmeku. Kuberikan apa yang Angga minta, kujepit batangnya dan aku semakin bergoyang menggila."Gini kan.. Mau kamu, Angghh.. Ehh.." "Uhh.. Yaa.. Ohh.. Aaagghh.. Kenceng bangett.. Ayo tante.."Aku bagai lupa daratan, kenikmatan yang kurasa benar-benar membius, dan sebentar lagi..Tinggal sebentar.."Tantee.. Oooaagghh!! Oh, yeaahh!!" "Annggaa.. Aaagghh.. Ohh.. Ohh.."Aku merasakan kenikmatan paling dahsyat dalam hidupku, bersamaan dengan ejakulasi Angga.Kami berpelukan, berguling sementara Angga masih meneruskan tikaman penisnya dalam vaginaku, membawaku semakin jauh dari dunia ini.."Ohh.. Anggaa.. Ohh.. Kamu.. Udahh.. Bukan perjaka.. Lagi.. Ahh.." Ia menciumiku, memanjakan payudaraku, membelai-belai rambutku.. Dengan napas yang tersengal-sengal Angga berbisik di telingaku,"Duhh.. Nggak nyangkah.. Tante.. Nakal banget.. Ahh.. Tapi Angga.. Suka.. Dinakalin.. Tante.. Ehh.. Kont*l Angga masih ngaceng nihh.. ehh.. Mau Tante apain lagi..?" Puas sekali aku mempermainkan Angga... chaoz
Hardcore Kakis
Join Date: Jun 2009
Posts: 104
14-08-2009, 08:36 PM #64
Koleksi Chaoz
Tante StellaQ, arghhhhh.......
Kisah ini berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya hidup sederhana, karena memang kiriman dari orangtua yang bekerja sebagai tentara terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan saya. Menurut teman-teman, saya termasuk pria simpatik, dengan kemampuan berpikir cemerlang, biasanya saya dipanggil Rudy.
Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawaran dari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPA bagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan. Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bunga kampus kami, sebut saja Indah untuk memberikan les privat bagi adiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kota dimana saya kuliah.
Keluarga Indah adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerja sebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen, berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa saya panggil Tante Stella, adalah ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Stella adalah mantan ratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayai karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarik diusianya yang ke 36 ini. Adik Indah murid saya bernama Noni, amat manja pada orangtuanya, karena Tante Stella selalu membiasakan memenuhi segala permintaannya.
Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kali buat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuan tersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanya sedikit malas belajar. Tetapi Tante Stella malah menyarankan untuk memberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.
Setiap saya selesai mengajar, Tante Stella selalu menunggu saya untuk membicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkap menyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewati satu bulan saya mengajar Noni, hubungan saya dengan Tante Stella semakin akrab.
Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Noni, saya datang seperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatot sepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karena sudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Noni, minimal selama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, Tante Stella datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Noni sedang menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hari itu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Stella tetap minta saya menunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.
Ketika Tante Stella memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Stella telah memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Stella masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam "BL" seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira-kira 36B.
Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanya berkisar masalah perkembangan pendidikan Noni. Tetapi lama kelamaan sejalan dengan cairnya situasi, Tante Stella mulai bercerita tentang kesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingung mengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayal entah kamana.
"Rud, kamu lugu sekali yah..?" tanya Tante Stella.
"Agh.. Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?" jawab saya.
"Yah.. lebih dewasa Dong..!" tegasnya.
Lalu, tiba-tiba tangan Tante Stella sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.
"Rud.. mau kan tolongin Tante..?" tanya si Tante dengan manja.
"Loh.. tolongin apalagi nih Tante..?" jawab saya.
"Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!" jawab si Tante.
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Stella yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidak membayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid saya sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk "bercinta" dengan Tante Stella ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
"Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?" tanya saya sambil bercanda.
"Yah.. kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?" jawabnya.
Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Stella juga tidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.
Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu, Tante Stella menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama dia melepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi's saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya.
"Wah.. Rud, gede juga nih punya kamu.." kata si Tante sambil bercanda.
"Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!" jawab saya.
Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Stella yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.
Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Stella terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras.
"Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Rud..!" desahnya.
"Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?" kata saya.
Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan.
"Ogh.. Rud, pintar sekali yah kamu merangsang Tante.." dengan suara yang mendesah.
Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuh Tante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunya sudah tidak menjadi masalah.
Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Stella sekarang meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
"Rud.. ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih..!" pinta si Tante.
"Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..?" tanya saya.
"Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!" sambil berusaha meyakinkan saya.
Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan.
"Ahh.. dorong terus Dong Rud..!" pinta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali.
Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Stella mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.
Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
"Oh.. oh.. nikmat sekali Rudy..!" teriak si Tante.
"Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..!" kata saya.
"Sabar yah Rud.. tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluar lagi nih..!" jawab si Tante.
Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante.
"Arghh..!" teriak Tante Stella.
Tante Stella kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-otot kemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.
Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejam bersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Stella dalam keadaan telanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entah kenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Stella dari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.
"Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?" kataya sambil tertawa kecil.
"Agh.. Tante bisa aja deh..!" jawab saya sambil menciumi bibirnya kembali.
Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagi bersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Stella, kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruang keluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya dogie style.
"Um.. dorong lebih keras lagi dong Rud..!" desahnya.
Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante, sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
"Rud.. mandi yuk..!" pintanya.
"Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah..?" jawab saya.
Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik Tante Stella untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
"Hm.. nikmat sekali jilatanmu Rud.. agghh..!" desahnya.
"Rud.. kamu sering-sering ke sini Rud..!" katanya dengan nafas memburu.
Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Stella agar duduk di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat saya akhirnya "KO" kembali. Saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Stella kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.
Setelah selesai mandi, saya pamit pulang karena baru tersadar bahwa perbuatan saya amat berbahaya bila diketahui oleh Bapak Gatot, Indah teman sekampus saya, apalagi Noni murid saya itu. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan persetubuhan, tetapi tidak pernah lagi di rumah, Tante memesan kamar hotel berbintang dan kami bertemu di sana.
Selepas pengalaman itu, saya menjadi lebih berani pada wanita, dan menikmati persetubuhan dengan beberapa wanita setengah baya yang kesepian dan butuh pertolongan tanpa dibayar. chaoz
Hardcore Kakis
Join Date: Jun 2009
Posts: 104
14-08-2009, 08:41 PM #65
Koleksi Chaoz
Selamat Tinggal, Alma!
Waktu dan hari berlalu begitu cepatnya. Kalender di dinding kamar Kino, di rumah Paman Tingga, begitu cepat dipenuhi tanda silang yang menandai bergulirnya hari ke minggu, minggu ke bulan. Dua bulan terasa seperti dua minggu.
Ayah dan ibunya datang ke M minggu lalu bersama Susi yang sudah kangen kepada kakaknya. Ketiganya merasa bersyukur melihat Kino dalam keadaan sehat, dan bahkan bertambah gemuk. Berkali-kali Ayahanda mengucapkan terimakasih kepada suami-istri Tingga yang sangat baik itu. Ibunda menyerahkan oleh-oleh hasil bumi (setandan pisang mas, sebutir besar nangka setengah matang, sekarung jagung) sambil memuji-muji Bibi Tingga yang pandai menjaga kesehatan Kino. Susi memeluk kaki abangnya penuh kerinduan. Suasana menjadi semarak sekali.
Mereka berbicara panjang lebar sepanjang siang: ayah-ibu, suami-istri Tingga, dan Kino. Hanya Susi yang kelihatannya tidak menikmati hari itu, karena sebenarnya ia ingin segera bermain-main dengan abangnya. Lalu, mereka makan siang bersama, menikmati ikan gurame dari empang sendiri yang sudah digoreng Ibunda. Sedap sekali, apalagi dengan sambal terasi buatan Bibi Tingga yang terkenal lezat itu.
Seusai makan, sementara ayah-ibu terus berbincang dengan suami-istri Tingga, Kino membawa adiknya berjalan-jalan. Senang sekali Susi menggandeng kembali tangan abangnya. Mulutnya ramai berceloteh tentang betapa sepinya rumah tanpa Kino. Juga tentang dua ekor ayamnya yang mati dimakan musang. Juga tentang sungai yang tidak lagi ramai oleh anak-anak dan remaja: mereka semua sedang sibuk menyiapkan diri menempuh seleksi perguruan tinggi. Ah, begitu bersemangatnya penduduk kota ku untuk menjadi lebih berpendidikan, ucap Kino dalam hati. Semua keluarga berbicara tentang bagaimana mengirim anak-anak mereka ke kota besar untuk bersekolah. Kino tahu, pada umumnya penduduk kota kelahirannya itu adalah petani yang cukup berhasil, dan sebagian besar tak ingin anaknya terus tinggal di kota kecil. Bagus sekali pandangan seperti itu, bukan? Tetapi kadang-kadang Kino juga berpikir: kalau semua orang pergi ke kota besar, siapa yang akan tinggal menjadi petani?
"Oh, ya!!" tiba-tiba Susi berseru sambil merogoh kantong bajunya, lalu menyerahkan sebuah amplop merah-muda, "Hampir Susi lupa,... ini ada surat dari Mba Alma!"
Sejenak jantung Kino berdegup lebih kencang ketika menerima amplop itu. Sejak tiba di M, hampir tak pernah sempat ia menulis surat. Setiap hari ia belajar dan belajar saja. Pagi hari ke tempat kursus sampai tengah hari, lalu pulang untuk makan siang. Setelah itu pergi lagi ke tempat kursus untuk duduk di ruang baca, membaca apa saja yang ada di sana. Tempat kursus itu sangat modern dibandingkan sekolah Kino, memakai kipas angin segala. Kino betah berlama-lama di sana, dan selalu pulang ketika hari menjelang senja.
Lain halnya dengan Alma. Setiap minggu pasti menulis surat, bahkan pernah dua kali dalam seminggu. Di laci meja Kino kini ada sepuluh suratnya, panjang lebar dan selalu penuh kerinduan. Kino baru sempat menulis balasan dua kali. Yang terakhir baru saja dikirimnya seminggu yang lalu.
Kino mengajak Susi mampir di sebuah restoran untuk membeli es-krim. Gadis kecil itu melonjak-lonjak gembira. Di kotanya, tidak ada es-krim seperti di M. Kalau pun ada, harganya jarang terjangkau uang sakunya. Di kota M ini, es-krim nya lezat dan lembut. Porsinya pun besar. Susi memilih rasa coklat dan pisang. Kino memesan minuman ringan, lalu mulai membaca surat Alma.
Tidak seperti biasanya, surat Alma kali ini cukup pendek (walaupun masih lebih dari dua halaman). Dibuka dengan kata-kata penuh kerinduan (yang sebagiannya sudah dihapal Kino!), surat itu menceritakan rencana Alma pergi ke ibukota untuk ikut seleksi masuk perguruan tinggi. Orangtua Alma sangat mengharapkan gadis itu masuk ke jurusan kedokteran dan mendesaknya agar segera pergi ke ibukota agar persiapannya lebih matang. Menjelang akhir dari suratnya, cukup jelas terbaca betapa Alma gundah membayangkan perpisahan dengan Kino. Bagaimana kita bisa bertemu lagi sebelum aku ke ibukota? Begitu Alma bertanya berkali-kali. Apakah Kino akan pulang dalam waktu dekat ini? Kapan? Bisakah Kino memberi kabar secepatnya, barangkali dengan telepon interlokal? (dan itu berarti harus pergi ke kantor telepon).
Kino menghela nafas panjang. Susi melirik sambil terus menyantap es-krimnya. Gadis kecil ini tahu, abangnya sedang risau. Ia juga tahu, abangnya tidak ingin diganggu. Ketika akhirnya Kino mengajak Susi kembali ke rumah Paman Tingga, gadis kecil ini mengurangi celotehnya. Tetapi tangannya menggandeng tangan Kino lebih erat. Ia merasa, abangnya memerlukan bantuan walaupun cuma dari anak kecil. Tetapi, tentu saja Susi tak pernah tahu, bantuan seperti apakah yang dibutuhkan Kino saat itu. Cuma naluri persaudaraannya saja yang bicara, sementara akalnya belum lagi bisa sampai ke persoalan-persoalan remaja yang amat pelik itu.
******
Sebelum kembali ke kotanya, kedua orang tua Kino sepakat dengan Paman Tingga untuk mengirim pemuda itu langsung ke kota B, tempat institut teknologi yang dicita-citakan. Mereka setuju, kalau Kino bisa tiba di B jauh-jauh hari sebelum masa ujian seleksi, tentu akan lebih baik bagi persiapan mental.
"Bolehkah saya pulang dulu, Ayah?" tanya Kino ketika berkesempatan berbicara berdua.
Ayahnya tersenyum. Lelaki setengah baya ini tahu, kenapa anaknya ingin pulang dahulu. Ia sudah mendengar dari Susi dan dari istrinya, ada seorang gadis yang menjadi pacar Kino. Ia sendiri tak keberatan, karena ia mengenal keluarga gadis itu.
"Boleh. Tetapi selesaikan dahulu kursusmu. Masih dua minggu lagi. bukan?" kata Ayahnda.
Kino berpikir cepat. Kalau ia harus pulang dua minggu lagi, mungkin Alma sudah pergi ke ibukota. Maka segera ia berujar, "Bolehkah pulang Sabtu depan?"
"Kenapa harus Sabtu depan?" tanya Ayah.
"Aku...," Kino menelan ludah, "Aku ingin bertemu Alma sebelum ke B.."
"Ayah tahu," ucap Ayah tertawa kecil, "Tetapi, kenapa harus Sabtu depan?"
"Alma akan pergi ke ibukota...., aku ingin bertemu sebelum ia pergi," kata Kino sambil berdoa dalam hati agar ayahnya tidak bertanya lebih lanjut.
"Ooo... begitu," ucap Ayah sambil mengangguk-angguk.
"Jadi? Bolehkah aku pulang Sabtu depan?" sergah Kino, tidak sabar melihat ayahnya cuma mengangguk-angguk.
Ayah tertawa kecil lagi, lalu menepuk kepala Kino dengan sayang sambil berkata, "Tanyakan ke ibumu. Kalau dia setuju, ayah juga setuju."
Kino bersorak dalam hati. Mana mungkin ibu tidak setuju! Wanita bermata lembut itu tidak akan pernah menolak permintaan Kino untuk pulang!
******
Sabtu pagi itu langit cerah, tetapi angin bertiup agak kencang dan basah menjanjikan hujan. Pohon-pohon bagai para penari, meliuk-liuk. Seakan mereka sedang menyiapkan tarian penyambutan bagi sang hujan. Kino tiba di kota kelahirannya pukul delapan pagi, saat pasar sayur masih sibuk menerima pasokan barang dagangan. Beberapa truk pengangkut sayur-mayur masih parkir di halaman pasar, di seberang terminal antar kota tempat Kino turun. Buruh-buruh masih sibuk menurunkan karung dan keranjang besar yang tampak sangat berat itu. Bau sayur dan buah segar bercampur sampah basah memenuhi udara.
Kino bergegas turun dari bis yang ditumpanginya. Kepalanya penuh rencana, yang semuanya berpusat pada perjumpaan dengan Alma. Ia akan segera menuju rumah gadis itu setelah menemui kedua orangtuanya. Ia sudah menelpon Alma dari kantor telepon di kota M, mengabarkan kedatangannya hari ini. Alma terdengar gugup di telepon. Ah, tak sabar rasanya Kino ingin bertemu gadis itu! Cepat-cepat ia melangkah keluar dari terminal, setengah berlari, membelok menuju pusat kota.
Tetapi baru saja Kino membelok, ia tersentak. Langkahnya terhenti. Di depannya, Alma berdiri dengan rambut berkibaran. Sebuah tas kecil tergantung ringan di bahunya. Kedua tangan bersidekap memeluk dadanya.
"Alma! Sedang apa kau di sini?"
"Menunggu kamu," sahut gadis itu. Mukanya cerah, senyumnya lebar, sebagian rambut menutupi muka.
Dengan kedua tangan, Kino memegang bahu gadis itu. Mencengkramnya agak keras, membuat Alma meringis. Kino tidak berani memeluknya di tengah keramaian terminal, walaupun ia ingin sekali. Sangat ingin!
"Hari masih pagi sekali! Apakah kamu di sini sejak fajar?" tanya Kino sambil menyingkirkan sedikit rambut dari kening Alma. Gadis itu tertawa kecil sambil menggeleng, tentu saja ia di sini sejak tadi. Tetapi tidak sejak fajar yang sudah berlalu 4 jam silam!
"Hayo, kita pulang dulu. Aku perlu menaruh tas dan bertemu orangtuaku. Kau juga bisa ikut!" seru Kino sambil merengkuh tangan Alma dan menariknya pergi meninggalkan terminal. Alma membiarkan dirinya ditarik, tetapi ia lalu berkata,
"Kenapa harus langsung ke rumah?"
Langkah Kino terhenti lagi. Ia memutar tubuh, menghadap Alma. "Apa maksudmu?" tanyanya.
Alma melirik ke arah tas Kino, berucap, "Tas mu tidak terlalu besar. Kenapa harus ditaruh di rumah?"
Kino memandang tangan yang memegang tas. "Ya, memang tidak besar...", ucapannya tak selesai. Ia merasa Alma hendak mengatakan sesuatu.
"Aku harus berangkat sore ini," ucap Alma pelan.
"Hah? Berangkat kemana?" sergah Kino, sungguh kaget karena gadis itu tak pernah bicara tentang hari keberangkatan. Mengapa begitu tiba-tiba?
Alma tersenyum melihat kekasihnya terperanjat dengan wajah bagai orang bego. Tetapi senyum itu sungguhlah sendu, karena kedua matanya agak basah, menerawangkan sinar kesedihan. Kino tiba-tiba sadar, Alma akan berangkat dengan bis malam ke kota S, lalu dari sana akan naik kereta api ke ibukota. Tentu saja, bis malam itu akan berangkat pukul 5 dari terminal ini!
"Kalau begitu, kita cuma punya waktu setengah hari ini untuk berjumpa....," bisik Kino, nyaris tak terdengar ditelan hiruk pikuk pasar di seberang.
Alma mengangguk, masih memandang lekat kekasihnya dengan matanya yang lembut-sendu. Ia sungguh ingin memeluk pemuda itu, membenamkan muka ke dadanya yang bidang. Menangis di sana sepuasnya.
"Kau bilang apa kepada orangtuamu pagi ini?" tanya Kino. Ia kini punya rencana baru.
"Aku bilang ingin pergi berjalan-jalan dengan kamu, dan semua pakaian sudah kumasukkan ke tas. Tinggal berangkat saja, nanti sore. Mereka pun suda