PENDEKAR NAGA LANGIT
Lian-hong-san disebut juga gunung Lian-bong-san, mempunyai ketinggian empat ratus kaki dari permukaan laut, jauh memandang ke depan terlihat samudra luas terbentang hingga ke kaki langit, memandang ke arah barat terlihat rentetan pegunungan saling menyambung. Bila memandang ke arah timur maka terlihatlah pulau Chin-huang-to berada nun jauh di sana.
Di atas pintu gerbang sebuah gedung yang sangat megah dan indah, terpampang sebuah papan nama yang bertuliskan “Hay-thian-it-si” (samudra dan langit satu pandangan), penulisnya tercatat sebagai: Ong Sam-kongcu.
Dibalik halaman gedung yang luas banyak ditumbuhi pohon siong yang lebat dan kekar, aneka bunga tumbuh mengelilingi sebuah taman dengan jembatan batu yang indah, disana tampak juga sebuah kebun menjangan serta tugu peringatan.
Dihalaman bagian belakang tampak sebuah kolam mandi yang amat lebar, kolam itu beralaskan batu hijau yang lebar, air kolam berasal dari sebuah mata air yang memancarkan airnya deras, kolam itu cukup dalam tapi terawat bersih, sebuah ukiran nama terpampang diatas sebuah batu besar: Ti-sim (pusat mandi).
Bulan tiga, udara di wilayah Kanglam amat sejuk dan nyaman, rumput tumbuh amat subur, burung beterbangan sambil menyanyikan lagu yang indah, tapi suasana dalam gedung Hay-thian-it-si milik Ong Sam-kongcu masih nampak bersih bagai sedia kala, hanya tampak asap mengepul dari arah dapur.
Pada saat itulah tampak seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang berperawakan tinggi tapi kekar, berwajah tampan, dengan bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek sedang berenang didalam kolam.
Selain pemuda itu, tampak juga dua belas orang gadis muda belia yang rata-rata berwajah cantik berkumpul disitu, kawanan gadis itu terbagi dalam tiga kelompok, kelompok pertama mengenakan kutang berwarna merah, kelompok ke dua memakai kutang berwarna putih dan kelompok ke tiga mengenakan kutang berwarna kuning.
Saat itu mereka sedang bermain kejar-kejaran dengan pemuda tampan itu di dalam kolam, suara tertawa cekikikan meramaikan suasana.
Pemuda tampan itu adalah Ong sam-kongcu (tuan muda ke tiga dari keluarga Ong) Ong It-huan, seorang jago silat yang termashur dalam dunia persilatan sebagai “cepat serangannya bagai petir, kuat pukulannya bagai bukit karang, memandang uang bagai tanah dan menyayangi perempuan bagai bunga”.
Sementara ke dua belas orang gadis cantik bertubuh seksi itu tak lain adalah dua belas tusuk konde emas, pengawal pribadi Ong Sam-kongcu.
Bicara soal Ong Sam-kongcu, dia benar benar termasuk seorang manusia aneh.
Ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki, perawakan tubuh serta tampang wajahnya yang menawan, ditambah kekayaan keluarganya yang berlimpah, boleh dibilang dia merupakan idaman setiap gadis dan pendekar wanita, tapi anehnya dia tak pernah tertarik dengan gadis mana pun, entah sudah berapa banyak gadis yang menitikkan air mata kekecewaan.
Sementara ke dua belas orang tusuk konde itu terhitung gadis gadis yang berperangai lembut, hangat dan setia kawan, bukan saja mereka sudah bergabung tanpa imbalan, bahkan mereka pun rela melayani semua keperluan Ong Sam-kongcu tanpa berkeluh kesah.
Pada mulanya, Ong Sam-kongcu pernah mengemukan perasaan hatinya kepada ke dua belas orang gadis itu, apa mau dikata ke dua belas orang gadis itu tetap bersikeras untuk melayani keperluannya, kata mereka, asal tiap hari dapat memandang wajahnya, biar mesti berkorban pun mereka rela.
Menghadapi desakan seperti ini, terpaksa Ong Sam-kongcu menerimanya sambil tertawa getir.
Karena gagal membujuk mereka untuk mengurungkan niatnya, Ong Sam-kongcu pun memberi kebebasan seluas luasnya kepada para gadis itu untuk berbuat sekehendak mereka, toh resiko ditanggung penumpang.
Ke dua orang gadis itu berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, namun tujuan kedatangan mereka rata-rata hampir sama.
Mereka telah sepakat untuk berjuang hingga titik darah penghabisan, batu cadas yang amat keraspun akhirnya akan berlubang bila tiap hari terkena air, apalagi perasaan cinta seseorang, toh pepatah bilang: Cinta itu datang bila sering bertemu.
Mereka semua berjanji, bila tuan muda tidak mendahului melakukan reaksi, siapapun dilarang memikat atau merangsang majikannya dengan cara yang licik.
Selama dua tahun ke dua belas orang tusuk konde emas selalu memerankan posisinya sebagai seorang “dayang”, jika Ong sam-kongcu tidak memanggil, siapapun tak berani mendekat atau mengiringinya.
Perasaan manusia memang tidak sekeras baja, siapa bilang napsu dan cinta bisa dibendung? Apalagi satu-satunya perempuan yang dicintai secara diam-diam tak pernah memberi tanggapan, dia selalu bertepuk tangan sebelah, lama kelamaan jalan pikiran Ong sam-kongcu pun mulai berubah.
Ia mulai mengajak bicara ke dua belas orang tusuk kondenya, mulai bergurau dan menggoda.
Akhirnya dia putuskan untuk pergi meninggalkan kota Kiem-ling, kota penuh kesedihan itu dan mendirikan pesanggrahan megah Hay-thian-it-si diatas bukit.
Setiap pagi jam 6 dia selalu bertelanjang dada menceburkan diri ke dalam kolam yang amat dingin itu untuk membenamkan diri, dia ingin menggunakan hawa dingin yang menusuk tulang untuk mengusir rasa rindunya terhadap kekasih hati.
Orang bilang, jika kau patah hati, makanlah kulit pisang yang dibubuhi abu gosok, Tapi untuk Ong sam-kongcu dia lebih suka memakai “ilmu membeku” untuk menghadapi perasaan patah hatinya, dia ingin mendinginkan gejolak hawa panas yang membara dalam dadanya.
Untuk mengimbangi kemauan tuannya, setiap kali Ong sam-kongcu terjun ke kolam maka dua belas tusuk konde pun ikut terjun ke kolam menemani, tak heran kalau tak sampai sepuluh hari, ilmu berenang yang dikuasahi ke dua belas orang gadis itu sudah sangat hebat.
Diluar kebiasaan, semalam Ong sam-kongcu mengundang mereka berdua belas untuk berenang bersama pagi ini.
Undangan itu membuat mereka terkejut bercampur girang, saking tegangnya nyaris semalaman tak bisa tidur. Belum lagi jam menunjukkan pukul 4 fajar, Mereka sudah tiba di tepi kolam untuk melakukan pemanasan badan.
Begitu tiba ditepi kolam, Ong sam-kongcu segera mengejek sambil tertawa:
“Hahaha..... mana ada orang melakukan pemanasan dengan mengenakan pakaian setebal itu!”
Sambil berkata ia lepaskan jubah luarnya dan bertelanjang dada.
Berdebar keras hati kawanan gadis itu setelah melihat kulit tubuhnya yang putih bersih tapi kekar berotot, tersipu sipu mereka tundukkan kepala dengan wajah bersemu merah.
Menghadap datangnya sang fajar Ong Sam-kongcu tarik napas panjang sembari mengatur hawa murninya, lalu diiringi pekikan nyaring mulai mainkan ilmu pukulan Pat-kwa naga sakti Yu-liong-pat-kwa-ciang.
Terlihat bayangan manusia berkelewat ringan bagaikan asap, deruan angin pukulan menggelegar bagai guntur, begitu dahsyat ilmu pukulan itu membuat ke dua belas orang tusuk konde terbelalak kagum.
Tiba tiba Ong Sam-kongcu berpekik panjang, tubuhnya melambung setinggi tiga kaki, sambil menekuk tubuh, sepasang tangannya diluruskan ke muka, dan.......”Byruuuur....!” diiringi percikan air, ia sudah terjun ke dalam kolam.
“Ilmu gerakan tubuh yang indah!” puji dua belas tusuk konde serentak.
Buru buru mereka melucuti pakaian sendiri dan beruntun menceburkan diri ke dalam kolam.
Sesudah berenang berapa saat, Ong Sam-kongcu mengusulkan untuk bermain “perang air”, biarpun dua belas tusuk konde tak paham bagaimana mainnya, namun mereka segera menyanggupi seraya tertawa cekikikan.
“Ayoh kita mulai!” teriak Ong sam-kongcu tiba tiba, badannya segera menyelam ke dasar kolam.
Kolam Ti-sim ini mempunyai kedalaman hampir dua kaki, dengan ilmu berenang yang dimiliki Ong sam-kongcu ditambah tenaga dalamnya yang amat sempurna, biarpun berada di dalam air, dia dapat melihat pemandangan di sekelilingnya dengan jelas.
Tak selang berapa saat kemudian ia dapat melihat dengan jelas paha, pinggul serta payudara kawanan cewek muda itu.
Apalagi tiga cewek yang mengenakan kutang berwarna putih, lekukan payudaranya nampak begitu jelas dan nyata, ditambah bentuk tetek nya yang besar tapi kenyal, betul betul membuat darah ditubuhnya mendidih.
Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, walaupun Ong sam-kongcu sudah banyak pengalaman bermain cewek, sudah berulang kali mencicipi pelbagai jenis cewek, yang kurus, yang gemuk, yang muda, yang setengah tua, namun semuanya itu hanya terbatas iseng saja, apalagi kawanan cewek itu adalah cewek penghibur dan semuanya tak pandai ilmu silat.
Sebaliknya ke dua belas orang cewek itu berani mendekati Ong sam-kongcu yang status sonya tinggi dan berilmu silat hebat, tentu saja karena mereka anggap status serta kemampuan sendiri mampu menandingi pemuda itu.
Oleh sebab itu mereka berdua belas bukan saja termasuk “barang yang pantas digunakan”, bahkan terhitung “barang kelas satu”.
Dalam pada itu Ong sam-kongcu sudah mulai terangsang setelah melihat paha paha mulus itu.
Karena pikirannya bercabang, dua orang gadis yang berada di belakangnya segera menyusul tiba.
Sadar akan terkejar, buru buru tangannya mendayung ke belakang sembari menjejakkan kakinya, lagi lagi tubuhnya menyelam ke bawah air.
Kebetulan, waktu itu ada seorang gadis berkutang merah sedang muncul diatas permukaan air untuk ganti napas, Ong sam-kongcu segera menghampirinya sambil menggelitik ketiak kirinya.
Tiba tiba gadis itu merasa geli bercampur kaku, badannya jadi lemas hingga tak tahan lagi minum satu tegukan air kolam.
Sambil munculkan diri berganti napas, Ong sam-kongcu membuat muka setan kepadanya lalu menyelam lagi ke dalam air.
Gadis itu malu bercampur girang, dengan badan lemas dia paksakan diri berenang ke tepi kolam, lalu sambil merendamkan kakinya ke dalam air, ia menonton Ong sam-kongcu mempermainkan gadis lain.
Dari balik air kolam yang jernih, terlihat tubuh Ong sam-kongcu bagaikan seekor naga berenang kian kemari, menggelitik setiap gadis yang dijumpai, membuat nona nona muda itu kegelian dan tertawa cekikikan.
Mereka berniat mengepung pemuda itu, sayang kepandaian mereka masih kalah setingkat, tiap kali sudah terkepung tahu tahu anak muda itu terlepas lagi.
Yang lebih parah lagi, setiap kali menerobos keluar dari kepungan, seperti tak disengaja, atau mungkin memang disengaja, Ong sam-kongcu selalu menyentuh payudara mereka yang montok, sentuhan ini membuat mereka merasa kaku, gatal dan membangkitkan hawa napsu, tubuh mereka seakan kena listrik tegangan tinggi.
Tak heran kalau gerak tubuh mereka semakin melambat, menggunakan kesempatan itu Ong sam-kongcu semakin bergairah mempermainkan mereka, kalau bukan menyentuh, menyenggol atau bahkan seakan menumbuk...... anehnya, hanya bagian tertentu dari kawanan nona itu yang disentuhnya.
Gelak tertawa, jeritan kaget bergema memenuhi angkasa dan memecahkan keheningan fajar.
Dua belas tusuk konde menganggap mereka senasib sependeritaan, oleh sebab itu diantara mereka ada tingkat urutan disesuaikan dengan usia masing masing, gadis yang saat itu sedang duduk di tepi kolam adalah tusuk konde nomor enam, Lan-hoa losat iblis wanita bunga anggrek Pek Lan-hoa.
Sebelum bergabung, dia adalah putri tunggal seorang piausu, setelah ayahnya tewas dalam suatu pengawalan barang, tak lama kemudian ibunya menyusul ke alam baka lantaran sedih ditinggal mati suaminya.
Atas perantara kakak seperguruan ayahnya, Pek Lan-hoa mengangkat Kiu-ci Popo menjadi gurunya, setelah berlatih hampir lima tahun lamanya, dengan ilmu silat yang cukup tangguh dia membuat perhitungan dengan musuh besar pembunuh ayahnya.
Karena telengas disaat menuntut balas, dia mendapat julukan si iblis wanita bunga anggrek.
Saat itu dia menonton dari tepi kolam hingga suasana dalam kolam terlihat sangat jelas, tiba tiba ia temukan dibagian bawah celana Ong Sam-kongcu ada sesuatu benda yang menonjol keluar, tonjolan benda itu besar sekali hingga membuat celana pendek yang ketat itu seolah hampir terobek.
Jangan dianggap dia masih seorang gadis perawan, namun pengetahuannya soal hubungan laki perempuan sangat matang dan jelas, begitu melihat bentuk “memalukan” dari celaka Ong sam-kongcu, dia segera mengerti kalau anak muda itu sudah mulai terangsang dan napsu birahinya bangkit, diam diam ia merasa kegirangan.
Setelah berputar biji matanya sambil berpikir sejenak, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya.
Buru buru dia memeriksa sekeliling tempat itu, setelah yakin tak ada orang yang perhatikan, pelan pelan Pek Lan-hoa mengendorkan tali kutangnya, kemudian sekali lagi ia terjun ke air dan berenang mendekati Ong sam-kongcu.
Melihat Pek Lan-hoa telah terjun kembali ke dalam air, diam diam Ong sam-kongcu berenang mendekatinya.
Melihat pemuda itu mendekat, secepat kilat Pek Lan-hoa menjejakkan kakinya sementara tangan kanannya segera menyambar lengan kanan lawan.
Buru buru Ong sam-kongcu mengigos ke samping, setelah lolos dari cengkeraman nona itu, dia menyusup dari samping dan menggelitik ketiak kanan gadis tersebut.
Kaget bercampur gelisah cepat cepat Pek Lan-hoa menyembur pemuda itu dengan air.
Terkena semburan air yang datang secara tak terduga, otomatis Ong sam-kongcu menarik tali kutang disisi nona itu, akibatnya kutang yang sudah kendor talinya itu segera terbetot lepas dari tubuh Pek Lan-hoa.
Tubuh yang putih dengan payudara yang gede, kenyal dan kencang itu segera muncul di hadapan Ong sam-kongcu, membuat napas pemuda itu mulai tersengkal karena menahan diri.....
Pek Lan-hoa menjerit kaget, tubuhnya jadi lemas dan ......... “Gllukk...!” berapa tegukan air kolam masuk ke dalam mulutnya, membuat nona itu mulai tenggelam ke dalam kolam.
Jerit kaget dari kawanan gadis lainnya bergema memecahkan keheningan.
Cepat cepat Ong Sam kongcu berenang mendekat, dengan tangan kiri menjepit perut nona itu, dia berenang naik ke atas permukaan.
Tiba tiba Pek Lan-hoa merangkul punggungnya dengan ke dua belah tangannya, ia tempelkan tubuhnya rapat rapat dengan pemuda itu.
Ong Sam kongcu mengira hal itu merupakan reaksi alami dari seseorang yang tercebur ke dalam air, buru buru dia balas memeluk tubuhnya erat erat.
Kini golok sudah dicabut keluar dan sulit disarungkan kembali, Pek Lan-hoa pura pura meronta terus ke kiri kanan, padahal secara diam diam ia mulai persiapkan sarung golok dibalik celananya secara tepat agar golok lawan nantinya bisa langsung disarungkan....
Gadis itu segera merasa “benda besar” di balik celana dalam pemuda itu semakin membengkak hingga tegang besar.
Entah bagaimana ceritanya, tahu tahu “benda besar” itu sudah meloncat keluar dari balik celana, Pek Lan-hoa kegirangan, buru buru dia menggait punggung lawan dengan sepasang kakinya, lalu badannya ditekan ke bawah kuat kuat.
“Aaah....!” tiba tiba ia merasa lubang miliknya terasa sakit sekali.
Ong sam-kongcu bukan orang bodoh kemarin sore, sadar kalau dia sudah “dikerjai”, ditambah lagi dia sendiri memang mempunyai “kebutuhan” ke situ, maka ia pun berlagak pilon dengan menggerakkan badannya semakin melekat ke tubuh gadis itu.
Pek Lan-hoa merasa malu bercampur girang, ia pejamkan sepasang matanya sambil menikmati, dalam keadaan begini ia tak berani memandang ke arah rekan lainnya.
Dengan tangan kiri memeluk gadis itu, tangan kanan mendayung air, pelan pelan Ong sam-kongcu membawa nona itu berenang ke tepi kolam, setelah itu kepada dua orang gadis yang berada disisinya, ia berkata sambil tertawa:
“Tolong bantu aku membopong dia!”
Kini kawanan gadis yang lain sudah tahu tentang “siasat busuk” Pek Lan-hoa, biarpun dalam hati merasa tak puas karena dia telah melanggar “kesepakatan”, namun mereka pun berterima kasih kepadanya karena telah menjadi “pelopor” untuk yang lain.
Setelah naik ke tepi kolam, ke dua orang gadis itu segera mengambil tiga stel pakaian yang digunakan sebagai alas untuk punggung Pek Lan-hoa, kemudian dengan menarik kedua lengannya ke atas dan disejajarkan dipermukaan kolam, mereka mulai memeganginya kuat kuat.
Menggunakan kesempatan itu, Ong Sam kongcu menempelkan sepasang lututnya ditepi kolam, lalu sambil berpegangan di sisi batu, ia mulai naik turunkan badannya..... pertempuran dalam air segera dimulai.
Dengan sepasang kakinya menggait belakang punggung Ong Sam-kongcu, Pek Lan-hoa pejamkan matanya rapat rapat, wajahnya bersemu merah, biarpun mesti menahan rasa sakit karena robeknya selaput perawan, ia membiarkan majikannya berbuat sekehendak hati.
Titik noda darah mulai muncul diatas permukaan air kolam, para nona tahu Pek Lan-hoa masih perawan dan baru saja kegadisannya direnggut Ong sam kongcu, diam diam mereka kagum kepada nona itu karena rela berkorban demi kebutuhan majikannya.
Menyaksikan hubungan laki perempuan yang berlangsung secara “hidup” dihadapan mereka, para gadis mulai merasakan hatinya berdebar keras, napasnya ikut tersengkal dan wajahnya bersemu merah seperti orang mabuk, siapa pun rasanya ingin turut serta dalam pertempuran itu dan ikut mencicipi bagaimana rasanya “ditiduri” majikan mereka.
Dengan penuh bernapsu Ong sam kongcu menggerakkan tubuhnya naik turun, makin lama gerakannya makin cepat........
Tak selang berapa saat kemudian terdengar ia mendengus tertahan, lalu gerakan tubuhnya mulai melambat sebelum akhirnya berhenti.
Akhirnya terdengar anak muda itu menghembuskan napas lega, lalu sambil memeluk kencang tubuh Pek Lan-hoa, ia tak bergerak lagi.
“Kongcu” nona nomor satu segera menghampiri sambil menegur, “apa perlu beristirahat sebentar ditepi kolam?”
“Aaah! Betul” teriak Ong sam kongcu kaget, “setelah mengeluarkan cairan mani, aku memang tak boleh berendam terus di air dingin, bisa merusak kondisi badanku!”
Maka sambil tersenyum dia manggut manggut.
Dua orang nona itu segera menariknya kuat kuat dan membawanya ke tepi kolam.
Tampak “benda” Ong sam kongcu sudah tidak setegang tadi, biarpun begitu, ukurannya ternyata sungguh mengejutkan!
Dalam pada itu gadis nomor satu telah membantu Ong sam kongcu mengenakan pakaian.
Mengawasi celana dalamnya yang sempat robek karena diterjang “barang” nya yang membesar, merah padam selembar wajah Ong sam-kongcu, kuatir digoda para nona yang lain, selesai berpakaian buru buru perintahnya:
“Cepat bawa nona nomor enam ke dalam kamarnya”
Para nona pun segera menutupi badan Pek Lan-hoa yang telanjang bulat dengan pakaian, kemudian menggotongnya balik ke dalam kamar.
Memandang bayangan tubuh kawanan gadis yang menjauh, diam diam Ong sam-kongcu tertawa getir, gumamnya:
“Habis sudah riwayatku, gara gara ulah Lan-hoa yang mendobrak tradisi, dihari hari berikut aku bakal kerepotan setiap malam!” selesai berkata, diapun segera berlalu dari situ kembali ke dalam kamarnya. chaoz
Hardcore Kakis
Join Date: Jun 2009
Posts: 104
14-08-2009, 08:58 PM #72
Koleksi Chaoz
Rejeki Nomplok Saat Menunggu Rumah
Peristiwa ini berlangsung beberapa bulan yang lalu di awal 2006. Di Sabtu malam yang cerah aku terpaksa menunggu rumah sendirian. Keluarga semua pergi ke Jakarta menghadiri acara pernikahan saudara sepupuku.
Aku perkenalkan diri dulu. Namaku Reno, 28 tahun. Tampangku biasa-biasa aja dengan kulit sawo matang. dengan tinggi 170 cm dan berat 70 kg. Pembaca mungkin menyangka aku gendut. Itu sama sekali tidak tepat karena aku rajin fitness hingga otot2ku pun terbentuk walaupun tidak sekekar Ade Rai . Aku bekerja di satu perusahaan swasta di kotaku. Aku tinggal di kota kecil di bagian Barat pantura Jawa Tengah. Dan sekarang aku masih menyandang predikat jomblo. Namun aku selalu enjoy menjalaninya.
Sabtu malam itu tidak seperti biasanya. Teman-temanku yang sebagian jomblo juga (mungkin aku perlu bikin perkumpulan Jomblo Merana, hehehe...) tidak keliatan batang hidungnya. Aku yang nungguin rumah sendirian akhirnya cuma bisa duduk sambil mengisap rokok putih di teras depan rumah sambil cuci mata pada cewe-cewe yang lewat di jalan depan rumahku. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rasa kantuk sudah mulai menyerang. Aku pun bergegas masuk ke rumah. Begitu tanganku hendak meraih gagang pintu, aku dikejutkan suara becak yang direm mendadak. Spontan aku liat ada yang terjadi. Ternyata seorang wanita kira2 berumur 40 tahunan turun dari becak kemudian membayar ongkos ke abang becak. Aku masih terpaku melihat apa yang akan dilakukan oleh wanita dengan kulit sawo matang dan berwajah sensual itu. Tingginya kira-kira 160 cm dan beratnya mungkin 60 kg dengan payudara yang besar kira2 36C dan pantat yang besar pula serta perut yang sudah tidak rata lagi. Wanita itu memakai baju terusan dengan rambut digelung ke atas menambah kesensualannya. Tanpa dikomando penisku lagi berdiri tegang.
"Permisi...", suara lembutnya membuyarkan lamunanku. "Eh...iya, Bu...", jawabku sekenanya. "Pak Atmonya ada?"
Aku jadi bingung karena nama orang tuaku bukan Atmo. Dengan cepat aku baru sadar kalo rumah yang aku tempati sekarang dulu adalah milik Pak Atmo yang sekarang sudah pindah di kota di provinsi Jawa Tengah bagian Selatan.
Akhirnya aku jelaskan padanya tentang keadaan saat ini. Dia pun bingung hendak ke mana karena tidak ada sanak sodara di kota ini. Kemudian aku persilakan masuk wanita itu ke dalam ruang tamu. Setelah melalui percakapan singkat dapat kuketahui kalo wanita itu bernama Tuminah, sepupu Pak Atmo dari Boyolali dan aku tahu kalo dia telah hidup menjanda selama 10 tahun semenjak kematian suaminya.
"Dik Reno, ibu saat ini bingung mau tidur di mana. Lha wong sudah malam begini. Mau melanjutkan perjalanan sudah tidak ada bis lagi," kebingungan meliputi dirinya.
"Sudahlah Bu Minah...Ibu sementara bermalam di sini dulu. Besok Ibu bisa ke tempat Pak Atmo," aku coba menenangkannya sambil mataku mencuri-curi pandang ke arah gundukan di dadanya yang membusung itu. Mengetahui hal itu Bu Minah jadi salah tingkah sambil tersenyum penuh arti. Akhirnya Bu Minah setuju untuk bermalam di rumahku. Aku persiapkan kamarku untuk tidur Bu Minah. Tak lupa aku buatkan teh panas untuk menyegarkan tubuhnya. Kemudian aku persilakan Bu Minah untuk membersihkan badan dulu di kamar mandi.
Aku menunggu dengan menonton tivi di ruang tengah. Bayangan tubuh montok Bu Minah menjadikan burungku jadi makin berdiri keras. Ditimpali suara kecipakan air di kamar mandi terdengar dari tempatku.
"Mas Reno..." aku dikejutkan panggilan Bu Minah dari kamar mandi. "Iya Bu... Ada apa?" aku bergegas menuju ke kamar mandi. "Ibu lupa tidak bawah handuk. Ibu boleh pinjem handuk mas Reno?" terdengar suara Bu Minah dari balik pintu kamar mandi. "Boleh kok, Bu. Saya ambilkan sebentar, Bu", aku ambil handukku di jemuran belakang.
"Ini Bu handuknya" perlahan pintu kamar mandi dibuka oleh Bu Minah. Aku sodorkan handuk ke tangan Bu Minah yang menggapai dari balik pintu. Tak kusangka sodoran tanganku terlalu keras sehingga mendorong pintu terbuka lebar hingga badanku terhuyung ke depan ikut masuk ke kamar mandi. Aku menubruk badan Bu Minah. Aku peluk tubuh bugil Bu Minah agar aku tidak jatuh. Bu Minah pun memeluk tubuhku erat-erat agar tidak terpeleset. "Aahhh...", Bu Minah menjerit kecil. Aku rasakan buah dada bu Minah yang besar itu dalam pelukanku. Penisku langsung tegang mengenai perus Bu Minah. Beberapa detik kami terdiam.
"Ih, mas Reno kok meluk aku sih..." katanya manja tanpa melepas pelukannya padaku. Wajahku merah padam. Aku tidak bisa menyembunyikan hasratku yang meletup-letup. "Kaalauu...akkuu lepass ...nantii akku liat ibu Minah telaanjaang donggg..", jawabku terbata-bata dengan nafas tersengal menahan gejolak birahi. Aku tekan-tekan penisku yang masih terbungkus celana ke perutnya. "Aacchh...sungguh nikmat sekali," batinku karena aku baru pertama kali ini memeluk wanita dalam keadaan telanjang bulat. "Burung mas Reno nakal..." katanya manja sambil tangannya merogoh penisku dari balik celana training yang aku pakai. Dielus dan dikocoknya perlahan penisku. "Ouuugghhh..." aku hanya bisa mendesah. "Burung Mas Reno besar sekali..." Aku tidak tahu apakah dengan panjang 16 cm dan diameter 4 cm itu penisku termasuk besar, entahlah mungkin Bu Minah sebelumnya hanya tahu penis dibawah ukuranku. Dan aku pun tidak tinggal diam. aku remes-remes teteknya yang gede itu sambil aku emut putingnya. "Mmmhhh... enak banget mas..."
Tangan kiriku langsung turun ke vaginanya yang mulai basah itu. Aku gesek-gesek dengan jariku dan aku mainkan klitorisnya...
"Mas...." hanya itu yang bisa Bu Minah ucapkan dengan mata sayu sementara tangannya masih mengocok penisku dengan pelan.
"Mas...Mas Reno....aku wis ora kuat...." suaranya parau "Masukin sekarang ya, Mas...."
Aku jadi bingung karena belum pernah ml sebelumnya. Dengan malu-malu aku pun beranikan diri bertanya, "Bu, caranya gimana?" Bu Minah tersenyum genit. "Oh mas Reno masih bujang tong-tong to?" Kemudian Bu Minah membalikan badannya dengan berpegangan pada bak mandi Bu Minah mengambil posisi nungging. Aku yang udah gak sabar langsung mengarahkan penisku ke vagina yang merah merekah dengan rambut kemaluan yang tercukur rapi tapi gagal karena aku tidak tahu lubang kenikmatan itu. "Sini mas Reno biar aku bantu..." Bu Minah yang mengerti keadaanku langsung menyamber batang penisku kemudian diarahkannya ke lubang vaginanya.
Kepala penisku menyentuh bibir vaginanya. Oouugghhh... sungguh kenikmatan yang luar biasa yang baru aku rasakan. Kemudian aku dorong penisku ke dalam vagina Bu Minah. Agak susah memang. "Mas...pelan-pelan. Aku udah lama tidak kaya gini..." suara Bu Minah terdengar lirih tertahan. Aku majukan lagi penisku hingga tinggal setengahnya yang belum masuk ke lubang kenikmatan. Bu Minah memaju mundurkan pantatnya berulang-ulang. Dan... Slleeepppp.... penisku seperti tertelah semuanya oleh vagina Bu Minah. Aku maju mundurkan penisku dengan cepat seperti yang aku liat di BF.
"Ooohhhh....masss....mmmhhhh...." hanya itu yang keluar dari mulut Bu Minah. Aku merasakan sensasi yang sangat luar biasa...
Dan belum ada 30 kocokan aku merasakan akan memuntahkan spermaku."Bu.... aku mau keluar..." Aku percepat sodokan-sodokan penisku ke vagina Bu Minah. Dengan gerakan yang luwes Bu Minah memutar-mutar pantatnya mengimbangi sodokanku. Melihat goyangan pantat Bu Minah yang erotis itu aku semakin tidak sanggup menahan laju spermaku. Aku percepat sodokanku.... dan... "Ooouuugggghhhh....." aku tekan kuat2 penisku hingga menyentuh dasar rahim Bu Minah. "Crrootttt.....ccrrrooottt....cccrrottt...." penisku menyemburkan sperma sebanyak 15 kali ke vagina Bu Minah. Goyangan-goyangan erotis pantat Bu Minah mengiringi siraman spermaku. "Oooohhhhh...." Aku terkulai lemas. Aku peluk tubuh Bu Minah dari belakang dengan tangan meremas2 tetek Bu Minah yang besar walopun sudah agak kendur. Sementara penisku yang masih tegang tenggelam dalam vagina Bu Minah yang enak itu. Nafas kami masih tersenggal-senggal. Lama kami terdiam meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dilalui.
"Mas Reno...." Bu Minah lirih memanggilku. "Udahan dulu ya Mas.., aku capek banget. Aku mau istirahat dulu". Aku bisa memahami kondisi tubuh Bu Minah setelah melakukan perjalanan panjang.
Akhirnya aku tidur bareng Bu Minah di kamarku. Dan tentunya masih ada kejadian2 kenikmatan yang kami lakukan berdua setelah itu. chaoz
Hardcore Kakis
Join Date: Jun 2009
Posts: 104
14-08-2009, 08:59 PM #73
Koleksi Chaoz
Kejutan tidak terduga
Siang itu aku agak cepat pulang kuliah, bukan karena malas ikut kuliah yang masih ada, tetapi karena kakiku sakit (mungkin terkilir) dan ada bagian yang membiru sedikit. lagi-lagi karena main sepak bola yang kurang hati-hati, dengan teman sekampus tadi pagi. Dengan naik motor, aku ingin secepatnya pulang dan memberi obat (minyak urut), terus istirahat di rumah.
15 menit kemudian aku sudah tiba di rumah, dan agak sepi kalau jam segini, karena semua pada kerja dan kuliah atau sekolah. Hanya ada pembantu, yang usianya sekitar 35 tahun, biasa dipanggil Mbak Suli. Tapi jangan kaget lho.., badannya terawat dan masih kencang, walaupun kulitnya agak hitam (hitam manislah menurutku). Agak kaget juga aku, setelah dibukakan pintu, kulihat dia mengenakan baju kaos yang agak ketat dan rok putih yang selutut. Tetapi tonjolan di dadanya itu, membuat darahku berdesir cepat.
“Kok pulangnya cepat, Mas..?” katanya menyapa.
Aku memang dipanggil Mas olehnya, singkatan dari Dimas.
“Iya Mbak, kakiku agak sakit, tadi jatuh waktu main sepak bola..” kataku membalas.
Spontan matanya melirik ke kakiku dan berkata, “Coba Mbak lihat, dia pun menarik celana panjangku agak ke atas, “Sakit nggak..?” tambahnya sambil agak menekan bagian yang membiru dan mulai berjangkok.
“Lumayan juga sih..” kataku ssdikit memelas sambil melirik bagian betisnya yang mulus.
Setelah aku berganti pakaian menjadi celana pendek, dia membalur kakiku dengan minyak urut. Saat itu dia duduk di depanku dan kulihat pahanya karena roknya tersingkap. Karena posisiku yang yang duduk dan kaki agak ditekuk, dia tidak tahu bahwa kejantananku sudah mulai bangkit. Dia pun mengurut-ngurut dan memijit bagian kakiku yang sakit. Mataku juga tidak lepas dari dadanya yang menonjol sebesar mangga.
Dengan perlahan, kuberanikan memegang pahanya di bagian yang tersingkap. Dia agak kaget dan berkata, “Mas, kamu mulai nakal, ya..?” ucapnya sambil melirikku.
“Nggak pa-pa kan..? Cuma dikit kok..!” balasku seadanya.
Lama kelamaan tanganku mulai bergerak lebih ke atas dan sampai di pangkal pahanya.
“Jangan nakal lho, ntar ada yang lihat..!” katanya mencoba memindahkan tanganku dari pahanya.
“Nggak ada orang kok Mbak, cuma kita berdua kok..!” ucapku terus membujuknya.
Dia masih mengurut kakiku dan kucoba untuk menampakkan celana dalamku lewat celah celana pendekku.
Dengan keberanian yang menggebu, aku berkata, “Boleh kulihat yang di balik roknya Mbak..?” kataku menggoda lagi.
“Jangan Mas, Mbak malu..” katanya sedikit ragu.
“Ayo dong Mbak, sekali aja..!” ucapku sedikit membujuk.
Mula-mula dia ragu, dan akhirnya dia berbicara, “Jangan bilang siapapun ya..?” katanya sambil mengedipkan mata.
Kujawab, “Aku janji deh, ini menjadi rahasia kita aja..”
Perlahan dilepaskannya roknya, dan wow.., terlihatlah pahanya yang mulus dengan celana dalam merah muda. Agak lama kupandangi, karena itu benar-benar pemandangan yang indah, dan kejantananku mulai membengkak di celanaku. Perlahan kupegang celana dalamnya, dan kudekatkan wajahku ke arah celana dalamnya. Wow.., baunya wangi sekali, mungkin dia baru mandi tadi.
“Sudah cukup kan..?” katanya sambil menjauhkan wajahku dari pahanya dan mencoba memakai roknya lagi.
Tetapi hal itu dengan cepat kucegah, “Ntar dulu Mbak, saya pingin lihat di balik celana itu, boleh ya..?” kataku membujuk.
“Yee.., sudah dikasih hati malah minta jantung..!” ucapnya sedikit menyindirku.
“Mbak tau nggak, jantungku debar-debar nih.., dan aku terangsang..” kataku mencoba menyatakan bahwa aku benar-benar terangsang.
Sambil bercanda dia menjawab, “Masak gitu aja terangsang, Mbak nggak percaya, kamu pasti cuma iseng, mau mempermainkan Mbak, ya..?” katanya membalas ucapanku.
“Kalau nggak percaya, coba lihat nih..!” kataku sambil menurunkan celana pendekku.
Dia agak kaget karena celana dalamku seperti penuh dan menonjol besar di bagian penisku.
“Bener juga, kamu nggak boong.., kamu terangsang ya..?” katanya melirikku nakal sambil tersemyum.
Agak lama dia melihatnya, kemudian mengelus dan mengusap-usap, dan mendekatkan wajahnya ke dekat celana dalamku.
“Sekarang kita sama-sama buka, gimana Mbak..?” kataku memberi tawaran gila (he-he-he).
Mungkin karena sudah terangsang dan sangat ingin melihat penisku, akhirnya dia mengangguk. Perlahan dia menurunkan celanaku, dan tampaklah kejantananku berdiri tegak dan siaga.
“Wow.., hmm.., punyamu lebih besar dari yang Mbak bayangkan, tapi Mbak suka yang besar seperti ini.” katanya sambil mengelus, menyentuh kepala penisku dengan jarinya dan kemudian mengocoknya.
“Aahh.., ouch.., ouch..” aku mengerang nikmat, sementara dia terus mengocok sampai penisku terlihat memanjang maksimal.
Mungkin dia sudah tidak tahan, dia mulai mengulum dan meghisap penisku.
“Ouch.., ouch.., ah.. ah.., nikmat sekali..!” aku mendesis kenikmatan, sementara tanganku sudah membuka celana dalamnya.
Dan wow.., benar-benar pemandangan yang indah, bulu-bulu halus di sekitar vaginanya yang kemerahan sangat merangsang birahiku. Jariku menyentuh dan menggesek bibir vaginanya.
“Oh.., ahh.., ahh.., terus Mas, gesekin terus..! Ahh.., ahh..!” suaranya mendesah-desah.
Kudekatkan wajahku ke vaginanya, menciuminya dan menjilatnya. Celahnya mulai agak basah, mungkin dia sudah terangsang hebat, sementara kemaluanku terus dikulumnya, bahkan sekarang lebih dahsyat sampai ke pangkalnya. Aku merasakan hangat mulutnya, dan kemaluanku seperti panas sekali dan mau mengeluarkan sesuatu. Tanpa dapat kutahan, spermaku muncrat di mulutnya untuk pertama kali.
“Ohh.., ahh.., kamu udah keluar Mas.., ahh.., enakk.., gurih..!” katanya sambil menjilat sperma yang keluar dari mulutnya, sementara lidahku terus bergerilia di celah vaginanya, bahkan lidahku berusaha masuk lebih ke dalam dan terus menyeruak di seluruh dinding vaginanya.
“Ouch.., ahh.., ahh.., lebih dalam, Mas..!” pintanya sambil mendesis-desis.
Aku mendengar dia mendesis dan menyerocos tidak karuan, dan mulai mengocok kemaluanku lagi sehingga membesar kembali. Hanya dalam hitungan menit, punyaku sudah membesar lagi dan mencapai ukuran yang maksimal.
“Sekarang saya masukin ke vagina Mbak aja, oke..?” kataku sudah tidak sabaran.
“Ehe.., ya Mas, Mbak juga sudah nggak tahan nich..!” katanya sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga vaginanya tampak membelah dan merekah.
“Oouh.. ss.., darahku berdesir semakin cepat melihat vagina yang merekah seperti itu.
Sambil memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke lubang tersebut. Sesaat kepala penisku kugesekkan ke bibir vaginanya, kemudian dengan sedikit ditekan, dan, “Bless..!” masuk seluruhnya ke dalam liang vaginanya.
“Ouh.., och.., ahh.., terus Mas, lebih dalam..! Ahh.., ahh..!” desisnya mengikuti gerakan masuknya batang kejantananku.
Aku pun semakin bersemangat menggenjotnya dan memaju-mundurkan kemaluanku di dalam vaginanya. Sementara tanganku tidak lepas memegangi puting payudaranya yang mengencang.
“Terus, terus Mas, enak.., nikmatt.., ah.., ah..!” ucapannya sudah terdengar tidak karuan.
Sekitar 10 menit dengan posisi tersebut, aku mengeluarkan kemaluanku yang masih menegang.
“Mbak, sekarang kita rubah posisi ya..? Pasti lebih nikmat..!” kataku ingin mencoba gaya lain.
“Posisinya gimana Mas..?” dia bertanya balik.
“Mbak menungging saja, kakinya diangkat sebelah dan letakkan di meja, dan Mbak membelakangi saya..!” saranku memberi penjelasan, dia menurut saja.
Aku tertawa dalam hati (soalnya ini seperti anjing pipis, he-he-he). Dia sudah mengambil posisi seperti itu dan aku dapat melihat celah vaginanya mengintip dari belakang. Dengan memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke celah itu. Dengan sedikit tekanan, kepala penisku masuk, dan masuknya terasa lebih sempit dari yang tadi. Sengaja tidak kumasukkan seluruhnya dan kutanya kepadanya, “Gimana..? Lebih enak kan..?” kataku.
“Ehe.., ahh.., lebih enak dari yang tadi, ahh.., oh.., enak.., ahh..!” suaranya mendesah lagi.
“Ini belum seluruhnya lo Mbak, baru sebagian..!” aku mencoba menggodanya lagi.
“Masukin semua dong, Mas..! Biar terasa lebih enak lagi..!” pintanya.
Dengan menekan lebih kuat, maka kemaluanku masuk seluruhnya. Dan oh.., betapa nikmatnya, serasa berada di awang-awang.
“Ah.., oh.., aah.., nikmat sekali, tekan lebih kuat Mas.., lebih dalam, ahh, ahh..!”
Sesekali dia menggoyang pinggulnya, dan ohh.., benar-benar luar biasa goyangan pinggulnya, punyaku seperti ditarik dan diurut-urut di dalam vaginanya.
“Oh.., ah.., aku tak ingin berhenti capat-cepat, goyangin terus Mbak..!” kataku.
Sekitar 10 menit aku memaju-mundurkan kemaluanku ke vaginanya, rasanya aku sudah berada di puncak dan mau memuntahkan lahar.
“Mbak, aku sudah mau keluar nich..!” kataku.
Dia membalas, “Aku juga mau keluar nich. Kita keluar sama-sama ya..?” pintanya.
Dengan menggenjot lebih kuat agar cepat sampai ke puncak kenikmatan, maka kumulai menekan lagi lebih cepat. Dan akhirnya, “Ouc.., ah.., ah..” dengan erangan panjang, aku memuntahkan spermakau di vaginanya.
Bersamaan dengan itu Mbak juga mengerang panjang, “Ouh.., ouc.., ah.., ah.., nikmat.. ah..”
Sementara di vaginanya aku merasakan punyaku disemburi cairan vaginanya, terasa begitu hangat.
Perlahan kutarik punyaku keluar, terlihat sudah mulai mengecil. Kami tergolek di tempat tidur dan saling berpandangan.
“Mbak.., nggak menyesal kan..?” tanyaku.
“Ah.. nggak, kamu bandel dan bisa memuaskan Mbak.” dia membalasku.
“Tapi saya khawatir Mbak, soalnya tadi keluar di dalam.” tanyaku sedikit khawatir.
“Nggak pa-pa, Mbak tidak dalam masa subur kok, Mbak tidak akan hamil..!” jelasnya.
Wajahku sedikit lega setelah mendengar perkataanya.
Dengan sedikit menggoda aku berkata, “Aku suka melihat wanita menggunakan celana dalam putih atau merah muda (karena dia memang banyak punya celana dalam putih dan merah muda).”
“Idih..! Kamu suka mengintip Mbak ya..?” dia bertanya balik.
“Kadanga-kadang aja, pas Mbak lagi tidur atau mandi..” kataku menggoda nakal.
“Kamu nakal sekali..!” katanya sambil mencoba mencubitku.
“Tapi Mbak suka kan..?” godaku lagi.
Dia hanya tersenyum tersipu-sipu.
Setelah kejadian itu, aku merasa ketagihan dengan Mbak Suli. Aku tidak tahu apakah dia ketagihan juga. Sering kali di waktu malam aku menyelinap ke kamarnya yang sengaja tidakdikuncinya, lalu kami pun bergumul di situ sampai kelelahan dan aku pun sering tertidur di situ. Tapi sebelum subuh aku sudah balik ke kamarku, maksudnya biar tidak ketahuan chaoz
Hardcore Kakis
Join Date: Jun 2009
Posts: 104
14-08-2009, 09:03 PM #74
Koleksi Chaoz
ML sewaktu di singapore
Sore hari, aku sudah beberes mau pulang, telponku bunyi, ternyata dari mas Hide. Dia ngajak aku nemenin dia ke singapore. Aku seneng banget jadinya. “Mau ngapain mas ke singapore?” tanyaku. “Aku ada bisnis di johor bahru, Nes. Kan lebih asik kalo ditemenin kamu. Kamu bisa gak?” tanyanya. “Berapa hari mas?” jawabku bertanya lagi. “Paling lama 3 hari, kamu punya paspor gak?” jawabnya. “Wah, Ines mesti pamit ya dari kantor. Paspor Ines gak punya mas, kalo ktp sih ada”, jawabku bercanda. “Kamu cuti aja dari kantor Nes, bikin paspor kok. Nanti biar temenku yang urusin, 2 hari juga beres. Jadi kamu mau ya”, jawabnya lagi. “Iya deh mas, kapan mau urus paspornya, terus berangkatnya kapan”, lanjutku. “”Besok temenku akan kontak kamu, siapkan aja dokumen yang diperlukan. Berangkatnya nanti kita tentukan kalo paspor kamu udah beres”, katanya.
Aku pamit dari kantor untuk besok masuk siang. Keesokan harinya, pagi2 temen mas Hide sudah menjemputku untuk ke kantor imigrasi. Karena koneksi yang kuat, proses pembuatan paspor berjalan cepat. 3 hari kemudian pasporku sudah jadi dan diantar ke tempat ku. Mas Hide nelpon lagi, “Udah jadi kan Nes paspornya. Kapan kamu bisa pamit dari kantor supaya aku bisa arrange perjalanan kita”, tanyanya. “Besok Ines kabari ya mas”, kataku. “Kenapa gak sore ini aja”, deseknya. “Dah ngebet sama Ines ya mas. Iya deh ntar sorean Ines kabari lagi”, aku guyonin dia. Aku pamit lagi dari kantor untuk cuti 3 hari. Kebetulan load kerjaan sedang rendah sehingga lusa aku sudah diijinkan untuk mulai cuti. Aku mengabarkan ini ke mas Hide. “Oke Nes, kita berangkat lusa siang ya, nanti aku jemput kamu”, katanya memastikan.
Lusa siang, aku sudah duduk disamping mas Hide di pesawat. Mas Hide mesra sekali ke aku selama di pesawat, sehingga pramugarinya menyangka kami sedang honey moon. Aku iyakan saja untuk tidak mengundang komentar lebih jauh. “Nes, rencananya, besok aku akan ke Johor bahru. Kalo selesai aku kembali ke singapore, kalo urusanku belum selesai aku nginep di Johor baru, besok siangnya aku baru balik”, katanya. “Yah, kalo mas nginep terus Ines ngapain”, aku merajuk. “Ya kamu jalan2 aja, belanja juga boleh. Hotel kita di pusat keramaian kok, bisa jalan kaki”, jawabnya membujuk.
Sesampainya di hotel, mas Hide ngajak aku jalan2 dulu disekitar hotel. “Mau belanja Nes”, tanya mas Hide ketika melewati department store yang besar. “Ines mau beli bikini boleh gak mas”, tanyaku. “Boleh aja, ntar dipake kalo berenang sama aku ya”, jawabnya. “Memangnya kita mau berenang mas?” Tanyaku. “Iya berenang di ranjang”, jawabnya sambil tersenyum. “Maunya”, jawabku sambil mencubit pinggangnya. “Beli bikininya yang seksi ya Nes”, katanya. Aku memilih bikini yang seksi dan mini. “Ini bagus gak mas”, tanyaku. “Bagus, beli aja beberapa Nes, biar tiap ronde kamu pake bikini yang berlainan”, jawabnya. Aku memlihi beberapa bikini, kemudian mas Hide juga membelikan aku pakaian, juga daleman yang seksi, minim dan tipis. Dalemannya juga model bikini, yaitu yang ditaliin bra dan cd nya. Setelah itu aku diajaknya cari makanan. Kenyang baru kembali ke hotel. Di kamar, langsung aja mas Hide nyuruh aku pake bikini yang baru dibeli. “Buat menghangatkan suasana Nes”, katanya sambil mengeluarkan soft drink yang dibelinya di airport dari lemari es.
Mas Hide melotot melihat aku muncul dengan bikiniku yang minim dan seksi itu. Toketku seakan mau tumpah dari branya yang minim sekali. Demikian pula jembutku berhamburan dari cd bikini yang model g string itu. “Nes, duduk disebelahku, kamu mau gak aku pijitin”, tanyanya. Dia hanya memakai celana panjangnya saja. Akupun duduk membelakanginya. Dia mulai memijit pelan keningku dari belakang. Tak terasa dari kening turun ke kuduk. Aku hanya terpejam saja menikmati pijitannya, turun lagi ke pundak. “Enak mas”, kataku. “Memangnya mas pernah jadi tukang pijit ya”, godaku. Dia diam saja, tapi tangannya meluncur ke toketku. Jarinyanya mulai menelusuri toketku, dielus2nya dengan lembut. Aku terdiam, napasku mulai memburu terengah. Jarinya diselipkan ke braku dan mengkilik2 pentilnya. Pentilku langsung mengeras, “Maas”, lenguhku. Dia langsung saja meremes2 toketku dengan penuh napsu. Aku bersandar di dadanya yang bidang. Dia mulai menciumi leherku sementara kedua toketku terus saja diremes2, sehingga napsuku makin berkobar. Kemudian dia minta aku berbalik sehingga kami duduk berhadapan. Aku tak menunggu lama, dia segera mengecup bibirku. Kubalas dengan ganas. Bibirku dikulumnya, lidahnya menjalar didalam mulutku sementara tanganku segera turun mencari tongkolnya. Kuusap2, terasa sekali tongkolnya sudah ngaceng berat, keras sekali. Segera ikat pinggangnya kubuka, celananya kubuka. Dia berdiri sehingga celana panjangnya meluncur ke lantai. tongkolnya yang besar panjang itu nongol dari bagian atas CD nya yang mini.Kami segera bergelut. Dia terus meremas-remas toketku sementara aku mengocok tongkolnya. “Mas keras banget, gede lagi”, kataku sambil jongkok didepannya, melepas cdnya dan menciumi tongkolnya dan menghisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya. “Aah Nes, kamu pinter banget bikin aku nikmat”, erangnya. “aaaduuuuuhh…. Nes….. enak banget emutanmu”. tongkolnya kujilati seluruhnya kemudian kumasukkan ke mulutku, kukulum dan kuisep2. Kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan tongkolnya di mulutku. Akhirnya dia gak tahan lagi. Aku dibaringkannya diranjang. Sambil terus meremas2 toketku tangan satunya nyelip ke balik cd bikiniku yang g string itu. Otomatis pahaku mengangkang, sehingga dia dengan mudah mempermainkan jembutku yang lebat. “Mas, geli”, erangku. “geli apa nikmat Nes”, tanyanya. “Dua2nya mas, Ines di***** dong mas, udah kepengin banget nih”, kataku to the point. Tangannya menyusup ke punggungku sambil mengecup bibirku. Tali pengikat braku ditariknya sehingga toketku membusung menantang untuk diremas dan dikenyot pentilnya, tanpa penutup lagi. Ikatan CD bikiniku ditariknya dengan mulutnya sehingga lepaslah semua penutup tubuhku yang minim. “Nes kamu napsuin banget deh”, katanya. DIa langsung saja menindihku. tongkolnya diarahkan ke belahan memiawku yang sudah basah dan sedikit terbuka, lalu dia menekan tongkolnya sehingga kepala tongkolnya mulai menerobos masuk memiawku. Aku mengerang keenakan sambil memeluk punggungnya.Dia kembali menciumi bibirku. Lidahnya menjulur masuk mulutku lagi dan segera kuisep2. sementara itu dia terus menekan pantatnya pelan2 sehinggga kepala tongkolnya masuk memiawku makin dalam dan bless…… tongkolnya sudah masuk setengahnya kedalam memiawku. “Aah, tongkol mas nikmat banget mas”, erangku sambil mencengkeram punggungnya. Kedua kakiku kulingkarkan di pinggangnya sehingga tongkol besarnya langsung ambles semuanya di memiawku. “Mas, ssh, enak mas, terusin”, erangku. Aku menggeliat2 ketika dia mulai mengeluarmasukkan tongkolnya di memiawku. Aku mengejang2kan memiawku meremes2 tongkolnya yang sedang keluar masuk itu. “Nes, nikmat banget empotan memiaw kamu”, erangnya. Dia memelukku dan kembali menciumi bibirku, dengan menggebu2 bibirku dilumatnya, aku mengiringi permainan bibirnya dengan membalas mengulum bibirnya. Terasa lidahnya menerobos masuk mulutku. Dia mengenjotkan tongkolnya keluar masuk makin cepat dan keras, aku menggeliatkan pinggulku mengiringi keluar masuknya tongkolnya di memiawku. Setiap kali dia menancapkan tongkolnya dalam2 aku melenguh keenakan. Terasa banget tongkolnya menyesaki seluruh memiawku sampe kedalem. Karena lenguhanku dia makin bernapsu mengenjotkan tongkolnya. Gak bisa cepet2 karena kakiku masih melingkar dipinggangnya, tapi cukuplah untuk menimbulkan rangsang nikmat di memiawku. Kenikmatan terus berlangsung selama dia terus mengenjotkan tongkolnya keluar masuk, akhirnya aku gak tahan lagi. Jepitan kakiku di pinggangnya terlepas dan kukangkangkan lebar2. Posisi ini mempermudah gerakan tongkolnya keluar masuk memiawku dan rasanya masuk lebih dalam lagi. Tidak lama kemudian aku memeluk punggungnya makin keras “Mas, Ines mau nyampe mas”. “Kita bareng ya Nes”, katanya sambil mempercepat enjotannya. “Mas, gak tahan lagi mas, Ines nyampe mas,aakh”, jeritku saking nikmatnya. Kakiku kembali kelingkarkan di pinggangnya sehingga tongkolnya nancep dalam sekali di memiawku. memiawku otomatis mengejang2 ketika aku nyampe sehingga bendungan pejunya bobol juga. “Akh Nes, aku ngecret Nes, akh”, dia mengerang sambil mengecretkan penjunya beberapa kali di memiawku. Dengan nafas yang terengah engah dan badan penuh dengan keringat, aku dipeluknya sementara tongkolnya masih tetep nancep di memiawku. aku menikmati enaknya nyampe. Setelah gak ngos2an, dia mencabut tongkolnya dari memiawku.tongkolnya berlumuran lendir memiawku dan pejunya sendiri. Dia berbaring disebelahku. “nes, kamu nikmat banget deh kalo di*****. Kamu yang paling nikmat dari semua abg yang pernah aku *****”, katanya sambil mengelus2 pipiku. “makanya Ines tinggal sama mas aja ya, biar mas gak usah repot cari abg kalo pengen ng*****. Udah tersedia di rumah”, kataku sambil tersenyum. Dia diam saja.
Hari sudah gelap ketika kami selesai ng*****. Aku merasa lapar lagi,padahal tadi menjelang sore baru makan. “Mas, Ines laper lagi mas”, kataku. “Iya Nes, aku juga laper lagi nih, abis kerja keras sih”, jawabnya. “Mandi yuk” ajaknya. Kami bercanda-canda di kamar mandi seperti anak kecil saling menggosok dan berebutan sabun, dia kemudian menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Aku duduk dipangkuannya dan tangannya mengusap2 pahaku. “Kamu cantik sekali, Nes”, rayunya. Tangannya pidah ke bukit memiawku mempermainkan jembutku yang lebat. Dia bisa melakukan itu karena aku mengangkangkan pahaku. Tangannya terus menjalar ke atas ke pinggangku. “geli mas”, kataku ketika tangannya menggelitiki pinggangku. Aku menggeliat2 jadinya. Segera tangannya meremes2 toketku.”toket kamu besar ya Nes, kenceng lagi”, katanya. “mas suka kan”, jawabku. “ya Nes, aku suka sekali setiap inci dari tubuhmu”, jawabnya sambil terus meremes2 toketku. DIa kemudian mencium bibirku. Akhirnya usailah kemesraan di kamar mandi. Kami saling mengeringkan badan, berpakaian - aku mengenakan pakaian yang dibelikannya tadi. “bagus gak mas”, kataku memamerkan pakian baruku. “Bagus Nes, kamu pake apa juga bagus, kamu cantik banget sih”. jawabnya. “Kalo gak pake baju mas”, kataku lagi. “lebih bagus lagi, napsuin”, jawabnya. “Makan yu”. Kami keluar kamar sambil berpelukan, mencari tempat yang romantis untuk makan malam. Sehabis makan, kami jalan2 untuk mennikmati suasana malam di singapore. Hampir tengah malem baru balik ke hotel.
Di kamar, aku kembali mengenakan bikiniku yang lain, dia sudah berbaring diranjang hanya mengenakan cd. tongkolnya yang belum aku apa2in sudah ngaceng berat, nongol keluar dari bagian atas cd minimnya.Aku menjatuhkan dirinya dipelukan dadanya yang bidang. Segera dia mengecup bibirku, beralih ke leherku dan kemudian turun ke toketku. Toketku diremes2nya, aku terengah, napsuku berkobar lagi. Braku disingkapkan sehingga pentilku nongol dan diemutnya.
Ikatan braku diuraikannya sehingga dia makin mudah meremas toket dan mengemut pentilku. Tangan satunya menjalar kebawah, menyelip ke balik cd bikiniku yang minim dan langsung menerobos lebatnya jembutku dan mengilik2 itilku. “aakh mas, pinter banget ngerangsang Ines”, erangku. Aku mengangkangkan pahaku supaya kilikannya di itilku makin terasa. Kilikan di itilku membuat aku makin liar. Tanganku mencari tongkolnya, kuremes dan kepalanya yang nongol kukocok2. Aku bangkit dari pelukannya dan membuka cdnya. tongkolnya langsung tegak berdiri dengan kerasnya. tongkolnya kuraih, aku jilati. Pertama cuma kepalanya aku masukkan ke mulutku dan kuemut2. Dia meraih pantatku dan menarik aku menelungkup diatasnya. Ikatan cdku dilepasnya sehingga terpampanglah memiawku di depan mukanya. Dia mulai menjilati memiawku,aku menggelinjang setiap kali dia mengecup bibir memiawku. Dengan kedua tangannya, dia membuka memiawku pelan2, terasa lidahnya menjulur menjilati bagian dalam bibir memiawku.
Aku melepaskan emutanku di tongkolnya dan mengerang hebat, “Mas aakh”. Pantatku menggelinjang sehingga mulutnya melekat erat di memiawku. “Terus mas aakh”, erangku lagi, kemudian terasa itilku yang mmnjadi sasaran berikutnya, aku makin mngerang keenakan. memiawku makin kebanjiran lendir yang terus merembes, soalnya aku udah napsu banget. Cukup lama dia mengemut itilku dan akhirnya “Mas, Ines nyampe mas, aakh”, erangku. “Mas nikmat banget deh, belum di***** udah nikmat begini maas”. Aku memutar badanku kesamping dan berbaring disebelahnya. Dia bangun dan mencium bibirku. Dia mengambil soft drink dan diberikannya kepadaku. Aku minum sedikit untuk meredakan napasku yang ngos ngosan. Kemudian aku dinaikinya, ditancapkannya tongkolnya kememiawku dan didorongnya masuk pelan2, “Mas, enak, masukin semuanya mas, teken lagi mas, akh”, erangku merasakan nikmatnya tongkolnya nancep lagi di memiawku. Dia mengenjotkan keluar masuk, ketika tongkolnya sudah nancep kira2 separonya, dia menggentakkan pantatnya kebawah sehingga langsung aja tongkolnya ambles semuanya di memiawku. “Mas, aakh”, erangku penuh nikmat.Dia mengenjotkan tongkolnya keluar masuk makin cepet, sambil menciumi bibirku sampe akhirnya, “Mas, Ines nyampe mas, ooh”, aku mengejang2 saking nikmatnya. memiawku otomatis ikut mengejang2. Dia meringis2 keenakan karena tongkolnya diremes2 memiawku dengan keras, tapi dia masih perkasa. Kemudian dia mencabut tongkolnya dan minta aku nungging. Dia menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilati dan mengusapi pantatku. Mulutnya terus merambat ke selangkanganku. Aku mendesis merasakan sensasi waktu lidahnya menyapu naik dari memiawku ke arah pantatku. Kedua jarinya membuka bibir memiawku dan dia menjulurkan lidahnya menjilati bagian dalem memiawku. Aku makin mendesah gak karuan, tubuhku menggelinjang. Ditengah kenikmatan itu, dia dengan cepat mengganti lidahnya dengan tongkolnya. Aku menahan napas sambil menggigit bibir ketika tongkol besarnya kembali nancep di memiawku. “Mas”, erangku ketika akhirnya tongkolnya ambles semuanya di memiawku. Dia mulai mengenjotkan tongkolnya keluar masuk, mula2 pelan, makin lama makin cepat dan keras. Aku kembali mendesah2 saking enaknya. Toketku diremes2nya dari belakang, tapi enjotan tongkolnya jalan terus. Ditengah kenikmatan, dia mengganti posisi lagi, dia duduk di sofa dan aku duduk dipangkuannya membelakanginya. tongkolnya sudah nancep semuanya lagi di memiawku. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu menolehkan kepalaku sehingga dia langsung melumat bibirku. Aku semakin cepat menaik turunkan badanku sambil terus ciuman dengan liar. Tangannya gak bosen2nya ngeremes toketku. Pentilku yang sudah keras itu diplintir2nya. Gerakanku main liar saja, aku makin tak terkendali menggerakkan badanku, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga tongkolnya nancep dalem banget. “Mas, Ines dah mau nyampe lagi mas, aduh mas, enak banget”, erangku. Tau aku udah mau nyampe, dia mengangkat badanku dari pangkuannya sehingga tongkolnya yang masih perkasa lepas dari memiawku. “Kok brenti mas”, tanyaku protes. Aku ditelentangkan lagi diranjang, aku dinaikinya dan kembali ditancepkannya tongkolnya kedalam memiawku. Dengan sekali enjot, tongkolnya sudah ambles semuanya. Dia mulai mengenjotkan tongkolnya keluar masuk dengan cepat. memiawku mulai berkontraksi, mengejan, meremes2 tongkolnya, tandanya aku dah hampir nyampe. Dia makin gencar mengenjotkan tongkolnya, dan “Mas, Ines nyampe mas, akh”, jeritku. Diapun merasakan remesan memiawku karena nyampe. enjotannya makin cepat saja sehingga akhirnya, “Nes…” dia berteriak menyebut namaku dan terasa pejunya ngecret dengan derasnya di memiawku. “Mas, nikmat banget ya malem ini, lagi mas”, tanyaku. “istirahat ya Nes, besok aku kan mesti ke Johor Baru, nanti letoy”, jawabnya. Dia mencabut tongkolnya dan terkapar disebelahku. Tak lama kemudian aku terlelap karena lemes dan nikmat.
Aku terbangun karena sinar matahari yang menerangi kamar. Dia ternyata sudah rapi dan membangunkanku dengan membuka tirai jendela. “Enak bener tidurnya Nes, aku udah mau pergi. Di amplop ada Sing dollar, terserah kamu mau pake buat apa, ikut tur, belanja lagi, makan atau apa saja deh. Nanti aku kabari apakah aku pulang malem ini atau besok, ya sayang”, katanya sambil mencium pipiku. “Yah kalo mas gak pulang malem ini, Ines ngapain dong”, jawabku merajuk. “Ya kamu bikin kegiatan sediri aja, tadi malem kan udah sampe lemes ng*****nya. Kalo gak sempet ng***** lagi di hotel, di jakarta kan juga masih banyak kesempatan”, katanya menghiburku. “Udah ya, aku pergi dulu”. Diapun meninggalkan kamar. Aku masih terbaring bermalas2an di ranjang. Walaupun aku masih bertelanjang bulat, dia tetap saja pergi berbisnis tanpa mencolek2 aku pagi ini. Ya udah mau apa lagi kan, dinikmati saja, apalagi dia meninggalkan sejumlah uang yang tidak sedikit. Aku masih terkapar beberapa lama di ranjang, kemudian aku mandi dan turun ke coffee shop untuk makan pagi. Di coffee shop aku terpesona melihat pemandangan di kolam renang, kolam dengan air yang membiru dan dikelilingi pepohonan rindang sehingga teduh sekali di sekitar kolam renang. Saat itu kolamnya masih sepi. Timbul ide ku untuk bermalas2an di kolam renang saja. Aku kembali kekamar, mengenakan bikiniku yang tidak terlalu minim untuk menyembunyikan jembutku agar tidak terlalu ngintip keluar, aku mengenakan sarung dan turun lagi ke kolam renang. Aku memilih tempat yang strategis sehingga dapat mengawasi seluruh kolam, pesan minuman dan berbaring saja didipan, sarung kulepaskan. Aku mengenakan kacamata hitam. Pesanan minumanku datang dan langsung kucicipi. Kemudian aku hanya berbaring saja melamun, lama2 kantuk kembali menyerangku, sehingga tanpa terasa aku tertidur lagi. Tidak tau berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena ada suara yang menggeser dipan disebelahku. Aku melihat ada cowok bule ganteng banget dan badannya kekar. Ngantukku langsung hilang melihat ketampananannya. Walaupun wajahnya bule, tapi kulitnya gak putih tapi agak kecoklatan dan rambutnya hitam. Dia cuma pake celana pendek gombrong. Dadanya telanjang dan berbulu.
“Sori, aku mengganggu tidurmu?”, tanyanya sambil tersenyum. “Namaku Mike, kamu?”. Dia bicara bahasa Inggris. Aku membuka kacamataku, mataku masih memperlihatkan keterpesonaannku. Dia hanya tersenyum kutatap seperti itu. “Bisa cakap Melayu?” tanyaku. “Bisa, walaupun tidak lancar. Ayahku orang Inggris dan ibuku orang Malay. Aku tinggal di KL dan berada di Singapore untuk satu urusan. Kamu sendiri?”, jawabnya sambil bertanya. “Aku Ines, Temanku sedang ke Johor Bahru untuk bisnisnya. Dia baru pulang nanti sore kalo urusannya selesai, kalo belum ya besok”, jawabku. “Kasian sekali, ke Singapore tidak ada kawan. Boleh aku temani?” tanyanya lagi. “Dengan senang hati”, jawabku. “Ines, kamu cantik dan seksi sekali”, katanya memuji. “Aku suka sekali sama prempuan Malay, kulitnya tidak putih dan montok2″, katanya sambil tersenyum. Kami terlibat dalam obrolan yang seru,ngantukku langsung hilang. Tanpa terasa sudah menjelang siang. Dia mengajakku makan siang, “pesan saja dan kita makan di sini, OK?” tanyanya. “OK”, jawabku. Kami pesan makanan dan terus ngobrol sampai pesanan makanan datang. Selesai makan, dia mengajakku nerusin ngobrol di kamarnya. Aku sudah menduga apa maksudnya. Aku mengiyakan saja, memakai sarungku dan mengikuti dia naik kekamarnya.
Di kamar,dia berbaring diranjang dan aku duduk disebelahnya. “Nes, aku napsu sekali liat badan kamu”, katanya terus terang. Langsung kulirik daerah tongkolnya, kelihatannya sudah mulai ngaceng karena kelihatan ngegelembung. Dia mengelus2 punggungku, terus tangannya pindah mengelus pahaku, merayap makin dalam sehingga menggosok memiawku dari luar CD bikiniku. Aku mengangkangkan pahaku sehingga jarinya menggosok2 belahan memiawku, tetap dari luar cd. “Ssh Mike”, erangku. “Nes, kamu maukan ng***** dengan aku”, tanyanya sambil tersenyum, jarinya terus saja mengelus belahan memiawku dari luar. Dia mulai menjilati pahaku, jilatannya perlahan menjalar ketengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei ketika kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir cd bikiniku yang disingkirkan dengan jarinya lalu menyentuh bibir memiawku. Bukan hanya bibir memiawku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang memiawku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya napsuku.
Sesaat kemudian, dia menarik lepas ikatan cd bikiniku. Matanya seperti mau copot melihat memiawku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Dia mendekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi jembut yang lebat. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke toketku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas toketku dengan gemasnya. “Nes, toket kamu besar dan keras. Jembut kamu lebat sekali, pasti napsu kamu besar ya” tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik. Aku hanya terdiam dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Dia makin getol, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus memiawku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas toketku dengan pentil yang sudah mengeras. Aku merasakan tongkol keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Dia kelihatan sangat bernafsu melihat toketku yang montok itu, tangannya
meremas-remas dan terkadang memilin-milin pentilnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leherku, terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai kecupan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada toketku mengencang atau jarinya mengebor memiawku lebih dalam.
Kecupannya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengan gemas. Dia bergerak lebih cepat dan melumat bibirku. Mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi, aku memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berciuman, dia melepaskan dekapannya dan melepas kolor celana pendeknya. Maka menyembullah tongkolnya yang
sudah ngaceng dari tadi. Aku melihat takjub pada tongkol yang begitu besar dan berurat, belum pernah aku melihat tongkol sebesar dan sepanjang tongkolnya. Ini tongkol terbesar dan terpanjang yang pernah kulihat. Kebayang besarnya kenikmatan yang akan aku dapatkan kalo tongkol extra besar itu keluar masuk di memiawku. Akupun pelan-pelan meraih tongkolnya, ya ampun tanganku tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya. “Ayo Nes, emutin tongkolku” katanya. Kubimbing tongkol dalam genggamanku ke mulutku , uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain mengemut tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati biji pelirnya. “Uaahh.. ennakk banget, kamu udah pengalaman yah” ceracaunya menikmati emutanku, sementara tangannya yang bercokol di toketku sedang asyik memelintir dan memencet pentilku. Tangan kanannya tetap saja mempermainkan memiaw dan itilku. Aku menggelinjang gak karuan, tapi tongkolnya tetap saja aku emut. Aku hanya bisa melenguh tidak jelas karena mulutku penuh dengan tongkolnya yang besar. “Nes, kita mulai aja ya. Aku udah gak tahan nih pengen menikmati memiaw kamu”, katanya. Dia menelentangkanku, ikatan braku dilepasnya dengan sekali tarikan. Dia mengambil posisi ditengah kangkanganku, tongkolnya yang besar dan keras diarahkannya ke memiawku yang sudah makin basah. Aku menggeliat2 ketika kurasakan betapa besarnya tongkol yang menerobos masuk memiawku pelan2. memiawku berkontraksi kemasukan tongkol gede itu. “nes, memiaw kamu peret banget”, katanya sambil terus menekan masuk tongkolnya pelan2. “abis tongkol kamu besar sekali. memiaw Ines belum pernah kemasukan yang sebesar tongkol kamu, masukin terus Mike, nikmaat banget deh rasanya”, jawabku sambil terus menggeliat. Setengah tongkolnya telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh tongkolnya telah ada di dalam memiawku. Aku hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja karena sedang mengalami kenikmatan tiada tara. Dia mulai mengenjotkan tongkolnya keluar masuk dengan pelan, makin lama makin cepat karena enjotannya makin lancar. Terasa memiawku mengencang meremas tongkolnya yang nikmat banget itu. Tangannya mulai bergerilya ke arah toketku. ToketKu diremas perlahan, seirama dengan enjotan tongkolnya di memiawku. Aku hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, Pinggulku mengikuti goyangan pinggulnya. tongkolnya terus saja dikeluar masukkan mengisi seluruh relung memiawku. Sambil mengenjotkan tongkolnya, dia mengemut pentilku yang keras dengan lembut. Dimainkannya pentil kanan dengan lidahnya, namun seluruh permukaan bibirnya membentuk huruf O dan melekat di toketku. Ini semua membuat aku mendesah lepas, tak tertahan lagi. Dia mulai mempercepat enjotannya. Aku makin sering menegang, dan merintih, “Ah… ah…” Dalam enjotannya yang begitu cepat dan intens, aku menjambak rambutnya, “Aaahhh Mike, Ines nyampee,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulutku. Aku udah nyampe. Tanganku yang menjambak rambutnya itu pun terkulai lemas di pundaknya. Dia makin intens mengenjotkan tongkolnya. Bibirku yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun dilumatnya, dan aku membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kanannya tetap berada
ditoketku, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan pentilku. Terasa memiawku mencengkeram tongkol gedenya. “Uhhh,” dia mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, tongkolnya menghujam keras ke dalam memiawku, mengiringi muncratnya pejunya. Tepat saat itu juga aku memeluknya erat sekali, mengejang, dan menjerit, “Aahhh”. Kemudian pelukanku melemas. Aku nyampe untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ngecretnya pejunya. Setelah dengusan napas mereda, dia mencabut tongkolnya dari memiawku dan terkapar disebelahku. “Mike, tongkol kamu lemes aja udah gede, gak heran kalo ngaceng jadi gede banget. Bener kata temen Ines, makin gede tongkol yang masuk, makin nikmat rasanya”, kataku. “memangnya tongkol yang biasanya masuk ke memiaw kamu kecil2 ya Nes”, tanyanya. “Gede2 sih