peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

Koleksi nano 1 - cerita.dewasa.3



Koleksi nano 1
Koleksi nano79 - 30 stories
Baby Siter


Aku pernah kost disebuah rumah mewah di Makassar, pemilik rumah tergolong elite dan termasuk sibuk dengan bisnisnya. sedangkan si isteri kerja disalah satu bank swasta.

Suatu hari setelah 1 bulan si nyonya melahirkan panggilannya mBak Wulan, maka datanglah seorang baby sitter yang melamar pekerjaan sesuai iklan dari koran, setelah bercakap-cakap dengan wulan, maka baby sitter tsb yang bernama Ani diterima sebagai pengasuh bayi mereka.

Aku pandangi terus itu baby sitter, wah…setelah pakai baju putih kelihatan sexy banget, guratan celana dalamnya tampak samar-samar….

esoknya, ketika aku mau berangkat kekantor, tiba-tiba ibu kost ku mengenalkan si ani kepadaku, sekilas kulihat buah dadanya yang terbungkus bajuputih dibalik BH wow…seru…kira-kira 36 lah..

Si Ani berumur sekitar 40 tahun, sedangkan ibu kost ku (ibunya si bayi baru sekitar 26 tahun, suaminya kira-kira 30 tahun). Bang…totlong ya..ikut awasin rumah karena ada penghuni baru ( maksudnya baby sitter) sementara aku sudah harus masuk kerja lagi, maklum kerja di swasta cutiku melahirkan cuma 1 bulan, ucapnya kepada ku…

Baik mBa, saya jagain lah…

setelah sekitar 1 minggu si Ani tinggal di rumah kost bersama aku dan pemilik rumah, aku mulai curiga dengan gerak-gerik suami wulan beberapa hari terakhir ini, Aku sering melihat dari sela pintu kamar kost ku, sang suami panggilannya mas Adi suka mencuri pandang badan si Ani yang sedang ngurus bayi di Box bayi, tentunya badannya membungkuk posisi hampir nungging sehingga guratan CD nya semakin tampak jelas dan bentuk pinggul serta betis yang bikin mupeng semua laki-laki, ternyata di usia 40 tahun, si Ani justru bikin gairah lelaki meningkat.

Suatu hari, wulan tidak pulang, dia tugas ke jakarta untuk 3 hari, mas adi kelihatannya seneng banget ditinggal isterinya, semakin saja dia menggoda si Ani, dan sempat mengelus punggung si ani sambil berkata ” emh kasihan mbak ya…kok masih cantik jadi janda…” si Ani cuma menjawab ” ya nasib mas…” sambil tersenyum. aku terus mengintip dari celah pintu kamar kost ku apa yang dilakukan mas adi, dia mulai melakukan jurusnya karena sudah ber bulan2 tidak ketemu lobang vagina wulan, maklum hamil besar dan baru melahirkan.

” mbak ani anaknya berapa? tanya mas adi, 1 mas…jawab Ani. sudah berapa tahun menjada..? tanya adi lagi, yah sudah 3 tahunan lah mas…. jawab Ani.

Mas Adi duduk di sofa dekat box bayi anaknya, sementara tangan kanannya mulai menggosok-gosok batang kemaluannya dibalik training spak yang dia gunakan, sementara si Ani masih tetap membungkuk membelakangi mas adi memberi susu botol kepada sang bayi.

Tiba-tiba terdengar suara mas adi memanggil aku,seakan mengajakku untuk nonton TV seperti biasanya, aku pura-pura tidur dengan pintu tetap ku buka satu senti untuk mengintai apa yang terjadi, lalu mas Adi manggil si-mbok pembatunya yang sudah diatas 50 tahun, ya…den..kata simbok, bikinkan saya kopi terus mbok tidur aja ya istirahat, ya..den…jawab simbok. setelah kopi dihidangkan, kembali Adi menggosok-gosok batang penisnya dibalik training spaknya, aku terus mengintai dengan lampu kamar yang aku matikan, setelah si bayi tertidur, adi ngajak ani untuk duduk disofa sambil lihat TV, si Ani menolak, malu mas…kata si Ani, gak apa-apa ….kata Adi, kamu kan ngerti dong saya sudah 3 bulan tidak bersentuhan dengan wanita, sini…..ajak adi lagi. dengan ragu-ragu si Ani mulai duduk dilantai dekat sofa tempat adi duduk, aku semakin nilik-nilik mereka, Ani…sususmu kok masih kencang ya…ucap Adi, ah…masa mas, masih bagus punya mbak wulan dong…jawab Ani, kenapa mas bilang begitu…? tanya Ani. ah…enggak cuma pingin tau aja kalau susu yg sudah pernah di isep bayi berubah bentuk atau tidak…? kilah Adi. ya..tergantung perawatan…kata Ani. boleh aku raba susumu ni…tanya adi. ah…jangan mas…saya kan sudah tua, juga saya malu….jawab Ani. aku mulai yakin pasti jurus si Adi mengena. sini geser duduknya…kata adi, ah…sudah disini saja mas… kata ani.gak apa-pa…sini… saya penasaran dengan susu yang sudah di isep bayi, pingin lihat…kata adi lagi, jangan mas ah… malu, nanti mbak wulan tau aku dimarahin… kata ani, tidak ada yang tau, semua sudah tidur. kata adi, lalu adi menarik lengan si Ani, dan mulai meraba susu ani denga halus, si ani kelihatan berigidig-an, adi terus gencar berusaha memegang susu ani, sementara ani terus menangkis tangan adi, ketika si ani sibuk menangkis tangan adi, aku melihat kedua paha si Ani yang kadang terkangkang karena sibuk menangkis tangan adi, wow…mulus pahanya, aku mulai jreng juga, karena ruang tengah cukup terang sehingga sering banget aku melihat CD ani yang berwarna ungu muda, dan gundukan vagina dibalik CD yang begitu menggiurkan membuat aku jadi keasyikan nonton dar celah pintu kamar.

akhirnya si Ani menyerah di tangan Adi, dan membiarkan tangan adi meng-griliya susunya, dan si ani pun mulai kegelian sehingga pahanya semakin jelas kulihat karena ani sudah tidak kontrol cara duduknya.

aku mulai terangsang melihat tangan adi dibalik baju putih ani bergerak-gerak, kebayang empuk dan halus susu yang sedang diobok. penis ku mulai tegang, si Ani semakin meringis dengan sesekali membungkukkan punggunya, kegelian. adi mulai memetik kancing baju si ani, maka terlihat susu si ani dibungkus BH warna merah jambu karena si Ani menghadap kamarku dan Adi dibelakang si ani. tangan adi kemudian mengeluarkan sebelah susu Ani dari BHnya, aku semakin tegang karena aku melihat susu yang begitu mulus, puntingnya coklat muda, bahkan aku lebih terfokus ke celah paha si Ani yang sudah semakin jelas karena rok putihnya sudah sediki demi sedikit tersingkap. kelihatannya si Ani sudah mulai terangsang karena aku melihat bagian celah vagina pada CD si ani sudah mulai berwarna ungu tua, berarti sudah basah. ketika si Ani agak bergeser duduknya aku melihat tangan Adi yang kiri memegang penisnya yang sudah tegang banget, sementara tangan kanannya mulai meremas halus susu Ani, kelihatannya adi bukan pemain sex brutal, dia mempermainkan susu si Ani begitu lembut sehingga si Ani mulai mendesah dan tangannya mulai mencengkram tangan Adi yang sedang mengelus susu nya.

sudah mas…aku sudah gak tahan…kata si Ani. aku juga sudah gak tahan Ni…kata si Adi, bantu saya dong Ni…saya pingin keluarkan Sperma yang sudah mengental nih….kata adi dengan nada merayu…jangan mas…aku gak mau, takut hamil….kata ani. tidak ni…kita jangan bersetubuh, saya gesek aja ya di antara celana dalam dan vagina mu….rayu adi, si ani pun sudah kelihatan sangat terangsang, tapi dia tidak menjawab. sementara aku sudah semakin tegang aja nih si ujang…dibalik pintu.

adi akhirnya turun dari sofa, dan duduk disebelah si Ani di atas karpet, tangan adi mulai mengarah ke vagina si Ani, kembali si Ani meronta, jangan mas…nanti aku gak tahan…kata si Ani, tenang aja…nanti kita sama-sama enak…kata Adi sambil mulai mengelus CD pas di vagina si ani , ani mulai kelihatan kejang-kejang kedua kakinya merasakan nikmat, adi terus mengelus vagina ani dari luar CDnya sementara bibirnya mulai menciumi susu kiri si ani, adegan ini terus berlangsung sekitar hampir 10 menit, kemudian adi melepas training spaknya, dan kelihatan ujang nya si adi yang sudah tegak lurus, tapi si Ani malah membuang pandangannya ke TV, lalu Adi menyingkap rok putih Ani semakin keatas, dan si Ani direbahkan dikarpet, jangan mas…kata si Ani. nggak kok cuma mau dijepitin diantara CD dan Vagina kamu…gak dimasukin kok…kata Adi sambil terus menggosok penisnya. janji ya..mas…kata Ani. bener kok saya janji kata Adi, kemudian adi berbaring disebelah kiri si Ani, dan benar saja, adi julai menaiki separuh badan ani dan paha sampai kaki kirinya adi menindih paha dan kaki kiri si ani dan penis adi diselipkan dari samping CD basahnya ani dekat pangkal paha Ani sementara si Ani tetap terlentang, aku mulai gak tahan lihatinnya, akupun mulai meraba-raba penis ku, terus adi mulai mengesek-gesekan penisnya diantara CD dan Vagina Ani secara perlahan, ani mulai kelihatan menikmati, sambil mengisap punting susu si ani yang sebelah kiri dan meremas susu ani yang sebelah kanan adi terus menggesek penisnya dicelah CD dan Vagina si Ani, ani mulai mengerak-gerakkan pinggulnya keatas kebawah mengikuti gerakan Adi, aku yakin bahwa kelentitnya si ani sudah tersentuh oleh ujung penis si adi, aku pun tambah terangsang melihatnya, aku mulai mempercepat kocokan tangan di penisku, dadaku terasa semakin dag-dig-dug….semakin lama si Adi semakin mempercepat gerakannya, terus menggesek vagina si ani dengan penisnya yg sudah semakin keras, dan si ani pun mulai mengeluarkan suara desahannya, mas…mas…mas…aduh geli sekali…mas….aduuuuh… enak sekali mas….lirih si Ani, tekan sedikit mas…biar ujung nya kena anuku…..

adi mulai merubah gerakannya, dari menggesek menjadi agak menekan vagina si ani, tangan kanan si ani mencengkram tangan adi yg sedang meremas susu kanannya, berarti si ani sudah begitu menikmati gesek-tekan penis si adi. teruuuus… mas…aku nikmat sekaaaaali…. desah si ani.

iyaaa…saya juga Ni….nikmat sekali, punyamu begitu licin dan hangat….adi terus melakukan gesek-tekan…hingga kurang lebih 15 menit.

sudah mau keluar…nih…kata si Adi dengan suara tersendat-sendat, jangan keluarkan dulu mas….tahaaaann…tahan….kata si ani sambil terus menggerakan pinggulnya…..aduuuh…mas…saya mau keluar juga mas…..kata si ani (maksudnya mau orgasme). mas..masukin sedikit ujungnya….kata si ani memohon, terus adi agak menaikin lagi tubuh si ani hampir menindihnya, dan tangan kanannya menuntun penis menuju lubang vagina si ani, dan ah…aaaahh…jangan dimasukin semua mas…aku lebih geli kalau ujungnya saja….kata si ani.

adi terus menggesek-tekan, dan kelihatan si adi mulai menekan-nekan pantanya dan si ani semakin bergoyang kekiri dan kekanan dan kadang-kadang menaikan pinggulnya keatas..lalu ani mulai agak menjerit kecil…Mas…aku mau keluar mas….

ya..ya…keluarkan saja ni…biar tambah licin sahut si Adi…

Tidak terasa penis ku juga mulai mengeluarkan cairan kental sedikit diujungnya….aku terus menyaksikan gesekan penis adi di celah antara CD dan Vagina si Ani, pinggul ani semakin cepat bergerak keatas kebawah, bahkan sesekali diangkatnya cukup tinggi…dan…ah..aaaahh…aaaaaaaahhh….mas aku ke..ke..ke…luaaaaarr…mas….ah….aduuuuuh…m as enak sekaliiiiii……

aku juga ni….aku juga mau keluar…ni…sambil semakin memepercepat gerakan gesek-geseknya, …aduhh..ni…saya keluar ni….oh…oh…oh….adi menyentak-nyentakkan gesekannya sampai lebih dari 3 kali, aduuuh…mas….hangat sekaliiiii….mas.., gerakan adi mulai semakin pelan dan akhirnya adi tertelungkup diatas badan si Ani.

akupun mulai terasa gatal diujung penis ku…dan akh….croooot…croooot….sperma kupun muncrat ke daun pintu. aku jadi lemes..dan mulai aku berbaring di tempat tidurku sambil tetap membayangkan sejoli main adu gesek.

Sememtara Wulan belum tiba, kebetulan Adi tugas ke Manado, so…di rumah hanya tinggal siMbok, si Ani, si orok dan aku.

Saat si orok tidur, aku coba godain Ani, hem..ehem…Ni…kelihatannya kamu kesepian yah..ditinggal Mas Adi…? Tanyaku. Ah…enggaaaaakk…biasa aja…..jawab Ani sambil agak malu-malu.

Memangnya kenapa Mas….? Tanya balik Ani.

Kelihatannya kamu sama mas adi kok semakin mesra sih…? Tanya ku lagi.

Kasihaaannn..mas adi kan sudah lama…eh…maksud saya ditinggal mBak Wulan, gak apa-apa kok….jawab si Ani.

Aku mulai merasa si ani agak khawatir kalau aku mengetahui affairnya dengan Adi.

Sambil baca majalah dan nonton TV, aku pandangi badan si Ani. Mulai dari kulit lengan, susu, perut, bentuk pinggul, paha dan betis. Wow….memang segar dan cukup bikin mupeng, apalagi karena gak ada bos, si Ani gak pake baju Putih Seragam Baby Sitter, dia Cuma pakai baju tidur kulot dan blus bahan katun biasa, jadi aku bisa melihat samar-samar lekuk tubuh dan bayangan bra and CDnya.

Si Ani duduk dekat Box bayi sambil menggoyang box, sesekali dia curi pandang kepadaku seperti ada rasa cemas takut ketahuan affairnya. Dia agak gelisah. Dalam pikiranku, baikan di “selok” aja dech…..

Ni, aku mau pindah kost, kata ku…., lho kenapa mas…..kan Mas adi dan Mbak Wulan orangnya baik, dan Mas sudah diakui seperti keluarganya, juga ini rumah bagus dan harga kost nya katanya kekeluargaan…. Jawab si Ani.

Iya…Ni, tapi aku gak tahan lihatin kamu ama mas Adi, kok akrab banget…..kata ku.

Akrab gimana……? Tanya Si Ani agak ketus, ya lah….emang aku gak tahu kalau kamu sering tiduran di karpet ama mas adi, dan kalau gak salah kamu pernah jalan ama mas adi bawa bayi, ya kan….?

Si Ani gelagapan, dan dia langsung berdiri dari duduknya menghampiriku, aku melihat bentuk perut yang sudah agak kendur tapi malah terkesan sexy, kemudian dia duduk disebelahku. Dia bilang : Mas…tolong jangan bilang mBak wulan, aku kasihan mas Adi dan aku juga terpengaruh karena aku sudah lama tidak disentuh laki-laki, tolong ya mas…. Jawab si Ani memelas. Aku sementara pura-pura terus baca majalah tapi mata terkadang ngincer-ngincer juga tuh susu yang masih sintal dan kelihatan mulus walau baru tampak separuhnya karena tertutup BRA.

Ya…kamu harus ingat Ni, karena nila setitik rusak susu dua-dua-nya. Jawabku sambil godain. Yeee si mas, rusak susu sebelanga…ah…jawabnya sambil menyembunyikan malunya.

Ya…dua-dua-nya Ni…..kalau terus di-uwel-uwel mah….jawab ku.

Si ani mencubit perutku, ah..si mas bisa aja. Nih tak cubit…..hayoooo kapok…!!! Si Ani kayak yang greget campur kesel.

Tapi mas, walaupun bagaimana, aku belum pernah kok bersetubuh dengan mas Adi, yah….hanya sekedar begitu-begitu aja, yang penting mas Adi bisa “keluar”……bener mas aku gak bohong. Kata si ani agak serius.

Lho….sudah apa belum bagi saya gak masalah Ni, jawab ku.

Mas kok gitu sih….? Jawab si Ani sambil meraba-raba kedua susunya. Belum mas belum rusak nih…jawab si Ani sambil mengusap kedua susunya. Ya….percaya deh….jawabku. setelah terdiam beberapa saat lalu :

Ni…pijitin dong pundak saya, tadi saya main golf 18 hole, cukup capek juga…

Weee…maaf ya…aku bukan tukang pijat kok….jawab si Ani agak sengit.

Yah…sudah gak apa-apa, tapi saya juga bukan tukang yang pintar nyimpen rahasia lho…..jawab ku.

Eeeemmmm….si mas ngancam ya…..ya sudah sini, awas kalau ngomong mBak wulan…..jawab si Ani.

Aku duduk di karpet, sementara si ani berlutut dibelakangku, tangannya mulai pijitin pundak dan bahu bagian atasku, dan selang beberapa menit, aku merasa ada yg nempel hangat di punggungku, terasa empuk dan kenyal, aku tebak aja deh ini pasti perut si Ani, aku pura-pura gak merasa apa-apa walau sudah sekitar 10 menit. Lalu si Ani bertanya : mas kepalanya mau dipijit gak….., o…ya…iya Ni. Jawab ku, kemudian si Ani memijit kepala ku…wah enak banget lho Ni. Kamu kok pintar mijit sih…..

Ah..biasa aja mas jawab si ani.

Kemudian Aku merasakan ada yang agak lebih empuk lagi menekan dipunggungku, aku dah nebak deh…ini pasti pubis si Ani, gundukan daging antara perut dan vagina. Dia terus menekan…menekan..semakin terasa hangat dan empuk, aku merasakan kedua pahanya semakin menempel, dia menekan terus dan aku agak sedikit membungkuk sehingga punggung ku semakin menekan pubis nya.

Aduh…Ni. Yang dipijit kepala kok yang enak punggungku ….. terus Ni tekan lagi, kata ku. Ah si mas bisa aja…..mau ditekan lagi? Kata si ani.

Ya…iya…dong, si ani terus menekan-nekan pubisnya di punggungku.

Napasnyapun mulai terdengar mendesah, dan pijitan dikepalaku mulai melemah, tapi pijitan pubis di punggungku semakin terasa kuat.

Apanya yang enak mas…tanya si ani. Punggung ku enak banget Ni, punyamu begitu berdaging dan terasa hangat di punggungku, jawab ku. Sementara si ujang dibalik celana pendek ku mulai menegang dan si ani secara sengaja terus menekankan pubis nya dipunggung ku.

Aduh Ni. Punyaku jadi tegang Ni…….mau pegang nih….? Tanya ku.

Manaaaa….tanya si Ani. Nih….sudah mulai keras gara-gara punggung keenakan…. Jawab ku.

Iya…mas, kok tegang ya….tanya si Ani.

Aku juga gara-gara mas adi jadi sering cepet geli di anu ku. Aku jadi sering mudah terangsang, padahal sudah tahunan gak begini, kata si ani.

Ni, pijit aja punya ku…..tapi yang enak ya….

Tanpa bicara lagi si ani pindah duduk disebelahku, tangannya mulai masuk kesela celana pendekku, dia mulai meraba-raba dengan lembut penis ku, ah….mulai terasa geli, si ani meremas bagian helm penis ku, dipijit-pijit lembut yang membuat penisku terasa semakin geli dan nikmat sekali, oh….Ni, enak banget, teruuuus Ni, desah ku. Tanganku mulai menyusur kebalik Bra si Ani, perlahan ku elus lembut susunya, pelan-pelan ujung jariku menyusur terus hingga kerasa puting susu yang sudah mengeras tapi lembut kulitnya, aku elus terus susunya, sesekali agak ku remas lembut, si ani nafasnya mulai agak tersengal-sengal, aduuuuh…mas, sentuhan tangannya kok lembut banget, aku semakin nikmat mas….terus tangan kanan si ani membuka kaitan Bra bagian belakang, dan tangan kirinya masih terus memijit-mijit ujung penis ku.

Kemudian ku singkap blusnya dari sekitar perut agar dapat kuraih kedua susunya sementara bra dibukanya pelan-pelan melalui sela-sela lengan bajunya. Wah…benar aja, susunya masih mulus, walaupun sudah agak jatuh, namun kekenyalan dan kelembutan kulitnya masih seperti anak-ABG. Ku singkap terus keatas blusnya, punting susu si Ani yang kiri mengarah agak kesamping kiri dan yang kanan agak kesamping kanan, wah ini tanda susu yang masih berkelenjar bagus, walaupun agak turun tapi masih kencang. Isap mas….pinta si ani, perlahan kuisap lembut puntingnya, mulai dengan isapan perlahan lama-lama isapanku semakin kuat sehingga si Ani menjerit perlahan Aaaahhh……aduh mas….kok enak sekali….teruuuus…mas….

Kuisap puntingnya pelan-pelan tapi nyelekit, hingga si ani terbaring karena tak kuat menahan nikmatnya isapan ku. Dan akupun membaringkan tubuhku di karpet, sementara aku terus mengisap punting susunya, si ani mengambil posisi diatas ku dan mulai menempelkan vaginanya ke penis ku, dia masih mengenakan kulot tipisnya, dia tekan vaginanya ke penisku, terasa badan si ani agak bergetar ketika dia tekan vaginanya ke penisku, aku merasakan begitu empuk dan hangatnya daging vagina si Ani, aku merasakan semakin geli di penisku, kemudian si ani mulai menggerakan pinggulnya sehingga tekanan berubah jadi gesekan-gesekan yang perlahan tapi serasa ujung penisku mulai nyelip dibelahan vaginanya walaupun masih terbungkus kulot dan CD, tanganku mulai meraba buah pantatnya dengan menyusurkan tangan diantara celana kulotnya, wah…..lembut dan empuk, pantatnya bukan kencang tapi empuk, kulitnya masih halus. Aku mulai menyelipkan tanganku kesela CD bagian pantanya, aku mulai meraba halusnya pantat si Ani, ketika pantatnya ku elus, si ani malah semakin menekan gesekan vaginanya ke penisku, aku yakin “G-spot” si Ani disekitar pantatnya, kemudian elusan dipantat si ani ku coba rubah dengan pijitan-pijitan ujung jari ku, ternyata si ani semakin terangsang semakin mengesek agak cepat….dan oh….oh….oh….mas….aku mau keluar mas…….mendengar rintihan si Ani, aku bantu proses keluar nya si ani, aku tekan pantatnya dengan kedua tanganku agar vaginanya semakin keras menekan penisku, dan aaaaahhh…aaahhh…seeeeepp..seeeppppp…seperti kepedasan makan lombok, maaaasss…..aku keluar mas…..ah…aaaahhh….si ani seperti setengah menangis, terasa dipenisku vaginanya berdenyut-denyut beberapa kali, sementara dia menekan susu kirinya ke dadaku, dia terus merintih…mendesah….kemudian denyutan vaginanya terasa lagi, nyut..nyuut…nyut…

wah si Ani mengalami orgasme panjang nih…pikir ku.

Kemudian sejenak si ani merebahkan tubuhnya di atas tubuhku, sekitar kira-kira belum semenit, dia mulai menekan-nekan-kan lagi vaginanya ke penis ku kebetulan penisku masih keras, dia mulai mendesah lagi. Seeeeppp…..seeeppp…..seperti orang kepedasan.

Ni, nanti dilihat simBok, kekamar aja yuukkk….ajak ku. Ah tidak mas, simBok sudah tidur, lagian ini bayi kalau bangun gimana….? Jawab si Ani.

Ya…sudah buka saja celanamu Ni….. perintahku.

Jangan mas….gini aja ya….sementara di selipkan penisku kesela CDnya, dan si ani masih berposisi di atas ku.

Ketika penisku mulai menyusup disela CD dan vaginanya, tersa lendir hangat dan licin diujung penisku, dia mulai menggoyangkan pinggulnya dan gesekan belahan vagina yang hangat dan licin mulai merangsang penis ku, aku merasakan betapa enaknya vagina si ani, tapi disisi penisku terasa agak sakit kena sisi CD nya si Ani, aduh Ni, CDmu sakit nih….

Kemudian dia melepas celana kulotnya dan agak menarik CDnya ke bawah, sedangkan aku mulai melepas celana pendek dan CDku maka penisku mulai nyaman banget, apalagi dia mengambil posisi seperti kodok yang mau loncat, dia mulai lagi menggoyangkan pinggulnya perlahan kekiri kekanan..tangan ku mencengkram buah pantatnya dan sesekali kutekan sehingga penisku terasa berada dimuka gawang, kudorong-dorongkan pinggulku naik turun sementara si ani mengoyang kiri-kanan, variasi goyangan semacam ini telah menciptakan rasa geli yang berbeda dengan rasa kalau bersetubuh biasa, penis ku semakin keras, vagina si Ani terasa semakin basah kuyup, namun basah kuyup yang membuat rasa geli dipenisku semakin nikmat, si ani terus bergerak sementara ke dua susunya semakin terasa menggiling dadaku, kenyalnya hangatnya terasa sekali karena T-shirt ku aku angkat ke leher dan blusnya si anipun sudah terangkat sehingga kedua susunya terasa nempel langsung dikulit dadaku, dan tangan si ani yang sedang menahan badannya dilantai kemudian berubah memeluk tubuhku, sehingga susunya semakin menekan di dadaku, gerakan pinggulnya semakin lembut seolah memposisikan titik-titik tertentu dari vaginanya di penisku, kelihatannya si Ani berusaha agar kelentitnya tergesek oleh ujung penisku. Dia begitu aktif mencari titik-titik kenikmatan divaginanya. Kemudian aku mulai menekan nekan ujung penisku ketika terasa jika sudah berada ambang lubang nikmat, aku tidak tahan lagi, ingin sekali aku menancapkan penisku ke vaginanya. Ni…kamu dibawah Ni…. Pinta ku.

Jangan dulu mas, biar lama nikmatnya, soalnya kalau mas di atas pasti mas cepet keluar. Jawabnya dengan kata terputus-putus karena napas si ani seperti orang yang sedang aerobic.

Ya…tapi masukan dong Ni. Aku sudah gak sabar nih….

Iya…iya…tapi pelan-pelan ya mas….biar terasa nikmat. jawab si ani.

Kemudian si ani menghentikan gerakan pinggulnya. Dan memposisikan ujung penisku tepat dilubang vagina yang licin dan hangat. Dia mulai menekan pinggulnya ke bawah, dan penisku pun perlahan mulai menyusup, perlahan banget si ani menarik lagi pinggulnya keatas, aku merasakan gesekan lubang vagina yang halus, licin dan lembut, dia menekan lagi, dan kira-kira sekitar 5 cm penisku masuk, dia tarik lagi pinggunya keatas, aku mulai penasaran karena cara seperti ini menimbulkan kenikmatan yang khas banget, gregel-gregel dinding vagina si ani begitu terasa menggelitik karena gerakan perlahan seolah-olah penisku meraba-raba tiap mili dinding lubang vagina si ani, akupun semakin menikmatinya.

Kemudian desahan demi desahan terus keluar dari mulut si ani, dan……ah…aaaahhh….. pelan-pelan si ani menekan pinggulnya hingga penisku masuk seluruhnya, kemudian dia tarik lagi pelan-pelan…ditekan lagi…..blessss…lagi penisku masuk, begitu terus berulang-ulang hingga sekitar 15 menit, ah… begitu lembutnya permainan si ani, sesekali terasa olehku denyutan-denyutan halus didalam vagina si ani yang terasa seolah menjepit-jepit ujung penis ku. Kemudian si ani memasukan lagi penisku dengan menekan pinggulnya, dia tidak lagi menarik pinggulnya keatas, tapi dia tekan terus agak lama sehingga begitu dalamnya penisku tertanam didalam vagina hangat si ani, kemudian denyutan-denyutan vaginanya…aw..terasa begitu nikmat, cenut-cenut….kemudian ada denyutan panjang yang rasanya begitu menjepit ujung penis ku. Ah..mungkin ini yang disebut empot-empot madura dalam pikirku.

Gaya ML seperti ini terus belangsung hingga kurang lebih ¼ jam, aku benar-benar merasakan nikmat yang baru kali ini kurasakan dibanding dengan kenikmatan saat ML dengan pacarku.

Diujung lubang penisku mulai terasa geli sekali seperti hendak keluar sperma, sementara si ani terus mengayuh pinggulnya perlahan dan tangan kirinya menarik susunya kearah mulut ku, lalu kuisap-isap pelan hingga isapan kuat, si ani mulai tidak dapat mengkontrol gerakannya, dia menggoyang semakin cepat…cepat lagi dan akhirnya jeritan kenikmatan si Ani muncul lagi, dia mencapai orgasme lagi karena terasa oleh penisku jepitan-jepitan vagina dan denyutan-denyutannya yang tak beraturan. Dia mendesah dan menggigit dadaku, dia orgasme panjang. Dan saat penisku dijepit-jepit oleh vagina orgasmenya si ani, akupun gak tahan, geli sekali dipenis ku, sekujur badanku terasa geli linu, merinding dan ah…rasanya nikmat sekali, aku berusaha terus menggerakan pinggulku keatas dan kebawah agar penisku tetap menggesek vagina si ani yang sedang orgasme dan berdenyut-denyut itu, si ani pun sadar kalau aku mau keluar maka dia langsung mengisap punting susuku dan memainkan ujung lidahnya di punting susuku maka penisku semakin terasa geli sekali dan terasa gatal yang teramat sangat diujungnya seolah ingin digaruk terus oleh bagian terdalam vagina si ani, dia semakin aktif mengisap dan memainkan lidahnya di punting susuku dan aku terus menaik turunkan pinggulku akhirnya aku pun crot-crot-crot spermaku muncrat didalam vagina si ani, tanpa sadar si ani mengaduh keenakan, aduuuuhh…mas…hangat sekali……rintih si ani, dan aku merasakn enaknya ketika pertama crot…vagina si ani menjepit, crot kedua vagina si ani berdenyut, dan ketika aku menekan penis hingga maksimal maka disitulah kenikmatan puncaknya dan tidak sadar aku menarik pinggul si ani agar penisku menancap semakin dalam dan crot yang terakhir membuat badanku bergetar-getar sepeti kejang-kejang, dan si ani yang sedang orgasme aku tembak dengan semprotan spermaku, maka disinilah impian kenikmatan yang didambakan semua wanita, hingga selesai proses semprotan spermaku, vagina si ani masih terus berdenyut-denyut dan terdengar suara si ani seperti orang menagis, dia benar-benar merasakan orgasme yang luar biasa, begitu juga aku.
Last edited by tiger's claw; 22-10-2008 at 08:39 PM. nano79
Hardcore Kakis

Join Date: Nov 2007
Posts: 130
























































22-10-2008, 06:00 PM #2
bulan sabit dari timur
Mataku menyipit saat jemari kekar itu meraba tengkuk dan leherku dengan sentuhan halus… antara menyentuh dan tidak… sensasinya membuatku merinding kegelian. Sesekali kecupan dan jilatan nakal lidah dan mulut Adil hinggap di belakang telinga dan rahangku.

“Ohh… Baik, baik… kamu menang.” Aku melepaskan diri dari pelukan Adil yang sedang memangku tubuhku di kursi belakang sebuah van besar. Aku duduk di sampingnya dan melepaskan satu per satu kancing kemeja yang kukenakan. Mataku dengan tajam menatap pria itu tanpa berkedip, “Tidak banyak orang yang bisa membuatku benar-benar menginginkannya… dan kamu salah satunya.”

Wajah campuran Melayu-Portugis itu tampak menyunggingkan senyum kemenangan yang membuatku makin gemas. Jarinya memencet sebuah tombol di pegangan pintu, secara otomatis menutup semua kaca di mobil ini dengan lapisan film tipis yang memantulkan cahaya dari luar, membuat apa-apa yang terjadi di dalam kabinnya tak terlihat. “Sejujurnya, Crescent…” Ujar Adil, “Baru kamu orang yang bisa membuatku menunda tugas demi kesenangan sesaat.”

Waktu kami memang tinggal tersisa 40 menit lagi untuk menunggu kedatangan dua orang rekan yang akan menyertai perjalanan kami ke meeting-point berikutnya, dan kami sadar akan hal itu. Untuk mendapatkan kualitas percintaan seperti semalam, mungkin dibutuhkan sekitar 2-3 jam, namun kami berusaha mengoptimalkan waktu yang ada…

Nghhh… aku tak mampu menahan mulutku untuk tidak mengerang saat mulut Adil mulai mengulum puting susuku. Bagian paling sensitif pada badanku itu kontan mengacung tinggi di dalam mulutnya. Tiap kali lidahnya menyambar daging kecil berwarna merah jambu kecoklatan itu, seluruh tubuhku serasa dialiri listrik… Ahhh… dan kini ia melakukannya bertubi-tubi pada kedua puting susuku… sementara kedua telapak tangannya yang besar dan hangat itu menjamah seluruh badanku, yang sudah tak lagi tertutup apa-apa.

Aku paling tak tahan ketika seorang pria memelukku tubuh telanjangku erat-erat dengan tubuh telanjangnya, sementara mulutnya memainkan ujung-ujung dadaku dan jemarinya menari-nari dalam lorong kewanitaanku. nya (atau untungnya), sekarang aku sedang berada dalam kondisi itu. Impuls-impuls kenikmatan yang mengalir melalui puting-puting susuku saja sudah membuatku terpejam-pejam keenakan, apalagi dengan gerakan jari-jari lincah yang seolah tanpa henti menjamah kewanitaanku, memaksanya melelehkan cairan hangat dari dalam sana…

“Uhh… A-Adilll… we don’t have that much time…Nghhh…” Aku berusaha menipunya dengan alasan waktu, sementara alasan asliku adalah karena rangsangan ini benar-benar tak tertahankan lagi. Aku menginginkan sebuah klimaks yang eksplosif, cukup sekali saja untuk siang ini, tidak perlu berkali-kali seperti semalam. “Ohhh… p-p-pleaseee… I want it now…”

“You want what, Crescent?” Godanya, “Kamu menginginkan apa? Katakan dengan jelas!” Bisiknya seraya menambah intensitas rangsangannya, membuatku makin kelojotan dan menggeliat-geliat menahan kenikmatan yang berlebihan ini. Betapa tidak, lidahnya kini melingkar-lingkar dengan cepat pada kedua puting susuku bergantian, sementara jarinya berkali-kali menggosok area terlemah dalam lubang kewanitaanku. “Come on, Crescent… aku ingin mendengarmu memohon… sekali saja seumur hidupku, aku ingin seorang double zero memohon padaku…”

“Ahhkkk… A-Achilesskuuu… Double zero junior ini pasrah padamu… Ngg…” Adil berhasil memanipulasi psikologiku dengan rangsangannya. Demi memohon orgasme aku rela meracau tentang pangkat kami dalam agency, di mana sebenarnya pangkatku jauh lebih tinggi. Sado-Masochism verbal memang, namun aku benar-benar tak mampu lagi menahan rasa kosong dalam kewanitaanku yang kian meleleh-leleh ini.

“Hm, permohonan itu benar-benar melambungkan egoku, Crescent.” Bisik Adil beberapa detik sebelum tiba-tiba aku merasakan kejantanannya yang perkasa dan kokoh itu melesak ke dalam tubuhku. Uhgg… serasa tubuhku penuh terjejali benda itu, yang kini bergerak dengan cepat menggerus dinding-dinding kewanitaanku. Dekapan hangat dan erat mungkin akan menambah kenikmatan, namun sebagai seorang rekan kerja, Adil tidak melakukan hal yang hanya dilakukan oleh kekasih itu.

Jangan terpejam, Wulan! Jangan terpeja! Buka mata! Bisikku dalam hati. Aku ingin melihat keindahan otot-otot pectoral dan abdomen itu berkilat dibasahi keringat… aku ingin melihat ekspresi wajah tampannya saat berpacu dengan waktu… ahhhhkkkk, tapi aku tak mampu. Mataku terpaksa memajam, kepalaku terpaksa terbuang ke kiri dan kanan, menahan rasa nikmat yang terus mengalir dengan derasnya… seolah menarik keluar sesuatu dari dalam tubuhku… makin keluar… makin keluar… Ohhh, sebentar lagi… sebentar lagi…

Siraman lahar dari batang keras itu membuat seluruh liang kewanitaanku terasa membara. Detik itu juga seluruh ototku mengejang-ngejang. Aduhhh… orgasme yang kesembilan dalam duabelas jam terakhir, pikirku sambil menikmati sensasinya… setelah mengejang beberapa kali, otot-otot ini terasa lunglai dan lemas. Kepala yang tadinya terangkat dari sandaran jok kini lunglai. Dari spion aku dapat melihat sekilas wajahku yang dipenuhi butir-butir keringat menunjukkan ekspresi sayu, dengan helai-helai rambut basah menempel di pipi dan dahi, sementara bibirku setengah terbuka.

“Tidak usah berpakaian.” Bisik Adil sambil merapikan kemeja yang entah kapan sudah dipakainya kembali, “Sebentar lagi mesin fotokopi akan datang, sepertinya kamu memerlukan perombakan besar.”

Aku hanya mengangguk lemah sambil berusaha keras mengatur nafas. Kewanitaanku masih berdenyut-denyut kencang, mengalirkan cairan yang kini berlelehan di pahaku, bercampur dengan sisa-sisa lahar panas dari tubuh Adil. Dengan suara parau aku mengatakan bahwa aku akan tidur sejenak, biarkan saja mesin fotokopi bekerja tanpa harus membangunkan aku.

Highway PLUS, 11 siang
Kursi belakang sebuah Nissan Serena seharusnya nyaman dan lapang. Namun tidak bagiku saat ini. Sandaran kursiku sedang di-recline, dan dua orang pria bertampang kemayu sedang mengerubutiku. Satu diantaranya mempermak rambut dan wajahku, satu lagi menempel-nempelkan material menyerupai plastisin pada kulit perut dan lenganku. Sebuah Sony VAIO berwarna pink tergeletak di kursi di depanku, di monitornya terpampang foto tampak depan, samping, dan tiga perempat dari seorang wanita setengah baya bertampang cerdas namun ketus.

“Masih lama ya?” Aku bertanya sambil memaksakan mataku terus terpejam, karena salah satu dari pria kemayu itu sedang ‘merias’ mataku agar tampak lebih lebar dari aslinya, “Kesemutan nih…” Seluruh kesadaran dan tenagaku yang terkuras saat orgasme tadi, kini telah pulih, berganti dengan rasa segar yang menyenangkan. Sayang sekali justru di saat seperti ini aku tidak boleh bergerak.

“Aduuh, Crescent yang sabar doong.” Terdengar aksen Jakarta dari pria kemayu yang kini sedang menepuk-nepukkan lemak palsu ke kedua payudaraku. “…abis dada elo keciil banget kalo dibandingain sama model yang mesti ditiru.” Lanjutnya sambil sesekali menatap ke arah monitor laptop pink itu untuk mencocokkan.
“Ihh, lengketnya!” Sahut Xerox yang satu lagi, dengan suara sengau dan aksen yang sama. “Lain kali langsung dilap dong, biar nggak keburu kering dan lengket!” Sambungnya sambil mengelap bekas-bekas lelehan cairan pada paha dan perutku, sisa-sisa quickies tadi.
Dengan agak jengkel aku mendengar suara gelak tawa Adil yang kini tengah mengemudi van itu. “Hahaha, nggak sabar nih pengen ngeliat hasilnya!” Ejek pria ganteng itu, membuatku makin senewen.

Beberapa menit kemudian, akhirnya kedua ‘Xerox’ itu selesai dan menegakkan kembali sandaran kursiku. Mereka baru saja memberiku penampilan dan bentuk tubuh baru, lengkap dengan pakaian yang mirip dengan busana wanita karir seorang ibu-ibu setengah baya. Tanpa harus melihat ke cermin, aku yakin bahwa penampilanku sekarang bagaikan ‘fotokopi’ dari foto wanita malang dalam laptop pink itu. Kenapa aku menyebutnya wanita malang? Karena ia sekarang pasti sedang tergeletak di sebuah lokasi tersembunyi dalam pengaruh obat tidur yang tidak berbahaya, sampai ia dijadwalkan kembali ke tanah air.

Setelah berhenti di sebuah pom bensin besar yang didominasi warna hijau dengan logo Petronas untuk menukar mobil, kami melanjutkan perjalanan. Kedua Xerox asal Jakarta diantar ke airport oleh Achilles lain dengan van tadi, sementara aku bersama Adil melanjutkan perjalanan dengan sebuah Proton Waja berwarna hitam metalik.

“Kita akan sampai ke lokasi dalam duapuluh menit.” Ujar Adil saat aku mulai mengemasi perlengkapanku. “Hector di lokasi akan menemui kita untuk menjelaskan protokol selanjutnya.”

Aku menghabiskan sisa waktu duapuluh menit itu dengan mendengarkan sebuah rekaman MP3. Bukan lagu, tentu saja, melainkan rekaman suara dan aksen milik orang yang kini sedang aku perankan, Dr. Khadijja Wulansari. Hanya perlu waktu beberapa menit bagiku untuk menghafal cengkok aksen bahasa Inggrisnya yang dipenuhi penekanan pada huruf D, J, dan B, khas orang Jawa Timur. Jika aku harus memerankan orang Jepang atau Cina daratan, biasanya proses ini memakan waktu seharian penuh.

Pulai Springs Resort, Johor Bahru, 12.30 siang
Hotel bagus dengan nama norak, pikirku tentang hotel bernama ‘Cinta Ayu’ ini. Hotel tersebut terletak di dalam kawasan sebuah golf resort, dengan arsitektur indah beraliran minimalis. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan orang di negara ini punya selera bagus, namun pertanyaanku terjawab setelah aku melihat poster di dinding bertuliskan ‘You can feel, it’s Novotel’. Oh, pantas… lucu juga kalau sebuah hotel di bawah pengelolaan Accor-Novotel harus dikasih nama ‘Cinta Ayu’.

“Hector?” Aku berbisik sambil memegang selembar brosur hotel ini, seolah-olah membaca sebuah kata yang tertulis di dalamnya. Saat itu, seorang tamu hotel baru saja duduk di kursi di dekat kursiku di lobby. Seorang pria berusia sekitar 28 tahun dengan tubuh tidak terlalu tinggi, namun kekar berotot besar, mengenakan t-shirt golf hitam ketat yang makin menonjolkan otot-ototnya. Sebuah kacamata hitam Oakley, sedikit janggut pendek, dan rambut dicat coklat membuatnya tampak agak norak. Khas orang Melayu lokal di negara ini.

Pria kekar itu diam saja sambil memungut brosur lain yang tertata di atas meja. Oh, rupanya bukan orang ini, pikirku. Tadinya aku sempat berpikir bahwa misiku kali ini begitu indah karena dipenuhi oleh pria-pria bertubuh mirip patung dewa Yunani. Aku pun sempat heran kenapa pria ini tidak lantas mencuri-curi pandang ke arahku seperti umumnya pria di negara manapun di bumi. Sebelum akhirnya aku sadar bahwa penampilanku sekarang ini lebih mirip seorang ibu-ibu setengah baya dengan dandanan konservatif yang berkesan ketus. Ahh, ngga jadi flirting deh…

“Croissant?” Ujar seorang karyawati hotel berpakaian waitress yang tiba-tiba mendatangi tamu pria di dekatku tadi, sambil membawa baki perak yang dipenuhi kue croissant beraneka rasa di atasnya. Pria itu mengambil sepotong dan mengucapkan terimakasih tanpa tersenyum. Si waitress berwajah manis itu melangkahkan kaki mendekati kursiku dan mengajukan pertanyaan yang sama, “Croissant?”

Croissant mungkin kita kenal sebagai sejenis pie gurih dan renyah yang kalau digigit akan berhamburan ke mana-mana. Namun croissant adalah istilah Perancis untuk bulan sabit. “Hector?” Aku mengguman sambil meraih sepotong croissant dari baki yang dibawa waitress itu.
Tiba-tiba waitress itu menunjuk ke croissant lain yang tampak paling tidak menarik dibandingkan yang lain. Warnanya gelap karena agak gosong dan ujungnya patah, hingga orang tak mungkin memilihnya. Aku segera meraihnya dan berdiri sambil mengucapkan terimakasih, lalu melangkah ke arah lift.

Sambil menunggu lift tiba di lantai Ground, aku mematahkan croissant gosong di tanganku dan menemukan selembar kertas memo post-it berwarna kuning stabilo, bertuliskan 251. Setelah membuang sisa croissant gosong ke tempat sampah di depan pintu lift, aku melangkah masuk dan menekan angka dua.

“Selamat datang, Doktor.” Ujar seorang wanita muda berwajah cantik saat membuka pintu kamar 251 yang baru saja kuketuk. “Apakah perjalanan Anda menyenangkan?” Tanyanya sambil mempersilakan masuk. Sikap yang wajar, karena CCTV terpasang di ujung koridor.

“Baik, konferensi baru akan dimulai besok, jadi kamu tidak usah khawatir tentang presentasi ilmiah.” Ujar ‘Hector’ wanita yang ternyata bernama Adrazalina itu di akhir briefing. “Kamu akan dilaporkan mengalami serangan flu berat dan dibawa ke rumah sakit pukul dua malam nanti.” Lanjutnya sambil menegakkan posisi duduknya. Ia seorang wanita yang kurang lebih sebaya denganku, dan saat itu mengenakan baju kurung (baju mirip daster yang oleh orang negara ini dianggap pakaian formal) berwarna biru berbunga-bunga norak dilengkapi kerudung berwarna putih yang tidak matching.

“OK. Jadi aku akan datang ke kantor resmi kamu untuk mengurus sejumlah dokumen legalitas, hadir di acara minum teh sore hari bersama rektor, lalu diantar kembali ke hotel ini, sebelum pukul delapan malam menghadiri jamuan makan malam?” Aku mengkonfirmasi, “Kok banyak banget sih jamuannya? Aku bisa gendut sebelum mulai bekerja malam harinya.”

“That’s our culture, lah.” Jawab Ina agak ketus dalam bahasa Inggris dengan aksen khas orang lokal negara ini, menambahkan ‘lah’ di akhir hampir tiap kalimat. “Tapi kalau mau, kamu bisa mulai mempelajari area mulai siang ini juga.” Tambahnya sambil menyerahkan sebuah map karton manila berwarna kuning. “Ok, saya akan balik ke kantor resmi, kalau ada apa-apa langsung kontak.”

Aula Universitas, jam sembilan malam.
“Doktor Khadijja…” Seorang wanita mencolek lenganku dari belakang di tengah jamuan makan malam. Ternyata ia adalah Hector yang kutemui tadi siang, Adrazalina. “Perkenalkan, ini adalah Dr Azlan bin Ali, wakil dekan fakultas teknik kimia.” Ujarnya sambil menunjuk (dengan setengah ibujari, tentu saja) ke arah seorang pria kurus bertubuh agak pendek dengan rambut rapi disisir ala tahun 70an, dengan kacamata tebal. Saking kurusnya, tubuh bapak itu seperti tertelan oleh jasnya yang agak kebesaran.

“Oh, nice to meet you, Doc.” Aku menyapa bapak itu sambil menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan, karena di negara ini memang budaya-nya begitu. “Terimakasih sudah mengenalkan saya pada seseorang yang demikian penting, nona.” Aku menengok ke arah Adrazalina, yang kemudian tersenyum manis sambil meninggalkanku bersama Dr Azlan.

“Dr Khadijja, saya dengar anda memiliki dua gelar Master, bukan?” Ujar Dr Azlan memulai perbincangan. “Salah satu gelar Master anda adalah dari bidang sejarah agama, sementara yang satu lagi tentang thermodinamika, sama dengan gelar doctoral Anda.” Cerocosnya, “Anda wanita yang betul-betul hebat, bisa mempelajari dua subjek yang sangat berbeda.”

Ia tertarik dengan sejarah? Dan Hector memperkenalkannya padaku? Aku segera mengambil kesimpulan bahwa Dr Azlan adalah salah satu mata rantai penting dalam misiku. “Ah, saya hanya kebetulan menaruh minat yang tinggi pada sejarah agama, Doc… terimakasih atas kejelian Anda dalam membaca CV saya.” Jawabku menggunakan aksen yang mirip dengan yang kupelajari di rekaman MP3 siang tadi.

“Saya juga seorang peminat sejarah agama.” Ujarnya sambil melirik ke kanan-kiri, seolah agak khawatir kalimatnya didengar orang lain dalam hall besar itu. “…dan ada beberapa hal penting yang ingin saya tanyakan.” Lanjutnya dengan air muka serius.

“Oh? Saya sudah bertahun-tahun tidak membuka buku sejarah.” Jawabku sambil mengamati wajahnya. Bagian tengah dahinya berwarna kehitaman, dan di bawah mulutnya tampak beberapa lembar janggut yang dipaksakan untuk tumbuh. “Jika saya mampu, saya akan menjawabnya. Bila tidak, saya akan bertanya pada teman dekat saya, Mr.Google!”
Dr Azlan tertawa kecil mendengar candaanku, namun wajahnya kembali serius. “Apakah anda juga mempelajari tentang Perpecahan Besar?” Tanyanya dengan suara lirih.

Hanya sedikit orang yang menggunakan istilah Perpecahan Besar. Hanya kelompok religius-radikal, dan tentu saja badan-badan intelijen dunia, yang memiliki kepedulian terhadap kelompok religius-radikal tersebut. “Hm… mungkin saya mengenalinya dengan istilah lain, Doc?” Tanyaku balik, “Atau mungkin saya sudah pikun karena sudah bertahun-tahun tidak membaca buku sejarah.”

Dr Azlan tersenyum, “Maksud saya adalah perpecahan umat agama kita pasca wafatnya Sang Nabi.” Jawabnya menegaskan. “Saya sangat sedih dan menyesal melihat agama kita ini terpecah belah, dan saling membenci satu sama lain. Padahal musuh kita sudah jelas hanya satu.” Lanjutnya. Caranya bertutur menunjukkan bahwa ia sedang menguji pengetahuanku tentang sejarah agama itu. Dalam profesiku, tentu saja aku sudah mendapat info lengkap tentang hal ini, dalam berbagai versi pemahaman. Namun aku harus berhati-hati. Jangan sampai ia melihatku memahami persoalan ini di luar perspektif seorang akademisi.

“Hm… yang saya ketahui adalah bahwa sepeninggal Sang Nabi, muncul perbedaan pendapat di kalangan pengikutnya, tentang siapa dari keempat sahabat Sang Nabi yang patut menggantikan posisinya.” Aku mencoba menjawab dengan konten se-awam mungkin, meski mungkin bukan itu juga yang dipelajari oleh seorang S2 dalam ilmu sejarah agama. “Apakah itu yang anda maksud dengan Perpecahan Besar, Doc?”

“Betul…Saya baru saja membaca literatur tentang hal itu.” Lagi-lagi Dr Azlan tersenyum. Ia tampak kehilangan minat karena didapatinya aku hanya seorang ‘awam’ yang tidak paham tentang topiknya. “Sebenarnya peristiwa yang terjadi tidak sesederhana itu… menurut apa yang saya baca, sih.” Ia mencoba merendah.

“Saya akan senang sekali meminjam literatur anda setelah konferensi ini selesai.” Jawabku memancing, “Agar saya tidak penasaran, Doc… bisakah anda member sedikit hint tentang kejutan apa yang akan saya lihat dalam literatur anda nanti?” Sambungku dengan nada setengah bercanda.

“Isinya bisa menggoyahkan iman!” Dr Azlan mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada dada cekingnya. “Saya sendiri pun kaget ketika berhasil menerjemahkan artefak itu… apalagi literatur itu dijamin keasliannya…” Ia berhenti sejenak, seolah mencari kalimat yang cocok, “Fakta sejarah ternyata berbeda dengan yang selama ini dipahami banyak orang.”

Ia kelepasan menyebut ‘artefak’ sebelum kembali menyebutnya ‘literatur’. “Sampai sehebat itukah? Saya makin penasaran, Doc.” Aku menunjukkan ekspresi penuh minat, “Apa yang menjadi topik utama dalam literatur tersebut?” Aku tidak ingin ia tahu bahwa aku menangkap basah ia menggunakan istilah ‘artefak’. Mungkinkah artefak ini adalah ‘harta karun jaman kuno’ temuan Watchtower yang terbantai di London?

Interlude
Jalalabad River, Afghanistan, 2003
…kepalaku terasa amat berat, leherku terasa sakit, dan sekujur kulit tubuhku terasa perih di sana sini. Aku baru saja membuka mata… kugeleng-gelengkan kepala mengusir pusing. Setelah semuanya tampak jelas, ternyata tubuh telanjangku hanya terbalut selembar kain lebar yang basah kuyup, sedang tergeletak di udara terbuka atas sepotong papan kayu yang terapung-apung mengikuti arus aliran sungai.

Aku menghela nafas lega saat sungai mulai berbatu dan di kiri kananku terlihat tebing kecoklatan. Aku sudah berada jauh dari Kabul, jauh dari wilayah musuh. Setelah menepi, kucoba berdiri dan memeriksa apakah tubuhku masih utuh… syukurlah masih, bahkan tas pinggangku masih berhasil kubawa serta, meski pakaianku sudah raib, berganti dengan kain seadanya ini dan sebuah Casio G-shock berwarna hitam yang masih terlilit di pergelangan tangan kiriku. Beberapa luka bekas pukulan dan tendangan masih terasa ngilu pada punggung dan pahaku, namun tak ada tulang yang patah. Luka dalam akibat pemerkosaan? Itu sudah resiko yang biasa bagi seorang wanita dalam profesiku. Aku tidak terlalu merisaukannya, meski aku masih ingat wajah-wajah orang yang ‘menggilirku’ di Kabul semalam. Orang-orang anggota pemberontak Taliban, anak buah Osama ben Laden, yang saat itu tengah menjadi incaran pasukan Amerika.

Tanganku mengeluarkan sesuatu dari tas pinggang, sebuah Sony Memorystick Pro 512MB berisi laporan hasil pekerjaanku barusan, bersama Negar, rekan kerjaku, seorang wanita Persia yang telah mengorbankan dirinya agar aku selamat membawa file ini keluar Kabul. Ia merelakan diri mengaku telah menggoda sekelompok bajingan Taliban yang memperkosa kami malam itu, hingga ia harus dijatuhi hukuman rajjam, dikubur di tanah hingga sebatas pinggang, lalu dilempari dengan batu hingga tewas. Beginikah mereka memperlakukan korban perkosaan?

Saat eksekusi berlangsung, dengan hati berat dan air mata hampir tak tertahan, aku menyelinap pergi dari gedung yang mereka gunakan sebagai markas rahasia dan pengadilan itu. Rasa sakit dari bekas-bekas luka, dan penutup tubuh yang hanya berupa selembar kain lebar, membuat pelarianku memakan waktu lebih lama dari seharusnya. Aku masih berada di dalam bangunan itu ketika G-Schock di tanganku berbunyi. Buru-buru dengan sisa tenaga yang ada aku mengangkat sebuah meja kayu berukuran sedang dan mendekatkan diri ke jendela. Suara dentuman ledakan terdengar berkali-kali dari bahan-bahan peledak yang kami tanam di lokasi-lokasi strategis sejak minggu lalu. Aku hanya merasakan tubuhku terdorong kuat-kuat ke arah jendela, terhempas, dan berusaha keras untuk tidak melepaskan meja yang kupegangi, dengan harapan tubuhku akan jatuh ke sungai delapan belas meter di bawah jendela itu, dengan meja ini kugunakan sebagai rakit darurat… aku bersyukur aku berhasil.

Dalam helikopter escort yang menjemputku di meeting point, aku tidak lantas berpakaian dan menatap jauh keluar jendela dengan pandangan sedih seperti yang umumnya ditunjukkan di ending film-film action, aku buru-buru meminjam sebuah laptop dari Achilles yang menjemputku dan membuka file dalam memory stick yang kubawa. Semua file dan foto dokumen yang kami ambil masih lengkap, namun ada sebuah file .TXT yang berjudul Note for Crescent yang rupanya dimasukkan oleh rekan seniorku yang telah mengorbankan dirinya sebelum demolisi terakhir tadi. Aku menggigit bibir menahan air mata saat membaca pesannya:
Dear Wulan, jika kamu membaca tulisan ini, berarti kamu telah menyelesaikan misi dengan baik, dan aku telah pergi untuk selamanya. Perlu kamu ketahui, bahwa kepergianku bukannya untuk mengorbankan diri, melainkan karena dari salah satu temuan kita dalam misi ini, aku mengetahui sebuah fakta yang mengecewakan tentang agamaku, dan imanku telah goyah. Aku tak sanggup hidup sebagai orang kafir atau murtad, untuk itu lebih baik aku mengakhiri hidupku dengan cara yang mulia. Wulan, saat kamu menjumpaiku di akhirat kelak, tolong katakan bahwa aku meninggal sebagai pahlawan untuk bangsa dan agamaku. ‘Kakak kelasmu: Negar Rajabi, zero-zero-fiftyone’.

Kamar 521, Pulai Springs Resort, Johor Bahru, setengah duabelas malam.
Lega sekali aku menatap bayangan tubuhku di depan cermin di kamar mandi. Tubuhku yang indah, kencang, ramping, dan proporsional ini baru saja terbebas dari lemak-lemak palsu yang ditempelkan ke perut, dada, paha, lengan, serta rahangku untuk menyempurnakan penyamaran. Guyuran shower hangat tadi telah membantuku menghilangkan bekas-bekas tempelan pada kulit tubuhku yang kini tampak berkilat-kilat dipenuhi titik-titik air mandi. Rambutku yang panjang sebahu tergerai basah di kiri kanan leherku, sementara beberapa lembar poni kubiarkan jatuh menutupi dahi dan sedikit menusuk-nusuk kelopak mata. Kutatap mataku sendiri dalam-dalam di cermin itu… Wulan, siapa sih sebenarnya kamu itu?

“Crescent, kamu ikut?!” Seru Adil dari luar kamar mandi menyadarkanku dari lamunan sesaat. Aku tidak begitu paham maksudnya, namun aku segera mengeringkan badanku dan membungkusnya dengan t-shirt lengan panjang YSL ketat berleher tinggi warna hitam, berikut jeans Armani ketat dengan banyak saku, juga hitam. Setelah mengikat rambut sepraktis mungkin aku memeriksa kelengkapan peralatanku dalam saku jeans, lalu membuka pintu kamar mandi.

“Ehh… maaf!” Mukaku memerah saat mendapati tubuh Adil yang telanjang tengah terduduk di ranjang, dan di pangkuannya, seorang wanita jangkung berwajah manis, berkulit cerah, dan berambut panjang sedang bergerak naik turun dengan cepat, dengan ekspresi keenakan dan desahan-desahan tertahan. “Ehm… Adil… siapa itu?” tanyaku heran.

“Kamu t-tidak mengenaliku, C-Crescent?” Wanita bertubuh indah itu menatapku sambil tersenyum di sela desah nafasnya. Kalimatnya terhenti saat tangan Adil meremas kedua payudaranya dari belakang dan menjentik-jentik puting susunya. “Auhhhh… Achilessss… enaak sekaliii…” Ia memanggil Adil dengan codename Achilles, juga memanggilku Crescent?

Mataku menyapu sekeliling kamar dan melihat kain mirip gorden berwarna biru dan berbunga-bunga norak teronggok di dekat ranjang. “Adrazalina! Soo sexy! Baju kurung benar-benar membuatmu tampak gemuk dan pendek! Hihihi.” Setengah bergurau aku memuji keindahan tubuh dan wajah Ina yang kini sedang mengejang-ngejang dilanda orgasme. Beberapa detik kemudian tubuhnya yang indah itu bagaikan tak bertulang, tergeletak lunglai di atas ranjang, bermandi keringat dengan nafas terengah-engah.

“Kita berangkat sekarang?” Ujar Adil sambil melompat turun dari ranjang. Kejantanannya masih terlihat tegang, mengacung dengan gagahnya. Benda kokoh itu berkilat-kilat terlumuri cairan dari tubuh Ina yang baru saja ‘dihajar’nya. Not now, Wulan! Not now!. “Aku mengumpulkan sejumlah data sore tadi, mungkin kamu perlu melihatnya dulu.” Sambung Adil sambil menunjuk ke arah ruang lain dari suite itu.

“Oh, baik.” Aku segera melangkah ke bagian lain di kamar suite hotel itu, ke meja tamu tempat MacBook berwarna putih milik Adil berada. Kugesekkan sedikit jariku pada touchpad untuk menon-aktifkan screen saver dan melihat ke file-file temuan Adil dari hasil browsingnya di arsip-arsip misi lama milik agency kami.

Meja tamu itu berukuran rendah, hingga aku harus membungkuk setengah menungging untuk mengoperasikan MacBook di atasnya. Saat aku tengah asyik membuka-buka file tentang misi terakhir Watchtower, tiba-tiba pinggulku terasa dingin, rupanya jeansku telah terlucuti… kurang dari tiga detik kemudian, Ahhhkkk… liang kewanitaanku tiba-tiba ditusuk oleh kejantanan Adil. Dari belakang ia langsung meraih kedua payudaraku dan meremas-remasnya dengan gemas.

“Hm… Watchtower untuk kawasan Asia Pacific… Lim Shang Hwe, alias Leo Sutedja, alias Kenji Watanabe… “ Aku menggumam membaca tulisan di layar monitor sambil sesekali menyipit kecil menahan rasa geli karena Adil sedang menjejal-jejalkan kejantanannya pada lorong kewanitaanku sambil meremas-remas kedua payudaraku dari belakang.

“S-seksi sekali…” Dengus Adil dari belakangku dengan penuh semangat. Diciuminya tengkukku sambil terus menggosokkan kejantanannya dalam kewanitaanku, sementara tangannya tak pernah membiarkan kedua payudaraku beristirahat dari remasan-remasannya, “C-Crescent… k-katakanlah bahwa kamu m-menikmatinya…”

“Hm, bagaimana seorang Watchtower bisa sampai terbunuh? Apakah dia melakukan kerja sampingan?” Gumamku lagi. Tugas seorang Watchtower biasanya hanya berupa kegiatan tukar menukar informasi dengan menggunakan uang, negosiasi, dan diplomasi, tanpa peluru dan darah. Bangkrutnya sebuah perusahaan besar, melonjaknya sebuah perusahaan kelas teri secara tiba-tiba, atau rontoknya nilai mata uang sebuah negara, biasanya adalah hasil karya seorang Watchtower.

Dari sebuah file PDF yang sudah melalui berbagai proses enkripsi khusus, aku dapat membaca definisi lengkap tentang misi yang diberikan pada Watchtower AsPac. Laporan itu menyebutkan bahwa Watchtower kini berstatus KIA (Killed in Action) dan misinya gagal diselesaikan. Berbeda dengan keterangan nol dua setempat, yang menyatakan bahwa ia sukses, namun belum melapor.

Misi Watchtower yang tewas itu tadinya adalah menjumpai Watchtower Timur Tengah, dan mendapatkan data tentang aliran dana tak tertulis dari sejumlah jutawan Timur Tengah yang diduga memberikan support pada gerakan religius-radikal demi kepentingan terorisme. Sebelum itu, ia harus mengunjungi wilayah Peninsular Asia untuk berjumpa dengan Nol Dua setempat dan mendapatkan informasi tentang investasi dari Timur Tengah yang dilakukan di wilayah Peninsular Asia (Thailand-Malaysia-Singapore), juga arus keluar masuk sejumlah warga Timur Tengah ke wilayah ini.

“C-Crescenttt! K-katakannn!” Jerit Adil di belakangku. Huh, mengganggu saja. Sambil tetap meneruskan browsingku, aku merapatkan jepitan otot-otot kewanitaanku sambil berusaha keras untuk membaca informasi-informasi di layar monitor untuk mengalihkan syaraf dan inderaku dari perasaan nikmat yang sebenarnya sangat luar biasa ini… Uhh… makin kuat aku menjepit, makin kencang pula Adil bergerak… sampai aku merasakan kejantanannya berdenyut-denyut di tengah gesekannya. Ia akan mencapai klimaks!

Tanpa diduganya, aku menjejakkan kaki kananku ke paha kanannya, hingga pria atletis itu terjengkang ke belakang. Uhkk… sempat terasa nikmat saat kejantanannya terlepas dari kewanitaanku, dan pada saat yang hampir bersamaan menyemburkan lahar panasnya ke udara… wow, indah sekali, seperti air mancur! Aku tidak menyangka kalau semburannya bisa sekencang itu… membasahi plafon.

Adil tampak terengah-engah dengan wajah tak percaya, seolah kecewa karena sebenarnya aku bukanlah seorang wanita yang takluk padanya di ranjang. Aku hanya menengok ke arahnya menyunggingkan senyum nakal, lalu kembali menatap layar monitor… menyembunyikan wajahku yang kini memejamkan mata rapat-rapat dan menggigit bibir, menahan sebuah orgasme ringan yang mau tak mau ikut melandaku juga.

Interlude.
Dr Azlan bin Ali baru saja sampai di rumahnya setelah menghadiri sebuah jamuan makan malam di universitas tempatnya bekerja. Setelah mengunci pintu gerbang, ia segera membuka kunci pintu masuk ke rumahnya yang terletak di sebuah perumahan cukup elite di pinggiran kota Johor Bahru. Semuanya terasa begitu normal, istri dan kelima anaknya sudah tidur di kamar masing-masing, dan lampu di ruang tengah rumahnya masih menyala. Ia tak menyadari kalau sepasang mata sedang mengawasi gerak-geriknya.

Pria kurus itu melepaskan jas dan dasinya, lalu membuka sebuah bungkusan dari tas kerjanya. Di dalam bungkusan itu tampak sebuah pigura foto berukuran 10R. Namun bukan sebuah foto yang terpampang dalam pigura itu, melainkan selembar kertas yang sudah tampak menguning dan kecoklatan, dipenuhi oleh tulisan berbahasa Farsi kuno. Ia mengamatinya baik-baik dengan senyum tersungging.

“Dr Azlan?” Terdengar suara seorang wanita dengan aksen bahasa Inggris yang diucapkan sedemikian rupa hingga memiliki nada yang indah dan menyenangkan untuk didengar. Azlan mengenalinya sebagai aksen Persia atau Iran, karena ia memiliki banyak anak didik dari negara tersebut. Ia tak sempat mengenali orang yang menyapanya, karena kepalanya keburu terbungkus kantong plastik berwarna hitam, serta tangan dan kakinya dipegangi kuat-kuat.

Pria kurus itu meronta-ronta membebaskan diri, plastik yang menutup rapat kepalanya mengembang dan mengempis mengikuti nafasnya yang memburu hingga persediaan oksigen dalam kantong kecil itu cepat berkurang… berkurang… berkurang… dan akhirnya habis sama sekali. Secara refleks paru-parunya mengembang untuk menarik lebih banyak oksigen, namun hanya karbon dioksida yang dapat terhirup. Jantungnya seolah menjerit meminta supply darah segar berisi oksigen… berdetak detak kencang… lalu melemah… melemah… melemah… dan berhenti. Sesaat kemudian, tubuh kurus itu kehilangan nyawanya.

Seorang wanita sangat cantik berhidung mancung, berkulit putih, dan beralis tebal khas keturunan Eurasia melepaskan kantong plastik dari kepala korbannya. Mengambil pigura berisi naskah kuno yang tadi sempat terjatuh ke lantai, lalu dengan tenang meninggalkan rumah itu.

--------------------------------------bersambung--------------------------------------------------------------------------- nano79
Hardcore Kakis

Join Date: Nov 2007
Posts: 130

29-11-2008, 10:51 PM #3
Re: Koleksi nano79 - 2 stories
bulan sabit dari timur part 1 (yang diatas part 2)

Trafalgar Square, London, jam satu siang.
Seorang pria tampak berdiri di dekat salah satu dari empat patung singa yang mengitari monumen Trafalgar. Kedua telapak tangannya tersembunyi di balik saku mantel coklat muda yang dikenakannya. Wajahnya tampak tegang, ia tak mempedulikan sekelompok burung merpati gemuk yang berjalan ke arahnya mengharap segenggam biji-bijian untuk dilempar ke udara… tampaknya ia sedang menunggu seseorang. Sudut mata pria itu akhirnya mendapati apa yang ditunggunya. Beberapa meter di sebelah kanannya tampak sepasang suami-istri bersama dua anak perempuannya sedang bersuka ria menaburkan biji-bijian di tanah, membiarkan burung-burung merpati mematukinya dengan rakus. Dengan gerakan cepat namun tak terkesan terburu, pria bermantel coklat muda itu melangkahkan kaki kearah keluarga tadi, burung-burung merpati yang tengah asyik mematuki makanan menyingkir memberi jalan.

Keempat anggota keluarga yang tampaknya berasal dari Asia itu menatap datangnya pria bermantel coklat muda yang membuyarkan keasyikan mereka itu, sang ayah menunjukkan ekspresi muka kurang senang dan melangkah maju berniat menegur kelancangan teman tak diundang itu… namun tangan kiri pria itu keburu keluar dari saku mantel coklat mudanya. Mata si ayah sempat melihat kilatan dari benda yang ada di genggaman pria itu, ia mengenalinya sebagai Magnum revolver berpeluru enam. Secara refleks, si ayah melompat menghalangi kedua anak balitanya dari pria itu. Pada saat yang sama, terdengar suara letusan… satu kali… dua kali… tiga kali… empat kali… keluarga itu tak sempat menjerit atau mengaduh keempatnya tersungkur di tanah, di antara biji-bijian makanan burung yang telah ditinggal terbang oleh merpati-merpati itu saat letusan terdengar. Si ibu tampak mendekap erat dua anaknya…rasa sakit pada bahu kirinya tak lagi terasa, ia histeris menatap kedua buah hatinya tergolek lemah dengan lubang pada dada masing-masing, yang kini mulai mengalirkan darah. Pria bermantel coklat melangkah mendekat, membagikan dua peluru yang tersisa… satu di dahi si ibu, satu lagi di pelipis si ayah.

Toko lingerie di sebuah mal, Jakarta, jam tujuh malam.
Aku mempercepat langkah kakiku menghindar dari tatapan nanar sekelompok ABG memuakkan yang tampaknya membicarakanku saat aku mengaduk-aduk tumpukan bra di keranjang bertuliskan “SALE 50%”. Aku masuk lebih dalam ke outlet itu, meraih selembar lingerie dan masuk ke kamar pas ketiga.

Seperti biasanya, setelah aku mengunci pintu kamar pas ketiga di outlet ini, aku mengetuk cermin yang menempel di dinding. Dalam beberapa detik, dinding tempat menggantungnya cermin itu pun terbuka, dan seorang pria jangkung berwajah keren tersenyum ramah.
“Maaf, saya orang baru, boleh saya lihat ID-nya?” Ujarnya. Memang aku belum pernah melihatnya sejak beberapa tahun bertugas di agency ini.
“Kenalin…” Aku tersenyum seraya membuka penutup baterai di ponselku dan menunjukkan bagian dalamnya pada pria ganteng itu. “…saya Wulan, Mas… Mas namanya siapa ya?”
“Oh, jadi ini Wulan yang beken itu. Panggil aja saya Cerberus.” Dia membuat pipiku bersemu dengan kata-katanya, “Ayo saya anter, udah ditunggu sama nol dua.

Cerberus, anjing penjaga gerbang gaib yang kepalanya tiga dalam sebuah mitos, pikirku. Dari tampangnya, si Cerberus ini pasti umurnya masih agak muda, mungkin sekitar 23-24 tahun. Badannya keren, tegap dan atletis… sorotan matanya sopan tapi tajam. Mendingan yang ini lah daripada Cerberus pendahulunya, yang berumur 40an dan bertampang seperti seorang menteri, gak cocok dinamai Cerberus, pikirku sambil mengikuti langkah pemuda itu di lorong sempit dan gelap, menuruni sebuah tangga dan masuk ke sebuah lift yang lantas bergerak turun.
“Silakan masuk, Wulan.” Ujar Cerberus ramah. Tidak seperti Cerberus pendahulunya, yang ini tidak lantas menepuk pinggulku. Sopan sekali dia.
“Thank you, handsome.” Aku mengerdipkan mata kiri dan mengeluarkan lidahku di sudut kanan mulut, sambil tanganku menepuk dadanya yang bidang. Wajahnya yang memerah dan senyumnya yang mendadak kaku menandakan flirt-ku mengena sasaran.

Aku pun tiba di sebuah ruangan seluas kurang lebih 4×5 meter persegi yang dindingnya dipenuhi layar-layar monitor flat. Hitamnya screen-screen monitor yang tidak menyala saat itu, menambah nuansa gelap. Di sisi lain ruangan tampak sebuah meja kerja besar dari akrilik transparan berbentuk melengkung dengan sebuah laptop dan ponsel di atasnya. Seorang pria tegap berumur 50an dengan wajah bijaksana dan rambut cepak keperakan tersenyum ramah padaku.
“Wulaaaan! Kangen deh.” Basa-basinya terdengar membawa misteri, “Gimana liburanmu tiga bulan ini? Mana oleh-olehnya dari Dubai?”
“Ahh, udah abis di jalan, Boss.” Jawabku enteng sambil menjabat tangannya yang mantap itu sambil cipika-cipiki. Tadinya aku mau duduk di salah satu kursi di depan mejanya, tapi dia merangkul pundakku sambil menahanku menjauh.
“Lihat statistikmu lagi ah… aku seneng banget ngelihatin statistikmu sambil memelukmu.” Bisiknya sambil menggerakkan mouse dan mengklik beberapa kali.

Salah satu monitor dinding menyala. Di sisi kiri monitor tampak foto seluruh badan dari seorang wanita yang hanya mengenakan kaos berwarna putih dan jeans ketat berwarna hitam. Di sisi kanan tampak biodata dari wanita itu. Di situ tertulis, Codename: Wulan / Crescent, Age: 28; Height: 172; Weight 58; Built: Toned, Slim; Skin Tone: Asian pale yellow; Eyes: Dark Brown; Area of Operation: EU & ME; Rank: Double Zero Junior; Specialities: General Co-Op, Political, Assassin, Sabotage, Demolition; Nationality: Indonesian, Malaysian, Singaporean. Aku sendiri merasa agak-agak ngeri membaca statistik dan informasi dari gadis yang tertayang di monitor itu… yang tak lain adalah aku sendiri.

Boss membaca baris demi baris dari informasi itu sambil meremas-remaskan tangan kirinya pada lenganku yang terbungkus kemeja Escada tipis berwarna broken-white yang kukenakan. Lambat laun tangan itu berpindah ke pinggangku, lalu


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top