peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters).

IMPORTANT: Choose your name WISELY as you cannot change it later on! This is due to the fact that we will submit your pages to major search engines so that they can be found properly. 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Marzus and learn how to create your own mobile site!

Koleksi Kebon 1 - cerita.dewasa.3



Koleksi Kebon 1
Koleksi kebon - 68 stories
Tetanggaku
Omku adalah RT, aku numpang dirumahnya. Suatu pagi, aku sedang senam sendiri di halaman belakang, terdengar bunyi bel. Segera aku keluar, masih keringatan. Di pager rumah ada seorang lelaki, ganteng, tegap, umur 40an. "Ada apa om", sapaku sambil membuka pintu pager. "Pak RT nya ada", jawabnya. "Kerja om, ada perlu apa, nanti Ines sampekan". "Saya mo lapor, saya kan baru tinggal disini. Rumah saya persis dibelakang rumah ini, pungung2an dengan rumah ini". "Ya, nanti Ines sampekan, kalo om mau ketemu pak RT nanti maleman aja kembali. Om mau masuk
dulu?" aku menawarkan sambil jalan menuju ke teras rumah. Dia mengikuti dan duduk dikursi yang ada di teras. "Ines ambilkan minum ya om". "Gak usah, Ines yang kelihatannya perlu minum, keringatan gitu". Aku segera masuk kedalam mengambil botol air dingin dilemari es dan 2 gelas, kemudian keluar lagi. Aku minum karena haus, sedang om cuma senyum2 saja memandangiku. "Saya Ardi", katanya lagi. "Saya Ines om", jawabku. "Kamu baru olahraga ya Nes, sampe keringeten gitu. "Iya om, seminggu 3-4 kali, sendiri aja. Kalo jogging ampir tiap pagi". "Oya, jam
brapa joggingnya, om juga suka jogging, kalo ada temennya kan lebih semangat. Apalagi kalo yang nemenin cantik dan seksi begini", katanya memandang tonjolan toketku. "Ah om, Ines biasa aja kok", jawabku. "Biasa gimana, togepasar gitu kok dibilang biasa". Ketika itu aku hanya pake t shirt dan celana pendek. Karena T shirtku basah karena keringat, maka toketku yang montok tercetak sehingga sangat menarik perhatian."Om suka kan ngeliatnya". "Suka banget, om balik dulu ya, ngganggu Ines lagi olahraga. Ntar malem om balik lagi. Pak RT nya om Ines ya". "Iya om". alemnya om Ardi balik lagi dan bicara dengan om ku. Aku hanya keluar untuk mengantarkan
minum. Om Ardi cuma senyum saja memandangku.

Besok pagi, seperti biasa aku jogging, hari masih gelap. Sengaja aku memilih rute melalui rumah om Ardi. Dia sedang ada di halaman, menyirami tanaman. "Wah rajin banget om, kok ngerjain sendiri", sapaku. "Om ikutan jogging ya Nes", katanya sambil mematikan keran air, kemudian keluar rumah. Dia mengenakan celana pendek dan tshirt lengkap dengan sepatu joggingnya. Aku sengaja memakai pakaian yang seksi, tanktop ketat yang belahannya rendah, sehingga toketku ngintip keluar dan celana pendek ketat, sehingga lekak lekuk bodiku kelihatan dengan jelas. "Kamu
seksi sekali Nes, itu hasil olahraga ya, badan kamu bagus dan merangsang sekali", katanya to the point ketika kita sudah mulai jogging. "Kok merangsang sih om". "Lelaki mana yang tidak terangsang melihay bodi cewek seperti kamu". "Om tinggal sendiri ya", kataku mengalihkan pembicaraan. "Iya Nes, om udah cerai, anak ikut ibunya. Belum ada pembantu, sehingga masih ngelakuin semuanya sendiri". "Termasuk ngelampiaskan...", lanjutku menggodanya. "Ngelampiaskan apa Nes". "Iya om kan udah cerai, kalo butuh pelampiasan gimana". "Ya nyari lah, kan banyak yang mau dilampiasi". "Om sukanya abg ya". "La iyalah, masak sama yang seumur,
gak asik lah yao". "Sama Ines juga mau". "Memangnya Ines mau om lampiasin". Aku diem saja. "Nes dirumah om ada beberapa peralatan fitnes, kalo Ines mau bisa olahraga ditempat om, ada pool kecil lagi, sehingga abis fitnes bisa renang". "Boleh om, asik tuh kalo ada kolam renangnya". "Kapan Ines mau olahraga sama om". "Nanti juga boleh om, om gak kerja". "Oke nanti jam 6an ya, om mau ngerjakan sesuatu dulu dikantor, nanti om pulang lagi. Ines bawa bikini ya, kan mau renang". "Ines gak punya bikini om, tapi daleman Ines model bikini semuanya, ditaliin". "Pake
daleman bikini juga lebih merangsang, kalo ditaliin kan ngelepasinnya". Ngomong vulgar gitu, membuat aku terangsang juga, memang napsuku besar sehingga kadang cuma ngomong vulgar aja aku sudah mulai napsu.

Jam 6 aku pamit keluar rumah. Sampe rumahnya, om Ardi sudah nunggu diteras. "Masuk Nes, mau langsung olah raga ya". Aku dibawanya kelantai 3 rumahnya. Rupanya lantai atas terbuka, ada beberapa alat fitnes disitu seperti sepeda statis, treadmill dan pembentuk otot lengan dan kaki. Poolnya kecil tapi cukuplah untuk berenang mondar mandir. Udaranya sore itu cerah, matahari sudah agak condong
sehingga tidak terlalu menyengat panasnya. Aku latihan sepeda, kemudian dilanjutkan dengan treadmill. Om Ardi latihan membentuk otot lengan dan kaki. Cukup lama kita latihan, sampe akhirnya kita berhenti karena cape. Om Ardi mengambilkan makanan dan minuman untuk makan malem, karena hari sudah gelap. Dia berbaring di kursi males yang ada di pool, aku berbaring dikursi sebelahnya. Setelah makan minum dan ngobrol sebentar, om Ardi melepas Tshirtnya, badannya tegap. "Ayo Nes, pake dong bikininya, mau pake daleman bikini kamu juga gak apa", ajaknya. Aku segera melepaskan pakaian luarku, tinggallah aku berbalut bra tipis model ikatan dan
g string yang juga tipis. Dia membelalak melihat pemandangan indah yang sedang mendekatinya. "Nes kamu napsuin banget", katanya sambil merapatkan 2 kursi males menjadi satu dan menebarkan matras diatas ke2 kursi itu. Aku duduk disebelahnya, segera aku ditariknya hingga terbaring disebelahnya. Dan yang kurasakan berikutnya adalah bibirnya yang langsung mencium bibirku dan melumat. Aku tergagap sesaat sebelum aku membalas lumatannya. Aku merasakan lidahnya menyusup ke dalam mulutku. Dan reflekku adalah mengisapnya. Lidahnya menari-nari di mulutku. Napsuku naik. Sambil melumat, tangannya juga merambah tubuhku. Kurasakan remasan jari kasar pada toketku yang masih terbungkus bra tipis. Aku menggelinjang. Menggeliat-geliat hingga pantatku terangkat naik dari matras karena rasa nikmat yang luar biasa. Bibirnya melumatku, dan aku menyambutnya dengan penuh napsu. Dirangkulnya tubuhku, bibirnya lebih menekan lagi. Disedotnya lidahku, sekaligus juga ludahku. Kemudian tangannya kembali meremasi kedua toketku, dan dilepaskannya ikatan braku. Ganti bibirnyalah yang menjilati dan mengemut toket dan pentilku. Aku nggak mampu menahan gelinjang ini, rintihan keluar dari mulutku.
Tangannya turun untuk meraih g stringku. Aku makin tak mampu menahan napsu saat jari-jari kasar itu merabai bibir no nokku dari luar g string dan kemudian mengilik i tilku. Aku langsung merasa melayang karena kenikmatan itu. Jarinya meraih no nokku melalui samping g stringku. Aku rasakan ujung jari nya bermain di bibir no nokku. Cairan no nokku yang sudah mengalir sejak tadi menjadi pelumas untuk memudahkan masuknya jari-jarinya ke no nokku. Dia terus menggumuli tubuhku dan
merangsek ke ketiakku. Dia jilati dan sedoti ketiakku. Dia menikmati rintihan yang keluar dari bibirku. Dia nampaknya ingin memberikan sesuatu yang lain dari yang lain. Sementara jari-jarinya terus mengilik no nokku. Dinding-dindingnya yang penuh saraf-saraf peka dia kutik-kutik, hingga aku serasa kelenger kenikmatan. Dan tak terbendung lagi, cairan no nokku mengalir dengan derasnya. Yang semula satu jari, kini disusulkan lagi jari lainnya. Kenikmatan yang aku terimapun bertambah. Dia tahu persis titik-titik kelemahanku. Jari-jarinya mengarah pada G-spotku. Dan tak ayal lagi. Hanya dengan jilatan di ketiak dan kobokan jari-jari di no nokku, dia berhasil membuatku nyampe. Kepalanya kuraih dan kuremasi rambutnya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kuhunjamkan kukuku ke punggungnya. Pahaku menjepit tangannya, sementara pantatku terangkat agar jarinya lebih melesek ke no nokku. Aku berteriak histeris. Kakiku mengejang menahan kedutan no nokku yang memuntahkan cairan bening. Keringatku yang mengucur deras mengalir ke mataku, ke pipiku, kebibirku. Kusibakkan rambutku untuk mengurangi gerahnya tubuhku. Saat telah reda, kurasakan tangannya mengusap-usap rambutku yang basah sambil meniup-niup dengan penuh kasih sayang. Dia eluskan tangannya, dia sisir rambutku dengan jari-jarinya. Hawa dingin merasuki kepalaku. "Nes, kamu liar banget deh. Istirahat dulu ya. Aku ambilkan minum lagi", dia mengambilkan minuman. Aku dibawakan kaleng coca cola, dibukakan dan diberikannya kepadaku. Segera kuminum coca cola itu sampe habis. Sementara aku masih terlena di dipan dan menarik nafas panjang sesudah nyampe tadi, dia terus menciumi dan ngusel-uselkan hidungnya ke perutku.
Bahkan lidah dan bibirnya menjilati dan menyedoti keringatku. Tangannya tak henti-hentinya merabai selangkanganku. Aku terdiam. Aku perlu mengembalikan staminaku. "Masih capek Nes", bisiknya. "Nggak kok. Lagi narik napas saja. Tadi nikmat banget yaa padahal om belum apa-apa. Baru di utik-utik saja Ines sudah kelabakkan", jawabku. Karena jawabanku tadi dengan penuh semangat dia turun dari dipan. Dia lepasin sendiri celana pendeknya. aku sangat tergetar menyaksikan tubuhnya. Bahunya bidang. Lengannya kekar, dengan otot-otot yang kokoh. Perutnya
nggak nampak membesar, rata dengan otot-otot perut yang kencang, seperti papan penggilasan. Bukit dadanya yang kokoh, dengan dua pentil besar kecoklatan, sangat menantang menunggu gigitan dan jilatan. Pandanganku terus meluncur ke bawah. Dan yang paling membuatku terpesona adalah kon tolnya yang besar, panjang, keras hingga nampak kepalanya berkilatan sangat menantang. Dengan sobekan lubang kencing yang gede, kon tol itu mengundang untuk diremes, dikocok dan diemut. Sesudah telanjang dia menarik lepas g stringku sehingga sekarang kita berdua sudah bertelanjang bulat. "Nes, jembut kamu lebat banget, pantes kamu tadi jadi liar",
katanya sambil mengelus2 jembutku. "Bukannya liar, itu namanya menikmati", jawabku. "Kita gak jadi berenang ya om". "Berenang di matras aja, lebih nikmat", jawabnya.

Aku mendorong tubuhnya hingga terbaring di matras. Kon tolnya yang keras kugelitik dengan rambutku. Kemudian kepala kon tolnya kubasahi dengan ludahku. Kuratakan ludah dengan jariku. Dia menggeliat kegelian. Dengan lembut kuusap seluruh permukaan kepala kon tolnya yang besar, dia melenguh karena nikmatnya. Kugenggam pangkal kon tolnya dan kepalanya yang basah mulai kujilati. Diujung kepalanya ada setitik cairan bening. Sambil menjilati cairan bening itu, kon tolnya
kukocok turun naik. Terasa agak asin. Dengan lidah kujilati kepala dan leher kon tolnya, semua daerah sensitif kujelajahi dengan lidah. Akhirnya kepalanya kuemut dan kukeluar masukkan ke dalam mulutku. Perutnya kuelus2, dia meremas2 rambutku. Aku terus saja mengisap kon tolnya. kon tol yang gede, panjang, kepalanya yang bulat berkilatan. kepalaku dielus-elusnya. Dan dia menyibakkan rambutku agar tidak menggangu keasyikanku. Dengan penuh semangat aku terus
mengulum kon tolnya. "Nes, nikmat banget emutanmu", erangnya. "Kamu pinter banget siihh". Aku terus memompa dengan lembut. Berkali2 aku mengeluarkan kepala itu dari mulutku. Aku menjilati tepi-tepinya. Pada pangkal kepala ada alur semacam cincin atau bingkai yang mengelilingi kepala itu. Dan sobekan lubang kencingnya kujilati habis-habisan. "Nes, nikmatnya aah", kembali dia mengerang.Rupanya dia tak tahan dengan rangsanganku, aku ditariknya dari kon tolnya, dibaringkannya dan kembali mulutnya mengarah ke no nokku. Dengan lembut dia menjilati daerah sekeliling no nokku, pahaku dikangkangkan supaya dia mudah mengakses no nokku. "aah", ganti aku yang melenguh keenakan. Lidahnya makin liar menjelajahi no nokku. Bibir no nokku dikuakkan dengan jarinya dan kembali i tilku yang menjadi sasaran lidahnya. Aku makin menggelinjang gak karuan. Napasku menjadi gak teratur, "Ines dien tot dong", erangku. Dari no nokku kembali
membanjir cairan bening. Dia menjilati cairan itu.

Badannya kutarik, dia segera menempatkan kon tol besarnya di bibir no nokku. Pelan2 dimasukkannya sedikit demi sedikit, nikmat banget rasanya kemasukan kon tol yang gede banget. Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk, mula2 pelan dan makin lama makin cepat keras, kon tolnya sudah ambles semuanya di no nokku, "Aah", erangku lagi. Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya dengan keras dan cepat, sehingga akhirnya no nokku makin berdenyut mencengkeram kon tolnya dengan ...


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top