peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

Koleksi Kebon 1 - cerita.dewasa.3



Koleksi Kebon 1
Koleksi kebon - 68 stories
Tetanggaku
Omku adalah RT, aku numpang dirumahnya. Suatu pagi, aku sedang senam sendiri di halaman belakang, terdengar bunyi bel. Segera aku keluar, masih keringatan. Di pager rumah ada seorang lelaki, ganteng, tegap, umur 40an. "Ada apa om", sapaku sambil membuka pintu pager. "Pak RT nya ada", jawabnya. "Kerja om, ada perlu apa, nanti Ines sampekan". "Saya mo lapor, saya kan baru tinggal disini. Rumah saya persis dibelakang rumah ini, pungung2an dengan rumah ini". "Ya, nanti Ines sampekan, kalo om mau ketemu pak RT nanti maleman aja kembali. Om mau masuk
dulu?" aku menawarkan sambil jalan menuju ke teras rumah. Dia mengikuti dan duduk dikursi yang ada di teras. "Ines ambilkan minum ya om". "Gak usah, Ines yang kelihatannya perlu minum, keringatan gitu". Aku segera masuk kedalam mengambil botol air dingin dilemari es dan 2 gelas, kemudian keluar lagi. Aku minum karena haus, sedang om cuma senyum2 saja memandangiku. "Saya Ardi", katanya lagi. "Saya Ines om", jawabku. "Kamu baru olahraga ya Nes, sampe keringeten gitu. "Iya om, seminggu 3-4 kali, sendiri aja. Kalo jogging ampir tiap pagi". "Oya, jam
brapa joggingnya, om juga suka jogging, kalo ada temennya kan lebih semangat. Apalagi kalo yang nemenin cantik dan seksi begini", katanya memandang tonjolan toketku. "Ah om, Ines biasa aja kok", jawabku. "Biasa gimana, togepasar gitu kok dibilang biasa". Ketika itu aku hanya pake t shirt dan celana pendek. Karena T shirtku basah karena keringat, maka toketku yang montok tercetak sehingga sangat menarik perhatian."Om suka kan ngeliatnya". "Suka banget, om balik dulu ya, ngganggu Ines lagi olahraga. Ntar malem om balik lagi. Pak RT nya om Ines ya". "Iya om". alemnya om Ardi balik lagi dan bicara dengan om ku. Aku hanya keluar untuk mengantarkan
minum. Om Ardi cuma senyum saja memandangku.

Besok pagi, seperti biasa aku jogging, hari masih gelap. Sengaja aku memilih rute melalui rumah om Ardi. Dia sedang ada di halaman, menyirami tanaman. "Wah rajin banget om, kok ngerjain sendiri", sapaku. "Om ikutan jogging ya Nes", katanya sambil mematikan keran air, kemudian keluar rumah. Dia mengenakan celana pendek dan tshirt lengkap dengan sepatu joggingnya. Aku sengaja memakai pakaian yang seksi, tanktop ketat yang belahannya rendah, sehingga toketku ngintip keluar dan celana pendek ketat, sehingga lekak lekuk bodiku kelihatan dengan jelas. "Kamu
seksi sekali Nes, itu hasil olahraga ya, badan kamu bagus dan merangsang sekali", katanya to the point ketika kita sudah mulai jogging. "Kok merangsang sih om". "Lelaki mana yang tidak terangsang melihay bodi cewek seperti kamu". "Om tinggal sendiri ya", kataku mengalihkan pembicaraan. "Iya Nes, om udah cerai, anak ikut ibunya. Belum ada pembantu, sehingga masih ngelakuin semuanya sendiri". "Termasuk ngelampiaskan...", lanjutku menggodanya. "Ngelampiaskan apa Nes". "Iya om kan udah cerai, kalo butuh pelampiasan gimana". "Ya nyari lah, kan banyak yang mau dilampiasi". "Om sukanya abg ya". "La iyalah, masak sama yang seumur,
gak asik lah yao". "Sama Ines juga mau". "Memangnya Ines mau om lampiasin". Aku diem saja. "Nes dirumah om ada beberapa peralatan fitnes, kalo Ines mau bisa olahraga ditempat om, ada pool kecil lagi, sehingga abis fitnes bisa renang". "Boleh om, asik tuh kalo ada kolam renangnya". "Kapan Ines mau olahraga sama om". "Nanti juga boleh om, om gak kerja". "Oke nanti jam 6an ya, om mau ngerjakan sesuatu dulu dikantor, nanti om pulang lagi. Ines bawa bikini ya, kan mau renang". "Ines gak punya bikini om, tapi daleman Ines model bikini semuanya, ditaliin". "Pake
daleman bikini juga lebih merangsang, kalo ditaliin kan ngelepasinnya". Ngomong vulgar gitu, membuat aku terangsang juga, memang napsuku besar sehingga kadang cuma ngomong vulgar aja aku sudah mulai napsu.

Jam 6 aku pamit keluar rumah. Sampe rumahnya, om Ardi sudah nunggu diteras. "Masuk Nes, mau langsung olah raga ya". Aku dibawanya kelantai 3 rumahnya. Rupanya lantai atas terbuka, ada beberapa alat fitnes disitu seperti sepeda statis, treadmill dan pembentuk otot lengan dan kaki. Poolnya kecil tapi cukuplah untuk berenang mondar mandir. Udaranya sore itu cerah, matahari sudah agak condong
sehingga tidak terlalu menyengat panasnya. Aku latihan sepeda, kemudian dilanjutkan dengan treadmill. Om Ardi latihan membentuk otot lengan dan kaki. Cukup lama kita latihan, sampe akhirnya kita berhenti karena cape. Om Ardi mengambilkan makanan dan minuman untuk makan malem, karena hari sudah gelap. Dia berbaring di kursi males yang ada di pool, aku berbaring dikursi sebelahnya. Setelah makan minum dan ngobrol sebentar, om Ardi melepas Tshirtnya, badannya tegap. "Ayo Nes, pake dong bikininya, mau pake daleman bikini kamu juga gak apa", ajaknya. Aku segera melepaskan pakaian luarku, tinggallah aku berbalut bra tipis model ikatan dan
g string yang juga tipis. Dia membelalak melihat pemandangan indah yang sedang mendekatinya. "Nes kamu napsuin banget", katanya sambil merapatkan 2 kursi males menjadi satu dan menebarkan matras diatas ke2 kursi itu. Aku duduk disebelahnya, segera aku ditariknya hingga terbaring disebelahnya. Dan yang kurasakan berikutnya adalah bibirnya yang langsung mencium bibirku dan melumat. Aku tergagap sesaat sebelum aku membalas lumatannya. Aku merasakan lidahnya menyusup ke dalam mulutku. Dan reflekku adalah mengisapnya. Lidahnya menari-nari di mulutku. Napsuku naik. Sambil melumat, tangannya juga merambah tubuhku. Kurasakan remasan jari kasar pada toketku yang masih terbungkus bra tipis. Aku menggelinjang. Menggeliat-geliat hingga pantatku terangkat naik dari matras karena rasa nikmat yang luar biasa. Bibirnya melumatku, dan aku menyambutnya dengan penuh napsu. Dirangkulnya tubuhku, bibirnya lebih menekan lagi. Disedotnya lidahku, sekaligus juga ludahku. Kemudian tangannya kembali meremasi kedua toketku, dan dilepaskannya ikatan braku. Ganti bibirnyalah yang menjilati dan mengemut toket dan pentilku. Aku nggak mampu menahan gelinjang ini, rintihan keluar dari mulutku.
Tangannya turun untuk meraih g stringku. Aku makin tak mampu menahan napsu saat jari-jari kasar itu merabai bibir no nokku dari luar g string dan kemudian mengilik i tilku. Aku langsung merasa melayang karena kenikmatan itu. Jarinya meraih no nokku melalui samping g stringku. Aku rasakan ujung jari nya bermain di bibir no nokku. Cairan no nokku yang sudah mengalir sejak tadi menjadi pelumas untuk memudahkan masuknya jari-jarinya ke no nokku. Dia terus menggumuli tubuhku dan
merangsek ke ketiakku. Dia jilati dan sedoti ketiakku. Dia menikmati rintihan yang keluar dari bibirku. Dia nampaknya ingin memberikan sesuatu yang lain dari yang lain. Sementara jari-jarinya terus mengilik no nokku. Dinding-dindingnya yang penuh saraf-saraf peka dia kutik-kutik, hingga aku serasa kelenger kenikmatan. Dan tak terbendung lagi, cairan no nokku mengalir dengan derasnya. Yang semula satu jari, kini disusulkan lagi jari lainnya. Kenikmatan yang aku terimapun bertambah. Dia tahu persis titik-titik kelemahanku. Jari-jarinya mengarah pada G-spotku. Dan tak ayal lagi. Hanya dengan jilatan di ketiak dan kobokan jari-jari di no nokku, dia berhasil membuatku nyampe. Kepalanya kuraih dan kuremasi rambutnya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kuhunjamkan kukuku ke punggungnya. Pahaku menjepit tangannya, sementara pantatku terangkat agar jarinya lebih melesek ke no nokku. Aku berteriak histeris. Kakiku mengejang menahan kedutan no nokku yang memuntahkan cairan bening. Keringatku yang mengucur deras mengalir ke mataku, ke pipiku, kebibirku. Kusibakkan rambutku untuk mengurangi gerahnya tubuhku. Saat telah reda, kurasakan tangannya mengusap-usap rambutku yang basah sambil meniup-niup dengan penuh kasih sayang. Dia eluskan tangannya, dia sisir rambutku dengan jari-jarinya. Hawa dingin merasuki kepalaku. "Nes, kamu liar banget deh. Istirahat dulu ya. Aku ambilkan minum lagi", dia mengambilkan minuman. Aku dibawakan kaleng coca cola, dibukakan dan diberikannya kepadaku. Segera kuminum coca cola itu sampe habis. Sementara aku masih terlena di dipan dan menarik nafas panjang sesudah nyampe tadi, dia terus menciumi dan ngusel-uselkan hidungnya ke perutku.
Bahkan lidah dan bibirnya menjilati dan menyedoti keringatku. Tangannya tak henti-hentinya merabai selangkanganku. Aku terdiam. Aku perlu mengembalikan staminaku. "Masih capek Nes", bisiknya. "Nggak kok. Lagi narik napas saja. Tadi nikmat banget yaa padahal om belum apa-apa. Baru di utik-utik saja Ines sudah kelabakkan", jawabku. Karena jawabanku tadi dengan penuh semangat dia turun dari dipan. Dia lepasin sendiri celana pendeknya. aku sangat tergetar menyaksikan tubuhnya. Bahunya bidang. Lengannya kekar, dengan otot-otot yang kokoh. Perutnya
nggak nampak membesar, rata dengan otot-otot perut yang kencang, seperti papan penggilasan. Bukit dadanya yang kokoh, dengan dua pentil besar kecoklatan, sangat menantang menunggu gigitan dan jilatan. Pandanganku terus meluncur ke bawah. Dan yang paling membuatku terpesona adalah kon tolnya yang besar, panjang, keras hingga nampak kepalanya berkilatan sangat menantang. Dengan sobekan lubang kencing yang gede, kon tol itu mengundang untuk diremes, dikocok dan diemut. Sesudah telanjang dia menarik lepas g stringku sehingga sekarang kita berdua sudah bertelanjang bulat. "Nes, jembut kamu lebat banget, pantes kamu tadi jadi liar",
katanya sambil mengelus2 jembutku. "Bukannya liar, itu namanya menikmati", jawabku. "Kita gak jadi berenang ya om". "Berenang di matras aja, lebih nikmat", jawabnya.

Aku mendorong tubuhnya hingga terbaring di matras. Kon tolnya yang keras kugelitik dengan rambutku. Kemudian kepala kon tolnya kubasahi dengan ludahku. Kuratakan ludah dengan jariku. Dia menggeliat kegelian. Dengan lembut kuusap seluruh permukaan kepala kon tolnya yang besar, dia melenguh karena nikmatnya. Kugenggam pangkal kon tolnya dan kepalanya yang basah mulai kujilati. Diujung kepalanya ada setitik cairan bening. Sambil menjilati cairan bening itu, kon tolnya
kukocok turun naik. Terasa agak asin. Dengan lidah kujilati kepala dan leher kon tolnya, semua daerah sensitif kujelajahi dengan lidah. Akhirnya kepalanya kuemut dan kukeluar masukkan ke dalam mulutku. Perutnya kuelus2, dia meremas2 rambutku. Aku terus saja mengisap kon tolnya. kon tol yang gede, panjang, kepalanya yang bulat berkilatan. kepalaku dielus-elusnya. Dan dia menyibakkan rambutku agar tidak menggangu keasyikanku. Dengan penuh semangat aku terus
mengulum kon tolnya. "Nes, nikmat banget emutanmu", erangnya. "Kamu pinter banget siihh". Aku terus memompa dengan lembut. Berkali2 aku mengeluarkan kepala itu dari mulutku. Aku menjilati tepi-tepinya. Pada pangkal kepala ada alur semacam cincin atau bingkai yang mengelilingi kepala itu. Dan sobekan lubang kencingnya kujilati habis-habisan. "Nes, nikmatnya aah", kembali dia mengerang.Rupanya dia tak tahan dengan rangsanganku, aku ditariknya dari kon tolnya, dibaringkannya dan kembali mulutnya mengarah ke no nokku. Dengan lembut dia menjilati daerah sekeliling no nokku, pahaku dikangkangkan supaya dia mudah mengakses no nokku. "aah", ganti aku yang melenguh keenakan. Lidahnya makin liar menjelajahi no nokku. Bibir no nokku dikuakkan dengan jarinya dan kembali i tilku yang menjadi sasaran lidahnya. Aku makin menggelinjang gak karuan. Napasku menjadi gak teratur, "Ines dien tot dong", erangku. Dari no nokku kembali
membanjir cairan bening. Dia menjilati cairan itu.

Badannya kutarik, dia segera menempatkan kon tol besarnya di bibir no nokku. Pelan2 dimasukkannya sedikit demi sedikit, nikmat banget rasanya kemasukan kon tol yang gede banget. Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk, mula2 pelan dan makin lama makin cepat keras, kon tolnya sudah ambles semuanya di no nokku, "Aah", erangku lagi. Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya dengan keras dan cepat, sehingga akhirnya no nokku makin berdenyut mencengkeram kon tolnya dengan keras. "Terus yang cepat, Ines mau nyampe, aah", erangku dengan liar. Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya sampe akhirnya, "Aah, Ines nyampe...", kembali aku berteriak. Dia menghentikan enjotannya. Kembali aku dibelai2 dan bibirku diciumnya dengan mesra. "Nikmat banget dien tot ama om, baru sebentar dienjot, Ines dah
nyampe," kataku. Dia mencabut kon tolnya dan minta aku nungging Segera ditancapkannya kembali kon tolnya di no nokku dari belakang. Pinggulku dipeganginya sambil mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat, rasanya kon tol panjangnya masuk lebih dalam lagi ke no nokku, nikmat banget rasanya. Dia rupanya ingin merasakan macem2 gaya ngen tot, segera dia telentang dan minta aku yang diatas. Aku menancapkan kon tolnya dino nokku dan kuturunkan tubuhku
sehingga kon tolnya kembali ambles di no nokku. Aku menggerakkan pinggulku turun naik dan juga dengan gerakan memutar. Dia meremas2 toketku dan memlintir pentilku. Aku membungkukkan badanku sehingga dia bisa mengemut pentilku, sesekali digigitnya pelan, aku menjerit2 karena nikmatnya. "Nes, aku dah mau ngecret, didalem boleh gak", katanya sambil terus meremes toketku. "Ngecretin didalem aja om, biar lebih nikmat", jawabku sambil terus menaik turunkan pinggulku
mengocok kon tolnya yang ambles di no nokku. Aku kembali membungkuk, kali ini bibirnya kucium dengan ganas. Dia memegangi pinggangku. Gerakan pinggulku makin cepat, aku juga merasa akan nyampe lagi. no nokku terasa berdenyut2, "Om, Ines mau nyampe juga, bareng ya om", kataku terengah. Terus kugerakan pinggulku naik turun dengan cepat sampe akhirnya pejunya muncrat menyembur2 didalam no nokku. Bersamaan dengan ngecretnya dia, akupun nyampe kembali. "Nikmatnya..", erangku. Aku menelungkup lemas dibadannya, dia memelukku dan mengecup
bibirku, sementara kon tolnya masih nancap di no nokku. "Ines lemes banget, tapi nikmatnya luar biasa", kataku. "Ini baru ronde pertama lo Nes", jawabnya. "Ines mau kok om en totin lagi", kataku. "Kita kekamar yuk", katanya. Dia mendorongku bangun sehingga kon tolnya tercabut dari no nokku. Kita segera pindah ke kamar di lantai 2.

Aku berbaring kelelahan diranjang. Om Ardi berbaring disebelahku, kayaknya dia belum puas karena tangannya kembali meremas toketku. "Kamu seksi banget ya Nes, toket kamu besar dan kenceng. Jembut kamu lebat banget, om suka ngen tot ama yang jembutnya lebat. Mana no nok kamu kenceng banget empotannya, om mau ngerasain lagi ya Nes", katanya dan dia kembali mencium bibirku. Dia bangun dan segera mengarah ke no nokku, dia tau titik lemahku ada dino nokku. Lidahnya kembali enjilati no nokku. Ujung lidahnya kembali menelusup masuk ke no nokku.
Rambutnya segera kuremas2 dan kutekankan kepalanya supaya lidahnya lebih masuk lagi ke no nokku. Pantatku menggelinjang naik keatas. Dia terus saja menggarap no nokku, pahaku dipeganginya erat2 sehingga aku sulit untuk bergerak2, aku hanya bisa mendesah2 kenikmatan. Rupanya desahanku merangsang napsunya sehingga segera dia melepaskan no nokku dan menaiki tubuhku. "Om kuat banget sih. Baru aja ngecret udah pengen masuk lagi", keluhku. Dia tidak menjawab. Digenggamnya kon tolnya, diarahkan ke no nokku. Aku menggelinjang saat
kepala tumpul yang bulat gede itu menyentuh dan langsung mendorong bibir no nokku. Kepala kon tolnya menguak gerbang no nokku. no nokku langsung menyedotnya, agar seluruh kon tol gede itu bisa dilahapnya. Uuhh .. aku merasakan nikmat desakan kon tol yang hangat panas memasuki no nokku.Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. kon tol panas itu terus mendesak masuk. Rahimku terasa disodok-sodoknya. kon tol itu akhirnya mentok di mulut rahimku. Kemudian
dia mulai melakukan pemompaan. Ditariknya pelan kemudian didorongnya. Ditariknya pelan kembali dan kembali didorongnya. Begitu dia ulang-ulangi dengan frekuensi yang makin sering dan makin cepat. Dan aku mengimbangi secara reflek. Saat dia menarik kon tolnya, pantatku juga menarik kecil sambil sedikit ngebor. Dan saat dia menusukkan kon tolnya, pantatku cepat menjemputnya disertai goyangan igelnya. Demikian secara beruntun, semakin lama makin cepat. Toketku bergoncang-goncang, rambutku terburai, keringatku bercampur keringatnya mengalir dan berjatuhan di tubuh masing-masing, mataku dan matanya sama-sama melihat keatas dengan
menyisakan sedikit putih matanya. Goncangan makin cepat itu juga membuat ranjang kokoh itu ikut berderak-derak. "Nes, nikmat banget deh no nok kamu", dia melenguh. "Kon tol om juga enak banget, panjangg .. Uhh gede banget." Posisi nikmat ini berlangsung bermenit-menit. Kulihat tubuh kekar nya tampak berkilatan karena keringatnya. keringatnya mengalir dari lehernya, terus ke dada bidangnya, dan akhirnya ke tonjolan otot di perutnya. Dengan gemas kumainkan pentilnya yang
bekilatan itu. Kugigiti, kujilati, kuremas-remas. Tambah buas gerakannya. Sodokan kon tolnya tambah kencang di no nokku dan tangannya meremes2 toketku. Pada akhirnya, setelah sekian lama dia mengenjot no nokku dan aku nyampe 2 kali secara berturut2, kon tolnya terasa berdenyut keras dan kuat sekali. Kemudian menyusul denyut-denyut berikutnya. Pada setiap denyutan aku rasakan no nokku sepertinya disemprot air kawah yang panas. Pejunya kembali berkali-kali ngcret di dalam no nokku. Uhh .. Aku jadi lemes banget. "Ines lemes nih, tapi nikmat banget. Istirahat
dulu ya", kataku. Aku langsung terkapar di ranjang dan tak lama kemudian aku tertidur.

Pagi hari. Aku terbangun karena ada ciuman di bibirku. Diluar udah terang. Om Ardi sedang mencium bibirku. Aku menyambut ciumannya, kayanya sarapan pagiku ya dien tot lagi. Kami saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan dia saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah. Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan nya mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Kembali dia melepas bibirnya dari bibirku. satu tangannya masih terus membelai pahaku, akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku. Dia mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan pada lidahnya. Mungkin saat itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, membelai no nokku. "Mmhh.. " desahku disela2 ciuman panas kami. Dari mencium bibirku, lidahnya mulai berpindah ke telinga dan leherku, dan kembali lagi ke bibir
dan lidahku.Permainannya yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku terpancing menjadi semakin bernapsu, sampai akhirnya ia mulai memainkan tangannya meraba2 toketku, pentilku yang saat itu sudah tegak mengacung digesek2nya. Diciuminya toketku, kemudian mulai menjilati pentilku. "Ooohh.. sshh.. aachh." desahku langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahnya yang basah dan kasar menggesek pentilku yang terasa sangat peka. Dia menjilati dan menghisap toket dan pentilku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat menikmati gelombang rangsangannya. Dia melepas pentilku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku, dan mulai menciumi pahaku. Kembali bibirnya yang basah dan lidahnya yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas bibir no nokku. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak napsu. Dia mengalihkan jilatannya
kejembutku yang telah begitu basah penuh lendir no nokku. "ohh.." lenguhku. Lidahnya melalap vaginaku dari bawah sampai ke atas, menyentuh i tilku. Dia menghentikan jilatannya dan berlutut di depanku. No nokku terasa panas, basah dan berdenyut-denyut.

Dia membuka kakiku hingga mengangkang lebar lebar, lalu di turunkannya pantatnya dan menuntun kon tolnya ke bibir no nokku. Terasa sekali kepala kon tolnya menembus no nokku."Hngk! Besaar..sekalii," erangku. Tanpa terburu-buru, dia kembali menjilati dan menghisap pentilku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada pentilku, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap pentilku, nikmat banget
rasanya, sementara setengah kon tolnya bergerak perlahan dan lembut menembus no nokku. Dia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, membuat lendir no nokku semakin banyak meleleh di no nokku, melicinkan jalan masuk kon tol berototnya ini ke dalam no nokku tahap demi tahap. Lidahnya yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu pentil ke pentil yang lain. "Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. masukin kon tol om yang dalaam..! oouch.. niikmaatnya!" erangku. Seluruh rongga no nokku terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding no nokku digesek kon
tolnya yang keras dan besaar..! Akhirnya seluruh kon tolnya yang kekar besar itu tertelan kedalam no nokku. Terasa bibir no nokku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas pentilku, dia mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, "..oouch. niikmaat!!" aku pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatku maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, dan akhirnya napasku semakin tersengal2 diselingi desah desah penuh kenikmatan. "hh..sshh.. hh.. ohh ..suungguuhh.. niikmmaat." lidahnya kembali menari di pentilku. Aku benar benar menikmati permainannya sambil meremas-remas rambutnya. Kon tolnya yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot no nokku dan menggesek dinding no nokku yang mencengkeram erat. Hisapan dan jilatannya pada pentilku pun semakin cepat dan bernapsu. Seluruh tubuhku bergelinjang liar tanpa bisa kukendalikan. Desahanku sudah berganti dengan erangan liar, "Ahh.. Ouchh.. en totin Ines terus,
genjot habis no nokku..!! genjoott.. kon tol om sampe mentok..!!" Ooohh.. bukan main enaknya ngeentoot sama om..!!" mendengar celotehanku, dia berubah menjadi semakin beringas, kon tolnya makin cepat dienjotkan keluar masuk no nokku. Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhku "Ngghh..nghh .. nghh.. Ines mau nyampe..!!" pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku sambil memeluk erat tubuhnya mencoba menahan
kenikmatan dalam tubuhku, dia mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan kon tolnya dalam2 dengan memutar mutar keras sekalii. i tilku yang sudah begitu mengeras habis digencetnya. "..aacchh.. niikmaatnya.. tekeen.. teruuss.. i til Ines..!!" Akhirnya aku nyampe, kupeluk tubuhnya erat sekali. wajahnya kuciumi sambil mengerang2
dikupingnya sementara dia terus menggerakkan sambil menekan kon tolnya secara sangat perlahan. Tubuhku yang terkulai lemas dengan kon tolnya masih di dalam no nokku yang masih berdenyut-denyut. Tanpa tergesa-gesa, dia mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat. Ia sama sekali tidak menggerakkan kon tolnya yang masih besar dan keras di dalam no nokku. Ia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah.

Setelah aku kembali "sadar" , aku pun mulai membalas ciumannya, sehingga om Ardi kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Napsuku kembali terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan kon tolnya pada dinding no nokku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar. Genjotan kon tolnya pada no nokku mulai cepat, kasar dan liar. Lalu dia memintaku untuk berbalik, sambil merangkak dan menungging kubuka kakiku lebar, kutatap mukanya sayu sambil memelas "Masukin kon tol gede om dari belakang kelobang no nok Ines.." Dia pun menatap bokongku. Sambil memegang kon tolnya disodokannya ketempat yang dituju ”Bleess.." ..Ooohh. teruss.. yang.. dalaam..!"! terasa besar dan panjang kon tolnya menyodok no nokku, terasa sekali gesekannya di no nokku yang menyempit karena tertekuk tubuhku yang sedang menungging ini. Dia menggarapku dengan penuh napsu, tubuhku kuayun ayunkan maju mundur, ketika kebelakang kusentakan keras
sekali menyambut sodokannya sehingga kon tol yang besar dan panjang itu lenyap tertelan no nokku. "Hngk.. ngghh..Ines mau nyampe lagii.. aargghh..!!" aku melenguh panjang, aku nyampe lagi. Kudorong pantatku ke belakang keras sekali menancapkan kon tolnya yang besar sedalam-dalam2nya di dalam no nokku, terasa no nokku berdenyut2 mengempot kon tol besarnya. Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhku melemas dipelukannya yang menindih tubuhku dari belakang. Berat memang tubuhnya, namun dia menyadari itu dan segera
menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Tubuhku yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan.

Om Ardi memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas. "Nes om belum ngecret..! Tolong isepin kon tol om dong..!" tanpa sungkan lagi kuemut kon tolnya, kujilati biji pelernya, bahkan selangkangannya ketika kulihat dia menggeliat geliat kenikmatan, "..Ohh Nes.. nikmat sekalii.. teruss .. lumat kon tol om, iseep yang daleemm.. ohh.." dia mengerang penuh semangat membuatku semakin gairah saja mengemut kon tolnya yang besar. Untuk makin
merangsang dirinya aku merangkak dihadapannya tanpa melepaskan kon tolnya dari mulutku, kutunggingkan pantatku kuputar putar sambil kuhentak2 kebelakang. Benar saja melihat gerakan erotisku dia makin mendengus2. Emutanku makin beringas, kon tol yang besar itu yang menyumpal mulutku, kepalaku naik turun cepat sekali, dia menggelinjang hebat. Akhirnya kurasakan no nokku ingin melahap kembali kon tolnya yang masih perkasa ini, dengan cepat aku lepas kon tolnya dari mulutku langsung aku merangkak ke atas tubuhnya kuraih kon tolnya lalu kududuki sembari
kutujukan ke no nokku. Bleess.."..Ooohh..Nes..masuukin kon tol om semuanya..!!" dia mengerang. Kuputar-putar pinggulku dengan cepatnya sekali kali kuangkat pantatku lalu kujatuhkan dengan keras sehingga kon tol yang besar itu melesak dalaam sekali.. "..aachh.. Nes.. putaar..habiisiin kon tol om.. eennakk.. sekaallii..!!" gilirannya merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhnya. Kugenjot bahkan sambil menekan keras sekali pantatku. Kon tolnya kugenjot dan kupelintir habis, bahkan kukontraksikan otot2 no nokku sehingga kon tol yang besar itu terhisap dan terkenyot didalam no nokku. Dia menggelinjang habis kadang mengejangkan tubuhnya sambil meremas pantatku keras sekali, kutekan lagi pantatku lebih keras, kon tolnya melesak seluruhnya bahkan jembutnya sudah menyatu dengan jembutku, i tilku tergencet kon tolnya. Badanku sedikit kumiringkan ke belakang, biji pelernya kuraih dan kuremas-remas, "..Ooohh.. aachh.. yeess. Nes", dia membelalakan matanya. Lalu dia bangkit, dengan posisi duduk ia mengemut toketku... aachh
tubuhku semakin panaas.. kubusungkan kedua toketku. "..Emut pentil Ines.. dua. duanya.. ..yeess..!! sshh.. ...oohh..!! erangku. "..Ooohh.. Nes.. nikmatnya bukan main posisi ini..! Kon tol om melesak dalam sekali menembus no nokmu..!" dia mendengus2. Kurasakan kon tolnya mengembung pertanda pejunya setiap saat akan meletup, "..Ohh.. sshh..aahh.. keluaar.. bareeng..ya", erangku lagi. "..iya..Nes, om…udah mau ngecret". Tubuhku mengejang ketika kurasakan semburan dahsyat
di dalam no nokku, "..aachh. jepiit kontool om.. yeess.. sshh.. oohh..nikmaatnya.. no nokmu Nes" dia mengecretkan pejunya di dalam no nokku, terasa kental dan banyak sekali. Akupun menggelinjang hebat, "..Nggkkh..sshh.. uugghh.. teekeen kon tol om.. sampe mentookkhh.. aarrgghh..!! Kutekan kujepit kekepit seluruh tubuhnya mulai kon tolnya, pantatnya, pinggangnya bahkan dadanya yang kekar kupeluk erat sekali. Seluruh pejunya kuperas dari kon tolnya yang sedang terjepit didalam no nokku. Nikmatnya sungguh luar biasa. Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, tubuhku terasa lemas sekali. "sarapan ini lebih nikmat dari semalem, Ines mau lagi dong", kataku. "Kamu masih abg tapi udah pengalaman banget ngempot kon tol ya.
Nes, kamu sering dien tot om om ya", katanya. "Ngen tot sama kamu yang paling nikmat deh Nes katimbang cewek2 lainnya, empotan kamu kerasa banget". Aku hanya tersenyum kelelahan
__________________
... Pecinta Jilbab Sejati ...
Asal Connect pasti dapat uang
Klick disini

Tanpa berbayar dapat uang ... gratis lagi ...
kebon($)
Mykakis VIP



Join Date: Dec 2005
Posts: 164
























































15-03-2008, 10:58 PM #2
Re: Kumpulan (Soundgarden)
Sang Penolong
Ini adalah cerita sex-ku yang asyik. Namaku Joko (samaran), tinggiku 171 cm, berat ideal. Akumemiliki wajah yang ganteng dan penis yang lumayan untuk membuat cewek tegang dan lemas. Aku mempunyai daya sex yang kuat sekali, sering aku melakukan onani dengan dengan nonton BF dan berkhayal tubuh sintal dan seksi, lalu memasukkan penisku ke vagina cewek. Aku sering nonton BF dan diiringi meremas-remas penis sampai aku tegang dan keluar sperma. Ini biasanya aku lakukan sampai tiga kali dalam satu kali nonton BF. Aku suka susu cewek yang besar dan kenyal. Aku paling suka kalau bermain sex dengan posisi aku di bawah dan cewek yang memainkan vaginanya di atas tubuhku sambil melihat pantat besar dan mulus yang naik turun dan bergoyang.

Cerita ini bermula dari kecelakaan kecil yang menimpaku. Seperti biasa, sore hari aku menyempati jalan-jalan dengan motor kesayanganku, dengan memakai jeans dan jaket kesayanganku, dengan kecepatan yang tidak begitu cepat. Aku lihat ke kanan dan ke kiri, tiba tiba ada motordari belakang dengan kecepatan tinggi menyerempetku. Sekilas aku kaget dan berusaha minggir, tapi aku malah jatuh karena tepi jalan itu ada batu batu kecil yang menyebabkan ban motorku tergelincir dan akhirnya aku tertimpa motor dan yang menyerempetku tadi langsung tancapgas (kabur)! Setelah itu aku berusaha bangun dengan pertolongan orang orang di sekitar situ. Aku terluka di bagian kaki (paha atas, lengan atas dan dada), sebenarnya luka ini tidak begitu serius bagiku, tapi aku kagum sekali dengan pertolongan orang-orang di sekitar situ yang penuh simpatik.

Setelah beberapa detik kejadian itu, aku langsung dibawa ke dalam sebuah rumah dekat kejadian. Ya, seperti biasa menghindari campur tangan i. Setelah aku dimasukkan di dalam sebuah rumah dan motorku di depan rumah itu, aku disuruh duduk oleh seorang cewek yang ternyata pemilik rumah itu. "Adik duduk aja di sini, biar ibu ambilin obat ya..." kata cewek itu dan segera masuk ke dalam kamarnya yang letaknya di depanku. Perkiraanku cewek ini umurnya sekitar 36, meskipun umurnya ya... cukup tua sih. Tapi cewek ini bodinya oke sekali deh, tingginya sekitar 165 cm susu yang montok berukuran sekitar 36B dan masih terangkat dengan menggunakan kaos yang longgar dan pantat yang besar sekali karena pada waktu itu dia pakai rok pendek sampai lutut dan kelihatan betis yang mulus dengan ditumbuhi rambut halus. Aku sempat berkhayal untuk memegang pantatnya yang besar sekali, kuremas-remas sambil memasukkan jariku ke lubangkenikmatannya.

Setelah beberapa menit dia mencari obat merah di kamarnya, dia memanggil anaknya, "Sri.. Sri...ambilin minum tuh... buat Mas-nya!" ternyata dia punya anak perempuan yang namanya Sri, umurnya sekitar 17 tahun. Setelah berhasil menemukan obat merah, lalu menghampiriku,
"Wah... ini lukanya parah sekali Dik..." sambil membuka tutup obat merah.
"Ah.. nggak kok Bu... biasa aja kok," kataku sambil memperhatikan susunya yang montok tergelantung itu.
"Nama Adik siapa?" tanya ibu itu sambil meneteskan obat merah di lengan atasku.
"Joko Bu, aduh pedih sekali... pelan-pelan Bu...!"
"Maaf ya... Dik Joko, oh ya nama ibu Neneng," katanya sambil meneteskan ulang obat itu di lengan atasku.
Dan tidak disengaja susu Neneng itu menyenggol sikuku."Oh... maaf Bu... tidak sengaja," tanyaku sambil melihat susu Neneng yang membuat penisku agak tegang.
Dia hanya tersenyum dan tertawa kecil.
"Lho... Dik Joko yang kena yang mana lagi, kelihatannya celana kamu sobek tuh..." katanya sambil memegang celanaku yang sobek itu.
"Ya... Bu itu di bagian paha atas dan di dada ini," sambil membuka sedikit kaos yang kupakai.

"Yang ini harus diobati loh, entar kalau tidak cepet diobati berbahaya, kaki kamu bisa di luruskan nggak?" kata Bu Neneng.
"Agak linu Bu... karena bagian paha sih..." kataku sambil mencari kesempatan melihat susu.
Pada waktu itu tepat dudukku tidak memungkinkan aku meluruskan kakiku.
"Ya... sudah ke kamar Ibu dulu situ berbaring biar kakimu bisa diluruskan," kata Bu Neneng sambil membantuku berdiri dan berjalan.
"Ya... Bu... tapi...?" tanyaku ragu.
Nanti disangka macam-macam, tapi memang niatku untuk berusaha nge-sex sama Bu Neneng yang montok itu.
"Tapi apa, oh... kamu malu ya... nyantai aja kamu kan teluka dan perlu pengobatan, sudah masuk ayo Ibu bantu!" sambil melingkarkan tangan kanan di pundak Bu Neneng aku berjalan.
Dan tidak disengaja waktu berjalan, jari-jariku menyentuh permukaan susu montok Bu Neneng tapi aku tidak merubahnya, malah kugesek-gesekkan dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan kalau disengaja, terasa puting susu Bu Neneng yang kenyal menyebabkan penisku tegang. Dan sampailah di tempat tidur Bu Neneng.

"Sudah Dik Joko, mana yang luka lagi?" sambil duduk di sampingku dan membelakangiku sementara aku terlentang, otomatis tanganku menempel di paha mulus Bu Neneng.
"Di dada sini Bu," kataku sambil membuka ke atas kaosku agar kelihatan lukanya.
"Ya... sudah dilepas dulu kaosnya, entar kalau kena obat ini kan jadi merah," katanya basa-basi.
Aku langsung buka kaosku, dan sekarang aku telanjang dada.
"Nah gini kan bisa leluasa mengobati kamu," sambil mendekat ke dadaku, dan otomatis aku melihat dengan jelas susu Bu Neneng tergelantung dan ditutupi oleh BH yang tidak muat menampung besarnya susu Bu Neneng dan tanganku makin kurapatkan ke paha dan sekarang sudah di atas paha mulus Bu Neneng. Dan pada waktu Bu Neneng meneteskan obat, aku terasa pedih dan dengan refleks tanganku terangkat sehingga menyenggol susu Bu Neneng dan rok mini Bu Neneng terangkat ke atas, terlihat paha yang mulus itu.
"Maaf ya.. Bu, Joko tidak sengaja kok," pintaku sambil menurunkan tanganku ke paha Bu Neneng yang mulus dan putih itu.
"Ya.. tidak apa-apa kok," sambil meneruskan meneteskan lagi di bagian dadaku yang luka.

Sekarang dia agak ke atas dan membungkukkan dirinya, otomatis susu yang montok itu dekat sekali dengan wajahku itu. Aku tidak tahu ini disengaja atau tidak, tapi buatku disengaja atau tidak tetap saja membuat penisku makin tegang. Lama-lama kok posisi Bu Neneng makin membungkuk dan sampai suatu saat susunya tersentuh dengan mulutku. Wah, terasa kenyal dan empuk, aku tidak diam saja, aku berusaha pelan-pelan menggeser tanganku yang di paha mulus Bu Neneng itu, pelan dan pelan karena aku takut Bu Neneng marah karena ulahku ini. Dengan nafsu yang kutahan, aku gerak-gerakkan tanganku. Waduh.. paha orang ini mulus sekali, batinku sambil merasakan penis yang menegang kepingin lepas dari sangkarnya (CD-ku), dan sampailah aku di pangkal paha Bu Neneng itu dan menyentuh CD Bu Neneng yang kelihatan memakai CD warna hijau kembang dan kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menggesek susu Bu Neneng (pelan-pelan), dan sesekali kujilat halus susu montok itu, waktu itu Bu Neneng diam saja dan terus mengobati dadaku yang luka tapi nafas Bu Neneng tidak bisa disembunyikan, sering dia menarik nafas panjang untuk menahan nafsunya.

"Sudah nihhh... Semua luka kamu di dada sudah diobati, sekarang mana lagi yang terluka?" sambil melihatku dan membiarkan tanganku di pahanya yang mulus itu."Itu Bu.. di paha atas," jawabku sambil menunjukkan tempat yang luka."Wow... Ya ini harus dibuka Dik Joko, kalau tidak dibuka dimana ibu bisa mengobati apalagi kamu pakai jeans yang ketat.. ya sudah dicopot aja!" jawab Bu Neneng sambil melihat dengan dekat luka dari luar celanaku dan sesekali lihat penisku yang sudah tegang dari tadi.
"Bu... bisa bantuin copot celanaku, aku tidak bisa copot sendiri Bu, kan tanganku luka," alasanku agar Bu Neneng bisa lihat penisku dari dekat.

Tiba-tiba Sri datang dengan membawa air putih.
"Bu ini airnya.."
"Ya.. sudah sekarang kamu keluar, e.. jangan lupa tutup pintunya, ibu mau obati Mas Joko dulu!"
Wah ini kesempatanku untuk melampiaskan sex-ku. Setelah itu Bu Neneng mulai membuka resleting celanaku dan membuka bagian atas dan aku mengangkat sedikit pinggulku supaya Bu Neneng mudah melepas celanaku. Saat membuka celanaku, posisi Bu Neneng membungkuk sehingga mulutnya dekat dengan penisku yang tegang, dan aku sengaja mengangkat pinggul yang lebih tinggi dan tersembullah penisku dan mulut Bu Neneng... "Sorry Bu.. tak sengaja," mulai saat itu penisku mulai tegang sekali karena cara Bu Neneng membuka celanaku sangat merangsang penisku.

Sambil sedikit menungging dan menggerakkan sedikit pantat yang besar itu, Bu Neneng melepas celana jeans-ku (apa ini usaha Bu Neneng untuk merangsang nafsuku), dan akhirnya aku sekarang tinggal pakai CD. Dan mulailah Bu Neneng mengobati paha atasku dengan posisi nungging membelakangiku dan sedikit siku tangannya menyentuh penis yang sudah tegang. Sesekali BuNeneng melihat penisku dan menggesek-gesekkan sikunya di penisku itu. Dengan melihat gelagat Bu Neneng ini yang memberi peluang padaku, aku tidak diam aja. Dengan melihat pantat yang besar menghadap kepadaku, tanganku mulai sedikit meremas-remas dan mengelus betis lalu menuju ke atas paha yang mulus dan akhirnya aku sampai ke paling atas (pantat mulus Bu Neneng) dan aku nekat mengangkat rok mini Bu Neneng ke atas sehingga sekarang terlihat pantat Bu Neneng yang mulusitu dengan ditutupi CD yang menyelepit di belahan pantat.

Aku mulai mengelus-elus, dan sesekali menarik CD Bu Neneng dan ternyata sudah basah dari tadi.Lalu aku memainkan jariku di permukaan vagina yang tertutup CD itu, Bu Neneng mungkin sudah tahu gelagatku itu sehingga dia merenggangkan kedua pahanya, jadi sekarang terlihat jelas CD Bu Neneng yang basah. Sekarang aku memberanikan diri untuk melihat secara langsung vagina Bu Neneng yang kelihatan sudah tidak sabar untuk dimasuki rudalku yang sudah tegak berdiri. Akumulai menggeser CD Bu Neneng ke kiri dan kelihatan dengan jelas vagina Bu Neneng yang sudah memerah itu. Lalu aku perlahan-lahan menggesek-gesekkan jariku di permukaan vagina Bu Neneng dan dengan reaksi itu nafas Bu Neneng mulai tak beraturan, "Eeehhh... ahhh... ohhh hemmm.." dan sekarang aku memasukkan jari tengahku ke lubang kenikmatan Bu Neneng dengan pasti dan kukocok dan terus kukocok dengan pelan-pelan dan lama-lama semakin cepat dan... "Ah.. oh yes te... rus... please... ah... ohe.. lebih dalam.. Jook... " Bu Neneng mulai membuang obat merah itu dan sekarang tidak mengobati lukaku lagi malah sekarang dia sudah mulai mengocok dan meremas dengan kuat penisku.

Aku kurang puas dengan posisi ini, aku mulai mengangkat salah satu kaki Bu Neneng ke sampingku dan sekarang posisi 69 yang kudapat, dan vagina Bu Neneng tepat di depan mulutku. Aku mulai menjilat klitorisnya, dan kusedot kecil dan kupermainkan pinggir vagina Bu Neneng dengan lidahku yang indah itu. "Oh.. ya... enak sekali hisapanmu Jok... Oh aughhh ahhh yes... terus!" dan aku mulai memasukkan lidahku ke dalam lubang yang basah itu dan terasa asin tapi gurih.
"Oh... ah... terus... kont*l kamu tegang sekali Joko..."
"Ya.. Bu jilat... jilat dong..!"
Tanpa banyak kata Bu Neneng terus melumat habis penisku.
"Oh... ya... ya... terus yang keras lagi...!"
Bu Neneng memang lihai dalam hal oral, tidak satu bagian pun dari penisku yang terlewatkan dari lidah birahi Bu Neneng. Telur penisku terlahap juga dengan mulut binalnya. Bu Neneng tidak puas sampai di situ, sekarang dia mengangkat pantatku lebih tunggi dan kelihatan jelas lubang anusku dan sekarang mempermainkan lidahnya di lubang anusku. Oh, terasa geli bercampur nikmat sampai ujung rambut, pada waktu itu juga Bu Neneng tidak kuat menahan nikmat yang dia rasakan, dan aku tahu kalau Bu Neneng mau orgasme yang pertama kalinya, aku mempercepat gerakan lidahku diklitorisnya, dan mempercepat kocokkan jariku di vaginanya dan akhirnya... "Jo... ah ye.. yea.. aku tidak tahan Jok.. a.. ku.. ke.. luaaar..." dan "Serr... serrr.." terasa semprotan kuat dari vagina Bu Neneng kena jariku.

Cairan putih kental yang keluar dari vagina Bu Neneng kusedot habis sampai bersih cairan kenikmatan Bu Neneng tersebut. Dia sekarang tergeletak lemas di sampingku.
"Bu Neneng masih kuat? Apa cukup saja Bu?" tanyaku disamping memelintir puting susunya yangkuharapkan sex Bu Neneng kembali lagi dan terangsang.
"Ah.. kamu jantan sekali Jok! Aku tidak nyangka kamu kuat sekali, kamu belum keluar?" tanya Bu Neneng sambil mengocok halus kemaluanku yang masih tegang itu.
"Belum Bu! mau lagi atau..."
Belum aku berhenti ngomong Bu Neneng mulai memasukkan penisku ke mulutnya dan dijilat, disedot dan dikocok, sedangkan aku di pinggir tempat tidur dan Bu Neneng di atas tempat tidur denganposisi nungging, dan aku tetap meremas-remas dan sesekali kupelintir-pelintir puting Bu Neneng itu.

"Aah... terus Bu...! lebih dalam Bu...! yes hemmm Aah... sessttt aahh..."
"Jok... masukin aja ya... aku pingin ngerasain penis kamu ini,"
Lalu aku memutarkan tubuh Bu Neneng dengan posisi nungging dan aku mulai mengarahkan penisku ke lubang Bu Neneng tapi aku tidak langsung memasukkan penisku, kugesek-gesek dulu ke permukaan vagina Bu Neneng.
"Ah.. ya... masukkan Jok.. cepet aku tidak tahan nih... oh... ce... pet!"
Aku langsung memasukkan ke lubang Bu Neneng.
"Blesss... sleppp..."
"Ah... ye..." erang Bu Neneng menerima serangan batang kemaluanku.Aku mulai memajukan dan memundurkan penisku dengan pelan tapi pasti dan sekarang aku tambah frekuensi kecepatan kocokanku.
"Ah... ya.. penis kamu.. hebat Jok.. keras, te.. rus.. oh.. ssst... ah..."

Aku semakin terangsang dengan erangan Bu Neneng yang menggeliat-liat seperti cacing kebakar. Aku angkat kaki kanannya untuk mempermudah jelajah penisku untuk sampai ke rahimnya dan makin mempercepat kocokanku.
"Oh ya.. aughhh.. ssttt teruss.. jangan ber.. henti.. ah... ke.. rass.. Joko.. hebat..."
Dan akhirnya,
"Jok... lebih cepet...! aku mau ke.. luar.. aku.. tidak... oh.. ye.. tahan... la.. gi.. ah... oh shhh..."
Dan akhirnya dia menyemprotkan cairan kenikmatannya, "Serr.. serr..." terasa ujung penisku disemprot dengan cairan hangat yang kental. Sekarang Bu Neneng tergulai lemas di hadapanku. Aku memperhatikan tubuh Bu Neneng yang montok dengan susu yang besar, dengan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

Aku tetap mengocok sendiri penisku biar tetap tegang, dan aku mulai tidak kuat, mungkin ini waktunya aku untuk mengakhiri permainan sex-ku.
"Bu... permisi, aku mau mengakhiri tugasku ini..."
Dengan mengangkat tubuh Bu Neneng ke pinggir tempat tidur, dan membuka lebar-lebar paha Bu Neneng sehingga terpampang vagina Bu Neneng yang masih basah dengan cairan kenikmatannya, aku mulai memasukkan penis dan mengocoknya.
"Ah.. kau nakal ya.. Jok.. aughhh hemmm.. terus Jok..."
Aku dengan semangat "45" kukocok habis vagina Bu Neneng dengan menggesek-gesek klitorisnya dengan jari jempolku untuk mempercepat dia untuk orgasme ketiga kalinya, dan...
"Bu... aku mau ke... luar.. ah.. ye... di.. mana.. ini... dalam atau di luar... oh ye!" sambil mempercepat kocokan jari dan penisku.
"Ya.. aku juga Joko... uh.. uh.. hemm... sstt.. kita.. barengan di dalam.. oh ye.."

Bu Neneng tidak kuat lagi ngomong kecuali merem-melek tahan nafsu, dan akhirnya aku keluar di dalam vagina Bu Neneng, "Crottt.. crottt..." sampai lima kali semprotan dan dibarengi dengan erangan dan getaran tubuh Bu Neneng, "Oh... yak.. yes... hemmm..." Lalu kucabut penisku dan kupukul-pukulkan di permukaan vagina Bu Neneng dengan reaksi Bu Neneng mengangkat tubuhnya akibat vaginanya kupukul dengan penisku.
"Bu Neneng hebat sekali deh, makasih ya Bu..."
"Kamu juga hebat banget Joko.. Ibu sampai kualahan menghadapi kont*l kamu yang tegap ini. Wah... kont*l kamu ini harus dibersihkan dulu ya..."
Dia langsung mengarahkan penisku ke mulutnya dan dilahap langsung dan dikocok-kocok habis.
"Wow... oh... ye.. teruus.. yesss... sseessttt ahh ya..."
Ini membuatku tegang lagi, dan Bu Neneng tak henti-hentinya mengocok dan mengulum penisku yang tegang sekali.

"Bu... stop.. augghhhh he... stooop aku.. tak.. tahan.."
Dan...
"Croot... croottt..."
Kukeluarkan spermaku untuk kedua kalinya di wajah Bu Neneng, dan aku tergeletak lemas di atas susu Bu Neneng.
"Nah.. sekarang kan Bu Neneng tidak kalah banget toh.. ya.. dua-tiga lah...!"
"Makasih ya.. Jok... kamu hebat dalam permainan sex, kapan-kapan kita lagi ya.. sudah kamu tidur dulu deh!"
Lalu aku tertidur sampai malam, dan sebelum aku pulang ke kost-ku, sempat Bu Neneng minta untuk oral sekali lagi.

Itulah salah satu pengalamanku tentang sex. Bagi para cewek-cewek yang membutuhkan penyaluran sex yang aman dari penyakit apapun, aku siap melayani anda (oral, konvesional dan unkonvesional, dan lain-lain). Anda tidak akan rugi dengan sex yang yang aman dariku, hubungi aku di e-mailku, pasti kubalas. Yang jelas ya, yang pasti harus cewek tulen. Sampai jumpa dengan pengalaman sex yang paling aman dari penyakit apapun dariku. See you!

Tamat
__________________
... Pecinta Jilbab Sejati ...
Asal Connect pasti dapat uang
Klick disini

Tanpa berbayar dapat uang ... gratis lagi ...
kebon($)
Mykakis VIP



Join Date: Dec 2005
Posts: 164

15-03-2008, 10:59 PM #3
Re: Kumpulan (Soundgarden)
Ardi
Beberapa hari setelah aku berkenalan (dan bercinta) dengan Ardi, pernikahan sepupuku sudah semakin dekat, tinggal sekitar dua minggu lagi. Kakiku terasa capai sekali, hari itu kami pergi mengepas wedding dress dan dress untukku sebagai pagar ayu. Sekalian kami berdua mencoba macam-macam anting, gelang, kalung, aksesoris yang melengkapi dress kami. Asyik sekali rasanya berbelanja dan mencoba berbagai macam barang2 di butik itu. Ketika menyadari bahwa ukuran tubuh kami ternyata sama, aku sengaja mencoba memakai wedding dress sepupuku. Berdiri di depan kaca, mengenakan gaun yang sangat cantik dan elegan, aku baru menyadari betapa putihnya dress, sepatu, bahkan pakaian dalam untuk perkawinan itu.

Menurut tradisi, warna putih itu menandakan kesucian calon pengantin dalam memasuki hidup pernikahan. Di lain pihak, aku sudah sangat jauh sekali dari kesucian yang ideal itu. Entah sudah berapa cowok yang sudah mengenalku dengan sangat intim, entah berapa cowok yang sudah melihat tubuhku dan berbagi kenikmatan seks denganku. Melihatku bengong di depan kaca, Eva sepupuku berkomentar,"Kamu kelihatan cantik sekali ness.. Kalo aku jadi cowok sih pasti udah gua perkosa elu sekarang juga hahaa".
Aku ikut tertawa sambil tersipu mendengar pujian Eva.

Malam itu aku menceritakan pengalaman hari itu di buku diaryku, membandingkan hidupku dengan hidup Eva yang sepertinya tidak pernah berbuat salah, sesuai dengan norma-norma hidup di Indonesia. Aku mencoba menghitung-hitung jumlah cowok yang pernah tidur denganku, ketika tiba-tiba ponselku berdering.

"Halo"
"Hei non! ini Ardi. Udah lupa ama gua yah ? koq engga nelepon-nelepon"
Aku tersenyum mendengar Ardi yang nyerocos.
"Sori nih.. maklum sibuk persiapan nikahan kan.. "
"Ya udah.. gua ampunin. Malem ini ada rencana ngapain engga ? "
"Malem ini ? mo ngapain dulu.. ayoooo.. "
"Rencana gua sih mau ngasih obat perangsang ke elo, terus kita maen sampe pagi.... ato mau gua telepon Eko juga, terus kita maen bertiga sampe pagi ? hahaaaa", Ardi tertawa.
"Lho.. kirain gua takut ? Udah ah.. ngomong sembarangan. Gua datang ke rumah elo deh"
"Oke non.. jangan lama-lama yah.. gua udah horni nih"

Sejam kemudian aku tiba di rumah Ardi mengenakan kemeja hitam yang agak pas, dan rok mini jeans, kira-kira seperti foto yang di kanan. . Rambutku diponi ke belakang. Memang agak seksi, toh kami agaknya tidak akan mengenakan baju lagi begitu aku masuk ke rumah Ardi.
Ternyata tebakanku tepat, Ardi menarik tanganku dengan tergesa-gesa menuju kamar tidur utama. Kami langsung menelanjangi satu sama lain, saling berciuman dengan penuh nafsu. Entah mengapa Ardi melarangku melepaskan rok mini itu.
Tubuh kami berhadapan, dan aku duduk di pangkuan Ardi. Lengan Ardi yang kokoh meremas pantatku di bawah kain rok dan memutar-mutar pinggulku. Kami berdua bersenggama dengan terburu-buru demi menuntaskan nafsu.
Seperti berlomba-lomba saling bersetubuh menuju orgasme. Hanya suara pinggulku beradu dengan paha Ardi terdengar di ruangan itu.
Tiba-tiba Ardi dengan keras memeluk tubuhku, terasa kemaluannya mengeras di dalam tubuhku dan cairan hangat mengalir ke dalam rahimku. Seksi sekali rasanya ada cowok yang berorgasme di dalam tubuhku.

Kami berdua berbaring berpelukan di ranjang Ardi sambil mengejar napas. Tanpa sengaja aku tertidur, saking capainya berdiri seharian. Saat aku bangun, Ardi terdengar sedang berbicara di telepon di ruang tamu. Dengan cepat dia menyudahi pembicaraan itu ketika aku berjalan ke luar sambil mengenakan bra dan kemejaku kembali. Ardi memeluk tubuhku dan mencium bibirku,"Kok udah mau pulang lagi non ?"
"Ya.. nanti dicariin mama lagi. Kan engga enak mesti bohong terus"
"Engg.. bentar lagi deh.. duduk dulu bentar. Mau minum?"
"boleh dong.. "

Ardi berjalan ke dapur mengambil segelas air es. Aku duduk di sofa sambil menyalakan teve. Tidak semenit kemudian, dengan agak terburu-buru, Ardi sudah kembali dengan air es-nya. Naluri-ku merasakan ada sesuatu yang aneh..

Dengan haus aku meminum habis segelas besar air es itu, aku masih belum terbiasa dengan cuaca panas Jakarta yang membuatku capai setiap hari. Kami berdua duduk kembali di depan tv, lengan Ardi merangkul pundak ku. Tanpa terasa, tubuhku perlahan-lahan mulai menghangat dan makin terasa sensitif. Aku merasa gelisah sekali dan semakin lama semakin terangsang. Aku menoleh ke Ardi, dan menyadari bahwa dia memasukkan obat perangsang ke air es yang baru kuminum.
Ardi hanya tersenyum,"Ronde kedua ness ?"
Aku hanya bisa mengangguk, Ardi dengan lengan-nya yang kuat mengangkat tubuhku ke ranjang. Dengan cepat Ardi melucuti pakaianku, kecuali rok mini itu. Kami mulai berciuman sambil meraba-raba tubuh satu sama lain, ketika tiba-tiba bel pintu berbunyi.
"sssh.. biarin aja di"
"engga bisa non.. ini kan surprise buatmu"
Tanpa banyak bicara lagi Ardi mengambil semua pakaian kami di lantai dan pergi membuka pintu. Karena obat terangsang itu, aku terus terang sudah tidak tahan, perlu memuaskan diriku secepatnya. Kututup pintu kamar tidur itu, dan aku mulai menggosok-gosok kemaluanku sendiri.
Sedang asyik-asyiknya aku bermasturbasi, tiba-tiba pintu kamar tidur terbuka. Ardi dan Eko berjalan masuk ke kamar tidur.
"Wah.. emang hot banget nih, untung banget elu di, sempet-sempet pake dia beberapa kali"
"Makanya gua sekarang bagi-bagi sama elu nih hahahaa"
an Ardi.. kukira dia cowok baik-baik.. ternyata malah mengumpankan tubuhku ke temannya.
Eko berdecak kagum,"Mmmm.. Ness, gua pokoknya bakal ngent*tin elu semaleman.. Elu cewek bispak yah.. dateng-dateng ke rumah cowok malem pake rok pendek kaya gitu"
Mukaku memerah karena malu..

Mereka berdua sedang melepaskan celana panjang masing-masing ketika aku memutuskan aku tidak akan membiarkan diriku diperkosa seperti ini oleh kedua monyet itu.. Dengan cepat aku lari ke ruang tamu sementara mereka berdua tidak bisa mengejar terhalang celana panjang. Aku mengambil tas kecilku dan segera lari keluar topless. Darahku berdesir-desir akibat obat perangsang, selangkanganku serasa sensitif sekali. Untung kaca mobilku gelap sekali, tidak ada yang bisa melihatku setengah telanjang di mobil.

Di tengah memacu mobil pulang, dan obat perangsang sibuk bekerja di tubuhku, aku menyadari bahwa aku tidak bisa pulang dalam keadaan seperti ini. Pasti mama & papaku mengira aku minum narkoba atau obat terlarang lain.
Dalam keadaan setengah teler, sangat terangsang, ada beberapa kemungkinan yang terpikir :
pergi ke klub malam, mencari cowok lain untuk menuntaskan nafsuku sampai efek obat ini hilang.. atau... aku bisa menelepon Indra, yang pulang tahun lalu.. tokh dia sudah sering tidur denganku.

Dengan tangan yang gemetar, aku menelepon Indra. Indra kaget sekali mendengar suaraku di telepon, apalagi ketika aku meminta datang malam itu juga.

Aku tiba di apartemen Indra sekitar jam 11-an. Indra hanya bisa melongo melihat tubuhku yang topless. Dengan terburu-buru aku masuk dan menutup pintu. Saking terangsangnya, aku segera meloroti celana Indra tanpa ba-bi-bu.
"Dra, jangan banyak tanya, ntar aku jelasin. Just fish me now"
Indra hanya nyengir membiarkanku naik ke atas tubuhnya yang terlentang di lantai ruang tamu. Enak sekali rasanya menunggangi kemaluan pria seperti itu. Tubuh Indra masih berotot seperti tahun lalu, terakhir kalinya aku bertemu. Pantatku bergoyang-goyang, seperti menggaruk rasa gatal di dalam kemaluanku dengan penis Indra. Dengan cepat orgasme datang menghantamku penuh kepuasan. memiaw-ku mencengkeram kemaluan Indra dengan keras.
Dengan sabarnya Indra membiarkanku menyelesaikan orgasme itu, lalu ia berdiri memangku tubuhku yang masih ditancap dengan kemaluannya. Kami berdua masih ke kamar tidur dan bertiduran sebentar.

Ketika nafsuku bangkit kembali, dengan cepat Indra memasukkan kembali penisnya, berulang kali kami berdua bersenggama malam itu, sampai sekitar jam 1, ketika akhirnya efek obat itu sudah tidak terasa kemudian. Hanya kemaluanku yang terasa lecet-lecet dan bengkak.

Kami berdua berciuman lama sekali di pintu rumah Indra. Aku hanya mengenakan t-shirt pinjaman, dan rok mini. Udara Jakarta yang gerah membuatku berkeringat, t-shirt itu sudah hampir transparan ketika aku tiba kembali di rumah. Untung papa-mama sudah tidur, aku segera mandi dan membersihkan sisa-sisa sperma Ardi dan Indra.
__________________
... Pecinta Jilbab Sejati ...
Asal Connect pasti dapat uang
Klick disini

Tanpa berbayar dapat uang ... gratis lagi ...
kebon($)
Mykakis VIP



Join Date: Dec 2005
Posts: 164

15-03-2008, 11:04 PM #4
Re: Kumpulan (Soundgarden)
Sex On The Campus
Siang itu rasanya gerah sekali, aku menghapus peluh yang menetes hampir seperti hujan (itu sih namanya deres! )
dengan sapu tangan coklat yg selalu kutaruh di saku celana sebelah kanan, setengah celingak-celinguk di depan papan
pengumuman jadwal ujian, aku beranjak gontai melangkahkan kaki ke kantin fakultas ekonomi di belakang kampus.

Beberapa anak angkatan di bawahku tersenyum menyapa ke arahku sambil menundukkan kepala, aku kurang seberapa mengenal mereka,
tapi kubalas senyuman itu dengan ramah sambil tetap menunjukkan kerepotanku membawa buku-buku akuntansi yang super duper
berat itu.

Singkat cerita, setelah menenggak sebotol kecil sprite dingin dan membayarnya, aku kembali ke gedung X, menanti kuliah siang
yang terasa lama, karena waktu itu masih jam 11 lebih, dan kampus sepi karena hari jum'at. Akupun memilih duduk di bangku
semen di bawah rindangnya pohon-pohon hijau taman gedung X.

Sekitar 10 atau 15 menit melamun, sesosok gadis yang kukenal melangkah tergesa-gesa sambil membetulkan kacamata, dan tampak
sama kerepotannya dengan aku, membawa setumpuk buku yang tampak tak seimbang dengan ukuran tangannya yang mungil. Gadis
berkulit putih itu tampak mengenaliku, lalu setengah berlari menghampiriku sambil mengurai seulas senyum manis, "Haaiii"
serunya. "Hai juga", sahutku...Dia langsung mengibaskan tangannya ke bangku semen tempatku duduk, takut ada debu yang
akan mengotori celana jeans putih ketatnya, seketat jeans itu membelit pantat indahnya yang terbungkus CD berenda,
yang nampak samar tercetak padat pada lekukan antara paha, selangkangan, dan batas paha belakangnya, aku sedikit
menelan ludah...

Dia menunduk, tak sengaja memperlihatkan bra krem berendanya yang tampak menggantung ragu, menampakkan belahan dan sedikit
puting kemerahan dari dadanya yang ber-cup B, lalu segera mengambil posisi duduk menyilangkan kaki di sampingku dan
memulai obrolan dengan segala keluh kesah kerepotannya di rumah mengerjakan tugas akuntansi manajemen, sampai ribetnya
mengurusi manajemen pabrik pakaian milik ayahnya yang sedikit mengalami mis-manajemen

Aku menanggapinya dengan senyum dan komentar-komentar singkat yang membangun, sampai tanpa sadar tangannya mendarat di
tengah pahaku, tak sengaja menyenggol kemaluanku yang entah kenapa menegang sejak dia duduk beberapa menit yang lalu,
spontan dia nyeletuk bingung (atau berlagak bingung?) : "Eh, lho, kamu kok 'bangun'?" "Sejak kapan, hayooo...mikirin
apa? mPasti yang jorok-jorok ya?", dan komentar itu semakin panjang seiring makin merahnya mukaku, aku hanya bisa
menunduk malu.

Tanpa bisa kutebak dia memberikan sebuah kejutan yang sangat-sangat membuat aku surprise setengah mati jantungan
"Emmm, mau 'dibantuin' ngga?"

:: Penjelasan :: Gadis itu Rossa, pacarku selama 1 tahun ini, dan kita udah biasa "ehm-ehm", gitu lho pembaca ::

Wow, pikirku, hemmm, aku setengah bingung juga, bagaimana kita bisa 'gituan' di kampus? Setengah sadar bibirku
mengucap, "Wah, Ros...dimana?", "Kita ke lantai 3 aja yuk, kan masih sepi?", setengah ragu namun dikalahkan oleh
nafsu, aku menurut saja dengan sarannya. Biar nggak bikin curiga OB nya kampus yang bagian nge-pel, Rossa pun beranjak
duluan ke lantai 3 dan langsung menuju kamar mandi, lalu menguncinya dari dalam, selang 5 menit, aku menyusul naik ke
lantai 3 dan setelah memastikan sama sekali tidak ada orang, aku menuju kamar mandi yang letaknya di pojok dan relatif
terhalang pembatas ruangan, aku mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup...

Cklik, terdengar slot dibuka, lalu aku mendorong pelan pintu itu sedikit, menyelinap, lalu cepat-cepat menutupnya
seraya menghela nafas panjang karena deg-deg'an sekaligus capek merasakan terjalnya tangga gedung X.
Rossa tersenyum sambil langsung menarik pinggangku mendekat, sehingga bibirku yang setengah terbuka langsung dilumat
nya. Buku-buku ku hampir jatuh, segera kutaruh di tepi bak kamar mandi dengan setengah terburu-buru, dan langsung
tanganku ter-alih membuka kancing kemeja Rossa, dan menyelipkan tanagnku ke sela-sela bra-putih nya.

Bunyi kecipak ciuman seolah bergema, menyadarkan kami yg larut dalam ciuman untuk mengurangi volume suara yang akan
membuat orang 'penasaran' saat mendengarnya itu. Aku yang sangat tak sabar mencumbu Rossa dengan ganas, leher dan
telinganya tak luput dari sasaran jilatan lidahku, yang membuatnya mendesah manja. Dilepasnya kacamatanya dan ditaruh
di dalam tasnya yang tergantung di pintu, lalu tangannya beraksi dengan lihai melepas kancing celana, memelorotkan celana
panjang kainku, dan menyelipkan tangannya untuk meraih, menarik, dan meng-urut batang kemaluanku yang menegang dan
puncaknya berubah kemerahan karena terangsang.

Aku juga melakukan hal yang sama dengan menarik celana panjang jeans ketat nya sebatas paha, berikut celana
dalam putih berendanya yang sexy, lalu meraba kemaluannya dengan gemas, karena bulu-bulunya tampak selesai dicukur,
sehingga belahan pinknya sangat menggoda. Jari telunjuk dan manis tangan kananku mengarah ke bibir kemaluannya dan
menariknya ke samping kiri dan kanan, sementara jari tengahku memainkan klitorisnya yang mungil dan mulai menegang.
"OOuucchh..." Rintih Rossa di telingaku sambil matanya berkerjap-kerjap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya.
"Ssshhh...Ahhh", balasku merasakan nikmatnya kocokan tanagn Rossa yang dibasahi sedikit air. Sambil terus meremas
dada mungilnya yang mulus, adegan slaing meraba itu berlangsung selama beberapa menit.

"Damien...",bisiknya sambil mendorong tubuhku perlahan menjauh, aku mengerti apa yang dimauinya. Aku membantunya
melepas celana jeans dan celana dalamnya, menggantungnya di dekat tas. Rossa lalu duduk di tepian bak kamar mandi,
satu kakinya diangkat ke atas kloset duduk, tangannya ke belakang menyangga tubuhnya, dan setengah meliuk
menggoda dengan tatapan penuh birahinya, dia menyorongkan vaginanya ke depan, sambil tangannya meraih dadanya sediri,
memilin putingnya, dan meremas payudaranya dengan gerakan memutar ke atas.

Aku langsung melepas celanaku, menaruhnya, lalu segera berjongkok di depan selangkangan Rossa, lalu menjilati belahan
vaginanya yang terbuka lebar, menjejalkan hidungku, menghirup aroma wangi khas vaginanya yang selalu harum karena dia rajin
membasuhnya dengan ramuan jawa dan meminum jamu-jamu yang selalu membuat kondisi vaginanya "fresh".

"Sshhh...Ahhh..." desahnya sambil meremas rambutku. Kuselipkan dua jemariku, kuputar dan kutusukkan perlahan dalam-dalam,
lalu kutarik dengan cepat, untuk kembali kuhunjamkan ke dalam sambil menjilati ujung klitorisnya...Rossa semakin
menggelinjang ke-enak-an, bibirnya digigit, dan mulai meracau.

Didorongnya pundakku tiba-tiba, dan keluar kata singkat dari bibirnya yang berpulas lipstik pink tipis menggoda :
"Duduk di kloset gih...", senyumnya tersimpul...Aku segera bangkit, menutup kloset, dan duduk di atasnya, mengangkangkan
kaki, sehingga batang kemaluanku mendongak seolah menantang, dengan testis terkerut karena terangsang.
Rossa tak berlama-lama, langsung berlutut bertumpu pada kedua telapak atas kakiku yang masih bersepatu, memandangku
sebentar dengan gemas. Kuelus rambut sebahunya, kuremas gemas, lalu kudorong perlahan ke arahku. Seolah menngerti,
dikerjapkannya dengan jenaka kedua bola matanya, bibirnya menyungkup menyambut kepala penisku yang sudah demikian
merona merah...cup...dikecupnya, lalu dijulurkannya lidahnya tepat pada lubang bagian atas, ditariknya garis ke bawah
lewat jalur pada kepala penis, batang bawah, terus ke bawah, dan di lahapnya sebelah bola testisku, dikulum, dipijat
digigit kecil, dan diputarnya kembali lidahnya ke atas, membuatku menggelinjang tertahan. Sungguh sensasi yang sangat luar
biasa...

Aksi nekat kami masih berlangsung sampai saat terdengar suara langkah mendekat yang membuat desah nafas kami sama-sama
tertahan sesaat...
"Sssttt...", instruksiku singkat agar Rossa menghentikan aktifitasnya.Kami sama-sama diam sampai akhirnya
suara langkah yang sempat mendekat itu beranjak terdengar menjauh. Kami saling memandang dengan sedikit rasa tegang dan
deg-deg'an yang masih tersisa dalam hati...Tapi kemudian berubah menjadi senyum merona pada wajah kami masing-masing

Batang kemaluanku yang sempat melemas kembali digenggam oleh Rossa, sambil kembali dia dengan gemas mengecup dan mengulum
penisku,
dengan sesekali membuat gerakan "deep throat" yang membuat nafasku tertahan,seolah akan mencapai klimaks saja.
"Damien...eemmmhhh...masukin sekarang aja ya?" Pintanya manja. Akupun segera berdiri dan membimbing kedua lengannya untuk
bangkit. Aku berdiri membelakanginya, sementara dia membalikkan diri untuk berpegang pada tepian bak kamar mandi, mengambil
posisi menungging sambil berdiri. Aku segera mengelus pantatnya yang mulus & menggairahkan itu, mencari sela-sela di antara
rambut kemaluannya yang tipis, daging bertumpuk kemerahan itu tampak menggoda dengan sedikit lelehan bening yang mengalir basah.
Aku mengarahkan batang penisku ke belahan merekah itu dengan tangan kiri, sementara tangan kananku terlingkar lewat paha kanan
Rossa, membuat huruf V terbalik dari arah depan, membuka bibir kemaluannya agar mempermudah penetrasi. Kugesekkan kepala penisku
perlahan untuk merasakan sensasi hangatnya cairan miliknya, dan setelah licin, aku mulai mendorong kepala penisku ke dalam mulut
vaginanya yang mulai melebar, terus semakin dalam, setelah masuk sepertiganya aku berhenti.

Kedua belah tanganku meraih payudaranya dari belakang, merabanya, memberi pijatan kecil pada putingnya yang menegang,
meremasnya, sementara Rossa membalikkan lehernya ke arah mukaku. Aku menggapai bibirnya yang terbuka,mengulumnya,memainkan
lidahku di dalam mulutnya yang mengeluarkan rintihan-rintihan pelan, sambil menggerakkan pantatku dengan gerakan mendorong
ke depan, membuat penisku semakin tertanam dalam hangatnya dua belah daging lembut lembap yang seolah merangkul dan
menghisapnya dalam sebuah lobang hitam.

"Emmmhhkkk...Ahk..." Suara Rossa tertahan sesaat aku menancapkan penisku dengan gerakan tusukan mendalam, bibirnya masih
menempel dan mendesah, mengeluarkan aroma nafas hangatnya yang mulai memburu. Rossa menggoyangkan pantatnya dengan gerakan
memutar, sementara aku memaju-mundurkan penisku dengan sedikit memiringkan pantatku, menciptakan sensasi luar biasa bagi kami
berdua..."Aaahhh...Eehhk...Ouch...Damien...", seru nya perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya. Peluh menetes di lehernya
yang kujilati, dan cairan dari kemaluannya membuat sensasi suara bergesekan yang terdengar merdu di telinga...
"Cpak...cpak...Slllrrppp...", membuatku semakin bersemangat meremas payudara Rossa yang saat ini demikian keras. "Masukin
yang dalem dooo...ngg...", pintanya. Aku menurutinya dengan memperlahan gerakanku dengan tetap mempertahankan ritme, irama,
dan tusukan yang semakin intensif, agresif dan dalam.

Ingin aku memandang wajah Rossa lebih leluasa saat bercinta, aku mencabut kemaluanku, membalikkan badan Rossa dengan segera,
mendudukkannya di tepian bak kamar mandi, membimbing kedua kakinya melingkari pantatku, dan kembali aku menusukkan penisku.
Aku me
Visits: 65266


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top