peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

Shima 3 - cerita.seks.4



Shima 3

Shima and Blake
episod
Old Friend


Dalam kehidupan Shima ada beberapa lelaki, tetapi hanya tiga yang membuatnya
berkesan. Di antara yang tiga ini, adalah Blake, seorang lelaki Melayu dengan sedikit
darah Belanda di tubuhnya (ayahnya Ambon-Belanda, dan ibunya seorang Melayu).
Mereka bertemu ketika masih sama-sama belajar di Bedford, UK. Pada awalnya mereka
cuma berteman, dan Shima menyukai Blake yang jauh lebih easy going dibanding
teman-temannya lainnya. Selain itu, Blake boleh bermain piano, sesuatu yang selalu
menjadi kekaguman Shima.

Selama kuliah, hubungan mereka tidak pernah lebih dari teman. Baru setelah keduanya
lulus, hubungan itu agak berubah. Kebetulan Shima mendapat pekerjaan di sebuah
firma British yang bercabang di Malaysia , Mereka sering berdua, dan akhirnya
memutuskan untuk tinggal bersama dalam satu apartement. Sejak itulah, hubungan
seksual menjadi bahagian dari persahabatan mereka. Hanya saja, persahabatan itu tak
pernah berkembang lebih jauh. Keduanya tidak pernah saling mengucap cinta, dan
keduanya tahu bahwa masing-masing punya orang-orang lain yang dicintai.

Blake adalah lelaki melayu satu-satunya yang bercinta dengan Shima, dan bagi Shima
ia adalah sesuatu yang istimewa. Tetapi Shima juga tahu, perbedaan budaya keluarga
mereka berdua sangatlah besar untuk dijembatani dengan sesuatu yang lebih jauh dari
persahabatan. Maka jadilah hubungan keduanya sebagai hubungan persahabatan dan
seksual belaka. Beberapa kali mereka pernah try melihat peluang untuk meningkatkan
hubungan, teapi sekian kali pula mereka merasa tidak menemukan persamaan.

Tidak berapa lama setelah Shima mendapat kedudukan manager dan dikirim ke
Malaysia untuk mewakili perusahaannya, Blake mendapat pekerjaan di Amerika .
Perasaan duka menyelimuti keduanya ketika kenyataan itu tiba. Setelah hampir dua
tahun hidup bersama, sulit juga rasanya berpisah. Walaupun tidak menangis, Shima
merasa sebuah kekosongan terjadi dalam hidupnya ketika mereka berpisah di Heathrow
Airport di London. Mereka berjanji akan terus berhubungan, kerana Blake masih
memiliki orang tua di Kuala Lumpur dan sesekali akan datang menjenguk Shima. Ketika
pesawat British Airways ( Concorde) yang membawanya ke Malaysia sudah berada

20.000 kaki di atas permukaan bumi, Shima menghela nafas panjang, dan tiba-tiba
menyadari bahwa kedua matanya ternyata agak basah oleh air mata.
Begitulah akhirnya Shima dan Blake dipisahkan oleh Lautan Pasifik. Bandar besar Blake
ada di Boston, dan Shima di KL. Tetapi untunglah ada e-mail yang boleh menjadi media
bertukar berita di antara mereka. Dan setelah dua bulan, keduanya menjadi sama-sama
sibuk dan perlahan-lahan semakin jarang bertukar berita. Pada bulan keenam di
Malaysia , Shima sudah hampir tak pernah mengirim dan menerima e-mail dari Blake,
dan kesibukan membuatnya tidak terlalu merasa kehilangan. Sampai suatu hari, di
bulan September, sembilan bulan setelah mereka berpisah, Shima mendapat sepotong
berita pendek dari Blake ... will visit my old folks in this Thursday, see you there ...

Shima terpana memandang layar PCnya NEC POWERMATE , seperti tak percaya
bahwa ternyata ia akan segera bertemu Blake lagi. Dari tak percaya, perasaannya
segera berubah gembira, dan ia mengangkat kedua tangan sambil berteriak, "Yess!!!",

membuat sekretarisnya terkejut. "I'm okay, Evi (panggilan manja shima)...," ucap Shima
sambil tertawa kecil melihat , "I'm more than okay, actually..."

"Shall I write it down?" jawab Shima menggoda, kerana ia memang sedang bersiap
menerima salute dari bos wanitanya ini. Shima pun tambah keras terbahak. Blake tiba
malam hari dan langsung menuju rumah orang tuanya. Dari sana ia menelpon Shima,
dan membuat janji untuk bertemu Sabtu petang ini. Dengan blaus t-shirt merah tua yang
ketat dan jaket jean Levi's, Shima datang ke rumah orang tua Blake untuk
menjemputnya. Kedua orang tua Blake telah mengenal Shima dengan baik, dan
keduanya memaksa Shima untuk makan petang , yang tentunya tak boleh ditolak.
Sebetulnya, makan petang itu enak sekali: ayam panggang , murtabak, dan udang
goreng . Tetapi Shima dan Blake merasa tidak lapar. Sejak bertemu, yang ada di dalam
diri mereka cuma gejolak rindu bercampur berahi. Bagi Shima, inilah pertama kali di
Malaysia ia merasakan gelojoh seperti itu. Ia begitu ingin segera memeluk Blake yang
kini nampak lebih putih dengan rambut digunting rapi. Ia ingin segera bercumbu dengan
lelaki yang ia tahu sangat hangat di katil ini. Tetapi, di depan kedua orang tuanya dan
dua adik perempuannya, Shima menjaga diri sekuat hati. Untunglah Blake
membantunya dengan juga bersikap menahan diri.Kalau tidak ada keluarga Blake,
mereka pasti sudah bergumul dan bercumbu saat itu juga.

Setelah tiga jam yang sangat menyiksa Shima dan Blake, setelah minum kopi yang
disediakan ibu, barulah mereka berdua boleh keluar rumah. Mereka kata ingin jalanjalan
berdua, dan kedua orang tua Blake mengangguk faham tanpa banyak tanya lagi.
Maka setelah berbasa-basi mengucapkan selamat , keduanya pun menuju apartemen
Shima di Shah Alam. Blake yang memandu dan Shima duduk rapat-rapat.

Sepanjang jalan, Shima meremas-remas paha Blake, menggeser-geserkan teteknya
yang sintal dan power ke lengan Blake, membuat Blake was-was takut melanggar
kereta di depannya. Shima sudah sangat bergairah ingin bercumbu, dan badannya
terasa hangat seperti coli yang siap berkobar menjadi api. Untunglah jalan-jalan tidak
terlalu ramai di KLCC yang perlu ditempuhi sebelum sampai ke Shah Alam , sehingga
akhirnya mereka tiba di apartemen Shima sebelum matahari terbuka. Cepat-cepat
mereka keluar dari kereta dan bagai dua remaja berlarian menuju lobby.

Sesampai di bilik apartemennya, Shima terburu-buru ke bilik mandi. Cepat-cepat
diloloskannya seluar dalam dalam yang sudah agak basah di bahagian bawahnya. Lalu
ia masuk ke bath-tub dan mengambil sabun wangi. Diusapnya seluruh cipapya dengan
busa-busa sabun, lalu dibasuhnya dengan air hangat. Ia ingin agar cipapnya harum
menggairahkan malam ini, kerana ia tahu Blake akan memberikan sesuatu yang selama
ini menjadi favorit Shima: lidahnya yang panas

Keluar dari bilik mandi, Shima melihat Blake sudah ada di bilik tidur, membuka blaus
dan jeans-nya, sehingga hanya berseluar dalam dalam. Dengan mata bergairah,
dipandangnya tubuh yang kokoh dan atletis itu. Shima sangat mengagumi tubuh Blake
yang coklat kehitaman, tidak seperti tubuhnya yang baginya terlalu putih. Sebuah denyut
birahi terasa di cipapnya setiap kali Shima memandang tubuh lelaki itu. Cepat-cepat
dibukanya t-shirt , dan jaketnya, lalu ia segera menyusul Blake ke bilik tidur.

Sejak dari rumah Blake tadi, Shima sudah dilanda birahi. Ia ingin segera bermain cinta
dengan lelaki menggairahkan ini. Terakhir kalinya ia bertemu Blake hampir setahun lalu,
itu pun dalam sebuah permainan cinta yang terburu-buru, kerana mereka sedang sama

sama sibuk. Kejadiannya juga di sebuah motel kecil di Bedford, sesaat sebelum Shima
berangkat ke Malaysia dan Blake bertugas ke Amerika.

Blake mendorong tubuh Shima ke kasur, menyebabkan gadis berambut perang yang
seksi ini terjerembab di kasur empuk. Keduanya sudah seperti diburu-buru oleh nafsu
yang bergejolak tak tertahankan. Blake menerkam tubuh putih mulus yang sintal dan
padat itu dengan penuh gairah. Shima menjerit manja menyambutnya. Mereka
berguling-gulingan saling berciuman, saling meremas, saling menindih.

Blake segera mengambil inisiatif tatkala tubuh mereka sudah terasa panas bergejolak.
Didorongnya Shima dengan lembut agar tidur menelentang. Setengah dari badannya
terletak di luar katil, sehingga kedua kakinya yang indah menggantung di pinggir katil.
Lalu Blake menjongok di antara kedua kaki Shima, dan Shima dengan tegang
menunggu layanan istimewa kekasihnya. Inilah permainan pembukaan yang selalu
dinantinya dengan penuh perasaan. Belum apa-apa, Shima sudah bergidik menahan
geli yang akan segera datang. Blake pun menciumi paha yang mulus ditumbuhi bulubulu
halus itu, membuat Shima mengerang pelan. Apalagi kemudian Blake mulai
menjilati pahanya, menelusuri bahagian bawah lututnya. Shima menggelinjang kegelian.

Shima merasa pahanya bergetar lembut ketika lidah Blake mulai menjalar mendekati
selangkangnya. Panas dan basah rasanya lidah itu, meninggalkan jejak sensei
sepanjang perjalanannya. Shima menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah itu sampai di
pinggir bibir cipapnya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Blake menelusuri lepitanlepitan
di situ, menambah basah segalanya yang memang telah basah itu. Terengahengah,
Shima mencengkeram rambut Blake dengan satu tangan, perlahan menekan memaksa-
lelaki itu segera menjilatnya di daerah yang paling sensitif. Dengan satu
tangan lainnya, Shima menguak lebar bibir-bibir basah di bawah itu, memperlihatkan
liang kemerahan yang berdenyut-denyut, dan sebuah tonjolan kecil di bahagian atas
yang telah mengeras. Lidah Blake menuju ke sana, perlahan sekali. Shima mengerang,
"Come on .... come on..," bisiknya gelisah. Rasanya lama sekali, membuat Shima bagai
layang-layang yang sedang diulur pada saat seharusnya ditarik. Shima mati angin. Tak
berdaya, tetapi sekaligus menikmati ketak-berdayaan itu.

Blake akhirnya menjilat bahagian kecil yang menonjol itu, menekan-nekan dengan ujung
lidahnya, memutar-mutar sambil menggelincirkannya. Shima menjerit tertahan, kedua
tangannya melayang lalu jatuh mencengkram seprai. Geli sekali rasanya, ia sampai
menggeliat mengangkat pantatnya, menyorongkan lebih banyak lagi cipapnya ke mulut
Blake. Serasa seluruh tubuhnya berubah menjadi cair, menggelegak bagai lahar panas.
Blake kini menghisap-hisap tonjolan yang seperti sedang lari bersembunyi di balik
bungkus kulit kenyal yang membasah itu. Tubuh Shima berguncang di setiap hisiapan,
sementara mulutnya tak berhenti mengerang. Terlebih-lebih ketika satu jari Blake
menerobos liang cipapnya, lalu mengurut-urut dinding atasnya, mengirimkan jutaan rasa
geli bercampur nikmat ke seluruh tubuh Shima. Kedua kakinya yang indah terbuka
lebar, terkuak sejauh-jauh mungkin, kerana Shima ingin Blake menjelajahi semua
bahagian cipapnya. Semuanya!

Maka Blake pun melakukannya. Ia tidak hanya menjilat dan menghisap, tapi juga
menggigit pelan, memutar-mutarkan lidahnya di dalam liang yang panas memcoli itu,
mendenguskan nafas hangat ke dalamnya, membuat Shima berguncang-guncang
merasakan nikmat yang sangat. Dua jari Blake kini bermain-main di sana, keluar-masuk
dengan bergairah, menggelitik dan menggosok-gosok, menekan-nekan dan mengurut.

Cairan-air mani hangat memenuhi seluruh cipap Shima, mulai membasahi bibir dan
dagu Blake. Jari-jari yang keluar-masuk itu pun telah basah, menimbulkan suara
berkecipak yang seksi. Shima menggelinjang tak tahan lagi, merasakan puncak birahi
melanda dirinya. Matanya terpejam menikmati sensei yang meletup-letup di sela-sela
pahanya, di pinggangnya, di perutnya, di dadanya, di kepalanya, di mana-mana!

Blake merasakan cipap Shima berdenyut liar, bagai memiliki kehidupan tersendiri.
Warnanya yang merah-basah, kontra sekali dengan rambu-rambut pirang di sekitarnya,
dan dengan tubuhnya yang putih seperti pualam. Dari jarak yang sangat dekat, Blake
dapat melihat betapa liang cipap Shima membuka-menutup dan dinding-dindingnya
berdegup-berdenyut, sepertinya jantung Shima telah pindah ke bawah. Blake juga boleh
melihat betapa otot-otot di pangkal paha Shima menegang seperti sedang menahan
sakit. Kedua kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak tak
terkendali. Blake terpaksa harus memakai seluruh bahu bahagian atasnya untuk
menekan tubuh Shima agar tak tergelincir jatuh. Begitu hebat puncak birahi melanda
Shima, sampai dua minutes lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang
dilanda ayan. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya terengahengah.
Blake bangkit setelah Shima terlihat agak tenang. Berdiri, ia melepas seluar
dalam dalamnya. Kelaki-lakiannya segera terlihat tegak bergerak-gerak seirama
jantunya yang berdegup keras. Shima masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam,
menampakkan pemandangan sangat seksi di atas hamparan seprai satin mewah
berwarna biru muda. Tangan Shima mencengkram seprai bagai menahan sakit, kedua
pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya mendongak menampakkan leher yang
mulus menggairahkan, rambut pirangnya terurai bagai membingkai wajahnya yang
sedang menikmati puncak birahi. Blake menempatkan dirinya di antara kaki Shima, lalu
mengangkat kedua paha Shima, membuat cipapnya semakin terbuka. Shima tersadar
dari buaian orgasmenya, dengan segera mengarahkan batang Blake memasuki gerbang
cipapnya. Tak sabar, ia menjepit pinggang Blake dengan kedua kakinya, membuat lelaki
itu terhuyung ke depan, dan dengan cepat kelaki-lakiannya yang tegang segera melesak
ke dalam tubuh Shima. Bagi Blake, rasanya seperti memasuki cengkraman licin yang
panas berdenyut. Bagi Shima, rasanya seperti diterjang batang i yang membawa geligatal
ke seluruh dinding ke wanitaannya. Belum apa-apa, Shima sudah terlanda
gelombang puncak birahinya yang kedua. Begitu cepat!

Blake pun segera melakukan tugasnya dengan baik, mendorong-menarik batangnya
dengan cepat. Gerakannya ganas, seperti hendak meluluh-lantakkan tubuh putih Shima
yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, batang Blake menerjangnerjang,
menerobos dalam sekali sampai ke dinding belakang yang sedang berkontraksi
menyambut orgasme. Shima menjerit-jerit nikmat, menyuruh Blake lebih keras lagi
bergerak, mengangkat seluruh tubuh bahagian bawahnya, sehingga hanya bahu dan
kepalanya yang ada di atas kasur. Blake mengerahkan seluruh tenaganya untuk
memenuhi permintaan Shima. Otot-otot bahu dan lengannya kelihatan menegang dan
berkilat-kilat kerana keringat. Pinggangnya bergerak cepat dan kuat bagai piston kereta
formular one . Suara berkecipak terdengar setiap kali tubuhnya membentur tubuh
Shima, ramai sekali di sela-sela derit katil yang bergoyang sangat keras.

Shima tak lagi sadar sedang berada di mana. Ia berteriak bagai kesetanan merasakan
kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh tubuhnya terasa dilanda kegelian-kegatalan
yang membuat otot-otot menegang-meregang. Cipapnya terasa kenyal menggeliatgeliat,
mendatangkan kenikmatan yang tak terlukiskan. Setiap kali kejantangan Blake
menerobos masuk, ia merasa bagai tersiram berliter-liter air hangat yang memijati

seluruh tubuhnya. Setiap kali Blake menariknya keluar, Shima merasa bagai terhisap
pusaran air yang membawanya ke sebuah alam penuh kenikmatan belaka. Dengan
mata terus terpejam, Shima menjeritkan penyerahan sekaligus pengesahan atas
datangnya puncak birahi yang tak terperi. Blake merasakan batangnya bagai sedang
dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya. Ia pun tak
tertahankan lagi, memuncratkan seluruh penantian panjangnya, memuntahkan seluruh
rasa terpendamnya, bercipratan membanjiri seluruh rongga cipap Shima yang sedang
megap-megap dilanda orgasme. Shima mengerang merasakan siraman birahi panas
yang seperti hendak menerobos setiap pori-pori di tubuhnya. Shima mengerang dan
mengerang lagi, sebelum akhirnya terjerembab dengan tubuh bagai lumat di atas kasur.
Blake menyusul rubuh menimpa tubuh putih yang licin oleh keringat itu. Nafas mereka
berdua tersengal-sengal bagai perenang yang baru saja menyelesaikan pertandingan di
kolam renang."Oh, kamu ganas sekali, Blake. Betul-betul ganas...," kata Shima
akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu. Blake cuma
menggumam, menenggelamkan kepalanya di antara dua tetek Shima yang besar dan
lembut itu.

Setelah beberapa saat, Shima bertanya, "Berapa lama kamu di sini, Blake?" "Aku harus
berangkat ke Sydney Isnin pagi," jawab Blake diwarnai keengganan. Shima terdiam.
Singkat sekali pertemuan ini, fikirnya. Sambil memeluk Blake, ia menggumam, "Kalau
begitu kamu harus menginap di sini." "Bagaimana kalau aku tidak mahu...," jawab Blake
menggoda. "Kalau begitu, aku yang menginap di rumah orang tuamu ..," sahut Shima
cepat-cepat. Blake tertawa, "Kalau begitu, sebaiknya aku menginap di sini!"

Dengan tenag Shima berguling menindih tubuh Blake, menggigit bahunya cukup keras
sehingga Blake tersentak dan membalasnya dengan menggulingkan tubuh Shima.
Mereka berdua tertawa-tawa seperti anak-anak bermain guli. Cairan-air mani cinta
mereka berjatuhan menimpa cadar , melekat di tubuh mereka berdua: sebuah
perpaduan tubuh putih mulus dan tubuh coklat. Malam itu mereka bercumbu tak hentihentinya
sampai pagi. Bagi Shima, inilah percumbuan terpanjangnya dengan Blake, dan
justru terjadi saat mereka tak lagi tinggal bersama!
Visits: 17057


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top