Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: WHERE COUNTRY IS BEST IN ASIA? · More of this
    Search
 

   

Affairs Penulis



Selesai sudah meeting 4 hari. Walaupun penuh dengan diskusi dan argumen, tapi bisa membantu menyelesaikan Masalah-masalah yang ada. Kami tutup dengan dinner bersama. Tidak ada yang istimewa. Akupun kembali ke hotel berbintang tempat menginap selama di Jakarta, di bilangan Gatot Subroto. Sebenarnya bisa saja kembali dengan pesawat pertama besok pagi, tapi ada keinginan mengusik yang hadir sejak aku tiba. Aku ingin memperpanjang Masa tinggal hingga akhir pekan.

Kubuka lagi agenda, di bagian alamat kutemukan namanya lengkap dengan nomor HP. Aku masih ragu-ragu Kulirik jam tangan, tidak terlalu malam, masih pukul 11. Terkenang kembali bagaimana kami berkenalan. Aku (28) yang suka iseng menulis di sela-sela kesibukan pekerjaan, suatu saat mencoba mengirimkan cerita ke 17Tahun.com. Malu sebenarnya, karena tidak pandai menulis, tapi ingin juga mencoba menuangkan pengalaman ke dalam sebuah cerita. Hasilnya, aku banyak menerima email-email, tentu saja banyak yang nakal.

Dari banyaknya email, Dio yang paling sering menulis dan membalas email-emailku yang kadang hanya sepatah dua kata. Dio (38) adalah seorang Deputy Creative Director di sebuah advertising agency di Jakarta. Bahkan Dio pun mengirim ceritanya ke 17Tahun.com. Sempat kubaca hasil karyanya ¡®Bandung Lautan Birahi¡¯, yang memang penuh dengan birahi, salah satu pengalaman nyata. Setidaknya itu pengakuannya. Aneh sebenarnya, kami berdua sama-sama sibuk tapi tetap bisa punya waktu menulis dan berkirim email. Malah sempat saling bertukar foto.

Hhmm.., nelepon nggak ya. Kalau aku telepon, kemalaman nggak ya, tapi kalo ngga, sayang udah di Jakarta, kapan lagi. Apalagi kalau aku benar-benar akan pulang besok pagi. Sambil terus berpikir, tanganku memegang gagang telepon. Ah sudahlah kutelepon, mungkin malah lagi sibuk atau nggak ada yang angkat. Bunyi sambungan telepon semakin membuatku gelisah. Linenya nggak sibuk. Akhirnya..

¡°Halo..¡±, suara pria di sebelah sana menganggetkanku.
Antara percaya dan tidak. Aku jadi bingung.
¡°Halo..¡±, terdengar lagi
¡°Selamat malam. Nngg.., Ini dengan Dio?¡±, akhirnya keluar juga pertanyaan itu sambil berusaha terdengar kalem..
¡°Iya, dengan siapa ini?¡±,
¡°Mm.., Cleo¡±, sambil menggigit-gigit bibir bawahku.
¡°Cleo? Yang bener. Kok nomornya, nomor Jakarta. Kamu ada di Jakarta?¡±, terdengar kekagetan di suaranya.
¡°Iya, Pa kabar?¡±, aku mulai bisa menguasai diri
¡°Baik. Pa kabar juga? Kok nggak cerita-cerita sih kalo akan ke Jakarta?¡±.
¡°Hehe.., mau bikin surprise¡±, jawabku asal-asalan.
¡°Ohh.., gitu ya. Trus sampai kapan? Ketemu dong..¡±,
¡°Sampai hari ini. Besok pulang¡±
¡°Lho kok cepet. Ketemu dong, Cleo..¡±
Aku masih bimbang. Iya, ga, iya, ga..
¡°Halo.., masih di situ? Ayo dong, pleasee..¡±, suaranya benar-benar memelas, bikin aku tersenyum.
¡°Ok then. Temui aku besok malam di cafe di bawah ya¡±, ujarku sambil menyebutkan nama hotel tempatku menginap dan cafe yg kumaksud.
¡°Ok, sampai ketemu besok¡±, kudengar nada puas dan senang di seberang sana.

Esoknya, di pagi hari aku habiskan waktu di depan laptop. Karena memperpanjang Masa tinggal, segala sesuatu kuusahakan dapat diselesaikan lewat layar kecil itu. Untung saja tidak ada hambatan meminta cuti 1 hari dari atasan. Apalagi karena besok sudah weekend. Sore hari kusempatkan berenang. Segar rasanya, setelah beberapa hari berkutik dengan segala kesibukan. Entah sudah berapa lama aku berenang. Aku sangat menikmati, sepertinya segala kejenuhan terobati. Kalau tidak ingat ada janji, mungkin aku akan berenang sampai malam.

Pukul 7 malam, aku sudah berpakaian lengkap. Dengan rok sportif putih sedikit di atas lutut dan atasan simpel berwarna putih juga, plus sandal sepatu berhak rendah, aku siap turun. Dering telepon, menahan langkahku.
¡°Hello..¡±,
¡°Cleo.., aku sudah di bawah.¡±, suara Dio terdengar di seberang sana.
¡°Aku sudah duduk di meja. Aku tunggu, ya¡±, sambungnya lagi.
¡°Ok..¡±, aku menutup pembicaraan dan bergegas keluar.

Sesampainya di lantai dasar, baru teringat aku lupa menanyakan pakai baju apa dia malam ini. Tapi sudah kepalang tanggung, sementara aku sudah berjalan ke dalam cafe. Di sebuah sudut, kulihat seorang pria berdiri dan melambaikan tangannya ke arahku. Kayaknya Dio, seraya mengingat-ingat kembali bagaimana wajahnya di foto. Aku balas dengan lambaian kecil dan menuju ke arahnya.

¡°Hai.., Cleo..¡±, aku mengulurkan tangan .
¡°Dio.., ¡° ujarnya sambil menjabat uluran tanganku. Sikapnya sangat gentle, ditariknya kursi untukku sedikit keluar supaya aku bisa duduk dengan mudah.
¡°Terima kasih..¡±, ujarku sambil memperhatikannya. Di umur ke 38 tahun, Dio terlihat matang. Dengan kumis tipis menghias di atas bibir, bikin aku membayangkan bagaimana rasanya dicium pria berkumis. Entah pikiran darimana, aku tersenyum sendiri.
Sekilas, dengan penampilan yang ada, Dio pantas dikatakan sebagai seniman. Rambutnya tergerai panjang sebahu. Mungkin masih bisa dibilang seniman, karena pekerjaannya yang berkaitan dengan kreatifitas.
Karena sudah sering berkirim email, kami bisa lancar berbicang-bincang. Aku pun tidak merasa seperti bertemu dengan orang asing. Dan sama seperti isi email-emailnya yang seru, Dio suka ngobrol. Mengalir begitu saja. Tak kusangka jika pertemuan kami ini tidak sekaku yang kubayangkan.

Hingga saat kami menikmati makanan penutup, Dio mulai mengarahkan perbincangan ke cerita kami di 17Tahun.com.
¡°Jadi.., cerita-cerita kamu itu terjadi beneran atau sekedar fantasi kamu aja?¡±, sebenarnya sudah pernah Dio tanyakan di email, hanya aku tidak pernah memberikan jawaban.
¡°Mm.., ada deh..¡±,
¡°Kok ada deh.., rahasia segala sama aku¡±,
¡°Mm.., memangnya kenapa?¡±,
Agak canggung, hati-hati, Dio bertanya, ¡±Beneran udah ngerasain dildo?¡±
¡°Hahahahaha..¡°, terlepas begitu saja tawaku.
¡°Uppss.., sorry, ga maksud ketawain pertanyaan kamu, loh¡±, sambungku
¡°Jadi?¡±, tanyanya lagi berusaha mendapatkan jawaban
¡°Mm..¡±, aku sengaja membuatnya semakin ingin tahu
¡°Tuh kan, sengaja ya, ngulur-ngulur?¡±
¡°Iya..¡±, sahutku sambil menahan tawa
¡°Jadi?¡±, ulangnya lagi.

Aku mengangguk sambil menikmati es krim yang ada di depanku tanpa memberikan jawaban.
¡°Kok ngangguk aja?¡±, semakin geli aku melihat mimiknya yang ingin tahu
¡°Udah¡±, jawabku akhirnya.
¡°Wow.., rasanya sama ga dengan yang asli?¡±
¡°Hampir.., Enakan yang asli dong¡±,
¡°Enaknya?¡±,
¡°Enaknya.., kalo yang asli bisa terasa banget pas membesar, siap-siap meluapkan isi¡±, jawabku sambil melirik ingin tahu reaksinya.
¡°Juga.., bisa bikin kelojotan si empunya karena dihisap sama punyaku¡±, aku menambahkan.
Aku berusaha bersikap wajar, walaupun pembicaraan kami sudah mengarah ke erotis. Benar saja, duduknya mulai gelisah. Badannya didekatkan. Tangannya mengelus halus lenganku.
¡°Punyaku juga bakalan seneng banget kalo dihisap-hisap¡±, ujarnya hampir terdengar seperti bisikan.
¡°Juga..¡° aku sengaja mengabaikan ucapannya, mengangkat sendok yang berisi penuh dengan es krim ke arah mulut.
¡°Juga.., enaknya.., aku bisa merasakan cairan kenikmatan si empunya¡±, ujarku sambil menjilat es krim dari sendok. Kujilat perlahan-lahan menikmati.
¡°Kalo dildo, mana punya cairan yang sangat kunikmati itu¡±, sambungku lagi.
Dari ujung mataku, kutahu Dio menelan ludah walaupun kemudian cepat-cepat mengambil gelas minumannya.

¡°Kamu sendiri, udah pernah lihat atau pakai dildo?¡±, tanyaku berusaha membantunya menenangkan diri
¡°Belum.., eh ngga.., untuk apa?¡±
¡°Siapa tahu.., hehe.., ¡° kerlingku nakal
¡°Wah nggak deh. Aku masih normal kok¡±
¡°Ohh.., ¡°
¡°Mau lihat?¡±, sambungku lagi
¡°Mau lihat? kamu bawa?¡±, sahutnya terkejut
¡°Yah, namanya jalan sendirian. Sibuk terus, ga ada waktu, ya self service¡±, jawabku ringan.
¡°Di kamar?¡±, aku rasa Dio masih tidak percaya akan ajakanku
¡°Ya, iya lah. Masak di rumah.., mau lihat ga?¡±, tanyaku lagi
¡°Mau dong..¡±,
¡°Ke kamar ku yuk.., ¡° ajakku kemudian.

Akhirnya setelah menyelesaikan pembayaran, kami menuju kamarku. Aku tak tahu apa yang sedang Dio pikirkan. Dalam benakku, aku sudah bosan bermain sendiri. Aku butuh yang asli. Seperti kataku tadi, kenikmatannya tidak sempurna. Walaupun bisa mengatasi hasratku tapi tetap saja tidak sempurna. Sudah tak sabar rasanya, hanya saja aku bersikap seakan-akan semuanya normal-normal saja.

Di lift, kami tidak hanya berdua. Tanpa sengaja, Dio sudah berdiri begitu dekat ke badanku. Tangannya kemudian memeluk pinggangku. Tentu saja aku suka. Kugeser badanku lebih dekat lagi, hingga kurasakan pelukan di pinggang semakin erat. Nafasnya pun terdengar halus di telingaku. Ingin aku membalikkan wajah dan melumat bibirnya, hanya saja kami tidak sendirian di lift. Perjalanan ke lantai atas terasa sangat lama. Ketika akhirnya kami sampai di depan pintu kamar, Dio sudah tak tahan mencium-cium tengkuk dan memeluk dari belakang sementara aku berusaha membuka pintu.

Sampai di dalam, Dio sudah tidak ragu-ragu lagi. Dikecupnya bibirku dengan penuh perasaan. Ohh.., enak juga dicium pria berkumis. Bikin aku melayang, serasa kecupan pertama bertahun-tahun lalu. Badanku memanas, membuat aku terbuai. Kesadaranku hadir beberapa saat.
¡°Katanya mau lihat dildo¡±, ujarku sambil mengajaknya duduk di sofa.
Kecupan-kecupannya masih terus mengalir.
¡°Nanti aja. Yang ini lebih asyik¡±, diambilnya lagi wajahku dengan kedua tangannya dan bibirnya kembali mengecup halus.
¡°Nakal ya..¡±, ujarku sedikit menarik diri.
¡°Aku buka ya kemejanya¡±, kataku memberanikan diri
Mungkin Dio terkejut, tapi dituruti juga apa mauku. Dilepasnya genggaman di mukaku. Hingga aku bisa membuka kemejanya leluasa. Kemudian aku berdiri. Bisa kulihat tatapan penuh tanyanya. Kubiarkan dia duduk dengan bertelanjang dada.

¡°Tunggu sebentar ya..¡±, ujarku sambil memberikan sun jauh dan menuju ke kamar mandi.
Kubuka bajuku secepat kilat, juga BH ku. Kubiarkan hanya cd mini yang tersisa. Kemudian kukenakan kemeja Dio yang agak kebesaran.
Dio masih duduk di sofa menantiku dengan sabar. Kudekati. Aku menjauhkan meja di depannya dan menarik kursi kerja. Kuatur sedemikian rupa hingga bisa duduk di depannya, tak jauh tapi juga tak begitu dekat. Dio masih duduk memandangku dengan tanda tanya yang lebih besar.

¡°Mau lihat aku dance di depanmu?¡±, tanyaku
¡°Great.., mau dong¡±, ujarnya antusias
¡°Duduk aja di situ ya. Boleh nonton, nggak boleh megang¡±, kerlingku nakal
¡°Yaa.., kok nggak boleh¡±,
¡°Iyah, mau lihat ga?¡±
Sedikit kecewa, tapi Dio mengangguk juga. Aku menuju laptop, kupilih CD Cafe del Mar.., mm.., bagus juga. Kupasang dan kusetel dengan volume yg cukup.

Suara musik mulai terdengar, aku melangkah ke arah kursi dan duduk di muka Dio. Hentakan- hentakan musik mulai membahana. Kugoyang badanku mengikuti irama, sambil menatapnya tajam. Aku mulai menggerakkan tanganku. Berawal dari mulut, kubasahi bibirku dengan jilatan lidah. Kumasukan jari-jari tanganku. Kuisap, kunikmati, sambil melirik nakal ke arah Dio. Kukeluarkan sedikit desahan. Kuturunkan tanganku ke bawah perlahan, dengan berat menyusuri tubuh. Bergerak lambat dan berat di bongkahan dada. Kuremas-remas dengan nafsu yang mulai hadir membara. Tanganku pun mulai turun, melewati perut, ke arah bawah. Kupandang Dio dengan mata penuh nafsu dan mulut mendesah-desah. Kakiku kubuka lebar, kujinjitkan seirama dengan hentakan musik. Hingga ujung kemeja semakin tertarik ke pangkal pahaku. Kuangkat kaki kananku, kuarahkan di antara sela-sela celana panjangnya. Kurasakan bongkahan.

Dengan ujung-ujung jari, kuusap-usap perlahan. Dio ingin menahan kakiku, tapi kutarik halus sambil jari telunjuk tanganku bergerak-gerak melarangnya. Kemudian kubuka kancing kemeja perlahan. Satu demi satu. Sangat perlahan. Kubiarkan tanpa melepas, dadaku mengintip dari balik kemeja. Dio pun bisa melihat mini cd ku dengan lebih jelas. Kusandarkan tubuhku ke kursi. Kakiku semakin terbuka lebar, pantatku kuletakkan di ujung kursi. Kukibaskan ujung kemeja, hingga cd ku lebih terlihat. Kuusap-usap cd ku perlahan, seirama musik yang masih berdentang. Kepalaku kusandarkan lemas ke kursi, menikmati usapan. Sengaja kukeluarkan desah lebih keras. Dadaku kutonjolkan. Meskipun putingnya masih tertutup kemeja, cukup membuat Dio menelan ludahnya. Cd ku mulai terasa basah. Terhanyut dengan gerakan tanganku dan suasana.

Tatapanku semakin sayu, gairah semakin menjalar ke seluruh tubuh. Aku merasa seksi dengan gerakan ku sendiri. Ditambah tatapan mata Dio yang semakin membara. Perlahan aku berdiri. Kubalikkan tubuh, kuturunkan kemeja. Hingga di ujung tangan, kubiarkan meluncur begitu saja. Lepas. Kutundukkan badan, tangan kiriku memegang ujung kursi, kuarahkan pantatku ke muka Dio. Tangan kananku mengusap-usap lubangku perlahan di balik cd. Basah. Dio malah menggigit nakal.

¡°Oughh..¡±, teriakku kaget.
¡°Eh.., kan ga boleh nyentuh¡±, ujarku protes.
¡°Tega banget sih, Cleo¡±, ujarnya cemberut.
Aku tersenyum nakal. Kugeserkan kursiku menjauh, biar aku bisa leluasa. Kuhempaskan pantatku ke pangkuannya. Dio membuka kakinya lebih lebar. Ia masih mengenakan celana panjang, walaupun resletingnya sudah terbuka. Entah kapan dibukanya. Kugesek-gesek pantatku. Kuputar-putar. Bisa kurasakan ada benjolan yang membesar. Aku semakin bergairah merasakan barangnya. Semakin terhanyut membuat gerakan-gerakan bergairah.
Lanjutan dari bagian 1

¡°Ssff.. wwuhh..¡±, desahnya tertahan.
¡°Cleo, can I touch yours?¡±, nadanya sangat berharap.
Aku sendiri sudah lapar dengan sentuhan lelaki.
¡°Sure.., my pleasure¡°
¡°Oohh.. so wettt..¡±, jarinya mulai menjamah klitoris dan vaginanya dari balik CD.
Aku menggelinjang keenakan. Bikin penasaran, semakin menambah gerakan badanku, menggesek-gesek lebih cepat. Sedangkan tangannya yang lain meremas-remas dadaku. Tanganku bertumpu di lututnya. Nafasnya kudengar berubah penuh nafsu birahi. Aku nggak tahan lagi. Kubalikkan badanku. Terbawa gairah yang membara, kujilat mukanya.Tak beraturan. Kukecup, kujilat. Tak kupikirkan lagi. Aku ingin melepaskan hasrat seks yang telah terbenam lama.

Dio ikut terbawa nafsuku, ¡°Lick me..lick me..¡±, di tengah-tengah jilatanku.
Kujilat kupingnya, kugigit perlahan. Aku isap sekeras-kerasnya. Kujilat bibirnya tanpa mencium. Bergerak-gerak nakal..
¡°Go down.. go down girl ..¡±, pintanya semakin bergairah
Aku jilat lehernya dengan penuh nafsu. Semakin turun, kujilat dadanya. Gigit kecil putingnya.
¡°Ssff.., Cleoo.. aaugghh.. more.. moree¡±

Kujilat juga perutnya. Semakin ke bawah, masih ada celana panjang mengganggu keasyikkanku. Sambil berlutut, kubuka secara acak, tergesa-gesa, terburu-buru, ingin segera mendapatkan yang ada di baliknya. Kubuka juga cd nya. Wooww.., sudah membesar dan mengeras. Aku teruskan menjilat. Jilatanku tidak langsung ke batangnya. Kujilat halus bawah perutnya. Kuangkat batangnya, dekatkan ke perut. Kujilat buahnya. Kukulum halus, kubiarkan di dalam mulut tanpa hisapan.

¡°Aaghh..¡±, jerit Dio keenakan.
Kubuka kakinya lebih lebar. Kujilat terus buahnya.
¡°Uuhh..¡±, Dio mendesah sambil mengelus-elus rambutkku.
¡°Want me to lick your dick?¡±, tanyaku dengan tatapan birahi
¡°Pleassee..¡±
Kuambil batangnya, kujilat sehalus mungkin. Kunikmati centi demi centi.
¡°Auww.., so warmm..¡±
Kujilati belahan kepalanya. Kembali ke batang. Puas sudah menjelajahi, jilatanku berubah menjadi jilatan rakus. Kujilat kacau, kumasukan batangnya dalam-dalam ke mulut.

¡°Aauugghh..¡±
Keluar, Masuk, keluar, Masuk, keluar, Masuk.
¡°Suck it.. suck it..¡±, pintanya
Permintaannya malah membuatku garang, kuisap sekeras-kerasnya. Serakus-rakusnya.
¡°Goodd.., ¡° Dio semakin terhempas ke alam kenikmatan.
Dipegangnya kepalaku. Kuikuti maunya. Kubiarkan dia menyetir kecepatan keluar Masuk. Ditekan-tekannya. Semakin lama semakin masuk menyentuh dinding belakang mulutku.
¡°Yeaahh.., ¡° Dio semakin tergila akan gerakannya sendiri.
¡°Sshh.., STOPP! I´m going to cum in your mouth!¡±
¡°Pleasee pleasee pleasee..¡±, aku merengek ingin terus.
¡°Allrighttt.., another minute¡±
¡°Pleassee..¡±
¡°You want it..here!..I fuck your mouth..¡±

Dio semakin mempercepat tekanan tangannya di kepalaku. Didorong-dorongnya. Kuusahakan lidahku juga bergeser di batangnya. Oouughh.., nikmatnya. Semakin lama semakin basah mulutku, ludahku berjatuhan keluar dari mulut. Gerakan tangannya di rambutku juga semakin tidak beraturan.
¡°Fuck.. fuckk.. fuckk.. you really really a BAD GIRL.. BITCH.. COCK EATER!¡±
Bukannya kelelahan ataupun marah, aku malah terbawa hanyut pekikannya. Ucapan- ucapannya semakin membuatku tergila-gila. Ingin kutelan rasanya.

Sesaat kemudian, Dio menghentikan permainannya. Puas dengan apa yang baru saja diperbuat, dibawanya aku ke tempat tidur. Dio merebahkan badan, dan meminta aku berlutut di atas mukanya. Cd ku masih kupakai. Dimainkannya jari ke samping cd. Diusap-usap. Membuat aku semakin penasaran. Badanku bergoyang menahan sensasi. Kuremas-remas dadaku, sembarangan. Aku sudah hilang kesadaran, hanya gairahku yang mengontrol gerakanku. Dio memasukan jarinya dari balik CD ke lubangku yang basah. Digoyang- goyangnya di dalam lubang. Kurasakan ibu jarinya menggeser-geser di klitoris. Membuat aku semakin tak berdaya. Badanku lambung terhempas tak bisa menahan diri.

¡°Pleasee lick it, Dio.., Dio..¡±,
Aku tergeletak di sampingnya. Menatap sayu, mengiba. Dio bangkit dan menarik CD-ku. Lepas. Sekarang giliranku merasakan jilatannya. Kubuka lebar pahaku.
¡°Ooughh..¡±, jeritku keenakan ketika lidahnya menyentuh menjilat lubangku.
Seakan terbawa terbang ke awan. Kelaparanku terjawab. Nikmaatt.. Dibukanya lubangku dengan jarinya. Dimasukan lidahnya dengan rakus. Mulutnyapun bergerak liar.
¡°Aaccchh..¡±, badanku bergetar tak tertahankan.
Seperti kena setrum, setrum kenikmatan yang tiada tara menjalar ke sendi-sendi tulangku. Dio sangat menikmati vaginaku, bahkan dimasukkan hidungnya. Aku terkejut sesaat, tapi kemudian kudapati sensasi baru. Dio memintaku semakin menekan.
¡°Push.. pushh.., it hardd..¡±, bagai kesetanan, Dio kemudian malah semakin jalang menjilat-jilat vaginaku, memakannya dengan rakus.
Aku semakin tak tahan akan kenikmatan itu. Semakin garang semakin membawaku ke titik puncak.., kurasakan ada yang menggedor-gedor ingin tertumpahkan..
¡°Dioo.., akuu.., keluaarr..¡±, bersamaan dengan itu kurasakan cairan membanjiri lubangku.
¡°Aagghh..¡±, Aku menggelinjang hebat.
Menghentak-hentak, entah apa yang mendorong tubuhku bergerak liar. Hingga kemudian aku terhempas lemas. Uffhh.., benar-benar nikmat. Kulihat Dio di bawah sana memandangku. Kuberi senyuman tanda terima kasihku. Dio benar-benar membawaku ke puncak kenikmatan hanya dengan jilatannya. He¡¯s great, he¡¯s really really great, girllss..

Kami masih berbaring di tempat tidur. Saling berpelukan. Kepalaku masih bersandar di dadanya yang bidang. Kemudian aku teringat kembali kenapa ia ingin ke kamarku. Aku bangun perlahan. Dengan bertelanjang berjalan perlahan, kuambil dildo dan oil dari tas.
¡°Nih dia.., coba deh.., elus-elus hehehe..¡±, kusodorkan dildo ke arahnya.
¡°Itu untuk apa?¡±, tanyanya sambil melihat oil.
¡°Supaya melicinkan jalan..¡±, kerlingku nakal.
Aku rebahkan diri lagi di sampingnya.
¡°Gimana?¡±, tanyaku ingin tahu.
Dio tersenyum, sambil terus memperhatikan dildo dengan teliti.
¡°Kamu nakal juga ya di tempat tidur¡±, ujarku kemudian.
¡°Tapi suka kan..¡±, ditaruhnya dildo dan oil dari tanganku di kasur.
¡°Bad boy sihh..¡°
¡°Kan bad boy nggak bakal jadi kalo nggak ada bad girl- nya¡±, sambil tangannya mengelus-elus dadaku dan memberikan remasan
¡°Yee..¡±, sahutku manja, mencubit putingnya.
¡°Hihihi..¡±
¡°Emang dasarnya aja udah bad bad bad boy¡±, ujarku sambil sedikit bangun hingga bisa melihat wajahnya.
¡°Coba bilangnya deketan lagi?¡±,
¡°Baadd boyy..¡±, kudekatkan wajahku
¡°Lebih dekettt..¡±
¡°Really BADD BOYY..¡±, semakin dekat

Dio menarik dan mencium bibirku, lembut, penuh dengan perasaan. Lidahnya menari-nari di dalam mulut, bermain dengan lidahku. Sementara tangannya meremas pantatku perlahan. Ditidurkannya aku kembali ke sisinya. Ciumannya bergeser ke bawah, ke leherku. Dijilatnya perlahan. Kembali lagi ke telingaku, lidahnya menari-nari di dalam kuping. Dan menyedot perlahan ujungnya. Bikin aku melayang, birahiku bangun kembali. Kemudian elusannya di dada berubah menjadi remasan.

Ciumannya berlanjut turun ke pundak, ke dada. Diambilnya buah dadaku, putingku dijilatnya. Dijilat perlahan kemudian disedotnya kerass. Tangannya yang lain mengelus-elus vagina.
¡°Wwoww.. it´s wettt.., aku suka pussy kamu yang cepet basah..¡±
¡°Oouughh..¡° tanganku mengacak-acak rambutnya. Mengalirkan kenikmatan.
¡°Uughh..you¡¯re so hot NAUGHTY GIRL!¡±
¡°And you´re so good with your fingers¡±

Jari Dio semakin lincah bermain di vaginaku, kini kurasakan 2 jari. Kubuka kakiku lebih lebar. Aku kembali terbang ke alam birahi. Kenikmatan yang kudapat di dada dan vagina sangat membuai. Tusukan jarinya semakin dalam kurasakan.
¡°Ugghh..¡±, erangku keenakan.
Dio malah semakin mempercepat permainan 2 jarinya. Semakin cepat dan semakin menggelorakan tubuhku.
¡°Yess.., give me allll..¡±, erangku.
¡°Oohh, I like when you scream like that¡±
¡°Moree.., honey.., more..¡±
¡°Yeaa.. shiittt.. I want it.. I want it¡±
¡°Moree Dio pleassee..¡±
¡°aaghh.. want to fuck you. BAD GIRL!¡±
¡°Pleasse pleasse..¡±

Dio membalikkan tubuhku. Ditariknya pinggangku hingga posisi menungging. Dijilatnya vaginaku dari belakang kemudian ke lubang anus, kembali lagi ke vagina begitu berulang- ulang. Tak lama kemudian, dimasukkannya lidah ke lubang anusku.
¡°Feelss goodd..¡±,
Lidah Dio berputar-putar di anus, sedangkan 2 jarinya masuk ke vagina. Aku semakin menikmati permainannya yang nakal. Eranganku semakin tak beraturan.
¡°Ooghh.., moree.., i want your dickk pleassee..¡±, teriakku tak tahan lagi dengan permainan jarinya.
Dio mengarahkan batangnya ke vaginaku yang sudah basah. Dimainkannya sebentar di pintu lubang, kemudian..bless.., oughh.., nikmattt. Digoyangnya perlahan. Diusapnya pantatku, diremas-remasnya. Kemudian kurasakan jarinya yang basah ke lubang anusku. Kembali kuingat ceritaku di 17Tahun.com, benar-benar Dio ingin mempraktekkan apa yang dibacanya.
Perlahan jarinya masuk ke anusku, sementara genjotan di lubang vaginaku terus berlanjut. Aku merasakan lagi 2 kenikmatan sekaligus. Tubuhku bergoyang mengikuti irama sodokannya. Semakin lama semakin keras. Seirama jarinya yang semakin lama semakin dalam menancap di anusku.
¡°More more moree..¡±, teriakku semakin tak beraturan

Dio kembali terbawa nafsu birahi. Dikeluarkan jari dan batangnya. Diambilnya oil kemudian dioleskan di lubang anusku. Diarahkannya dildo dan dimasukkannya perlahan.
¡°Aagghh.. yess..¡±, erangku menahan kenikmatan.
¡°Yeaa.. you like it? Dildo in your hole?!¡±, serunya semakin membuatku terbawa arus birahi. Digerakkannya dildo di anusku, sementara 2 jarinya mengganti batangnya bermain di lubang vaginaku.
¡°More.., more.., fuck mee..¡±,
¡°YOU BITCH! FeeL IT!¡±, pekiknya
¡°Fuck my 2 holes.. HARDD!¡±, sambungnya terbawa nafsu.
¡°Oohh goshh..¡±, erangku tak tertahankan.
Gerakannya semakin kacau, semakin terbawa nafsu. Semakin keras, dan aku semakin menikmati. Semakin kutunggingkan pantatku, ingin merasakan lebih. Semakin keras didorongnya dildo ke dalam anusku, semakin menerbangkanku ke alam penuh birahi.
¡°Fuck me.., fuck all the way u want..¡±

Nafsu birahipun semakin menguasai kami. Dio mencabut dildo dari anusku, diusapkannya lagi sedikit oil, diarahkan batangnya ke anusku. Didorongnya perlahan, kemudian dengan sekali hentakan, kurasakan seluruh batangnya masuk ke anus.
¡°Ooughh..¡±, nikmat .
¡°Oougghh..my godd so greatt.. your ass so HOT!¡±
Sangat nikmat. Tak terkirakan rasanya. Dio seakan merasakan sensasi yang menyengat, gerakannya menjadi liar. Akupun terbawa nafsu birahinya. Walaupun anusku yang kemasukan batangnya, vaginaku malah semakin basah tak terkira. Kumainkan jariku di klitoris dan lubang vagina. Kuusap kacau, kutusuk-tusuk, semakin lama semakin tak terkendali. Aku semakin menggila dibuatnya.

¡°Aagghh..¡±, aku tercekat terserang kenikmatan yang tiada tara.
Birahi kembali menguasai jiwa dan ragaku. Diopun semakin liar, semakin ganas menusukkan batangnya. Gerakannya begitu ganas, mencekat rongga kenikmatanku.
¡°Dioo.., agghh..¡±, aku tak tahu apa yang ingin kukatakan.
Badanku kembali dirasuki jilatan ekstasi yang dahsyat. ¡°Dioo..¡±, semakin aku menyebutkan namanya, semakin ganas sodokannya.
¡°Dio.., aku mauu..¡±, gedoran magma semakin kurasakan.
¡°Dioo..¡±
¡°Tunggu sayangg.., aku jugaa..¡±, terbata-bata di tengah kenikmatan.
Gerakannya semakin cepat, semakin liar, semakin ganas. Kurasakan lubang anusku semakin membesar. 2 tangan Dio menahan pinggangku erat. Seakan ingin menumpahkan yang tertahankan.
¡°Dioo.., ke.. lu.. aarr..¡±, tak tahan lagi.
¡°Aku jugaa.. aaghh..¡±.
Kurasakan kemudian semprotan-semprotan di anusku. Tak bisa kugambarkan bagaimana nikmatnya. Dio masih menahan posisiku menyelesaikan semprotannya. Lemas rasanya. Akhirnya kami sama-sama roboh tergeletak di kasur.

Hanya hening yang menyelimuti kami. Setruman-setruman kenikmatan masih kurasakan. Kututup mataku ingin menikmati lebih dalam. Ouhh.., sungguh nikmat. Hingga akhirnya kami tertidur. Tanpa sempat mengucapkan selamat malam. Bahkan tak sempat saling mengeluarkan kata-kata. Kami tertidur dalam kenikmatan.

Entah apa yang membangunkanku, kubuka mata sambil melenguh dan kulihat Dio sedang memandangiku. ¡°Selamat pagi¡±, ucapnya sambil memberikan kecupan.
¡°Pagi..¡±, aku masih setengah sadar. Kuusap-usap wajahku, membangunkan diri.
¡°Enak tidurnya?¡±, tanyanya sambil menarik tubuhku ke dalam pelukannya
¡°Iyah.. hauw..¡±, sambil menguap kecil.
¡°Kamu?¡±
¡°Enak dong, sayang. Apalagi abis main sama kamu¡±, kecupan-kecupan kecil mendarat halus di wajah.
¡°Iihh.., udah dong. Malu ah.., bau nih. Mandi yuk¡±.
Pelukannya terlepas cepat.
¡°Yuk..¡°
¡°Huu.., cepet deh kalo diajak mandi¡±, sambungku manja.

Visits: 36834
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 24488   Help/FAQ   Terms   Imprint