Namaku Ratih. Umurku 26 tahun dan kuliah di Fakultas Teknik disebuah Universitas Swasta yang sangat terkenal di Yogyakarta. Aku udah nggak perawan hampir tiga setengah tahun yang lalu oleh sebuah kejadian yang sebenarnya tidak kuinginkan meskipun juga tidak kutolak. Pacarkulah yang melakukannya. Itupun dilakukannya hanya tiga kali yang tiga-tiganya (aku masih ingat kejadiannya) seingatku tak ada satu pun yang menyenangkan bagiku.
Sebenarnya di kampus aku termasuk mahasiswi angkatan tua, yang artinya aku udah kuliah 3 tahun lebih lama dari waktu yang seharusnya. Padahal aku tinggal nyelesain skripsi aja. Salah satu penghambat besarku adalah Pak Hermawan, seorang dosen yang berumur sekitar pertengahan 40-an (mungkin sekitar 45-an). Orangnya tidak terlalu tinggi, mungkin malah lebih tinggi aku. Agak kurusan dan mulai beruban. Beliau adalah dosen pembimbingku. Setiap kali aku mengajukan tulisanku, selalu saja ada yang salah dan harus kurevisi lagi begitu seterusnya.
Disisi lain, keluargaku bukanlah keluarga yang mampu. Artinya separuh uang kuliahku harus aku sediakan sendiri dari hasilku bekerja disebuah warnet (aku punya sedikit kemampuan net-working sesuai dengan jurusanku kuliah). Dengan demikian memperlambat masa studi sama saja dengan lebih memeras uangku. Jadi saat itu aku benar-benar mengalami masalah pelik.
Setelah kejadian dengan pacarku, sekian waktu yang lalu itu, aku ogah punya pacar lagi. Bagiku yang mereka incar dari seorang pacar adalah hanya wilayah selangkangannya saja, lain tidak. Agak ekstrim, tetapi begitulah aku.
Yang ingin aku ceritakan ini adalah tindakanku yang sangat aku ingat selamanya dalam hidupku, menyangkut Pak Hermawan dan aku. Saat itu, aku udah menyelesaikan 3 bab dalam penulisan skripsiku, dan mulai memasuki bab 4 dan 5 yang merupakan bagian paling berat dalam proses itu. Hal ini dikarenakan bab 4 dan 5 ini adalah inti dari skripsiku itu.
Di suatu siang aku ke kampus untuk mencari Pak Hermawan dengan membawa draft bab 4 dan 5. Untungnya beliau ada dan aku segera ke ruangannya yang menempati bagian di paling ujung dari deretan ruang dosen. Pak Hermawan termasuk dalam deretan dosen senior di kampusku sehingga beliau menempati ruangan sekitar 4x5 m sendirian dan seorang sekretaris.
Aku mengetuk pintu perlahan. Dan membuka pintunya perlahan-lahan. Beliau sedang membaca koran di sofa. "Selamat siang, pak!"
"Siang, ada apa?"
"Anu pak, mau konsultasi skripsi!"
"Nanti sore aja ya, saya sedang menunggu tamu ini!" katanya sambil tetap membaca koran. Hatiku jengkel bener melihat itu.
"Khan kemarin udah janjian pak!"
"Ya, saya masih ingat. Tetapi nanti sore aja, OK!",.
Harga mati. Aku langsung masygul.
"Selamat siang pak!" kataku jengkel banget.
"Siang"
Dengan hati panas, aku berjalan ke perpustakaan dan sambil membuka-buka buku aku berpikir tentang nasibku itu. Aku merasa tidak pernah berbuat salah pada beliau. Aku cukup cantik dan seksi. Dalam berpakaianpun aku bukanlah seorang konservatif, yang artinya aku suka pakai yang ketat-ketat sehingga payudaraku yang 34C keliatan bener. Jika dia laki-laki yang normal, keindahan itu pasti bukanlah penyebabnya. Aku pun merasa bukanlah dalam kelompok wanita tanpa otak. Apalagi dia seorang duda.
Ha....... tiba-tiba aku tahu penyebabnya!!!.
Semoga aku tidak salah. Beliau berusaha agar aku tidak terlalu cepat lulus agar selalu dapat menikmati keindahan-keindahan yang aku sajikan dari cara aku berpakaian. Ini menjelaskan kenapa dia dulu menginginkan jadwal konsultasi 3 kali seminggu. Ini juga menjelaskan kenapa dia begitu teliti mengecek tulisanku sehingga aku selalu merevisinya dan ketemu lagi. Brengsek...... udah tua....bandot !!!!
Ketika berpikir lagi, aku jadi semakin sedih. Jika benar dugaanku berarti ini belum apa-apa, baru permulaan saja. Oh malangnya nasibku!!.
Waktu berlalu dan sekian lama di perpustakaan dan kantin, tibalah saat yang paling kubenci - ketemu Pak Hermawan. Aku mengetuk pintu perlahan-lahan, dan membukanya. Beliau sedang menulis di meja kerjanya mengangkat kepala sedikit, memandangku dan terus menulis.
"Selamat sore pak!"
"Duduklah disitu!" katanya sambil menunjuk sofa. Aku duduk dan membuka map berisikan tulisan draft bab 4 dan 5 skripsiku. Sekarang bagiku pandangannya adalah pandangan menelanjangi, meskipun di sisi lain aku selalu menaruh hormat yang besar padanya setiap kali masuk ruangan ini.
Dia berhenti menulis dan duduk disebelahku. Terus membuka-buka tulisanku. Tampak hanya sekilas-sekilas saja dia membukanya dan berkomentar nggak enak. "Aduh, anda masih harus banyak membaca lagi ini. Saya belum melihat sebuah skripsi di draft ini. Coba lihat urutan sub babnya saja udah terbalik nggak karuan. Ini khan fatal, sama saja dengan membalik-balik cara berpikir anda .... .... ....".
Kalimat-kalimat berikutnya udah nggak terekam lagi dalam otakku. Yang ada ialah mengumpulnya rasa jengkel yang semakin kuat dan semakin kuat. Tiba-tiba aku melakukan sesuatu yang kelak aku syukuri sekaligus aku sesali.
Ketika dia sedang asyik berkomentar tentang skripsiku, entah setan dari mana, aku tiba-tiba saja memeluknya dari samping dan menempelkan payudaraku di tangannya. Pak Hermawan berhenti dan memandangku, dia tidak menolak, tidak berkomentar apapun. Dari dekat wajahnya udah tampak guratan-guratan kulit tuanya, dihiasi kumis yang mulai tampak uban satu dua. Tampaknya beliau salah tingkah harus bersikap apa, aku khan sepantaran anaknya.
Payudaraku menempel hangat di lengannya yang tampak tiba-tiba kaku. Bukan itu saja, aku menggerakkan tangan kiriku dan tanpa sungkan sedikitpun menjamah selangkangannya. Terasa ada gumpalan besar daging lunak di telapak tanganku dipisahkan oleh kain celananya. Aku mengelus-elusnya perlahan dan mulai menemukan bentuk batangnya memadat dan membesar secara perlahan-lahan.
"Jika ini kamu ......... harapkan dapat membantumu, kamu salah dik!" dia berguman perlahan agak sedikit tertahan, yang aku tahu pasti terpengaruh oleh perbuatanku padanya itu. "Sudahlah pak, bapak nikmati saja!!", bisikku agak kubuat mendesah dekat sekali di telinganya. Mungkin inilah kekuatan sebuah akumulasi, setelah hampir 4 tahun menduda, dan tiba-tiba saja ada seorang gadis muda dan seksi membelainya. Segala hal terlupakan, dan Pak Hermawan mulai terlihat santai dan merebahkan punggungnya kesofa sehingga memudahkan aku membelai-belai selangkangannya yang terlihat membesar itu.
Beberapa saat aku baru menyadari, ternyata batang Pak Hermawan besar juga. Lebih besar dari punya pacarku dulu. Tampak tercetak di celananya ada silinder besar miring kesamping kiri atas. Sementara itu Pak Hermawan memandangi langit-langit menikmati setiap elusanku di sepanjang batangnya itu. Aku nggak pernah bermaksud sejauh itu, tetapi tanpa kusadari aku mulai membuka resleting celananya. Beliau tampak memandangiku dan perlahan-lahan menggerakkan tangannya menjamah payudaraku dan meremasnya perlahan sekali. Aku jadi agak risih, meskipun nggak menolak juga. Dia menakupkan telapak tangannya digunung itu dan menekannya sambil meremasnya. Caranya agak lain tetapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang lain yang mulai mengaliri tubuhku.
Di sisi lain aku udah mengeluarkan penisnya dari dalam celananya di antara resletingnya sementara sabuknya masih terpasang. Untuk orang seumur Pak Hermawan penisnya mungkin terlihat masih kokoh. Panjangnya mungkin sekitar 17 atau 18-an cm, agak tebal kulitnya, terus ada urat besar disisi kiri dan kanan yang terlihat seperti ada cacing di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kompak (ini istilahku!), penuh dan agak berkerut-kerut. Garis lubangnya tampak seperti luka irisan dikepala penisnya. Aku memegangnya perlahan, terasa ada sedikit kedutan terutama dibagian uratnya. Lingkaran genggamanku tampak tak tersisa memenuhi lingkaran batangnya. Ternyata beliau emang hebat meski udah berumur. Aku mulai menggerakkan tanganku mengocok batangnya itu, saat itu yang terpikir segeralah beliau ejakulasi terus menyelesaikan urusan lainnya. Eh, nggak tahunya setelah beberapa lama, Pak Hermawan bangkit dan mendorongku perlahan-lahan sehingga berbaring disofa.
Beliau bangkit dan mengunci pintu. Aduh jangan...jangan... Entah terpengaruh apa, aku udah tidak ingat lagi batasnya. Pak Hermawan perlahan-lahan menggerayangi tubuhku dimulai dari payudaraku. Beliau menarik kaos ketat dan bra-ku keatas sehingga berada di atas gundukan payudaraku yang menyebabkan payudaraku terlepas dan tanpa perlindungan. Jemarinya mulai meremas-remas payudaraku dan memilin-milin putingnya. Saat itu separuh tubuhku masih belum total terhanyut tetapi ternyata Pak Hermawan jagoan juga. Dalam waktu mungkin kurang dari 10 menitan aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa aku tahan. Aku lihat dia tersenyum. Dan menghentikan aktivitasnya.
Tiba-tiba aku merasakan sabuk celanaku dibuka. Belum selesai berpikir aku merasakan hawa dingin AC dikulit pahaku yang artinya celanaku telah lepas. Beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut dipahaku yang berarti celana dalamku pun telah dilepas. Aku masih terhanyut oleh rasa nikmat dari permainan Pak Hermawan di payudaraku tadi dan tak tahu harus bagaimana.
"Kamu memang seksi dik!", suara gumaman perlahan aku dengar sambil aku merasakan pahaku dibentangkan kesamping. Aku sendiri merasakan selangkanganku sudah basah kuyup. Mungkin karena aku udah nggak perawan lagi yang menyebabkan terbentangnya paha sebagai bukan kejadian yang luar biasa sehingga memerlukan penolakan kuat dariku.
Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari menjembeng (membuka kekiri dan kekanan) bibir-bibir vaginaku. Dan yang dahsyat lagi aku merasakan sebuah benda tumpul dari daging mendesak di tengah-tengah bentangan bibir itu. Aku mulai sedikit panik.... karena tidak mengira akan sejauh ini.... tetapi tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku sendiri yang memulainya tadi.
Sementara itu batang penis Pak Hermawan mulai mendesak masuk dengan mantap. Untuk orang seusia dia, boleh juga. Aku mulai merasakan perasaan penuh di vaginaku dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya batang itu masuk kedalam liangnya. Sedikit suara lenguhan aku dengarkan dari beliau ketika seluruh batang itu amblas masuk.
"Kamu ........... hhhh .............memang hebat dik!", suaranya seperti mengandung ledakan yang dahsyat dari sesuatu yang terpendam lama. Aku sendiri tidak mengira batang sebesar dan sepanjang tadi bisa masuk seluruhnya. Rasanya seperti terganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak susah (bukan sakit). Sesaat keherananku yang sama muncul seperti ketika melihat video blue dimana adegannya seorang cewek berada di atas cowoknya dan bisa bergerak naik turun dengan cepat. Padahal ketika seluruh batang penis itu masuk, bergerak sedikit saja terasa aneh bagiku. Tiba-tiba di pintu terdengar ketukan perlahan-lahan dan ada gerakan membuka handel pintu. Beberapa kali terus berhenti.
Tampak wajah panik tiba-tiba tergambar di wajah beliau. Dengan penis masih tertancap penuh di lubang vaginaku Pak Hermawan terdiam menunggu dan lega ketika tidak ada lagi suara ketukan. Beberapa saat kemudian Pak Hermawan mulai menarik perlahan batang penisnya dan aku merasakan gesekan yang terasa agak geli didinding lubangku. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa nyaman. Beliau terus bergerak dan sayang belum sampai 10 gerakan tusuk dan tarik, beliau menarik batang penisnya dan mengocoknya sendiri dan mengarahkannya kemeja. Sementara aku sendiri masih dalam kondisi menggantung, ketika ...... semprotan-semprotan ganas itu terlontar seperti semprotan pemadam kebakaran. Pak Hermawan tampak melenguh-lenguh tertahan ketika dari ujung penisnya menyemprot-nyemprotkan tak kurang dari 8 kali semprotan cairan putih kental, padahal tangannya hanya bergerak mengocok sekali untuk dua kali semprotan (untuk teman-teman cowok yang ingin punya semprotan sperma yang kuat dan banyak mungkin bisa pakai cara itu - berpuasa ejakulasi 4 tahun terus langsung ngocok atau senggama ... he....he...he....sorry bercanda!).
Ketika Pak Hermawan selesai, di atas taplak kuning dimeja, telah penuh dengan genangan cairan kental putih, sebagian di antaranya terlempar melewati meja dan sofa pendek diseberang meja itu dan jatuh di keramik, sebagian membentuk garis di sofa yang dilewatinya. Sebagian lagi membentuk noktah-noktah bening di kertas-kertas skripsiku. Tampak dahsyat sekali ejakulasi yang dialami Pak Hermawan. Sementara aku sendiri betul-betul masih menggantung, posisiku bahkan belum berubah, mengangkang disofa, sehingga dari sebelah meja kerja Pak Hermawan pastilah selangkanganku tampak terlihat jelas.
Pak Hermawan duduk di sofa di bawahku sambil memegangi kepala penisnya yang tampak memerah. Diliriknya selangkanganku terus direbahkannya dirinya disana. Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba ditengah ke-nggantungan-ku, kesadaran moralku muncul. Aku bangkit dan mengambil pakaianku, memakainya cepat-cepat, merapikan rambut, terus duduk menunduk. Dan berucap, "Saya minta maaf pak, saya nggak sengaja!" Terdengar tarikan nafas panjang, entah lega atau apa.
"Nggak apa-apa....!, saya senang kok dik!" katanya tanpa menatapku. Matanya menerawang lurus kedepan. Anehnya wajahnya tampak segar-bugar seperti mendapat second wind. Terus dia mengambil kertas-kertasku yang tercecer di meja dan sebagian tertetesi oleh spermanya. Dan memberikannya kepadaku.
"Teruskan saja, saya ingin lihat lengkapnya" Aku menerimanya dan tanpa membersihkan sisa-sisa sperma Pak Hermawan langsung saja aku masukin kedalam tas.
"Bantuin saya membersihkan ini, ya!", dia mengambil kain dan tissue dan mulai membersihkan sisa-sisa di atas meja dan sofa tadi. Aku mengambil tissue dan mulai ikut membersihkan, sekali aku memandanginya dan tanpa sadar beliau memandang balik dan kami saling berpandangan beberapa lama. Setelah bersih aku berniat pulang. Entah kenapa, dia membukakan pintu, dan sebelumnya dia membisikkan kata-kata ini.
"Terima kasih dik Ratih, maaf saya terlalu cepat, mungkin Selasa depan saya bisa memperbaikinya"
Hahhh...... Selasa depan? Ya....ampun...!!!!
Bersambung ke bagian 2