Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: WHERE COUNTRY IS BEST IN ASIA? · More of this
    Search
 

   

PAK HERMAWAN DAN AKU (2)
Masih dengan perasaan menggantung, aku berjalan menyusuri koridor gedung itu dan menuruni tangga. Setiap gerak langkah kakiku menggesekkan perasaan geli dan entah apa yang membuatku kadang-kadang menggelinjang sendiri. Mungkin karena sebenarnya akupun menyimpan keinginan itu dibawah sadar sehingga-sama seperti Pak Hermawan - ketika ada penyaluran yang dibutuhkan adalah penyaluran total.

Aku berjalan ke arah parkiran motor. Motorku adalah sebuah Suzuki Crystal warna abu-abu tua. Aku menaikinya dan menekan starter. Tiba-tiba getaran mesinnya yang agak kuat terasa menyentakku. Getaran itu langsung terasa di permukaan selangkanganku di sadel yang efeknya mungkin terasa seperti vibrator. Aku tiba-tiba menggeliat-geliat sendiri seiring aku menarik gasnya perlahan-lahan. Beberapa saat aku menge-gas gas motor itu dan merasakan enak yang aneh di selangkanganku. Tanpa aku sadari pak satpam memandangi dan mendatangiku.

"Ada apa mbak?" tanyanya
"Ehh.. anu..nggak ada apa-apa kok!" jawabku gugup. Eh... nyaris ketahuan deh.

Aku segera berangkat dan sampai dirumah pukul 17.15, langsung mandi dan tidur. Mungkin karena terlalu lelah aku segera terlelap dan bangun pukul 21.30. Mungkin saja sensasi tindakanku tadi siang masih lebih tidak penting dibandingkan disetujuinya draft skripsiku sehingga malam itu semalaman aku mengerjakan bab 4 skripsiku dengan begitu bersemangat, dan tidak terasa pukul 03.00 pagi telah menjelang. Aku udah mengantuk dan segera tidur lagi.

Terlupakan sudah perasaan menggantung tadi, meskipun kadang-kadang kalau secara tidak sengaja pas mandi dan menyabuni selangkanganku terasa begitu nyaman. Begitulah sehingga pada hari Selasa pagi (yang berarti hanya empat hari setelah pertemuan terakhirku dengan Pak Hermawan), aku telah menyelesaikan hampir 70%-an dari Bab 4 dan 5.

Dan dengan bersemangat aku segera ke kampus untuk menemui Pak Hermawan. Kemungkinan akan dibegituin lagi oleh beliau menjadi tidak begitu penting lagi. Oh ya, berkas-berkas yang ternoda oleh sperma beliau aku simpan rapi di atas meja belajar. Itung-itung kenangan. Juga kali itu aku kekampus dengan mengenakan kemeja warna biru tua dan celana jeans biru, lain dari kebiasaanku dalam berpakaian.

Seperti biasa aku mengetuk pintu dan membukanya. Kali ini dengan perasaan yang agak lain. Pak Hermawan sedang menulis di meja kerjanya. Dipandanginya aku dan tersenyum. dasar bandot!!. Di ruangan itu ada juga mbak Enny, sekretarisnya. Mbak Enny ini berumur sekitar 35-an tahun, masih seksi meskipun anaknya udah 2. Tanpa bermaksud berprasangka, aku menduga mungkin Mbak Enny pun udah pernah dibegituin oleh Pak Hermawan.

"Selamat pagi!" Eh, aneh. Pak Hermawan duluan menyapa dengan senyum yang mengembang. Brengsek, bener-bener bandot tua.
"Selamat pagi pak, mau konsultasi skripsi" kataku dengan nada seperti biasa, sopan dan penuh santun.
"Oh iya sudah saya tunggu dari tadi, silakan duduk!", Bener-bener deh, kena dia. Sekilas aku melihat senyuman penuh misteri dari Mbak Enny. Di sisi lain nadanya yang kebapakan mengingatkanku sekilas pada ayahku yang telah tiada. Dan ini benar-benar menohok kesadaran moralku.

Aku segera duduk di sofa penuh kenangan itu. Masih segar bener dalam ingatan, dinginnya kulit sofa itu di bawah di punggungku tidak bisa meredakan panasnya nafsu Pak Hermawan di atas tubuhku. Meskipun semuanya sendiri karena aku juga. Aku segera membuka tas dan mengambil berkas skripsiku dan membukanya. Pak Hermawan berdiri dan duduk di sebelahku. Secara naluriah sebenarnya aku risih, karena beliau duduk nyaris berdempetan denganku. Apalagi di seberang sana ada Mbak Enny. Belum lagi peristiwa beberapa hari yang lalu di tempat yang sama masih terasa seperti baru saja terjadi.

"OK, deh teruskan saja! Secara umum anda sudah cukup bagus, tinggal ada ejaan-ejaan yang masih salah", Pak Hermawan selesai membuka-buka draft skripsiku.
Dengan agak malu-malu aku bertanya perlahan,
"Kapan saya bisa konsultasi lagi pak?",
"Hmm .. begini, minggu depan saya akan berangkat ke Belanda karena ada kursus yang akan saya ikuti selama sebulan. Jadi waktu kita ketemu hanya sampai hari minggu saja."

Seketika dalam hati aku menjerit "aduh". Sebulan lagi berarti waktu pengumpulan telah terlewati dan itu artinya aku harus mendaftar lanjutan dan itu juga berarti harus membayar lagi.
"Pengumpulannya khan tiga minggu lagi pak, bisa tidak kira-kira saya mendapatkan 100% sebelum Bapak berangkat?" aku memberanikan diri bertanya. Pak Hermawan berpikir sejenak. Eh, entah kenapa, aku tiba-tiba melirik selangkangannya, mungkin karena telah mengenalnya secara pribadi. Dan secara aneh juga, aku merasakan rasa terangsang yang aneh melihat segumpalan benda yang tampak mengganjal di balik celananya itu. Aku juga brengsek dalam hal ini.

"Hmm . begini saja, jika anda bisa ketemu saya setiap hari, maka saya pikir kekurangan skripsi anda akan bisa terselesaikan sebelum saya berangkat, gimana kira-kira, sanggup?"
"Mungkin tidak harus disini anda bisa konsultasi, anda datang saja ke rumah saya. Bisa pagi sekali - sekitar jam setengah tujuh-anlah - atau petang hari jam yang sama"
Secara naluriah aku mungkin sedikit tahu maksud dari penjadwalan yang kedua tersebut, mengingat di kemudian hari ternyata baru aku tahu bahwa Pak Hermawan tinggal sendirian di rumahnya, anak-anaknya sudah besar. Ada yang sudah berkeluarga ada pula yang kuliah di Bandung dan Jakarta. Beliau hanya tinggal bersama dua orang pembantu yang sudah tua.
"Saya sanggup pak," akhirnya hanya itu yang terucap dari mulutku.
"OK, bagaimana kalau mulai besok pagi?"
"Baik pak!" jawabku mengambang antara sanggup dan tidak membayangkan betapa berat kerjaanku nanti malam. Akhirnya pulanglah aku. Meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan yang kuperkirakan, membuat beliau mau didatangi ke rumahnya saja sudah merupakan prestasi besar.

Malam harinya bener-bener aku begadang agar setidaknya Bab 4 bisa selesai dengan sempurna. Dan semuanya berakhir pukul 5.00 pagi, setelah nge-print selesai pukul 5.30 WIB. Mau tidur nanggung, maka sambil tidur-tiduran memandangi langit-langit, dan otomatis jika dalam keadaan seperti itu, melamun adalah hal yang sangat logis. Yang pertama teringat tiba-tiba saja peristiwa hampir seminggu yang lalu di kampus. Dan yang tak kuduga, yang pertama kali terbayang adalah semprotan-semprotan putih yang menyebar-nyebar dari Pak Hermawan itu.

Ini yang tidak kuduga karena bukankah selama ini aku sangat membenci beliau, meskipun di sisi lain rasa hormatku juga ada. Dan yang membuatku agak merasa deg-degan ialah bahwa aku mengingatnya bukan sebagai orang tua/dosenku tetapi sebagai seorang laki-laki, yang artinya bahwa lamunanku saat itu adalah berisikan nafsu. Tiba-tiba saja rasa was-was muncul di hatiku, jangan-jangan aku mengidap kelainan (maksudku Pak Hermawan khan hampir 20 tahun lebih tua dariku, dan aku bernafsu padanya!). Atau mungkin hanya karena `itunya' Pak Hermawan yang tampak mempesona (karena sebenarnya baru ada dua penis yang pernah kurasai, pertama milik pacarku yang dulu yang pertama kali `memasukiku'. Dan yang kedua adalah milik Pak Hermawan. Dari keduanya, milik Pak Hermawan lah yang memberi kesan mendalam, baik secara fisik maupun emosi).

Sadar aku mulai `ngeres', tiba-tiba rasa yang secara nggak kusadari telah menumpuk di tubuhku sekian lama dan puncaknya adalah ketika Pak Hermawan tak sanggup menuntaskannya seminggu yang lalu, menggelitik tubuhku melalui selangkanganku. Dalam kondisi seperti itu satu sentuhan saja pasti akan sanggup membuatku mendesah sendiri. Dan benar, cukup dengan menggeliat kekiri saja, yang membuat selangkanganku bergesekan dengan guling dan membuat bibirku mendesah dan dari hidungku keluar nafas panjang dan . kringgg... Aku tersadar dan bangkit ketika weker berbunyi jam 6.00.

Aku segera mandi, cepat saja terus ganti baju. Aku pakai kaos warna kuning dan celana hitam terus pakai jaket biru tua kesayanganku. Beberapa tetesan parfum aku tambahkan. Aku segera berangkat (sekuat tenaga aku berusaha mengalahkan rangsangan dari getaran mesin motorku - temen-temen cewek boleh deh nyobain.! He.he.he) dan tepat jam 6.30 pagi aku sampai di depan rumah Pak Hermawan di bilangan Babarsari. Tampak sepi, pintu pagar terbuka sedikit. Aku memarkir motor di depan pintu pagar dan turun.

"Masukkan saja dik, disini banyak maling motor," Pak Hermawan masih berkaos oblong putih dan celana pendek biru. Beliau membuka pintu pagar dan aku segera mendorong motor masuk sambil berucap:
"Selamat pagi, Pak!"
"Pagi, ayo masuk," Keramahan beliau mulai terasa biasa bagiku. Pak Hermawan menutup pintu pagar dan masuk ke rumah lewat garasi. Aku mengikuti saja di belakangnya. "Maaf agak berantakan, maklum Tarno sedang pulang. Lagian bapak sendirian disini," aku diam saja dan hanya tersenyum setiap kali beliau memandangiku. Entah mungkin karena pengaruh ngantuk, aku merasa pastilah senyumku tidak manis sama sekali.

"Kamu pasti belum tidur, khan?"
"Bener, pak!"
"Bagaimana kalau bapak buatkan kopi, biar agak segar, OK?"
"Tidak usah pak, terima kasih!" kataku sambil duduk di sofa di ruang tengahnya yang indah dan nyaman sekali.
"Ayolah, nggak usah sungkan-sungkan, anggaplah rumahmu sendiri. Kita khan telah mengenal secara pribadi!," Ini nih! Entah kenapa suasana nyaman di ruangan ini terasa ada nuansa mesumnya. Lagipula, kalimat terakhirnya tadi pastilah tentang peristiwa minggu kemarin. Ih, mulai keluar rasa sebalku.
"Baiklah, pak!" ternyata akhirnya kalimat itu yang keluar.

Sementara Pak Hermawan ke dapur, aku membuka tasku, melepas jaket dan mulai membuka-buka draft bab empatku. Semoga ini koreksi terakhirku untuk bab ini. Mataku benar-benar terasa berat dan panas.
"Nah, ini kopinya, pastilah akan membuat dik Ratih segar kembali", Pak Hermawan meletakkan secangkir kopi di depanku. Sekilas secara spontan di luar kesadaranku, aku melirik kebagian "itunya" Pak Hermawan. Khas orang-orang seumuran beliau, tidak memakai celana dalam seperti pria-pria sekarang, tapi celana pendek. Sehingga ... tercetak samar-samar bentuk silindernya yang tampak miring ke kiri menumpang di atas segundukan bola. Ah ...

"Ayo minumlah dulu!"
Aku minum seteguk, terasa sekali kopi yang harum dan keras, aku meminumnya lagi sehingga tinggal separuh. Emang benar, terasa tubuhku agak segar. Sementara itu Pak Hermawan sedang membuka-buka skripsiku, dan mulai memberi komentar disana sini.
"Sampai sub bab ini, anda bisa memberi tambahan uraian tentang relay. Anda bisa ambil bukunya dari Horowsky atau Stuart. Sementara yang lain saya pikir sudah cukup bagus," Sementara Pak Hermawan sedang mencoret sana sini dan terus berkomentar tentang skripsiku, aku minum kopi itu lagi. Entah kenapa, rasanya segar dan nyaman sekali, kira-kira seperti saat ketika kita akan tidur diantara sadar dan terlelap, ketika semua beban telah terlepaskan.

Beberapa saat kemudian, dalam keadaan tersadar tapi mengambang seperti itu, semua yang dikatakan oleh Pak Hermawan hanya sepotong sepotong saja yang bisa kutangkap. Sampai suatu saat aku merasakan beberapa jemari meraba payudara dan paha bagian dalamku. Aku segera tersadar tapi Pak Hermawan telah merangkulku erat dari belakang. Entah bagaimana aku telah berada di pangkuannya. Pantatku terasa sedang menduduki sesuatu yang keras. Sebuah tangannya sedang menggerayangi dadaku melalui balik kaosku (kaosku telah tertarik keatas separuh sehingga separuh perutku terasa dingin terkena udara AC di ruangan tersebut. Sementara tangan satunya sedang mengelus bagian paha dalamku hanya sekian centimeter dari area vaginaku.

"Pak ...... jangan..... Tolong...Pak!!!!" Entah bagaimana kedengarannya kalimatku tadi, bernada menolak atau malah terhanyut. Yang pasti sentuhan di kedua titik tererotis dari tubuhku itu, seperti mengalirkan daya penghanyut yang dahsyat. Jadi sementara sebagian akalku menolak perbuatan Pak Hermawan itu, seluruh tubuhku yang lain mulai terhanyut total. Ketika dari bibirku keluar kalimat-kalimat penolakan dan tanganku mulai bergerak memberontak, seluruh bagian yang tubuh yang lain malah pasrah dan terutama pahaku yang mulai terasa kesemutan mengiringi rasa seperti ingin kencing dari selangkanganku setiap kali jemari pak Hermawan menyapu seluruh permukaannya meskipun terlindungi oleh kain celanaku.

Akhirnya kira-kira seperempat jam kemudian seluruh tubuhku hanyut luruh, bahkan dari bibirku keluar suara mendesis dan rengekan manja setiap kali Pak Hermawan berbuat sesuatu di bagian tubuhku tadi. Mungkin kelebihan dari mereka yang telah berumur seperti Pak Hermawan di antaranya ialah kesabarannya dalam melakukan seluruh proses hubungan intim, tidak asal ingin segera menyelipkan "itunya" saja seperti kebanyakan anak-anak muda.

"Saya telah berjanji padamu dik Ratih...untuk memuaskanmu!", pak Hermawan berbisik dekat sekali di belakang telingaku sehingga nafasnya terasa berhembus hangat sekali. Aku menyandarkan punggungku diatas dadanya. Sementara itu terasa bagiku sebuah silinder panjang, keras dan hangat, berdenyut-denyut di antara kedua bongkahan pantatku. Pak Hermawan menghentikan aktivitasnya dan berbisik lagi:
"Kita ke kamar saja ya!". Beliau mendorongku berdiri dan merangkulku, terus menuntunku masuk ke dalam kamarnya. Aku seperti tak berdaya mengikuti apa saja yang dilakukannya. Ada dorongan yang sangat kuat mengalahkan segala energi penolakanku. Dibaringkannya aku ditepi ranjang, separuh paha dan kakiku masih terjuntai di lantai sehingga hanya punggung sampai pantat saja yang berbaring di ranjang.

Pak Hermawan berhenti sejenak kemudian dia menarik melepas kaos dan bra-ku, yang pasti dilakukannya dengan mudah karena aku sendiri sudah pasrah (pasrah bongko'an - istilah yogya-nya - yang artinya pasrah sepasrah-pasrahnya). Kemudian terlihat olehku beliau sedang memandangiku. Ketika timbul sedikit usaha dari tanganku bergerak untuk menutupi payudaraku, saat jemariku menyentuh permukaan gundukan dagingnya, yang terjadi malah remasan-remasan dan elusan lembut dariku sendiri. Pasti karena kopi tadi atau entahlah...

Kemudian terasa olehku tarikan lembut kebawah di celana panjangku dan terasa bergerak-gerak ketika Pak Hermawan melepaskannya dari paha dan betisku. Terdengar olehku suara nafas panjang darinya. Sesaat kemudian ditariknya pelindung terakhir dari tubuhku, secarik celana dalam warna biru muda yang pasti sudah bernoktah bening di bagian bawahnya. Jadilah aku telanjang bulat berbaring separuh tubuh di tepi ranjang sementara pahaku masih menjulur ke lantai. Pastilah bagian selangkanganku yang berambut lebat itu tampak menggunung karena posisi itu. Entah bagaimana rasanya laki-laki melihat seorang cewek telanjang bulat dalam keadaan pasrah - siap disenggamai - berbaring dalam posisi seperti posisiku saat itu? Yang pasti aku melihat Pak Hermawan seperti tertegun beberapa saat memandangiku.

"Kamu memang sempurna dik Ratih..hhhh", Aku melihat beliau melepas kaos oblongnya sehingga dapat kulihat tubuh ceking putih itu. Dalam keadaan seperti itu kulihat bahwa dari balik celana pendeknya tampak penisnya sudah menegang terlihat dari mencuatnya batangnya itu sehingga terlihat menonjol. Kemudian dibukanya juga celana pendeknya itu sehingga terlihat ayunan batang panjang dan besar itu tampak memerah kepalanya tegak mengacung ke depan di antara kedua pahanya yang ceking.

Urat-uratnya terlihat jauh lebih besar dibandingkan ketika seminggu lalu aku melihatnya. Entah kenapa penis-penis seperti itu selalu menempel pada tubuh-tubuh ceking seperti milik Pak Hermawan itu (sorry buat teman-teman yang merasa gendut - semoga itu tidak terbukti hipotesaku itu).
"Pak...," aku bahkan nggak tahu memanggilnya untuk apa. Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya di antara pahaku, Pak Hermawan berbisik.
"Ssttt, ..... adik diam saja, nikmati saja!" Katanya sambil dengan kedua tangannya membuka pahaku sehingga selangkanganku terkuak tepat menghadap pinggulnya karena ranjangnya itu tidak terlalu tinggi. Itu juga berarti bahwa sekian saat lagi akan ada sesuatu yang akan menempel di permukaan vaginaku.

Benar saja, aku merasakan sebuah benda tumpul menempel tepat di permukaan vaginaku. Tidak langsung diselipkan di ujung lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di seluruh permukaan bibirnya, membuat bibir-bibir vaginaku terasa monyong-monyong kesana kemari mengikuti arah gerakan kepala penisnya. Tetapi pengaruh yang lebih besar ialah aku merasakan nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan itu. Beberapa saat Pak Hermawan melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih tangannya dan pahaku terangkat menjepit pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainannya.

Pak Hermawan menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala penisnya tepat di antara bibir labia mayoraku dan terasa bagiku tepat di ambang lubang vaginaku. Aku benar-benar menanti tusukannya. Oh..God... please!. Tidak ada siksaan yang lebih membuat cewek menderita selain dalam kondisiku itu. Yang cewek dan yang sudah pernah melakukan senggama dan menikmatinya, pasti setuju, ya nggak!

Akhirnya Pak Hermawan benar-benar mendorongkan pinggulnya mendorong terkuaknya lubang vaginaku oleh batang penisnya. Sedikit demi sedikit aku merasakan terisinya ruangan dalam vaginaku. Aku benar-benar tergerinjal ketika merasakan kepala penisnya mulai melalui area G-spotku, diikuti oleh gesekan dari urat-urat batangnya setelah itu. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul Pak Hermawan membuka pahaku lebih lebar lagi.

"Pak...!!", lagi-lagi hanya kata itu yang terucap dari bibirku. Sedikit bergetar aku ketika mengucapkannya. Saat itu seluruh batang penis Pak Hermawan telah amblas masuk seluruhnya di dalam vaginaku. Tanpa sengaja aku terkejang seperti menahan kencing sehingga akibatnya seperti meremas batang penis Pak Hermawan. Beliau bahkan belum lagi bergerak.

"Aduhh..dik Ratih... kamu ....hebat sekali!" Beliau ikutan menegang, mungkin akibat kejangan tadi. Beliau mencengkeramkan kedua tangannya di pinggulku, terasa sedikit kukunya di ujung kulitku. Tapi itu hanya rasa yang kecil saja dibandingkan apa yang terjadi tepat di tengah-tengah tubuhku saat itu. Kakiku masih menjuntai di lantai karpet kamarnya itu.Tanganku memegangi lengannya yang mencengkeram pinggulku. Aku mencakarnya ketika beliau menarik penisnya dan belum sampai tiga perempat panjangnya kemudian menghunjamkannya lagi dengan kuat. Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang `dibenamkannya' secara tiba-tiba itu.

Begitulah beberapa kali Pak Hermawan melakukan hujaman-hujaman kedalam liangku. Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat banyak ke tubuhku. Aku begitu terangsang dan semakin terangsang seiring dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang vaginaku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat penis Pak Hermawan yang seperti akar-akar beringin yang menjalar-jalar itu.

Mungkin karena tenaganya yang mungkin sudah tidak sekuat masa mudanya. Biasanya kalo orang bersenggama itu semakin lama semakin cepat gerakannya, Pak Hermawan malah semakin melambat sehingga sampai pada sebuah irama gerakan yang konstan, tidak cepat dan tidak lambat. Tapi anehnya justru bagiku aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit penisnya. Pada tahap ini, seperti sebuah tahap ancang-ancang menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan pahaku mulai seperti mati rasa seiring dengan semakin membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Aku mulai mengejang, kedua tanganku meremas-remas lengannya sesekali mencakarnya, disertai jatuhnya tetesan keringat di dada dan perutku.

Aku mulai tidak terkontrol lagi, suaraku terdengar keras sekali. Aku tak perduli lagi. Aku mulai secara tak sadar seperti memerintah Pak Hermawan.
"Cepatlah.....hhhhh....Pak!" sambil berkata demikian
aku bangkit dari berbaringku dan menjepit pinggul Pak Hermawan dengan kedua pahaku sementara betisku kuangkat. Aku meraih pinggul Pak Hermawan dan menggerak-gerakkannya secara kasar. Pak Hermawan seperti kedodoran menanganiku saat itu, beliau terengah-engah mengikuti gerakan tanganku di pinggulnya. Tapi seperti aku ceritakan di atas, beliau luar biasa sekali saat itu. Bayangkan ini sudah hampir 20 menit, beliau terus bergerak kontinyu sampai pada suatu titik..
"AHHH.PAAKKK.HHHH.."
(aku nggak bisa bercerita lagi pada bagian ini, kakiku mengejang, pinggulku terasa kesemutan rasa nikmat, nafasku memburu cepat, detak jantungku terasa cepat sekali, sementara di bawah sana aku terus merasakan gesekan-gesekan kuat dan mantap dari Pak Hermawan).

Ketika usai, aku masih berbaring di ranjang tetap dengan posisi seperti tadi, tapi kali ini lemas sekali. Lemas yang sangat melegakan tubuhku, seperti separuh tubuhku telah menguap. Aku memandangi langit-langit dan masih tetap belum bisa berpikir jernih. Tiba-tiba aku mendengar bisikan dan sentuhan kulit basah disampingku.
"Dik Ratih..bantuin bapak ..... menyelesaikan ini!"
Aku melirik ke samping dan yang pertama kulihat sebuah batang mengkilat yang tegak mengacung ke atas, separuh pangkalnya tergenggam oleh tangan keriput Pak Hermawan. Beliau berbaring tepat di sampingku dan kelihatannya masih belum ejakulasi. Gila apa ini?

Pak Hermawan menarik tangan kiriku, menggenggamkannya di penisnya dan mengarahkannya untuk melakukan kocokan. Aku mengikuti saja, tubuhku masih lemas sekali termasuk kedua tanganku. Jadi aku gerakkan saja sekuat tenaga tangan kiriku menggerak-gerakkan kocokan dengan tangan kiri, pandanganku masih ke atas langit-langit. Aku nggak perduli, pokoknya aku seperti menggerakkannya dengan cepat, hingga tak berapa lama kemudian...
Aku merasakan raupan tangan didadaku, dan beberapa saat kemudian suara erangan disertai tetesan cairan hangat dan lengket di perut dan seluruh dadaku. Sementara itu di telapak tangan kiriku aku merasakan seperti pompaan-pompaan cepat dan kuat yang mengalir dengan cepat dari dalam tubuh Pak Hermawan keluar dengan kuat dari ujung lubang penisnya yang karena gerakanku mengocok, mengarahkan semprotan ke atas dan jatuh di atas tubuhku. Sensasi dari rasa hangatnya aku rasakan di seluruh kulit tubuhku, diperkuat dengan suara erangan tua dari mulutnya.

Aku benar-benar menghabiskan kerinduanku di rumah Pak Hermawan hari itu. Ada beberapa kejadian lagi antara aku dengan Pak Hermawan tapi sebenarnya tidak terlalu istimewa untuk aku ceritakan. Aku ceritakan ini agar teman-teman (cowok dan cewek) tahu bahwa kadang-kadang perjuangan itu memang mengorbankan apa saja.

Aku sekarang udah bekerja di sebuah konsultan TI di Yogyakarta, dengan gaji yang lumayan besar. Sementara rahasiaku dengan Pak Hermawan benar-benar tersimpan rapi sampai sekarang. Aku bahkan telah mengenal putra-putranya dan aku dianggapnya sebagai saudara sendiri. Sampai sekarang aku masih belum mau berkeluarga, dengan banyak alasan yang masih tercetak di kepalaku.





Bersambung ke Bagian 3



Visits: 26850
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 11909   Help/FAQ   Terms   Imprint