Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: WHERE COUNTRY IS BEST IN ASIA? · More of this
    Search
 

   

PAK HERMAWAN DAN AKU (3)
Begitulah teman-teman sejak kejadian di rumah Pak Hermawan di pagi itu, skripsiku benar-benar lancar dan benar-benar selesai sebelum beliau berangkat ke luar negeri. Di antaranya tidak ada kejadian yang menyangkut seks dengan beliau. Sebulan beliau di luar negeri, sepulangnya aku langsung maju pendadaran dan dengan sukses aku bisa mendapatkan nilai A-. Ketika bersalaman setelah pendadaran, beliau sempat mengatakan sesuatu kepadaku. Aku hanya mengangguk saja dan tersenyum sambil berucap terima kasih sebanyak-banyaknya atas bimbingan beliau.

Kejadian kami - aku dan Pak Hermawan - tertutup rapat dari siapapun, bahkan dari pembantu beliau atau mbak Enny sekretarisnya.

Setelah wisuda, aku begitu bersemangat mencari tempat kerja, dan untungnya dengan sedikit skill yang aku miliki, aku segera diterima di sebuah perusahaan IT di Yogyakarta. Sesekali dengan email, aku berkirim kabar dengan Pak Hermawan, hanya saling bertanya basa-basi. Dan aku tetap menghormatinya, seperti layaknya seorang mahasiswa menghormati dosennya.

Sampai suatu saat aku bertemu dengan seorang pria. Lama kami berteman sampai suatu saat aku memutuskan untuk menerima keinginannya untuk menjadi pacarku. Dia begitu baik, sehingga pandangan negatifku tentang pacar menjadi berkurang dan dengan dia, aku segera menemukan hari-hari bahagiaku. Saat itu umurku sudah 27 tahun lebih. Sampai berbulan-bulan, hal terjauh yang dilakukannya hanyalah menciumku, itupun dipipi.

Seiring dengan bertambahnya waktu, beberapa kali aku masih teringat aktivitas terakhirku dengan Pak Hermawan di rumahnya. Betapa tingginya apa yang kurasakan saat itu. Dan seiring dengan bertambahnya umurku, sangat logis kalau rasa inginku akan hal itu menjadi semakin tinggi. Apalagi aku sudah pernah mencapainya, tinggi pula.

Kadangkala ketika keinginanku untuk melakukan muncul, muncul pula harapan suatu saat pacarku yang sekarang melakukannya padaku. Bukankah seks jika didorong oleh rasa cinta akan menjadi sangat sempurna? Logikaku, jika dengan orang yang pernah kubenci saja bisa begitu nikmat, kenapa dengan orang yang kucintai tidak?

Kadang aku sedikit-sedikit memancingnya, tetapi dia benar-benar tidak mau melakukannya. Suatu saat, ketika dia memboncengkanku, aku sengaja meletakkan tanganku dipaha bagian dalamnya dekat sekali dengan selangkangannya, sehingga payudaraku menggencet punggungnya dan jika lewat jalan yang tidak rata otomatis kadang-kadang tanganku menyentuh selangkangannya beberapa kali. Aku tidak merasakan perubahan kekerasan organ di dalamnya.

Kadang-kadang aku was-was jangan-jangan pacarku ini impoten. Dalam hal ini masturbasi benar-benar tidak membantu ketika kita sudah pernah merasakan nikmatnya hubungan seks secara fisik. Tapi aku saat itu benar-benar mencintainya. Sampai suatu saat aku secara tidak sengaja bertemu Pak Hermawan di suatu supermarket ketika sedang berbelanja sendirian. Ketika itu aku sedang memilih pakaian dalam, dan karena letak counternya yang tidak menyendiri sehingga lalu lintas pengunjung di belakangku pun ramai. Akupun cuek aja memilih BH dan celana dalam. Warna favoritku sebenarnya adalah biru muda, tapi di Yogyakarta tidak banyak tempat yang menjualnya. Sampai suatu ketika aku mendengar suara seseorang yang pernah kukenal secara pribadi berkata perlahan di belakangku.

"Halo dik Ratih,"
Aku menoleh, dan tampak wajah tua beruban itu tersenyum. Pak Hermawan!
"Eh. Pak Hermawan, apa kabar pak?"
"Baik, dik Ratih gimana kabarnya?"
"Saya baik saja Pak, udah kerja di Yogya" sambil mengucapkan nama sebuah perusahaan IT.
"Wah bagus dong, sedang belanja nih!"
"Iya Pak, maafkan saya tidak pernah ke rumah Bapak!"
"Oh nggak apa-apa, Dik Ratih pasti sedang sibuk sekali!"
"Iya Pak, saya sedang ikutan membangun jaringan di Surakarta!"
"Ok deh, sukses kalau begitu! Bapak duluan ya!"
"Terima kasih Pak," kataku sambil menyalaminya.

Ketika bersentuhan dengan tangannya secara tiba-tiba aku teringat apa yang pernah dilakukan jemari-jemarinya terhadapku dulu, hampir setahun yang lalu. Pak Hermawan berlalu, tapi tiba-tiba dia berbalik
"Oh ya sekarang tinggal dimana?"
"Oh saya di Gejayan Pak," dan secara otomatis aku mengambil kartu namaku dan menyerahkan kepadanya. Pak Hermawan menerimanya dari tanganku dan mengamatinya sejenak dan berkomentar,
"Wah kamu sudah supervisor ya! Hebat!"
Aku tersenyum saja, kacau perasaanku saat itu.
"Ok deh dik Ratih, kapan-kapan main kerumah ya!"
"Baik Pak!"

Singkat kata, setelah pertemuan itu, lama tidak ada kabar apapun dari Pak Hermawan, baik lewat email atau lainnya. Beberapa kali aku sempat mengemailnya hanya sekedar untuk menanyakan beberapa hal yang bersifat teknis yang berhubungan dengan pekerjaanku. Sementara itu hubunganku dengan pacarku sudah sampai pada taraf yang bagiku sudah mulai menjengkelkan.

Bayangkan teman-teman jika pacar kamu begitu bernafsu sama kamu, selalu memancing-mancingmu, kadang-kadang mungkin tampak seperti murahan (yang suruh mijitin lah, ngambil handuk atau sabun lah, atau bahkan kadang-kadang doi dengan cuek keluar dari kamar mandi cuman pakai handuk selebar 60 cm aja tanpa apa-apa di baliknya sementara tubuhnya terlihat segar habis mandi, dan dengan cuek pula ganti baju - pakai BH dan celana dalam terus pakai celana panjang dan kemeja - di depan kamu, tanpa minta kamu balik badan, atau yang lebih seru lagi, kalian tidur barengan - doi nginep. Sementara kamu tidur, di sebelah kamu ada tubuh hangat cuman terhalang kaos dan kulot tipis, yang dengan cueknya menggeliat-geliat ketika tidur. Kadang-kadang tangan atau pahanya dengan cueknya mendarat dengan hangat di penis kamu, pas sekitar subuh pula. Dan semua itu hanya kamu cuekin!!!). Jengkel nggak sih!

Meskipun belum pernah melihatnya telanjang, aku sudah bisa menduga kira-kira seperti apa tubuhnya - maksudku 'itunya'. Kadang-kadang ketika aku menginap di kostnya, di saat tidur bareng seperti itu, aku berpura-pura menggeliat dan dengan sengaja meletakkan tanganku di selangkangannya tepat di wilayah yang kira-kira merupakan posisi batang penisnya. Aku menduga miliknya tidak sepanjang milik Pak Hermawan, mengingat pas dalam kondisi lemas seperti itu, telapak tanganku kira-kira pas sepanjang batangnya. Jadi kira-kira kalau pas tegang pastilah genggamanku kira-kira sepanjang separuh panjangnya. Sementara milik Pak Hermawan bisa jadi hampir tiga kali lebar telapak tanganku, itupun dengan diameter yang besar pula, ditambah urat-uratnya yang 'dewasa'. Kadang-kadang aku melakukannya pas hampir fajar, ketika kadang-kadang penisnya menegang sendiri. Aku merasakan daging yang tidak terlalu keras, tapi kepalanya agak gede, jadi mirip-mirip mikrofon-lah.

Tapi sekali lagi, aku benar-benar mencintai dan menyayanginya. Sampai suatu ketika, aku benar-benar tidak kuat lagi menahan keinginanku. Kali itu aku pas menginap lagi di kostnya, besok harinya dia pergi keluar kota selama hampir sebulan - dalam bayanganku waktu itu pasti menyiksaku lebih jauh. Aku memutuskan mencoba nekat saja, jangan-jangan selama ini karena dia kurang berani berinisiatif - mungkin karena takut mendapatkan penolakan dariku. Padahal kan jelas-jelas aku sering memancingnya.

Saat itu sekitar pukul setengah empat pagi, aku barusan terbangun. Sementara itu dia sedang tidur nyenyak, terdengar dari nafasnya yang teratur. Posisinya terlentang, kedua kakinya rapat, sedang tangannya berada di atas kepalanya. Aku sendiri ketika terbangun, posisiku meringkuk, kedua kakiku tertekuk ke arahnya dan kedua tanganku menyelip di depan dadaku.

Selimut yang kami pakai berdua telah nggak karuan posisinya (mungkin karena kalau tidur aku benar-benar bertingkah, tidak bisa tenang dalam satu posisi). Aku menyadarkan diri dari tidurku. Kemudian aku meletakkan tanganku di dadanya, demikian pula paha kananku aku tumpangkan di area selangkangannya. Aku merasakan batangnya tegang (morning erection - kata Cat Stevens) dalam posisi mendongak (teman-teman cowok kalo pake celana dalam 'itunya' mesti diangkat keatas ya? Hayo ngaku!).

Aku meresapi hangatnya aliran darah di batangnya itu meskipun terhalang oleh celana trainingnya. Terasa lamat-lamat dan berirama, denyutan pompaan darah dari jantungnya melalui urat utamanya. Buah pelirnya terasa hangat pula, tidak besar. Beberapa lama aku merasakan kehangatannya mengalir dari pahaku, menggelitik selangkangan, dan menghangatkan tubuhku pula. Dengan nakal, aku menggerakkan tanganku dan mencari-cari kepala batangnya di ujung celana trainingnya. Aku gerakkan sekilas saja, dan, eh, menyentuh daging hangat ujung kepala penisnya. Usut-punya usut, ternyata celana trainingnya agak melorot sehingga ketika penisnya tegang, panjangnya melampau lebar celana dalamnya dan ujungnya separuh menyembul keluar dan otomatis melewati pula celana trainingnya.

Aku mencoba mencari dan menemukan bentuk seperti helmnya Darth Vader (itu lho, yang di Starwars, tahu khan?). Dengan jemari tangan kananku (aku disebelah kanannya), aku memegangnya perlahan dengan posisi seperti kalau kita memutar tombol volume tape. Secara perlahan-lahan dan nakal pula aku memutar-mutarnya seperti kalau kita mencari gelombang radio. Dan tiba-tiba saja, terasa gerakan membesar dan memanjang dari batangnya itu. Lho bukankah, tadi udah ereksi? Dan bukankah pula dia sedang tidur.

Di pahaku terasa gerakan menggeser yang kuat dari membesarnya batang penis pacarku itu. Aku jadi panik sekaligus merasakan sensasi yang aneh, gabungan antara cintaku padanya dan akumulasi nafsuku yang telah memuncak. Ini cukup menggelitik selangkanganku, untuk menimbulkan rasa terangsang secara fisik.

Sementara itu aku masih memegang kepala penisnya dengan cara seperti tadi itu. Tapi kali ini aku merasakan jemariku lebih penuh, alias benda yang kupegang ternyata lebih besar dari bayanganku. Ujung jemariku bahkan mulai merasakan batang penisnya. Kesan pertama batangnya itu adalah permukaannya halus tanpa urat-urat besar. Beda dengan milik Pak Hermawan yang urat-uratnya besar dan panjang serta permukaan kulitnya seperti bersisik (eh, iya, teman-teman cewek kalo milih cowok, pilih yang 'itunya' berkulit kasar dan berurat, pasti deh lebih greng! He.he.he).

Aku masih seperti berpura-pura tidur, padahal jelas kalau misalnya dia sudah bangun, pastilah yang terasa di penisnya itu bukan pekerjaan orang sedang menggeliat. Tiba-tiba aku merasakan tangannya memegang tanganku yang memegang penisnya itu. dan tangan satunya menyingkirkan pahaku dari area itu. Aku jadi malu sekali saat itu. Dia memegang tanganku yang memegang penisnya itu terus menariknya ke dadanya sehingga otomatis aku jadi memeluknya. Terus dia berbisik,

"Rat,.... kamu ini apa-apaan, sayang?" nafasnya menyirami wajahku dengan hangat.
"Engg. anu mas! Nggak ngapa-ngapain kok!"
"Yang tadi itu apa?"
"Yang mana?"
"Ayo deh, kamu udah nggak sabar nunggu sampai kita nikah ya?"
"Sabar kok! Mas ini ngomong apa sih?"
"Mas terus terang aja ya! Kalau kamu udah nggak kuat, mas bisa bikin kamu puas tanpa harus begituan, OK, kita sisakan yang itu untuk nanti!"
"Mas ngomong apa sih?" Dalam bayanganku jika dia melakukan petting saja, pasti rasanya sama saja dengan masturbasi. Bagiku itu tidak cukup. Keinginanku sudah berwujud emosional sehingga hanya senggama - penisnya masuk ke vaginaku - saja yang kuinginkan. Apalagi baru saja kusadari bahwa miliknya ternyata nyaris sebesar milik Pak Hermawan ditambah rasa sayangku padanya, pastilah aku akan merasakan ekstase, bukan lagi sekedar orgasme saja.
"OK, deh, kamu tidur lagi gih, ini khan masih jam 4.30".

Aku segera meraih selimut dan memakainya menutupi seluruh tubuhku. Dalam tubuhku bergolak arus rasa yang semakin mendesak-desak seperti roh jin dalam botol kecil. Sehingga aku nyaris hanya memejamkan mata tanpa bisa tidur. Beberapa lama kemudian aku mendengar suaranya bangkit dari ranjang. Dia bangkit dan ke kamar mandi, pintunya tidak dikunci, aku mendengarnya dengan pasti. Aku mendengar suara jatuhnya air kencing di toilet, agak lama terdengar. Habis itu, beberapa lama dia tidak muncul-muncul.

Tanpa ada yang memerintah, aku bangkit begitu saja dan perlahan-lahan sekali mendatangi kamar mandi itu dan mendorong pintunya perlahan-lahan sekali.. nah khan! Aku melihat tubuhnya dari belakang, celananya melorot sampai siku, sehingga pantatnya terlihat. Bagus juga bentuknya, bundar dan terlihat kencang. Tapi tangan kanannya sedang bergerak-gerak secara teratur dan tangan kirinya memegangi pinggangnya. Wah .. cowok munafik, teman-teman dia lagi onani, tuh!!. Agak lama aku mengamatinya dari belakang, terlihat semakin lama gerakan tangannya semakin cepat, diselingi beberapa kali suara nafasnya tertahan-tahan tanpa bisa ditutupi. Aku membuka pintunya perlahan-lahhan sekali dan mengendap-endap mendekatinya dari belakang nyaris tanpa suara sama sekali. Aku bersiap mengagetkannya, maksudku membalas kemunafikannya, sementara dia semakin cepat bergerak-gerak tubuhnya sampai menekuk-nekuk kebelakang, tangan kirinya meremas-remas pantatnya sendiri.

"HAYO! MAS ARI LAGI NGAPAIN?!!" Sambil memegang tangan kirinya aku berteriak mengagetkkannya.
"Ahhh ... kamu .. !! ... ooohhh..!!!!!" Perbuatan yang tidak kuperhitungkan akibatnya. Aku tak tahu kalau pas aku mengagetkannya itu pas orgasme dan ejakulasinya tercapai, sehingga pas dia menoleh, pas sperma pertamanya menyemprot tepat dikaosku. Karena posisi memegang penisnya yang mengarah ke atas, semprotan pertamanya itu pas mengenai area payudara kiriku. Hangat cairannya tiba-tiba terasa menyentak tubuhku melalui sentuhannya diputing susuku (aku tidak memakai Bra karena niatku malam ini memang akan nekat mengajaknya senggama!). Di sisi lain, dalam kondisinya, dia bukannya berhenti ketika ketahuan olehku, tapi terus mengocok sampai dorongan kuat orgasmenya itu bisa dikendalikannya. Yang justru tak tahu harus bagaimana adalah aku sendiri.

Aku masih memegangi tangan kirinya dengan tangan kiriku, yang oleh karena gerakan membalik badannya itu, membuatku dalam posisi tidak seimbang sehingga terpeleset dan jatuh berlutut pas di hadapan penisnya yang tampak memerah dikocok oleh tangan kanannya itu. Spermanya banyak sekali, tapi terlihat tidak putih seperti milik Pak Hermawan. Miliknya agak cair kebening-beningan, tapi yang pasti hangat sekali terasa dikulit tubuhku. Agak lama dia bisa mengendalikannya rasa orgasme sehingga berakibat lama pula gerakannya mengocok berhenti. Aku sendiri menyaksikan ejakulasi sebuah penis dari jarak kurang dari 20 cm, terasa seperti sensasi yang luar biasa sekali. Terlihat jelas sekali, urat-urat penisnya yang sebetulnya halus, menyembul-nyembul mengalirkan rasa nikmat baginya.

Aku tak memperdulikan beberapa semprotan spermanya menjatuhi rambut dan mukaku - aku toh pernah mengalaminya, jadi tidak shock lagi. Yang kurasakan adalah betapa cowokku ini juga luar biasa sebenarnya. Aku masih berlutut dan menengadah, melihatnya berdiri terpaku melihat wajahku yang dipipi dan dahi sebelah kirinya bernoktah bening oleh spermanya. Tangan kanannya masih memegangi kepala batang penisnya seakan ingin menutupinya agar tidak lagi menyemprotkan cairan kenikmatan itu ke wajahku.

Perlahan sekali aku memegangi batang penisnya dekat buah pelir di sisa panjangnya. Aku merasakan denyutan-denyutan keras dan hangat di telapak tanganku, dan menggerakkannya perlahan. Dia melepas pegangannya di kepala penisnya dan menarik tanganku yang memegang batangnya itu, kemudian dia ikut berlutut didepanku. Dia memegangi bahuku, dan memandangiku dekat sekali.

Di wajahnya masih terlihat sisa-sisa ekspresi orgasme, memerah di beberapa tempat.
"Maafkan aku Rat, tapi aku harus melakukannya karena aku nggak ingin merusakmu sebelum waktunya!" Dia menarik tanganku kedadanya, sehingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang masih berdetak cepat. Dia terus menarikku sehingga aku dipeluknya, tak perduli bahwa di kaosku masih terlihat tetesan noktah cairan spermanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya secara lebih dekat, pas di payudaraku. Penisnya yang mulai melemas terasa mengganjal pas di perutku dibawah pusar.

"Kamu terlalu seksi bagiku, apa yang kamu lakukan setiap kali kita tidur bersama disini, juga hal-hal yang lainnya, sebetulnya begitu membuatku segera ingin melakukannya. Tapi kamu tahu, aku punya prinsip itu!" Dia memelukku hangat sekali, kedua tangannya merengkuh punggungku, sehingga menggencet payudaraku di dadanya.
"Aku nggak ingin mengambil keperawananmu sebelum waktunya!" Aduh, di sisi lain cowokku ini begitu sempurna. Tapi di sisi lain lagi, dia kurang tanggap terhadap lingkungan, dan tentu saja dia ternyata belum begitu mengenalku seperti sangkaanku semula. Aku ingin mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang terjadi, tapi saat itu, aku benar-benar tidak ingin merusak suasananya. Dalam bayanganku ternyata seksi juga, cowok pas onani terus ketahuan, dan ketahuannya pas ejakulasi, oleh ceweknya sendiri lagi, ceweknya kayak aku lagi!!. Maksudku seksi bagiku!

"Kamu mandi deh mas, tuh belepotan. Khan berangkatnya pagi toh!. Mau tak mandiin apa?" Aku agak bercanda, padahal seluruh tubuhku benar-benar mendidih menahan gejolak nafsukku yang semakin tinggi karena apa yang baru saja aku alami.
"Maafkan aku ya!" sambil berkata begitu dia menciumku. Kali ini di bibir. Agak lama dia melakukan itu. Aku menyambutnya dengan antusias. Secara samar aku merasakan sedikit gerakan di penisnya yang tergencet pinggulku itu.

Kemudian dia terus mandi. Aku sendiri berbaring-baring di ranjangnya, tentu saja dengan persoalan baru. Di sisi lain, dia masih belum tahu kalau aku sudah tidak perawan lagi, sementara di sisi lain aku sudah dalam tahap yang sudah tidak tertahankan lagi untuk meledakkan apa yang tersimpan di tubuhku.

Akhir kata, pagi dia berangkat keluar kota, meninggalkan aku sendiri dalam rasa 'nggantung' secara emosional. Sebulan lagi dia balik, dan aku harus menghadapi persoalanku lagi.





T A M A T


Visits: 23753
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 19931   Help/FAQ   Terms   Imprint