Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: 2,3,5,7,11,?,17 · More of this
    Search
 

   

Sekretarisku Tercinta 7
3 September 1998 Sudah satu bulan berlalu, sejak pertemuanku terakhir dengan Rita di Jakarta. Aku terkadang sangat rindu dengannya, tapi kutahan perasaanku dengan menyibukkan diriku pada pekerjaan yang semakin menumpuk sejak aku mempimpin cabang Slipi. Maklum, para pengusaha nasabah bank dimana aku bekerja semakin banyak saja, hal ini karena keberhasilan marketing-ku. Aku sengaja bekerja all-out siang malam, dengan menjamu langgananku sambil makan malam dan karaoke. Aku ingin melupakan Ritaku yang sekarang sudah jadi isteri orang, tapi bayang-bayang kemesraan selama beberapa tahun dengannya seperti suami isteri tak mudah rupanya untuk dilupakan begitu saja. Sekretarisku yang baru memang cantik, lebih muda dan menarik, tapi anehnya aku sama sekali tak tertarik dengannya, barangkali memang aku bukan tipe lelaki "play-boy" yang gampang gonta-ganti pasangan. Cintaku sudah direbut oleh Rita tanpa perduli bahwa dia sudah menjadi isteri orang. Tapi aku tak menyesali pertemuan dengan Rita, aku tetap menyintainya dengan sepenuh hati.

Oh, rupanya aku melamun terlalu lama, sehingga aku merasa malu ketika sekretarisku Rani masuk membawa setumpuk dokumen.

"Pak, kok melamun?" sapanya ramah, sambil tersenyum manja. "Ah,…….oohh…eng…nggak..kok" kataku tergagap.

"Pak, dokumen-dokumen ini perlu segera ditanda-tangani Bapak, sebab nanti siang Pak Yusuf Pramono akan mengambilnya" kata Rani lagi.

"Okay, tinggalkan saja dulu, nanti saya panggil lagi kamu setelah kutandatangani" kataku datar. Rani menaruh beberapa map "feasability study" untuk beberapa proyek pabrik konveksi yang mengambil kredit dari bank dimana aku bekerja. Dia keluar ruanganku dengan lirikan matanya yang semakin manja. Ah, boleh juga tuh cewek pikirku, bodynya cukup montok, hitam manis dengan buah dada yang terlihat menonjol besar keluar dari blousenya. Tapi setiap aku kepingin iseng-iseng menggoda Rani bayangan wajah Rita selalu berkelebat didepan mataku, seakan mengingatkan janji dan kesetiaanku. Ah, kamu mau menang sendiri Rit!!!, gumamku dalam hati, sedangkan kamu enak-enakan dengan suamimu!!!. Aku selalu membayangkan Rita telanjang bulat setiap malam dengan suaminya…….dan bermain cinta diranjang berdua, tanpa takut ketahuan orang, tanpa takut diganggu orang karena memang suami-isteri sah dan lupa pada diriku. Kemudian pada akhir klimaks-nya Rita melenguh dan meregang sambil memuji sayang suaminya, sama seperti dilakukannya padaku. Uuh!!! kamu memang nggak setia Rita!!!, kamu tega meninggalkan aku sendirian di Jakarta, sedangkan kamu enak-enakan tiap malam ngentot dengan suamimu. Kamu bilang nggak cinta, tapi lama lama kamu suka juga dimasukin kontolnya!!! Brengsek kamu Rita!!! dan bodohnya aku tetap saja setia menunggu barang bekasan lelaki lain.

Sekretarisku masuk lagi ke ruang kerjaku, ada apa pikirku, belum dipanggil kok masuk lagi. Jangan jangan dia memang sudah kegatelan mau kucumbu. Aku sudah mempunyai pikiran buruk untuk menggodanya untuk mengobati kekesalanku pada Rita dan aku hampir yakin bahwa diapun pasti menginginkan aku berbuat sesuatu yang mengasyikan padanya.

"Ada apa lagi?" kataku pura-pura tetap berwibawa seperti biasanya. "Anu,…pak…., ada tilpon dari ibu Rita Bandung!" katanya mengandung curiga. Hah, Rita! Ada apa lagi dia…., mau ceritera asyikp-masyuk pengantin barunya dengan si Yudi itu? pikirku dalam hati. "Cepat, sambungin ke sini!" jawabku cepat dan spontan. Heran, setiap kudengar nama dia, apalagi akan mendengar suaranya setelah hampir sebulan tidak ketemu, kebencian dan cemburuku pada suaminya seperti mendadak hilang tak berbekas. Sekretarisku bergegas keluar kembali untuk menyambungkan saluran tilpon dari Rita, terlihat raut mukanya agak ditekuk. Aku yakin dia nggak begitu suka jika Rita tilpon, mungkin juga cemburu, karena dia tahu aku punya hubungan khusus dengan bekas sekretarisku itu.

"Hallo, papah, ini mamah, apa khabar sayang?" suara Rita di seberang sana terdengan merdu di kupingku. "Baik aja kok, kamu gimana?" kataku datar.

"Pah, mamah sangat rindu deh….., kapan papah mau ke Bandung?" jawabnya lagi. Tiba-tiba timbul pikiranku untuk menggodanya, sekaligus menumpahkan kekesalan dan kecemburuanku.

"Ah, masa sih kamu kangen saya, kan tiap malam ada teman sekasur, enak lagi, nggak takut ketahuan orang, tiap jam, tiap saat mau main kan tinggal buka celananya, kontolnya gede lagi, pasti kamu melenguh keenakan!" jawabku nyerocos seenaknya dan rasanya plong hatiku setelah mengatakannya.

"Papah, kok githu sih? papah jahat deh….., Mamah nggak nyangka papah bicara begitu, padahal setiap detik, setiap hari mamah rindu padamu!" ungkapnya dengan nada agak tinggi. Aku terdiam, nggak tahu mau ngomong apa lagi.

"Pah…., kamu masih mau denger mamah nggak?" Rita berkata lagi. "Pah, mamah interlokal nih, jadi mesti menghemat, mamah kan isteri pegawai kecil, mesti ngirit, masih mau dengar nggak?" "Iya, iya, aku masih dengar kok, terus aja ngomong, aku dengerin" kataku sekenanya.

"Papah kok githu sih, papah kelihatannya nggak rindu sama mamah, ya sudah…….mamah tutup tilponnya ya!!!" serunya mulai emosi. Aku masih saja mau menggodanya, rasanya kesal dan cemburuku belum hilang betul. "Silahkan, memangnya siapa yang tilpon duluan?" lanjutku lagi. "Oh, githu ya, kamu memang egois, kamu nggak mau ngerti, mau menang sendiri, kamu selalu mengungkit perkawinanku, padahal semuanya terjadi bukan karena mauku. Kenapa dulu Papah nggak berani mengawini Mamah? Jawabnya karena papah sudah punya anak, isteri dan kedudukan tinggi. Apakah itu bukan egois namanya? Tapi mamah tetap menyintaimu dengan sepenuh hati, apa papah pikir mamah juga nggak cemburu, bertahun-tahun mencintai laki-laki yang sudah jadi suami orang?".Apa mamah harus jadi perawan tua dan hanya selingan kamu?" Terdengar suaranya mulai keras dan terbata-bata, mungkin menahan tangis. "Ya sudah, mamah nggak bakalan tilpon papah lagi, biarlah mamah menanggung rindu dan mencintai papah sampai mati, mamah nggak akan ganggu papah lagi kalau memang sudah tidak dibutuhkan! Tapi kamu mesti ingat pah, bahwa bayi dikandungan mamah adalah anakmu……….., bayi ini adalah darah dagingmu, kamulah yang membentuk dan menjadikan janin anakmu ini…., si Yudi bukan bapaknya yang sesungguhnya, dia nggak tahu bahwa aku sudah mengandung benih anakmu ketika kawin". Rita terdengar menutupi kesedihannya dengan omelan panjang yang memerahkan kupingku. Ah, dasar perempuan, kalau sudah merajuk dan ngamuk, hatiku selalu luluh dengan perasaan cintaku kepadanya, cintaku yang memang sangat mendalam dan tidak bisa terlupakan, apapun yang terjadi dan bagaimanapun status Rita sekarang yang sudah menjadi nyonya Yudi Prayogo. Aku takut Rita segera menutup tilponnya, makanya segera kularang dia.

"Mah, tunggu…., jangan tutup dulu tilponnya, oke…oke…, maafkan Papah, papah juga rindu, papah sayang……,papah selalu mencintaimu, kamu dengar itu sayang???" aku nyerocos tak terkendali, menumpahkan perasaanku yang sesungguhnya.

"Ya sudah, tak apa, mamah selalu memaafkan kamu, sekarang catat nomor tilpon mamah dan mamah tunggu kamu di Bandung segera kalau papah masih sayang mamah, mumpung si Yudi lagi tugas seminggu ke Malang!" perintah Rita. Aku catat nomor tilponnya dan aku berjanji untuk segera datang ke Bandung menemuinya, kasihan Ritaku kesepian dan sangat merindukanku. Aku janji untuk datang hari Jumat sore dengan kereta Parahiangan dan menginap di Hotel Kumala Panghegar. Aku sengaja tidak bawa mobil dan sopirku sebab bisa berabe nanti kalau sopirku tahu aku masih berhubungan dengan Rita.

Pada Jum’at sore aku sudah tiba di setasiun kereta api Bandung dan temanku kepala cabang di Bandung telah siap menjemputku di setasiun. "Gila lu Zen, kau rupanya masih juga berhubungan sama Ritamu itu!" katanya sambil menepuk bahuku, setelah kami bertemu di setasiun. Aku hanya tersenyum saja. Togar Sihombing temanku itu memang satu-satunya sejawatku yang mengetahui hubungan intimku dengan Rita, sejak Rita masih menjadi sekretarisku. "Hati-hati kamu Zen, disini kamu lagi bertamu, nanti ditangkep satpam suaminya tau rasa kau!!!" katanya ngeledek. Karena rahasiaku dan Rita memang sudah ditangannya, aku tak sungkan-sungkan meminta supaya Togar bisa jemput Ritaku dari rumahnya di daerah Pasir Kaliki dan dibawa ke kamar hotelku. Aku suruh dia mengatur segalanya, termasuk keamanan hotel Kumala Penghegar, agar aku bisa tenang dan santai dengan Ritaku semalam suntuk, bahkan kalau bisa sampai minggu pagi.

Kira-kira satu setengah jam aku menunggu di kamar hotel, pintu diketuk dari luar dan waktu kubuka pintu kamarku, ternyata Ritaku sudah berdiri sendirian. Dia tersenyum manis dengan lipstik merah tua tipis, kontras dengan mukanya yang putih mulus. Badannya semakin bersih dan montok, mungkin pengaruh kandungannya yang jalan dua bulan, sehingga buah dadanya terlihat semakin membesar dan pinggulnya semakin bulat berisi. Terlihat perutnya sedikit membesar dan itu semakin membangkitkan gairahku. Kata orang, wanita yang sedang hamil dua atau tiga bulan itu sedang cantik-cantiknya dan akan sangat menggemaskan laki-laki yang melihatnya, apalagi dalam keadaan polos. Kuraih tangannya dan kutarik dia ke kamarku. Setelah mengunci kamar dengan double-locked, kupeluk dan kucium dia dengan penuh kerinduan, Rita membalas hangat. Kuminta air liurnya seperti biasa ketika kami berciuman dan kutelan dalam-dalam ludahnya yang tetap wangi itu. Baru aku sadar untuk menanyakan kawanku Togar, setelah Rita melepaskan ciumanku yang menggebu-gebu sehingga terengah-engah kehabisan napas.

"Kemana si batak itu?" tanyaku. "Dia pulang dulu katanya, setelah mengantar mamah sampai ke pintu kamarmu" jawab Rita. Nauin betul tuh batak satu.

"Kok, papah kelihatan kurusan? katanya lagi sambil memandangiku dari ujung kaki ke ujung rambut.

"Masa? barangkali kurus mikirin kamu. Apa khabar sayang? senang ya hidup di Bandung?" dia merebahkan badannya di pelukanku, sehingga aku terdorong rebah ke ranjang karena Rita semakin berat badannya. "Apa khabarnya suamimu? Kok punya isteri cantik ditinggal-tinggal terus" godaku muncul lagi.

"Ah, sudahlah, nggak usah nanya dia……namanya juga pegawai rendahan, harus mau ditugaskan ke mana saja". Jawab Rita.

"Pah, mamah kangen dan rindu banget deh" katanya lagi sambil berbalik menindih tubuhku. Oh, Ritaku semakin bahenol saja badannya, dan buah dadanya yang semakin montok menekan dadaku.

"Hati-hati dengan perutmu sayang, nanti anak kita kejepit". Rita tak perduli, dia terus merangsek dan menciumi seluruh mukaku dan kupingku sehingga seluruh tubuhku merinding dibuatnya. "Oooohhh….papah, mamah gemes dan rindu deh!" ujarnya sambil menjulurkan lidahnya yang harum ke bibirku, tentu saja kusambut hangat dan segera mengisap lidahnya dalam-dalam sambil ku gigit sayang. Rita melotot manja "Aaachh…sakiiiittt…dong paaaahh!!!". Kukulum lagi lidahnya dan kusedot sambil memejamkan mataku, Rita mulai melenguh bahagia sambil sekali lagi menumpahkan liurnya untuk kuisap dan kutelan dalam. Kubalikkan badannya pelan-pelan karena Rita sedang berisi, dan segera saja kubuka pakaiannya. Rita diam saja dengan mata terpejam. Kulempar satu persatu roknya, blous-nya, blesernya, dan terakhir……..celana dalamnya. Oh, Ritaku semakin montok dan menggairahkan. Pahanya, betisnya yang putih bersih, ditumbuhi bulu-bulu halus, pinggulnya semakin montok berisi dan memeknya dengan bulu-bulu hitam tipis kemerahan semakin menggairahkan. Kujilati badannya mulai dari ujung kaki, naik ke betis, paha dan bermuara di selangkangan dan memeknya. Rita mulai menggeliat-geliat kegelian.

"Paaaaaaaahhh….., ooooooogghhh……mamah rindu jilatanmu seperti ini…oooooooogghhh…." lenguhan Ritaku baru lagi kudengar setelah dua bulan tidak ketemu. "Papah buka pakaiannya dong!!!" kata Rita mulai nggak sabar. Aku segera menanggalkan seluruh pakaian yang melekat dan ketika CD-ku kulepas, kontolku langsung mencuat keluar dengan tegang. Rita tersenyum manja dan langsung menyergap kontolku dengan kuluman mautnya.

"Paaaaahhh…..mamah….rindu kontol iniiii…eeeemmggghh….enaaakkk….paaaaahhh…., kok udah assiiinn?" Mulutnya menyedot-nyedot kontolku sambil mundur maju, aku merasakan kenikmatan luar biasa. Rita mengigit-gigit batang kontolku yang mulai menegang seperti kayu.

"Maaaaaahhh….oooogghhhh…..teruuuuusss….oooggghhhh, tapi jangaaann…oooghhh….keras-keras gigitnya!" aku mulai merem melek keasyikan. Rita semakin kencang mengisap-isap kontolku sambil memejamkan matanya, sementara buah-dadanya berayun-ayun ketika dia menaik turunkan mulutnya sampai batang kontolku masuk semua dimulutnya.

"Paaaaah, udah keluar lendirnya….asiiiiin!" sambil menelan cairan kontolku, dan isapannya semakin menjadi-jadi di kepala kontolku sambil mengisap-isap lendir kontolku."Eeeemmhh…enaaaaak…paaaaahhh". Aku semakin merem melek sambil menggapai buah dadanya, dan ketika tanganku berhasil meraihnya, kuremas-remas buah dadanya yang semakin kenyal dan kupilin putingnya yang kemarahan seperti buah delima mateng.

"Maaaaahhh….ooogghhh…..udaaaaahhh duluuu yaaaaaaang, papah nggak tahaaannn….oooghhh….". Aku menggelinjang kuat ketika isapannya semakin asyik di kepala kontolku. "Sekarang giliran mamah yang tidur". Rita terlentang pasrah, ke dua kakinya kurenggangkan, kuusap-usap perutnya yang mulai kelihatan sedikit buncit mengandung anakku. Kubenamkan mukaku di selangkangannya sambil kujilat ke dua selangkangannya dan dengan cepat kujilat pula lobang duburnya. Rita selalu nggak tahan kalau kujilat lobang pantatnya. Dia menggelinjang kegelian sambil merintih. "Aduuuuuuhhh, papah jahaaaat!!!" Kumainkan itilnya dan lobang memeknya dengan lidahku dan kukeluarkan ludahku membasahinya sehingga terasa semakin enak ketika kuisap cairan memeknya yang sudah mulai keluar bercampur ludahku. Asin, manis dan gurih. Kutelan dalam-dalam. Rita mulai menaik-turunkan pinggulnya kegelian.

"Paaaaaaahhh, eeeeemmggghhh…….ooogghh…, teruuuuuusss…paaaaaahhh, lidahnya kaya kontoooooolll". Dia terus melenguh seperti biasanya, dan lenguhannya ini yang tak bisa kulupakan. Lidahku yang tegang semakin kujulurkan kedalam lobang memeknya, kumainkan itilnya dengan lidah digetarkan, Rita menggelinjang hebat. Rongga-rongka memeknya kulumat dan kujelajahi dengan lidahku, sementara bibirku melumat kelentitnya yang memerah.

"Oooooooooghhhh…..papaaaaaahhh……nikmaaaaaaat….teruuuuuusss paaaaaaaaahhh!!!. Rita menaik-turunkan pantatnya semakin tinggi, sehingga lidahku seperti kontol menancap dalam di memeknya. "Aduuuuuuhhh…..paaaaaaaahhh…oooooooogghhh…….paaaaaaahh…, mamaaaaaahhh…..oooooooggghhhh…enaaaaaaakkk!!!"mulai deh Rita melenguh panjang. "Paaah,hayo naik deh, mamah udah nggak tahan, masukin cepet kontolnya sayaaaang!" Rita semakin melebarkan selangkangannya dan menggapai badanku. Aku bangun dan menidurinya dengan hati-hati karena sekarang Rita sedang berbadan dua. Kontolku sudah keras seperti batu dan mengangguk-ngangguk gagah mencari mangsa. Kontolpun tahu bahwa kesukaannya ada di depannya, memek Rita memang sudah tak asing lagi buat kontolku sehingga begitu bersentuhan saja langsung mengeras bukan main. Seperti batu!!! Dan Rita memang nggak bakal lupa dengan keperkasaan kontolku yang mulai dikenalnya sejak dia perawan, untuk pertama kali menikmati kontol lelaki.

Kugesekan kontolku di pahanya, Rita kegelian….., dan memberikan kode supaya langsung ditancapkan ke memeknya yang sudah menganga, basah, hangat dan mulai nyedot-nyedot mencari mangsa. Kubenamkan kepala kontolku sedikit demi sedikit, oh…hangatnya memek Rita…, dan memeknya mulai bereaksi menyedot-nyedot, empot-ayamnya mulai main. Kutarik lagi kontolku, hingga pinggul Rita ikut naik karena sudah tidak sabar ingin melumat kontolku. Kubenamkan lagi batang kontolku perlahan, Rita menaikan pinggulnya keatas, sehingga batang kontolku setengah ditelan memeknya. Pinggulnya diputar-putarkan sambil mengeluarkan jurus "empot-ayamnya".

"Oooooooogggghhh, mamaaaaahhhh……..uuughhhgghhh…nikmaaaaaaaaattt…aduuuuhhh". Desahanku membuat Rita semakin semangat menaik-turunkan pinggulnya, hingga batang kontolku semakin amblas ditelan nonoknya yang tetap saja sempit.

"Paaaaaaaahhh……tekaaaaannnn….paaaaaahhh….mamaaaaahh…ooogghhhhhhhhh……nikmaaaaaaattt….sekaliiii". Pinggul Rita dan badannya semakin bahenol dan sexy, perutnya yang sedikit membesar membuat nafsuku semakin menjadi-jadi. Kuganjal pantatnya dengan bantal dan aku setengah duduk dengan bertumpu pada dengkul menggenjot kontolku keluar masuk memek Rita yang semakin naik ditopang bantal sehingga seluruh rongga memeknya terlihat jelas. "Bleeeeeesss….creeeeekkkk….bleeeeeees….creeeeeeekkk…., gesekan dasyat kontol dan memeknya yang empot ayam semakin rame saja. Daging memeknya terlihat seperti terbawa ketika kucabut batang kontolku saking sempitnya. Dan "empot-ayam"nya dikeluarkan kalau ngentot dengan aku saja katanya, sedangkan dengan suaminya tetap seperti layaknya "gedebong pisang". "Paaaaaaaaaah…, aduuuuuuuhhhh…, paaaaaahhh..,kontoooooolnyaaaaa…oooooghhh….mamaaaahhh…ngaak tahaaaaaan…paaaaaaahh!!!" Rita seperti nggak ingat sedang hamil, badannya bergetar, pinggulnya naik turun dengan cepatnya, miring ke kiri dan ke kanan merasakan kenikmatan kontolku yang perkasa. "Paaaaaaahhh…….oooooghhh…..eemmmghhh…oooooozzzhhh…aaaaaauuuggghhhhhh….eeeeeemmhhhh…teruuuuzzsshhh….tusuuuuuuuuukkk……..paaaaaaaahhhgghhhhh….." lenguhan itu yang sangat kudambakan. Aku seperti lelaki yang sangat dibutuhkan Ritaku…..tidak ada lelaki lain yang bisa memuaskannya lahir batin. Aku semakin gila menyodokan kontolku keluar masuk memek Rita, kuangkat kaki kirinya keatas dan kutenggelamkan seluruh batang kontolku sampai terasa mentok di ujung lobang nonoknya. "Oooooooogghhh…papaaaaaaaaahhhh…..uuughhzz….papaaaaaaaaaaahhhh……nikmaaaaaaaaatttt…..oooghhhh….teruuuuuuussss..aduuuuuuuhhh…..teruuuussssss, mamaaahhh…mooooo….keluaaaaaarr!!!" Rita berteriak-teriak keras sekali sambil seluruh badannya bergetar dan bergoyang…keringat kami bercucuran seperti habis mandi membasahi sprei. "Paaaaahhh, kenapa dicabut???!" Rita mendelik waktu kontolku mendadak dicabut dari lobang nonoknya. Rita tersenyum lagi ketika aku minta dia nungging, supaya kami bisa ngentot dengan "doggy style". Wow, pinggulnya yang putih mulus semakin berisi dan bahenol saja menambah nafsuku semakin menjadi, ketika Rita nungging. Kuisap dan kujilat lendir memeknya dari belakang, sekalian lobang pantatnya, Rita melenguh panjang. Dia memang paling geli kalau dijilat lobang pantatnya "Papaaaaaaahhh….aduuuhhhh…..mamaaaaahhh, nggak tahaaaan dooooongg…………..Cepat masukin kontolnyaaaa!" teriak Rita sambil menunggingkan pantatnya, sehingga terlihat nonoknya yang merah jambu dan sedikit basah itu. Kontolku yang lagi tegang-tegangnya kuarahkan ke lobang nonoknya seperti mengarahkan meriam "Si Jagur" siap menembak tank-tank belanda. Dan….."bleeeeeeeeeessssszzzhhh….." kontolku menyeruak ke dalam "gua kenikmatan dunia" Ritaku. Rita kembali melenguh panjang. "Paaaaaaaaahhh…….oooooooooggghhh…….., teruuuuss kocoooooookkk sayaaaaaaaaang!!!" Aku mulai menarik dan membenamkan batang kontolku keluar masuk lobang nonoknya yang terasa semakin sempit dan menyedot-nyedot kalau ngentot dengan "doggy style" kesukaan kami berdua. "Ooooooggghhh…..maaaaaaahhh, papah enaaaaakkk…..ooooooggghh….hhhzzz….aaaaahzzzzoooogghhh….duuuuh………….maaaaaaaaahhh……… aaaa…..duuuuuuhhh…….gilaaaaa….yaaaaaanggg, teruuuuuussss….goyaaaaaaang..cakeeeeep……!!!" Rita memundur-majukan pantat dan pinggulnya semakin cepat hingga bed kamar hotelku berderit-derit bunyinya. Keringat kami jatuh bercucuran. Nikmat sekali rasanya ngentot dengan kekasihku tersayang ini. Jiwa raga kami rasanya bersatu-padu.

"Aduuuuuuuhhh….papaaaahhhh….oooooggghhh……enaaaaakkk…paaaaaaaaahhh, teruuusss paaahh genjot…..teruuuuuuuss……..aaaaaaaahhh……..lebih kenceng…oooggghhh….aaaahhzzzzhhh…ddduuuhhhh" badan Rita berguncang-guncang keras, goyangan pinggul dan pantatnya tambah menggila dan lobang nonoknya seakan mau melumat habis dan mematahkan batang kontolku. Air maniku rasanya sudah mengumpul dikepala kontolku, siap disemprotkan kapan saja kalau mau, tapi aku mau agar Ritaku dulu yang klimaks supaya dia puas. Belum tentu kami bisa ketemu seminggu sekali, padahal dia pernah bilang bahwa kalau kami bisa kawin mungkin bisa ngentot setiap malam, karena kontolku terasa enak sekali rasanya….katanya suatu hari sambil melumat lendirku yang keluar dimulutnya, dan Rita nggak geli menelan semua air maniku.

Paaaaahhh…….mamaaaaahhh……oooooggghhh….paaahhh…. aaaaduuuuhhh…oooggzz….giiilllaaaa….aaaaahhh..oooogghh…mamaaahh……….ooghh……maaaauuuuu keluaaaaarrr!!!. "Tungguu sayaaangg…..mamaah berbalik dulu terlentang lagi" perintahku, kami sudah hampir mencapai orgasme. Kucabut kontolku, Rita kemudian terlentang dengan ke dua kaki dibuka lebar. Nonok dan lobang pantatnya kubersihkan dulu dengan jilatan lidahku penuh nafsu. Kutelan habis cairan nonoknya yang asin, wangi dan gurih itu. Dia menggelinjang sambil bergumam "Aduuuuhhh, ooogghhh, papah jahaaaaat!!!" sambil tersenyum manja dan mata merem-melek."Cepetan masukin lagi kontolnya paaahhh…mamah udah nggak tahan nih!". Aku segera menaiki tubuhnya dengan hati-hati takut kandungannya tertekan dan anakku kesakitan. Kuarahkan lagi batang kontolku yang sudah merah legam seperti batu dibakar untuk siap bertempur sampai titik darah putihku terakhir, demi untuk Ritaku tersayang. Dan…."Bleeeeezzzhhhhh" dan Rita melenguh panjang sekali…………"Oooooogghhh…paaaaahhh…..kocooooookkkhh…yaaaaangghhhzz..". Kutarik cepat kontolku sampai kepalanya nongol ke permukaan nonoknya…..dan seketika itu juga kubenamkan habis batang kontolku ke lobang nonoknya sampai terasa mentok. Rita melenguh panjang. "Ooooggghhh…paaaaaaaaaahhhh…..aduuuuuuhhhhhh…..gilaaaaaaa…nikmaaaaaaatttt". Kucabut lagi batang kontolku tiba-tiba dan kubenamkan lagi kuat-kuat ke dalam nonoknya, dengan style agak miring, terkadang dari lobang sebelah kanan, terkadang masuk dari lobang sebelah kirinya, membuat Rita terbuai kenikmatan luar biasa. "Ooooooooowww…..oooogghhh…aaahhh…papaaahhh….enaaaaakkhhh……duuuuhhh….ampuuuuunnn….duuuuhhhh….oooghhhz….paaaaaaahhhzzz!!!" teriakannya melengking-lengking, seperti nggak perduli kalau ada yang dengar. Aku semakin bernafsu, keringatku bercucuran, kontolku terasa semakin tegang dan mau meledak dan terasa panas sekali seperti gunung mau memuntahkan laharnya. "Maaaaaaahhhhh……..ooooghhhhzz….maaaahhh… nonoooooknya gilaaaaa……empot….ayaaaaaammm….!!!"

Goyaaaaanggg teruuuuusss….ooogghhhh….yuuuu bareeeeeng keluariiiiiiin maaaaaaahhggzz!!!

Kami semakin menggila saja, aku menusukkan batang kontolku dan mencabutnya setiap "setengah detik" sekali, dan goyangan pantat dan pinggul Rita semakin menjadi-jadi. Tempat tidur semakin ramai berderit-derit, keringat kami bercucuran seperti mandi sambil ngentot, atau ngentot sambil mandi, bercampur menjadi satu menambah kenikmatan dan rasa menyatu yang bukan main indahnya. Rita semakin menggila, mengelepar-gelepar keasyikan, matanya merem-melek. Kucium dan kulumat seluruh wajahnya, bibirnya, jidatnya, ludahnya kusedot dalam-dalam. Rita menggigit lidahku keras sekali sampai aku menjerit kesakitan. Itu tandanya Ritaku mau ejakulasi dan klimaks. Kukuatkan agar cairan air syorgaku nggak muncrat dulu sampai Ritaku mencapai klimaksnya. Tiba-tiba…….."Paaaaaaaaaaahhhh….ooooggggghhhh….aduuuuuuhhh….mamaah keeeluuuaaaaaaaaarrrrr……ooooghhhhh….aduuuuuuhhh……gilaaaaaaaa…..oooooowwwhhhzzz……aaaaaaaahhhhh………papaaaaaaaaaahhhhhh..uuughh…uuughhh…uuugghhh" dia sekali lagi menggigit lidahku sampai berdarah barangkali, sambil mencubit keras pahaku, itu memang kebiasaannya kalau meregang menahan klimaks luar biasa. Aku tak perduli apapun yang dilakukan Ritaku demi kepuasan kekasihku ini. Aku terus menggenjotkan kontolku semakin gila dan rasanya sudah nggak tahan lagi menahan pejuhku muncrat di nonoknya yang kusayangi. Rita udah kepayahan rupanya, katanya memeknya terasa ngilu kalau dia keluar duluan dan aku masih semangat menggenjotkan kontolku keluar masuk memeknya. "Cepeeet dooong yaaaaang….aaach…mamaaah capeeeee" katanya ……dan akhirnya……."Ooooooogghhh…..maaaaaahhhh…….. papah jugaaaa keluaaaaaaarrrr…..ooooooghhhhh……..oooooooghhhh….oooooooghhhh……..mamaaaaaaaaaaahhhhhhhhh….aduuuuuuuuuuhhh ….eeeemmmhhhhzzz!!!. Kami sama-sama meregang, mengejang, mendelik, menggelepar, seakan jiwa raga kami terbang ke angkasa luas nan indah, ke alam syurgawi dunia fana…………entah sampai kapan kami akan memagut cinta, tapi rasanya memang sulit berpisah. Kupeluk dan kucium Ritaku yang terkulai puas dengan senyuman tersungging di bibirnya yang merah muda tanpa gincu. Ku lumat lagi bibirnya habis-habisan, dia melenguh manja dengan mata tertutup letih tanda puas yang luar biasa. "Paaaaaaahhh, mamah cinta…..jangan tinggalin mamah ya sayaaaaaang!!!. Aku mengangguk saja karena aku pun sangat mencintainya. Kemudian Rita dan aku rupanya tertidur pulas dalam keadaan berpelukan mesra dan bugil dan kontolku masih sedikit menancap dinonoknya. Kulihat jam tanganku sudah menunjukan jam dua pagi. Hawa dingin kota Bandung dan ketika aku tersadar bahwa kekasihku masih tergolek mesra dipelukanku dengan telanjang bulat, nafsuku mulai bangkit kembali dan kontolku sedikit demi sedikit mulai menegang dan keras kembali. Kubangunkan Ritaku, dia terbangun……kami sama-sama berciuman kembali walaupun belum gosok gigi. Tapi cinta mengalahkan segalanya, semuanya terasa indah dan harum wangi. Rita juga kemudian terangsang kembali dan kami ngentot lagi habis-habisan sampai jam empat pagi sampai seluruh badan terasa lemas dan lunglai. Nggak apa, kami makan apa saja yang membuat tubuh segar kembali dengan memesan ke Room Service. Hari Sabtu pagi sampai siang hari kami terus tidur berpelukan mesra, pintu kamar terus berstatus "DO NOT DISTURB" sebab ada dua sejoli yang sedang memagut kasih, dan sampai minggu pagi kami terus bercinta dan ngentot tak bosan-bosannya sampai tujuh kali. Minggu siang sekitar jam 12.00 Togar datang sesuai janji untuk mengantarkan Rita pulang, sambil mendrop aku disetasiun kereta api. Oh, setianya Batak satu ini, benar-benar kawan sejati dia. Dia cuma cengir-cengir penuh arti ketika bersalaman di setasiun dan berpisah denganku. Dari mobil Rita melambaikan tangan dan menempelkannya di bibirnya. "Hati-hati kau bawa dia kawan, dia sedang mengandung anakku, cari jalan yang mulus!!!" perintahku pada Togar. "Siap boss, akan kulaksanakan perintahmu!!!" katanya tegas. Batak ini memang tegas dan kasar, tapi hatinya sangat lembut dan baik. Sekali lagi aku berpelukan dengan Togar, sebelum kijangnya yang membawa Rita hilang dari pandanganku.

Aku berjanji pada Rita untuk sesering mungkin datang ke Bandung, tak perduli apakah si Yudi keluar kota atau tidak sebab cinta kami begitu indah.


Visits: 33487
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 20926   Help/FAQ   Terms   Imprint