DIARY (4): PERSIMPANGAN BARU
"Kriiiingggg, kriiiinngggg…..," suara telepon itu bertalu memekakkan telinga. Setelan volumenya maksimal, hingga deringnya mencapai setiap sudut rumah yang berhalaman cukup besar itu. Deringnya masih terdengar beberapa kali dan baru berhenti ketika sebuah tangan mengangkatnya.
"Hallo,"
"Hallo…, Ma, ini aku. Kamu sedang apa, kok angkatnya lama?"
"Hmm, gak ngapa-ngapain kok. Aku ketiduran saja tadi ketika menidurkan Randu."
"Oh ya sudah. Hampir saja aku tutup tadi, aku pikir tidak ada yang di rumah," jawab suara laki-laki dari ujung sebelah sana.
Diam.
"Ma,"
"Ya?"
"Aku dapat pekerjaan di sini."
"Eh, …..syukurlah,…… aku ikut senang."
Kaku.
"Ma,…aku…," suara itu ragu, "aku ingin kau segera menyusulku ke sini. Ada pekerjaan juga menunggumu di sini. Kita hidup di sini saja, Ma. Jauh dari segala macam keruwetan."
Sebuah ajakan. Tak terjawab. Belum. Setidaknya sampai beberapa hari kemudian.
*****
"Jadi kau memutuskan untuk ke Jakarta?"
Lang mengangguk, mengiyakan pertanyaan Abi. Mereka membahasnya di Ruang Rekaman Dua, sembari menggarap sebuah partitur yang akan dipentaskan laki-laki itu bulan depan. Abi memang akan menyelenggarakan sebuah pementasan spektakuler yang akan memakan waktu nonstop selama tiga hari berturut-turut. Di mana hanya seorang Abi yang berada di atas panggung. Ia akan menggeber semua karya yang dibuatnya dua tahun terakhir ini. Karya yang menurutnya terbaik sepanjang karirnya.
"Kuliahmu?"
"Hhh, itu yang aku belum tahu. Mungkin aku akan ambil cuti dulu, dua semester. Bagaimana menurutmu?"
"Aku tidak bisa memberikan pertimbangan apa-apa Lang. Yang tahu persis situasinya adalah kamu. Apakah Denni serius mengajakmu ke sana? Dia….. akan kembali…kepadamu?"
Kembali Lang mengangguk. Bohong!! Hatinya tak seyakin anggukannya. Tapi rasanya ia tahu hal itu yang harus dilakukannya. Ia harus kembali ke jalurnya semula. Harus.
"Aku hanya punya waktu membantumu menyelesaikan proyek ini sampai lusa depan, besoknya aku harus berangkat."
Kilatan kaget terlihat di mata Abi yang sedang menatap Lang
"Secepat itu?"
Lang hanya bisa mengangguk. Ia tak ingin menjawab apapun. Ia ingin mengatakan tidak, agar tetap bisa berdekatan dengan laki-laki ini, tapi ia tahu, ini bukan tempatnya. Tempatnya nun jauh berjarak 500 km lebih di barat sana. Tempat yang jauh dari kepastian, dan penuh tanda tanya. Tapi, ia harus berangkat. Ia harus menyusul suaminya.
Semalam ia menemukan jawaban itu, ketika tiba-tiba Randu, dalam tidurnya mengigau memanggil ayahnya. Igauan yang diiringi senyum bocah yang masih polos. Yah, Randu membutuhkan Denni. Randu bahagia berdekatan dengan ayahnya. Ia, ibunya, tak berhak menjauhkan anak itu dari garis keturunannya.
Lantas aku?
Apakah aku akan bisa kembali menjalankan hidupku di samping Denni, setelah kejadian itu? Pikiran itu membersit di benak Lang, tapi kemudian dia mengendapkannya dalam sebuah pemahaman, mungkin, inilah jalan yang dipilihkan Tuhan untuknya: Kembali ke sisi Denni, demi anaknya.
"Lang..,"
Panggilan Abi menyadarkan Lang dari lamunan. Ditatapnya wajah laki-laki di depannya. Wajah yang dua bulan ini berkilas dalam pelupuk matanya ketika terpejam, berkelebatan dalam kesehariannya, memberikan sejenak rasa hangat di hatinya. Kini wajah itu terlihat sedikit pucat. Lang lemah menundukkan kepalanya lagi, tak tahan melihat gurat kekecewaan di wajah itu. Maafkan aku kekasihku, jerit hatinya.
Demam tubuh Lang, membayangkan ia akan berjauhan dari Abi. Baginya laki-laki itu adalah nyala pelita baru dalam hidupnya yang selama ini tak berpengharapan. Dan kini, ia harus meninggalkannya. Ia tak boleh egois memikirkan kesenangannya sendiri. Masih ada anaknya yang belum bisa mengungkapkan keinginannya. Dan ia harus bersabar untuk itu.
Lamunan Lang melayang tak berketentuan, sampai suatu ketika dirasakannya sebuah sentuhan di tangannya. Abi telah memegang kedua tangannya, menggenggamnya erat sambil menatap matanya yang kini juga menatap laki-laki itu.
"Kau akan datang ke pementasanku bulan depan?"
Mata mereka saling menatap. Sebuah anggukan akhirnya menjadi pilihan.
*****
Jakarta,
Akhirnya datang juga aku kepadamu
Mereguk kehidupanmu
Mengais setiap mimpi
Mengisi hari-hari
Di tempat kerjanya yang baru, prestasi Lang cepat melonjak setahun terakhir. Ia seolah menemukan tempat untuk mengaktualisasikan dirinya di Stasiun TV Swasta itu. Sejak masuk pertama kali, dia tahu kepenyiaran televisi, profesi yang ditawarkan padanya sejak awal mula, tak begitu disukainya. Berbeda dengan penyiar radio, di mana hanya suaranya saja yang didengar khalayak, maka profesi penyiar televisi menuntut ia tampil prima setiap saat. Musti dandan, dan rapi berpakaian sebagai seorang public figure. Muka yang harus selalu senyum, dan potensi menjadi sorotan khalayak. Tidak. Ia tidak suka.
Yang lebih tidak membuatnya nyaman adalah kehadiran Denni setiap saat di sekitarnya. Suaminya itu juga bekerja di stasiun tv yang sama, di divisi yang selalu berkait dengan dirinya. Bukan masalah sebenarnya jika rekan kerja mereka bisa memisahkan hubungan kekeluargaan itu secara profesional. Tapi yang sering terjadi adalah sebaliknya. Ketika Denni melakukan kesalahan, selalu Lang menjadi sasaran komplain mereka. Dan kacaunya, dari waktu ke waktu, Denni semakin menunjukkan ketidakmampuannya.
"Sebaiknya kita pulang saja ke Jogya," kata Denni.
"Apa maksudmu? Bukankah kau yang mengajakku menjauhi keruwetan di sana, kenapa sekarang kau berubah pikiran?" tanya Lang tak habis mengerti, "Hanya gara-gara kau tak mampu, kau akan lari dari tanggungjawabmu?"
"Denni, carilah pekerjaan lain, tapi tak perlu kita kembali ke sana. Kau lihat, aku sudah menurut, menyusulmu ke Jakarta. Carilah pekerjaan lain di sini."
Diam.
"Kau akan bekerja di mana jika kembali ke sana?"
Tak ada jawaban. Penyakit lama yang tak kunjung sembuh juga. Membara hati perempuan ini. Benar-benar tidak bertanggungjawab. Sangat salah kalau Denni mengira bisa mengajaknya ke sana-sini tanpa perhitungan yang jelas.
"Tidak! Aku tidak akan kembali ke Jogya. Kau boleh lari kemanapun kau mau, tapi aku tidak ingin meninggalkan kota ini, penghidupanku di sini. Karena aku yakin, di Jogya pun kau tak akan melakukan apa-apa."
Tak ada tanggapan.
Final. Akhirnya Denni balik lagi ke kota asalnya. Dia berkeras membawa Randu. Kehidupan di kota kecil itu lebih kondusif untuk membesarkan anak dibandingkan di Jakarta, katanya. Padahal, Lang tahu persis, Denni sengaja menjadikan anak itu sebagai senjata pamungkasnya agar ia mau mengikuti suaminya itu. Selalu kembali kepadanya karena anaknya ada di tangannya. Tapi tidak, dalam bendungan amarahnya, Lang membiarkan itu terjadi. Biarlah, ia harus kuat berpisah dengan anaknya. Di sisi lain Lang juga ingin melihat seberapa besar tanggungjawab Denni membesarkan Randu. Apa benar ia akan membesarkan Randu dengan baik.
Teori.
Pada akhirnya Lang juga yang mensuplai kebutuhan hidup mereka. Denni tak juga segera bekerja. Pola lakunya tak juga berubah, kongkow setiap malam dengan teman-teman di kampungnya. Siang tidur. Kalaupun dulu kehidupannya tertolong karena ada pekerjaan tetap yang harus ditekuninya, maka kini suaminya memilih menjadi sopir taksi pengganti, yang bisa masuk sesuka hati. Padahal lebih banyak ia memilih gaul dengan komunitasnya yang tidak produktif.
Lang mulai terbiasa dengan hal itu. Setiap bulan ia kembali ke Jogya, menengok Randu. Dipekerjakannya seorang pembantu untuk merawat anak itu. Dan ia secara teratur memenuhi kebutuhan anak dan keluarganya itu.
Ia juga tetap melayani suaminya seperti biasa. Dua hari dalam sebulan mereka berlaku seperti layaknya suami istri. Hanya di tempat tidur. Itu berarti hanya dua kali persetubuhan, yang seperti biasa, tidak menggelora. Selebihnya, mereka, terutama Lang, berjalan di porosnya sendiri-sendiri. Lang merasa semakin jauh dari kehidupan perkawinannya.
Lang memilih hidup sendiri di Jakarta.
Ia menyurutkan langkah dari kepenyiaran, dipilihnya liputan, dunia jurnalistik yang menantang dengan seribu satu tuntutan cara mengejar nara sumber. Otaknya jadi terasah, sibuk, tak memberi kesempatan kepadanya untuk melamun sepicing pun. Tak ada lagi waktu untuk memikirkan ketidakberesan perkawinannya. Dan ia menemukan bakat dan rasa ingin tahunya yang besar itu menemukan salurannya.
*****
Setahun berselang….
Tak ada perubahan pada diri Lang dan kehidupannya. Hanya saja, enam bulan terakhir ini ia kembali menghubungi Abi dan Indi. Setiap bulan ketika pulang, ia menyisakan sehari agar bisa berkumpul dengan pasangan itu. Atau jika keduanya ke Jakarta, pastilah mereka berjumpa dan menyisihkan waktu mereguk petualangan bertiga.
Ada yang diserap Lang dari mereka. Ia seolah memperoleh kekuatan baru untuk meneruskan kehidupan perkawinannya. Dan ia menjadi terbiasa menjalani kehidupannya yang tidak rasional. Sampai suatu ketika sebuah pengalaman, tepatnya rentetan pengalaman membawanya pada sebuah persimpangan baru.
Lang,
Senin depan aku akan ke kotamu. Abi mungkin akan menyusul sehari kemudian. Ia akan mengikuti simposium di Taman Ismail Marzuki. Kau booking kan kamar hotel buat kami, kay?
Kamu baik-baik saja kan? Sampai nanti.
salam manis,
Indi
Sebuah surat biasa. Seperti layaknya jika mereka akan datang menjenguknya di kota ini. Tapi ada yang tidak biasa pada diri Lang. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada mereka berdua. Sesuatu yang membahagiakannya, yang baru diketahuinya hari ini. Dan ia ingin berbagi dengan mereka berdua. Meski terus terang, ia tak berani memikirkan reaksi mereka.
*****
"Huahh, capek banget aku," kata perempuan bertubuh tinggi langsing itu sambil meghempaskan tubuhnya di ranjang.
Lang tersenyum menatapnya.
"Memang kamu habis ngapain saja sih. Sampai segitunya?"
"Gila aja Lang, dua hari ini aku nyaris nggak tidur. Biasa, ngurusi sesembarang tetek-bengek kebutuhan Abi kalau mau pentas."
"Pentas? Bukankah katamu dia hanya akan mengikuti simposium besok itu?"
"Lebih dari itu. Dia harus presentasi di depan seniman yang lain karena ia dicalonkan untuk menerima funding sebuah proyek. Jadi ia minta aku kesini dulu untuk rehearsal segala macam kebutuhannya di TIM, besok itu."
"Oh gitu. Lantas kenapa dia nggak sekalian berangkat saja bareng kamu?"
"Hmm, malam ini dia musti meeting dulu dengan direktur Lembaga Indonesia Perancis, jadi baru bisa besok pagi bertolak dari sana. Sepertinya LIP tertarik mensponsori dia untuk kolaborasi bersama seorang pemusik Perancis."
Lang hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Indi. Ia senang akhirnya banyak pihak mengakui eksistensi Abi.
"Dan……, aku sengaja datang duluan karena …karena kau.…," Indi tak meneruskan kata-katanya. Dia hanya beranjak dari ranjang itu. Didekatinya Lang yang duduk di kursi dekat minibar yang terletak di pojok kamar. Ditariknya Lang hingga berdiri, dan digandengnya perempuan itu ke ranjang.
Lang tak tahu apa maksud Indi mengajaknya ke ranjang. Tidak biasanya perempuan itu bersikap aneh seperti ini. Memandangnya seolah tak pernah bertemu, penuh dengan pengharapan. Lang baru mafhum akan kemauan Indi setelah secara perlahan perempuan itu membuka kancing kemeja yang dipakainya. Lang memang akhir-akhir ini lebih suka memakai baju kasual, jeans dan kemeja, karena memberikan kenyamanan saat ia bekerja. Praktis. Kini kemejanya telah terlolosi. Rabaan tangan Indi menggerayangi punggungnya, melepas kaitan bra yang dikenakannya. Perempuan itu melempar bra hitam itu ke pojok ranjang, dan perlahan jemari lentiknya menyentuh buah dada Lang yang mulus. Dan tanpa ia dapat mengendalikan diri, Indi mulai menciumi wajah Lang, dari kening, ke pipi, dan akhirnya bibirnya menyentuh bibir perempuan itu.
Indi sesekali mengamati ekspresi Lang. Ia ingin tahu bagaimana reaksinya ketika tangannya menjamah tubuhnya. Ia tak dapat menahan diri tadi, ketika melihat perempuan itu semakin hari semakin matang dan mandiri. Sejak lama Indi menginginkan pergulatan berdua semacam ini. Ia tahu, Abi dan Lang sering melakukannya tanpa kehadirannya. Ia ikhlas, ia rela. Hanya saja, entah kenapa fantasinya meliar. Ia ingin sesekali bercinta dengan Lang tanpa kehadiran Abi. Dan kesempatan itu terbuka saat ini. Biasanya ia selalu datang berbarengan dengan suaminya itu, tapi kini, ia ada disini. Hanya berdua, dengan Lang. Dan Indi tak dapat menahan rasa bahagianya, karena fantasinya akan menjadi kenyataan. Ingin direguknya semuanya sampai tetes terakhir.
Seolah mabuk, Lang membalas perlakuan itu. Ia lucuti pakaian Indi. Dan mereka bergelut dalam kelembutan tiada tara. Butir-butir keringat membasahi tubuh mereka bercampur basahan lidah, menjilat satu sama lain. Ia biarkan bibirnya diciumi Indi. Ia biarkan perempuan itu menguasainya. Sampai ketika ia hampir pada pencapaiannya, tiba-tiba otaknya bak terguyur air dingin. Di tengah kenikmatannya itu ia hampir menyebut nama Abi. Padahal, bukankah ia sekarang sedang bergelut dengan Indi?
Perlahan kesadaran Lang mengemuka, birahinya mendingin. Ini bukan hubungan yang ia inginkan. Ini bukan kodratnya. Lang merasa bersalah kepada Abi ketika tubuhnya tersentuh tangan Indi. Tapi, tak ada lagi titik balik. Ia tak boleh memperlihatkan perasaannya ini kepada Indi. Akan jadi sebuah bencana kalau perempuan itu tahu ia 'menolak' sentuhannya. Dan ia bisa meradang dan menutup semua lini hubungan Lang dengan Abi.
Selanjutnya yang dilakukan Lang adalah berpura-pura. Ia kini mengambil kendali, segera ingin diselesaikannya memuasi Indi. Ia yakin sentuhannya akan membuat istri Abi itu mencapai puncak orgasmenya. Dan mulailah Lang merangsang setiap titik intim perempuan itu. Sampai akhirnya, sebuah lenguhan panjang dan regangan tubuh Indi mengindikasikan pencapaiannya.
Waktu terhenti.
Lang menemukan kenyataan baru. Dirinya kembali berlaku irrasional. Ada perasaan memberontak terhadap kejadian yang berlalu baru saja. Anehnya, pemberontakan itu membahagiakannya. Ia jadi tahu dirinya normal adanya. Kalaupun selama ini ia mengijinkan sebuah petualangan yang berbeda, maka ia jadi memahami bahwa dirinya melakukan itu semua demi cinta Abi.
*****
Simposium itu berlangsung dengan sukses. Pementasan Abi singkat saja, tapi mengundang decak kagum koleganya. Apalagi ketika kemudian ia menjelaskan konsep bermusiknya, membuat yang lain sepakat bahwa dia memang layak mendapatkan pembiayaan untuk programnya.
Lang sengaja duduk di kursi paling belakang selama acara itu berlangsung. Seperti biasa ia mencoba tak menonjolkan diri di komunitas ini. Biarlah. Ia lebih baik menjaga perasaan Indi dengan cara membiarkan perempuan itu berada di samping Abi dalam setiap penampakan publiknya. Toh, memang itu haknya. Dan Lang tak ingin merebut apapun dari Indi. Jadi, ia memilih menjadi bukan apa-apa. Seperti saat itu.
"Hoii, ngelamun apa lagi sih," sebuah sentuhan lembut di bahunya menyadarkan Lang. Ditengoknya siapa yang berdiri di sampingnya itu. Abi. Indi juga. Lang tersenyum melihat mereka.
"Kalian sudah selesai?" Mereka menganggukkan kepala.
"Aku ingin bicara dengan kalian,"
"Ah, tentang apa, kok misterius banget kesannya?"
"Hm, sesuatu yang penting untukku, tapi barangkali tidak penting untuk kalian. Aku tidak tahu."
"Bagaimana kalau kita bicara nanti setelah berada di kamar saja?" Indi menawarkan sebuah kemungkinan. Mereka sepakat.
Lang seolah kehilangan kemampuan bicaranya. Masalah yang dihadapinya cukup pelik, meski dia sudah tahu ini bakal terjadi, dan ia siap menghadapinya. Tapi untuk mengatakan kepada pasangan yang kini duduk di depannya, ia habis keberanian.
"Ayolah kau mau bicara apa sih?" dorong Indi agar ia segera angkat suara. Mereak duduk berjajar di pinggir ranjang. Sementara dilihatnya Abi duduk menyandar di meja rias yang terletak mepet di dinding. Ia bersedekap sambil menatap Lang. Laki-laki itu seolah tahu apa yang akan dibicarakannya. Dan hal itu memberikan kekuatan kepada Lang.
"Aku….aku….aku hamil."
Wajah-wajah menegang. Senyap. Tak ada suara. Lang melihat Indi begitu shock, menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Abi juga masih lekat menatap mata Lang yang kini sama sekali tak dapat menterjemahkan artinya. Mereka memang tak pernah membicarakan akibat paling logis dari hubungan itu. Mereka tidak pernah menggunakan pengaman apapun. Dan kini ketika buah perbuatan itu menjelma, seolah berubah menjadi petir di siang hari bolong.
Lang tersenyum mafhum melihat reaksi keduanya. Meski tak bisa memastikan, ia sudah bisa menduga sebelumnya.
"Kalian tak perlu panik, aku tak minta tanggungjawab apapun. Hanya, jangan minta aku melakukan hal bodoh," ujar Lang, "aku akan memelihara kandungan ini dengan seijin kalian. Aku menginginkannya."
"Tapi tak bisa sesederhana itu Lang, bagaimana dengan Denni?" tanya Abi.
"Aku akan mengatasinya. Ia tak perlu tahu siapa bapak dari janin yang aku kandung ini. Biarkan ia mengira dirinyalah bapak si jabang."
"Tapi…..,"
"Sudahlah. Aku hanya ingin memberitahukan hal itu kepada kalian. Barangkali aku memang gila, tapi aku tulus menginginkan anak ini."
Tiba-tiba ruangan itu terasa sumpek. Lang dapat merasakan kegetiran dan kekikukan yang terjadi akibat fakta yang baru saja diungkapkannya. Dan ia lebih baik pergi. Ia ingin membawa cikal bakal manusia yang ada di rahimnya itu menjauhi tempat ini. Perasaannya tak enak. Ia yakin sebentar lagi badai akan mengamuk dalam kamar ini. Di dekatinya Indi yang masih terduduk kaku. Diciumnya kening perempuan itu. Kemudian ia mendekat Abi, yang segera memeluknya.
"Aku pamit," bisiknya lirih di telinga Abi.
Laki-laki itu mengerti. Ia mempererat pelukannya. Ia mungkin tak akan bertemu dengan Lang lagi. Entah sampai kapan. Sejurus kemudian dilepaskannya wanita itu, dan ditatapnya terus Lang yang beranjak meninggalkan kamar. Diamatinya perempuan yang kini berjalan anggun keluar dari kamar itu.
Kini pandangannya beralih kepada Indi. Didekatinya perempuan yang duduk di tepi ranjang itu. Airmata tampak mengalir di pipinya. Diraihnya tangan istrinya itu, digenggamnya erat sambil ia bersimpuh di depannya.
"Kenapa kau mengijinkannya?" bisik Indi tak mengerti, "bukankah kita sudah sepakat, di antara kita sendiri, bahwa kau bebas berhubungan dengan siapa saja, asal tak sampai ada keturunan mewarnai hubungan itu?"
Abi hanya bisa diam. Ia memahami istrinya tertikam oleh kenyataan ini. Ia lebih baik membiarkan pertanyaan Indi tak terjawab dengan kata-kata, meski ia tahu pasti jawabannya: Ia membiarkan Lang mengandung janin keturunannya, karena ia begitu mencintai perempuan itu. Dan ia membiarkan perempuan itu memilih jalan yang dipilihnya sendiri, mengandung anaknya. Lang bisa mengatasi masalahnya, Abi tahu persis tentang hal itu. Dan ia tak bisa melarangnya. Ia hanya bisa berserah pada hidup, yang entah akan membawa mereka kemana.
Diletakkannya kepala di pangkuan Indi. Perih hatinya. Lang telah pamit. Abi tahu, jika perempuan itu telah memutuskan sesuatu, akan terjadi persis seperti itu pula. Dan ia bersiap untuk sebuah kehilangan. Dibiarkan sebuliran air mata mengalir dari pipinya, jatuh ke pangkuan istrinya, tanpa suara.
aku datang semilir seperti angin
menggelitik dedaunan, menawarkan kesejukan
dan jangan sekali-kali tunda kepergianku
karena badai menjelang, merubuhkan gegunungan
(kehidupan ternyata bak aliran air di sungai, membelok ke sana ke mari, mencari setiap kemungkinan, dan Lang adalah butirannya)