Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: 2,3,5,7,11,?,17 · More of this
    Search
 

   

Catatan Harian Ariandirgantara
30 Desember 2001 (di Hong Kong)

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Masih terngiang di ingatan, 10 tahun silam di kota yang sama, gue bersama dengan Donna melewatkan tahun baru di Hong Kong.
Nama gue Ariandirgantara, dan sampai hari ini gue masih hidup melajang. Yah ada enak dan ada nggak enaknya hidup melajang. Kalau dibanding-bandingkan, nggak akan pernah ada ujung pangkalnya. Karena ada yang bilang lebih enak hidup berumah tangga, dan ada juga yang bilang enakan melajang. Tapi pengalaman pribadi gue mengatakan bisa jadi lebih enak melajang saja.
Alasan gue untuk tetap melajang simpel saja, karena ternyata dalam perjalanan asmara gue sudah gue rasakan pahit dan getirnya dikelabui oleh wanita yang gue cintai.
Nah jadi yang akan gue ceritakan ini adalah sedikit cuplikan kehidupan gue di akhir tahun 2001 yang lalu.

Hari Minggu, 30 Des 2001 siang-siang gue udah di bandara Chek Lap Kok, dengan hati yang berbunga tapi cemas. Gue dateng hampir 1,5 jam lebih awal dari jadwal tiba pesawat yang akan ditumpangi Donna.
Gue kenal Donna sudah lebih dari 10 tahun, dan saat ini sebenarnya dia sudah menikah dengan seorang pria yang sangat mapan dan baik. Gue juga menganggap bahwa suami Donna adalah seorang pria yang amat sangat beruntung karena bisa memperistri Donna.
Setelah menyantap makan siang sendirian akhirnya gue dengar pengumuman kedatangan pesawat yang gue tunggu-tunggu. Dari kejauhan terlihat seorang wanita mengenakan baju lengan panjang hitam dengan celana yang terlihat ketat dan sexy.
"Hai mas Ar, udah lama nungguin saya?"
"Ya kira-kira begitulah," jawab gue pendek.
Donna memeluk gue dengan erat sambil membisikkan "miss you so much honey."
Tanpa kata-kata gue membalas pelukannya, dan tercium bau parfum Prescriptive Calyx favorite gue yang membuat gue sedih dan teringat masa-masa lalu.

Di mobil gue bilang sama supir gue untuk tidak langsung ke hotel, karena gue mau ke toko buku dulu di daerah Causeway Bay.
"Mas, gimana kabarnya kok kita bisa janjian lagi seperti ini sih?"
"Saya baik saja kabarnya, eh tapi kamu kok bilang begitu? Masih belum terlambat lho untuk tidak stop over di Hong Kong dan terus terbang pulang ke Jakarta."
"Aduh si sayang marah ya, saya dengan sadar kok mas memutuskan untuk ketemu kamu hari ini."
Gue terdiam dan termenung sedih bila Donna bilang seperti itu. Karena hari ini gue duduk satu mobil dan akan menghabiskan beberapa malam bersama seorang wanita yang seharusnya tidak boleh gue kencani lagi. Di dalam hati gue berkecamuk perasaan dan pikiran, antara baik dan buruk, antara guilty dan exciting. Dari sudut mata gue, terlihat Donna yang sangat anggun dengan wajah yang ayu, dan badan yang almost perfect.
"Mas, kamu masih seperti dulu ya, hobbynya ke toko buku."
"Ya memang itulah salah satu kegemaran saya, eh ngomong-ngomong kamu masih mau makan siang nggak, sebab jalannya kan jauh nih ke Causeway Bay dari airport."
"Nggak deh mas saya di pesawat udah makan banyak, saya hanya masih sangat ngantuk saat ini."
"Kamu tidur saja dulu, saya nggak apa-apa kok kamu tidur."
"Oke sayang, saya ngantuk banget nih, mungkin jet-lag nya sedang bekerja".

Tanpa sadar gue juga ikutan memjamkan mata, dan dengan perlahan ingatan gue berputar kembali ke tahun 1991.
Rencananya gue akan menghabiskan malam tahun baru bersama pacar dan teman-teman gue di Hong Kong. Namun rencana tinggallah rencana, karena di siang hari itu gue menangkap basah pacar gue bersama cowok lain di bakmi GM Melawai. Tanpa sikap yang bertele-tele dan emosional, gue langsung putuskan siang itu di GM Melawai bahwa gue dan pacarku Menur bukan ditakdirkan untuk bisa terus berhubungan. Walau dengan cool gue katakan itu kepada pacar gue tercinta, namun di dalam hati sebenarnya gue sangat hancur berantakan.
Dan sebagai pelariannya, gue tetap pergi ke Hong Kong. Tapi bukan dengan pacar gue, melainkan dengan sahabat baik pacar gue, yaitu Donna.

"Mas mas, udah sampe nih".
"Eh apa Don" gue kaget banget karena lagi asyik bernostalgia tiba-tiba gue disadarkan oleh si Donna.
"Kita udah sampe di toko buku yang kamu mau sayang."
"Wah sambil liat-liat kita makan lagi ya, kok saya masih laper lagi nih."
Sambil makan mie jepang gue tanya si Donna, "Kamu masih fit banget ya non?"
"Apa sih lu goda-godain gue," jawab Donna galak. Memang si Donna ini kalo lagi makan nggak bisa diganggu sedikitpun.
"Iya kamu masih sexy banget dan cantik, apa sih rahasianya."
"Nah itulah rahasia gue, makanya elu masih ngejar-ngejar gue kan?"
Gue terdiam kena skak mat dari Donna.
"Uh uh kan gitu ngambek, udah ah basiii nanti jadi bad mood deh buntutnya, yuk udah kita ke toko buku aja deh biar kamu nggak bad mood."
Setelah bayar kita jalan ke toko buku yang kebetulan berada di dalam gedung yang sama dengan restoran mie jepang tsb.

Lagi gue liat-liat buku, tiba-tiba Donna datang membawa buku tentang gambar tatoo yang indah.
"Say liat nih gambar yang ini, exactly the same as mine."
Terlihat gambar belati kecil dengan matahari di sampingnya, persis seperti tatoo di bagian tubuh Donna.
"Ah kamu bikin pusing aja deh, saya tiba-tiba pengen banget nih," kata Donna.
"Lho kan kamu yang bawa gambar itu."
"Ssst udah cepet yuk."

Saya langsung ditarik keluar toko buku dan menuju lantai atas yang sepi. Lalu di lantai atas Donna menarik gue ke dalam kamar mandi wanita. Dengan napas yang tersenggal-senggal Donna langsung menciumi gue, tangannya menggerayangi celana panjang gue.
"Ehhhhh, ehhhhhhh, ehhhhhmmmm," terdengar erangan tertahan Donna.
Tanpa menunggu lebih lama, langsung diterkamnya kemaluan gue dan langsung dilumat habis. Donna menikmati hisapannya bagaikan orang kehausan di tengah padang pasir. Tangan gue diraih Donna dan dituntun menuju kemaluannya, lalu dengan agak kasar diusap-usapkannya jari-jemari gue diantara clit Donna yang sudah mulai basah.
"Ayo sayang, ayo saya udah nggak tahan nih."
Tanpa menunggu aba-aba lebih jauh, langsung kubenamkan kemaluan gue ke dalam vagina Donna. Ah... benar-benar nggak salah, karena segalanya terlupakan dan terasa sangat nikmat, ketat, basah tapi tidak terlalu licin.
Sepertinya segalanya berjalan sangat cepat dan singkat. Karena ternyata kita berdua sudah mencapai puncak masing-masing.
Oh kenapa ini terjadi lagi pada diri gue. Itulah yang selalu gue pikirkan berulang-ulang setiap habis berhubungan dengan Donna. Tapi kenapa pula selalu gue ulang dan ulang.

Di mobil menuju ke hotel kita berdua hanya terdiam masing-masing, dan asyik dengan pikiran sendiri-sendiri. Setelah masuk kamar, membereskan pakaian, Donna menyusul ke tempat tidur di samping gue.
"Kenapa say, masih dipikirin tadi ya?"
"Ya kamu tau saya kan, selalu berpikir, dan berpikir, selalu ragu dan bimbang, selalu positif dan negatif, ah udah deh nggak apa-apa kok."
"Say, udah deh jangan dipikirin deh saya juga jadi tambah pusing nih," kata Donna.
"Say..., Say..." gue denger panggilan Donna dari kamar mandi.
Uh badan gue rasanya dingin dan pegal linu semua. Gue liat jam ternyata sudah jam 6 sore, wah gue tertidur lama juga ternyata. Gue bangun dan menuju ke kamar mandi, terlihat Donna berendam di dalam bak yang lumayan besar, tertutup busa-busa. Langsung gue ikutan nyebur ke dalam bak mandi karena kedinginan.
"Nah enak kan di dalam bak sini, eh terus apa acara kita malam ini Boy?"
"Kamu punya ide nggak, tadi pagi Vivi hp saya katanya dia malam ini ngajakin makan terus santai-santai denger musik, tertarik nggak?"
"Boleh mau kok saya, apalagi sama Vivi, wah pasti something tuh."
Saya sudah tebak, kalo Donna ketemu Vivi udah nggak ada matinya deh. Maklum dulu temen jalan waktu masih pada ABG. Kebayang suatu hari di akhir tahun 1990 di Kute, uh I cannot believe my experiences with them there, pokoknya heboh banget.
Jam sudah menunjukkan pukul 9.30 malam en seperti biasa gue berdua masih nunggu-nunggu yang namanya nona Vivi.
"Hai hai hai.... apa kabar sayang?" Vivi langsung memeluk Donna.
"Hi handsome, wanna give me a big hug?" tanya Vivi ke-gue.
"Hallo Vi, kamu tambah centil dan brisik ya, but most of all you re more beautiful than ever."
"Ah uh oke dong gue, ah bisa aja si Arian, ah udah deh ah."
Vivi begitu centilnya dan Donna yang cantik anggun terlihat ngobrol asyik banget.
"Eh jomblo-jomblo ini nanti gue punya temen yang mau ikutan joint sama kita, pokoknya nggak usah protes, seperti biasa ikut apa kata mama. Oke, oke?"
Gue diam saja seperti biasa, karena pasti yang diatur sama Vivi bukanlah sembarangan. Oh dunia kenapa begitu indah dan mudah rasanya, makan enak, pesta, dan setumpuk kemewahan terhampar dan terhidang setiap harinya di muka gue.

Oh...

Dengan kepala sedikit berdenyut-denyut karena kebanyakan minum, nggak sadar ternyata gue udah lagi terlentang di tempat tidur dengan semua pakaian sudah dilepas alias telanjang bulat. Gue gemetar kedinginan. Tapi kepala nyut nyut nyut. Wah gila nih. Sayup-sayup gue denger desahan dan terasa tempat tidur bergoyang, tapi mata males dibuka dan kepala masih berdenyut-denyut juga.

Upppppsssss.
Tiba-tiba batang kemaluan gue ada yang menarik dan... ohhhhhh, hisapan demi hisapan gue rasakan, rasanya semakin berdenyut-denyut kepala gue. Belum juga gue bisa sadar siapa yang melakukan hal tersebut terhadap kemaluan gue, tiba-tiba sebuah ciuman liar mendarat di sekitar leher dan menjelajah turun ke arah puting gue. Ah... Di bawah hisapan terasa semakin menjadi-jadi. Kepala berdenyut berat dan cepat. Terasa hisapan dan kecupan di dada. Semua jadi tambah pusing, karena ternyata yang menciumi daerah dada gue adalah seorang wanita keturunan cina yang gue nggak tau siapa dia. Yang pasti sih badannya kenceng banget dan parfumnya sangat menggairahkan. Tapi untung gue tau yang ada di bawah, dia Vivi.
Dan selanjutnya hanya erangan dan goyangan yang memabukkan rasa badaniah. Ohhhh kenapa begitu nikmat dan segalanya terasa indah. Dunia nikmat!!!

31 Desember 2001 (masih di Hong Kong)

Waktu gue bangun sekitar jam 11 nggak gue temukan orang-orang yang semalam bersama gue. Kepala masih sedikit nggak enak, eh gue liat ada potongan kue mocha dan teh. Langsung aja gue santap. Dan ternyat ada sebuah surat berwarna biru muda di meja.

Dear Ar,
I knew you would wondering where the hell is Donna. Tapi maaf kan saya mas, tadi malem saya nggak nemenin kamu. Waktu kamu mulai minum banyak saya titip sama "Vivi" supaya temenin kamu, karena saya pergi ke hotel di mana adik saya tinggal.
Sekali lagi maaf mas. Saya nggak bilang ke kamu kalo adik saya juga datang pada hari yang sama dengan saya. Kamu ngerti kan saya sudah nikah, dan saya merasa sangat bersalah kalau nggak ajak adik saya ke Hong Kong untuk nemenin kakaknya.
But I am sure you would understand all.

Yours trully/ Don....

Oh dunia, kenapa begitu.
Gue mau marah tapi sama siapa, gue mau ngadu tapi juga sama siapa, oh... Terima kasih segalanya masih juga terasa mudah dan indah.
Gue pencet handphone T66 memory 9.
"Hai this is Donna, please leave your name number and the message, I will try to call you back later."
Sial. Gila. Uhhhhhhhh....dunia mulai terasa keras dan tidak indah.
Yah beginilah nasib seorang lajang yang malang. Mungkin?
Tiba-tiba... teeeetttttt (bunyi bel di pintu).
"Comiiiiing," teriak gue.
Sebelum buka pintu gue intip siapa yang di luar, eh siapa ini cewek.
"Yes my name is Sharon, and I am ready to take you to paradise."
"What? What paradise, pardon me," tanya gue bingung.
Pijat alias massage, itu hal yang paling nikmat setelah begadangan atau kebanyakan minum alkohol. Bener-bener bukan main massage pagi ini. Eh yang kali ini bener-bener pijat sehat lho, walaupun gue nggak nolak kalo dikasih lebih sama si Sharon. Setelah selesai semuanya, Sharon memberikan sebuah surat dengan warna biru muda lagi.

Dear Ar,
Gimana massage oleh Sharon, mudah-mudahan enak dan cocok. Saya tau kamu nggak terlalu seneng massage tapi pasti pagi ini kamu pasti merasa perlu dipijat biar lebih relaks.
Ar, saya nggak menghindar dari kamu, tapi kita ketemu nanti aja ya (malem). Saya mungkin nggak seberuntung "sahabat saya - Menur", tapi saya nggak akan kecewakan kamu seperti yang telah dibuatnya ke kamu.
Ar, I will spend the new year's with you.

Yours trully/ Don...

Gue bingung mau kemana siang ini, karena gue telepon ke temen-temen, semua sedang sibuk mempersiapkan acara nanti malam. Jadi gue putuskan untuk jalan dan makan siang sendiri di daerah Tsim Tsa Tsui. Ada sebuah sepatu hitam dengan model yang tidak terlalu formal, dan harganya juga bagus. Gue coba dan ternyata enak, wah boleh lah belanja sepatu.
"Ar sendirian aja?"
"Eh mbak, sama siapa saja?" tanya gue kepada si wanita.
"Biasa sama anak-anak, kamu sama siapa, eh tadi saya ketemu temen-temen kamu, si Donna sama adiknya dan banyakan lagi, kamu pergi sama mereka Ar?"
"Em enggak mbak, saya sendirian saja. Kan saya baru dari Taiwan tapi masih ada perlu di sini."
"Ya udah Ar sampe ketemu ya, eh nanti malem kalo mau gabung lho telpon mbak ya."
Wah udah pucat gue, hampir aja kakak ipar gue tau. Well apa perdulinya deh, gue kan cowok lajang dan bebas.
"Halo mas Ar, lagi di mana sekarang?"
"Oh kamu Vi, eh tunggu kemana tadi pagi kok saya ditinggal?"
"Ah mas, suka sok basa-basi. Udah basi tau. Ya saya pulang dong terus biasa lulur-lulur biar wangi dong, nanti mas Ar nggak mau sama Vivi lagi, pilihnya Donna terus."
"Hus udah deh, gimana nih acara yang bener nanti, gue kan masih bingung."
"Pokoknya beres deh mas, nanti jam 7 malem saya yang jemput mas di hotel, oke sampe nanti."
Gila ternyata selama gue lagi jalan siang ini, ketemu kenalan lebih dari 5 orang. Ternyata Hong Kong masih tempat tujuan akhir tahun, walaupun udaranya dingin.
Kring..kring..kring.
"Hallo mas, cepet turun ke lobby, saya udah di depan naik BMW hitam."
Gue udah siap jadi langsung meluncur ke lobby.
"Hai mas Ar, meet Jeffry. Jeffry... Arian."
"Oh Hi Jeffry, nice to meet you," jawab gue ke temen Vivi yang nyetir mobil.
"Mas kita sekarang makan malam ke hotel Regent dulu ya, nanti dari sana baru kita ke tempat acara tahun baru."
Makan malam di Regent lumayan juga. Temen Vivi dan Jeffry banyak yang oke-oke, tapi tetep aja gue menunggu-nunggu acara untuk tahun baru. Tepat jam 10.30 malam, gue udah dalam mobil menuju ke daerah Victoria Peak. Rencananya kita akan bertahun baru di sebuah restoran di daerah tersebut. Rupanya jalanan macet, tapi kita akhirnya sampai juga sekitar jam 11.30.
Orang-orang udah tiup-tiup terompet dan pita warna warni bersimpangan. Lagunya Samba disco medley, uh oke banget.
"Mas di sini aja nanti aku cariin si Donna."
"Oke Vi," kata gue pendek.

Jam udah menunjukkan 11.55 dan Vivi maupun Donna nggak ada yang muncul lagi. Gue sendirian sambil minum kahlua crŠme. Pemandangan begitu indah dari daerah Victoria Peak, banyak kembang api di kejauhan menambah indahnya kota Hong Kong. Walaupun dingin, akhirnya gue putuskan untuk keluar dari ruangan dan bersandar di pagar menatap indahnya lampu-lampu warna warni dan kapal-kapal di dermaga yang menyalakan lampu-lampunya.
Gue denger ledakan kembang api keras di atas, dan terlihat warnanya merah biru kuning begitu meriah dan indah.
Lalu terdengar count down. Five, four, three, two, one... Hurrraaaayyyyyy... meriah sekali, suara musik berdentum keras dan indah.
"Happy new year!" cup, cup, cup. Beberapa cewek menyalamai dan mencium pipi gue.
Masih juga gue sendirian.
Oh indahnya dunia, gue bisa seperti sekarang ini, terima kasih.
"Mas mas, aduh duh. Eh sorry gue udah kebanyakan minum nih. Kemana ya si Don aku udah cari-cari belum ketemu."
"Ha ha ah.... Hi, my name's Lulu and I'm single," seorang teman Vivi yang sudah agak nggak sadar tiba-tiba memperkenalkan diri.
Huh kaki itu kaki, si Lulu pakai rok panjang dengan belahan sampai ke bagian paha.
"Heh gila lu oh, Lulu you crazy slut, be quite and obey, ha ha ha.....Mas, udah deh ya Don nggak usah dicari deh gue pusing pusiiiiiing, ah ah aduh enak dong lagi-lagi," tiba-tiba si Vivi mengerang keenakan gara-gara Lulu dengan tiba-tiba meraba-raba payudara si Vivi.
"Eh mas udah deh sama si Lulu aja, gue jamin deh lebih dari Don, segalanya, okay honeyyyyy... bye...." teriak Vivi sambil berlarian kecil menuju ke dalam.
"Welll hug me pleeeaaase, I feel soooooo coooold," teriak Lulu sambil meraba-raba kemaluannya. Wah pusing nih gue kalo begini. Mood gue hilang tiba-tiba dan gue ketumpuan cewek tipsy dan gue masih segar bugar.
"Okay common let's get inside," ajak gue ke Lulu.

Di dalem acara malah semakin menggila, lagu-lagunya emang oke banget tapi seakan-akan dunia hening dan berhenti sejenak. Terima kasih. Begitu indahnya dunia. Semoga gue bisa berbuat banyak bagi banyak orang.
Daripada pusing gue jadi ikutan minum alkohol lebih banyak.


3 January 2002 (sudah di Singapore)

Gue duduk sendirian di coffe shop depan toko buku Kinokunia Ngee An City, sambil baca majalah komputer.
"May I join sitting here?" tiba-tiba suara seorang wanita.
"Oh yes please," kata gue sambil mengalihkan mata gue dari majalah.
Kok terasa ada yang aneh, karena yang tadi ngomong tetep berdiri aja. Gue angkat kepala gue dan liat ke dia. Seorang wanita cantik dengan wajah mix keturunan chinese dan bule, tinggi lumayan dan badan indah.
"Please be sit," tawar gue kepadanya.
"Ar, don't you remember me?" jawabnya mengagetkan gue.
"Sorry, do I know you, oh sorry I don't mean to, but really I don't remember."
"It's me Theia."
"Theia, is it really you, my little sister?"
"Yessss it's me, oooooohh you look well and still naughty."
"Well look at you, you look completely different, more mature and I wouldn't dare to say about your look. Wow Theia, you now look very very wow."
"No, what is wow, common Ar."
Dulu waktu gue kenal dia, dia masih belum ABG, dan gue kenal banget sama keluarganya yang tinggal di San Diego. Theia campuran orang Thai dan Bule, anaknya baik dan santun sekali. Setelah ngobrol lebih dari 2 jam, gue jadi tau kalo dia sekarang sedang tugas di cabang Disney di Singapore. But most of all, gue bener-bener nggak nyangka soal perawakan Theia, dia benar-benar udah jadi cewek. Dulu sih temen-temen gue suka bilang supaya gue pacarin aja si Theia, tapi gue selalu bilang dia ini adik gue, karena memang bagitulah pada waktu itu, nggak pernah kepikir sedikitpun tentang hal-hal yang miring. Tetep aja temen-temen gue nggak ada yang percaya sama gue kalo gue nggak ngapa-ngapain, karena emang dari dulu sebenernya Theia ini udah cakep banget.
Gue janjian lagi untuk ketemu Theia besok hari Jum'at, 4 Jan 2002.

Tuit..... tuit.... tuit, handphone gue bunyi.
"Halo sayang......mas....mas....."
Gue diem aja denger suara Don di handphone gue.
"Mas jangan diem aja dong, maafin Don ya mas?"
"Ya saya nggak bisa bilang apa-apa kan?" kata gue lemes.
"Mas kamu masih di Singapore kan?"
"Darimana kamu tau dan bener atau nggak saya di Singapore kamu nggak akan bisa cek saya."
"Saya telpon ke rumah kamu dan saya tanya sama mas Dino di mana kamu hari ini."
"Kok berani kamu telpon ke rumah saya, emang Dino nggak malah ngatain kamu?"
"Ya saya beraniin aja tanya sama kakak kamu, biarpun seandainya saya dicaci maki tetep aja saya akan usahakan cari mas Ar."
"Ar, saya sekarang ada di Centerpoint, mau nggak kamu ketemuin saya."
"Ya udah deh, ketemu aja di toko computer langganan saya di Sim Lim tower."
"Iya mas, sampe ketemu sayang."

Jantung gue berdebar karena emosi, tapi gue sebenernya diam-diam sudah terlanjur terbawa ikatan emosi yang panjang dengan Donna. Kakak gue dan keluarga lain semua benci dengan Donna. Karena mereka tau Donna itu dari dulu dan sampai sekarang tetap bandel dan binal walaupun sudah berkeluarga. Makanya gue agak kaget waktu dia bilang berani telpon ke rumah kakak gue.
Sengaja gue ketemu Donna di Sim Lim tempat computer, supaya gue nggak terlalu emosi. Karena kalau udah di tempat computer gue biasanya cooling down, karena hobby gue untuk computer emang agak kelewat banyak.
Belum juga lama gue jalan liat-liat eh si Don udah nongol.
"Mas," panggil Don yang langsung memeluk gue erat-erat.
"Hi sayang," kata gue lagi nggak tahan sambil meluk badannya, dan parfum calyx favorit gue tercium segar, dan terasa payudaranya yang padat berisi menekan dada gue. Terlihat air mata tipis mengalir dari mata Don.
"Udah, udah jangan cengeng ah," kata gue dengan hati luluh.
Mungkin ini yang namanya cinta? Tapi kenapa begitu indah dan sulit? Karena yang kulakukan saat itu adalah tidak benar adanya?
Gue akhirnya beli cd writer plextor portable, lumayan di tempat langganan gue bisa dapet harga istimewa. Kalo punya notebook dengan fire wire plextor ini belum ada lawannya soal transfer rate-nya.
Dari Sim Lim gue didrop mobil kantor ke hotel Hyatt. Dengan kebisuan yang berlanjut, gue dan Don langsung menuju ke kamar. Tanpa kata-kata, tanpa basa-basi. Kita berdua langsung berpelukan, berpagutan, saling membelai dan menciumi bagaikan tiada habis dan puasnya.
Indah... itulah making love. Bukan hanya badani belaka. Ada suatu janji yang secara spontan dan otomatis diberikan oleh dua tubuh yang berlawanan jenis, bila keduanya menyatu dengan cinta. Dan rasa itu akan memberikan suatu keinginan untuk tambah dan tambah.

Indah... itulah cinta.

Malamnya.
Gue nggak keluar kamar dan pesen makan di kamar aja sambil puter video Ocean Eleven tentang merampok casino Mirage di Las Vegas.
Tiba-tiba.
Don menciumi tengkuk gue, tangan kirinya meraba-raba dada, pusar, dan lidahnya menari-nari di dada. Uh... terasa geli dan merangsang. Tangan gue langsung mencari belahan dada Don yang begitu kenyal dan indah. Gue ciumi putting payudaranya yang menonjol keras.
"Ahhhhh," desah tertahan Don.
Terasa jari tengah gue meraba bagian tengah vagina Don yang mengeras dan basah.
"Uuuhhhh," desah Don lagi, "uuuuh Ar, terus Ar di situ enak sekali rabaan kamu," kata Don semakin menikmati gerakan jari tengah tangan kiri gue. Pinggulnya bergoyang mengikuti irama jari tengah gue yang semakin dalam terbenam di vagina Don.
"uuuhhhuuhh.....ahhhh..." terus Ar aduuuhh enak sekali Ar.
Don memang paling sensitif di sekitar clitnya apabila diraba. Lalu dengan gerakan menyentak diraihnya batang kemaluan gue yang sudah mengeras dari tadi. Dengan sexy diarahkannya batang gue ke vaginanya. Terasa hangat dan menyempit, goyang dan goyangannya memabukkan. Sambil terus menggoyangkan pinggulnya diatas badan gue, tangan kanan Don meremas-remas payudaranya sendiri sambil memjamkan mata.
"Ahhhhh," erangan Don terdengar keras sekali.
"Ar aku mau di bawah Ar ayo terus cepet lagi," pinta Don.
Dengan posisi gue di atas, dan Donna di bawah, gue goyangkan pinggul gue dengan irama yang pasti.
"Uuuuhhhhh.... hhhuuuuuhhh, Ar ahh enak ar gitu geraknya ar, yang dalem terus mentok Ar,....ahhhhh," erang Don sambil menggosokkan jari-jarinya di sekitar clitnya.
"Aduhhhh Ar cepet, ahhhh, aku udah berapa kali nih Ar, ahhhhhh," teriak Don memeluk badan gue erat sekali.
Satu, dua, tiga, dan empat kali, malam itu gue dan Don making love. Tapi rasanya seperti mau tambah dan tambah terus.


4 January 2002 (masih di Singapore)

Kita berdua bangun dengan badan yang terasa luluh lantak bagaikan orang selesai lari marathon. Maklum udah ada umur tapi sok kayak ABG.
"Mas, kita ini gimana ya?"
"Apanya yang gimana, ya nggak bisa gimana-gimana dong," jawab gue bingung.
"Saya kan hubungan sama kamu udah ada 10 tahun, tapi kita kok nggak pernah jadi hubungan serius dan normal ya?"
"Kan kamu yang juga selalu nggak mau legih jauh hubungan dengan saya."
"Ah mas yang selalu jaga jarak kan, emang saya udah kendor-kendor ya makanya mas nggak mau lagi."
"Wah nggak mungkin kalo yang itu karena kamu malah tambah oke sih."
"Tuh kan awas-awas nanti tanduk dan buntut kamu keliatan lho."
"Sialan lu Don, tapi suka kan?"
Pembicaraan kita tidak panjang dan seperti biasa akhirnya berhenti dan tanpa jawaban, hanya mengambang dan enakan seperti sekarang saja. Mungkin memang manusia kadang memiliki sisi gelap yang selalu ingin dipertahankan keberadaannya.
Donna pulang siang itu ke Jakarta, dan gue tiba-tiba bersemangat karena gue akan ketemu Theia siang itu.

Visits: 17650
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 16378   Help/FAQ   Terms   Imprint