Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: 2,3,5,7,11,?,17 · More of this
    Search
 

   

Hutang
Surabaya 1999 D-Day.

Warung Senang. Hanya menyediakan minuman panas, gorengan murahan, dan indomie tanpa telor. Pemiliknya adalah pasangan suami isteri dari Lamongan. Orang-orang memanggil mereka `Ebes' dan `Emes'. Pasangan yang selalu tersenyum menghadapi setiap pelanggan, tak perduli mereka bisa bayar uang sekolah tujuh anak mereka atau tidak. Tapi bukan tentang mereka yang menjadi bahan obrolan hangat malam itu. Tapi tentang kedua pemuda yang duduk di sudut bangku panjang, dekat tong sampah, posisi kegemaran mereka. Orang yang baru saja mengunjungi Warung Senang dan melihat mereka sambil lalu, pasti mengira kalau mereka berdua adalah sepasang saudara kembar. Tapi bagi para pelanggan Warung Senang, Ray dan Jay sama sekali tidak ada mirip-miripnya, kecuali rambut gondrong ikal yang selalu mereka bawa kemana-mana. Dan malam itu, mereka punya topik hangat untuk diceritakan pada Ebes dan Memes. "Tapi tahunya gratis," kilah Ray saat Ebes menyuruhnya bercerita. "Saya kopi saja, plus Dji Sam Soe satu," Jay menimpali. Ebes memandang Memes, lalu nyaris berbarengan mereka mengumpat. "Anak-anak bandel! Makan sepuasnya deh, pokoknya cerita." Ah? Sebegitu penasarankah mereka? Tentu saja. Ray dan Jay, dua makhluk gondrong itu, paling pandai bercerita. Kalau mereka sudah bercerita, yang pasti pengunjung Warung Senang akan bertambah, bisa-bisa sampai pagi tetap ramai. Ray mengambil tiga potong tahu, mengambil sikap hendak bercerita. Dua orang abang becak dan satu tukang ojek masuk dan mengambil tempat.

HUTANG

CHAPTER ONE - WHERE IT BEGUN

Dua puluh hari sebelum Deadline.

"Hahahaha," gadis itu tertawa. Pemuda dengan rambut ditarik ke belakang, yang duduk di sebelahnya cepat-cepat berkata, "Ssshh jangan keras-keras. Nanti dikira ada perkosaan di sini." Dewi meruncingkan bibir, "Huu, memangnya siapa mau diperkosa sama kamu." "Loh," kata si gondrong, "memangnya aku bilang kalau aku yang merkosa?" Si gadis tertawa lagi. Pemuda yang baru dikenalnya dua jam lalu itu benar-benar membuat perutnya sakit. Pandangan yang semula buruk --melihat potongan jalanan si pemuda-- lenyap sudah. Yang ada kini hanya perasaan suka yang entah dari mana datangnya. "Jadi, Ray, kamu masih kuliah?" Si gondrong, Ray, dengan sikap digagahkan mengangguk. "Tentu saja. Walaupun tampak brutal begini, sebetulnya di dalam seorang pemuda yang baik. Rajin. Alim. Pokoknya nggak ada negatif-negatifnya." "Hiiih, bohong. Dari matamu aja aku bisa tahu kalau kamu tuh pemalas." "Wah, enggak lah," sahut Ray, "kalau dari mataku sih, satu-satunya yang bisa kamu katakan adalah bahwa kamu melihat aku suka kamu."

Wajah si gadis memerah seketika. Pemuda ini terkadang begitu kurang ajar. Namun entah mengapa kekurangajaran itu tidak membuatnya risih atau sebal. Dewi akhirnya berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Jangan begitu," katanya, lebih pada dirinya sendiri.
"Kenapa tidak?" tanya Ray dengan senyum tersungging.
"Iya, cowok seperti kamu pasti sudah sering mengatakan begitu pada cewek-cewek."
"Wah, aku ada tampang playboy?" kata Ray dengan melongo.
"Bukan, tampang tukang becak."
"Kalau begitu tukang becak playboy. Yah, pasti deh kamu nggak mau denganku. Ya sudah kalau begitu, kita berteman saja. Begitu maumu?" Dewi bingung seketika. Tak tahu harus menjawab apa. Pemuda ini sejak tadi selalu sukses membalikkan pertanyaannya dengan pertanyaan serupa yang lebih berkesan menuduh. Sesuatu yang tak bisa dijawabnya tanpa berpikir keras.

"Gimana, ya," akhirnya Dewi berkata, "nanti ada yang marah loh sama kamu." Ray nyengir seketika, kebiasaan yang muncul saat umpan yang dipasangnya disambar ikan-ikan gemuk. Pemuda itu menggelengkan kepala.
"Masa kamu mau marah pada dirimu sendiri?"
Wajah Dewi memerah lagi. Untuk yang kesekian kalinya pertanyaan itu berbalik. Ray tertawa saat melihat gadis itu kebingungan. Katanya, "Kalau tidak menjawab berarti kamu mau dong jadi pacarku." Dewi menatap pemuda itu dengan rasa heran campur takjub. Baru dua jam yang lalu, mereka berkenalan, sekarang pemuda itu sudah menanyakan sesuatu yang nyaris tak sanggup ia menolaknya.

Di tempat yang lain, setengah jam lalu...

"Kamu kok diam?" tanya seorang gadis berpakaian `you can see', dengan sisa riasan yang masih melekat di kulit wajahnya. Sebetulnya pertanyaan itu ia keluarkan, karena tak tahan dipandangi terlalu lama. Pemuda gondrong berjaket kulit di depannya hanya tersenyum, lalu membuang puntung rokoknya. Tanpa mengatakan apapun, pemuda itu meraih gelas kopi di depannya. Si gadis tambah penasaran dengan sikap si pemuda.

Belum ada dua jam mereka bertemu dan berkenalan. Sebetulnya ia sudah memperhatikan pemuda itu sejak acara dimulai. Pemuda itu berkeliaran ke sana kemari dengan binder map di tangannya. Suaranya keras dan tegas. Dalam sibuknya, senyum tak pernah hilang saat orang-orang menyapanya, seolah ia ingin menunjukkan bahwa kesibukan tidak mempengaruhinya sama sekali.
"Fi, itu siapa sih?" tanya Shinta sebelum giliran mereka tiba.
"Oh, itu Jay. Awas, orangnya dingin."
"Dingin?" tanya Shinta sedikit tak percaya. Pikirnya, orang dengan senyum yang murah itu jelas-jelas bukan tipe orang yang `dingin'.
"Iya, terutama sama cewek-cewek."
"Masa?"
"Iya, dan melihat caranya memandangmu, mungkin ia tertarik padamu."
"Mana?" Shinta menoleh dan melihat pemuda gondrong itu memang sedang menatapnya dari jauh. Pemuda itu lalu menarik senyumnya. Shinta merasa sebuah getaran merasuki dirinya, membuat wajahnya terasa panas. Mata pemuda itu, pikirnya, sesuatu keluar dari sana. Lepas session terakhir Shinta di atas panggung, pemuda itu mendekatinya, menjabat tangannya, lalu kembali dalam kesibukkannya. Rasa ingin tahu, ditambah dengan kelelahan, membuat Shinta mengangguk saat pemuda itu mengajaknya ke Texas setelah acara usai.

Sekarang, ia sedikit gemas melihat pemuda itu hanya diam saja. Duduk manis, memperhatikannya lekat-lekat, seolah ada nasi di wajahnya. Tanpa sadar, Shinta meraba tepian bibirnya. Jelas saja, tak ada apa-apa di situ.
"Kamu tahu," mendadak Jay berkata, membuat si gadis terkejut.
"Apa yang paling menyenangkan di sini?"
"Apa?" tanya Shinta.
"Ya tadi itu, memperhatikan kamu. Tapi sayang, kok kamu jadi risihh." Shinta merasa geli bercampur senang yang aneh. Jelas pemuda itu sedang merayunya. Tapi caranya itu, berbeda dengan cara-cara lelaki kebanyakan. Sekarang ia melihat pemuda itu lagi-lagi memperhatikannya. Ada sebuah senyum di wajah pemuda itu.
"Kenapa memang denganku?" tanya Shinta gemas, "aku aneh ya?"
"Iya," kata Jay nyengir, "mukamu jelek."
"Masa?" Shinta otomatis merogoh tas kecilnya, mencari kaca rias. Untuk perempuan, penampilan adalah segalanya. Kecuali yang sadar dirinya jelek. Jay tertawa. Shinta mengangkat kepalanya dengan heran. Sejak dari tadi, baru kali itu ia mendengar pemuda itu tertawa. Tawanya benar-benar lucu, mirip tawa anak kecil.
"Tapi kalau dilihat-lihat," ucap Jay sambil memiringkan kepala dan menarik ujung-ujung bibirnya, suatu sikap yang menurutnya bisa membuat para gadis berhasrat mencubit pipinya, "kamu lebih bagus jelek begini."
"Eh, kok bisa begitu?" tanya Shinta keheranan.
"Iya," senyum Jay, menarik kepalanya lurus kembali.
"Aku suka orang jelek," lanjutnya. Lagi-lagi Shinta tersipu. Gadis itu menarik keluar tangannya dari dalam tas. Ada kelegaan yang tiba-tiba muncul.

"Kamu itu aneh," senyum Shinta seraya menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja. Jay nyengir,
"Kenapa aneh?"
"Kata temanku tadi, kamu tuh orangnya dingin sama cewek."
"Menurut kamu bagaimana?"
"Kurasa nggak. Kamu tuh baik, walau sedikit mirip rampok." Jay terkekeh. Tapi wajahnya langsung berubah serius.
"Sebetulnya aku `nih memang dingin."
"Sebetulnya?"
"Kecuali pada calon pacarku."
"Hhh?" Shinta bingung, tak tahu harus berkata apa lagi. Mata pemuda gondrong itu menatapnya. Ia serius, pikir Shinta dalam hati. Oh God! Matanya membuatku tak bisa menolak, jerit Shinta. Jantungnya berdegup kencang.

Warung Senang. Dua puluh dua hari sebelum Deadline.....

Ebes masih terlihat asyik dengan racikan kopi Jawa Timurnya. Aduk sana-sini, tambahkan gula, jahe, dan bumbu lainnya. Emes masih saja menggoreng pisang raja yang seukuran lengan orang dewasa. Lummayan, sekali telan, kalian pasti tak ingin melihat barang yang bernama pisang goreng lagi. Kecuali gratis. Masih sekitar pulul tujuh malam, belum banyak `penduduk' warung yang hadir. Si Gondrong itu terlihat kesepian. Ia sedang butuh ditemani, oleh siapa saja. Asal bukan Ebes. "Kita `kan sama lelaki..." batin si Gondrong sedih. Matanya melirik kesana kemari, berharap seorang berparas manis berambut sebahu akan lewat dan menyapanya ramah. Dunia memang penuh kejutan.
"Hai, Jay...sendirian aja nih?"
"Iyah, kesepian nih... temenin dong...?" balasnya senang.
"Boleh. Traktir yaa?"
"Okey!" Cuma sedetik, Jay menghitung harga segelas es teh manis dan dua potong pisang goreng di Warung Senang. Cuma seribu perak. Enteng! Jay menggeser pantat, menyilakan makhluk manis itu duduk. Ia menatap si Manis yang tersenyum nakal, menggoda. Matanya yang butek, bibirnya yang kehitaman. Hitam? Lalu dengan satu gerakan tangkas, sebatang Marlboro sudah terjepit di ujung mulutnya. Jay terkesiap. Marlboro?! Ia mengusap kedua matanya yang tak gatal. Seringai dari makhluk itu muncul.
"Tidaaakkkk!!!" Jay menjerit histeris. Ebes dan Emes ikut terhenyak. Kaget.
"Elo kenapa, Jay?" Makhluk itu keheranan.
"Euhh, ga pa-pa, Ray. Lagi ERROR." Si Makhluk memang Ray. Dan sama sekali nggak ada manis-manisnya! Pipi Jay bersemu merah. Ia memalingkan wajah cepay-cepat. Rupanya, ia terlena dalam lamunan. Ray tersenyum manja. "Inget siapa, Bro?" godanya pada sahabatnya yang kini menatap hamparan pisang goreng dengan mimik serius.
"Inget sama pisang nih. Enak kayanya," tukas Jay mengalihkan topik sambil mencomot dua buah pisang sekaligus. Malu, Cing!

"Gimana kabar ikan-ikan di empang?"
"Baek. Udah kelaparan kayanya."
"Udah satu hari, lho," sahut Ray antusias.
"Yup. Elo gimana? Ada kemajuan?"
"Heheheh....." Ray terkekeh senang. Dicomotnya sepotong tahu isi dari meja. Terlambat Emes mengingatkan Ray, kalau tahu itu baru saja keluar dari penggorengan. Uap langsung mengepul dari sela-sela gigi pemuda itu.
"Wadaaooow....!" Ray sigap meraih segelas es teh manis, dan mendorong tahu itu cepat-cepat ke ususnya. Glekkk! Emes dan Ebes saling memandang bahagia. Semula mereka berpikir, Ray akan memuntahkannya ke jalanan depan warung. Di situ, ada aturan, bahwa semua yang ditelan harus dibayar. Kalau dimuntahkan? Itu artinya gratis. Dan laba berkurang dua ratus perak. Bisa-bisa, si Otong, anak bungsu mereka, gigit jari seharian besok di sekolahnya. Tidak dapat uang jajan.
"Si Dewi, elo udah tahu alamatnya, Ray?"
"He-eh. Asrama Putri di ujung sana." Tunjuk Ray ke belakang warung.
"Hah? Masa sih?"
"Iyah. Bareng sama si Shinta `kan?" Ray melirik penuh arti.
"Heheheh....."
"Hahahahaha...!" Mereka bertukar pandang. Lalu memngangguk berbarengan. Ternyata, mereka memancing di empang yang sama. Dua ikan, satu empang. Dua orang pemancing. Il Perfecto!

"Si Shinta, idola di Kampus Merah, naek Starlet biru, dan pinter ngerayu laki-laki....," Jay bercerita penuh semangat sambil sesekali mengepulkan asap kreteknya. Ray tekun mendengarkan, sementara kedua tangannya tetap sibuk menjejalkan tahu yang agak dingin dan cabe rawit kegemarannya di antara gerahamnya yang bolong-bolong. Tak dipedulikannya Emes yang sejak tadi sigap menghitung dan menambahkan angka-angka di rekeningnya. "Dua puluh ribu lima ratus lima puluh...." Emes menggeleng-gelengkan kepala, lalu melirik Ray yang masih sibuk `menggiling', dengan alis berkerut. Didengarnya, Ebes berbisik lirih di samping kepalanya, " Sudahlah, nanti juga dibayar.." Emes menghela napas, lalu kembali sibuk dengan penggorengan di belakang warung. Pisangnya belum mateng, Mes!
"....gue suka rambut panjangnya, ama tungkainya yang jenjang...."
"..mmmm, seksi abiiss.." Jay berdesis. Kepedasan. Cabe Emes, dilawan!
"Emang, itu aja yang menarik dari dia?" Ray kini menyalakan sebatang Marlboro. Memang, untuk perokok seperti mereka, sigaret adalah sahabat untuk makanan pedas. Kalian juga begitu `kan?
"Jelas nggak," Jay meringis bandel, "gue tertarik soal idola kampus itu."
"Heh? Serius? Idola??" Ray tertegun. Ia mengerutkan kening, heran.
"Yup. Si Dewi `kan juga idola kampus Hijau. Heheheh..." Jay terkekeh senang.
"Hah? Elo juga tahu itu?" Ray tertegun lagi, "elo bener-bener....!"
"Heheheh..., gue `kan udah persiapan!" Jay mengedipkan sebelah mata. Ray menegakkan tubuh, mencoba bersikap serius.
"Oke, Jay. Let's start the game!"
Jay mengangguk. Negosiasi pun berlangsung.
"Dua puluh satu hari."
"Okey."
"You don't know me."
"Beres."
"Di luar asrama. Take out."
"Take out!" Dua orang pemancing lalu bersalaman dan menunduk dalam-dalam. Mereka lalu bersenandung pelan, sambil mengangguk-anggukkan kepala khidmat. Ritual telah dimulai.
"At first I was afraid, I was petrified...."
"...I have all my life to live, all my love to give..."
"...I will survive...."
(itu bukan nyanyian, itu mantera...)

Ada dua macam metode `primitif' untuk berburu ikan! satu, dengan menggunakan tombak, menusuk dengan tepat kedua, dengan menggunakan pancing dan umpan yang tepat

CHAPTER TWO - HUNTING DAYS

Dewi's story...
enam belas hari sebelum Deadline..!!
saatnya romantisme picisan!

Ini kali kelima pemuda gondrong itu menjemputnya di kampus. Dewi tidak pernah merasakan kebahagiaan serupa selama hidupnya. Bagaimana tidak? Saat ia menelusuri lorong kampus, dari jauh ia sudah melihat Ray menunggu. Seperti layaknya kebanggaan seorang gadis pada kekasihnya, Dewi pun demikian. Hatinya berbunga saat ia menyaksikan pandangan keirian yang dilontarkan gadis-gadis lain saat Ray menggandeng lengannya. Pemuda itu milikku, pikirnya dalam hati, pemuda yang tinggi, berwajah sangar, tapi anggun mempesona. Khas gentleman a la barat.

Sore itu Ray tampak rapi dengan setelan kemeja biru tua kotak-kotak, dan celana teropong hitam kesayangannya. Dalam hatinya berjuta rencana sedang tersusun. Pagi tadi, ia sudah meminta Dewi untuk berdandan secantik mungkin. Kalau perlu, bawa sabun cuci muka, biar nanti siangnya Dewi tetap segar. Hari itu Ray sudah bertekad, sesegera mungkin harus selesai-sebelum Jay. Tanpa malu-malu, pemuda gondrong itu menggandeng si gadis melintasi kerumunan mahasiswa. Seperti biasa, sikapnya tak acuh. Beberapa gadis sempat meliriknya mesra beberapa saat sebelum kedatangan Dewi. Namun mereka urusan nanti, pikir Ray, sekarang ia ada misi yang lebih penting. Beat the fisherman contest! Dewi menurut saja saat Ray menawarkan untuk membawakan tasnya. Mereka lalu berjalan sampai ke lapangan parkir. Tak berapa kemudian, mereka sudah meluncur di tengah sibuknya lalu lintas.

"Kamu cakep," kata Ray sambil tersenyum, memulai perbincangan.
"Makasih," sahut Dewi dengan wajah memerah, "kamu juga."
"Aku memang selalu cakep, kok."
"Pede sekali," ucap si gadis sebelum tertawa.
"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat."
Dewi menatap pemuda itu dengan rasa ingin tahu.
"Ke mana?" ia bertanya. Ray hanya tersenyum, melirik sekilas.
"Ke sebuah tempat yang istimewa."
"Istimewa?"
"Ya," sahut Ray, lalu pemuda itu menoleh dan tersenyum. Katanya, "Aku punya dua pilihan untukmu. Yang pertama, kita akan makan di salah satu restoran kegemaranku. Resikonya, nanti aku akan mencium bibirmu di sana." Dewi menatap pemuda itu dengan heran, sebelum tertawa geli. "Yang kedua?" tanya gadis itu setelah tawanya reda. Ray hanya tersenyum, membiarkan kesan dramatis mengalir sejenak sebelum melanjutkan, "Yang kedua, kita ke rumahku. Aku akan siapkan sebuah meja, dengan lilin, lalu hidangan yang sudah kusiapkan sejak pagi tadi. Resikonya? Aku akan mengecup bibirmu, lalu membawamu ke langit untuk bercinta." Kali ini Dewi benar-benar merasa geli. Ia tertawa terbahak-bahak. Pemuda yang satu ini benar-benar ceplas-ceplos kalau sedang berkata-kata. Betul-betul tanpa tedeng aling-aling-kata orang Jawa. Tapi sesuatu dari pemuda itu, mungkin senyum dan caranya melirik, membuat Dewi tidak bisa marah sama sekali. Malah si gadis merasa debaran yang aneh di dalam dadanya.

"Jadi bagaimana?" tanya Ray kemudian, membuat Dewi sedikit terkejut. Gadis itu menatap ke luar jendela. Pikirannya menimbang-nimbang sejenak. Pikirnya, aku baru saja mengenal pemuda ini, dan sekarang ia sudah memberikan dua pilihan yang mendebarkan. Ia akan menciumku, sesuatu yang bahkan dikatakannya dengan gamblang. Tengah Dewi kebingungan, ia merasa jemari kiri Ray menggenggam pergelangan tangan kanannya. Ia menoleh dan melihat pemuda itu tersenyum menatapnya. "Aku tahu," senyum Ray, "kita ke resto saja." Dewi mengangguk. Entah mengapa, sebagian kecil dari hatinya memprotes.

Tempat yang sempurna, momen yang tepat, adalah senjata rahasia kedua Ray. Acara makan siang berlalu dengan romantis. Dewi sempat terheran-heran melihat Ray begitu serius saat di rumah makan. Jarang pemuda itu melontarkan banyolan-banyolan segarnya. Tapi dari situ Dewi melihat sesuatu. Ray adalah sosok seorang pemuda yang bisa menempatkan dirinya di mana ia berada. Ia semakin terpesona. Sekejap lalu, sebelum mereka melangkah memasuki rumah makan, Ray masih penuh canda. Tapi setelahnya, ia tampak begitu dewasa. Mereka berbincang tentang segala hal di sana. Segala sesuatu yang serius, bukan sekedar obrolan omong kosong. Di sana, Ray menanyakan tentang segala kegiatan Dewi, tentang keluarganya, dan tentang penggalan kisah hidup si gadis.

Sore sudah berlalu, saat mereka berdua melangkah keluar dari rumah makan. Ray menggandeng jemari Dewi dengan erat, membuat si gadis merasa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Sampai di dalam mobil, Dewi berdebar-debar. Tadi pemuda itu mengatakan hendak mengecupnya. Apakah ia akan melaksanakannya? tanya gadis itu dalam hati.

Ray masuk ke dalam mobil, dan mendapati gadis itu sedang tersenyum memandangnya. Pemuda itu melepaskan rambut yang diikatnya ke belakang beberapa jam lalu. Mengibas-ngibas dengan jemarinya sejenak, sebelum akhirnya menarik senyumnya keluar. Dewi tertawa melihatnya. Ia sadar, bahwa kekocakan itu sudah kembali ke posisinya. Ternyata belum. Tengah ia tertawa, mendadak pemuda itu memajukan tubuhnya. Tidak menempel, hanya mendekatkan wajah, hingga Dewi bisa mencium aroma tembakau dari nafasnya. Ray tersenyum, menatap mata gadis itu dalam-dalam. Pemuda itu tahu, bahwa gadis di hadapannya sedang menunggu. Menunggu dalam kepasrahan. "Kamu akan marah kalau aku menciummu?" pemuda itu bertanya. Dewi sedikit sebal. Pemuda itu lagi-lagi menanyakan sesuatu yang tak bisa dijawab. Bagi seorang gadis, pengakuan atas suatu keinginan adalah suatu hal yang sangat-sangat berat. Dan sekarang, pemuda di depannya menuntut itu. Akhirnya Dewi memilih untuk diam, sebelum malu membakar wajahnya sendiri. Pemuda di depannya tertawa. Hening kemudian.

Suasana mulai gelap saat pemuda itu menunduk dan mengecup bibirnya. Dewi memejamkan mata, menikmati sensasi yang timbul dari kelembutan itu. Ray menempelkan bibirnya di bibir si gadis. Tak bergerak. Tak melumat. Hanya menempelkan. Getaran-getaran kecil merambati pori-pori kulit si gadis, tubuhnya bergetar semenit kemudian. Si pemuda lalu menarik sedikit wajahnya. Masih dengan ujung bibir menempel, pemuda itu berbisik,
"Aku sayang kamu."
Dewi membuka matanya, menatap dengan satu arti.
"Aku juga sayang."
Gadis itu merasakan tubuh si pemuda bergerak, kembali ke posisinya di belakang kemudi mobil. Dewi kecewa, ia ingin dikecup lebih lama. Ia ingin rasa itu, getaran itu, menghanyutkannya kembali. Tapi pemuda itu malah memasukkan perseneling, menekan pedal gas. Mobil meluncur dalam kesunyian.

"Aku senang, kita ke resto tadi," Ray berkata memecah hening. Si gadis menatapnya dengan senyum, "Aku juga."
"Bukan itu," kata Ray, "kalau aku membawamu ke rumah tadi. Mungkin aku akan membuatmu benci padaku seumur hidupmu." Dewi tak mengerti. Lalu kata `bercinta' yang sempat terlontar dari bibir si pemuda melintas. Dewi menundukkan kepalanya. Sesuatu dalam dirinya berbisik, bahwa ia takkan pernah membenci pemuda itu, seandainya hal itu memang akan terjadi.
"Mengapa?" bisikan itu keluar dari bibirnya.
"Siapa tahu nanti aku berniat memperkosamu," Ray berkata.
Dewi mengangkat kepalanya dengan raut heran, lalu melihat cengiran di wajah Ray. Gadis itu tertawa geli. Ada-ada saja, pikirnya. Tiba-tiba Ray menepikan mobil dan menginjak pedal rem.
"Ada apa, Ray?" tanya Dewi heran. Ray menetralkan perseneling, lalu menarik tubuhnya ke samping. Sebuah kecupan mendarat di bibir si gadis. Kecupan yang ringan. Sebelum Dewi membuka matanya kembali, ia mendengar Ray berkata.
"Pertama, itu...."
Ketika ia membuka mata, pemuda itu terlihat sibuk melepas sepatu kulitnya.
"Lalu kedua, ini...sial benar..," Ray berkata, seraya menggaruk telapak kakinya dengan gaya gemas. Dewi memandang terheran-heran.

"Sori, jempolku lagi birahi," gumam si pemuda tanpa menoleh. Gadis itu tertawa terbahak-bahak. Jauh di dalam hatinya ia merasa hangat. Tergoda.

A Fish called Shinta. Hari ketujuh belas sebelum Deadline.

Pemuda gondrong berjaket kulit itu melangkah cepat. Bibir hitamnya berkemik-kemik, menyedot sigaret kretek yang terselip di ujung bibirnya. Langkahnya terhenti di ujung sebuah anak tangga. Menatap arloji di pergelangan tangannya seraya tersenyum-senyum. Lima menit lagi, batinnya senang. Dengan satu gerakan cepat, ia membuka ritsleting jaket kulitnya dan meraih sesuatu dari dalam saku. Lalu menggigitnya di sela-sela gigi. Sebatang mawar merah darah. Tepat lima menit kemudian, bel usai kuliah berbunyi nyaring, disusul derap riuh langkah kaki di ujung lain tangga. Ia tetap berdiri tegak, seolah tak peduli dengan berpasang mata yang berlalu di sekitarnya dengan tatapan heran. Yang lain cuma ngontrak! Dan gadis yang ditunggunya, telah berdiri di hadapannya dalam jarak sepuluh anak tangga, dengan mata terbelalak kaget. Ragu-ragu, si Gadis melangkah perlahan. Si Pemuda gondrong hanya bisa meringis, seraya mengedipkan sebelah mata.
"Jay? Kamu, eh,... ka-kamu ngapain?" Sedikit terbata gadis itu.
Pemuda itu, Jay, melepaskan gigitannya, lalu menyodorkan mawar merah darahnya.
"Buat kamu, dari aku." Gadis itu, sedikit gemetar, mengulurkan tangan menerima. Dan bunga itu pun berpindah tangan. Sontak, bergemuruh tepuk tangan dan celotehan usil. Teman-teman si Gadis ternyata telah bergerombol menonton `adegan dramatis' itu sejak tadi. Si Gadis tak kuasa menahan gelombang perasaannya yang bergantian muncul. Malu, jengah, senang, dan juga tersanjung. Seumur hidup, belum pernah ada laki-laki yang memperlakukannya sedemikian rupa. Ia hanya tertunduk, dengan wajah memerah bagai kepiting rebus. Tinggal disantap! Pemuda itu meringis riang, ia terlihat begitu tenang dan tak peduli pada situasi di sekitar mereka yang masih riuh-rendah oleh suara-suara nakal warga Kampus Merah. Dasar sirik!

"Heiii, Shinta......?" Gadis itu mengangkat wajahnya yang masih kemerahan.
"Hmm?" Hanya itu yang bisa keluar dari bibir indahnya.
"Cabut yuk!" Berkata begitu, Jay langsung menggenggam jemari si Gadis dan menariknya lembut. Gadis yang dipanggil Shinta hanya menurut saja. Ia merasa seluruh tubuhnya seolah tak bertulang. Jemarinya yang digenggam si Pemuda dialiri keringat dingin. Mereka berlalu, dengan iringan tepuk tangan para pemirsa tercinta. Kali ini lebih kencang dari yang pertama.

"Jahat! Kamu jahat, Jay!!" Shinta memukul-mukul punggung Jay dengan gemas, ketika mereka berdua sudah duduk berboncengan di atas motor besar pemuda itu. Jay tersenyum-senyum kecil. Ia masih menikmati desiran angin di sela-sela rambut gondrongnya. Tanpa menoleh, ia berteriak lantang, "Aku suka kamuu, Shintaaa!" Sontak, Shinta membelalakkan matanya, lalu melirik ke kiri-kanan. Mereka masih berada di lingkungan kampusnya, dan beberapa mahasiswa yang sedang berjalan di dekat mereka terlihat tersenyum-senyum geli. Tanpa disadarinya, Shinta ikut tersenyum. Wajahnya merunduk di samping telinga Jay, "Kamu bandel!" bisiknya lirih, sambil menyelusupkan jari ke balik jaket pemuda itu, lalu menghadiahkan cubitan kecil.
"Wadaaaoow!" jerit Jay, dan tiba-tiba menarik handel rem. Shinta yang tak menyangka aksi itu, spontan memeluk tubuh si Pemuda dari belakang. Hanya beberapa detik, Shinta langsung melepaskan dekapannya. Wajahnya terlihat merajuk, dan memerah kembali. Ia tak ingin disangka mengambil kesempatan.
"Apaan sih, Jay?!" jerit gadis itu seolah-olah sedang marah. Khas perempuan, selalu `jaga image'.
"Lhah, kamu, pake nyubit segala!" Jay mengusap-usap pinggangnya. Lumayan merah juga. Anak ini bener-bener mirip kepiting, batin Jay.
"Abis, kamu bandel banget sih..." Shinta memperhatikan lagi ke sekeliling. Mereka sudah berada dekat lapangan basket di belakang kampus. Syukurlah, tak ada orang di sini, batin Shinta lega. Cukup dua kali saja ia jadi tontonan hari ini.
"Kalo pengen meluk, bilang aja deh, aku ikhlas kok," goda Jay lagi.
"Yeey, enak aja!" Shinta membuang muka.
"Emang enak!" timpal Jay cepat.
Shinta sudah tak berani bicara.
"Shin...." Jay berbisik lembut. Ia membalikkan punggung, menatap wajah gadis itu dari dekat. Shinta melengos, membuang muka ke samping. Dadanya sudah berdebar tak karuan. Napasnya memburu cepat, seirama dengan dadanya yang naik-turun.
"Aku pengen dipeluk lagi." Ucap Jay sambil berbalik ke depan, seraya menarik gas. Shinta tak bergeming.
"Masih malu-malu, dia," batin Jay geli. Kuda besi dengan dua penunggang berbeda jenis itu kembali menderu.

"Memangnya, kenapa kamu ngelakuin itu semua tadi, Jay?" ucap Shinta, ketika mereka sudah keluar dari areal kampus. Belum lima menit, dan gadis itu sudah tak tahan untuk berdiam diri. Jay tersenyum simpul, "Aku udah bilang, `kan?"
"Apa? Kamu suka aku??" tukas gadis itu cepat-cepat. Ada nada tak percaya di sana. Juga keceriaan. Dan Jay bukannya tak tahu.
"Iya."
"Trus?" Shanti masih mengejar. Seketika ia sadar sudah bertindak agresif. Sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama ini. Sesuatu yang justru selalu dilakukan oleh pemuda-pemuda lainnya. Ia mulai terheran-heran pada dirinya sendiri.
"Ya udah. Itu aja...." Sahut Jay kalem. "....dulu." lanjutnya sambil terkekeh dalam hati. Gadis di belakangnya seketika tersenyum kecut. "Itu aja...?" batinnya kecewa.
"Tapi, aku minta tolong nih..." ucap Jay kemudian.
"Hmmm...?"
"Pinggangku masih sakit abis kena cubit, nih."
"Pegangin dong....." lanjut Jay lagi. Shinta tersenyum manis sekali. Sayang Jay tak bisa melihatnya. Tangan Shinta terulur ke depan, mengusap pinggang Jay yang dicubitnya tadi. "Eh, yang satunya juga sakit, tuh. Nular kayanya!" seru Jay. Shinta nyaris tergelak. Ia mengerti maksud pemuda itu. Membungkukkan punggung, diraihnya pinggang si Pemuda dengan kedua lengannya. "Begini?" Ia memegang pinggang Jay dengan lembut. "Belum. Gini nih." Jay menarik handel rem dengan cepat, membuat tubuh Shinta terdorong ke depan dan menempel dengan punggungnya. Lalu menarik gas kembali. Gadis itu sudah memeluk tubuh Jay dengan erat. Hangat. "Terima kasih..." bisik Jay sambil berpaling ke wajah gadis itu yang kini begitu dekat dengan wajahnya. Kelopak mata gadis itu sudah terpejam, dan Jay dapat merasakan hembusan nafas si Gadis di pipinya. Cut!! Seketika Jay menyadari bahwa ia sedang melaju di jalanan. Terburu, ia membalikkan kepala ke depan, persis ketika seekor kucing sedang melintas di depannya. Sigap, ia membanting setir, bermanuver ala pembalap Grand Prix. "Batal mati, kamu, Pus!!" umpatnya dalam hati. Shinta yang kaget dengan manuver itu, spontan membuka mata. "Kenapa, Jay?" tanyanya heran. "Nggak pa-pa..." jawabnya gusar, "hampir bikin sate kucing, kita." Dasar, kucing nggak tau orang seneng.....!

Jay menghentikan motornya di depan pagar Asrama Putri. Langit sudah terlihat gelap. Mereka berdua memang sejak sore tadi, berkeliling kota tak tentu arah. Shinta melangkah turun. Ia sebenarnya belum ingin berpisah dengan pemuda ini. "Jay, nggak mampir dulu?" ucapnya berharap. "Wah, aku kudu cepet balik, Shin. Ada kerjaan buat besok." Shinta mengangguk kecewa. Senyumnya terlihat dipaksakan. "Oke deh. Makasih ya, udah dianterin." Bola mata indahnya sedikit meredup. Jay meringis lucu. "Hahaha! Aku yang makasih! Boleh ngebawa kamu kemana-mana! See you, Shin!" Jay menstarter motornya, dan berlalu pergi. Shinta masih berdiri memandangi punggung pemuda itu, sampai menghilang di ujung jalan. Lalu melangkah gontai ke dalam asrama. "Masih ada esok hari, Shin!" hibur hatinya.

Dengan tombak, mangsa menggelepar sekejap, lalu mati Dengan pancing, mangsa menggelepar lebih lama, lalu mati

Target locked...missile approaching..zzzzccchhh...!! Tiga belas hari menjelang Deadline...

Terus terang saja, Dewi sedikit minder siang itu, ketika Ray membawanya jalan-jalan ke mall. Bagaimana tidak, seharian tadi Dewi sudah sebegitu sibuknya, hingga lupa memperhatikan kodisi diri. Sementara Ray, pemuda yang memeluknya dari belakang di eskalator itu, terlihat cerah. Beberapa langkah di lantai empat, Dewi mendekat dan berbisik. "Ray, kamu ngga apa-apa? Aku kusut, loh." Pemuda di sebelahnya menoleh tanpa menghentikan langkah.
"Kamu ini," kata si pemuda, "sudah berapa kali nanya begitu? Aku kan sudah bilang, aku tak perduli. Mau kamu baru bangun tidur, kek, pakai piyama, kek, pakai kebayanya Mpok Echa, kek. Aku tak perduli. Sudahlah, cuek saja."
"Eh, siapa itu Mpok Echa?"
"Tukang pecel kumel di sudut gang."
"Hih, sialan.," tawa Dewi gemas.
"Namanya gaul. Echa."
"Nama aselinya Surtinah."
"Nah loh? Ngga ada miripnya."
"Makanya itu. Aku tadi nyomot dari mana, ya?" Dewi tergelak. Pemuda itu lalu meletakkan lengannya di pundak si gadis, menariknya ke dalam pelukan yang erat dan hangat. Beberapa orang tersenyum menyaksikan mereka. Pengantin baru nih ye, salah seorang berbisik agak keras pada yang lain. Kebahagiaan Dewi, sampai ke tulang sumsum.

"Aku jadi mikir nih, De," mendadak Ray menyeletuk.
"Apa?" tanya si gadis.
"Bagaimana kalau kamu telanjang jalan-jalan di mall."
"Hiih!" Dewi mencibir, jemarinya terulur. Mencubit mesra.

Siang sampai sore mereka habiskan di dalam bioskop. Ray-sengaja-mematikan handphone di sakunya. Tak ingin ada yang mengganggu, bahkan orang media sekalipun. Semua berjalan begitu indah, begitu mulus, sebuah kesempurnaan. Selama di bioskop, dalam kegelapan, dua kali Ray mengecup bibir si gadis, dan sampai film yang diputar hampir selesai mereka berpegangan tangan. Mirip anak SMA. Orang-orang di luar memandang mereka berdua saat keluar dari pintu bioskop. Rambut keduanya benar-benar mirip sekarang. Mirip genderuwo, gombal di sana sini. Cengiran terlihat di wajah mereka. Tadi, sebelum film berakhir, beberapa penonton sempat menggerutu, mendengar mereka tertawa-tawa sendiri. Waktu itu, Ray, yang sebal ketika Dewi menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya, mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas. Buntutnya, mereka saling mengacak-acak rambut satu dengan lainnya.

"Tuh, kan, lihat nih. Aku jadi kucel abis," gerutu Dewi, seraya meraba-raba rambutnya. Di sampingnya, Ray seolah tak perduli, malah asik menggoyang-goyangkan kepala a la Van Halen, hingga rambutnya jatuh semua ke depan. Beberapa tatapan mata kagum melayang melihat rambut ikalnya.
"Terus? Kamu mau ngapain lagi? Mandi di sini? celoteh Ray kemudian. Dewi meninju lengan si pemuda, "Kalau ada sabun, kenapa tidak?" Ray tertawa. Katanya, "Kamu tuh udah cakep. Mau bukti?"
"Bukti?"
"Iya," sahut Ray, lalu menarik lengan si gadis, setengah menyeret menelusuri lorong keluar. Dewi tak bisa menebak apa yang ada di dalam benak pemuda itu. Sampainya di depan bioskop, Ray menghentikan langkahnya. Berbalik, ia menatap mata gadis di depannya.
"Mau bukti?" Dewi memiringkan kepalanya. Menunggu, walau dalam hati ia seratus persen yakin pemuda itu akan melakukan sesuatu yang gila. Gadis itu melihat Ray tersenyum. Kedua lengan si pemuda terulur. Dalam satu gerakan cepat, Ray sudah memeluk kedua paha gadis itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kamu," desis Ray saat gadis itu masih di dekapannya, "sudah cantik." Dewi memekik. Suara tawa terdengar di mana-mana. Sekejap para pengunjung food court merasa hangat. Sepasang suami isteri tanpa sadar menyatukan jemari mereka dalam genggaman. Seorang gadis di depan counter McD memeluk pacarnya yang tersenyum, ingin ia diperlakukan demikian.

"Kamu gila, ayo sini!" Dewi menggerutu kemudian, seraya menarik lengan Ray menjauh. Pemuda itu hanya terkekeh-kekeh. Senyumnya ditujukan membalas cengiran semua orang yang memandangnya. Di gang depan elevator, Dewi berhenti. Nafasnya tersengal. Gadis itu merasakan jemari Ray mengusap rambutnya. Dewi mengangkat kepala, melihat Ray tersenyum di balik helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Aku mau peluk kamu. Boleh?" tanya pemuda itu seperti berbisik. Dewi tersenyum. Ray menarik gadis yang masih terengah itu dalam pelukannya.
"Lain kali jangan pernah minder ya, kalau sedang bersamaku." Gadis dalam dekapan mengangguk lemah. Ia tak berdaya di depan pemuda itu.

Dalam elevator yang sepi, mereka berciuman.

Basement yang sepi. Mesin mobil hidup. Ray melumat bibir gadis di pelukannya. Gadis itu memejamkan matanya, jelas ia sangat menikmati perlakuan pemuda itu padanya. Setiap sentuhan bibir yang lembut. Helai-helai rambut yang terkadang menggelitik lehernya. Pelukan si pemuda membuat Dewi merasa nyaman. Mata gadis itu terbuka dengan sirat kekecewaan saat Ray melepaskan tubuhnya. Kesunyian menyusup diam-diam, mencuri waktu, sampai mereka keluar dari mall. Ray termenung dalam pikirannya sendiri. Ia merasa ada sesuatu yang salah, yang ia sendiri belum bisa mengerti apa adanya. Semua sudah berlangsung dengan seharusnya, sesuai dengan apa yang diinginkannya untuk terjadi. Namun di elevator tadi, saat ia melumat bibir gadis itu, ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan, tak bisa dilihat dan diungkapkan dengan kata. Ray membuang pikirannya jauh-jauh saat merasakan Dewi menggenggam jemarinya.

"Ada apa?" tanya si pemuda. Dewi tersenyum dengan tubuh dimiringkan, hingga menghadap si pemuda. Jemarinya yang menempel di jemari Ray bergerak, mengelus, meraba.
"Ada apa?" tanya Ray lagi, kali ini sambil menoleh dan tertawa. Dewi menggelengkan kepalanya.
"Aku tak kunjung kehilangan heran," kata gadis itu lirih.
"Heran?"
"Ya," lanjut si gadis, "heran kenapa kita bisa bertemu. Untukku, kamu seperti seorang asing yang masuk tanpa ketuk pintu. Tapi kenapa ya, kok aku tidak bisa mengusirmu keluar setelah kau masuk."
"Kamu mau mengusirku?" senyum Ray, matanya memandang lurus ke depan. Dewi menggeleng, "Tidak. Aku tak ingin kamu pergi malah."
"Kamu mencintaiku," ucap Ray menuduh. Gadis di samping si pemuda tersenyum. Dewi menggunakan lengan Ray untuk menarik tubuhnya mendekat. Satu susupan di lengan si pemuda, Dewi menempelkan tubuhnya, menyandarkan kepala di pundak Ray. Si pemuda menoleh dan nyengir. Ia melepaskan pegangannya di setir mobil, lalu mengelus rambut si gadis.
"Ray! Siapa yang nyetir?" seru Dewi setengah tertawa. Ray, dengan sikap tenang berkata, "Biar saja. Ini kan mobil otomatis."

Teeeettt!! Teeeettttt!! C'kiiiiiittt! "Hey!!"

Di tengah jalan. Di tengah keramaian pengemudi gusar. Mobil itu berhenti. Salah seorang sopir taksi turun dari mobil, menghampiri dengan jemari terkepal.
"Hey, kamu....," kata-katanya terhenti. Di dalam mobil itu, dua makhluk berpagutan, berpelukan. Melekat. Si sopir serba salah. Ingin mengetuk, tapi kok rasanya tidak toleransi. Ia teringat, dulu juga ia pernah muda. Menghentikan becaknya di pinggir sawah. Mengecup bibir perawan desa yang kemudian menjadi isterinya. Mirip di tipi-tipi. Si sopir akhirnya surut kembali ke mobilnya. Kerinduannya akan sang isteri muncul. Saat si sopir melewati mobil yang masih berhenti itu. Ia melihat lengan kanan orang di belakang setir terangkat. Sebuah jempol teracung.

A Fish Called Shinta tiga belas hari sebelum Deadline

Aku melayang mengarungi masa
Hingga hilang semua asa
semua pedih
semua sesal

Jay berlari-lari menyeberangi lapangan sepak bola itu. Menuju motornya yang terparkir anggun di ujung lapangan. Rambut gondrongnya berkibar-kibar seirama dengan jaket kulit hitam yang dikenakannya. Seolah berkejaran dengan degup jantungnya yang bertalu-talu. Memaki dalam hati, pada keadaan yang membuatnya terjebak di tempat itu.
"Shit! Sial bener!" Dengan tergesa, diraihnya setang motor, lalu memutar kunci cepat-cepat. Sedetik kemudian, dengan suara menggelegar, motor itu melompat garang. Seperti anak kucing yang terinjak ekornya. Menakjubkan. Jay masih saja memaki-maki dalam hati. Kalau bukan karena tugas dari kantor yang mengharuskannya meninggalkan Surabaya selama empat hari, ia pasti sudah merangkai salah satu roman terbaiknya bersama Shinta. Dan semua karena satu hal : Profesionalisme. Bah! Sudah sejak dua hari yang lalu, tidur malamnya selalu tak nyenyak. Pasti karena di lapangan itu banyak nyamuk. Dan yang paling mencintai darahnya, adalah nyamuk betina yang dinamainya : Shinta. Mendadak, berkelebat wajah yang paling ingin dilupakannya saat itu dalam pikirannya. Wajah seorang berambut gondrong lain, yang tiba-tiba menyeringai dengan dua taring berlumuran darah segar. Darah perawan. Sigap tak mau kalah, ia balas menyeringai. Memamerkan dua gerahamnya yang kering. "Aku kalah..." bisik hatinya malu. Tapi Jay masih memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Ia berharap pada keajaiban.

Jay memasukkan koin terakhirnya ke kotak telpon di hadapannya. Ia sudah berlarian kesana-kemari sambil mendorong motornya yang kehabisan bensin, untuk mencoba menelpon Shinta. Dan sialnya, semua kotak telepon yang dicobanya, menelan dengan kejam koin-koin harapannya.
"Ini yang terakhir..." batinnya sedih. Sudah dilupakannya emosi yang membuatnya nyaris merontokkan kotak terakhir, juga kekesalan pada kebodohannya yang lupa mengambil dompet dan ponsel yang dititipkannya pada seorang kru di lapangan bola di kota Malang siang tadi. "Kling." Ia menatap layar di kotak itu dengan serius. Tapi tak ada yang berubah di sana. Tiba-tiba, Jay merasa tanah yang dipijaknya berputar. Ia lalu terduduk di tepian jalan. Bersandar di sisi motor kesayangannya. Lemas. Dan merasa begitu tak berdaya. Perlahan, ia merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebatang kretek kegemarannya. Menimang-nimang beberapa saat, lalu menusukkannya lembut di sela bibirnya, seraya menyalakan Zippo di tangan yang lain. Mulai mengepulkan asap. Bergumam lirih, "Aku belum kalah, Ray.... " Mata Jay menerawang ke langit biru di atas sana. Perlahan, sosok yang tadi hanya menyeringai, kini mulai terkekeh dan tersenyum riang. Jay merasa perih di dadanya. Tiba-tiba, ia begitu ingin menangis. Tapi tak bisa. Dalam kelelahan dan rasa putus asa yang menyesak, Jay terlelap di situ. Ia pun tak terusik, ketika gerimis mulai berjatuhan dan langit mulai gelap. Jay menggeliatkan badan geli, ketika sesuatu yang hangat terasa menyelusup ke balik jaketnya. Sekejap, ia sudah tersadar. Hujan telah benar-benar deras, dan matahari sudah tak ada di atas kepalanya. Sigap, dikuaknya kerah jaket kulitnya. Di dalam sana, seekor anak kucing, basah dan kedinginan, sedang meringkuk mencari kehangatan. Jay tertegun sesaat, saat mata mereka bertatapan. Detik berikutnya, ia sudah tertawa terbahak-bahak. Langit seolah terang-benderang baginya. "Huahahahaaha! Aku belum kalah, Ray! Belum!" "Hahahahahahaa!" Tawanya membahana menyaingi derasnya hujan yang turun. Ia baru saja mendapat pencerahan.

Shinta melirik kembali dari balik gorden di ruang tamu asrama. Ia berharap-harap cemas. Sudah empat hari, pemuda itu tak menghubunginya. Tidak sepatah kata pun, sejak saat terakhir mereka bersama.
"Aku mau ke Malang, Shin. Ada event di sana."
"Jadi, kapan kamu balik?"
"Heheheh... nggak ngerti. Ngerti juga, aku nggak mau kasih tahu. Biar surprise!" Jay meringis menggoda gadis itu. Ia benar-benar menikmati mimik gadis di depannya. Yang sedang tersiksa antara gengsi dan rasa tak ingin ditinggalkan. Gadis itu sebenarnya hanya tak ingin dianggap `gampang'. Tapi Jay, juga sedang berjudi dengan umpannya kali ini.
"Apaan sih, kamu! Bilang gitu aja nggak mau!" Shinta memanyunkan bibirnya.
"Emang, ada yang nungguin?" goda Jay sekali lagi.
"........."
"Ya udah, aku pergi dulu."
"Jay, telpon ya?" akhirnya hanya itu yang bisa terucap dari bibir Shinta. Jay hanya menggelengkan kepala cepat. Senyum simpulnya masih ada di sana.
"Sorry. Be Professional, right?" tukasnya sebelum melambaikan tangan dan berlalu dengan motornya. Dalam benaknya, Jay berkhayal, gadis itu akan berteriak memanggil namanya sambil terisak. Lalu, ia akan berbalik. Menghentikan motornya, mengembangkan pelukannya, dan menikmati tiap tetes air yang mengalir di dadanya. Membelai rambut panjang Shinta, mengucapkan kata-kata penghibur hati, dan akhirnya, mendaratkan kecupan di bibir gadis itu. Tapi itu semua memang hanya khayalannya saja. Karena gadis itu segera berlari masuk ke asrama, dan membanting daun pintu keras-keras. Marah. Jay tersenyum sendiri. Khayalan konyol, pikirnya.

Untuk ketiga kalinya, Shinta menyibakkan gorden itu. Ia mencoba melihat menembus derasnya hujan yang mengguyur kota sejak sore tadi. Entah kenapa, rasa rindunya benar-benar tak tertahankan hari ini. Lalu, matanya menangkap bayangan itu. Seolah keluar dari kegelapan malam. Yang makin lama makin mendekati Asrama Putri. Melangkah setengah terseret, seperti tak bertenaga. Sesosok pemuda yang memeluk gumpalan gelap sedang mendorong motor besar.
"Jay!" jerit Shinta tertahan. Tak mempedulikan hujan yang masih mengguyur di luar, Shinta berlari dan terhenti di depan pagar yang sudah terkunci. Ia benar-benar tak memikirkan apapun lagi. Bahkan untuk sekedar mengambil payung. Dengan gelisah, dipandanginya Jay yang tersenyum tipis kepadanya. Rambut gondrong pemuda itu basah kuyup oleh air. Begitu pula wajahnya yang terlihat pucat. Tubuh kurus dan belulang iganya melekat erat dari balik T-shirt berwarna putih tipis.
"Jay, kamu nggak apa-apa?" mata Shinta sudah berkaca-kaca.
"Sssh...udah. Aku nggak pa-pa." Jay mengucapkannya dengan bibir bergetar karena dingin yang menusuk. Shinta yang menyadarinya, merasa dadanya bagai diiris. Jay mengangsurkan gumpalan dalam pelukan lengan kirinya, yang ternyata jaket kulit hitam miliknya.
"Ini, tolong kamu rawat. Kasihan...." Shinta menerima jaket itu dengan perasaan heran, dan sedikit terkejut, ketika disambut dengan tatapan mata yang polos dan suara mengeong. Kucing?
"Aku nemuin tadi di jalan, kehujanan," sambung Jay lambat-lambat, "mau kan?" Shinta mengangguk. Air matanya sudah berderai tak tertahan, meski tanpa suara.
"Jay..." Shinta tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Jemari Jay yang dingin sudah menggenggam erat jarinya.
"Aku, cuman mau bilang.... aku sayang kamu...." Ada suatu kehangatan di bola mata Jay saat mengucapkannya. Shinta tak mempedulikan semua teriakan dari ego dan harga diri di kepalanya yang selalu menghantuinya selama ini. Ia memeluk tubuh pemuda di depannya dengan satu tangan. Merengkuh erat. Dari sela-sela pagar.

CHAPTER THREE - PREPARING FOR THE BEST PART

Dua puluh hari waktu ditetapkan, berburu ikan
Ikan dapat, disayang, mau dibunuh-dimakan
Lalu ikan dibuang....

Enam hari sebelum Deadline
Some faces of Ray

Beberapa menit ia membiarkan keheningan menemaninya. Saat-saat seperti itu, adalah saat-saat yang paling dinikmati oleh Ray. Ketika di mana pikirannya bisa berjalan lebih lancar. Ia termenung menatap rintik yang masih belum juga reda di luar rumah. Terkadang, pemikiran tentang adanya suatu kata `dosa' bisa membuatnya terpekur seperti itu. Tapi seperti kebiasaan yang sudah melaju dalam darahnya. Tiada kata menyesal! Senyum itu muncul saat ia mematikan puntung rokok di jemarinya. "Gadis, kasihan sekali," bisiknya, lalu bangkit berdiri.

Wanita memang bagaikan roman picisan. Tak ada yang menarik selain sentuhan, kehangatan dan kelembutan bibir. Selain itu, semua bisa didapat di mana-mana. Bahkan di emper toko sekalipun. Untuk semua itu, Ray menganggap tak lebih dari sekedar rendesvouz dalam detik-detik yang ia jalani. Intermezzo. Sesuatu yang melintas di jalan sepi, untuk kemudian menghilang-muncul lagi dalam sosok yang berbeda. Sekarang, ia akan mengakhirinya. Kejam? Ataukah baik-baik? Semua itu tergantung pada dirinya sekarang. Beberapa orang suka membahas tentang `cara bermain layang-layang'. Cara yang digunakan orang-orang untuk mempertahankan sesuatu yang menyenangkan, yang dipastikan akan tetap ada saat diperlukan. Bukannya Ray tidak memikirkan tentang hal itu. Tapi menurutnya, biarlah kali ini lepas semuanya, tersapu bersih. Ia tak ingin diganggu nanti. Tidak oleh Dewi.

Menabur benih cinta, sebuah perkara yang mudah. Menyemainya, jauh lebih mudah. Pria terjahat di dunia itu sudah siap kini. Menghancurkan impian, itu misinya. Satu seduhan di cangkir kopi Jawa Timur, Ray meraih kunci mobil. Pikirannya hanya satu, yaitu tentang kebekuan yang sudah dipeliharanya lama lalu. Yang harus keluar sekarang. Sudah tiba masanya. Sekali lagi berkelebat pertanyaan: Kejam? Ataukah baik-baik? Ebes menggeleng-gelengkan kepala saat melihat pemuda itu berlalu tanpa kata. Belum membayar pula. Tapi dalam hati Ebes, ia sudah mengerti saat-saat itu. Ketika di mana Ray terlihat serius. Tak ingin dan tak bisa diganggu.

Menelusuri jalanan, Ray memikirkan banyak hal. Sebetulnya Dewi bukanlah seorang gadis yang tak masuk dalam hitungannya. Gadis itu cantik, baik, dan punya segudang kelebihan dibanding gadis-gadisnya yang lalu. Tapi seperti kata orang-orang, jika ingin mengerjakan sesuatu, jangan campurkan dengan kesenangan. Di sebuah tikungan, Ray berhenti. Menekan beberapa tombol di handphone. Sebuah sapaan bernada girang terdengar dari seberang.
"Halo, Ray."
"Hai," sahut Ray.
"Ada apa? Katanya kamu banyak kerjaan hari ini?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu. Itu saja."
"Lewat telepon?"
"Seandainya bisa."
Suara tawa terdengar dari seberang. Lama setelahnya, hening.
"Ya kamu ke sini saja."
Ray tersenyum. "Tidak terlalu malam untukmu? Nanti kalau ketahuan..."
"Tidak. Ke sini saja, aku akan menemuimu di luar." Dalam perjalanan menuju Asrama Puteri, Ray merasa sedikit bingung. Ia memang terkadang terlalu impulsif dalam mengambil keputusan. Seperti yang baru saja ia lakukan. Untuk apa ia malam-malam datang ke Asrama Puteri? Hanya untuk menemui Dewi? Omong kosong, pikirnya. Lalu? Lalu aku hanya akan membuktikan bahwa ia bukan apa-apa, ucap Ray, masih dalam hati. Dengan tersenyum penuh percaya diri, Ray membiarkan konsentrasinya kembali ke jalan raya.

Dewi sudah menunggunya di depan pagar, saat ia tiba. Ray menurunkan jendela mobil, lalu tersenyum dan berkata,
"Aku tidak ingin tahu caramu keluar."
Gadis itu tertawa. Ray mengeluh dalam hati, gadis itu cantik sekali. Satu lambaian tangan kemudian, Dewi sudah membuka pintu mobil dan masuk. Ray tertawa kecil saat melihat gadis itu hanya duduk diam. Pandangan gadis itu seoah mengatakan bahwa ia menunggu pelukanku. Tanpa berkata apa-apa, Ray memiringkan tubuhnya dan memeluk gadis di sebelahnya.

Satu kecupan mesra di bibir, lalu Ray merebahkan kepalanya di pangkuan si gadis.
Dewi membelai rambut pemuda itu dengan lembut.
"Ada apa kamu? Kok jadi melankolis begini?"
"Tidak apa-apa," bisik si pemuda, "aku hanya ingin dipeluk."
"Manja."
"Memang, inilah aku."
Dewi tertawa kecil, sebelum membungkuk dan mengecup daun telinga Ray.
"Aku sudah menduganya. Bermanjalah, kapanpun kamu mau." Ray tersenyum, lalu menutup matanya. Sesuatu yang tak pernah ia pungkiri, adalah ia suka saat-saat kepalanya berada dalam pangkuan seorang wanita. Pangkuan itu lebih bisa membangkitkan nyamannya dibanding kasur dan bantal yang empuk. Penyakit lama. Mother complex. Dibawa kemana-mana. Menit-menit berlalu, tanpa terasa. Dewi tersenyum saat merasakan pemuda itu sudah terlelap. Nafasnya menghembus perlahan. Si gadis menyibakkan rambut yang menutupi samping wajah Ray. Mengamati beberapa lama, Dewi terenyuh. Di sudut mata pemuda itu, ia bisa melihat kerutan-kerutan. Wajah yang ada di pangkuannya itu, tidak seperti wajah yang biasa dilihatnya selama ia mengenal pemuda itu. Wajah ini sungguh jauh dari apa yang namanya bahagia. Dewi percaya, bahwa saat seseorang tertidur, itulah saat-saat di mana orang lain bisa melihat apa di balik semua cerita tentangnya. Dan mengingat hal itu, membuat Dewi berbisik lirih.
"Siapakah kamu sebenarnya?"
Seolah mendengar, tubuh Ray bergerak. Kedua ujung bibirnya tertarik. Pemuda itu sedang tersenyum. Dewi menghela nafasnya dalam-dalam. Gadis itu meletakkan sebelah tangannya yang bebas ke bahu Ray, lalu menyandarkan tubuhnya. Dewi memejamkan mata. Menikmati kebersamaan itu. Aku terlalu banyak menduga-duga, pikir gadis itu kemudian. Ray adalah Ray, yang sekarang berbaring di pangkuanku. Lain tidak. Aku percaya padanya.

Ray terbangun lama kemudian. Menggeliat. Tidur yang nyaman, setelah beberapa hari kesibukan menyita waktunya untuk tetap terjaga. Pemuda itu menoleh dan melihat wajah Dewi dan senyum gadis itu di atasnya. Dalam tidurnya, Ray teringat sebuah perasaan aneh yang dirasakannya saat di elevator tempo hari. Sesuatu yang gawat. Ia merasakan kehangatan dari gadis itu! Matanya menatap mata gadis itu sekarang, mencari perasaan itu. Ia menemukannya.
"Kamu kenapa?" tanya Dewi setengah berbisik.
Ray menggelengkan kepala. "Tidak," katanya, "kamu begitu istimewa."
"Istimewa?" tanya Dewi ingin tahu.
"Ya," lanjut Ray, "jarang ada gadis yang bisa membuatku hangat." Dewi tertawa kecil. "Kamu itu ada-ada saja," katanya, tapi mau tak mau wajahnya memerah, malu bercampur bangga. Ray bangkit dari pangkuan si gadis. Beberapa saat lamanya ia memandangi mata Dewi, membuat gadis itu merasa rikuh.
"Pandanganmu," bisik gadis itu, saat ia tak tahan lagi. Ray tertawa. Pemuda itu mendekatkan bibirnya ke telinga si gadis. Satu kecupan di pipi, Ray berbisik, "Kalau aku mengajakmu untuk bercinta. Kamu mau?" Dewi menoleh tanpa sadar. Wajah mereka benar-benar dekat kali ini. Gadis itu terdiam, tak tahu harus mengatakan apa. Ray tak pernah berkata demikian-diluar guyonannya yang memang terkadang menyiratkan keinginan untuk itu. Selama ini Dewi beranggapan Ray hanya bercanda. Tapi saat itu, ia melihat satu keseriusan di mata si pemuda.
"Ray, aku....."
"Ssshh," Ray berbisik. Bibirnya meraih bibir si gadis. Lama. Waktu seolah berhenti. Dewi mengerenyitkan alisnya. Kali ini berbeda. Ada sesuatu yang lain dalam kecupan itu. Sesuatu yang memaksanya untuk menyerah. Gadis itu terengah saat Ray melepaskan bibirnya. Ray menggeser wajahnya, menempelkan pipinya ke pipi si gadis, menghembuskan nafasnya halus, memastikan gadis itu merasakan getaran-getaran penggoda.
"Apa itu tadi, Ray?" bisik Dewi lirih.
"Itu," desah Ray di telinga si gadis, "namanya kehangatan. Keinginan. Hasratku." Dewi memejamkan matanya. Perlahan tapi pasti, angannya terbuai. Terlena. "Besok datang ke rumah?" desis Ray kemudian. Tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Dewi mengeluh dalam hatinya. Ia benar-benar kebingungan kini. Gadis itu merintih dalam hati. Hasratnya bergejolak. Satu anggukan kecil terjadi kemudian. Tak bisa dilihat Dewi, Ray membuka mata dan tersenyum. Gotcha!! Kehangatan yang kauberikan untukku akan membuatmu jatuh.

"Sekarang," bisik Ray, lalu tiba-tiba menarik tubuhnya mundur.
"Sekarang?" Dewi bertanya, Jantungnya berdegup kencang. Apa maksudnya? Dalam debar jantungnya, gadis itu melihat pemuda di sampingnya membungkuk, lalu meraih-raih sesuatu. Sesaat kemudian, kaki pemuda itu sudah berada di atas kursi. Dewi tergelak tanpa bisa ditahan.
"Aduh," gerutu Ray, "sori jempolku..."
"Aku tahu," potong Dewi, "jempolmu birahi, kan?" Ray mengangkat kepalanya, memandang dengan wajah bodoh. Mereka berdua lalu tertawa. Segala rasa kikuk menghilang, berganti dengan kemesraan. Dewi masih menyimpan debaran itu di dadanya. Ray pulang beberapa saat kemudian tanpa menyinggung tentang ajakan itu lagi.

Delapan hari sebelum Deadline Some faces of Jay

Jay mengetuk-ngetukkan pangkal kreteknya ke kaca arloji. Ia sedikit sebal dengan warung rokok di ujung jalan sana. Bukan apa-apa. Masa rokok kretek idolanya seempuk tahu Ebes?! Benar-benar merusak selera, batin Jay lagi. Ia sedang duduk di bawah sebatang pohon di parkiran Kampus Merah. Sesekali, hidungnya menarik cepat cairan yang nyaris menetes dari lubang hidungnya. Sejak empat hari yang lalu, ia terserang influenza berat. Dan belum membaik hingga saat ini. Entah kenapa, ketahanan tubuhnya kini menurun drastis. Ia semula sempat khawatir, jangan-jangan si OHIDA - Ray, telah menularkan virusnya hari-hari kemarin, waktu mereka berbagi secangkir kopi di Warung Senang. Atau juga karena TBC yang diidapnya sudah melewati tahap stadium menengah? Entahlah. Jay sedang mencoba tak peduli dengan tubuhnya. Ia sedang mengkhayalkan tubuh yang lain. "Heheheh..." Jay terkekeh sendiri. Mirip orang gila di RSJ Menur sana. Dasar.

Jay masih terlena dengan segala khayalan kotornya, bahkan saat dua telapak tangan mungil mendekap erat kelopak matanya dari belakang. Ia bahkan mulai tertawa-tawa dengan nada cabul, sementara si pemilik tangan yang semula tersenyum-senyum riang berubah melongo atas reaksi pemuda itu.
"Heheheh.... yaa.. matiin aja lampunya... heheheh.. mmhhh"
"Aduh, geli sayaaaang, jangan digelitikin dooong...!"
"Hehehe.... jangan dibuka dulu ritsluitingnyaa... uuuhhh" Jay meracau makin tak keruan. Gadis itu, Shinta, sontak melepaskan tangannya. Kedua alisnya tersambung. Ia melangkah ke depan Jay, mengamati wajah pemuda itu yang lalu berseru, "Yaa! Kok dinyalain lagi lampunya!" protes Jay sambil tetap memejamkan mata.
"Jay!" Shinta berteriak kesal.
"Hah??" Jay membuka kedua matanya. Kaget. Satu-satunya yang masih tulus dari Jay. Shinta berkacak pinggang dengan muka masam. Bibirnya yang semestinya indah, sudah bertekuk bagai lapis legit Surabaya. Tapi Jay tak pernah suka makanan yang manis-manis. Bikin diabetes, katanya satu kali.
"Euuhh, ada apa, Sayang?" Jay mencoba merayu dengan wajah dipolos-poloskan.
"Kamu abis ngapain, barusan?!" Shinta menatap penuh selidik. Ia mencari tanda-tanda ketidak sadaran di wajah pemuda itu. Tapi yang ditemuinya malah wajah malu-malu dan tatapan seorang maling jemuran yang tertangkap basah.
"Aku.. aku... abis fantasi....." Jay akhirnya berkata jujur. Wajahnya menunduk ke rerumputan. Sesaat, ia berharap ada uang receh yang tercecer. Lumayan, buat nelpon, pikirnya. Jay memang kurang peka pada situasi. Shinta membelalakkan mata takjub. Petir di siang bolong, mungkin hanya membuatnya tersipu dibanding pengakuan jujur barusan.
"Di sini? Siang-siang?!" pekik Shinta tertahan. Tanpa sadar, sebutir keringat dingin menetes di kening Shinta yang licin. Berfantasi seks di tempat dan waktu seperti ini, jelas bukan tanda seorang pemuda normal, bisik hati Shinta. Ia seperti baru saja mengenal Jay, atau setidaknya sisi Jay yang satu ini. Bahkan setelah kejadian malam hujan deras beberapa hari yang lalu.
"Berapa banyak sisimu lagi yang aku belum tahu, Jay?" tusuk benaknya. Ada kengerian yang menerkam jantungnya. Ia bergidik. Kesunyian melanda mereka berdua untuk beberapa detik.
"Eh, kita nyari makan, yuk?" Jay tiba-tiba saja berdiri lalu meraih lengan Shinta. Sepertinya, akal sehat sudah kembali di dalam kepalanya. Gadis itu semula berniat menepiskan tangan Jay yang terulur, tetapi sudut matanya menangkap kesungguhan di raut muka pemuda itu. Dan bola mata kecoklatan Jay, tampak begitu hangat. Kehangatan di malam hujan deras. Dan wajah gadis itu lalu tertunduk. Shinta menurut saja saat Jay menggandeng lengannya dan membawanya pergi. Namun, jauh di dalam hati, Shinta mendengar hati kecilnya mengucapkan peringatan. Mengenai pemuda yang telah mengambil hatinya dengan sukses ini. Bahwa ia, masih saja mendapati hal-hal yang asing dalam diri Jay. Misterius, dan terkadang bisa begitu mengerikan.

Mereka duduk bersebelahan di depan meja panjang kantin Kampus Biru. Jay asyik sekali menghadapi sepiring krengsengan yang dipesannya. Makan dengan lahap, memasukkan sendok demi sendok nasi dengan kegembiraan khas anak-anak. Shinta meliriknya sesekali dengan mimik menahan tawa. Pemuda itu seolah tak bertemu makanan selama sebulan. Dalam tujuh menit, piring itu telah licin. Jay melirik ke kiri-kanan. Shinta menyodorkan sebotol teh di sampingnya.
"Nih, minumnya."
Jay tersenyum bahagia, lalu menyedotnya seperti bayi yang kehausan. Habis juga. "Huuaahh, kenyang deh..." Jay menyandarkan tubuh ke dinding kantin, lalu menepuk-nepuk perutnya yang terlihat membuncit. Satu tangannya yang lain sudah menggenggam sebatang kretek yang siap disulut. Benar-benar cekatan, batin Shinta geli. "Kamu selalu ngabisin makanan sampai licin, Jay?" ucap Shinta sambil tersenyum menggoda. Mie baso di depan gadis itu masih tersisa separuh. "Heheheh..." kekeh Jay seraya tersenyum-senyum senang, sambil mengepulkan asap kreteknya lambat-lambat. Dasar sableng, ia merasa ucapan Shinta sebagai sebuah pujian atas kemampuannya yang `mempesona'. Mendadak, Jay menegakkan tubuh. Senyumnya sudah menghilang. Matanya menatap sayu, lurus ke depan. Bersiap.

Shinta yang masih mengamatinya, jadi terheran. Ia mengikuti arah tatapan mata Jay. Seorang gadis berambut cepak, berwajah manis, berkulit kuning, dengan tubuh tinggi semampai menggiurkan, berjalan mendekat ke arah mereka. Kesinisan di raut wajahnya, membuat Shinta langsung merasa tak suka. Gadis berambut cepak itu berdiri tegak di hadapan mereka. Ujung dagunya yang runcing terangkat, "Jadi kamu cewek barunya? Anak kecil!" si Cepak melempar pandangannya ke arah Shinta. Api terpancar di bola mata si Cepak. Shinta mengerutkan keningnya. Ia tak suka membuat masalah. Tapi dadanya sudah bergolak. Mendadak, ia merasakan genggaman di jemarinya. Terheran, ia menoleh ke samping. Jay masih tetap duduk, dengan pandangan sayu yang sama, dan kepulan kretek dari bibirnya. Hanya kini menunduk, menatap ke atas meja.
"Aku cuman mau makan dengan tenang, Rin. Dan dia temanku." Jay berkata lirih. Ia sengaja tak menatap ke arah si Cepak yang dipanggil Rin. Ada yang disembunyikannya dari dua orang gadis di dekatnya itu. Sesuatu dalam sinar matanya.
Rin mendengus kesal. Ia berpaling menatap Jay sekarang.
"Temen? Hah! Dasar playboy!"
"Elo punya temen cewek?!"
"Seinget gue....." si Cepak nyaris melanjutkan kalimatnya, ketika Jay tiba-tiba berdiri dan menatap lurus ke bola mata gadis itu.
"Rin, please... jangan ganggu kita." Kata-kata Jay terdengar berat dan dingin, seolah berasal dari dasar dadanya. Tetapi yang membuat Rin dan juga Shinta tercekat hampir bersamaan, adalah sorot tajam mata pemuda itu. Menyala-nyala dengan kebencian dan kekejaman. Bengis. Si Cepak seketika membalikkan tubuh dan bergegas menjauh. Tak menoleh-noleh lagi. Shinta lalu tersadar, genggaman Jay di jemarinya terasa sedingin es. Satu lagi hal baru yang ditemuinya tentang Jay. Yang pernah didengarnya dulu. Jay yang dingin.

Tetapi Shinta bersyukur, setidaknya gadis yang menyebalkan itu sudah pergi. Ia mencatat satu hal baru, yang perlu ditanyakannya pada Jay nanti. Apa masalahnya dengan gadis yang dipanggil Rin itu. Mereka sepertinya pernah mengenal dekat, terka Shinta dalam hati. Jay seolah bisa membaca pikiran Shinta. Matanya berubah lembut, "Dia mantanku, namanya Rinka."
"Oh?" Shinta sedikit kaget.
"Dan nggak pernah suka tiap kali ngeliat aku jalan sama gadis-gadis," Jay mengisap kreteknya dalam, "yaa, dia tipe posesif, dan masih pengen balik sama aku...."
"Jay," potong Shinta cepat-cepat, "gadis-gadis? Kamu beneran playboy?" Shinta tersenyum simpul.
"Eh, maksudku, bukan pacar lho...!" tukas Jay sigap. Ia sadar sudah salah omong. Gadis ini terlalu cerdas dibanding yang lain. Calon pengacara, sih.
"Iya-iya. Aku juga tahu. TTM `kan?" Shinta masih saja menggoda pemuda itu. Ia selalu suka melihat Jay salah tingkah. Kekanak-kanakan. Lucu.
"Hahaha...!" tawa Shinta meledak, demi melihat Jay hanya bisa meringis culun seraya menggaruk-garuk kepalanya. Salah satu pose favorit Shinta dari Jay.

CHAPTER FOUR - THE BEST PART (HARVEST SEASON)

Lima hari sebelum deadline Schyte yang terayun

"Tidak, aku tidak bisa," pemuda itu mendorong tubuhnya bangkit. Nafasnya tersengal, keringat mengucur di sekujur permukaan kulitnya. Menutupi kedua wajahnya dengan talapak tangan, ekspresinya menggambarkan bahwa suatu perasaan galau berkecamuk.
"Ray?" gadis di atas sofa berbisik lirih. Kepasrahan yang menyelimutinya belasan menit lalu membuat air matanya menitik keluar. Berusaha menutupi ketelanjangannya, Dewi mengangkat tubuhnya. Si pemuda tak mengatakan apapun. Sikapnya diam bagai batu. Sebuah sentuhan telapak tangannya di punggung Ray, Dewi merasakan tubuh pemuda itu bergetar. Helaan demi helaan nafas terdengar kemudian.
"Kamu kenapa, Ray?" Tiba-tiba, pemuda itu melepas tangannya, menepis sentuhan di tubuh belakangnya. Kepalanya tertoleh. Dewi terhenyak saat melihat ada air mata di situ.
"Jangan," desis Ray, nadanya berat dan dalam.
"Ray, kamu kenapa?" bisik Dewi gelisah. Pemuda di depannya bergesar menjauh. Pandangannya beralih ke lantai. Rambut-rambut yang semula lengket di lehernya, jatuh membentuk tirai menutupi wajahnya. Dewi tak berani mendekat. Tak berani menyentuh lagi.

"Aku," Ray berbisik, "aku sudah membuat dosa." Alis si gadis berkerut. Ia diam, menunggu kelanjutan dari si pemuda. Ray menoleh, menatap Dewi dengan matanya yang merah. Mereka saling bertatapan. Sejuta kata mengalir tanpa bisa dimengerti. Ray mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya di pipi gadis di depannya. Dewi memejamkan mata. Ia bisa menangkap satu kesedihan disitu. Air mata jatuh lagi.
"De, aku sudah berdosa padamu," pemuda itu berbisik lagi. Hati Dewi bergetar. Sedari awal ia sudah tegang saat Ray benar-benar mengajaknya ke rumah pemuda itu. Ia kemudian tak juga mengerti, mengapa ia bisa terlena seperti itu saat Ray memeluk dan menciuminya. Ia tak mengerti, mengapa ia bisa begitu pasrah saat pemuda itu menelanjanginya, menyentuh semua bagian tubuhnya. Lama Dewi memejamkan mata. Kalau dosa itu yang dimaksudkannya, maka Dewi bisa bernafas lega. Karena dosa itu belum terlalu dalam. Belum sempat terjadi apa-apa. Gadis itu menggerakkan kepalanya. Dengan memejamkan mata, ia mengecup telapak tangan si pemuda. "Aku tahu, Ray," bisiknya lirih.

"Kamu tidak tahu," Ray mendesis. Dewi membuka mata, menatap pemuda itu heran. Ray menarik telapak tangannya, meraih selembar kaus yang tergeletak di lantai, lalu memberikannya pada Dewi. Sebuah senyum di wajah pemuda itu saat ia berbisik, "Kamu pakailah." Dewi membalas senyuman itu, mengambil baju yang disodorkan, lalu memeluk baju itu di depan dadanya. Dingin sekali di dalam ruang tamu itu. Di tengah gelap, kesunyian datang lagi. Ray memiringkan tubuhnya dan meletakkan sisi tubuhnya di atas kedua paha telanjang si gadis. Dewi mengulurkan jemarinya untuk membelai rambut ikal si pemuda. Benak gadis itu melayang-layang. Betapa ia mencintai sosok satu ini. Sekarang tambah satu point yang meyakinkannya. Pemuda itu tak berniat sama sekali untuk memilikinya secara fisik. Pasti itulah sebab mengapa ia menghentikan semua kenikmatan khayal tadi. Pemuda ini, batin si gadis, tahu kapan harus berhenti.

"De?" si pemuda memanggil namanya, Dewi membuka matanya yang sempat terpejam saat kesunyian melintas tadi.
"Hmm?" desahnya dengan nada bertanya.
"Aku mempermainkanmu. Kamu sadar itu?" Jatung Dewi seolah berhenti berdegup. Sisiran jemarinya di rambut si pemuda terhenti. Ia seolah terbetot dalam suatu tanda tanya besar yang mengerikan.
"Apa maksudmu?" bisik gadis itu. Nada suaranya bergetar ketakutan. Masih di atas paha telanjang si gadis, Ray memiringkan kepala, mengecup kulit yang putih bersih itu. Lalu ia menghela nafasnya dalam-dalam.
"Aku memang berniat mempermainkanmu. Hanya saja, aku merasa kamu terlalu berharga untuk kupermainkan." Dewi memejamkan matanya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya saat itu. Air matanya mengalir ke pipi.
"Aku tak mengerti, Ray," bisiknya sendu, "aku tak mengerti." Ray mendorong tubuhnya ke dalam posisi duduk. Kepalanya tertoleh, menatap wajah gadis di sampingnya. Senyum mengembang di wajah pemuda itu.
"Kamu tak harus mengerti," bisiknya kemudian, sebelum membungkukkan tubuh, memunguti pakaiannya yang berserakan. Dewi tak berkata apapun, memejamkan mata, menggigit bagian bawah bibirnya, membiarkan keheningan mengiringi air matanya yang mengalir. Ia bisa merasakan saat pemuda itu bergerak, mengenakan pakaian, lalu bangkit berdiri. Ia tak mendengar dan merasakan apa-apa lagi. Khawatir, Dewi membuka matanya. Ray ada di samping wajahnya. Pemuda itu berjongkok, menatapnya dengan senyum.
"Ray...," Dewi memanggil nama pemuda itu lirih. Sebuah telunjuk menempel di bibir si gadis. "Ssshh," bisik Ray, "kamu pakai bajumu?" Dewi tersenyum. Lega. Di mata pemuda itu masih ada kehangatan.

Tiada kata-kata dalam perjalanan. Tidak ada canda, sentuhan, bahkan saling pandang. Mereka tenggelam dalam suatu situasi yang menghanyutkan. Lampu-lampu kendaraan berkelebat lalu lalang. Lantunan musik lamat-lamat dari radio memberikan kesan dramatis yang menghipnotis. Sepuluh, dua puluh, empat puluh menit berlalu sudah. Masih dalam keheningan yang sama. Ray akhirnya menghentikan mobilnya di depan Asrama Puteri. Teletik air hujan terdengar mengetuk atap mobil. Lima belas menit berlalu sia-sia. Hujan mulai tu

Visits: 59118
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 25957   Help/FAQ   Terms   Imprint