Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: WHERE COUNTRY IS BEST IN ASIA? · More of this
    Search
 

   

Pengidap Kelainan Seks
Sebelumnya kuperkenalkan namaku Ade (seseorang memanggilku demikian), usia 30 tahun, belum menikah, kuliah di sebuah PTN dan bekerja di perusahaan swasta yang cukup terkenal di kota B, tinggi sekitar 166 cm, wajah biasa aja, rambut lurus belah samping, kulit putih dan sekarang agak gemukan dikit. Kisah ini merupakan kisah nyata dan jika ada kesamaan nama, tempat dan lain sebagainya itu hanya merupakan sebuah kebetulan yang tidak disengaja dan semua nama yang tercantum di sini sudah disamarkan untuk kebaikan orang yang pernah aku kenal serta dekat denganku. Cerita ini khusus kutuliskan untuk mengenang kisah lama dan mengingat kembali masa laluku yang suram untuk dijadikan tauladan para penggemar CCS sekalian, bukan untuk ditiru. Baiklah aku akan memulai cerita ini.

***
Usia sekitar 5 - 6 tahun.
Latar belakang kehidupan:

Aku hidup di tengah kemiskinan bersama dengan ayah dan ibu dengan 6 orang anak. Kakakku yang tertua perempuan, yang kedua juga perempuan dan ketiga adikku perempuan. Jadi jelasnya aku anak ketiga laki-laki yang diapit oleh 5 orang perempuan.
Makan dengan lauk yang sangat sederhana khas daerah yaitu sebiji telor bebek atau telor ayam dicampur dengan daun serai dan separoh kelapa yang diparut tanpa diperas, kemudian daun serai dan kelapa parut diulek di"cobek" (tempat mengulek sambel) yang terbuat dari batu dan dipangang sebentar begitu udah nempel maka dibalik dan dipanggang kembali di atas bara api dengan panas sedang hingga matang. Jadi setiap pulang sekolah lauk yang ada hanyalah itu.
Kami tidur di tempat tante (saudara ayah) bersama dengan nenek (kakek sudah meninggal). Pada waktu itu kakakku kelas 5 dan 3 SD dan aku masuk kelas 1 SD dengan usia jalan 6 tahun. Istilahnya "manganet" (jika tidak dapat membaca dan menulis maka tidak naik kelas). Berhubung tanteku itu pengajar maka dengan badan yang cukup besar serta memenuhi syarat (dulu diukur apakah tangan bisa mencapai telinga melewati kepala) untuk masuk SD, akupun akhirnya bisa sekolah.

Pada suatu hari kami tidak makan sampai ayah, ibu dan nenek kembali dari sawah karena lauk yang seharusnya kami makan dicuri oleh seseorang. Ayah dan ibuku berusaha memperbaiki kehidupan kami yang morat-marit dengan mencoba meminjam uang kepada kakaknya (saudara/i ibuku 14 orang dan yang hidup 11 orang) yang kebetulan cukup kaya. Dengan uang pinjaman tersebut ayah dan ibuku berusaha menjual sembako dengan 'kelotok' (perahu kecil bermesin dan banyak terdapat di pedesaan) ke berbagai pelosok desa dan kecamatan di sepanjang Sungai Katingan, Sungai Kahayan dan Sungai Kapuas.

Pada awal tahun 1980 adikku yang bungsu mengalami sakit panas (tipus). Pada waktu itu ayah dan ibuku terpaksa tidak berjualan dan membawa adikku ke puskesmas sekalipun waktu itu ibuku sedang hamil. Adikku dirawat-inap di sana selama beberapa hari. Karena keterlambatan membawa ke-Rumah Sakit Kabupaten, mungkin karena terlalu jauh sekitar 1 hari perjalanan maka, begitu keadaan adikku sudah sangat parah barulah pihak puskesmas merujuk ke rumah sakit kabupaten. Dua hari di sana, adikku meninggal dan kami akhirnya pindah ke tempat ibuku di propinsi yang sama tetapi lain kabupaten yang jarak tempuhnya 3 hari 3 malam menggunakan kelotok menyusuri Sungai Katingan, melewati Sungai Kahayan dan Sungai Kapuas kearah Sungai Barito.


****
Usia sekitar 6 tahun lebih.
Ke-pengentau-an :

Seks pertama yang aku kenal adalah 'coli', diajarkan oleh seorang teman di tempat baruku, sebut saja namanya Andin. Sejak saat itu aku melakukan coli dengan berbagai-macam cara misalnya melobangi sarung guling lalu menusuknya tiap malam atau cukup dengan sabun tetapi kurang enak rasanya dan batang torpedo cepat panas.
Kegemaranku memelihara ayam dan anjing. Dari sinilah pengalaman seksku yang cukup unik dan aneh serta rada nyeleneh atau menyimpang itu terjadi.
Terus terang aku tidak mengetahui bagaimana bentuk alat kelamin wanita. Yang aku lihat hanyalah berbentuk segi-tiga terbalik itupun punya anak kecil yang dimandiin ibunya di Sungai Barito. Teman semasa kecil juga banyak membantu memperkenalkan seks dengan cara yang aneh khas anak kecil misalnya dengan membandingkan alat kelamin atau mencari gambar orang sedang berhubungan kelamin dan bisa juga mengintip suami-isteri sedang "indehoy", itupun yang keliatan cuman pantat goyang-goyang dan paha isteri yang terbuka lebar menerima tusukan suaminya dengan suara yang membangkitkan torpedo si pengintip. Akibat kebiasaan yang rada aneh itulah aku jadi terbiasa melakukan onani bahkan tiap malam bisa sampai dua atau tiga kali semalam.
Mencoba sesuatu yang salah adalah hal yang sangat fatal. Akibatnya aku tidak dapat menghentikan kebiasaan coli tersebut sampai sekarang. Sejak pindah ke barito, ayah beserta ibuku tetap berjualan sembako keliling desa dan kecamatan. Akibatnya, kami hanya diasuh dan menerima kasih sayang dari tante (adik ibuku) dan sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan seseorang karena kurangnya pengawasan serta kasih sayang dari orang tua.


****
Usia sekitar 7 tahun.
Anak kecil itu………

Percobaan pertama:
Aku mempunyai seorang keponakan yang masih kecil berumur sekitar 1 ½ tahun. Sedari kecil dia sudah biasa aku gendong kemana-mana. Anaknya pendiam dan tidak terlalu rewel. Pada suatu hari, kebetulan pagi itu liburan sekolah, jadi dari pagi hingga siang hari aku malas-malasan di tempat tidur. Seperti biasa jika siang hari ibu dari anak tersebut menanak nasi. Rumah mereka berada di samping rumah kami. Pada waktu itulah aku yang bertugas menjaga anaknya sampai mereka selesai makan siang. Pada waktu itu aku membawa anaknya kerumah kami. Secara tidak sengaja aku membawa anak tersebut kekamarku (biasanya hanya di beranda depan rumah mereka saja). Rupanya kali ini anak tersebut hanya mengenakan baju seperti daster sebagai penutup tubuhnya. Sekalipun agak lusuh tetapi masih laik pakai, serta tidak menggunakan cd. Mungkin ibunya lupa masang cdnya.
Karena aku ingin menghidupkan tape maka anak tersebut kubaringkan di ranjang. Pada waktu kembali aku melihat bajunya tersingkap ke atas, sehingga vagina anak tersebut terlihat mengintip. Dengan perlahan-lahan dan jantung yang deg-degan aku mendekati selangkang anak itu lalu membuka pahanya agak lebar, dengan hati-hati. Yang pertama kulihat hanyalah daging kembung terbelah dengan tonjolan sebesar penghapus pensil di atas belahan tersebut. Akupun kemudian membiarkan anak itu beberapa sesaat biar tidur, dengan ikut membaringkan tubuhku di sampingnya. Tapi karena penasaran aku kembali meneliti vagina itu dengan berusaha menenangkan hatiku. Begitu kupastikan anak tersebut terlelap maka kembali dengan perlahan pahanya kubuka kembali. Dari bagian perut kupandangi vaginanya. Ternyata bentuknya begitu menggairahkan. Dari atas kembung, terbelah dan ada benjolan di tengahnya, tetapi semakin kebawah semakin menipis. Ketika kutekan samping kiri vaginanya, rasanya begitu ketat dan susah sekali untuk dibuka. Pahanya kembali kurenggangkan. Di bawah tonjolan sepertinya ada lobang kecil. Kudekatkan wajahku kearah lobang itu. Sepertinya lobangnya hanya cukup untuk pensil, sedangkan jariku lebih besar dari lobang itu, apalagi torpedoku yang sekarang udah bangkit sepertinya tidak cukup untuk masuk kelobang itu. Kemudian mungkin karena nafsu yang kumiliki begitu besar atau saking penasarannya, hingga akhirnya aku ingin mencoba memasukannya. Celana pendek yang kukenakan langsung kupelorot, lalu mengarahkan torpedoku ke belahan vagina itu. Dengan hati-hati kugesek-gesek kepala topedoku kesela-sela belahan itu. Rasanya nikmat bukan main. Semakin lama gesekanku semakin keras dan membangunkan anak itu, tetapi reaksi anak itu sungguh diluar dugaanku. Dia membuka pahanya semakin lebar. Begitu topedoku kutarik dia malah menunjuk ke arah vaginanya. Maka torpedoku kembali kuarahkan ke belahan itu. Pada waktu kutempelkan sepertinya dari lobang torpedoku keluar lendir yang membuat gesekan yang kubuat semakin membuat geli dan nikmat di sekujur batang torpedoku. Begitu ada rasa pengen kencing lalu topedoku kutekan agak keras sehingga membuat anak tersebut menangis keras. Torpedoku langsung kutarik dan perlahan menciut mungkin karena takut atau terkejut. Dengan tidak sabar kupasang kembali celanaku serta menggendong dan berusaha membujuknya agar diam. Kubawa keluar kamar menuju keruang tamu biar tidak ada yang curiga. Setelah anak itu diam, rencananya akan kucoba kembali tetapi ibu anak itu sepertinya sudah selesai makan dan menuju kerumahku ingin mengambil anaknya maka rencana itu kubatalkan.
"Kenapa Dina menangis De?" tanya ibunya.
"Tadi barusan ketiduran dan kutinggal sebentar kebelakang. Mungkin takut sendirian jadi dia nangis," jawabku.
"Oh, kalau begitu biar sini aku yang gendong. Mungkin udah lapar."
Anak tersebut langsung kuserahkan ke ibunya. Sepertinya kesempatan untuk mengulangi hal tersebut tidak memungkinkan lagi, karena besoknya kakak dan adik ibuku datang dari kota membawa anak-anak mereka berlibur, sehingga rumah menjadi ramai, dan aku lupa akan semuanya karena menemukan teman bermain yang sebaya denganku, hingga liburan itu menjadi begitu menyenangkan. Jika malam kecapean karena hampir seharian membawa mereka jalan-jalan melihat kebun atau mencari anak burung di hutan belakang rumah.


****
Usia sekitar 7 ½ tahun.
Ayam yang malang……

Percobaan kedua:
Suatu hari sekitar jam 2 siang, secara tidak sengaja aku duduk di serambi belakang. Pandanganku tertuju pada seekor ayam yang sedang mengejan mengeluarkan telornya. Pada waktu melihat ayam tersebut kok torpedoku bangkit. Setelah telor ayam keluar, telornya kubandingkan dengan senjataku. Besar lingkarannya hampir sama. Setelah tengok kiri dan kanan, ayam tersebut aku tangkap. Beratnya kurang lebih sekitar 2 ½ kg. Kubawa kebawah rumah (tiang rumah di daerah kami cukup tinggi sekitar 2 s/d 4 meter tingginya). Dengan tidak sabar kuraba pantatnya. Lho kok bias empot-empot dan lebarnya hanya cukup untuk jari telunjuk, itupun kalo dipaksa. Cukup apa engga ya kalau torpedoku kumasukkan kesini, gumamku dalam hati. Tetapi kalau melihat telor yang barusan keluar tadi kayaknya torpedoku bisa masuk. Bibir atas duburnya cukup tebal dan mengkerut kayaknya elastis dan bisa membesar jika beberapa kali ditusuk dengan jari.
Setelah sekian lama memperhatikan dubur ayam dengan memegang dan menusuknya dengan satu jari, akhirnya ada lendir yang keluar seperti pelicin. Lama kelamaan lobang dubur ayam membesar sehingga dengan lancarnya dua jariku bisa keluar masuk. Jika terlalu dalam kutusuk jariku, maka ayam akan mengejan dan mendorong jariku keluar, akibatnya setiap kali melihat tanganku masuk dan keluar dari dubur ayam secara perlahan torpedoku mulai mengeras. Dengan cepat kupelorot celana pendekku yang terbuat dari bahan training tanpa cd (soalnya setelah disunat dan masuk SMP sekitar kelas 3 kalau tidak salah aku baru memakai cd).
Setelah kembali tengok kiri kanan dan begitu yakin tidak ada orang yang melihat, maka torpedoku yang tegang berat kutusuk ke dubur ayam. Pertama yang bisa masuk cuman kepalanya. Rada susah juga masuknya pikirku, tiba-tiba ayam tersebut berontak dan bersuara cukup keras, maka dengan cepat mulut ayam kupegang sementara tangan satunya memegang ayam dari bawah sayapnya. Secara tidak langsung karena dorongan kaki ayam yang mengenai pahaku maka torpedoku terlepas dari duburnya. Pada waktu itulah ada keluar dua benjolan dari dubur ayam yang membuat duburnya terbuka dengan lebarnya. Dengan seksama kuperhatikan, sepertinya ada kotoran di dubur sebelah kanan sementara di sebelah kiri tidak ada, kayaknya yang sebelah kiri mungkin tempat telornya sedangkan yang kanan tempat penampung kotoran. Dengan cepat aku memikirkan bagaimana cara mengeluarkan kotoran ayam tersebut tetapi begitu kutengok torpedoku sepertinya di topinya ada sedikit kotoran ayam. Ayam betina yang cukup besar dan gemuk tersebut kuputar menghadap kearahku. Di sela pahanya kuletakkan tangan kanan dari arah bawah keatas seperti mengurut tetapi urutannya pelan, maka secara otomatis kedua paha ayam mengapit tanganku dan kotorannya keluar dengan sendirinya. Setelah beberapa kali kulakukan dan yakin sudah tidak ada kotoran, akupun memasang celanaku dan keluar dari bawah rumah setelah sebelumnya tengok kiri-kanan lagi, maklum jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya cukup dekat sekitar 25 s/d 45 meter. Di belakang rumah yang terlihat hanyalah semak belukar yang rimbun dan tidak ada rumah orang, sementara jarak antara rumah dengan jalan cukup jauh yaitu sekitar 30 meter.
Aku kemudian naik ke serambi belakang, mengambil air di-drum dengan bekas sabun wing yang cukup besar dan cukup banyak menampung air, kemudian kubawa kembali kebawah rumah sambil menenteng ayam dan mengambil kertas untuk alas duduk. Kertas kuletakkan di tanah dan air di samping kanan. Secara perlahan kubasuh torpedoku yang mengecil dan kuurut dengan hati-hati sambil membayangkan bagaimana om sebelah rumah tadi malam menggauli isterinya. Sedikit demi sedikit torpedoku mulai membesar. Sekali lagi tangan kumasukkan kesela paha ayam dan mengurutnya, maka duburnya pun keluar dan kubasuh dengan air dengan menekan perlahan duburnya agar kotoran yang tersisa keluar maka dubur ayampun sepertinya sudah bersih dan siap pakai.
Setelah torpedoku cukup tegang maka dengan perlahan torpedoku kuarahkan ke dubur ayam. Kali ini karena banyaknya cairan yang keluar, dengan sekali tusuk kepala torpedoku udah masuk. Kini aku sudah siap membekap patuknya agar tidak bersuara. Perlahan-lahan ayam kugerakkan maju mundur. Rasanya sungguh nikmat, tapi hanya sebatas kepalanya saja. Lama-kelamaan masuknyapun mulai lancar, sepertinya bisa masuk separoh. Tapi tunggu dulu, kayaknya di dalam sana ada yang menahan. Jika dipaksa bisa masuk semuanya. Setiap kali ditusuk ayam secara otomatis mengejan dan dengan sendirinya torpedoku keluar dan tidak dapat masuk seluruhnya, biarlah separoh pikirku toh sudah enak. Kucoba tekan lagi, didorong lagi oleh ayam dan begitu berulang-ulang sampai kepala torpedoku geli dan nikmat tapi seperti pengen kencing rasanya. Tusuk lagi, didorong, tusuk lagi, malah tambah geli dan semakin nikmat. Tusuk lagi, didorong, dan akhirnya ada yang muncrat, crat… crat… crat! Seperti kencing dan rasanya lega. Saking banyaknya sampai meluber keluar dari dubur ayam. Ayampun dengan kuatnya mendorong sehingga torpedoku keluar dan air tadi keluar berceceran di atas kertas. Aaahhhh… lega sekali rasanya. Tapi tunggu dulu, inikan bukan air kencing, kok warnanya putih. Ah sudahlah yang pentingkan enak tenan. Hingga suatu hari karena terlalu dalam menusuk dubur ayam yang sama dan saking nikmatnya akupun merasa kalau ada sesuatu yang robek seperti merobek kertas di dalam sana. Pada waktu muncrat ayam tidak mendorong tetapi terdiam melemah. Sewaktu torpedo kucabut keluar beserta dengan darah segar. Tiga hari kemudian ayam tersebut mati. Setelah kejadian itu aku mulai memelihara ayam betina yang besar-besar, beratnya antara 2 s/d 3 kg dan setiap kali kutusuk akupun selalu hati-hati agar tidak menusuk terlalu dalam dan merobek sesuatu di dalam duburnya biar ayam tetap hidup. Begitu ayam selesai bertelor dan ingin mengeram telornya maka induk ayam kupisah dan hanya ayam yang beratnya 1 s/d 1 ½ kg saja yang mengeram telornya, sementara itu induk ayam yang beratnya di atas 2 kg kalau pengen mengerami telornya kurendam beberapa saat di-air biar tidak berani naik ketempatnya bertelor untuk mengeram telornya dan dikurung 4 s/d 8 hari biar tidak jadi mengeram dan untuk beberapa saat masih bisa 'dipakai', maka sejak saat itu setiap ayam bertelor, pantat ayam yang cukup besar harus siap menampung torpedoku. Sekali lagi aku ingatkan agar jangan ditiru. Jorok dan tidak bersih.


****
Usia antara 8 tahun.
Pejantan pemuas nafsu……

Percobaan ketiga:
Karena banyaknya anjing di kampungku, maka hampir setiap tahun aku melihat anjing yang kupelihara kawin. Alat kelamin anjing betina besar dan montok serta bentuknya seperti alat kelamin manusia, hanya saja alat kelamin anjing memanjang kebawah dan membesar, berwarna kecokelatan. Jika dibuka dalamnya berwarna merah hati dan lembut.
Jika malam hari maka hampir semua orang berkumpul di tempat tetangga yang punya TV Hitam Putih atau nonton TV Umum yang besarnya 17" di Balai Desa. Yang dapat ditangkap siaranya cuman TVRI waktu itu. Apalagi jika jam 10 malam ada acara kegemaran mereka Aneka Ria Safari, maka rumah yang ada tvnya dijamin penuh. Atau pengen nonton film kungfu atau drama percintaan versi indonesia dari video yang diputar di rumah salah seorang penduduk yang cukup kaya dengan suasana rumah yang dibuat seperti bioskop maka cukup bayar Rp. 100,- untuk masuk dan menikmati tontonan yang cukup menegangkan, kadang tengah malam bayar Rp. 500,- s/d Rp. 1.000,- untuk nonton Film Bokep.
Suasana seperti inilah yang kadang mendukung perbuatanku, hingga pada suatu hari aku ingin sekali menunaikan hajatku dengan ayam. Sayang karena banyaknya orang yang menggali cacing di belakang rumah maka sampai sore kepalaku pusing tujuh keliling. Sekitar jam 19:00 malam seperti biasanya aku memberi makan anjing. Kebetulan anjing yang kupelihara ada 2 dan keduanya betina. Waktu itu aku memang ingin sekali berhubungan seks tetapi karena keadaan tadi siang maka malamnya keinginan yang tertunda itupun datang kembali. Begitu aku melihat vagina anjing yang memanjang dan membesar serta agar berlendir nafsuku sontak bangkit. Kemudian leher kedua anjing tersebut kuberi sabuk yang ada rantainya (kebetulan keduanya sangat jinak). Salah satu yang badannya cukup besar dan alat kelaminnya sudah membesar kutuntun keserambi belakang rumah sedangkan yang satunya sekalipun kelaminnya cukup besar tapi karena badanya kecil kutinggal di samping rumah dengan makanannya.
Karena anjing tersebut dari kecil biasa disuntik rabies dan yang menyuntiknya kadang pamanku yang mantri kadang aku sendiri, maka dengan sendirinya akupun sering bertanya apa nama obat yang membuat anjing bisa tertidur atau membuat anjing cepat terangsang. Setelah menyuntik obat perangsang beberapa saat kemudian akupun memulai aksiku. Celana kolor kulepas, kutaroh di tempat yang aman dan hanya mengenakan sarung. Anjing tersebut mulai kuraba daerah vitalnya. Memang alat kelamin anjing mulai mengeluarkan lendir tapi karena kebiasaan anjing jika berhubungan dengan lawan jenisnya akan menggonggong dan menoleh kebelakang ingin menggigit pejantannya atau kadang juga jika tidak cocok dengan pejantannya maka pejantannya digigit sampai si anjing menemukan yang cocok dan pasrah dinaikin pejantannya. Untuk menghindari hal yang demikian, aku kembali kekamar sekaligus melihat situasi rumah. Karena sepi kuambil satu ampul obat penenang dan kembali melihat situasi. Begitu situasi aman maka aku kembali kebelakang dan menyuntikan penenang ke anjing itu. Setelah kutunggu beberapa saat anjing itu lunglai, matanya tetap terbuka tetapi badannya lemah. Akupun memulai aksiku dengan meraba dan menusuk kelamin yang montok tersebut dengan jari. Torpedoku mulai bangun tapi karena lendir yang keluar terlalu sedikit maka kuambil sabun dan menggosok kepala torpedoku dengan sabun dan sedikit air serta menusuk kelamin anjing dengan jari yang juga sudah dilumuri dengan sabun.
Lama-kelamaan jarikupun sudah lancar keluar-masuk, mulai dengan 1 jari dikocok lembut sampai dengan 2 jari bisa masuk dengan lancar. Dengan penuh kesabaran torpedoku mulai kuarahkan kelobang montok itu. Awalnya juga hanya kepalanya yang masuk tetapi karena dibantu dengan busa sabun makan sedikit demi sedikit senjataku mulai amblas. Agar anjing tenang maka leher dan kepalanya kugosok-gosok. Anjing itupun hanya mengeluarkan suara pelan dan lemah saat senjataku sudah masuk semuanya.
Tusuk, tarik, tusuk, tarik, enak tenan. Tusuk lagi, tarik lagi. Enak, geli dan menggigit karena sempit, rasanya seperti menyetubuhi anak kecil sekalipun sudah menggunakan sabun jepitan vaginanya begitu terasa dan setiap didorong maka bibir vaginanya akan melesak kedalam, tiap ditarik maka vagina anjing itu akan mengikuti arah tarikan torpedoku. Begitu asiknya tusuk dan tarik sampai pinggangku pegal belum juga ada tanda-tanda akan keluar. Berbeda dengan ayam jika dengan ayam aku hanya tahan sampai ¼ jam maka dengan anjing tusukanku bisa lebih lama sekalipun jepitannya begitu mencengkram dengan kuatnya. Tusukan pun semakin kupercepat hingga akhirnya orgasmuspun rasanya sudah dekat. Tusuk, tarik, tusuk, tarik, kulakukan dengan cepat hingga beberapa saat kemudian bobol juga pertahanku karena gelombang kenikmatan yang membuatku ejakulasi ccrroott, crott, crootttttt. Banyak sekali hingga meluber keluar bersama dengan busa sabun.
Ternyata dengan anjing tidak kalah nikmatnya berhubungan hanya saja kemesraan dan kepuasan yang didapat kurang begitu sempurna tapi perasaan juga sama leganya. Menusuk vagina anjing tidaklah senikmat seperti ayam yang bisa mendorong jika ditusuk. Hanya saja tiap kali ditusuk maka torpedo akan terasa seperti diurut begitu kita melewati tulang pantatnya yang sempit, tusukanpun bisa diatur dengan tempo cepat maupun lambat. Hingga sekarang akupun akan terangsang jika melihat ayam betina yang bagian bawahnya besar maupun anjing betina yang vaginanya nyelempuk dan montok menonjol keluar.

****

Usia sekitar 13 - 15 tahun.
Pacarku sayang……pacarku malang……

Praktek pertama dengan lawan jenis:
Sekalipun aku menyukai ayam maupun anjing tetapi perasaan dengan lawan jenisku begitu kuat sehingga akhirnya akupun mulai tertarik dengan yang namanya perempuan. Mungkin karena terlalu asik dengan kedua binatang tersebut maka baru kelas 2 SMP aku mulai membayangkan nikmatnya berhubungan intim dengan wanita.
Tapi siapa ya kira-kira? Bagaimanakah bentuk alat kelamin wanita seumurku? Apakah berbulu sedikit seperti punyaku? dan apakah bentuknya seperti punya keponakanku dulu? Berbagai pertanyaan mulai menghantuiku, sampai akhirnya akupun mulai melirik salah satu dari kembang di sekolahku. Akibat terlalu menghayal yang bukan-bukan malamnya aku sampai mimpi basah pertama kali (sungguh sekalipun udah sering melakukan onani tapi baru sekarang kualami yang namanya mimpi basah. Boleh percaya, boleh juga engga. Terserah. EGP).
Namanya Riri, teman seangkatan hanya saja lain kelas, berparas cantik, kulit putih mulus, tangannya berbulu tipis dan berkumis tipis mungkin karena putih, body oke punya. Seingatku memiliki bra 32 cup B. Mangkoknya lumayan besar, bahunya agak condong seperti udang (kata orang wanita tipe begini mainnya lama dan kuat serta sanggup beberapa kali). Pada waktu kunyatakan isi hatiku (bukan cinta sebenarnya sebab hanya pengen nyoba nusuk cewek), ternyata dia menerimanya dengan senang hati. Kebetulan dia baru putus dengan pacarnya yang sejak kelas 1 SMP dulu, katanya "Terlalu memaksa dan egois...".
Dua hari setelah kunyatakan cinta maka pada malam minggu aku apel ke rumahnya. Deg-degan juga rasanya megang tangannya yang halus mulus. Minggu pertama pegang tangan doang, minggu kedua mulai mengecup bibirnya yang ternyata udah lihay, minggu ketiga berani raba-raba dikit seolah tidak sengaja, minggu keempat daerah jamahan mulai bertambah dari belakang sampai pantat dan aku ingin mencoba melakukan hubungan badan tapi harus dengan cara yang halus dan lembut serta waktu yang lama agar dia mulai percaya.

Suatu hari aku tidak sengaja menemukan buku pedoman berhubungan seks dan titik syaraf perangsang nafsu wanita yang ada gambar vagina ditengahnya. Kebetulan itu milik tanteku, karena kadang jika suaminya tugas keluar daerah maka dia tidur di tempat kami dan buku tersebut ditaroh dibawah 'tilam' (kasur yang diisi kapas) di ruang tengah. Akupun mulai mempelajari titik lemah seorang wanita, mulai dari halaman pertama sampai akhir selama satu minggu buku tersebut kuambil dan kubaca dengan hati-hati dan setiap habis membaca buku tersebut aku kembalikan ketempat asalnya seperti seolah-olah tidak ada orang yang mengetahui kalau buku tersebut ada di sana, siapa tau tanteku tiba-tiba nginap dirumah kami.
Khusus pada gambar vagina yang sengaja aku photocopy di tempat temanku, itupun waktu dia minta aku melanjutkan memphotocopy berkas pekerjaan kantor bapaknya yang kerja dikecamatan. Gambar vagina tersebut sengaja kuperbesar dari satu lembar kecil menjadi sebesar kertas HVS dan tiap inci kupelajari mulai dari labia mayora, labia minora, selaput dara, saluran kencing, rahim dan lain sebagainya. Suatu waktu kutanyakan kepada pamanku bagaimana cara menggugurkan kandungan yang aman, apakah bisa dengan obat, selama berapa hari mens, kapan masa subur, apakah orgasmus dan ejakulasi itu sama, bagaimana terjadinya pembuahan, berapa lama bayi di kandungan dan lain sebagainya.
Tiga bulan sudah lamanya aku pacaran. Selama itu kami melakukan petting beberapa kali di kamarku dengan baju lengkap tentunya, tetapi tanganku ada diroknya dan sepertinya dia menyukainya, 'Enak sekallllee………' katanya waktu itu. Malam itu tanggal 25 Xxxxx 198x aku ingat betul tanggalnya karena Riri memberi hadiah istimewa untuk ulang taonku (lebih tepatnya aku yang minta). Aku datang ke rumahnya sekitar jam 18:00 malam dan ngobrol sebentar dengan ayahnya kemudian membawanya kerumahku yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya. Malam itu dia mengenakan baju kaos tipis dengan dua kancing di depan dan rok panjang tetapi lebar bawahnya sedangkan aku hanya mengenakan celana panjang tipis dan celana kolor dengan baju kaos tanpa lapisan dalam. Awalnya kami hanya ngobrol di teras rumahku tapi karena banyak nyamuk maka ia kubawa kekamarku dan kami melanjutkan obrolan di sana. Setelah sekian lama ngobrol, aku mulai merayu dan bertanya, "Rin… kamu mau ngasih hadiah apa untuk ulang taonku?" kataku sambil memeluk pinggangnya.
"Mas maunya Riri ngasih apa?" dia balik bertanya.
"Entar dulu ya. Eeemmm gimana kalo seperti kemaren?"
"Iiiihhhh mas parno. Engga ah."
"Lalu mau ngasih hadiah apa?"
Aku kemudian berdiri dan menyalakan tape dengan suara sedikit keras sebagai pertanda bahwa orang yang di dalam tidak ingin diganggu jika kebetulan temanku datang mencari. Rata-rata mereka jika mendengar suara tape cukup keras maka mereka tau itu tandanya orang yang di dalam tidak ingin diganggu. Lampu neon di kamar kuganti dengan lampu tidur 5 watt yang nempel di dinding, kamar kukunci, tirai jendela samping rumah kututup dan aku kembali duduk. Setelah sekian lama kami terdiam, aku mulai memegang tangannya, kupandang dan dia hanya menunduk, kuangkat dagunya, dia hanya memejamkan matanya dengan menguak sedikit bibirnya sebagai tanda bahwa dia sudah siap menerima kecupan dariku.
Karena dia di samping maka begitu kupeluk maka kepalanya langsung bersandar di bahuku. Akupun memeluknya dengan tangan kananku dan bibir kami bersatu dengan mesranya. Tangan kiriku mulai beraksi mulai dari perut, naik merayap dengan perlahan kearah belahan dadanya. Dengan sangat hati-hati kusentuh bagian kanan atas payudaranya. Dia hanya mengeluarkan suara leguhan tertahan karena mulut kami beradu dan mengeliatkan badannya. Dengan sangat hati-hati kubuka satu kancing depannya tetapi karena yang kelihatan hanya bukit payudaranya maka kancing kedua kubuka juga. Karena posisinya terlalu sulit maka badannya kutarik agar rebahan. Dia mengikuti. Torpedoku udah tegang luar biasa. Dengan cepat kusambar kembali mulutnya dan mulai mengarahkan mulutku keleher jenjangnya. Semakin turun kearah bukit kembarnya. Satu kaki kuarahkan kesela pahanya dan seperti biasa dia merenggangkan sedikit pahanya. Tanganku mulai menyusup dari bawah kearah belakang menuju kepengait bra dan begitu kutemukan langsung kulepas. Dia kaget sebentar dan melepaskan ciuman kami tapi ciuman kuarahkan kembali kemulutnya. Dia menerimanya dengan sangat hot. Aku terpaksa secara perlahan-lahan menggerahkan tanganku naik keatas biar dia tidak kaget seperti tadi, dan dengan santai tetapi pasti tanganku menuju kebagaian bawah payudaranya, meremasnya dengan perlahan dan mendorong branya keatas. Sedikit demi sedikit lama-lama bukit itupun tergapai keduanya. Karena posisiku miring dan posisinya yang miring memudahkan aku untuk menaikan bajunya. Tapi karena posisi dia menindir bajunya maka hanya sebatas atas bukit sebelah kanannya saja baju tersebut sudah tidak dapat diangkat lagi. Tangan kananku yang sedari tadi ketindih kepalanya kini kuturunkan sedikit dan memeluk dengan erat. Kuangkat sedikit badannya. Tangan kiriku beraksi mendorong bajunya keatas. Karena sulit maka aku memposisikan tubuhku diatasnya. Sewaktu aku ingin meloloskan bajunya dia mengakat sedikit badannya. Begitu lepas beserta dengan branya, maka bukit itupun sudah terlihat semuanya. Aku tidak begitu memperhatikan warna putingnya sebab nafsu mengalahkan segalanya.
Bibirku kini beralih sasaran dari bibirnya perlahan turun menuju ke belahan dada. Begitu kukecup belahan dadanya, terdengar nafasnya udah semakin cepat dan memburu. Degup jantungnya mungkin sama dengan degup jantungku dan ketegangan yang kurasa sama dengan ketegangan batang torpedoku. Dengan tenang torpedoku yang masih terbungkus celana kuarahkan ke vagina yang juga terbungkus rok dan cd. Sepertinya dia mulai merespon dengan menggerakkan pinggulnya. Pada saat torpedoku yang menempel kugerakkan langsung kukulum puting susunya. Reaksinya sungguh luar biasa. Gerakannya semakin ganas dan tangannya menekan wajahku ke arah buah dadanya. Hisapan yang kulakukan pun makin kuat. Tangan kiri kembali turun ke arah bawah mencari pengait roknya. Begitu kutemukan kulepas dengan perlahan. Begitu pengaitnya lepas maka akupun dengan cepat mepelaskan bajuku lalu kembali memeluknya, melanjutkan aksiku dibelahan bukit itu. Perlahan bibirku menuju ke arah putting susu kirinya. Begitu bibirku mendarat di puting maka lenguhannyapun bertambah keras tapi suara tape lebih keras dari itu. Perlahan celana panjang kuperlorot beserta dengan celana pendekku dan dengan hati-hati roknya kuturunkan ke bawah. Jadi sekarang aku telanjang bulat sedangkan dia hanya mengenakan cd.
Perlahan torpedoku kuarahkan ke sela bukit vaginanya. Kali ini cd itu kayaknya udah basah. Untuk memastikan apakah cdnya memang basah, kaki kiriku kuangkat kesamping melewati kakinya agar memudahkan tanganku kiriku turun kebawah. Turun mulai dari perut, perlahan bergerak mengelus, turun lagi menuju kepaha atas lalu bergeser ke paha bagian dalam. Jari kelingking kuarahkan kebelahan tersebut sedangkan dua jari berikutnya kesamping vaginanya sedangkan jempol dan telunjuk tetap di paha atas jadi seolah tersentuh dengan tidak sengaja dan memang basah. Tetapi untuk lebih memastikan maka tangan kiri memeluk tengkuknya sedangkan pantat kuarah kesamping kanannya. Sekarang posisiku berada disamping kanan tetapi kaki kananku tetap berada di sela pahanya menjaga agar pahanya tetap terbuka. Kini aku bisa bergerak bebas. Dengan perlahan kecupan kupindah kemulutnya biar sewaktu cdnya kulepas tidak terdengar suara penolakan. Memang begitu tanganku berada dipinggul dan bersiap menurunkan cdnya maka tangan kirinya memegang tanganku sepertinya dia melarang cdnya kuturunkan, tetapi untuk mengalih perhatiannya maka tangan tersebut kutangkap dan kuarahkan ketorpedoku yang sekarang sudah membatu. Sepertinya dia terkejut tetapi tangan kananku sekarang sudah berada di susunya, memelintir putingnya yang sekarang sudah menegang. Tangannya sesekali bergerak ditorpedoku dengan canggung. Karena rangsangan udah semakin tinggi maka begitu cdnya kuturunkan pantatnya juga terangkat sedikit. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Dangan bantuan kaki cdnya sudah turun. Sekarang tanganku sudah berada di vaginanya. Jari tengah berada di tengah belahannya sedangkan yang lain berada di kedua sisi vaginanya. Sekarang tanganku mulai bergerah dari bawah keatas dan atas kebawah beberapa kali. Sepertinya memang sudah banjir. Begitu tanganku menyentuh sesuatu yang mungkin sebesar biji kacang maka pantatnya mulai bergoyang. Kini leguhannya semakin sering terdengar tetapi tertahan di mulutku.
Kini mulutku kuarahkan keputingnya sedangkan tangan kanan memilin biji kacangnya. Goyangan pahanya semakin menggila hingga beberapa saat kemudian terdengar leguhan panjang dan 'mas… aah… aahh…… uuuuuhhhhhhhh' pinggulnya berhenti bergerak. Pahanya mengantup dengan kuat menjepit kaki dan tanganku. Pegangannya ditorpedoku juga agak mengencang sehingga membuat torpedoku menjadi sakit. Setelah beberapa saat tangannya mulai mengendur dari torpedoku. Kini pahanya kubuka dan aku sekarang memposisikan tubuhku di atasnya. Kubelai rambutnya dan kukecup pipinya, mengarahkan torpedoku kelubang bagian bawahnya. Secara tidak sengaja torpedoku tepat berada di pintu masuknya, maka kutekan sedikit dan dengan tenang kutanya "Bagaimana… enak apa engga Ri?" tanyaku kemudian.
Dengan menghela nafas dia menjawab "Enak sekali mas,"
"Pengen yang lebih enak lagi ngga?"
Sesaat kutemukan keraguan dari pancaran matanya. Kuelus pipinya dan kukecup bibirnya. Setelah beberapa saat kini bibirku mulai menyerang bibirnya. Tangan kananku juga mulai memilin putting susunya sementara torpedoku kugesekkan. Mungkin karena adanya lendir pelicin maka kini kepala torpedoku udah mulai masuk menyeruak, terasa hangat dan nikmat. Sesaat pinggulku ditahannya dan akupun memandangnya, "Mas jangan ditusuk lebih dalam lagi ya?"
"Emangnya kenapa?"
"Aku takut mas. Pacarku yang dulu juga udah memasukan 'itunya' tetapi karena sakit dan aku marah langsung kutampar dia."
Kini kulihat airmatanya mulai mengalir. Dengan tenang kukecup pipinya dan kuhapus air matanya. Diapun memelukku dengan erat. Kini rasanya torpedoku masuk sedikit lagi tetapi terhalang sesuatu maka kutahan beberapa saat untuk menikmati jepitan vaginanya.
"Mas yakin ingin mengambilnya sekarang?" dia balik bertanya.
"Ri, jika kamu tidak ingin memberinya sekarang, maka aku tidak akan mengambilnya."
"Mas aku takut. Kata temanku sakit sekali mas. Sekarang aja udah terasa agak sakit."
Aku hanya terdiam beberapa saat. Dengan perlahan aku mulai menggerakkan pinggulku sebatas penghalang itu. Kini mulut kami sudah mulai berciuman dengan tenang. Kupagut bibir bawahnya dan sepertinya ada sensasi lain sehingga dia membalas memagut bibir bawahku. Begitu kami lakukan berulang ulang. Pinggulnya juga mulai bergerak kekiri dan kekanan mengikuti irama tusukanku, sementara tangan kiriku kembali memilin putingnya. Mulutku sekarang sudah beralih ke sepasang bukit kembar yang mulai menegang kembali. Lendir yang keluar dari sela vaginanya juga semakin banyak sehingga dengan disengaja atau tidak mungkin karena nikmat dan nafsu yang mulai meninggi kini tangannya mendorong pinggulku dan……tusukanku semakin dalam sehingga rasanya penghalang itu robek oleh desakan torpedoku seperti merobek kertas. Torpedoku tenggelam separonya serta terasa dijepit dengan kuat.
"Mas…sssaaakkkiiittttttt…," rintihnya. Maka, kudiamkan beberapa saat dan kembali kuelus pipinya dilanjutkan dengan ciuman yang dibalasnya dengan antusias. Semakin lama kepala torpedoku semakin geli sekalipun yang tenggelam hanya separonya. Kuhentikan sejenak karena rasanya akan muncrat tetapi goyangan pinggulnya semakin kuat yang mengakibatkan gelombang orgasmus semakin dekat menerpaku, mendekati ejakulasi sehingga pada saat gelombang ejakulasi semakin tinggi ditandai dengan kedutan yang mulai terasa dipangkal torpedoku maka segera kutarik keluar dan memuntahkan isinya diatas perut Riri.
"Ri…… ooohhhh… Ri…… ssaayyaanngg" dan crroott… ccrroottt… ccrrooootttttt …cccrrrooootttttt… beberapa kedutan semakin lama semakin melemah hingga beberapa kedutan kecil masih terasa. Kini kuletakkan kembali torpedoku di atas belah vaginanya lalu menggerakannya maju mundur keatas dan kebawah beberapa saat hingga Riri pun meleguh, mengeluarkan erangan panjang tanda dia juga orgasmus."Mmmmaaasss…… aaaahhh. Mas aku cinta kamu," terasa pelukannya semakin erat. Aku membalas pelukannya sehingga kini benjolan lunak di dadanya terasa nikmat menempel di dadaku dengan puting yang mengacung.
"Aku juga cinta dan sayang sama kamu."
Beberapa saat kami berpelukan dan terdiam menikmati sisa kenikmatan sesaat yang sudah kami daki bersama-sama dan kadang berakibat fatal (perut meng-gelembung). Kini airmatanya meleleh dengan derasnya kesamping, "Rin maafkan aku…."
"Mas engga apa-apa. Aku cuma merasa bahagia sekaligus takut mas nanti meninggalkan aku."
"Rin, percayalah mulai sekarang aku akan semakin mencintai kamu dan terima kasih banyak atas kepercayaan yang kamu berikan untukku," (gombal).
Kamipun kembali berciuman dengan hangat dan mesranya. Setelah itu aku mengenakan celana pendekku merapikan pakaianku dan aku memintanya untuk mengenakan kembali pakaiannya takut kalau aku engga sanggup lagi menahan nafsuku yang besar melihat pemandangan yang menggiurkan itu. Setelah rapi kami berpelukan beberapa saat. Lagu yang kusetel ditape sepertinya juga hampir selesai melantunkan tembang Dian Piesesha.
Kuperhatikan jam sudah menunjukan angka 20:30 wita. Untuk menghindari kecurigaan tetangga karena kami sudah 1 ½ jam di kamarku maka akupun menuntunnya keluar kamar, tetapi begitu dia mulai melangkah maka aku mendengar ringisan kecil keluar dari mulutnya "Maassss………ssaaakkkkiiittt…," katanya pelan sambil berbisik dan mencubit pinggangku dengan gemes.
Setelah kejadian itu, kami beberapa kali melakukan hubungan badan sampai dia mens dan hubungan itu terus berlanjut hingga aku dan Riri sekolah di SMA Swasta yang sama. Pada suatu hari di awal tahun ajaran baru kelas 2, dia dilamar oleh seseorang yang sangat dekat dengan ayahnya. Dia sempat datang ketempatku dengan berlinangan air mata menceriterakan bahwa lamaran orang tersebut sudah diterima ayah dan ibunya tetapi dia takut jika calon suaminya kecewa mengetahui bahwa ia sudah tidak suci lagi sedangakan cintanya sudah begitu besar padaku. Awalnya ia mengajak aku agar kawin lari tetapi dengan tenang kutanyakan kembali kepadanya bukan dengan maksud menghindar dari tanggung jawab tetapi memikirkan masa depan kami nanti (entahlah mungkin ini adalah salah satu sifat manusia, pada saat berbuat lupa akan resikonya tetapi begitu diminta pertangungjawaban jawabanya tentu saja alasannya bermacam-macam), bagaimana jika kami kawin nanti sedangkan aku tidak lulus SMA dan dia juga tidak lulus SMA apakah nantinya aku bisa mendapat pekerjaan dan sanggup menghidupi anak-anak kami nanti sedangkan orang yang melamarnya sudah bekerja disebuah perusahaan penambang emas hitam terbesar tidak jauh dari desaku dengan gaji pokok yang cukup gede pada waktu itu sekitar 700 ribu kadang bisa sampai 1 ½ juta kalau lembur.
Akhirnya atas saranku jika memang calon suaminya tidak bisa menerima dia apa adanya maka aku akan melamarnya begitu kami lulus (SMU sekarang), tetapi tampaknya calon suaminya tidak terlalu memperdulikan masalah kesucian atau mungkin juga suaminya sudah sering melakukan hal tersebut (bukan berpikiran jelek tetapi aku juga pernah dikamp) maklum lama dikamp yang terkenal dengan berbagai macam hiburannya sementara uang yang datang mengalir bagaikan air, sebelum Riri menamatkan SMAnya merekapun kawin dan pindah ke-mes suaminya yang khusus disediakan oleh perusahaan untuk yang sudah berkeluarga (sekarang anak Riri 2 orang).

****
Usia sekitar 16 - 22 tahun.
Pacar kedua……

Praktek kedua dengan pacar baru :
Namanya Fay, anak pengusaha yang cukup terkenal karena memiliki banyak tempat usaha yang tersebar diberbagai tempat. Ada yang dikota, kecamatan maupun desa. Kesemuanya dijaga oleh anak maupun menantu dari bapaknya. Jumlah saudaranya ada 12 orang termasuk Fay anak yang ke-9. Pada waktu aku duduk diawal kelas 2 aku kenalan dengan Fay dari desa tetangga lain kecamatan tetapi masih satu kabupaten. Usianya sekitar 15 tahun. Pada waktu itu dia ikut kakaknya lalu pindah sekolah ke-SMA yang sama denganku hanya saja ia duduk di kelas 1. Rambut ikal, kulit sawo matang, ukuran dada 32 cup A, tinggi sekitar 158cm dan agak kurusan. Setelah perkawinan Riri aku mulai mendekatinya karena semenjak perkenalan pertama dulu sepertinya dia ada hati denganku. Bukan geer lho. Setelah tau kalau aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Riri, begitu kuungkapkan isi hatiku dia menerimanya dan rasanya inilah cinta pertamaku, Fay resmi jadi pacarku mendekati akhir tahun ajaran kelas 2.
Dunia begitu indah. Sejak mengenalnya akupun lebih terbuka kepadanya termasuk menceritakan hubunganku dengan Riri. Hanya saja menceritakan hubunganku dengan peliharaanku aku masih pikir-pikir takut dia kecewa mengetahui kelainan seksku. Sejak berhubungan dengan Riri dulu, aku tidak pernah lagi mencoba dengan binatang. Setelah selama setahun berpacaran aku lulus lalu melanjutkan pendidikan di tempat tinggalku sekarang di kota B. Kami pacaran selama ± 6 tahun. Suatu hari setelah selama 3 tahun kami berhubungan hanya lewat surat, aku pulang ke desaku, mencarinya tetapi kata kakaknya dia sudah kembali beberapa hari yang lalu ke tempat mereka karena SMAnya udah tamat. Aku hanya diberikan alamat rumah dan nomor telp. dengan nomor 0xx1-6xxxx3.
Setelah masa liburanku tinggal seminggu lagi, aku merencanakan akan kembali kekota B tetapi lewat jalan darat bukan lewat air (ada 'bus air'/kapal khusus mengangkut penumpang dan barang yang lewat 3 kali seminggu dengan tarif Rp. 12.500,- berangkat malam, tiba besok pagi di kota B) dan akan singgah ketempat Fay sekedar melepas rindu berat yang tertahan selama setahun. Setelah melalui medan yang cukup berat, bayangkan naik klotok kecil dengan carter Rp. 35.000,- (sekitar tahun 93) dan lama perjalanan 45 menit, dilanjutkan dengan ojek carter Rp. 20.000,- selama 1 jam lewat hutan dengan melalui jalan pengangkutan kayu hasil hutan sebuah perusahaan ply wood yang berdebu dan berpasir, barulah aku sampai ke kecamatan tempat Fay tinggal dengan daerah perbukitan yang khas akan jalan yang kadang menanjak sedangkan tempatku persis terletak di pinggir sungai yang airnya terkenal keruh dan sering banjir.
Sialnya atau malah untungnya sewaktu aku datang ke rumah mereka, ibunya mengatakan kalau Fay tidak ada di sana tetapi berada di perbatasan propinsi bersama dengan kakak perempuannya.
"Kalau kamu mau ke sana entar minta antar sama Heri," kata ibunya. Aku memang asalnya kawan dekat Heri, "Kebetulan nanti sore Heri pengen mengambil uang kesana," lanjut ibu Fay.
"Boleh juga tante. Entar sore aku kesana."
"Kamu istirahat aja dulu di kamar Heri sebentar."
"Makasih tante," jawabku sambil mengangkat tas kecil yang kubawa. Jam 4 sore setelah selesai mandi, aku sama Heri menyewa kendaraan roda 2 sebesar Rp. 30.000,- dengan waktu sewa sampai besok jam 9 pagi. Kebetulan kendaraan yang disewa milik temannya. Lama perjalanan sekitar 45 menit ngebut atau berjarak 48km, tetapi karena jarang ada mobil yang lewat maka kita bisa sesuka hati menggeber gas.
Rumah yang mereka sewa berukuran 6 x 15 meter, 6 x 6 kamar dan dapur disekat sedangkan selebihnya tempat usaha mereka. Jarak antara rumah mereka dengan rumah penduduk sekitarnya cukup jauh sekitar 75 meteran. Sesampainya di sana sepertinya mereka baru saja tutup sebab sewaktu kami datang dia sama kakaknya lagi menutup pintu depan. Dia cukup terkejut serta terharu melihat kedatanganku. Setelah turun dari kendaraan aku langsung menyapa dan menyalaminya.
"Hai, apa khabar yang?" sapaku hangat.
"Baik, kamu sendiri gimana?"
"Ya seperti kelihatannya sekarang, cukup baikan."
Heri begitu sampai setelah memarkir kendaraan langsung masuk ke dalam rumah dan ngomong sebentar dengan kakaknya untuk mengambil setoran.
"Nngggg…… ngomong-ngomong lama yang di sini?" dia bertanya sambil tangannya menggenggam tanganku dengan erat.
"Mungkin sekitar 4 atau 5 hari," jawabku kemudian.
Memang sedari dulu aku sering menginap di tempat mereka sewaktu dia ikut kakaknya di desaku, jadi ayah dan ibunya serta saudaranya yang lain sudah kenal begitu dekat denganku. Fay kemudian permisi denganku lalu ngomong sebentar dengan Hari. Sekitar jam 6 sore Hari mohon diri sedangkan aku ditahan sama Fay, disuruh tinggal di sana selama beberapa hari.
"Aku tidur sama Apy, dan Ade dengan suami kak Apy," katanya menjelaskan.
Malam itu sekitar jam 19:00 listrik kebetulan padam jadi rencananya nunggu sampai lampu nyala baru permainan ketangkasan dibuka. Aku ada kesempatan ngobrol dengannya. Kami duduk berdampingan dan mulai ngobrol.
"De, kapan kira-kira kuliahmu selesai?" tanyanya kemudian.
"Aku ngambil D3 komputer sekarang dan lamanya kira-kira 3 tahun. Rencananya begitu selesai aku mau cari kerja dulu."
"Kira-kira kamu ngelamar aku kapan?" dia bertanya tetapi duduknya agak gelisah.
"Begini, rencananya 3 hari lagi aku akan bicara sama ayah dan ibumu."
"Tentang apa? Apa mau ngelamar aku?" tanyanya lagi sambil sedikit penasaran.
"Mungkin aku minta waktu dulu sama ayah dan ibumu mungkin kira-kira sampai selesai kuliah dan aku bekerja."
"Lama ya."
"Engga tahan ya nunggu selama itu," aku balik bertanya.
"Ya tergantung. Tapi… kamu seriuskan De pengen ngelamar aku?"
"lha iya lah yang," jawabku sambil memeluk pinggangnya.
"De aku agak kurusan sekarangan," katanya sambil menyodorkan tangannya.
"Banyak pikiran ya?" tanyaku lagi. Aku masih memegang tangannya sambil kuelus. Dia kemudian menghela napas dan bercerita dengan mata berkaca-kaca kalau dia digosipkan udah dihamilin sama anak Danramil (sekarang Koramil). Aku kemudian memandangnya dan mencium keningnya.
"Fay, jika kamu merasa engga benar, kenapa harus malu?"
"Tapi gosip ini udah sampai ketelinga orangtuaku," jawabnya sesegukan.
"Begini aja, gimana kalau nanti aku sama kamu ketempat ayah dan ibumu. Kita minta pengertian mereka seraya menjelaskan bahwa hal itu tidak benar sekaligus ngomong bahwa aku akan melamarmu. Tetapi kamu harus sabar nunggu, setidaknya sampai aku lulus," jelasku panjang lebar.
Setelah mendengar penjelasanku barulah isaknya agak mereda. Dia balas memelukku dengan mesra.
"Makasih De atas kepercayaan kamu sama aku," jawabnya.
"Segala sesuatu jika dipikirkan dengan kepala dingin akan membuahkan hasil yang cukup menggembirakan," kataku.
Kemudian kami diajak makan oleh kakaknya. Kakaknya cukup terkejut melihat begitu lahapnya Fay makan. Aku cuma bisa mengedipkan mata kearah kakaknya. Setelah selesai makan kakaknya bertanya kepadaku dan kukatakan kalau aku tidak percaya sama gosip yang beredar sekarang ini.
Keesokan harinya aku ketempat bapak dan ibunya tetapi fay tidak ikut, cukup aku katanya yang ngomong ke orangtuanya. Setelah beberapa saat aku sampai. Kebetulan ayah dan ibunya ada. Aku kemudian menjelaskan niatku dan mengatakan bahwa aku akan melamarnya tetapi aku minta waktu dulu sampai aku selesai kuliah dan memperoleh pekerjaan. Hanya saja saat itu orangtuaku tidak tau masalah lamaran ini karena aku baru tau tentang gosip yang menimpa fay kemaren sore, jelasku panjang lebar ke orangtuanya.
Setelah selesai ngomong dan sepertinya mereka setuju, akupun kemudian mohon diri dan mengabarkan kepada fay bahwa orangtuanya kemungkinan besar setuju kalau aku akan melamarnya setelah lulus nanti. Sesampainya di sana fay langsung bertanya dan kujelaskan pembicaraanku dengan orangtunya. Sepertinya dia bahagia sekali.
Malam harinya lampu kembali padam. Kebetulan dia sakit perut, maka aku mengantarnya ke sungai. Setelah selesai kami kembali, berjalan dengan berpelukan mesra kembali kerumah. Sekitar jam 21:00 malam anak kakaknya demam. Mereka membawa anak mereka ke puskesmas yang jaraknya sekitar 15 km melewati perbatasan antar propinsi. Aku dan Fay ditinggal untuk jaga rumah. Sekitar 1 jam kemudian suami kakaknya datang mengambil selimut dan keperluan lainnya. Katanya mereka menginap di sana dan sebentar lagi Heri akan datang ketempat kami.
Setengah jam setelah suami kakak Fay berangkat, kami kemudian masuk kerumah setelah sebelumnya hanya duduk diluar menunggu kalau-kalau Heri datang. Fay kemudian tiduran di ranjang sementara aku menggantung 'jangkut' (kelambu) disamping ranjangnya. Beberapa saat kemudian Fay bertanya, "De apa benar kamu sudah ngomong," tanyanya kurang yakin.
"Iya," jawabku sambil mendekat kearahnya. Kemudian aku duduk di pinggir ranjang sambil membelakanginya.
"Tapi rasanya 3 tahun itu lama De," jawabya sambil tangannya diletakkan dipahaku.
"jika kita memang sama-sama mencintai, mungkin 3 tahun itu tidaklah lama," jawabku, kemudian aku memalingkan muka dan memandang wajahnya yang malam itu kelihatan begitu cantik dan mempesona, dengan mengenakan baju tidur yang agak tipis sehingga branya terlihat samar-samar. Aku kemudian menunduk lalu mendekatkan wajahku, memandangnya dari jarak dekat. Dia hanya tersipu dan memejamkan matanya. Kukecup pipinya. Dia agak terkejut tetapi kemudian bibirnya sedikit membuka. Kukecup bibirnya. Setelah beberapa saat barulah dia membalas dengan gerakan lembut dan tangannya melingkar memeluk tengkukku.
Kubaringkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya dengan mesra. Beberapa saat kemudian kami sudah saling melumat, sementara tangan kananku singgah dan mengelus di pinggangnya, sedangkan tangan kiri memeluk tengkuknya, tangan kanannya mengelus punggungku dan tangan kirinya memegang tangan kananku tatapi bukan bermaksud menghalangi hanya mengikuti gerakan tanganku. Beberapa saat kemudian tangan kirinya sudah memegang bahuku sedangkan tangan kanan mengelus dengan irama yang semakin cepat dipunggungku, nafasnya semakin memburu. Pada saat itu tangan kiriku menyusup baju tidurnya naik keatas lalu mengelus bawah bukit kembarnya yang terhalang bra. Dia hanya mengeliatkan badannya. Kemudian tanganku mulai mengelus bagian bawah bukit kembarnya, lalu mendorong branya keatas sehingga secara tidak langsung tanganku menyentuh puting susunya. Leguhan tertahan terdengar karena kami masih berciuman.
Dengan sabar akupun mulai melepaskan bajunya, kemudian mencari pengait branya. Sewaktu pengait bra kutemukan lalu melepaskannya, dia melepaskan ciuman, memandangiku sebentar kemudian kuanggukan kepala. Dia tersenyum kemudian ciuman kembali kami lanjutkan. Sekarang bagian atas tubuhnya sudah terbuka. Akupun melepas bajuku sambil kembali berpelukan mesra. Celana panjangku kulepaskan beserta dengan celana kolor. Sekarang aku sudah telanjang. KKutarik celana tidurnya kebawah dan hanya menyikasan cd tipisnya yang bermotif kembang-kembang. Perlahan ciumanku turun ke dadanya sementara itu tanganku bergerak turun menuju kesela pahanya. Pada saat puting buah dadanya kukecup, tangan kiriku berada tepat di sela vaginanya. Reaksinya sangat menggairahkan. Kuelus perlahan bukit berhutan tipis itu. Sekarang sudah mulai becek oleh cairan nafsu. Kemudian cdnya kudorong kebawah perlahan. Pada saat itulah tanganku ditahannya. Kembali kupandangi wajahnya. Kuanggukkan kepala dan mengangkat alis keatas meminta persetujuannya. Kemudian tangannya membiarkan tanganku menurunkan cdnya dibantu dengan mengangkat pahanya sedikit lalu kuturunkan langsung kebawah beserta dengan celana tidurnya yang masih tersangkut dikaki bawah.
Sekarang aku mengangkat tubuhku, menempatkan kedua kakiku di sela kakinya yang mengangkang sambil bertumpu pada kedua sikut. Kupeluk dengan erat dan kucium kemudian dibalasnya dengan bernafsu. Perlahan kuturunkan pantatku dan meletakkannya disela bukit berhutan tipisnya. Kudorong naik turun disela-sela lipatan vaginanya sembari sesekali menyentuh klitorisnya.
Kini dia mulai membalas dengan mengoyang pahanya kekiri dan kanan dengan gerakan kaku. Sesaat kuhentikan gerakanku. Kupandangi kembali wajahnya, kuletakkan torpedoku yang berdiri kokoh kepintu masuknya dengan bantuan tangan kananku. Begitu tepat dipintunya kutekan sedikit, terasa hangat dan berdenyut-denyut. Kembali kupandangi wajahnya.
"Yang boleh aku masuk?"
Dipandanginya wajahku dengan mata sayu kemudian bertanya, "De, apakah kamu mencintaiku dan berniat melamarku?"
"Fay kamu akan kulamar dan akan kujadikan isteriku."
kemudian kukecup bibir, turun kearah puting dadanya. Kembali kupandangi wajahnya. Diapun mengagukkan kepalanya. Kukecup kembali bibirnya. Kali ini dia menggoyang pahanya dengan lembut. Kutusuk sedikit hingga kepalanya sudah mulai menyeruak bersarang di hutan tipis itu.
"Aaakh… De sakit…"
Kuhentikan sejenak, padahal kepalanya belum masuk semua. Kucium kembali dan setelah beberapa waktu kutekan torpedoku hingga kepalanya masuk terjepit begitu kuatnya.
"aahhhhcccc……," keluhnya beberapa saat sambil melepaskan ciuman.
Kembali kuhentikan gerakanku. Kuelus pipinya dan kucium kembali bibirnya yang merekah. Setelah beberapa saat kurasakan cairan di sekitar vaginanya cukup banyak keluar maka kudorong kembali torpedoku hingga menyentuh penghalang. Fay hanya mengerang kecil tertahan dan berkata, "Yang jangan ditekan lagi, sakit."
Kudiamkan beberapa saat tapi karena cairan yang keluar dari veginya sudah sangat banyak maka ketika kutarik dan tekan terasa mulai lancar. Tetapi jepitan yang begitu kuat mencengkram membuat tubuhku terdiam kaku menikmati sensasi yang sungguh luar biasa melebihi persetubuhan pertamaku dengan Riri. Pinggulnya juga berhenti bergoyang, mungkin kini dia merasa penuh di bagian bawahnya.
Kini aku kembali mengecup bibirnya sementara tubuh bagian bawah tidak kugoyang. Fay membalas kecupanku dengan hot. Kini pinggulnya terasa mulai bergerak perlahan, kemudian kukulum bibirnya sambil menekan kuat torpedoku hingga masuk separoh dan terasa merobek sesuatu. Tubuhnya bergetar dan meleguh. Hampir saja aku ejakulasi karena jepitan yang begitu kuat. Kutahan sesaat posisi demikian. Tangannya kini memelukkku dengan kencang. Ketika kuperhatikan matanya yang terpejam kini mengeluarkan air mata, kulepas ciuman dan kuelus perlahan pipinya.
"Yang……tahan sebentar ya?"
"Sakit sekali De."
"Tahan sebentar… entar juga sakitnya hilang," kataku meyakinkannya.

kini kulanjutkan ciumanku. Sekarang sudah turun kearah putting susunya. Kukecup dan kugigit perlahan kedua putingnya secara bergantian. Terasa pinggulnya kembali bergoyang perlahan. Kini semakin kutingkatkan kecupanku diputingnya sambil menggerakan torpedoku turun naik. Rerasa mulai lancar keluar masuk hingga beberapa saat kemudian santakan yang cukup kuat membuat turpedoku masuk seluruhnya. Kupeluk tubuhnya serta kucium dengan mesra bibirnya. Kembali kudiamkan kembali beberapa saat. Kini yang terdengar bukan suara kesakitan tetapi leguhan kenikmatan. Sesaat kemudian kugerakkan kembali tubuhku naik turun. Pinggulnya bergerak cepat tanda Fay hampir mencapai orgasmus. Kini topi torpedoku juga sudah terasa geli menandakan aku juga sudah mendekati orgasmus. Beberapa menit kemudian tabuhnya bergetar. Tanganya memeluk tubuhku dengan kuat serta kedua kakinya secara rifleks mengejang dan menekan pahaku kebawah. Akibatnya tubuhku hampir tidak dapat bergerak hanya saja kedutan di sekujur batang torpedoku sudah semakin kuat ditambah lagi jepitan dari lapisan dalam veginya yang berkedut-kedut membuat gelombang ejakulasiku semakin mendekati puncaknya. Begitu dia meleguh akupun ikut meleguh. Kami berpelukan erat. Crot… cccrroott… ccrroottt… Aku pun ejakulasi bersamaan dengan orgasmusnya. Beberapa saat kami terbang ke awang-awang menikmati kenikmatan sesaat. Akhirnya sama-sama tergeletak dengan nafas ngos-ngosan.
Kukecup pipinya. Dia memelukku dengan kuat sambil berkata, "De sekarang kamu sudah memiliki aku seutuhnya."
"Yang, terima kasih banyak karena mempercayai aku mengambil milikmu yang paling berharga." Kemudian kami sama-sama hanyut dalam suasana malam yang sunyi. Beberapa saat kemudian kulepas torpedoku dari sarangnya lalu kami berpakaian kembali. Aku kemudian melangkah kebelakang mencuci torpedoku. Sesaat kemudian setelah kembali dia kugendong kebelakang, membiarkannya mencuci miliknya. Ketika selesai kugendong lagi tubuhnya ketempat tidur lalu membaringkannya serta mengecup pipinya dan berkata, "Yang tidur yang nyenyak ya?"
Dia hanya mengaggukkan kepala, memejamkan matanya, kemudian kelambu kuturunkan. Aku duduk diluar menunggu kakaknya. Tidak berapa lama kemudian kakaknya datang, menceritakan kalau keponakannya tidak apa-apa soalnya tadi dia sempat singgah sebentar kesana dan kembali bertanya, "Mana Fay?"
"Udah tidur, mungkin kecapean," jawabku sekenanya. Kami ngobrol di luar rumah sampai jauh malam. Ketika sama-sama kecapean ngobrol kamipun kembali ke rumah dan tidur.
Selama di sana kami melakukan persetubuhan sekitar 4 kali. Tiga hari kemudian aku kembali ke kota B menggunakan colt dengan jarak tempuh 8 - 10 jam sejauh 600 km. Sehari sebelum aku kembali ke kota B, anak kakaknya sudah diperbolehkan dibawa pulang.

****
1½ tahun kemudian, aku dapat pekerjaan tetapi karena tidak betah bekerja di lapangan sambil kuliah dengan gaji sekitar Rp. 125.000,- (tahun 1994 an), aku mencoba bekerja kantoran di sebuah perusahaan kontraktor sambil kuliah dengan gaji 2x lipat. Tetapi pekerjaan yang begitu banyak dan menyita banyak waktu kadang harus begadang 3 hari 3 malam untuk menyelesaikan pekerjaan membuat aku tidak betah. Tiga bulan kemudian aku mengundurkan diri.
Awal tahun 1995 aku menyusun tugas akhir. Untuk mengisi kekosongan waktu, aku mengajar kursus komputer untuk kelas private (pada waktu itu program dos cukup populer sedangkan windows 3.10/3.11 hanya sebagian orang yang bisa) di sebuah tempat kursus yang cukup terkenal. Setelah lulus sekitar akhir tahun 1995 aku memperoleh pekerjaan yang cocok di sebuah perusahaan swasta dengan penghasilan yang cukup besar. Tetapi karena perusahaan itu baru buka maka kami ditraining ke Jakarta untuk mempelajari OS Unix V/386 secara khusus di sana, di samping Program For Windows sebagai media penghubungnya. Aku sendiri sebelum berangkat menghubungi Fay di kotanya tetapi telpon rumah mereka selalu terdengar nada sibuk. Akupun berangkat ke Jakarta. Di sana sekitar ± 3 bulan.
Ketika kembali, akupun berusaha menghubunginya lewat telp. karena sejak ½ tahun yang lalu suratku tidak pernah dibalas. Suatu sore di awal tahun 1996 aku kembali ke tempat kursus untuk sekedar menyapa teman-teman semasa mengajar dulu. Aku diberi surat yang katanya datang sekitar 4 - 5 bulan yang lalu.
Ketika kubaca ternyata surat itu dari Fay yang memintaku segera datang ke sana untuk sesuatu yang sangat penting. Tetapi ketika kuhubungi kembali nomor telp. rumah mereka tetap aja nada sibuk. Akupun dikirim untuk kedua kalinya ke Jakarta karena ada program baru yang harus dipelajari di sana selama ± 2 bulan. Untuk kesekian kalinya aku berusaha menghubungi Fay. Tetap tidak ada jawaban. Berpuluh-puluh surat yang kukirim tidak ada jawabannya hingga mendekati pertengahan tahun 1996 aku mencoba menanyakan ke informasi telkom di nomor 108. Ternyata sejak pertengahan tahun 1994 kode wilayah untuk kecamatan W diganti mengikuti kabupaten terdekat lain propinsi dari 0xx1 menjadi 0xx8.
Malam itu juga kutelpon nomor tersebut. Kata ibunya Fay sudah tidur. Kukatakan besok aku akan menelpon dia. Besoknya akupun menepati janji untuk menelponnya.
"Hallo selamat malam," jawab di seberang sana.
"Hai ini Fay ya?"
"Iya…ini siapa ya?"
"Ade," jawabku singkat.
Kutunggu beberapa saat. Fay hanya terdiam. Kembali kutanyakan khabarnya. Ternyata jawaban yang kudapat sungguh sangat mengejutkan yang membuat kerongkonganku serasa tercekat dan sakit sekali sewaktu menelan air ludah. Dunia terasa hampa. Kakiku goyah. Ini semua karena kesalahanku.
"De… aku sekarang sudah punya… suami…"
"Ma… maksud… ka…… ka… mu… a…a…pa…Fay?"
Dia terdiam sejenak, menjelaskan bahwa dia sudah dikawinkan karena kembali mendapat gosip sebanyak 2 kali. Orangtuanya tidak tahan mendengar gosip itu. Begitu ada yang melamarnya, dia sudah mengirim surat tetapi katanya aku tidak datang maka iapun akhirnya dengan berat hati menerima lamaran tersebut.
Malam itu bumi serasa hampa. Aku akhirnya keluar dengan motor kantor. Sepanjang malam keluyuran di jalan menghilangkan ketegangan dan ngorbol dengan teman yang kebetulan seorang tukang ojek yang biasa mangkal di depan kantor polisi. Sekitar jam 4 subuh baru aku kembali ke kantor, tidur di sana karena kecapean. Berhubung hari sabtu libur maka malam sabtu menjadi malam kelabu. Aku tidur sampai siang hari dengan perasaan galau. Kadang bermimpi.
Empat tahun lamanya kukubur perasaan kecewa dalam diriku, menutup diri dari semua perempuan yang ada sekalipun ada 2 orang yang mengejar-ngejar aku. Tetapi hatiku sudah hancur lebur. Setelah 3 tahun menenggelamkan diri dalam pekerjaan, akupun akhirnya dapat bangkit dari keterpurukan. Menyadari kesalahanku mungkin inilah karma yang harus kuterima untuk menebus sebagian dari kesalahanku (sekarang anak Fay 3 orang).

Sebelum kulanjutkan kecerita selanjutnya:
'Oh… Tunanganku, Aku ketinggalan kereta'

Visits: 64476
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 21573   Help/FAQ   Terms   Imprint