The Recovery and Showdown in Little Japan
"Aaaaagggghhhh...!!!" aku bangun dengan tiba-tiba dan kurasakan nyeri yang hebat di sekujur tubuhku seperti ditusuki ribuan jarum.
"Ssssstttt... Go back to sleep, Honey..." sebuah suara lembut yang kukenal dan tangan halus mengelus kepalaku. Sepintas, aku tidak ingat lagi aku berada di mana dan sedang apa. Untuk beberapa saat aku tidak mengenali sekelilingku. Perlahan setelah aku merebahkan diriku lagi, aku melihat di sekelilingku. Aku seperti berbaring di sebuah ruang atau lebih tepatnya kamar tidur, tapi bukan kamar tidur yang pernah kukenal. Di sebelahku, Jeanne duduk di tempat tidur di mana aku berbaring. Dengan lembut dia membelai-belai rambutku, kemudian mencium keningku.
"Jean... Where's Mitsuko?"
"She's fine. Don't worry about her. Benny and I are taking care of her. She's still sleeping right now."
"Where am I...? How could I get here...?" aku menghujani Jeanne dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Jeanne menempelkan jari telunjuk kanannya ke bibirku, mengisyaratkanku untuk diam.
Dari keterangan Jeanne, ternyata aku tidak sadarkan diri selama lima hari! Baru aku menyadari bahwa di lipat siku kananku tertusuk jarum yang dihubungkan dengan infus. Jeanne bercerita bahwa yang mengabari kejadian atas diri Mitsuko dan aku adalah Mitsuko sendiri.
Setelah aku roboh tak sadarkan diri, Mitsuko dengan kebingungan memanggil-manggil namaku dan mencoba untuk menyadarkanku dengan kemampuannya yang terbatas. Dia mencari-cari sarana untuk bisa menghubungi polisi atau Benny, kakak Jeanne (tentu saja aku pikir dia telah mengenakan kembali pakaiannya). Akhirnya dia bisa menemukan sebuah telefon genggam milik salah seorang dari lawan-lawan yang kurobohkan. Dengan telefon genggam itu, Mitsuko menghubungi Benny dan juga 911 (nomor gawat darurat di Amerika Serikat). Polisi dan Paramedik berdatangan, dan tidak lama kemudian disusul oleh Benny bersama beberapa orang temannya (atau anak buahnya?). Aku dibawa ke unit gawat darurat sebuah rumah sakit. Para dokter heran dengan kondisiku yang sangat parah dan kritis waktu itu, tetapi aku masih bisa bertahan hidup (aku percaya bahwa Tuhan masih belum menghendaki nyawaku lepas dari tubuhku, biarpun tubuhku sudah "sekarat" sekali pun). Mitsuko sendiri tidak mengalami luka di tubuhnya sama sekali. Setelah diizinkan pulang dari rumah sakit, Mitsuko dirawat di rumah di bawah pengawasan seorang ahli jiwa karena guncangan batin yang baru saja dialaminya.
Aku sendiri tinggal selama hampir 24 jam di unit gawat darurat, kemudian dipindahkan ke ruang perawatan intensif selama 2 malam. Atas permintaan dokter Ling (beliau ini adalah dokter keluarga dari Keluarga Chang, merupakan seorang "terkun" [dokter dukun] yang sangat terkenal, ahli kedokteran barat dan timur), aku dipindahkan ke paviliun terpisah agar dokter Ling bisa mengobatiku dengan lebih leluasa dengan cara menggabungkan teknologi pengobatan barat dan timur. Bahkan atas permintaan Mr. Chang (ayah Jeanne), guru TCM (Traditional Chinese Medicine) dari dokter Ling yaitu dokter Liauw (pernah masuk tv pada acara Believe It Or Not dengan demo pengobatan qigong dan ilmu ringan tubuh) diundang ke LA dari Hong Kong untuk mengobatiku.
"Now, Honey... There are Gentlemen want to see you. They have been waiting for you since yesterday." Ujar Jeanne setelah selesai menceritakan padaku secara singkat kondisiku sekarang ini. Aku hanya mengangguk. Aku hanya berpikir dan bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan yang ingin menjengukku dan dari mana mereka tahu kondisiku.
Aku terkejut dan tambah bertanya-tanya dalam hati saat kutahu siapa yang datang memasuki ruangan tempatku berbaring setelah Jeanne keluar dari ruangan.
"Massss....???" kataku terkejut sambil berusaha untuk merapatkan kedua telapak tanganku di depan dada, membentuk hormat.
"Frank...." terbayang jelas di wajah Mas DSB dan Mas ST (untuk menghormati dan menjaga privasi mereka, nama mereka aku inisialkan saja) rasa kuatir, sedih, dan ekspresi kemarahan melihat kondisiku. Kuperhatikan rahang Mas DSB yang menampakkan rasa penasaran yang sangat. Mas DSB adalah guruku dan Mas ST adalah paman guruku (kakak seperguruan guruku).
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mas DSB sambil memegang jemari tangan kiriku, sementara Mas ST menempelkan telapak tangannya pada telapak kaki kananku. Ada rasa hangat mengalir dari tangan Mas ST dan rasa dingin mengalir dari tangan Mas DSB. Aku menerima penyaluran tenaga dari mereka secara pasrah.
"Entahlah Mas... rasanya sekujur tubuhku seperti ditusuki ribuan jarum dan nyeri sekali kalau obat penghilang rasa sakitnya sudah memudar. Rasanya badanku lemas sekali seperti kehilangan otot dan tulang."
"Istirahatlah dengan tenang Frank. Aku dan Mas ST bakalan membuat perhitungan sendiri dengan orang-orang yang mencelakaimu."
"Mas... nggak usah repot-repot... Urusan ini biar aku selesaikan sendiri dengan teman-temanku."
Mas ST yang dari tadi diam saja ikut angkat bicara.
"Urusannya sudah nggak main-main lagi Frank. Biar kami bantu kamu dengan segala perhitunganmu. Toh polisi LA sini nggak bisa ngapain-ngapain dalam urusanmu. Buat kami, ini bukan masalah sekedar balas dendam. Kami tidak terima kamu diperlakukan seperti sekarang ini dan dijadikan bulan-bulanan secara ngenes. Kami akan minta pertanggungjawaban dari kelompok orang-orang yang menganiaya kamu. Jelas, lewat jalur hukum nggak akan berhasil karena nggak bisa kita buktikan secara nalar. Terus apa kata Ibundamu kalau beliau bisa sampai tahu kondisimu sekarang ini?"
"Mas ST benar Frank. Seseorang atau beberapa orang harus bertanggung jawab dengan kondisimu yang seperti ini, paling tidak dari segi finansial. Soal balas dendam, itu perkara gampang. Sudahlah, tenang-tenang saja kamu. Aku sendiri akan berusaha untuk membantu pemulihan tubuhmu. Aku juga akan meminta ayahandaku untuk membantumu dari jauh. Insya Allah, semua bisa berjalan lancar. Kalau perlu beberapa temanku yang juga ahli pengobatan akan aku hubungi untuk meminta bantuan mereka."
"Mas... terima kasih banyak. Aku sudah banyak merepotkan banyak orang. Maafkan aku Mas..." kataku sambil tak terasa air mataku mengalir karena terharu akan besarnya perhatian guru dan paman guruku terhadap kondisiku.
Dari cerita keduanya yang saling melengkapi, aku bisa merangkai bagaimana banyak hal yang "serba kebetulan" bisa terjadi. Aku percaya bahwa memang Tuhan sudah mengatur jalan hidup banyak orang untuk saling bertautan dan membentuk suatu cerita panggung kehidupan.
Mas DSB, guruku, waktu itu sedang bersekolah di sebuah kota di Kansas, sedangkan Mas ST, paman guruku, sedang kuliah di salah satu universitas yang kondang di AS. Memang, biarpun umur kami tidak berbeda jauh, tetapi kedua orang itu sangat mumpuni dan mendalami teknik silat mereka karena mereka belajar langsung dari pendekar-pendekar yang juga terkenal andal baik di kalangan perguruan kami sendiri maupun di kalangan dunia persilatan di Indonesia.
Secara kebetulan, Mas DSB ini sedang dalam perjalanan pulang ke Kansas dari Kanada dan transit di LA sebagai port of entry-nya. Entah karena firasat yang sangat kuat atau hal lain, maka beliau memutuskan untuk singgah di LA barang semalam dua malam mengunjungiku (tentu saja beliau harus mengubah tiket pesawatnya). Betapa kagetnya beliau saat mendengar kabar bahwa aku dalam kondisi yang kritis dan langsung menuju paviliun tempat aku dirawat. Seperti kataku, banyak kebetulan yang sepertinya tidak mungkin dan tidak masuk akal terjadi saat itu. Sekitar dua jam kemudian, Mas ST juga datang ke paviliunku tanpa janjian dengan Mas DSB. Saat itu Mas ST sedang menghadiri sebuah konferensi dan menyempatkan untuk bisa mampir ke tempatku. Yang ditemukan malah beberapa anak buah Benny yang ditugaskan untuk tinggal sementara di tempatku. Dari cerita (atau laporan?) anak buah Benny, Mas ST segera menuju ke tempat aku dirawat dan beliau juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Mas DSB. Aku sendiri juga tidak habis pikir dengan "kebetulan-kebetulan" itu.
Mas DSB memang dilahirkan dengan ayah yang mendalami silat semenjak beliau masih kecil. Ayahanda Mas DSB ini berguru langsung dari pendiri dari perguruan silat kami dan merupakan salah satu murid yang sangat berbakat. Beliau mengundurkan diri dari dunia persilatan semenjak guru beliau meninggal dunia tetapi masih terus aktif berlatih hingga kini. Di samping pekerjaan beliau sebagai seorang konsultan perminyakan untuk sebuah perusahaan minyak asing di Jakarta, Ayahanda Mas DSB ini juga secara gratis membantu mengobati orang-orang secara paranormal lewat pengobatan alternatif tenaga dalam. Mas DSB sendiri selain berguru lewat Ayahandanya, beliau juga memperdalam ilmunya dari seorang pendekar yang "termarginalkan" (meminjam istilah politik sekarang) di Bandung, ditambah dari beberapa kakak seperguruan beliau yang memang banyak yang "dukdeng" ("sakti luar dalam"). Misalnya saja Mas CS yang sekarang memegang tampuk kepemimpinan cabang silat perguruan kami di Jerman dan kandidat doktor. Mas AS, PhD yang menjadi dosen di sebuah universitas di Amerika Serikat. Mas AS ini salah seorang pemegang ilmu "Lanang Sejati" dan "Payung Rasul" (ilmu ini tidak berjodoh denganku karena berbeda dasar agama). Menurut cerita yang pernah kudengar, Mas AS pernah dengan terpaksa mengeluarkan ilmu "Lanang Sejati" saat dibegal di Bronx oleh lima orang. Kelimanya mati dengan tubuh hangus. Polisi New York sempat dibuat bingung dengan kasusnya sehingga dimasukkan dalam katagori "x-files" (kasus-kasus tak terungkapkan) bagian "self-combustion case". Itu baru guru-guru utama Mas DSB, belum lagi para pendekar lain dan kakak-kakak seperguruan beliau yang lain yang sempat ditimba ilmunya.
Berbeda dengan Mas DSB yang berguru dari banyak orang, Mas ST ini berguru hanya dengan satu orang pendekar di Surabaya. Jadi, secara "teoritis" ilmu Mas ST ini lebih "murni" dari ilmu Mas DSB. Secara tingkatan, Mas ST lebih tinggi satu tingkat, tetapi kalau mereka berdua pibu (berantem bersahabat mengadu ilmu) mereka tidak pernah bisa saling mengalahkan. Entahlah kalau mereka memang saling mengalah. Mas DSB dan Mas ST ini merupakan sahabat semenjak mereka berdua masih kecil dan sama-sama tinggal di Surabaya. Kalau menurut penuturan Mas DSB, Mas ST menang ditenaga, kematangan teknik dan ketenangan. Sedangkan Mas DSB menang dikecepatan gerak, kekayaan teknik dan pengalaman bertarung. Satu hal itulah yang membedakan Mas DSB dan Mas ST, yaitu pengalaman bertarung. Mas DSB ini semasa masih lajang suka sekali berkelahi, baik pibu maupun tarung jalanan, sehingga tidak aneh bila beliau mendapat gelaran "Si Naga Langit" karena kalau beliau mengeluarkan teknik-teknik andalannya, tubuhnya "menyelam" dan meliuk-liuk berputar-putar seperti melibat diselingi dengan tendangan-tendangan yang mengarah pada titik-titik melumpuhkan bagaikan seekor naga yang membubung naik ke langit.
Hal yang mengagumkanku dari persahabatan Mas DSB dan Mas ST ini adalah bentuk persahabatan mereka yang unik (paling tidak menurutku). Mereka datang dari dua latar belakang yang berbeda. Mas DSB adalah arek Suroboyo asli sedangkan Mas ST adalah WNI keturunan Cina. Keduanya memang beragama sama. Hubungan mereka demikian akrabnya seperti saudara kandung, saling membantu, saling membela dan saling menolong. Melihat kenyataan ini dan apa yang kualami, aku tidak habis pikir dengan situasi yang banyak terjadi akhir-akhir ini di tanah air kita, terutama yang menyangkut dengan hal-hal SARA. Aku jadi ingat dengan kata-kata Ayahanda Mas DSB waktu aku bertemu beliau, yaitu "Sekarang ini banyak orang sudah kehilangan makna 'agomo'. Agomo itu dalam Bahasa Jawa artinya 'ageman sukmo' atau 'pakaian jiwa'. Yang ada sekarang ini agama cuma dijadikan pakaian badan saja." Aku pikir, ada benarnya juga kata-kata beliau.
Setahuku, Mas DSB memang aktif di bidang silat. Beliau sempat diminta menjadi salah satu pembicara dalam sebuah seminar nasional pencak silat se-Amerika Serikat di Chicago yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal RI Chicago. Beliau juga aktif memperkenalkan pencak silat kepada masyarakat Amerika Serikat lewat demonstrasi silat pada acara-acara yang diselenggarakan atau dipartisipasi oleh PERMIAS (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) tempat beliau tinggal bersama kelompok silat informal (anggotanya terdiri atas pesilat-pesilat yang berasal dari berbagai perguruan silat yang berbeda) yang dibentuknya bersama dua orang teman beliau. Demonstrasi silat yang mereka lakukan biasanya akan "membuka mata" banyak orang Amerika karena memang lain daripada yang lain dibanding demonstrasi bela diri negara lainnya. Biasanya mereka sudah mempunyai "paket demo" yang terdiri atas: permainan jurus, beladiri, tenaga dalam, kanuragan dan ilmu meringankan tubuh. Inilah yang juga membedakan antara Mas DSB dengan Mas ST. Mas ST lebih memilih untuk "low profile" dan diam-diam saja dengan kemampuan silatnya. Kata Mas DSB, "Emangnya cuma Cina, Jepang, Korea, Filipina dan Thailand doang yang punya ilmu bela diri? Kita juga jangan mau kalah! Berapa banyak coba orang yang tahu apa itu silat? Bandingkan dengan kungfu, karate, taekwondo, arnis dan muaythai atau kickboxing! Siapa lagi yang memperkenalkan silat kalau bukan kita-kita ini yang emang bisa silat?"
------------
Sudah seminggu sejak aku sadar dari pingsanku. Kondisiku sudah semakin membaik, biarpun belum pulih seratus persen. Saat ini aku sudah tidak dirawat di paviliun kompleks rumah sakit lagi, tetapi dipindahkan ke sebuah rumah milik keluarga Chang (masih terhitung paman Benny dan Jeanne) di daerah Beverly Hills dan diberi sebuah kamar sendiri. Mas DSB dan Mas ST memutuskan untuk tinggal di LA hingga mereka yakin aku sudah sembuh benar, walaupun dengan begitu beliau harus mengorbankan waktu beliau. Mas DSB dan Mas ST dipersilakan oleh keluarga Chang untuk tinggal di rumah itu dan diberi kamar sendiri-sendiri. Benny setiap hari menjengukku dan dia rupanya menempatkan banyak orangnya di rumah itu. Hal ini kuketahui dari Jeanne yang menceritakannya padaku ketika kutanya tentang orang-orang yang kulihat dari balik jendela. Dari cerita Jeanne, kuketahui bahwa Mitsuko untuk sementara waktu pulang ke Jepang dijemput oleh ayahnya sendiri (tentu saja bersama "rombongannya"). Dari hasil pemeriksaan oleh dokter Ling, dokter Liauw dan Mas DSB, ternyata aku mengalami luka dalam yang sangat parah. Dua belas jalur meridianku kacau balau, jalan darahku banyak yang pecah dan organ-organ "zhang-fu" (5 organ "zhang": jantung, hati, ginjal, limfa, paru-paru; 6 organ "fu": empedu, lambung, usus besar, usus kecil, kandung kemih, "sanjiao" atau "tiga tungku" di daerah dada) terluka. Memang hanya karena kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa maka aku masih diberi umur panjang. Segala macam daya upaya diusahakan demi kesembuhanku, mulai dari pengobatan barat hingga teknik akupunktur emas, herbologi, qigong, pranik dan paranormal (lewat bantuan ayahanda Mas DSB). Mas DSB secara bergantian dengan Mas ST juga membantu pengaturan jalan tenaga dalamku dengan memindahkan tenaga dalam mereka secara bergantian. Menurut Mas DSB, kondisiku bisa sedemikian parah karena tubuhku tidak kuat menahan desakan tenaga dari ilmu yang kukeluarkan sekaligus sehingga ada yang membalik dan memukul tubuhku. Hal itu disebabkan oleh tubuhku yang sudah sangat lemah saat mengeluarkan ilmu-ilmu yang membutuhkan tubuh yang kuat.
Aku masih ingat beberapa jenis obat yang harus kuminum. Ada banyak sekali yang harus kutelan dalam sehari semalam. Obat yang masih kuingat namanya kalau tidak salah antara lain: pien tze huang dan yunnan paiyao. Jamu racikan dari kedua dokter Cina itu ada tiga macam dalam tiga mangkuk yang harus kuminum dalam satu dosis. Soal rasa, jangan ditanya. Pahitnya bukan main dan yang satu asam rasanya.
Ssssssshhhhhh.... aku mengeluarkan napas secara perlahan dan panjang sambil berkonsentrasi mengumpulkan hawa murniku untuk kualirkan ke sekujur tubuhku secara perlahan. Aku duduk bersila di tempat tidur di tempat perawatanku. Mas DSB berdiri di samping tempat tidurku sambil mengadakan "penyapuan" aura dengan teknik pengobatan yang beliau pelajari dari Ayahanda beliau (Ayahanda Mas DSB ini salah seorang sahabat baik dari Master Mantak Chia dan Master Choa Kok Sui, yang buku-buku mereka sudah diterjemahkan oleh PT Gramedia). Setelah mengadakan "pembersihan" dan "penyapuan" aura, Mas DSB ikut duduk bersila di belakangku. Kemudian beliau meletakkan kedua telapak tangannya di punggungku tetapi tidak sampai menyentuh, berjarak kira-kira satu atau dua sentimeter. Aku tetap melakukan pernapasan lembut dan panjang, mengatur hawa murniku yang sudah mulai terbentuk. Kudengar Mas DSB juga mengatur napasnya dengan napas segitiga "kedut tiga" (tarik lewat hidung, bawa ke perut, kedut perut tiga kali, buang lewat mulut).
Perlahan, ada hawa dingin terasa keluar dari kedua telapak tangan Mas DSB. Hawa itu pelan-pelan merambati punggungku, dan kemudian menyebar. Supaya tidak menjadi liar dan menyebar secara tak beraturan, hawa dingin yang diberikan oleh Mas DSB segera kukonsentrasikan untuk ku"campur" dengan hawa murniku. Perlahan, tubuhku agak menggigil, tapi masih bisa kutahan. Makin lama terasa makin dingin hingga tak terasa rahangku bergemeletukan. Melihatku sudah kedinginan hingga batas maksimalku, Mas ST yang duduk bersila di hadapanku segera menjulurkan kedua telapak tangannya ke dadaku. Sama, tidak sampai menyentuh, hanya berjarak sekitar satu atau dua centimeter dari tubuhku. Mas ST mulai mengempos tenaganya. Berbeda dengan hawa dingin yang keluar dari telapak tangan Mas DSB, telapak tangan Mas ST mengeluarkan hawa hangat yang segera menyergap tubuhku untuk menetralisasi hawa dingin yang menguasai tubuhku. Secara perlahan, tubuhku terasa hangat dan nyaman.
Makin lama hawa hangat yang keluar dari telapak tangan Mas ST makin terasa panas dan terasa membakar (rasa terbakar seperti panas udara, bukan seperti panas api) membuatku berkeringat. Saat tubuhku sudah tak kuat lagi, gantian Mas DSB yang menyalurkan hawa dinginnya dari belakang. Demikian sekitar setengah jam mereka berdua secara bergiliran mengalirkan tenaga panas-dingin mereka ke tubuhku. Teknik ini "diajarkan" oleh dokter Liauw untuk membantu mereka (dokter Liauw dan dokter Ling). Dokter Liauw melihat bahwa tenaga "yin-yang" Mas DSB dan Mas ST sudah cukup kuat untuk membantu beliau mengobati diriku dengan cara "menempa" dua belas meridian tubuhku yang "berantakan" (ibaratnya seperti menempa besi, dengan cara dipanasi dan dicelupkan air). Menurut dokter Liauw, dengan cara seperti itu, secara teoritis jalur-jalur meridian yang "berantakan" itu bisa ditata kembali.
Sssssssshhhhh... kami bertiga secara serempak menarik tenaga kami masing-masing dan menyimpannya kembali ke "dantien". Tampak tubuh kami bertiga berkeringat. Mas DSB dan Mas ST mengibas-kibaskan kedua tangan mereka untuk membuang "sisa-sisa kotoran plasmik" (meminjam istilah Master Choa Kok Sui) dan melemaskan tangan-tangan mereka. Kemudian mereka melakukan "hening" (semacam meditasi) untuk mengembalikan kembali tenaga mereka selama kurang lebih satu menit.
Sementara itu aku bangkit dari tempat tidurku dan juga melakukan "hening" sejenak kemudian aku melatih ilmu "Gerak Roso" setelah melakukan "Hormat Bunga Sepasang". Ilmu ini semacam ilmu yang bisa dipakai untuk efek pengobatan diri (self-healing) semacam taijiquan (tai chi chuan, thay kek kun) atau weidangong (wai tan kung). Ilmu ini baru saja kudapatkan dari Mas DSB ketika aku sudah mulai bisa bangkit dari tempat tidurku. Mas DSB sendiri mendapatkan ilmu ini ketika beliau "sakit" dari pengaruh gegar otak, yang membuat beliau tidak bisa melakukan kerja keras atau berlatih silat. Hingga saat ada Kejurnas perguruan silat kami antar perguruan tinggi di Bandung, beliau bertemu dengan salah seorang pendekar perguruan kami yang berasal dari Bali. Dari beliaulah Mas DSB mendapatkan ilmu "Gerak Roso" (biarpun Pak Pendekar ini tidak memberitahukan nama teknik/ilmu yang diberikan kepada Mas DSB, Mas DSB mengetahuinya dari guru Mas DSB). Berbeda dengan taijiquan atau weidangong, ilmu "Gerak Roso" ini dilatih dengan mata terpejam. Menurut Mas DSB, bila ilmu ini dilatih terus menerus, akan bisa mengasah kepekaan "roso" (rasa, perasaan, citra) kita sehingga kita bisa melihat dalam gelap. Mirip dengan ilmu dari sebuah perguruan silat lain yang juga terkenal karena kemampuannya melihat dalam gelap, hanya bedanya, perguruan kami memang amat sangat jarang mendemonstrasikan ilmu-ilmu kami yang bersifat kanuragan.
Aku terkejut saat melakukan latihan, aku merasa bahwa aku secara otomatis "menangkis" sebuah "serangan" dengan teknik "gesut kiri tolak luar garuda". Kubuka mataku... Mas DSB tersenyum di depanku.
"Relaks... teruskan latihanmu!" perintah Mas DSB. Rupanya sewaktu aku berlatih, Mas DSB "mengujiku" dengan pelan-pelan "menotok" dengan dua jari ke arah leherku (kalau ada para pembaca yang mengenal Mas DSB atau sempat bertemu beliau, perhatikan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan beliau; keduanya mempunyai panjang yang sama dan rata. Hasil latihan bertahun-tahun teknik "totokan dua jari", ciri khas ilmu dari Ayahanda beliau.) Entah karena aku memang sudah "berjodoh" dengan ilmu "Gerak Roso" atau memang "Bayu Sejati" yang "menggerakkan" teknikku (sehingga aku bisa mengetahui "serangan" Mas DSB dengan mata terpejam), aku tidak tahu.
Sekitar sepuluh menit aku berlatih ilmu "Gerak Roso". Kurasakan ada rasa pusing dan nyeri di kepalaku. Kuhentikan latihanku dengan menghembuskan napas buat penutupan dan kudekapkan kedua tanganku di depan dada sebagai tanda "hormat penutup" latihanku dan kulanjutkan dengan "Hening" sejenak sambil mengatur napasku. Selesai melakukan "Hening", aku melakukan hormat kepada Mas DSB dan Mas ST yang dibalas oleh mereka.
"Bagus, Frank! Kamu sudah mengalami banyak kemajuan." Kata Mas DSB sambil menepuk pundakku.
"Terima kasih Mas... Aku sudah merasa jauh lebih baik, tapi aku masih belum bisa menaikkan tenagaku ke arah kepala, masih tersumbat di tengkuk."
"Ya semuanya itu harus pelan-pelan, Frank." jawab Mas ST.
"Apalagi kalau urusannya sudah menyangkut daerah kepala," sambung Mas DSB.
"Kalau grusa-grusu (tergesa-gesa, pen.) malah bisa berbahaya. Paling juga minggu depan sudah mulai lancar lagi. Kamu ini termasuk orang yang berbakat untuk olah kanuragan." Tutur Mas DSB lagi sambil berdiri memandang keluar dari jendela kamarku yang terletak di lantai dua. Kulirik jam dinding yang ada di kamar itu, sudah hampir pukul setengah delapan. Sebentar lagi giliran dokter Liang yang akan "menggarap"ku dengan jarum-jarum akupunktur emasnya. Ternyata benar...
"Excuse me..." kata seorang perawat muda (perempuan) yang cantik sambil mendorong sebuah meja kaca dengan beberapa peralatan akupunktur di atasnya, termasuk mesin pembangkit listrik kecil yang digunakan untuk "menyetrum" tubuhku saat jarum-jarum akupunktur dokter Liang menusuk kulit tubuhku. Ada juga sebatang "moxa" (gulungan daun obat untuk dibakar dan kemudian dipakai untuk memanasi titik-titik akupunktur), sebuah lampu minyak kecil beserta sebuah korek api gas dan beberapa kotak dari kayu ditambah sebotol obat gosok (yang baunya sangat menyengat dan "aneh") buatan dokter Liang.
"Good morning... good morning..." sapa dokter Liang dengan Bahasa Inggris beraksen Cinanya yang kental, yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar tidurku. Seperti biasanya, dokter Liang selalu tampak seperti orang yang selalu tergesa-gesa dan bergerak dengan cepat.
"Good morning, Dokter..." jawab kami bertiga hampir bersamaan.
"How's your feeling?" tanya dokter Liang sambil meraba pergelangan tanganku untuk menghitung dan mendeteksi denyut nadiku.
"I'm fine dokter, thank you. Still like yesterday, but a little bit feeling better. Still feeling weak."
"Don't worry. You are doing good and progressing very fast. The weakness comes from your drugs and medicine. So... are you ready for the treatment now?"
"Yes..." jawabku tanpa ragu-ragu dan membuka baju dan celanaku sehingga tinggal celana dalamku saja. Masih tampak bekas-bekas lebam yang mulai memudar akibat pukulan dan tendangan yang kuterima beberapa kali di berbagai tempat di tubuhku, tetapi sudah lama tidak terasa nyeri lagi. Dokter Liang mulai memijati tubuhku dengan teknik-teknik pijat "tui-na" atau "an-mo", mulai dari kakiku. Mas DSB dan Mas ST meminta izin untuk meninggalkan ruangan kamar tidurku, membiarkan dokter Liang mengobati dan merawat diriku dibantu oleh asisten beliau, seorang perawat Cina yang manis.
Seperti hari-hari biasanya, setelah tubuhku dipijati oleh dokter Liang dengan teknik-teknik "tui-na" atau "an-mo", maka tubuhku ditusuki oleh jarum-jarum akupunktur emas beliau dan "disetrum" selama kurang lebih setengah jam sampai empat puluh lima menit. Setelah itu, baru aku disuruh menenggak obat-obatan yang berbagai macam dan berbagai rasa.
-----
Sore hari itu, aku keluar dari kamar tidurku dan menuju ke taman di belakang rumah keluarga Chang. Taman di belakang rumah keluarga Chang cukup luas dan asri, ada sebuah kolam ikan yang tidak terlalu besar dan berisi ikan koi dengan beberapa teratai yang mengambang di permukaan. Kala itu masih masuk musim panas, jadi tumbuhan yang ada di taman itu sedang bagus-bagusnya. Rumputnya tebal dan hijau subur terpangkas rapi, tanamannya juga terpelihara baik. Bunga-bunga yang ada di taman itu sebagian besar sedang mekar indah.
Memang sejak aku diizinkan bangun dan keluar kamar oleh dokter Liang, aku suka sekali duduk-duduk di pinggir kolam ikan sambil sesekali memberi makan ikan dengan makanan ikan yang tersedia di dekat kolam. Sering kali Jeanne menemaniku untuk bercakap-cakap. Kadang-kadang Benny juga menyempatkan diri untuk menjengukku dan berbincang-bincang tentang apa saja. Yang jelas, aku juga rajin berlatih silat untuk pengobatan diriku di taman ini, yang diawasi oleh Mas DSB dan/atau Mas ST.
Aku tidak heran saat kulihat Jeanne sedang "menari", berlatih memainkan ilmu pedang dari Butong (Wudang Jian Xue atau Butong Kiam Hoat) dengan sebatang pedang kayu. Tubuhnya bergerak secara perlahan, berputar, sambil tangannya bergerak mengayunkan pedang kayu yang dipakai sebagai senjata latihan.
"Hi Honey! Do you want to practise with me?" ajak Jeanne tanpa menghentikan latihannya.
"Sure, why not?" aku memang suka sekali berlatih silat terutama dengan orang yang berlainan perguruan, apalagi berlainan aliran.
"But don't be too hard on me. I'm still not fully recovered yet!" kataku sambil tersenyum dan memungut sebuah pedang kayu yang tergeletak di atas sebuah batu di pinggir kolam ikan. Jeanne memang selalu membawa sepasang pedang kayu kalau dia berlatih pedang, karena setelah berlatih pedang tunggal, biasanya dia lanjutkan dengan latihan pedang ganda.
"Don't worry Honey! Ready?" rupanya Jeanne tidak memberiku kesempatan setelah melihatku memegang pedang kayu dengan sikap bersedia. Jeanne mengirimkan suatu sabetan secara perlahan ke arah pinggangku. Dengan teknik "Melingkar Satria", aku berhasil mengelakkan serangan Jeanne. Gagal dengan serangan pertamanya, Jeanne meneruskan serangan dengan bacokan ke arah kepala. Lagi-lagi serangan Jeanne bisa kuhindari. Demikian seterusnya. Karena memang kami berdua hanya latihan teknik secara perlahan, maka gerakan-gerakan yang kami lakukan tergolong sangat lambat. Setelah beberapa serangan, Jeanne mengubah pola serangan dan gaya bermain pedangnya. Kalau tadinya dia menyerang ke arah bagian-bagian tubuh, maka sekarang dia "hanya" mencecar daerah punggung tangan dan urat nadi. Inilah bagian dari tipuan-tipuan ilmu pedang Butong yang biasanya tidak disangka-sangka oleh lawan. Gerakan-gerakan yang dilakukan Jeanne termasuk lancar dan bagus. Aku sendiri harus berhati-hati agar jangan sampai tanganku tergores. Ada mungkin sekitar sepuluh hingga lima belas menit kami berlatih.
"Sweety, you are good!" pujiku disela-sela hindaranku. Aku meloncat menjauhi dia dan merangkapkan kedua tanganku di depan dada dengan pedang kayu masih berada dalam genggamanku. Napasku agak memburu, maklumlah, aku masih belum pulih seratus persen.
"Enough for now!"
"Honey, I know if you want, you could beat me with no sweat!" Jeanne menghampiriku setelah merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Dia mengusap keringatku dan mengajakku duduk di sebuah bangku panjang di dekat kolam ikan. Tangannya menggandeng tanganku. Dengan lembut tanganku diremasnya. Ada desir aneh terasa di dadaku.
"Where's everybody?" tanyaku memulai percakapan.
"I believe they went somewhere."
"Who?"
"Your teacher, his senior and my brother?"
"Where did they go?"
"I don't know... They said they would do some business."
"Hmm some business to do... I'm just wondering what kind of business they would do if all three of them together. I'm pretty sure their business is related to my incident."
"Honey... don't worry about anything now." Jeanne berkata sambil menyandarkan kepalanya ke pundakku sambil tangan kanannya mengelus-elus punggungku. Kukecup lembut keningnya.
"I'm not thinking about myself. I'm thinking about Mitsuko. It has been a while that I even didn't contact her, asking about her condition."
"She's fine with her family. Two days ago I just called her and I told her that you sent her your regards. I also told her that you're still recovering from your injuries and couldn't talk to her."
Jeanne dan aku kemudian berbincang-bincang di pinggir kolam membicarakan berbagai macam topik pembicaraan. Dari penuturan Jeanne, aku mendapat kabar bahwa ketika aku terbaring sakit, Benny dan kawan-kawannya "menyerbu" daerah Little Tokyo. Sempat terjadi perang antar gang antara Triad pimpinan Benny dan Yakuza, yang menimbulkan korban jiwa dikedua belah pihak. Tentu saja kedua belah pihak saling menjaga agar Kepolisian Los Angeles (LAPD) tidak sampai tahu dan turut campur dalam urusan mereka. Aku sendiri tidak merasa terlalu aneh kalau Benny sampai melakukan hal-hal seperti itu.
"Frank..." tiba-tiba ada suara yang menegurku. Aku menoleh. Kulihat Mas DSB, Mas ST dan Benny sudah berada di belakangku.
"Oh, Mas... sudah pulang? Dari mana saja Mas?" kataku sambil berdiri. Jeanne juga menyapa mereka.
"Would you mind if I talk in private with Frank?" tanya Mas DSB kepada Jeanne. "Of course not. I'll make some tea for you Guys." Jawab Jeanne sambil berlari-lari kecil menuju ke dalam rumah.
Benny menepuk pundakku perlahan. "Things are getting better or worse. It depends how we see this situation. D, S (maksudnya Mas DSB dan Mas ST) and I went to see those Japs in a restaurant. They wanted to settle this mess and proposed a solution."
"What kind of solution?" tanyaku ingin tahu.
"Hmmp... It seems to me that they are trying to save their face. They challenged us in a team fight!"
"What???"
"Ya, Benny benar Frank," sambung Mas ST.
"Jepang-Jepang itu nantangin Benny untuk pibu dalam tiga pertarungan hidup atau mati." Mas DSB menambahi.
"This is crazy! So, what do you think Ben?"
"Well, I talked to D and S about this on the way home. I could use some of my men and myself to fight them, but D and S insisted that they wanted to help me."
"Memang, Mas ST dan aku bersedia untuk membantu Benny. Itung-itung ngebales budi baik Benny merawat kamu. Mas ST dan aku sendiri siap kalau untuk menghadapi Jepang-Jepang itu. Soal hidup atau mati itu ada di tangan Tuhan, Frank. Kami tentu saja nggak akan menyerahkan nyawa dengan sia-sia." Papar Mas DSB.
Gila! Ini benar-benar di luar pemikiranku. Mengapa kejadian ini bisa berbuntut panjang dan membawa-bawa guru dan paman guruku. Ada rasa sesal yang menyesak di dadaku dan aku tidak bisa mengutarakannya kepada guru dan paman guruku. Aku masih ingat, percakapan kami berempat di pinggir kolam itu terjadi pada hari Kamis, karena tantangan mereka (para Yakuza) itu dilaksanakan pada hari Sabtu, dua hari setelah Benny mengabarkannya padaku.
Percakapan kami tidak berlangsung lama, karena Mas DSB dan Mas ST meminta diri untuk shalat Maghrib. Memang, waktu itu matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat, menjelang malam.
Malam harinya, aku benar-benar gelisah dan tak bisa memejamkan mataku. Jam dinding yang kulirik samar-samar hampir menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Badanku terasa panas dan berkeringat di balik selimut biarpun kamar yang kutempati memakai AC yang cukup dingin. Entahlah, mungkin ini karena pengaruh dari kegelisahanku atau sebab lainnya.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh pintu kamarku yang dibuka secara perlahan-lahan. Sesosok tubuh terlihat samar-samar memasuki kamarku. Melihat potongan dan bentuk tubuhnya...
"Sweety..." tegurku sambil bangun dan duduk di tepi tempat tidurku.entara
"Hon... Are you still awake?" Jeanne menghampiriku. Tanpa banyak cakap, dia kemudian memelukku dan melumat bibirku dengan penuh nafsu. Aku membalasnya.
"Do you have fever, Hon?" tanya Jeanne sambil melepaskan ciumannya dan meraba keningku.
"No, I don't think so. I think it's just a hot flush. I'm fine."
Jeanne masih memelukku dan membisikiku, "I miss you so much, Hon... It hurts my feeling everytime I look at you laying on the bed. You look so weak and full of pain, totally the opposite of you the way I know you." Jeanne memelukku lebih erat lagi dan mencium dadaku.
"I miss you too Sweety..." dan kukecup mesra kening Jeanne.
Tiba-tiba Jeanne melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ke arah pintu. Dia mengunci pintu kamarku. Memang, sehari-hari aku tidak pernah mengunci pintu kamar tidurku, karena dilarang oleh Jeanne dengan alasan untuk lebih memudahkan perawat dalam memeriksa kondisiku ketika aku tidur. Aku secara samar melihat sebuah senyum nakal tersungging di bibir Jeanne yang seksi. Jeanne mengendap-endap menghampiriku.etapi
Jeanne berdiri di depanku yang masih duduk di tepi tempat tidurku. Perlahan, dibukanya ikatan kimono perak bersulamkan naga dan burung hong di punggung. Ketika ikat pinggang sutra yang membelit pinggang Jeanne luruh jatuh, tampak tubuh depan Jeanne yang putih mulus secara samar dengan bukit dadanya yang masih tertutup oleh kimono peraknya. Dia tidak mengenakan bra. Daerah "segitiga emas"-nya dibalut oleh celana dalam satin berwarna hitam. Mungkin Victoria Secret, merek kesukaan dia. Dadaku berdesir tak karuan. Entahlah, ini bukan yang pertama kalinya aku melihat tubuh mulus Jeanne, tetapi setiap kali aku melihatnya, rasanya seperti baru pertama kali ini aku melihatnya. Ada perasaan deg-degan dan desir-desir aneh di dadaku.
Jeanne memeluk kepalaku dan menarik kepalaku ke arah dadanya. Kulingkarkan kedua tanganku menyusup di balik kimononya. Kupeluk Jeanne sambil kukecup daerah di antara kedua bukit dadanya. "Sweety... I'm not supposed to be..." belum selesai kata-kataku, Jeanne sudah menyergap bibirku. Mengulum lembut, kemudian melepaskannya lagi. "Ssst... I know Hon... Relax... I just want to have fun with you. I hope you do too." kata Jeanne tanpa melepaskan senyum di bibirnya.
Kujilati daerah di sekitar kedua bukit dada Jeanne. Dengan sekali rengkuh, kimono Jeanne terlepas dan jatuh ke lantai. Dengan penerangan cahaya lampu dari luar kamar yang memasuki lewat celah-celah, aku bisa melihat tubuh mulus Jeanne yang sekarang terpampang di depanku, hanya dibalut celana dalam satin hitam, sangat kontras dengan tubuhnya yang putih mulus.
Aku tahu, kamarku yang berpendingin ini akan membuat tubuh Jeanne akan kedinginan bila kubiarkan dia terlalu lama seperti itu. Kutarik dia masuk ke dalam selimutku. Kami berpelukan. Kami berciuman. Kami melepas rindu yang tertahan. Jeanne mengerang perlahan saat kuremas lembut bukit dada kirinya dan kujawil-jawil putingnya. Kukulum, kujilat-jilat dan kuisap puting dada kanan Jeanne. Dia mendesis lirih. Kakinya menggesek kakiku. Batang kelelakianku sudah bangkit dari tadi. Tubuh bagian atasku sudah telanjang, dan tubuh bagian bawahku hanya ditutupi oleh celana training, tanpa celana dalam. Tak heran bila batang kelelakianku yang tegak tegang kaku menggesek-gesek daerah selangkangan Jeanne yang masih tertutup celana dalam bisa membuat Jeanne semakin merasa melambung. Aku sendiri juga merasakan kenikmatan yang sangat. Malam itu kami hanya saling melepas rindu. Jeanne dan aku tertidur sekitar pukul tiga dini hari, saling berdekapan nyaris telanjang bulat. Ketika aku bangun, Jeanne sudah bangun dan (mungkin) kembali ke kamarnya, tanpa aku menyadarinya.
-------
Hari Jumat malam keesokan harinya, sekitar pukul sebelas malam, aku dipanggil oleh Mas DSB untuk bicara empat mata di kamar beliau. Kuketuk perlahan pintu kamar Mas DSB.
"Come in. It's opened." kudengar suara Mas DSB dari balik pintu.
"Mas..." sapaku. Kulihat Mas ST juga berada di dalam kamar Mas DSB. "Oh, kamu to Frank," kata Mas DSB. "Duduklah Frank. Aku, lebih tepatnya kami, ingin minta tolong kepadamu." sambung Mas DSB. Aku bertanya-tanya dalam hati, pertolongan apakah gerangan yang mereka inginkan dariku.
"Jangan sungkan-sungkan Mas... Apa pun yang Mas-Mas minta, pasti akan sangat saya usahakan untuk bisa saya penuhi sekuat kemampuan saya." kataku sambil menarik sebuah kursi dan duduk di depan Mas DSB yang duduk di tepi tempat tidurnya. Di sebelah Mas DSB ada seperangkat pakaian berwarna biru tua yang terlipat rapi. Di atasnya, ada sebatang pisau yang tersimpan di dalam sarungnya. Menilik bentuknya, kemungkinan besar adalah pisau buatan Cold Steel jenis "Tai Pan". Pisau bermata dua yang terbuat dari baja titanium ATS-64 buatan Cold Steel ini sangat bagus dan kuat. Mungkin Mas DSB baru saja membelinya hari ini. Di samping pisau itu, ada sebuah senjata lagi yang selalu dibawa oleh Mas DSB ke mana pun beliau pergi. Salah satu senjata andalan beliau yang sangat kukenal baik. Senjata yang sering kali diremehkan dan dipandang rendah oleh lawan-lawan beliau ketika beliau bertarung. Senjata itu berbentuk sebuah kipas yang terbuat dari bambu wulung yang sudah tua dan kain dari bahan nilon berwarna merah bergambarkan logo dari perguruan silat kami. Menurut cerita Mas DSB, kipas itu adalah pemberian dari salah seorang pesilat putri dari Surabaya ketika mereka bertemu di Kejuaraan Nasional Antar Perguruan Tinggi se-Indonesia di Bandung. Kala itu Mas DSB turut andil dalam kepanitiaan dan menjabat sebagai ketua seksi keamanan. Mas DSB menarik napas panjang, "Gini Frank... Mas ST dan aku ingin minta tolong untuk mengurus jenazah kami kalau kami gagal dan kalah besok," belum sempat Mas DSB menyelesaikan kalimatnya, aku memotong, "Masss..." Mas DSB mengisyaratkanku untuk diam dan tidak memotong pembicaraan beliau.
"Jangan kuatir. Orang tuaku, terutama ayahandaku, sudah maklum kalau memang suatu hari mereka mendengar bahwa aku akan mati dalam suatu pertarungan. Ini ada dua buah amplop. Satu berisi surat untuk orang tuaku dan satu lagi buat kamu. Buka suratku buat kamu kalau aku sudah tidak bernapas lagi. Semua senjata milikku boleh kamu miliki kecuali sebilah keris pusakaku. Tolong kembalikan keris pusakaku kepada ayahandaku untuk beliau serahkan kembali ke kakekku. Kalau ada saudara seperguruanmu yang sama-sama pernah kubagi ilmunya minta salah satu dari senjata-senjataku, berikan yang mana saja kamu mau berikan, kecuali pisau dan kipas ini." Mas DSB menepuk kedua benda yang disebutnya. "Pisau ini pemberian Benny tadi siang untuk persiapanku besok dan kipas ini tidak pernah pisah jauh-jauh dariku sejak aku memilikinya. Kedua senjata ini khusus kuberikan kepadamu sepeninggalanku untuk mengingatkanmu akan diriku." Mataku terasa panas dan aku hampir mengucurkan air mata saat kuterima dua buah amplop putih dari Mas DSB. Mas DSB tersenyum dan menepuk pundakku.
"Kalian berdua nggak usah terlalu bersedih," Mas ST menyela. "Tenang aja Frank. Nggak banyak orang di Amerika sini yang bisa dengan mudah mengalahkan gurumu. Tapi just in case, aku juga mau minta tolong ke kamu untuk menyerahkan surat ini kepada kedua orang tuaku di Surabaya kalau kamu nggak keberatan. Tolong juga sampaikan permintaan maafku buat mereka berdua karena aku belum sempat membahagiakan mereka." Mas ST juga menyodorkan sebuah amplop putih. "Aku nggak punya apa-apa yang bisa kuberikan buatmu kecuali buku-bukuku. Kamu boleh jual atau kamu ambil buat kamu sendiri buku-bukuku. Perabotan pun aku cuma punya beberapa yang tak berharga. Berikan saja perabotanku itu untuk anak-anak Indonesia lainnya."
Mas ST bisa mengubah suasana yang tadinya haru menjadi lebih sedikit meriah dengan humor-humor segarnya. Beliau memang mudah sekali membawa orang hanyut dengan suasana gembira karena memang beliau orangnya selalu penggembira, sangat berbeda dengan Mas DSB yang selalu serius dalam menghadapi apapun. Tak terasa, malam sudah merambat pagi. Hampir pukul dua dini hari saat Mas ST mohon diri kepada Mas DSB. Aku pun tahu diri untuk segera ikutan mohon diri. Kami memang butuh tenaga untuk menghadapi pibu yang diajukan oleh para Yakuza. Tadinya aku tidak diizinkan untuk ikut mengingat kondisiku yang belum pulih seratus persen, tapi karena aku memaksa dan memohon dengan sangat, maka Mas DSB mengizinkanku untuk ikut dan menonton, sekalian mengawasi agar mereka tidak dicurangi.
-----
Sabtu pagi, sekitar pukul sembilan. Rombongan yang dipimpin Benny sudah bersiap-siap di halaman depan rumah paman Benny. Ada empat mobil yang akan berangkat. Aku ditempatkan satu mobil dengan Mas DSB, sedangkan Benny di mobil nomor dua dari depan dan Mas ST di mobil yang terakhir. Sengaja kami dipisahkan untuk menjaga kemungkinan terburuk kalau kami dijebak di tengah jalan.
Orang-orang Benny kulihat ada beberapa yang membawa senapan semi otomatis seperti Uzi, Scorpion dan HK-5MP. Beberapa ada yang membawa senjata tajam seperti golok, "butterfly knives" (pisau besar atau pedang pendek lebar bercagak tunggal di gagangnya, biasanya digunakan secara berpasangan) dan trisula. Bahkan sekilas aku melihat ada yang melilitkan pisau bertali di badannya yang kemudian ditutupi oleh pakaian luar. Tegang juga rasanya waktu itu melihat orang-orang yang "siap tempur".
Ada yang cukup mengejutkanku waktu aku melihat Mas ST pagi itu. Matanya mencorong tajam seperti mata elang dan mata kirinya lebih sipit daripada mata kanannya. Tanda bahwa di tubuhnya telah mengalir hawa murni yang siap dilepaskan untuk aplikasi apapun. Rupanya seperangkat pakaian berwarna biru yang kulihat di kamar Mas DSB itu adalah pakaian Cina seperti yang dipakai Bruce Lee. Pakaian biru itu dikenakan oleh Mas DSB, sedangkan Mas ST memakai pakaian yang semodel hanya berwarna hitam. Mas DSB mengenakan ikat pinggang berwarna merah. Ikat pinggang itu adalah ikat pinggang yang selalu dipakai Mas DSB untuk latihan silat sejak beliau naik tingkat dari "calon keluarga" menjadi "keluarga" dan dipakai terus hingga tingkatan beliau yang terakhir. Ikat pinggang ini juga selalu dibawa oleh Mas DSB ke mana pun beliau pergi. Sedangkan Mas ST mengenakan ikat pinggang putih yang rupanya sudah satu stel dengan pakaiannya. Kulihat Benny membawa kotak yang kukenal sebagai tempat penyimpanan pedang "Teratai Perak" milik Jeanne. Aku sendiri "dibekali" oleh Benny sepucuk pistol Walther PPK kaliber 9mm. Pistol kecil yang berdaya tembak ampuh seperti yang dipakai oleh James Bond di film-film. Pistol itu kuselipkan di pinggang belakangku dengan sarungnya yang kututupi dengan jaket. Aku juga membekali diri dengan beberapa shuriken (senjata rahasia ninja berbentuk bintang) dan sepasang pisau lipat buatan Benchmade yang bila dibuka berbentuk runcing seperti pisau komando dengan kombinasi mata tajam biasa dan bergerigi. Kedua pisau lipat itu kuselipkan di betis kiri kananku dengan sarungnya yang terikat di betisku.
Setelah semua siap dan masuk ke dalam mobil masing-masing, maka kami semua berangkat dengan satu tujuan tetapi menggunakan jalan yang berbeda-beda. Kami meluncur dari daerah Beverly Hills menuju daerah Little Japan. Sengaja tempatnya tidak aku ceritakan dengan detil karena di antara para pembaca ada yang tinggal di Los Angeles dan pastinya mengenal tempat kami bertarung itu, karena tempat itu cukup terkenal di daerah Little Japan.
Aku di dalam mobil duduk di belakang bersama Mas DSB dan Ah Chun, salah satu orang kepercayaan Benny. Di depan Ah Leong duduk di bagian penumpang dan mobil kami disupiri oleh Ah Chong. Di dalam mobil, Mas DSB tidak bicara sepatah kata pun. Beliau memejamkan matanya sambil kuperhatikan bahwa perut beliau dengan teratur bergerak naik turun. Kemungkinan besar beliau sedang bermeditasi atau berdoa. Aku sendiri melihat-lihat pemandangan yang kami lalui bagaikan orang yang baru pertama kali ini melihat kota Los Angeles. Harap maklum, dua minggu lebih aku tidak keluar rumah. Pikiranku melayang ke Mitsuko. Sedang apa ya dia? Tiba-tiba kurasakan rindu yang amat sangat. Waktu itu aku berdoa semoga aku masih bisa ketemu lagi dengan Mitsuko.
Saat mendekati gedung yang sudah ditentukan, Ah Leong menghubungi Benny yang bertindak sebagai pimpinan rombongan. Rupanya ketiga mobil lainnya juga sudah mendekati tujuan. Secara bersamaan, kami berdatangan ke gedung tujuan. Saat memasuki pelataran dan berhenti di depan pintu masuk gedung, kami sudah ditunggu oleh beberapa orang dengan seragam stelan jas hitam, sama seperti seragam orang-orang yang menyerang pada pesta ulang tahun Hiroko.
Saat kami turun, ada orang yang membukakan pintu mobil buat kami dan mempersilakan kami memasuki gedung yang harus melewati beberapa anak tangga. Seingatku, yang turun waktu itu hanya beberapa orang saja dari kami, sisanya menunggu di mobil secara berpencar di sekitar gedung. Yang ikut turun waktu itu kalau tidak salah adalah Benny, Mas DSB, Mas ST, Ah Leong, Ah Bun, Ah Chun, Ah Lie dan tentu saja aku sendiri. Saat memasuki lobi gedung itu, ada seorang Jepang berpakaian tradisional Jepang berwarna biru tua dan putih menyambut kami sambil menebar senyum. Orang itu berusia sekitar akhir lima puluhan atau awal enam puluhan.
"Welcome Gentlemen... I'm Hiro Yoshimitsu, the head of Yoshimitsu Clan from Edo. We have been waiting for you." katanya sambil sedikit membungkukkan badan dan diikuti oleh Jepang-Jepang lainnya. Kami semua juga turut sedikit membungkukkan badan membalas penghormatan dia.
"Thank you Mr. Yoshimitsu. My name is Benny Chang and I'm the leader of this group. But before we go farther, I would like to tell you that I have to keep contact with my people outside and my people have to keep contact with my people at home every fifteen minutes. So, if one of the contact link is broken, then something happen. And we don't want something that we all regret later on. I hope you can understand this Mr. Yoshimitsu."
"Sure... sure... I understand that. Actually, all of your men are welcome to our waiting room if you like. I guarantee that nobody will do any harm to anybody without my order unless it comes from your men first. Remember, I was the one who asked for the match, so I would not dare to dishonor myself and my clan doing something stupid."
"Very well... Let's do it!" kata Benny bersemangat.
"Well, would you want something to drink first? Coffee or tea?"
"No, thank you. Let's finish this as soon as possible."
Kami lalu berjalan menuju lift dan naik ke tingkat paling atas yang hanya bisa diakses dengan menggunakan kartu elektronik. Rupanya tingkat paling atas itu semacam ruangan luas yang sudah diatur seperti sebuah tempat berlatih beladiri. Lantainya dari kayu dan ada matras tipis dari karet yang cukup luas di tengahnya. Ada beberapa batang pedang samurai yang dipajang di rak-rak dinding. Di salah satu sudut ruangan, ada rak senjata panjang yang berisi yari (tombak bermata lurus) dan naginata (tombak bermata melengkung seperti samurai). Di salah satu sisi ruangan itu ada sebuah meja panjang kaki rendah dan beberapa bantal duduk. Hiro Yoshimitsu mempersilakan rombongan kami untuk duduk, lalu dia ikutan duduk di sebelah Benny. Orang-orang Yoshimitsu berdiri di samping dekat dinding.
"So, Mr. Chang, as we agreed on my last proposition, we will have three matches, and death is part of the risk being lost. If after three matches you won, we would leave you, your family and your friends alone. Otherwise you have to back off from our business, including protecting that Japanese girl whom we have some businesses to do."
Mendengar penuturan Hiro Yoshimitsu, aku bangkit dari dudukku, "If you do any harm to Mitsuko, you have to deal with me!" kataku sambil menunjuk dadaku. Mas DSB mengisyaratkanku untuk kembali duduk.
"Frank! Sit down!" kata Benny dengan nada berwibawa. Baru kali ini aku mendengar Benny bisa berkata dengan angker. Aku duduk kembali. "Mr. Yoshimitsu, I still remember our agreement and I will keep the agreement the way you keep yours."
"Good... Now, let's start the match. Who will be your first man?" Menurutku, Hiro Yoshimitsu ini pandai juga mengatur siasat. Dengan menanyakan orang pertama dari pihak lawan, dia bisa mengukur kemungkinan terbaik untuk memenangkan minimal dua pertarungan untuk bisa menang dalam deal yang dia buat.
"That will be myself. I will represent my first man to fight with your man." kata Benny sambil berdiri dan mengambil pedang Teratai Perak dari kotaknya. Dia berjalan menuju ke arah matras. Langkahnya tegap penuh keyakinan dan percaya diri.
"Wow... very well! In this case, I will try you myself." Hiro Yoshimitsu berdiri. Seorang anak buahnya menghampirinya sambil membawa sebuah kotak. Hiro Yoshimitsu membuka kotak itu yang di dalamnya terdapat sepasang wakizaki (pedang samurai yang panjangnya tanggung, biasanya merupakan pedang kedua dari seorang samurai) dengan sarungnya yang berwarna hitam berkilat. Ia menyelipkan kedua wakizaki itu di pinggang kiri dan kanan. Hiro Yoshimitsu berjalan menghampiri Benny Chang. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak kira-kira lima meter. Hiro Yoshimitsu membetulkan letak yakizakinya. Benny masih berdiri memandang Hiro, tangan kirinya memegang pedang Teratai Perak yang masih di dalam sarungnya.
Sreeet... sreeet... sreeeet... Hiro mencabut kedua wakizakinya dan hampir bersamaan, Benny juga mencabut pedang Teratai Perak. Benny melontarkan sarung pedangnya ke arah tepi dan mendarat dengan rapi, menunjukkan kemampuannya mengendalikan tenaga lontaran. Hiro memasang kuda-kuda "kokutsu dachi" (badan menyamping kanan, kaki kiri di depan lurus agak ditekuk, kaki kanan di belakang menyamping juga ditekuk, sehingga bila ditarik garis dari kedua telapak kaki akan membentuk huruf "L", berat badan tertumpu di kaki kanan 70%). Tangan kiri Hiro lurus di atas kaki kiri sehingga wakizakinya menunjuk ke lantai. Sedangkan tangan kanannya menekuk di atas kepala sehingga wakizakinya menunjuk ke arah Benny.
Menurut Mas DSB yang berpengalaman dan berpemandangan luas tentang dunia beladiri, menilik dari penggunaan senjata dan kuda-kuda pembukaan yang dilakukan oleh Hiro Yoshimitsu, kemungkinan besar Hiro belajar ilmu pedang dari Zatori-ryu Iaido dari Edo. Zatori-ryu Iaido memang terkenal dengan permainan ilmu pedang wakizaki ganda dan biasanya kuda-kuda pembukaannya sama seperti yang dilakukan oleh Hiro Yoshimitsu. Dalam ilmu beladiri permainan pedang Jepang, tiap ryu (perguruan) mempunyai ciri khas masing-masing.
Dilain pihak, Benny berdiri tegak dengan kuda-kuda yang mirip dengan lawannya. Bedanya, Benny berdiri tegak lurus dan berlawanan dengan Hiro. Kaki kanan Benny ada di depan. Tangan kanannya yang memegang pedang disilangkan lurus di depan kemaluan sehingga ujung pedang hampir menyentuh lantai. Sementara tangan kiri Benny ditekuk ke punggung dengan jari-jari membentuk seperti menunjuk dengan dua jari (telunjuk dan jari tengah). Pandangan mata Benny tertuju ke ujung pedangnya. Kata Mas DSB, Benny cukup cerdik dengan kuda-kuda pembukaan dari salah satu jurus ilmu pedang Wudang (Butongpai) yang terkenal, yaitu ilmu pedang Tujuh Bintang (kalau Bintang Tujuh sih obat sakit kepala ya?). Itulah jurus ke delapan yang disebut "Bintang Sembunyi Di Balik Mega".
Lebih lanjut Mas DSB menerangkan kepadaku bahwa jurus itu merupakan jurus pertahanan yang ampuh untuk menghadapi serangan dari arah manapun. Yang membuat jurus itu lebih berbahaya karena kembangannya bisa untuk melancarkan serangan tiba-tiba dari dua jari tangan kiri yang tersembunyi. Dua jari yang disembunyikan di punggung dalam pecahan kembangan jurus bisa melancarkan totokan-totokan ke titik-titik lemah lawan, baik di atas, di tengah atau dibawah. Mas DSB mengenal dengan baik permainan jurus pedang dari Butongpai karena Mas DSB pernah belajar dari salah seorang tokoh Butongpai di Bandung. Nama tokoh itu adalah Pak M, seorang WNI keturunan Cina yang mempunyai sebuah bengkel motor di jalan Dipati Ukur. Buat para pembaca yang tinggal di Bandung, silakan cari kalau mau. Tentu saja, beliau tidak akan mengakui kalau ditanya orang bahwa beliau seorang jago silat.
Kedua orang itu saling memandang. Suasana hening mencekam. Aku sendiri merasakan suasana ketegangan itu. Hiro dan Benny saling menunggu serangan pembukaan dari lawan. Rupanya mereka berdua tahu bahwa orang yang menyerang duluan berarti membuka pertahanan tubuhnya. Hiiyaaaa.... wuut... wuut... wuut... traang... traang... traang... Hiro membuka serangan dengan teriakan panjang sambil mengayunkan kedua wakizakinya bersilangan kiri kanan. Dari teriakan Hiro yang menggema di ruangan, bisa diketahui bahwa Hiro tidak bisa dipandang ringan. Benny menangkis semua serangan Hiro dengan cara memutar pedangnya sambil mundur beberapa langkah. Tangan kanannya lurus, hanya pergelangan tangannya saja yang berputar. Tangan kirinya masih "disembunyikan" di punggung. Hingga serangan ke tiga yang ditangkis Benny, tiba-tiba Benny mengeluarkan tangan kirinya dan membantu menahan tangan kanannya di pergelangan tangan, sehingga salah satu wakizaki Hiro hanya tinggal sejengkal saja dari wajah Benny yang tertahan pedang Teratai Perak.
Haaaaahhh... Benny mendorong dengan bantuan tangan kirinya sehingga Hiro terlempar beberapa meter. Tapi Hiro tidak sampai jatuh. Dia bisa mendarat dengan ringan di lantai. Tanpa menunggu dengan memperbaiki kuda-kuda, Hiro kembali meloncat untuk menyerang Benny dengan bertubi-tubi. Serangan Hiro bagaikan air bah. Sambaran-sambaran wakizaki Hiro selalu mencari celah-celah untuk bisa merobohkan Benny. Yang ada waktu itu adalah suara teriakan, bentakan dan berkerontangan senjata yang beradu. Setiap kali senjata mereka beradu, keluarlah bunga api-bunga api yang berkeredepan. Biarpun Hiro menyerang dengan ganas dan bertubi-tubi, tapi Benny tidak menjadi kerepotan. Dia bisa mengatasi setiap serangan Hiro. Pertahanan Benny kokoh kuat, sehingga Hiro seperti menghadapi benteng baja yang tidak kelihatan. Dari beberapa jurus pertama, Mas DSB menerangkan kepadaku bahwa mereka pada dasarnya sama-sama satu tingkatan. Akan sulit dan lama untuk mereka dalam memenangkan pertarungan itu. Tinggal siapa sekarang yang lengah dan staminanya lebih rendah.
Menurut Mas DSB, Hiro menang di kecepatan gerak dan kegesitan. Kekalahan itu ditutup oleh Benny dengan tenaga yang lebih kuat dan senjata yang lebih baik mutunya. Soal mutu senjata, itu bisa dilihat saat keduanya memperbaiki kuda-kuda untuk meneruskan serangan. Wakizaki milik Hiro terlihat mulai gompal-gompal, sedangkan pedang Teratai Perak masih tetap utuh mulus.
Kurang lebih sepuluh lima belas menit kemudian (yang terasa sangat lama pada waktu itu), mereka mengubah strategi bertarungnya. Kelihatannya Hiro mulai menghindari benturan senjata. Setiap kali menyerang dan Benny hendak memapas serangan Hiro, Hiro cepat menarik wakizakinya. Giliran Benny yang sekarang banyak menyerang. Jurus-jurus pedang yang dilancarkan Benny banyak memiliki dasar-dasar langkah kaki seperti langkah-langkah jurus Wudang Taijiquan (Butong Thay Kek Kun). Gerakannya banyak memutar, menggesut dan meliuk. Sedangkan arah sasaran pedang banyak yang berbentuk goresan-goresan ke arah urat nadi tangan dan punggung tangan.
Mas DSB tiba-tiba terhenyak, "Waduuuh... Kena! Sampyuh!!!" Begitu habis Mas DSB berseru, terlihat Benny dan Hiro sama-sama terhuyung ke belakang. Darah sama-sama mengalir dari pundak mereka yang tertancap pedang! Dua wakizaki Hiro bersarang di antara tulang pundak Benny kiri kanan, sementara itu pedang Teratai Perak juga tertancap di antara tulang pundak Hiro. Mereka berdiri mematung. Sama-sama menahan nyeri. Sebetulnya, apa yang terjadi? Saat Hiro Yoshimitsu membelakangi Benny, Benny menyerang punggung Hiro karena mengira dia memperoleh kesempatan bagus untuk mengalahkan Hiro. Ternyata itu hanya jebakan saja. Hiro tiba-tiba menekuk tubuhnya ke belakang (hampir seperti kayang), kemudian memutar badannya. Saat itu pedang Benny sudah meluncur, sehingga pertahanan Benny jadi terbuka. Benny tidak sempat menangkis atau menghindari serangan kedua wakizaki Hiro yang mengancamnya. Akhirnya kedua wakizaki Hiro berhasil menancap di antara kedua pundak Hiro. Serangan Hiro ini merupakan serangan "bunuh diri", karena dia sendiri pun tidak memikirkan keselamatannya. Pedang Benny yang meluncur deras pun tidak dihiraukannya. Serangan Hiro inipun harus dibayarnya dengan tusukan pedang yang menancap di antara pundaknya.
Tiba-tiba Hiro Yoshimitsu tertawa terbahak-bahak. Sambil menahan nyeri, secara perlahan tangan kanannya mencabut pedang Teratai Perak. Benny juga tidak mau kalah. Dicabutnya kedua wakizaki Hiro dengan cepat. Hiro Yoshimitsu secara tertatih-tatih berjalan menuju Benny. Ia mengulurkan pedang Teratai Perak kepada Benny.
"I'm lost." katanya sambil membungkuk dan menyerahkan pedang.
"No. I'm lost." kata Benny sambil menyerahkan kedua wakizaki Hiro dan balas membungkuk. Hiro tertawa dan kemudian mereka menukar pedang. Keduanya saling menghormati lawannya, karena mereka tahu sama tahu bahwa bila mau, lawan mereka bukan cuma sekedar menusuk pundak, tetapi bisa menebas atau menusuk leher.
"Listen everyone! I'm Hiro Yoshimitsu, Master of Yoshimitsu Clan of Edo, declare that Mr. Benny Chang, his family and his friends are my friends. Since now on, there is no more dispute between us. I and my clan will provide any assistance or help anytime Mr. Benny Chang asks for." Semua orang terkejut mendengar pernyataan Hiro Yoshimitsu, terlebih lagi Benny Chang.
"Thank you Mr. Yoshimitsu. Yes, our disputes end here. Likewise, you are my friend now. Anytime you need my assistance, please don't hesitate to ask. And please accept my apology for my impudence to hurt you." Benny menjura ke arah Hiro.
"Ha... ha... ha... Don't be sorry. I hurt you more, so I have to apologize to you. Please accept it."
Mereka berdua kemudian kembali menuju ke tepi. Hiro Yoshimitsu kemudian dirawat oleh beberapa orangnya dan dibalut. Benny membuka bajunya dan kemudian diberi obat luka berbentuk bubuk dan kemudian dibalut perban oleh Ah Chun. Mas DSB membisikiku, "Ini merupakan salah satu strategi perang klasik Sun Tzu yang dipakai oleh Hiro. Kalau kamu nggak bisa ngalahin lawanmu, jadikan dia kawanmu. Smart! Dengan begitu, posisi keduanya jadi semakin kuat. Alhamdulillah... Baguslah. Aku dan Mas ST jadi nggak perlu berantem dan keringetan."
-------
EPILOG
Akhirnya memang berakhir baik. Yakuza Clan Yoshimitsu jadi bersahabat dengan Triad Clan Chang. Semua biaya pengobatanku ditanggung oleh Hiro Yoshimitsu. Dia bahkan meminta maaf langsung melalui telefon ke ayah Mitsuko dan Mitsuko sendiri. Hiro bahkan juga membayar kerugian restoran yang rusak gara-gara perkelahianku dengan anak buahnya.
Mas DSB dan Mas ST kembali ke tempat mereka masing-masing dua hari setelah kejadian pibu itu. Karena kedua tiket mereka sudah kadaluarsa, maka ongkos tiket pulang mereka pun ditanggung oleh Hiro Yoshimitsu. Aku sendiri baru sembuh total dari luka-lukaku dan pulih seperti sedia kala setelah hampir lima bulan dalam terapi pengobatan dan latihan.
Mitsuko tidak jadi sekolah pada semester itu dan baru kembali sekolah semester depannya. Oleh ayahnya, Mitsuko dibelikan sebuah rumah mungil tetapi bagus dan asri (yang akhirnya sering kali Jeanne dan aku inapi). Selama semester itu, Mitsuko dan aku hanya sempat berhubungan lewat telefon. Sementara Jeanne sempat bertemu dengan Mitsuko ketika Jeanne sengaja pergi ke Jepang untuk menemui Mitsuko saat liburan Thanksgiving.
--------
OBITUARI
Selamat jalan Mas ST yang telah lebih dulu menghadap Tuhan Yang Maha Kasih pada bulan Februari 2000. Semoga Mas ST mendapat tempat yang sebaik-baiknya di alam sana. Beristirahatlah dengan tenang. Kami akan menyusulmu kelak bila waktunya tiba.
------