Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: 2,3,5,7,11,?,17 · More of this
    Search
 

   

Liputan P8: Kejamnya Ibukota
Banyak yang komentar bahwa Liputan 6 (eh salah ini sih punyanya stasiun tv swasta), Liputan P6 bagus sekali. Menurutku : pastilah. Modalnya saja 100+(200x6)=1.300$. Tetapi kalau begini terus khan habis modal buat meliput, he he he, padahal Liputan P6 adalah FIKSI, jadi jangan tanya di mana. Anehnya ada aja yang kenal dengan tempat dan nama-nama wp-nya - dasar dunia makin sempit.

Sekarang aku mencoba membuat perubahan dari Liputan P(ijit) atau Liputan P(antiPijat) menjadi Liputan P(erkawinan). Semua nama dan tempat adalah FIKSI, dan tanpa nama spare parts - guna memenuhi keinginan Pembaca CCS terutama yang menyukai Liputan P.

Namaku Budi Purnomo Aji. Akibat dampak krisis yang berkepanjangan, menyebabkan aku dipecat dari perusahaan. Dengan modal seadanya aku berusaha wiraswasta kecil-kecilan. Baru mulai dapat pasar, pemasukan sudah mulai membaik, eh peralatan ditempat usahaku dicolong maling. Apes benar yah. Sekejam kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibu kota, memang ada benarnya.

Akhirnya dengan meminjam modal dengan saudara (jelas tidak mungkin kalau ke bank, apa yang mau diagunkan, bulu kemaluan). Setelah modal cukup aku coba lagi diusaha yang sama, hanya beda lokasi (mungkin hong sui yang dulu nggak bagus - pasar ada tetapi nggak aman).

Pemasukan dari usaha ini tidak begitu baik, tetapi tetap bersyukur, karena tempatnya aman. Yah aku coba jalani saja, hingga suatu saat ----- ke A.

Aku punya istri, namanya Ida. Dia bekerja di perusahaan swasta sebagai staf pemasaran. Gaji yang dia dapat tidak mencukupi karena (setelah) dipotong dengan biaya transpotasi dan makan, hanya tinggal beberapa ratus ribu rupiah. Sementara fixed cost COM (Cost Of Marriage) alias biaya tetap operasional rumah tangga cukup besar yang tidak sebanding dengan pemasukan, sehingga aku usulkan dia berhenti bekerja saja, agar membantu usahaku dengan demikian aku dapat mengurangi karyawanku dan menambah pemasukan. Al hasil pemasukan hanya dari hasil wiraswastaku, mangan ora mangan ngumpul.

Setelah dicoba beberapa bulan, akhirnya dia menolak dengan alasan pemasukanku fluktuatif, sementara dia mempunyai penghasilan tetap. Selain itu pekerjaan di rumah monoton, dan buat apa dia belajar bila tidak di praktekkan. Semua alasannya masuk akal, sehingga dengan berat hati aku menyetujuinya untuk kembali bekerja di kantor yang sama. Beruntung sebelumnya dia mendapat cuti di luar tanggungan, belum mengundurkan diri, sehingga dapat kembali lagi dengan hak yang sama.

-----A

Beberapa bulan kemudian istriku bilang ingin mempunyai anak. Saat ini dia menggunakan spiral sebagai kontrasepsi (kita sepakat sebelum nikah agar tidak mempunyai anak bila belum siap secara materiil dan moril). Aku bilang kondisi saat ini tidak memungkinkan. Dia tetap bersikeras bahwa banyak anak banyak rejeki. Aku tertawa mendengarnya. Akhirnya dia menerima untuk sementara waktu tidak hamil dulu. Aku berikan alasan bahwa biaya terbesar untuk mempunyai anak adalah pendidikan dan ke dua kesehatan, sehingga dengan kondisi yang belum stabil, aku belum berani ambil resiko - kita selalu bermusyawarah dengan memberikan alasan yang masuk akal, sehingga tidak ada larangan tanpa alasan - alias otoriter atau "ora ilok".

Suatu siang, aku "pingin" banget, kita berdua tinggal di rumah kontrakan di pinggiran Selatan kota Jakarta, yang hanya mempunyai tiga ruang dengan masing-masing ukuran tiga kali tiga, ruang pertama ruang tamu, ruang tengah ruang tidur yang mempunyai pintu, sedangkan ruang ke tiga adalah dapur dan kamar mandi, sehingga secara keseluruhan rumah kontrakan ini berukuran tiga kali sembilan meter, dan itupun berjajar sebanyak lima buah berdempetan.

Kondisi rumah yang kecil dan panas yang terik, membuat dia tidur hanya mengenakan cd dan bra, sementara tak jauh darinya kipas angin dengan kecepatan rendah, sedang berputar. Pagi hari menjelang siang aku "meminta" tetapi dia menolak karena capek. Tapi desakan arus bawah ini nggak tahu diri, akhirnya aku berusaha masuk ke kamar. Ternyata kamar dikunci. Dengan tidak kehilangan akal aku berusaha melepas anak kunci di dalam kamar dengan menusuk dari luar dengan obeng, agar jatuh ke koran yang aku letakkan di bawah pintu (komentar Wiro: Gue jadi ingat dengan film "7 Days To Live"). Aduh mau minta jatah sama istri sendiri saja susahnya minta ampun. Saat anak kunci jatuh dia terbangun dan anak kunci itu dengan sekali gerakan dengan kakinya keluar dari koran. Yah apes, gagal.

Aku coba cara lain. Kabel kipas angin tertancap di stop kontak di luar kamar tidur (karena stop kontak di kamar tidur lagi rusak) aku cabut sehingga udara yang dihembuskan terhenti. Tak berapa lama, dia mulai berkeringat, dan berusaha menekan tombol-tombol kipas yang tak bertegangan; kebalikan dari badanku yang sudah mencapai dua-dua-nol.

Karena panas dia keluar; akhirnya berhasil juga; dan...

"Mas, aku capek tolong jangan dulu, pasang lagi kabel kipas anginnya!" katanya. Tanpa komentar kulakukan apa yang dia minta. Yah terpaksa mengalah lagi. Dia kembali masuk ke kamar untuk melanjutkan tidur tanpa mengunci kamar. Gagal lagi.

Suatu hari dia memintaku agar bekerja di kantoran, yang penting mempunyai penghasilan tetap. Aku bilang umurku sudah tidak muda lagi. Mana ada kantor yang mau. Yang ada juga sekarang pada di PHK, kubilang.

Saat malam, aku benar-benar "pingin" banget, soalnya yaitu, dia kalau tidur nggak siang atau malam selalu hanya cd dan bra hitamnya saja, sementara kulitnya lumayan putih, jadi kan "arus bawah" selalu meronta. Aku mulai mendekati dan merayunya, karena sudah beberapa hari ini aku hanya masturbasi.

"Ma, aku pingin, nih-" sambil mengusap paha bagian dalamnya, posisinya tidur telungkup. Dia langsung membalik badan dan duduk serta...

"KAMU DISURUH KERJA NGGAK MAU, AKU PINGIN PUNYA ANAK KAMU NGGAK MAU, APA APA NGGAK MAU, MATI AJA SANA! - NGENTOT MULU YANG DIPIKIRIN" katanya dengan suara cukup keras, malu juga aku di dengerin tetangga.

"Ya sudah ma. Kalau nggak mau yah jangan teriak-teriak gitu dong. Didengerin sama tetangga kan malu!" jawabku. Mungkin dia ada masalah di kantor atau kurang sehat, aku memaklumi, aku keluar kamar dan tidur di ruang tamu.

Di suatu sore, saat sampai di rumah dari pulang kerja, setelah membersihkan diri dan makan, dia minta tolong aku untuk ngerokin badannya. Katanya masuk angin. Aku sedang tanggung memperbaiki peralatan usahaku di ruang tamu. Ternyata karena nggak sabar menunggu aku, dia minta tolong dengan mbak sebelah untuk ngerokin badannya dikamar tidur kita.

Setelah selesai memperbaiki aku menuju kamar tidur dan kulihat dia sedang tidur-tiduran (dia selalu tidur dengan telungkup, aku nggak bayangin saat dia nanti hamil, kalau jadi, khan repot). Aku coba memijat pundaknya, dan mengurut punggungnya. Karena terhalang oleh tali surga alias tali bra, aku coba melepaskan. Dia diam saja, dan aku terus memijat dengan siku tanganku secara perlahan, aku turunkan sedikit bagian belakang celana dalamnya hingga belahan pantatnya tampak semua (kalau dia protes, akan ku jawab cd-nya mengganggu).

Nampaknya dari hasil pijatanku dia tertidur. Dengan perlahan aku lepas cd-nya, pelan-pelan. Setelah terlepas, aku pijat telapak kakinya sedikit demi sedikit menuju ke bagian atas sambil melebarkan bentangan kaki kiri dan kanan, kemudian ke arah betisnya, pangkal pahanya, dan ku usap paha bagian dalamnya, dan dia mengubah arah kepalanya dengan membelakangi aku (jangan-jangan dia pura-pura tidur???).

Saat ini rudalku sudah siaga satu, nampak seperti joystick. Bedanya nggak ada push-button-nya.

Saat aku pijat paha bagian dalam sengaja kelingkingku tidak ikut menekan tetapi aku biarkan menunjuk. Kadang aku gesek ke anusnya, kadang ke klit-nya (dia mempunyai klit yang sangat besar serta keluar dari penutupnya, baik dalam posisi terangsang ataupun tidak - mungkin itu sebabnya dinamakan IDA alias Itil kuDA). Dia ini tergolong wanita dengan bulu lebat, hingga lubang anusnyapun banyak ditumbuhi bulu. Takut dianya marah aku pindah memijat kaki sebelahnya tanpa merubah posisi dudukku, dan kuulangi lagi mengarah ke atas. Kali ini aku tidak menyentuh anus atau klitnya, tapi kuusap bulu kemaluan serta bulu sekitar anus tanpa menyentuh kulitnya.

Aku lepaskan pakaianku. Kebetulan hawanya panas sekali saat itu. Aku usap kemaluannya, terasa ada seikit lendir. Aku balikkan badannya, dan…

"Ma, main, yah?" bisikku ke telinganya sambil menjilat daging lunak sekitar telinga.
"Hmmm" tanpa kata, tapi aku dapat menangkap maksudnya, pasti bukan penolakan. Segera aku tindih badannya, dan kuhisap putingnya yang berwarna coklat muda secara bergantian (lucu deh, balita aja kalah mimik asi-nya). Kemudian aku cium mulut dan kujilati sekitar telinganya, aku nggak berani cium lehernya karena masih ada sisa balsem, bukan terangsang yang kudapat malah kepedasan nanti.

Aku nggak berani pegang rudalku, karena tangan bekas mijat tadi terkena balsem bekas kerokan yang ada di punggung istriku (makanya kalau ada cerita CCS yang habis kerokan/pijat terus megang-megang kemaluan apa nggak kepanasan yah?). Sehingga dengan penuh perjuangan aku mencoba memasukkan rudalku ke dalam vagina istriku tanpa memegangnya, seperti max biagi habis finish terus lepas tangan, tusukan pertama gagal akibatnya terpeleset dan menggesek klitnya, istriku coba mengangkang lebih lebar agar lebih leluasa memasukkannya, aku tusuk lagi, dan terpeleset dan…

"Pa, pelesetin terus aja enak koq," katanya ngeledek. Dalam hati iya enak di kamu nggak enak di aku. Ku coba yang ke tiga, akhirnya masuk, tetapi belum masuk semua hanya bagian kepalanya saja karena agak sempit. Nggak apa-apa deh yang penting sudah masuk sasaran tembak. Ya sudah, aku coba tarik-tekan dengan "space" yang kecil tadi, dengan kesabaran akhirnya semakin basah dan…
-

"Mph, eh," cuman itu yang keluar dari mulut istriku, dengan rautmuka seperti orang tidur.

Lama kelamaan vaginanya semakin basah sepertinya mempersilahkan rudalku masuk lebih dalam. Kutekan lebih dalam dan masuk semua, baru tarik-tekan, empat kali, aku sudah keluar.

"Ma, maaf yah, soalnya sudah lama nggak main jadi keluarnya cepet," kataku. Dia tidak menjawab tetapi mengeluarkan lenguhan nafas panjang, artinya dia nggak puas. Yah siapa sih tahan "palkon" belum masuk semua, tapi digesek-gesek sekitar vagina soalnya belum dipersilahkan masuk. Coba deh masturbasi, tapi yang diurut hanya "palkon"nya saja, kalau nggak cepet keluar (ya lecet). Udah gitu aku khan udah lama nggak main jadi yah cepet keluar. Aku agak heran di cerita CCS ada yang main bisa lama saat merawanin anak orang. Biasanya untuk pertama kali yang ce akan merasakan lebih banyak sakitnya ketimbang enaknya, sementara co lebih cepat keluar karena "palkon"-nya akan terjepit dinding vagina karena si ce menahan rasa sakit. Yah kecuali kalau co-nya pakai obat seperti Si Edy (Liputan P6) atau Co sudah pengalaman alias nggak perjaka.

(Komentar Wiro: Cowok memang begitu. Jarang yang bicara jujur dalam urusan seks. Kalau ditanya berapa ukuran penisnya, dia akan menambahkan beberapa sentimeter pada ukuran sebenarnya. Kalau cerita tentang pengalaman seksnya, dia menggambarkan pasangannya orgasme berkali-kali, padahal menurut survey, perempuan yang mendapatkan orgasme berkali-kali dari coitus hanya beberapa persen. Sebagian besar malah tidak pernah orgasme kecuali bila masturbasi).

Setelah itu aku berdiri dengan ke dua lututku. Tampak cairan putih alias spermaku meleleh dari vagina istriku. Ada sebagian orang yang mengatakan itu cairan yang menjijikan, didorong bagaimanapun caranya tetap akan keluar dari kedudukannya (si istri pingin hamil jadi berusaha spermanya nggak keluar) - beda dengan pejabat di negara berkembang udah menjijikan didorong pakai apapun tetap nggak mau turun juga (Komentar Wiro: Bilang saja Indonesia. Begitu saja kok repot, he he he).

Aku bersihkan dengan cd hitamnya, dan aku kebelakang untuk memcuci "rudalku". Setelah selesai aku kembali ke kamar tidur. Posisi tidur istriku belum berubah, masih terlentang dengan kaki terbuka lebar dan mata terpejam (yang jelas bukan tidur kemungkinan kesel iya).

"Ma, nambah yah?" kataku. Dia diam aja. Aku duduk di depan vaginanya. Tampak vagina labia minornya sudah menutup, tetapi klitnya masih tersembul keluar. Kubuka labia minornya yang tertutup bulu hitam keriting, saat akan kujilat...

"Jangan, Pa, kotor" kata istriku, sambil bangun terus memegang bagian belakang kepalaku dengan kedua tangannya serta menghisap bibir bawahku, menghisap dengan sangat kuatnya dan mencari-cari lidahku. Setelah dapat, dihisapnya lidahku, terlepas, dimainkannya lidahnya digusiku. Saat dia melakukan semua gerakan kulihat matanya terpejam, saat mendapatkan lidahku, matanya setengah terbuka yang tampak bagian putihnya saja.

Dijilati leherku, terus ke dua putingku, hingga "rudalku" bergerak tetapi belum mengeras hanya "waspada satu". Selanjutnya dia menjilati lubang "rudal"ku. Poupss, rasanya mak..... Dia suka meng-oralku, tetapi kalau di-oral nggak mau, alasannya kotor bekas darah menstruasi, keputihan, bau, pokoknya nggak boleh, ora ilok mengko ora diajeni karo wong wedok - yah sudah aku nurut aja, toh aku yang diuntungkan (Komentar Wiro: Petuah Jawa yang seperti ini kayaknya bener lho!).

Dia memasukkan hanya sebatas kepala "rudal" ke dalam mulutnya, dihisap, dilepas (hingga bunyi "plop"), dijilati kepalanya, dihisap lagi, begitu keras menjadi "siaga satu", dimasukkan semuanya ke dalam mulut, dilakukan berulang-ulang. Rasanya "rudal"ku sudah keras, tetapi ada sedikit rasa linu (mungkin setelah keluar yang pertama tadi dan kencing saat dibersihkan sekarang dipaksa tegang lagi), sehingga rasa linu ini mengalahkan rasa nikmat untuk segera "keluar".

Tahu kalau sudah "siaga satu", dia segera mengangkangi rudalku dan memasukkan ke vaginanya, bergerak naik turun dengan sangat cepat.

"OH, OH, OHHH" suaranya keras bener, membuat rasa linuku hilang berubah menjadi nikmeh. Kucoba menutup mulutnya agar tak didengar tetangga, malah jariku dijilati, auw, enak bener. Nggak lama digigit, langsung segera aku tarik tanganku (ganas bener, anjing kalah?), Eh, malah lebih keras lagi suaranya. Bodo ah, biarin tetangga denger, kadang seperti orang kepedesan (sshuah - shuah, padahal nggak ada cabenya), kadang seperti orang merintih kesakitan (ekh - ekh, wong capek koq pethakilan).

Sudah capek dengan gerakan cepat naik-turun. Dia terduduk tetapi tetap bergerak memutar secara perlahan, kemudian dia roboh, telungkup memelukku, dan menghisap bibirku. Terasa "rudalku" seperti ada yang menekan, saat dia melakukan penekanan dengan rongga vagina pada "rudalku", dia mengangkat sedikit pantatnya dan menjatuhkannya kembali - akhirnya dia nggak bergerak.

"Capek aku, Pa," katanya dengan nafas ngos-ngosan. Ku balik badannya tanpa melepas "rudal"ku. Tampak hidungnya kembang-kempis, capek benar kayaknya. Aku cabut "rudalku". Tampak banyak lendir berwarna putih menyelimuti "rudal"ku, dan di sekitar labia minor-nya ini sih bukan becek tapi banjir, tetapi aku tetap senang (wanita tidak mengeluarkan atau menyemprot cairan sperma seperti pria, hanya lendir bening, akibat dikocok terus menerus maka berubah manjadi putih susu).

Kalau ada yang bilang "jangan sama orang Sunda", "jangan sama orang Cina", "jangan sama orang berkulit putih", banjir, becek, menurutku "SALAH", banjir dan becek itu menandakan wanita itu terangsang "BUKAN" dari warna kulit, sehingga memudahkan penetrasi. Sebaliknya bila kering akan sulit sekali penetrasi, kalau dipaksakan akan berakibat iritasi selain itu akan menyebabkan ejakulasi premature karena sentuhan yang diterima sangat luar biasa. Mau tahu buktinya mana ada pemerkosa lama, paling nggak lebih dari dua menit (aku bukan pemerkosa lho) yah kalau dia kelamaan keburu ketangkep, tul nggak? Kalau iritasi perihnya minta ampun. Ada cerita-CCS yang mengatakan pelacurnya nggak tahu kalau tamunya sudah keluar - itu bisa terjadi bila: pelacurnya acting, pelacurnya lagi ngelamun atau pelacurnya masih perawan, lha wong tiap hari ditusukin pasti dia tahu. Mungkin lebih tahu dari tamunya, soalnya dia berusaha agar secepatnya ejakulasi, khan prestasi kerjanya di situ, lain sama Mas Wiro, prestasinya ada di-------, tul nggak mas?. (Apa tuh? Prestasi tahan bokong panas karena terlalu lama ngedit cerita CCS ya? He he he).

Aku bersihkan "rudal"ku dan labia minornya dengan gt-man ku. Selanjutnya kumasukkan kembali, kuangkat kakinya kepundakku. Gerakanku pelan (khan habis di bersihkan jadi agak kurang lendirnya) begitu mulai basah aku tambah kecepatannya, hingga tak lama akan keluar...

"Mas jangan dikeluarin dulu, Papa berdiri deh," kata istriku. Segera aku bangun dan dihisapnya. Saat akan keluar, disemprotkan spermaku ke wajahnya, dan dioleskan "rudalku" ke wajahnya.
"Kamu koq, aneh sih Ma?" tanyaku.
"Nggak. Kata teman sperma itu obat manjur untuk jerawat. Selain itu juga mengencangkan wajah!" katanya.
"Kata siapa?" katanya.
"Mbak Maryanah," jawabnya. HAHHH, mbak Maryanah itu tetangga sampingku, orangnya kalem, pakai jilbab, sopan, guru TKI. Nggak nyangka. Pantes koq nggak pernah jerawatan dan memang sih wajahnya putih kenceng. Tapi masak sih orang seperti itu mau melakukan kayak gitu, yah dalamnya laut yang siapa tahu?
"Pasti ngelamunin dia?" tanyanya, sambil mencubit pantatku.
"Tahu aja, habis nggak nyangka sih."
"Sebetulnya dia keberatan ngasih tahunya, tapi aku desak terus menerus untuk memberikan resep bebas jerawat dan wajah kencengnya. Kata dia sih cuman aku yang tahu, jangan diberitahukan ke siapa-siapa, malu katanya," jawab istriku. (Komentar Wiro: Dan sekarang 26 ribu pembaca mailing list CeritaSeru tahu).

Setelah kita berdua membersihkan organ vital, kita menuju peraduan.

"Ma, kamu itu jerawatan bukan pakai sperma obatnya, tetapi jangan stres!" kataku sambil tidur miring menghadap ke arahnya.
"Papa ini gimana sih, namanya orang hidup khan pasti punya masalah, nah khan mesti dipikir!" jawabnya nggak kalah sengit sambil menekan jidatku.
"Tetapi menurutku jerawatmu itu karena nafsumu yang nggak tersalurkan, jadi timbul di wajahmu terus sering marah-marah," kataku.
"Itu maunya papa agar bisa sering main, tapi gimana yah, aku khan nggak bisa nafsu kalau aku ada masalah sama kamu."
"Jadi kamu selingkuh dengan orang lain, memangnya ada masalah apa denganku."
"Selingkuh, nggak lha yau, nggak selingkuh aja sudah pusing apa lagi selingkuh," jawabnya tegas. Wah kaget juga hampir ngantukku hilang. Biasa, habis main biasanya ngantuk bawaannya.
"Terus masalahmu apa sama aku?" tanyaku.
"Pa, aku bingung ngurus keuangan rumah tangga, semua keperluan kamar mandi naik, listrik naik, kontrakan naik. Cuma susuku sama spermamu saja yang turun," katanya sambil megang susunya sendiri sama "rudalku".
"Yah larinya koq kesitu lagi," kataku.
"Lho memang kenyataan begitu, kalau sudah gitu khan pusing, gimana mau main, coba."
"Koq hari ini kamu tumben mau, biasanya marah-marah melulu?" tanyaku.
"Tadi aku periksa ke tempatmu kerja, kata Lili (kasirku) banyak pengunjung, jadi pasti kamu bawa uang banyak," jawabnya sambil senyum.
"ohhh," kataku sambil senyum juga.
"Jadi kalau gitu masuk angin dan kerokannya hanya akting. Pantes nggak merah? agar mancing aku untuk bersetubuh, memuaskan kamu, dan jerawatmu?" tanyaku kesal, tapi ngecret juga sih.
"Nggak juga Pa, memang tadi badanku terasa nggak enak, terus aku di jalan lihat orang di bajaj mesra banget, bayangin di bajaj aja mesra, kalau di mobil mewah sih wajar, jadi ingat kamu. Tapi yang lebih penting sih kamu bawa uang lebih," katanya.
"Lho koq masalah uang lagi?" tanyaku.
"Iya memang itu sumber masalahnya," jawabnya.
"Katanya dulu waktu pacaran sudah siap hidup susah, yang penting saling mencinta," rayuku.
"Makan tuh cinta," katanya. Aku tersenyum.
"Jadi ada uang abang sayang, nggak ada uang abang ditendang?" kataku.
"Ember," jawabnya sambil senyum.
"Tahu gini mendingan beli sate dari pada pelihara kambing," kataku meledek.
"Sapa suruh luh kawin," katanya sambil menaikkan dagunya yang lancip, sambil merubah posisi tidur dengan wajah membelakangi aku.

"Dasar perempuan, tugasnya ngabisin uang suami," kataku, yang masih tetap tidur miring menghadap ke istriku.
"Kodrat" jawabnya singkat.

Yah, itulah sebagian kecil kehidupan rumah tangga yang selalu banyak masalah silih berganti, padahal sebelum nikah, aku sudah membaca segala macam buku. Kalau ujian mungkin dapat nilai "A". Ternyata setelah nikah, segala teori yang di buku hanya sebagian kecil yang terjadi.

Visits: 29067
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 26712   Help/FAQ   Terms   Imprint