Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: 2,3,5,7,11,?,17 · More of this
    Search
 

   

Bapak Itu Menyimpan Kami
Di usianya yang sudah menginjak dua puluh tahun, Nungki masih tetap tidak berubah. Gadis itu masih tetap seperti dulu, pemalu dan selalu merasa asing dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. Di saat hampir semua sahabat-sahabatnya sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis masing-masing, Nungki ibarat katak dalam tempurung, masih saja lebih suka berkutat dengan buku-buku pelajaran dan kehidupan pribadinya. Sahabat-sahabatnya pernah mencoba mengenalkannya pada seorang pemuda, tapi akibatnya Nungki malah semburat entah kemana pada saat pemuda itu hendak mengajaknya keluar.
Nungki bukan gadis yang cantik, tapi tak bisa juga disebut jelek. Beberapa orang justeru mengatakan bahwa mereka menyukai lesung pipit yang timbul saat gadis itu tertawa. Tapi Nungki secara pribadi lebih menyukai kehidupannya yang sekarang, dimana ia bisa asik dengan dunianya sendiri tanpa harus memikirkan orang lain.

Dan Nungki tetap sendiri sampai ia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah pandangannya terhadap hidup, dan memberikannya petualangan yang menakjubkan...
dengan terror.

BAPAK ITU MENYIMPAN KAMI
(drama fiksi psikopat)

ACT ONE

Bagian Satu

Sore itu Nungki masih sibuk di depan surat kabar kesayangannya. Matanya menelusuri kata demi kata yang tertulis di halaman tengah. Alis gadis itu mengerenyit.
"Ma, lihat, ada seorang lagi gadis yang dinyatakan hilang."
Seorang wanita setengah baya, yang terlihat sibuk memintal benang sulam, menoleh dan tersenyum, "Ah, mungkin hanya kawin lari atau semacamnya. Lagipula kejadian seperti tu sudah banyak terjadi belakangan ini, bukan?" Nungkin menatap wajah mamanya dan mengangguk, "Iya juga, sih. Tapi ini kan sudah yang kelima kalinya sejak bulan lalu." Sang ibu kembali sibuk dengan pekerjaannya, hanya menggumam. "Bagaimanapun pasti ada alasan yang rasionil atas hilangnya gadis-gadis itu. Sudahlah, itu kan urusan polisi."
Nungki menutup koran di tangannya dan mendekati ibunya, "Bagaimana kalau aku yang hilang?" Sang ibu tertawa dan mengelus kening anak semata wayangnya, "Jangan bilang begitu. Kata orang itu pamali." Nungki tersenyum dan beranjak menuju dapur.
Ruang dapur itu terlihat sederhana, hanya beberapa rak di atas tempat cuci piring, sebuah rice cooker, dan kulkas tua di sudut ruangan. Nungki dan ibunya memang hidup sederhana, apalagi sepeninggal kepala rumah tangga mereka yang meninggal akibat serangan kanker paru-paru. Hal itu pulalah yang selalu membuat Nungki merasa antipati pada perokok.
Nungki mengambil termos air panas dan mengisi dua mug kosong di hadapannya. Benaknya masih menyimpan rasa penasaran akan kehilangan perempuan-perempuan itu. Mungkin aku terlalu banyak membaca cerita detektif, pikir Nungki lalu tertawa sendiri.

Suasana kampus ramai seperti hari-hari aktif lainnya. Nungki seperti biasa pula menghabiskan waktunya di ruang baca, suatu kegemarannya yang membuatnya jauh terkucil dari pergaulan anak kampus.
Sedang asiknya membaca, mendadak terdengar sebuah sapaan dari belakangnya, "Hai Nungki, sedang apa?" Nungki menoleh dan melihat Deni sudah membungkuk di belakangnya, menjuluran kepala melewati bahunya. Nungki menjauh dengan gusar, sementara Deni hanya terkekeh, "Dih, begitu saja takut. Aku kan bukan drakula." Tapi Nungki tidak mengacuhkannya.
"Nungki," ucap Deni setelah mengambil tempat di sebelah gadis itu, "bagaimana kalau nanti aku yang mengantar kamu pulang?"
Nungki memandang dengan sebal, ini sudah yang kedua kalinya minggu ini, "Sori, aku naik angkutan saja."
Deni menghela nafasnya, mendadak wajahnya tampak lesu, "Mengapa sih kamu selalu menghindar dariku. Memangnya aku salah apa?" Sekejap Nungki merasa kasihan juga, "Bukan salah apa-apa, kok. Aku memang anaknya begini."
"Baiklah," ucap Deni kemudian, seraya bangkit berdiri, "mungkin suatu saat nanti kamu akan lebih ramah padaku." Nungki tersenyum dan memandang pemuda itu berlalu dan keluar dari ruang baca.
Sebenarnya Nungki juga menyukai Deni, dari cara bicaranya yang ceplas ceplos dan gayanya yang kata anak jaman sekarang `funky'. Tapi Nungki, tetap lebih suka berkonsentrasi pada studi dan dunianya sendiri.

Sore itu Nungki sudah di sudut jalan sambil menunggu mobil angkutan datang. Mendadak perhatian gadis itu tersita pada seorang lelaki cina yang sibuk mempertahankan tas coklat di tangannya dari dua orang pemuda bertampang beringas. Nungki melihat ke sekellilingnya dan menyaksikan orang-orang di pinggir jalan yang hanya menonton tanpa bertindak apa-apa. Nungki merasa jantungnya berdebar menyaksikan adegan itu, dan tanpa disadarinya mulutnya berteriak lantang, "Polisi! Polisi!!" Kedua pemuda bertampang beringas itu langsung terlihat panik dan meninggalkan si bapak yang masih terengah-engah. Seseorang di belakang Nungki berbisik, "Waduh, Non. Kok sampeyan berani sekali, kedua orang itu anak sekitar sini yang sudah biasa mengompasi orang.." Nungki melirik ke arah sumber suara dan memandang sinis, "Tapi bukan begitu caranya kalau ada copet." Sementara bapak yang nyaris kehilangan barangnya tadi sudah menghampiri Nungki dengan senyum di bibirnya.
"Terima kasih, Dik. Untung tadi Adik berteriak." Nungki tersenyum dan mengangguk, "Ah, tidak apa-apa, Pak." Lelaki itu menatapnya sejenak seolah memperhatikan, lalu menolehkan wajahnya ke seberang jalan, "Saya lihat tadi Adik menunggu sendirian di sini. Bagaimana kalau saya mengantarkan Adik pulang? Kendaraan saya ada di sana."
Nungki melirik ke arah pandangan si bapak dan melihat sebuah sedan berwarna hitam metalik. Nungki menggelengkan kepalanya, "Wah, terima kasih, Pak." Si bapak dapat menangkap pancaran keragu-raguan itu dari gadis di depannya. Dengan tersenyum bapak itu mengangguk, "Baiklah, tapi terima kasih sekali lagi." Nungki ikut tersenyum.

Sesampainya di rumah Nungki menceritakan kejadian itu pada ibunya, sang ibu tersenyum dan dalam hati merasa bangga, "Bagus, kamu sudah bertindak benar." Nungki juga merasa senang dalam hatinya. Hari itu ia jadi pahlawan.

Bagian Dua

Hari Minggu itu Nungki bangun kesiangan, sehingga ia mendapati dirinya sudah sendirian di rumah. Ibunya sudah berangkat ke toko benang yang dikelolanya. Nungki merasa bingung harus makan apa, tapi akhirnya Nungki memutuskan untuk berjalan kaki ke pasar, membeli bahan-bahan masak dan memasak makan siangnya sendiri.
Pasar tradisional di daerahnya terletak tak jauh dari rumahnya, hanya lima menit berjalan kaki. Suasana siang itu cukup panas, walau matahari belum tinggi. Jalanan terlihat sepi, hanya beberapa pembantu kesiangan yang searah dengannya menuju ke pasar.
Nungki menikmati suasana itu. Matanya memandangi pepohonan yang menghijau rindang sepanjang jalan, mendadak sesuatu menabraknya dari belakang, tubuhnya terjatuh dan tulang punggungnya terasa sakit sekali. Nungki menoleh dan melihat seorang bapak turun dari mobil.
"Aduh, maaf. Saya tdak sengaja, tadi saya sedang menelpon. Aduh, aduh," si bapak terlihat panik. Nungki mengamati dengan seksama bapak itu, dan ia langsung teringat bapak yang kemarin nyaris kecopetan. Bapak itu juga mengenalinya, "Ya ampun. Ini kan Non yang kemarin. Aduh, apa yang telah saya lakukan?" Nungki berusaha bangkit berdiri, namun punggungnya terasa begitu nyeri. Si bapak langsung membungkuk dan membantunya berdiri, "Kali ini Adik harus mau saya tolong." Nungki merintih kesakitan saat bapak itu memapahnya masuk ke dalam mobil.

"Saya bawa ke rumah sakit saja ya, Dik," ucap si bapak di dalam mobil. Tapi Nungki menggeleng, "Sudahlah, Pak. Antar saya ke rumah saja." Bapak itu mengangguk, wajahnya masih terlihat panik, "Oh, baiklah. Rumahnya di mana?" Nungki mengacungkan tangannya, dan mobil yang mereka naiki langsung melaju.

Si bapak membantu Nungki turun dari mobil dan memapahnya ke teras rumah. "Nah, apa lagi yang bisa saya lakukan?" tanya si bapak seraya menyeka peluhnya. Nungki tersenyum geli, "Sudahlah, Pak. Mungkin Bapak lebih baik pulang saja."
"Ah, jangan begitu, dong," ucap si bapak dengan nada khawatir, "bagaimanapun kan saya yang salah."
"Sudahlah, Pak. Saya tidak apa-apa kok."
"Benar saya disuruh pulang?" tanya si bapak.
Nungki memandang kakinya yang lecet di beberapa tempat ketika terjatuh tadi dan merintih lagi, "Iya."
"Benar, nih?" mendadak Nungki menangkap nada yang aneh dari si bapak. Nungki mengangkat kepalanya dan memandang si bapak. Mendadak bapak itu menutupi wajahnya dan mulai menangis.

"Mengapa semua orang menyuruh saya pergi? Mengapa?"
Dan sebuah pukulan melayang ke wajah Nungki.

Bagian Tiga

"Deni, kamu ngga ikutan ke mall?"
Deni menoleh ke arah sahabat-sahabatnya dan menggelengkan kepalanya, "Thanks. Gua ada kerjaan, mungkin nanti malam saja." Beberapa saat kemudian Deni sudah menstarter mobilnya dan menuju ke alamat yang tertera di sobekan kertas kecil dalam genggamannya.

Sepeminuman teh kemudian Deni sampai di mulut sebuah jalan yang tampak lengang. Perlahan ditekannya pedal gas moblnya sembari matanya membaca nomor setiap rumah yang dilaluinya. Mendadak mobilnya membentur sesuatu. Deni terkejut saat melihat mobilnya menumbuk sebuah mobil, pemuda itu langsung melompat turun dan memeriksa bemper mobilnya terlebih dahulu.
"Waduh, Mas. Kalau jalan hati-hati dong. Untung tidak rusak."
Deni mengangkat kepalanya dan menatap wajah bapak di hadapannya. Pemuda itu menggaruk kepalanya dan segera meminta maaf, "Maaf, Pak. Tadi saya meleng." Si bapak menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil. Deni memandang hingga mobil itu menghilang di tikungan. Dengan mengeluh pada dirinya sendiri Deni melangkah ke arah mobilnya, dan saat itu ia melihat nomor yang tertera di sisi pagar tepat di sebelah ia berdiri.
"Ini dia," bisik Deni girang pada dirinya sendiri. Setelah menekan tombol alarm mobil, Deni melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah itu.

Deni menunggu dan mengetuk lagi untuk yang ketiga kalinya. Masih saja tidak ada jawaban.
"Mau mencari siapa, Mas?" Suara itu mengejutkan si pemuda yang langsung membalikkan tubuhnya. Deni melihat seorang wanita setengah baya yang menenteng sebuah keranjang besar berisi benang jahitan.
"Mau ketemu dengan Nungki, Bu. Ibu ini ibunya?"
Ibu itu tersenyum dan mengangguk, "Adik ini siapa?"
"Oh," ucap Deni gugup, "saya ini teman kuliahnya."
"Anaknya tidak ada?" tanya si ibu seraya mengeluaran segepok kunci dari saku bajunya. Deni menggelengkan kepalanya.
"Ayo, masuk dulu," ucap si ibu kemudian setelah membukakan pintu, "mungkin masih keluar ke pasar atau ke kios majalah depan."
Deni mengangguk dan mengikuti si ibu masuk ke dalam rumah.

Bagian Empat

Nungki perlahan membuka matanya. Pandangannya yang nanar membentur dinding berwarna krem. Kepalanya terasa pening dan sakit. Nungki mencoba mengangkat tubuhnya, dan betapa terkejutnya ia mendapati kedua lengan dan kakinya terikat ke sisi tempat tidur yang terbuat dari kayu ukiran. Gadis itu merasakan kepanikan yang melanda hatinya, dilihatnya sekitar ruangan dimana ia berada. Ruangan itu sepertinya merupakan kamar tidur yang pernah digunakan oleh seorang perempuan. Nungki bisa mengetahuinya dari meja rias yang dipenuhi perhiasan wanita dan sebuah boneka beruang di atasnya. Selebihnya, ruangan itu terlihat bersih dan rapi, sepertinya rajin dibersihkan setiap hari.
Nungki mencoba mengingat dengan jelas apa yang sudah terjadi pada dirinya. Terlintas ingatan tentang seorang bapak yang menabraknya, mengingat itu Nungki bisa merasakan nyeri di punggungnya. Dan kemudian ingatannya kembali saat pukulan keras itu membuat semuanya menjadi gelap. Langsung saja Nungki merasa ketakutan. Pandangannya liar menelusuri setiap sudut ruangan. Sejenak kemudian, gadis itu menjerit sekeras mungkin, "Tolong!"
Mendadak pintu kamar terbuka.

Seorang bapak, yang tak lain adalah bapak yang tadi memukulnya, membuka pintu kamar, tersenyum dan melangkah masuk.
"Jadi sudah bangun? Saya pikir kamu akan tidur seharian." Nungki memandang dengan hati berdebar tak karuan. Rasa-rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Bapak itu melangkah melewati kamar tidur dan menuju jendela lalu menarik kain korden yang menutupi jendela itu. Nungki terhenyak saat melihat terali besi yang memagari jendela itu. Langit di luar terlihat gelap, Nungki tidak bisa mengira-ngira pukul berapa saat itu.
Si bapak membalikkan tubuhnya dan menatap Nungki. Pandangannya ramah, tapi Nungki justeru merasakan ketakutan itu menjalari seluruh urat syarafnya. "Tenang," ucap bapak itu seraya melangkahkan kakinya mendekat dan mendudukkan tubuhnya di sebelah Nungki. Gadis itu mencoba menjauh, "Jangan."
Si bapak menghela nafasnya, "Maaf, saya hanya mencoba bersikap ramah." Tangan bapak itu terulur. Nungki memejamkan matanya dan mulai menangis, tapi gadis itu jadi merasa heran saat merasa ikatan yang membuat sakit pergelangan tangan dan kakinya terlepas satu demi satu. Nungki membuka matanya dan melompat turun dari tempat tidur, si bapak hanya memandang sambil terdiam.
Nungki mencoba memutar gagang pintu, tapi terkunci. Gadis itu memukul-mukul daun pintu dan menangis sejadinya. Setelah beberapa saat usahanya tidak berhasil, Nungki menjatuhkan dirinya dan terisak. Sebuah lengan memegangi pundaknya, "Kamu istirahat saja malam ini. Nanti saya akan bawakan kamu makanan." Bapak itu mengangkat tubuh Nungki yang sudah terasa lemas dan membaringkan gadis itu di atas tempat tidur.
Nungki memalingkan wajahnya ke bantal dan menangis. Ingatan tentang gadis-gadis yang hilang itu menghantui otaknya. Dari balik bantal gadis itu bisa mendengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup lagi diiringi suara `klik' yang menandakan pintu itu kembali terkunci. Dengan hati tak karuan dan punggung yang nyeri Nungki terlelap.

Bagian Lima

Bapak berbaju coklat muda dengan embel-embel di pundaknya itu hanya mengangguk-angguk seraya tetap mengetikkan huruf-huruf lewat mesin tik tua di hadapannya.
"Baiklah. Mungkin ini di luar kebiasaan untuk menangani orang hilang kurang dari tiga puluh enam jam. Tapi dengan kasus perempuan hilang akhir-akhir ini, masalah ini menjadi rentan. Kami akan berusaha sebisa mungkin menemukan puteri Ibu. Apabila ada perkembangan baru dari kami, kami akan memberitahu Ibu. Begitu pula dengan Ibu, jika ada sesuatu yang terlupa, hendaknya kami menjadi pihak yang tahu terlebih dahulu. Untuk sementara kami harap berita ini tidak keluar dulu sebelum ada perintah lebih lanjut, untuk menjaga terjadinya keributan masal."
Deni memandang muak pada polisi itu, yang seolah memandang semuanya ringan. Pemuda itu lalu merangkul pundak ibu di sebelahnya dan memapah ibu itu berdiri seraya berbisik, "Kita pulang, Bu. Mungkin Nungki hanya pergi ke rumah temannya."
Sang ibu masih tenggelam dalam tangisnya.

Di luar, mereka berdua dikejutan oleh seorang bapak berusia tiga puluhan tahun dengan rompi hijau tua yang menghampir mereka tergesa-gesa. "Maaf. Apa Ibu ini yang melaporkan anaknya hilang tadi siang?"
Deni langsung mengerutkan alisnya dan menyentak, "Pak, kalau bapak wartawan, mohon jangan ganggu ibu ini." Bapak itu berubah kikuk, "Maaf. Nama saya Wardi, saya salah seorang sersan di kepolisian ini. Dan kebetulan saya salah seorang yang bertugas menyelesakan kasus ini. Mungkin ada yang bisa saya bantu?" Deni langsung merubah raut wajahnya, namun suaranya tetap ketus, "Temukan saja anak Ibu ini dan Anda akan cukup menolong."
Sersan Wardi hanya menatap dengan putus asa saat kedua orang itu melangkah keluar dari kantor kepolisian.

"Sudahlah, Bu. Nungki akan kembali. Saya yakin itu."
Sang ibu tetap tenggelam dalam tangisnya. Deni sejenak merasa bingung, pemuda itu melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Bu, saya pulang dulu. Apa ibu tidak apa-apa saya tinggal sendiri?" Sang ibu menggeleng dan berbisik lirih setengah terisak, "Terima kasih ya, Nak."
Deni mengangguk. Sebenarnya ia tidak enak meninggalkan ibu itu sendiri. Tapi bagaimanapun juga Deni masih punya keluarga di rumah yang menunggu kepulangannya.
Dengan galau Deni meninggalkan rumah itu. Mendadak di kepalanya terlintas sebuah ingatan, tentang sebuah mobil yang tadi siang ditabraknya persis di depan rumah Nungki. Deni memejamkan matanya, mencoba mencari secercah ingatan. Dan yang bisa diingatnya hanya mobil sedan berwana hitam metalik. Sedan Timor berwarna hitam metalik. Dengan plat nomor.... Deni tak bisa mengingatnya. Pemuda tu bergegas melajukan mobilnya menuju warung terdekat.

"Maaf, Bu. Apa ada orang yang punya sedan Timor berwarna hitam metalik di sekitar sini?" Deni bertanya dengan nada sopan. Ibu penjaga warung memikir sejenak, lalu bertanya pada bapak-bapak lain yang sedang minum kopi di warungnya. Beberapa saat kemudian ibu itu kembali menatap Deni dan berkata, "Wah. Tidak ada tuh Dik yang punya sedan hitam di daerah ini." Ini dia, pikir Deni dengan rasa lega karena sudah menemukan sebuah petunjuk.
"Terima kasih Bu," ucap pemuda itu dan melangkah keluar dari warung. Besok giliran tetangga Nungki. Semoga saja tidak ada yang kedatangan tamu bersedan hitam. Masih menyusun rencana, Deni melajukan mobilnya menuju jalan pulang. Pemuda itu mencoba mengingat-ingat raut wajah bapak yang ditabraknya tadi siang. Sebuah mobil Datsun hijau membuntutinya dari belakang.

Bagian Enam

Nungki terbangun dan mencium bau makanan di ruangan itu. Nungki membuka matanya dan merasakan kegelapan menyelimutinya. Gadis itu mengangkat tubuhnya dan meraba tombol lampu. Setelah lampu menyala, Nungki bisa melihat sepiring nasi goreng dan segelas air putih di atas meja rias. Mendadak gadis itu bsa merasakan perutnya yang berbunyi lapar. Hati-hati gadis itu mengambil piring nasi goreng di atas meja dan menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya. Dengan perut kenyang maka pikiran akan tenang, demikian ibunya selalu menasehatinya. Nasi goreng itu terasa lezat, atau karena Nungki belum makan apapun sejak siang. Sementara makan, gadis itu mengamati meja rias di hadapannya. Matanya terantuk pada sebuah foto gadis yang sedang tersenyum dengan latar belakang pegunungan bersalju. Gadis itu manis sekali. Nungki merasa sesuatu yang aneh pada wajah gadis itu, tapi ia tak tahu mengapa. Nungki mengangkat foto itu dan sesuatu terjatuh ke atas meja rias.
Nungki mengambil benda itu dan melihatnya dengan seksama. Ternyata sebuah kertas yang terlipat rapi. Nungki meletakkan piringnya di atas meja dan membuka lipatan kertas itu.

VIKA, SWISS 1996 - UNTUK PAPA

Nungki mengira-ngira dalam hatinya. Apakah bapak itu yang dipanggil `papa'? Lalu kemana penghuni kamar ini? Apakah gadis manis bernama Vika ini? Perlahan dikembalikannya lipatan kertas itu ke balik foto dan memakan kembali nasi goreng itu sampai habis.
Setelah merasa kenyang, Nungki mulai meneliti setiap sudut kamar. Gadis itu menghela nafasnya kecewa saat mendapati pintu terkunci dan terali yang begitu kuat menempel di tembok jendela. Di luar jendela terlihat langit yang kelam dan pagar tanaman yang menjulang hampir dua meter.
Gadis itu melirik ke lemari baju dan membuka lemari itu. Lagi-lagi Nungki kecewa karena hanya beberapa setel baju yang terlihat mahal dan baju dalam wanita di dalam lemari itu. Setelah menutup lemari, Nungki mulai memeriksa laci meja rias. Lagi-lagi yang ditemukannya hanya barang tak berguna, sebuah peniti, pita panjang dari nylon, dan sebuah kartu nama. Nungki membaca nama yang terterta pada kartu tersebut.

PT. MEDICAL WASTIKA, ltd.
JOE HARTANTO WIJAYA
Production Manajer
Telp. (031) 5941718 - 0811314447 (hunting)

Dengan membaca kartu itu, Nungki menarik kesimpulan bahwa bapak itu memang yang bernama Joe. Hati-hati Nungki memasukkan kembali kartu nama itu ke dalam laci dan merapikan benda-benda lain yang telah ia serakkan. Apa yang harus kulakukan sekarang, pikir gadis itu dalam hati. Aku tak boleh putus asa dan terkurung di sini. Mendadak terdengar suara erangan yang menyerupai hewan disembelih. Nungki melompat kaget dan merasa bulu kuduknya meremang. Suara apa itu? Nungki melangkah ragu ke arah daun pintu dan menempelkan telinganya. Sayup-sayup gadis itu bisa mendengar suara seperti seseorang sedang membelah kayu. Gadis iu merinding, perlahan ia melangkah mundur dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian suara erangan itu kembali terdengar. Nungki menutupi telinganya dengan bantal dan berusaha tidur. Tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari. Sebelum terlelap, Nungki membayangkan ibunya dan samar-samar ia melihat wanita itu menangis memikirkannya. Tanpa terasa air mata menetes di pipi gadis itu. Gadis itu memejamkan matanya dan mulai berdoa, "Ya Tuhan. Aku ingin pulang." Beberapa saat kemudian ia tertidur.

Bagian Tujuh

"Tidak ada ya, Pak. Maaf mengganggu."
Bapak berkepala botak itu mengangguk ramah. Deni meninggalkan rumah itu dengan perasaan masygul, Pemuda itu bingung apa yang harus diperbuatnya. Sejak pukul enam pagi ia sudah mulai mencoba menghampiri semua rumah di daerah tempat Nungki tinggal. Tapi hasilnya tetap nihil. Dalam hati ia mengeluh pada dirinya sendiri, mengapa ia harus sebingung itu. Tapi bagaimanapun, sejak ia mengantar ibu Nungki ke kantor polisi, ia sudah teribat dalam masalah itu. Dan secara pribadi, Deni menikmati ketegangan yang merasuki hatinya.
Bapak berkepala botak barusan adalah penghuni rumah terakhir di kawasan ini. Dengan mendengus kesal Deni memutuskan untuk mengunjungi ibu Nungki.
"Dik, tunggu sebentar."
Deni menoleh ke arah suara dan melihat seorang bapak berkumis dengan rompi hijau tua turun dari mobil Datsun berwarna hijau dan menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Loh, Pak Sersan. Ada apa, Pak?" tanya Deni setelah melihat orang yang menhampirinya itu. Si bapak, yang tak lain adalah Sersan Wardi menatap wajahnya dengan penuh selidik.
"Adik sendiri ngapain ke sini?" Deni menjadi gugup `ditembak' sedemikian rupa, "Saya hanya mencoba membantu, Pak."
Sersan Wardi menggelengkan kepalanya, "Lha saya juga berusaha membantu. Dan menurut insting saya Adik pasti sudah punya petunjuk. Begitu pula saya. Dan sebagai warga yang baik. Saya harap Adik memberitahukan pada saya apa yang Adik ketahui."
Deni tersenyum geli mendengar kata-kata si Sersan yang seperti kereta api. "Baiklah, lagipula saya sudah merasa bingung harus kemana. Tapi lebih baik kita cari tempat yang enak untuk bicara. Bagaimana kalau di rumah itu, Pak?" ucap Deni seraya menunjuk ke arah sebuah rumah yang bukan lain adalah rumah Nungki.

"Jadi memang tidak ada kerabat Ibu yang berwajah seperti yang disebutkan Adik ini?" tanya Sersan Wardi pada Ibu Nungki. Sang ibu menggelengkan kepalanya dengan sikap tegang, "jangan-jangan itu orangnya, Pak." Deni merasakan ketegangan itu dan menikmatinya, "Benar, Pak. Seluruh orang di kawasan ini sudah saya periksa tapi tidak ada juga yang mengaku berhubungan dengan orang itu."
Sersan Wardi mengambil sikap berpikir sejenak, "Baiklah. Saya akan mencoba menghubungi kantor polisi. Sayang Adik tidak mengetahui plat nomor mobil itu."
"Maaf, Pak," ucap Deni dengan nada kecewa, "saya juga tidak menduganya."
"Ibu," lanjut Sersan Wardi, "saya mohon Ibu tenang saja di rumah. Kalau Ibu punya kerabat lain, saya anjurkan Ibu untuk ke sana dulu selama beberapa hari. Jadi ada yang menemani Ibu."
Ibu Nungki mengangguk lemah. Deni menatap ke arah Sersan Wardi dengan pandangan berharap, "Pak, saya mohon diikutkan dalam kasus ini." Sersan Wardi tersenyum, "Lha iya dong, kan Adik yang melihat wajahnya." Deni langsung berseri. Petualangan detektifnya yang pertama akan segera dimulai. Lelaki cina dengan sedan Timor hitam. Aku akan mendapatkanmu, tekad Deni dalam hati. Nungki, aku akan menolongmu.

Bagian Delapan

Nungki terbangun setelah matahari menghangatkan wajahnya dari balik jendela yang tidak terhalangi korden. Gadis itu menggeliat, sejenak berharap dirinya akan terbangun di kamarnya sendiri. Ternyata ia masih tetap di ruangan yang sama. Kamar wanita tempat di mana ia disekap oleh bapak yang telah ditolongnya dan yang telah menabraknya kemarin, sebelum menculiknya. Gadis itu mengira-ngira apa yang akan terjadi hari ini. Nungki berusaha menenangkan perasaannya. Gadis itu mulai meneliti lagi seluruh isi kamar, berharap ada sesuatu yang bisa menolongnya keluar dari mimpi buruk ini. Darahnya tersirap saat mendengar suara kunci pintu dibuka.

Si bapak memandang gadis yang menatap gelisah itu dengan tersenyum, "Selamat pagi. Ini saya bawakan makanan. Lebih baik kamu segera makan, nanti saya antar kamu ke kamar mandi."
Nungki menatap baki makanan itu dan lagi-lagi kecewa karena tidak ada garpu di atas bubur ayam. Gadis itu meraih baki yang disodorkan dan mulai makan setelah si bapak memandangnya dengan pandangan memerintah.
"Saya senang karena kamu gadis yang tegar. Gadis lain biasanya akan panik dan berteriak-teriak bila menghadapi situasi seperti ini," bapak itu berkata sambil tetap tersenyum. Dalam hati Nungki merinding, berarti ada gadis lain yang pernah disekap di kamar ini.
"Joe," sapa Nungki memberanikan dirinya. Bapak itu tertawa, "Kamu sungguh gadis yang cerdas dan pemberani. Yap kamu boleh panggil saya Joe." Nungki mengangguk. Joe memperhatikan gadis itu makan dengan lahap. Mendadak Nungki mendengar bapak itu terisak.

Gadis itu mengangkat kepalanya dan menghentikan makannya.
Joe mengusap air mata di pipinya, tersenyum pada Nungki, "Mengapa kamu berhenti makan?" Nungki kaget melihat senyuman aneh itu dan langsung meneruskan makannya.

Joe memegangi lengan gadis itu dan menuntunnya keluar kamar. Nungki memperhatikan koridor rumah itu dengan seksama. Lorong itu terlihat suram tapi bersih. Ada sebuah lemari kecil dan lukisan seseorang di atasnya. Nungki memperhatikan lukisan itu yang ternyata serupa dengan foto gadis di atas meja rias. Masih dengan perasaan aneh yang melingkupi hatinya saat melihat wajah gadis itu. "Itu anak saya, Vika," Joe mengejutkannya, sebelum menyeret gadis itu berlalu. Nungki mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kemana gadis dalam foto itu?

Joe membawa gadis itu ke depan sebuah pintu berwana keperakan.
"Ini kamar mandi. Kamu mandi, di dalam sudah ada baju untukmu. Saya akan menunggu di sini." Nungki membuka pintu dan melangkah masuk. Sejenak gadis itu kagum akan kemewahan kamar mandi itu. Sebuah bathtub berisi air yang lebar dan berukir indah. Wastafel dan lemari obat. Nungki mengamati sekelilingnya dan tidak menemukan satupun benda keras. Di atas kakus yang tertutup ada sepotong baju wanita. Nungki mengambil baju itu dan merasakan kelembutan sutera dari kainnya. Setelah memastikan pintu kamar mandi tertutup rapat, Nungki melepas bajunya dan masuk ke dalam bathtub. Air dalam bathtub itu terasa hangat. Perlahan Nungki mulai mendapatkan kesegarannya kembali. Gadis itu nyaris terlelap ketika suara ketukan lembut terdengar dari pintu.
"Jangan lama-lama."

Bagian Sembilan

Ruangan lima kali lima itu terasa pengap dengan asap rokok yang mengitari lanngit-langit. Deni memandangi bapak-bapak berpakaian preman di hadapannya yang saling bercanda satu sama lain. Benar-benar berbeda dengan `kesibukan seperti di TV' yang selalu dibayangkannya selama ini. Lama-kelamaan Deni menjadi bosan. Pemuda itu bangit dari kursinya dan menelusuri sisi tembok yang dipenuhi artikel dan tulisan-tulisan tangan.
"Percuma membaca di situ," suara seseorang mengejutkannya. Ternyata Sersan Wardi sudah berdiri di belakangnya dengan tersenyum sembari menyodorkan sebuah map berwarna kuning. Beberapa orang bapak yang tadi asik berbincang langsung bersikap hormat dan melangkah keluar dari ruangan. Deni mendudukkan dirinya kembali dan membuka map yang sudah diletakkannya di atas meja. Sersan Wardi duduk di tepi meja dan mulai menyalakan rokoknya.
"Oh, ya," Sersan Wardi menyela, "jangan terkejut kalau kamu melihat isi map itu. Mungkin sesuatu akan merisaukan kamu."
Deni merasa jantungnya berdebar. Perlahan diambilnya amplop putih yang terselip di dalam map dan mengambil isinya.
"Astaga! Ini….ini…." Deni tergagap seraya memandangi foto-foto di tangannya satu persatu.
"Iya, sekarang Adik tahu bukan bagaimana pentingnya kasus ini. Ini bukan seperti di TV yang selalu ada petunjuk maksimal. Dan kali ini adalah sesuatu yang nyata yang sedang kita hadapi."
Deni memandangi gadis-gadis dalam foto itu. Menaruhnya satu persatu di atas meja. Yang terakhir adalah foto Nungki yang diserahkan oleh ibunya kemarin. Deni menghela nafasnya dalam-dalam melihat ketidakwajaran yang tampak nyata di depan matanya. "Ini penculikan berantai dengan target yang jelas dan terencana," desah pemuda itu lirih dengan nada seperti detektif partikelir serial action. Sersan Wardi menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Suasana sejenak menjadi hening.
"Kelima gadis itu hilang secara beruntun sejak satu setengah bulan yang lalu. Dan yah, kami sama sekali tidak memiliki petunjuk apapun. Yang jelas bagi kami, hanya bahwa semua ini terencana, walaupun motif dan modusnya sama sekali belum jelas. Oleh karena itu keterangan yang Adik berikan pada saya tadi pagi sangat berguna bagi kami."
Deni menganggukkan kepalanya, "Lalu sekarang bagaimana, Pak."
"Kami akan berusaha mencarinya. Jangan khawatir."
"Bagaimana tidak khawatir, Pak?" sergah Deni gusar, "bagaimana kalau mereka tidak kembali sebelum kita menemukan pelakunya? Lagipula kita kan tidak tahu apa yang diperbuat pelaku itu pada mereka?" Sersan Wardi tersenyum penuh makna, "Tenang, kita akan menangkap mereka."
"Dengan apa, Pak?" tanya Deni ingin tahu.
"Dengan bantuan Adik tentu saja."
Sersan Wardi tetap tersenyum. Sementara Deni termangu-mangu.

Bagian Sepuluh

Joe mengantar Nungki sampai ke kamar dan meninggalkan gadis itu kembali sendiri setelah mengunci pintu. Nungki mengelap rambutnya yang masih basah dengan handuk yang telah disediakan Joe padanya di kamar mandi. Gadis itu beranjak ke depan kaca. Memandangi wajahnya di cermin. Mendadak gadis itu menjerit tertahan saat merasakan sesuatu yang aneh di cermin.
"Tidak," desah gadis itu lirih saat melihat wajahnya sendiri. Nungki mengambil foto di atas meja rias dan mengamati foto itu dengan seksama.

Dan ia bisa melihat kemiripan gadis itu dengannya.

"Ya Tuhan," desah gadis itu meletakkan foto itu kembali di atas meja rias, "apa maksud semua ini? Siapa lelaki itu sesungguhnya? Dan siapa pula gadis dalam foto ini?" Beberapa saat kemudian Nungki tenggelam dalam tangisnya. Baru kali ini ia merasa begitu ketakutan setelah berusaha memberanikan dirinya selama dua puluh empat jam terakhir.
"Aku harus keluar dari sini!" bisik gadis itu pada dirinya sendiri. Perlahan ia menyeret tubuhnya menelusuri kembali setiap sudut kamar itu, mencoba mencari apapun yang bisa membantunya keluar. Saat itulah ia melihat sesuatu yang janggal di bawah tempat tidur.

Nungki mengulurkan lengannya dan meraih sesuatu yang lengket. Nungki menarik benda itu yang ternyata sebuah isolasi yang terlepas. Dan sesuatu terjatuh ke lantai. Nungki memandang benda yang terbungkus kertas minyak itu dan memberanikan diri membukanya. Ternyata di dalam bungkusan kertas minyak itu terdapat sebuah buku kecil ukuran 10 x 15 cm dengan gambar Hello Kitty pada sampulnya. Perlahan Nungki membuka halaman pertama dari buku itu. Di situ tertuliskan :

VIKA CHRISTINA WIJAYA
`dilarang membuka tanpa seijin pemilik,
termasuk papa dan mama!!'

dan sebuah foto gadis kecil berambut dikuncir dua yang sedang tersenyum di depan sebuah mobil Citroen berwarna kuning. Nungki menghela nafasnya dalam-dalam dan membuka halaman pertama.

"16 January 1993

Halo Kitty,
Salam kenal, saya pemilik kamu yang baru. Dan kali ini kamu tahu, saya akan menjadikan kamu teman bermain saya. Karena kamu tahu bukan, kalau aku ini seorang anak yang tidak punya teman bermain sama sekali. Mereka membenci saya, saya rasa. Kamu tahu? Anak-anak itu, siapa lagi. Mereka lebih suka tidak mengacuhkan saya dan mengasingkan saya, karena kata mereka sih saya kurang asik diajak bergaul, tertutup dan sombong mentang-mentang bergelimang dalam kemewahan. Apa sih kemewahan itu? Bukankah saya hanya menginginkan seorang teman bermain? Mana enak sendirian di rumah sebesar ini, lagipula papa dan mama selalu tidak berada di rumah. Kamu tahu apa kata orang Jawa? "mbencekno"

Sampai di situ Nungki memandang foto gadis di atas meja rias, lalu tersenyum. Dalam hati ia membayangkan perasaan si gadis saat mengucapkan kata `mbencekno' itu. Lalu Nungki meneruskan membaca. Entah mengapa kegelisahannya berkurang ditindih perasaan ingin tahu.

"Jadi saya ingin menjadikan kamu teman saya. Kamu mau kan? Pasti mau. Apa kamu nggak kasihan pada saya? Tapi sudahlah, yang ini salam kenal. Besok kamu harus menemani saya sebelum tidur."

Nungki menghabiskan dua halaman pertama buku itu dengan penuh perasaan. Menutupnya, dan tanpa sadar gadis itu mulai menangis. Mungkin gadis itu seperti dirinya. Sejak kecil tidak pernah bergaul dengan orang lain. Tapi gadis itu berbeda dengannya. Gadis itu mau bergaul dengan orang lain, hanya saja tidak ada seorangpun yang mau berteman dengannya. Tapi dirinya, dirinya tidak mau bergaul dengan orang lain karena kehendaknya, tapi justeru orang lain yang datang padanya. Sampai di situ Nungki teringat pada Deni, satu satunya yang bisa dekat dengannya, yang selalu mengajaknya pulang bersama, dan yang selalu ditolaknya pula. Dalam hatinya Nungki berfikir, seandainya hari itu Deni mengantarnya pulang mungkin semua ini tidak akan terjadi pada dirinya. Tapi Nungki sadar, bahwa penyesalan bukan sesuatu yang positif. Lalu ia membuka kembali buku itu dan membaca halaman ketiga. Disitu tertulis :

15 JANUARY 1980 Hari lahir Vika
15 JANUARY 1993 Hari lahir Kitty

"I went outside to find a friend, but could not find one there. I went outside to be a friend, and friends were everywhere!"

Nungki merasa air matanya mulai mengalir lagi.

Bagian Sebelas

"Bagaimana kalau begini?" Lelaki gondrong dengan puntung rokok di bibirnya itu menggumam tanpa menoleh. Sersan Wardi menjulurkan kepalanya untuk bisa melihat dengan lebih jelas monitor di hadapan si lelaki gondrong. "Bagus," ucap Sersan Wardi sambil tersenyum dan menepuk pundak si lelaki. Deni membaca tulisan di layar monitor itu,

"Perkembangan berita dari kasus menghilangnya gadis-gadis selama satu setengah bulan ini. Seorang pemuda berinisial D (20) telah mengaku melihat seseorang mencurigakan yang diduga sebagai tersangka pada waktu yang bertepatan dengan menghilangnya seorang mahasisiswi sebuah perguruan tinggi negeri yang berinisial N (20). Sersan Wardi yang dikonfirmasi di kantor polisi membenarkan adanya saksi mata. "Kami sudah bisa memperkirakan pelaku yang menggunakan sedan Timor berwarna hitam gelap itu. Kepada masyarakat kami himbau untuk ikut berwaspada terhadap keamanan lingkungannya."

Dan berikutnya merupakan gambaran ciri-ciri pelaku, dan beberapa cerita tambahan berdasar pengakuan dari pemuda berinisial D yang bersifat menyudutkan pelaku. Dan astaga, foto Deni terpampang dengan jelas di sudut bawah artikel.
Deni mengerenyitkan alisnya, "Apakah baik begini Pak? Bukankah ini akan menimbulkan geger masal? Dan foto saya?" Sersan Wardi tersenyum dan menatapnya, "Si pelaku juga akan ikut geger, bukan?"
"Tujuan ini semua apa, Pak?" tanya Deni mulai merasa curiga.
"Apalagi? Kan supaya pelakunya mencari kamu. Hanya kamu bukan yang bisa memberikan kesaksian memberatkan padanya?"
Deni menghempaskan tubuhnya di kursi. Pemuda berambut gondrong terkekeh dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

Visits: 53936
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 26346   Help/FAQ   Terms   Imprint