Bapak Itu Menyimpan Kami [2]
ACT TWO
Bagian Satu
1987
Suara penyiar siaran berita masih saja mendengungkan pertikaian tiada akhir dari orang-orang gila perang yang tak bermoral. Joe mengiris roti terakhir dari meja kecil di sebelahnya sebelum menekan remote TV dan menghentikan bualan omong kosong itu. Joe memasukkan potongan roti itu ke dalam mulutnya dan bergegas menuju ke kamar tidur. Sampai di lorong menuju ke kamarnya, Joe berhenti. Pandangannya tertuju pada sebuah pintu bertempel sticker kucing merah jambu yang menurut Joe selalu tidak pantas. Joe tersenyum dan membuka pintu itu dengan hati-hati.
Ruangan itu terlihat temaram dengan lampu dinding berwarna kuning tua. Joe melangkah hati-hati, meraih tepian selimut dan mengangkatnya. Gadis kecil di balik selimut menggeliat merasakan gerakan di atasnya. Joe menghentikan gerakannya sejenak, tak ingin malaikat kecilnya terbangun. Setelah memastikan gadis kecilnya sudah hangat kembali, Joe tersenyum dan membungkukkan punggungnya, mengecup kening gadis kecil itu dengan rasa sayang seorang ayah yang tiada berbatas. Perlahan dilangkahkannya kaki keluar dan menutup pintu kamar tanpa suara. Lalu Joe menuju kamarnya sendiri.
"Dari mana saja, Pa?" Joe terkejut, dipikirnya Hanah sudah tertidur tadi. "Dari bawah, nonton siaran berita." Hanah membalikkan tubuhnya dan memeluk satu-satunya lelaki yang telah merebut hatinya itu. "Istirahatlah, bagaimanapun kamu harus kerja besok."
Joe tersenyum dan mengelus rambut isterinya, mengecup selamat malam dan terlelap dalam kebahagiaan.
Dari enam hari yang melelahkan, hari Minggu adalah hari yang paling menyenangkan baginya. Dimana ia bisa menikmati pesona hidup berkeluarga. Dimana ia bisa melepaskan segala kepenatannya di dada isterinya, dan bisa menggendong malaikat kecilnya tinggi-tinggi di atas kepalanya. Joe terlelap dalam impian indahnya.
Bagian Dua
1990
"Dok, cepat masuk, air ketuban nyonya ini berwarna kuning kemerahan, sepertinya terjadi pendarahan partus," wanita berpakaian putih-putih itu berkata dengan nada cemas. Seorang bapak setengah baya dengan pakaian hijau bergegas membuka pintu kamar operasi. Joe memandang dengan cemas semua kejadian yang berlangsung begitu cepat di depan matanya. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa isterinya akan melahirkan saat ia masih sibuk berkutat dengan cairan kimia laborat. Untung bagi Hanah ada pembantu rumah tangga yang dengan sigap menelepon rumah sakit. Sewaktu pemberitahuan datang melalui telepon kantor, Joe benar-benar merasa girang akan kelahiran salah seorang keturunannya. Bahkan ia sempat memberitakan pada kolega-koleganya tentang kejadian itu. Bagaimana tidak, setelah sepuluh tahun berusaha, baru kali ini isterinya hamil lagi. Tapi kini, hanya keringat dingin yang keluar. Apalagi setelah mendengar ucapan perawat yang seolah menandakan ada sesuatu yang salah dengan proses kelahiran anak keduanya. Dan Hanah…..
Joe tidak berani berfikir buruk, menyatukan kedua telapak tangannya dan mulai berdoa, "Ya Tuhan, apapun yang terjadi, tolong kami ya Tuhan. Amin." Sebuah tangan kecil memegang pahanya, "Pa, Mama nggak apa-apa kan, Pa?"
Joe membuka matanya dan menatap gadis kecil di hadapannya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Nanti kamu dapat adik baru."
Gadis kecil itu tersenyum dan menunjukkan deretan gigi susunya yang putih bersih, "Janji ya, Pa. Nanti adik laki-laki." Joe tersenyum menatap malaikat kecilnya, mengangkat gadis itu ke pangkuannya dan mengecup pipinya. Seandainya tidak ada gadis kecil itu saat ini, mungkin ia takkan tahu apa yang harus diperbuatnya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Joe sudah mulai merasa kelopak matanya memberat. Sudah dua jam orang-orang itu di dalam. Perasaannya mulai tidak enak. Joe melepas jas kerjanya dan mengangkat kepala gadis kecil yang sudah tertidur di pahanya, meletakkan kepala gadis itu di atas lipatan jas. Joe melangkah dan mencoba mengintip dari pintu ruang operasi. Mencoba mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam.
Mendadak pintu itu terbuka. Lelaki berbaju hijau yang masuk belakangan dua jam lalu keluar dan melepaskan masker di wajahnya. Joe menatap gelisah, "Bagaimana, Pak?"
Lelaki itu menatap dengan pandangan sedih. "Anda suaminya?"
Joe mangangguk cepat. "Maaf," lanjut lelaki itu, "isteri Anda mengalami keguguran. Mungkin sebaiknya Anda menemani isteri Anda apabila ia sudah sadar nanti. Batinnya pasti terguncang."
Jangankan isterinya, Joe sendiri benar-benar terguncang saat itu. Benaknya melayang, kakinya terasa lemas. Joe manjatuhkan dirinya ke atas kursi tunggu dan merasakan bulir air mengalir keluar dari matanya. Lelaki berbaju hijau berlalu dengan kepala tertunduk. Joe menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah dan mulai menangis, "Ya Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi."
Gadis kecil di sebelahnya terbangun setelah merasakan guncangan saat Joe menjatuhkan dirinya di atas kursi.
Gadis kecil itu menghampiri ayahnya, berkata lirih, "Papa menangis? Mana mama?" Joe membuka telapak tangannya dan memeluk malaikat kecilnya, menangis sesunggukan di atas pundak si gadis kecil yang menjadi terheran-heran.
Bagian Tiga
1993
Joe menaruh piring bubur ayam itu ke atas baki kayu dan mengangkatnya dengan hati-hati. Pagi itu terasa cerah, sinar matahari menembus jendela dan memberikan nuansa segar. Joe tersenyum saat melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Dengan ujung kakinya Joe membuka pintu kamar yang tidak tertutup.
"Hanah, kamu sarapan ya Sayang."
Wanita yang memeluk lututnya di atas tempat tidur itu tidak menoleh, hanya menatap kosong ke arah ayunan bayi di sampingnya. "Ssshhh," wanita itu berbisik, "nanti kamu membangunkan Viki." Joe tetap tersenyum, walau ia sadar hatinya hancur, "Iya, tapi kamu makan dulu. Nanti Viki ngga suka kalau mamanya kurus." Hanah melepaskan rangkulannya dan mengambil mangkuk bubur itu. Mendadak wanita itu melemparkan mangkuk itu ke arah Joe seraya berteriak, "Anjing! Jangan pura-pura! Aku tahu Viki tak pernah ada! Setan kamu! Keluar!"
Joe membersihkan bajunya dari bubur ayang yang terciprat dan melangkah keluar kamar denga lesu. Air mata kembali mengair di pipinya. Sesuatu yang sudah terbiasa, tapi masih juga terasa menyakitkan.
Hanah berubah sejak bulan lalu. Dua tahun sejak kegugurannya, Hanah masih tetap seperti biasa. Hanah bahkan sempat berkata, "Ini semua cobaan Tuhan. Kita harus bisa menerimanya." Dan dua tahun berlalu tanpa ada satu apapun. Namun semua masalah dimulai sejak bulan lalu. Semenjak mereka pulang dari makam anak mereka yang tak pernah mengecap kehidupan itu. Hanah mulai dihantui oleh mimpi-mimpi buruk tentang dirinya sendiri. Hanah selalu bercerita kalau ia mendengar suara tangis anak kecil di malam hari, dan seorang anak laki-laki selalu mengunjunginya saat ia sedang sendiri di dalam kamar. Joe tak tahu mengapa, hanya Tuhan dan kaum wanita yang tahu. Dalam hati Joe selalu bertanya pada dirinya sendiri, apakah Hanah selama ini menyimpan tekanan itu dalam hatinya. Dan meledak setelah dua tahun terpendam dalam-dalam.
Joe mengeluh. Sudah sebulan seperti ini. Hanah selalu mengurung dirinya dalam kamar. Hanah mengambil tempat tidur bayi yang dulu dimiliki Vika, membawanya masuk ke dalam kamar dan menaruhnya di samping tempat tidur mereka. Dan Hanah selalu menghabiskan waktunya sepanjang hari dengan menggumam tak jelas seolah berbicara pada tempat tidur bayi itu.
Selama sebulan ini, Joe selalu berusaha menutupi perubahan isterinya pada anak mereka, Vika, dengan berkata pendek, "mama sibuk." Dan lagi-lagi ia harus melihat pandangan kecewa anaknya setiap kali ia berkata demikian.
Kali ini Hanah melemparkan bubur ayam yang sudah susah payah dibuatnya, semenjak ia memecat semua pembantu mereka dua minggu lalu untuk menutupi perubahan itu. Joe merasa hatinya teriris. Ia melangkah menuju kamar mandi dengan berlinang air mata. Sama sekali tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Joe memandang wajahnya di depan kaca. Sejenak ia membenci dirinya sendiri, Hanah, dan Tuhan. Sejak Hanah berubah, Joe sudah tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di gereja. Hanya Vika, yang setiap Minggu diantarnya mengikuti Sekolah Minggu Anak-anak. Joe membenci Tuhan. Menurutnya Tuhan tidak adil. Setelah semuanya menjadi baik-baik saja, mendadak berubah drastis menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Joe mengeluh dalam hati. Dipandanginya lagi wajah di cermin itu. Mendadak emosinya meluap akan kebohongan hidup yang dia alami. Joe melayangkan tinjunya dan memecahkan kaca itu. Joe melihat tangannya yang berlumuran darah dan menjilatnya. Sebuah rasa yang segar mengalir dalam darahnya. Joe memandang jemarinya yang berlumuran darah dan melihat benang merah itu di jari kelingkingnya.
"Papa jangan lupa, ya. Hari ini hari istimewa. Dan bilang pada mama supaya jangan sibuk melulu. Kan Vika jadi sendirian."
Vika, malaikat kecilnya, puteri lugunya yang selalu dibohonginya dengan kebohongan konyol, "Mama nggak jadi hamil. Rupanya hanya sakit perut." Puterinya, yang hari ini sedang berulang tahun. Joe merasakan amarahnya mereda. Dipandanginya kaca yang berserakan di lantai kamar mandi. Sejenak kemudian ia merasakan tindakannya yang bodoh dan tangannya yang terasa nyeri.
Joe memperhatikan anak-anak kecil yang berlarian keluar dari balik pagar dengan kepolosan wajah masing-masing. Joe tersenyum, membiarkan angannya melayang sejenak. Seraut wajah mengagetkannya dari lamunan.
"Hayo, Papa lagi ngelamun." Joe tertawa melihat gadis kecil di balik jendela mobil. Dibukanya pintu dan menarik gadis kecil itu ke dalam mobil. Vika tertawa geli saat jemari Joe menyelinap ke pinggangnya dan bergerak menggelitik.
Beberapa saat kemudian mobil yang mereka kendarai melaju.
"Loh, Mama mana?" tanya gadis kecil di sebelahnya dengan pandangan kecewa. Joe mendesah dalam, "Mama ada rapat di kantor. Tapi dia titip salam kok, katanya `selamat ulang tahun'" Vika membanting kakinya kecewa, sejenak terlihat gadis kecil itu hendak menangis. Joe langsung mengulurkan lengannya dan membelai kepala gadis kecil itu. "Sudahlah, nanti malam kamu bisa ketemu mama." Vika langsung berseri, "Benar, Pa?"
"Ya," sahut Joe, merasa bodoh pada dirinya sendiri. "Oh ya," Joe mendadak teringat sesuatu, "hari ini papa mau ngajak kamu makan siang sama Papa. Tapi yang ini dulu." Joe mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus kertas kado.
Vika langsung menyahut hadiah itu dan membukanya tak sabar. Joe memandangi gadis kecil itu dengan hati bahagia. Beberapa saat kemudian Vika bersorak girang saat mengeluarkan buku kecil dan kalung perak dengan liontin bunga mawar dari dalam kotak.
"Waaah, Papa. Ini kan Hello Kitty!" Gadis kecil itu langsung merangkul dan mengecup pipi papanya dengan girang.
Joe tertawa dan menangis dalam hati. Seandainya Hanah ada di sini saat itu.
Malam itu Vika menangis sejadinya saat Hanah tidak mau menemuinya. Joe sempat merasa bingung dan mencoba menasehati Hanah. Tapi isterinya justeru melemparkan sebotol parfum ke arahnya dan menyuruhnya keluar. Akhirnya Joe terpaksa menenangkan Vika hingga gadis kecil itu terlelap dan tidur di sofa ruang tamu.
………
Ruangan itu gelap. Hanah memandang anak laki-laki kecil yang masih tersenyum-senyum di sudut ruangan. Bibir wanita itu tersenyum penuh kasih sayang. Tangannya terbuka dan bibirnya berbisik, "Sini Sayang, Mama peluk." Anak laki-laki kecil itu terkekeh dan berlari ke dalam pelukan Hanah. Wanita itu memeluk anak laki-laki itu dengan erat, seolah tak ingin melepasnya pergi. Tapi anak laki-laki itu melepaskan pelukannya dan menatap Hanah dengan alis berkerut. Hanah memandang heran, anak laki-laki itu seolah hendak mengatakan sesuatu padanya.
"Oh, kamu mau Mama ikut kamu pergi?"
Anak laki-laki itu mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyuman aneh. Hanah tertawa kecil lalu bangkit berdiri, menghampiri meja riasnya, membiarkan anak kecil itu mengikutinya. Hanah mengeluarkan sebuah cutter dari laci meja rias dan membalikkan tubuhnya, berjongkok dan menatap si anak laki-laki kecil. Anak itu masih tersenyum. Hanah menekan keluar ujung cutter dan mendekatkannya ke lehernya sendiri.
"Di sini?"
Anak laki-laki itu menampakkan giginya dan mengangguk mengiyakan. Hanah tertawa dan mulai mengiris lehernya. Beberapa saat kemudian Hanah bisa merasakan lehernya terasa hangat dan pikirannya melayang. Anak laki-laki itu memeluknya. Hanah membalas pelukan itu.
"Mama akan temani kamu, Viki," bisiknya pada anak laki-laki yang tak pernah ada itu.
Bagian Empat
1996
Joe memandangi wajahnya yang penuh kerutan di depan cermin. Sudah sekian tahun sejak kepergian Hanah yang mengerikan, Joe mempertahankan dirinya untuk hidup sendiri. Joe bahkan menyekolahkan Vika di luar negeri bersama kakek dan neneknya, hanya sekedar supaya Vika tidak pernah mengetahui apa yang terjadi. Dan memang gadis itu tak pernah mengetahui apa yang terjadi pada ibunya. Hanya Joe seorang. Dan Tuhan. Berfikir tentang Tuhan, Joe bisa mendengar giginya saling beradu.
Makhluk penguasa alam yang tak pernah ada itu!
Dengan sebal Joe mengeringkan tubuhnya dan melangkah keluar kamar mandi. Hari ini Vika akan pulang dari Swiss. Dan itu melegakan hatinya. Bagaimanapun, ia masih memiliki seseorang untuk ia kasihi. Untuk ia menyandarkan hidupnya yang seolah tiada makna itu. Joe bergegas menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Joe menatap dirinya di depan kaca, memastikan dirinya sudah tampak rapi. Karena ini hari yang istimewa baginya. Setelah tiga tahun berpisah. Setelah tiga tahun ia berusaha menenangkan dirinya dalam kesendirian. Akhirnya. Joe mengangkat foto malaikat kecilnya yang sudah dewasa di atas meja dan mengecup foto itu dengan perasaan kasih sayang seorang ayah. Dalam hati ia bersyukur masih memiliki puterinya.
Ketegangan dirasakannya saat kerumunan orang mulai penuh di depan ruang kedatangan. Joe menatap gelisah mencari sosok malaikat kecilnya.
"Papa!" Joe menyipitkan matanya. Sedetik kemudian Joe sudah berlari dan memeluk puterinya dengan air mata berlinang. Vika memeluk papanya, gadis itu ikut menangis. Tiga tahun tanpa boleh pulang benar-benar membetot semua kerinduannya menjadi banjir yang tak terbendung. Beberapa orang menatap ayah dan anak yang berpelukan itu dengan tersenyum. Semua merasakan kehangatan itu.
Joe memarkir mobilnya di tepi jalan tol. "Sebentar, Papa mau buang air kecil dulu." Vika tertawa melihat papanya, kerinduan itu masih belum habis dirasakannya, "Begitu saja pamit. Sana deh, pipis dulu." Joe tertawa. Selama perjalanan di dalam mobil tadi yang ada hanyalah kehangatan. Joe benar-benar merasa separuh nyawanya sudah kembali padanya. Dibukanya pintu mobil dan melangkah ke balik semak-semak.
Saat itulah ia mendengar suara dentuman dahsyat di belakangnya.
Mobil itu terlempar beberapa meter, terguling, terlompat dan terseret. Truk kosong di belakangnya terjungkal menghantam pembatas tol dan berhenti setelah berguling beberapa meter jauhnya. Joe menoleh dan tidak mempercayai apa yang terjadi. Mobil yang baru saja memberikan kehangatan baginya itu terbalik dalam kondisi mengerikan. Jejak-jejak kehitaman terlihat memanjang di atas aspal. Joe terpaku. Bibirnya bergetar saat melihat cairan kental merah yang menetes dan menggenangi aspal hitam di bawah mobilnya.
"TIDAAAAAAKKKKK!!!!!!"
Mendadak semuanya terasa begitu cepat.
Mobil-mobil berhenti. Suara orang-orang yang turun dari kendaraan mereka dan berkerumun di sekelilingnya. Joe menarik lengan kemerahan itu dari jendela. Air mata dan keringat mengalir di wajah dan tubuhnya. Bibirnya bergetar dan menggumam tak jelas.
Bagian Lima
present day……
Joe mengerang hebat, seluruh pori-pori tubuhnya membuka, "Aaaaarrrggghhh!!!!" Nyeri di kepalanya kambuh lagi. Diangkatnya parang di tangannya dan membacok onggokan daging itu berulang-ulang hingga nyeri di kepalanya mereda. Joe merasa nafasnya terengah. Parang di tangannya terjatuh menimbulkan suara berkelontang yang nyaring. Joe menjatuhkan tubuhnya berlutut di atas lantai yang tergenang darah kental. Joe mulai menangis, seolah ia tak bisa mengontrol dirinya lagi.
"Hanah…Vika……" bahu dan tubuhnya berguncang.
Joe mencoba menenangkan dirinya beberapa saat sebelum meraih parang di lantai dan bangkit berdiri. Nafasnya masih terengah saat ia meraih potongan kaki itu dan memasukkannya ke dalam larutan formalin di atas meja. Ditatapnya wajah gadis yang sudah kaku di atas meja. Bibirnya tersenyum, air mata masih mengalir di pipinya.
"Kamu cantik sekali, Sayang," bisiknya setengah mendesis. Dibungkukkannya kepalanya dan mengecup kening mayat itu. Mendadak nyeri di kepalanya kembali menyerang, Joe mengangkat parang di tangannya dan membacokkannya di wajah gadis itu, "Hhhggnnn!!! Pergi!! Pergi!!!!" Joe menutupi telinganya, suara-suara memanggil itu kembali terdengar, "Tolong…tolong….." Joe berteriak lagi dan menghantamkan kepalanya ke atas meja yang penuh bercak darah. Suara-suara itu hilang begitu saja. Joe melepaskan telapak tangannya, memandang penuh penyesalan pada mayat gadis yang kepalanya sudah terbelah dua itu. "Cih," Joe meludah dan mengusapkan tangannya di kemeja yang ia kenakan lalu meangkah keluar sambil membawa gentong formalin berisi kaki manusia yang baru saja dimasukkannya.
Joe membuka pintu kamarnya dan menghidupkan lampu. Setengah menyeret langkahnya, Joe menaruh gentong formalin itu di samping dua bathtub yang terletak di tengah kamar. Joe membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak. Dipandanginya kedua bathtub itu bergantian. Bibirnya tersungging senyuman.
Lelaki itu bangkit berdiri dan menyeret gentong berisi potongan kaki itu ke arah bathtub yang pertama.
"Sori, Sayang. Hanya ini yang tersisa. Aku akan mendapatkan yang lebih baik untukmu kalau yang ini tidak cocok." Joe mengambil potongan kaki itu, dan menarik keluar kaki terputus dari mayat di dalam bathtub. Joe memutar potongan kaki itu, menempelkan potongan kaki itu ke bagian yang terputus. Joe tersenyum, "Ini cukup bagus kan, Sayang." Wajah mayat dalam bathtub tidak bereaksi. Tetap kaku dengan sebelah mata yang masih utuh mendelikkan kengerian. "Ayo, dong. Kamu pasti suka." Joe memasukkan tangannya ke dalam bathtub dan menggerakkan kepala mayat itu sehingga seolah mengangguk kepadanya. "Nah, begitu, dong," ucapnya sambil tersenyum, "besok papa jahitkan buat kamu kaki baru. Oke?" Dan mayat itu kembali mengangguk dengan ekspresi yang tak berubah. Joe terkekeh. Merasa sudah berbuat sesuatu yang maha penting.
Joe mengulurkan tangannya di bathtub yang kedua dan menarik sebuah kepala yang nyaris tak berwujud. Kepala seorang wanita yang berkerut kehitaman dengan bola mata yang menonjol gelap, bentuknya yang nyaris menyerupai tengkorak itu seolah menandakan bahwa wanita itu sudah lama meninggal. Joe membelai gumpalan rambut yang lengket di kepala mayat itu, mendekatkan kepalanya dan mengecup kecil bibir mayat yang sudah tak berbibir itu.
"Aku tetap sayang kamu, Hanah."
Dalam bayangannya, kulit berkerut kehitaman itu kembali penuh dengan daging, manampilkan sosok isteri tersayangnya yang seolah tersenyum padanya, mengangguk menyatakan bahwa ia mengerti apa yang dirasakan suaminya saat itu.
Mendadak Joe merasakan darahnya berdesir.
Joe bangkit berdiri dan mengambil sehelai seprei dari lemari baju dan membentangkannya di lantai. Dengan hati-hati Joe mengangkat mayat isterinya yang sudah mengerut itu dan meletakkan mayat itu di atas kain seprei. Joe menelan ludahnya dan mendesis seraya melepaskan retsleting celananya. "Ahhh…," Joe mendesah dan memasang kondom ke batang kemaluannya. Dioleskannya gel pelumas di sekeliling kondom itu, lalu didekatinya mayat itu dan dibukanya paha yang kurus kering itu ke samping. Joe mengerang saat kemaluannya menusuk liang daging kering si mayat. Joe menggerak-gerakkan kemaluannya, menggesek tulang selangka mayat di bawahnya. "Ahk..ahk…..," Joe mengerang dan memejamkan matanya penuh nafsu, membayangkan isterinya terengah nikmat di bawahnya. Beberapa saat kemudian Joe merasa tubuhnya bergetar, lelaki itu mengeluarkan batang kemaluannya dan membuka kondom yang dikenakannya. Cairan sperma menyembur ke atas tubuh mayat yang mengering di bawahnya. Joe menghela nafasnya penuh kepuasan dan membungkuk mengecup bibir mayat itu dengan lembut, hati-hati, tak ingin larutan formalin yang mematikan itu masuk ke dalam tubuhnya. "Aku sayang sekali padamu, Hanah," desisnya lembut. Dan mayat itu tersenyum mengangguk dalam angannya.
Bagian Enam
Joe bangun pagi hari itu. Dia punya rencana yang indah. Sejak kemarin ia sudah membayangkan memasangkan mata gadis baru itu di mata malaikat kecilnya. Mata gadis itu indah sekali.
Joe mengangkat tubuhnya dan menuju ruang dapur. Ceceran darah seolah mewarnai lantai dapur dengan warna merah. Joe membuka kulkas dan mengeluarkan sekaleng minuman soda. Joe meminum air soda itu dan merasakan kesegaran merasuki tubuhnya. Matanya memandangi bagian-bagian tubuh yang bergelimpangan di sudut ruangan. Sebentar lagi pasti bau, pikirnya dalam hati. Bergegas ia mencomot satu persatu bagian tubuh itu, memasukkannya ke dalam plastik sampah besar dan menyeret kantung plastik itu ke halaman belakang.
Setengah jam kemudian Joe sudah melangkah kembali ke dalam rumah dengan keringat bercucuran dan tangan penuh tanah. Mendadak suara gedebuk terdengar dari pintu depan. Joe membasuh tangannya di wastafel dapur dan menuju ruang tamu.
Joe menyipitkan matanya saat membaca artikel di sudut halaman pertama surat kabar pagi itu. Joe memang tak pernah melupakan diri untuk membaca surat kabar, terutama bagian berita kehilangan gadis-gadis.
"Perkembangan berita dari kasus menghilangnya gadis-gadis selama satu setengah bulan ini. Seorang pemuda berinisial D (20) telah mengaku melihat seseorang mencurigakan yang diduga sebagai tersangka pada waktu yang bertepatan dengan menghilangnya seorang mahasisiswi sebuah perguruan tinggi negeri yang berinisial N (20). Sersan Wardi yang dikonfirmasi di kantor polisi membenarkan adanya saksi mata. "Kami sudah bisa memperkirakan pelaku yang menggunakan sedan Timor berwarna hitam gelap itu. Kepada masyarakat kami himbau untuk ikut berwaspada terhadap keamanan lingkungannya."……. "
Joe memutar otaknya. Mencoba mengingat-ingat, apakah ia pernah membiarkan seseorang melihatnya. Kemudian ia teringat akan pemuda yang menubruk mobilnya dua hari yang lalu. Joe memandang foto yang terpampang di surat kabar dan mengeluh.
"Sial!" umpatnya dalam hati. Mengapa ia bisa seceroboh itu. Tapi Joe bukan seorang bodoh, dicermatinya lagi artikel itu dan ia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Biasanya polisi tidak pernah membeberkan saksi mata," desisnya seraya menatap artikel itu dalam-dalam. Sepeminuman teh kemudian Joe terkekeh. Baiklah, pikirnya dalam hati, sekarang kita akan main Cats and Dog.
[end of ACT TWO]