Out In The Cold With The Demons
Halo semuanya!
Nah, nah, nah... Ada suatu gejala menarik yang muncul di CeritaSeru, yaitu bertepatan pada bulan puasa, jumlah cerita-cerita yang 'vulgar' berkurang, digantikan cerita-cerita berkualitas yang rasanya tidak dosa-dosa amat untuk dibaca pada bulan tersebut! Hihihi, menarik kan?
Di dapur CeritaSeru juga ramai dibicarakan tentang tertinggalnya disket milik Dreampatcher di meja nomor 23 di sebuah warnet yang cukup terkenal! Terus terang, pendatang baru ini memang banyak membuat sensasi. Mulai dari cerita-ceritanya yang bisa dibilang tipe 'Kahlil Gibran'-nya CeritaSeru, sampai "Misteri Meja 23"-nya itu. Luar biasa juga dia memang! Salut deh, DP!
Belum lagi sejumlah moderator CeritaSeru yang mulai sedikit demi sedikit menunjukkan identitasnya lewat nomor-nomor telepon. Bahkan Wiro sendiri sekarang ketahuan kalau HP-nya pakai Excelcom! (Nah bagi pembaca yang kerja di XL, mungkin bisa segera dilacak! Hahaha.)
Oh ya, buat Dreampatcher, Anda nanyain pendapat saya tentang tulisan Anda kemarin kan? Menurut saya sih, kalau seseorang sampai menuliskan surat yang begitu 'dalam' pada Anda, well, berarti dia cukup percaya dengan Anda, dan kalian udah cukup dekat. Kalau saya sih, tidak banyak teman yang tahu tentang 'sisi gelap' saya, jadi saya tidak semudah itu curhat pada seseorang. Hm...bicara tentang sisi gelap, mungkin apa yang akan saya ceritakan ini akan sedikit memberi informasi, seperti halnya dua cerita lama saya, The Huntress: A story behind our business, part 1 dan 2.
OK, Saya akan mulai bercerita.
----------
London, Once upon a time, not so long ago.
Deringan keras jam weker antik menyatu di epilogue mimpi indahku. Perlu beberapa menit untuk benar-benar menyadari bahwa deringan itu adalah suara weker, bukannya dering telepon yang kudengar dalam mimpi. Setelah mata ini benar-benar terbuka, dering keras itu sudah berhenti. Hm... rasanya malas sekali untuk bangkit meninggalkan kasur tua yang tergeletak begitu saja di lantai apartemen kumuh ini. Apalagi melepaskan pelukan hangat sahabatku, Matthew, yang semalaman telah bekerja keras untuk menghangatkan aku yang sebenarnya agak 'alergi' pada pria ras kaukasoid. Ah, rasanya lebih enak baring-baring dulu beberapa saat sambil memejamkan mata.
"Sari, semalam kamu janji untuk tidak meng-extend waktu tidur kamu di hari kerja kan?" Terdengar suara wanita dengan aksen Irlandia di telinga kananku.
"Aww, Belle... cuma beberapa menit saja kok." Jawabku dengan malasnya.
"Oh? Apa kamu lupa dengan keluarga angkatmu yang sedang menunggu-nunggu di negaramu?" Terdengar lagi suara itu.
Mataku berkejap-kejap sesaat. Terbayang wajah adik angkatku, mama angkatku, dan semuanya yang harus segera kujumpai kembali. Memang kehangatan pelukan Matthew cukup menghanyutkan dan dinginnya udara London membuat siapapun dari Indonesia akan memilih untuk diam di ranjang, tapi kali ini kekuatan impian lebih mendominasi. Sejenak mataku terpejam rapat, dan hatiku berteriak keras pada diriku sendiri, mengingatkanku akan tujuan-tujuan 'mulia'-ku dalam perantauan liar ini. Akhirnya aku menyingkirkan tangan Matthew yang masih mengalungi pinggangku, kusingkirkan juga selimut tebal yang nyaman ini, dan aku bangkit berdiri.
Sejenak aku menggerakkan badan untuk melemaskan otot, memandangi seisi ruang apartemen yang kusewa secara patungan bersama tiga orang teman. Tampak Isabelle, teman yang tadi membangunkanku itu sedang mengemasi tas kerjanya. Wanita Irlandia ini adalah contoh sempurna kaum imigran yang bertekad memburu impian di kota besar. Ah, konyol juga dia, seharusnya dia memilih tempat yang lebih hidup daripada kota tua yang sudah sekarat ini. Di sudut lain ruang seluas 6 x 8 meter itu tampak temanku Albert sedang menyiapkan sarapan. Pemuda yang setanah air denganku ini lain lagi ceritanya dengan Belle. Ia dikirim oleh orang tuanya kemari untuk kuliah, namun sebelum kuliahnya usai, keluarganya berantakan. Uang kiriman pun ikut berhenti mengalir, sehingga ia harus merubah pola hidupnya jadi semi-gelandangan seperti kami yang ada di apartemen kumuh ini.
Sahabatku Matthew? Ah, ia hanyalah seorang yankee. Seperti umumnya para yankee (orang amerika) muda lainnya, pikirannya kekanakan dan dipenuhi impian bertualang keliling dunia dengan penghasilan minim. Impian konyol itu pula yang membuatnya terdampar di tempat ini dengan cara demikian. Tentu saja kenekatannya di beberapa kasino juga ikut berperan dalam stage hidup yang sedang dilaluinya ini.
Aku melangkah ke sudut lain ruangan, dimana sebuah kamar mandi dan toilet kecil terpasang secara nyaris darurat di sana. Ketika melewati sebuah cermin besar yang agak retak di atasnya, sempat aku melenggok sebentar, mengamati tubuh ramping yang hanya terbungkus kaos oblong tipis dan celana dalam yang agak lengket di bagian depannya. Hmm... aku benci melihat diriku dengan rambut yang sudah panjang melebihi bahu. Tapi lihat kedua tungkai itu, panjang dan lencir menyangga sebuah pinggul ramping yang bersambungan dengan pinggang dan perut yang datar, juga leher itu... hmm... aku memang sama sekali tidak jelek, pikirku.
"Sudah cepat mandi sana!" Kata Albert membuyarkan ritual 'mengagumi diri' yang sudah kulakukan sejak kecil ini.
"Kenapa emang?" Jawabku setengah menggoda, "Pengen mandi bareng?"
"Boleh aja." Seru Albert sambil menyambar handuk yang diletakkannya di samping kompor.
"Apa sih yang kalian omongin?" Tanya Isabelle yang tidak mengerti bahasa Indo kami.
Aku dan Albert hanya diam melihat ke arah Isabelle sambil sama-sama mencangking handuk dan sikat gigi.
"Mandi pagi?" Tanya Belle, "Gila, bangsa kalian adalah bangsa paling rajin mandi."
Aku hanya tersenyum kecil dan melangkah masuk ke kamar mandi, diikuti dengan Albert.
"Dan selama ini aku pikir negara kalian berisi orang-orang alim yang religius!" Lanjut Belle mengomentari kegiatan mandi bersama itu.
"Kamu jadi menerima tawaran di Picadilly?" Tanya Albert sambil melucuti pakaiannya.
"Nggak tahu." Jawabku sambil berusaha melepaskan celana dalamku yang lengket pada rambut-rambut disitu karena ada cairan mengering, "Aku lihat kondisinya dulu."
"Nice body." Jawab Albert sambil tersenyum berkacak pinggang melihat tubuh telanjangku.
"Thank you." Jawabku singkat memutar kran shower.
"Hrrrggggghhhhh!!!" Seru kami bersamaan mencoba menahan dinginnya air shower yang menyemprot.
"Belle, The Heater!" Teriak Albert keras-keras.
"Oops, sorry!" Terdengar jawaban Isabelle dari luar kamar mandi. Setelah beberapa detik air shower mulai hangat dan nyaman.
"Thanks!" Teriakku berterimakasih pada Belle yang telah rela mengalihkan gas dari kompor ke pemanas air.
"Semalam capek nggak?" Tanya Albert di tengah-tengah kesibukan kami membersihkan badan.
"Nggak... Kenapa emang?" Jawabku sambil tidak melihatnya karena aku sedang berdiri di bawah shower membiarkan air hangat menyirami wajahku.
Albert tidak menjawab, tiba-tiba aku merasakan ia mendekap tubuhku dari belakang.
"Hey!" Aku menjerit kaget, "Ntar keburu siang, lho!"
"Cuman sebentar kok." Jawab Albert sambil menarikku dari bawah shower. Kini terpampang di hadapanku tubuh telanjangnya yang kurus namun berotot liat, masih berlumur busa-busa sabun.
"Mau nggak?" Godanya sambil tangannya menyabuni kedua pinggangku.
Aku menatapnya dalam-dalam, dan mengangguk pelan. Lalu bersandar di dinding porselen dingin itu, mempersilakannya.
Tubuhnya terasa hangat dan licin oleh busa sabun. Pelukan licin itu rasanya menyenangkan sekali, nikmat dan geli. Apalagi ketika ia mulai meraba-raba sekujur badan ini dengan tangan yang berlapis sabun. Mmmm... tidak memerlukan waktu lama baginya untuk membuat kedua puting susuku menegang dengan jemari licinnya. Di kedua puting susu yang tegang ini ia menjentik-jentikkan jarinya. Uhh... geli sekali. Aku menggelinjang kegelian dibuatnya. Dengan cepat salah satu telapak tangannya menuruni perutku dan tiba pada pangkal pahaku. Aku pasrah saja ketika sahabatku ini mengoyak-ngoyak bibir kewanitaanku dengan jarinya. Aduhhh... wanita mana yang tahan jika puting susu dan kewanitaannya dimainkan dengan jari-jari licin seperti itu. Aku terduduk di lantai lembab kamar mandi itu dengan kedua tungkai jenjang ini mengangkang lebar. Karena tak banyak waktu, Albert langsung ikut duduk dan menarik tubuhku ke atas pangkuannya. Aku memeluknya erat-erat ketika kejantanannya dengan licin dan mudah melesak ke dalam tubuhku. Akkh... Sejenak aku terlarut dalam kenikmatan yang luar biasa ketika tubuh-tubuh licin kami bergesekan cepat. Aku ingin memulai hari ini dengan segar dan nikmat, hingga aku menggerakkan tubuhku dengan liar di atas tubuh Albert yang rupanya cukup kewalahan menahannya. Uhhk... kugesek-gesekkan puting-puting susuku pada dadanya yang licin oleh sabun itu, kugerakkan tubuhku naik turun dengan cepat agar kejantanannya makin terasa menggerus-gerus kewanitaanku. Nggh... nikmaaat sekali rasanya. Uuhhh.... Ohhh... Aku merintih dan mengerang keras-keras merasakan nikmatnya persetubuhan ini, sekaligus ingin membuat iri Belle yang bisa mendengar dengan jelas dari luar kamar mandi. Namun seperti biasanya, Albert tidak pernah memegang teguh sopan santun bangsa setempat yang mengatakan "Ladies First", ia buru-buru menarik keluar kejantanannya dan mengeluarkan isinya di lantai kamar mandi.
"Ohh... sial." Bisikku menggerutu.
Tapi sahabatku ini juga bukan seorang pria egois. Yang aku sukai padanya adalah kerelaannya untuk membuat wanita ikut 'tiba' pada tujuan. Ia dengan sigap (seperti biasanya juga) memeluk tubuhku dari samping kanan dan menyelipkan (dua?) jarinya kedalam tubuhku dan mengocokkannya di dalam sini sambil mengulum puting susu kananku. Enggghhh... ia begitu terampil melakukan yang seperti ini, aku menggelepar-gelepar keenakan diperlakukan seperti itu, hingga tidak perlu waktu terlalu lama untuk membuat tubuhku mengejang bergelinjangan sebelum akhirnya terkulai lemas dalam pelukannya.
"Thanks." Bisikku ketika menerima kecupan di kening.
"Sama-sama." Jawabnya balik.
Stasiun underground Bakerstreet tergolong paling ramai pada jam-jam rush-hours seperti pagi ini. Aku ikut berjajar dengan penumpang lain menunggu kereta jalur Bakerloo bersama dengan Isabelle. Sementara Matt dan Albert mengambil jalur Jubilee yang akan membawa mereka ke tempat kerja mereka di West Hampstead.
"Kamu serius mau menerima tawaran di Picadilly?" Tanya Belle di sela-sela penantian ini.
"Not really." Jawabku singkat, "I'm checking it out."
Pembicaraan kami terhenti saat kereta tiba dan kami berdesakan masuk. Di negara dengan bangsa setua ini adalah keuntungan untuk menjadi wanita, karena sejelek apapun model pria Inggris, mereka akan dengan ramah mempersilakan kami duduk dan mengorbankan diri untuk berdiri. Itu juga yang terjadi pada aku dan Isabelle.
Dalam perjalanan agak panjang itu, Isabelle menasehati aku agar tidak gegabah menerima tawaran kerja di Picadilly dan meninggalkan pekerjaan lamaku sebagai tukang bersih-bersih stadion Wembley. Ia juga berkhotbah agar aku lebih berkonsentrasi pada 'kuliah'-ku yang sebenarnya sudah kuselesaikan beberapa bulan lalu. Ah, orang di level dia memang kolokan. Mereka hanya berpikir pada jobsecurity dan bukannya 'hasil akhir'. Untuk hal-hal seperti ini, aku merasa orang Indonesia lebih unggul daripada orang Eropa. Sejak tahun segitu pun persentase orang Indonesia yang berwiraswasta sudah lebih tinggi dari Eropa.
"Jaga diri baik-baik, Sweety!" Ujar Belle sambil mengecup pipi kananku ketika ia turun di stasiun Oxford Circus meninggalkanku yang akan meneruskan sampai ke Picadilly Circus. Kereta kembali jalan, dan disampingku duduk seorang ibu-ibu muda dengan bayi yang tidak berhenti menangis sampai di stasiun berikutnya.
Lega rasanya terlepas dari siksaan tangisan bayi yang menjengkelkan itu. Kini aku berada di bundaran Picadilly, berjalan di trotoar merasakan dinginnya udara London. Huh, raincoat biru muda ini memang tidak becus menahan suhu, dulu aku membelinya hanya karena pertimbangan warna dan diskon, kini aku tahu kenapa orang Inggris lebih memilih warna-warna mati seperti maroon tua, hitam, coklat tua, atau biru tua. Alasannya adalah karena bahannya lebih tebal (juga harganya!).
Ah, itu dia tujuanku, pub CH, yang cukup terkenal di lingkaran Picadilly ini. Di pintu masuknya tampak sebuah poster berukuran sedang bertuliskan 'Featuring: Oriental Strippers, Experience the Asian Myth and Myst!' Sesaat aku memandangi poster bergambar beberapa wanita Asia berpakaian minim sambil tersenyum ramah. Hm... mungkin Isabelle benar, pikirku, aku harus berpikir dua kali untuk menerima tawaran ini.
"Selamat pagi, Sir." Sapaku ramah pada seorang pria berwajah Italia yang kutemui setelah menunggu sekitar setengah jam.
"Selamat pagi, Nona L" Sapa pria itu ramah menyebutkan nama belakangku. "Panggil saja aku Frank."
"Kami sudah mempelajari berkas-berkas Anda, dan kami pikir..." Frank berhenti sejenak.
"What's wrong?" Tanyaku, "Apakah saya tidak masuk kualifikasi?"
"Justru sebaliknya." Ujar Frank, "Apakah Anda tidak rugi mengisi posisi seperti itu dengan 'kertas' yang Anda miliki?"
Rupanya pria itu tidak terbiasa dengan pola lamaran kerja orang Indonesia yang selalu menyertakan semua ijazah dalam surat lamaran, termasuk yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan itu.
"Saya rasa tidak." Jawabku, "Saya hanya butuh uang." Tambahku terus terang.
"Setelah mempertimbangkan dengan beberapa teman, kami menawarkan posisi lain padamu." Ujar Frank lagi, yang kusambut dengan berjingkrak riang dalam hati.
Posisi yang ditawarkan padaku (dan langsung kusetujui) adalah sebagai stage manager untuk sebuah kelompok stripper bernama Orient Dolls, yang berisi sejumlah gadis Asia berusia muda yang tugasnya meliuk-liuk di panggung pub sambil melepaskan busana satu per satu. Pekerjaan yang sederhana meski cukup melelahkan, yang penting adalah penghasilannya yang belasan kali lipat dari pekerjaanku selama ini, bersih-bersih stadion Wembley. Setelah menandatangani kontrak yang tidak kubaca seluruhnya, Frak memperkenalkanku pada Agnes, seorang wanita cantik berkebangsaan Thailand yang rupanya adalah leader dari kelompok stripper itu. (Tokoh ini pernah muncul pada serial The Huntress: A story behind our business part2). Setelah berbincang-bincang sejenak, kami pun mulai akrab. Agnes menjelaskan banyak tentang tugasku untuk memastikan bahwa show berjalan sesuai skenario, tentang apa yang harus dilakukan jika jadwal meleset, dan banyak lagi. Rupanya hanya untuk sebuah show striptease seperti ini saja, penggarapan mereka sangat profesional. Hari itu juga aku berkenalan dengan Vincent, seorang Afro kulit hitam dengan tinggi lebih dari dua meter, yang nantinya akan menjadi seorang 'juruselamat' bagiku di kota itu (Baca lagi The Huntress: A story behind our business, part1 dan part2).
"Di posisi seperti kamu, tugasmu hanya memastikan acara berlangsung lancar." Ujar Agnes, "Dan itu menguntungkanmu!"
"Kok bisa?" Tanyaku.
"Ya, karena kami yang harus menari tidak bisa leluasa mencari 'kerja sampingan' seperti kamu." Jawabnya datar.
"Kerja sampingan?" Tanyaku, "Maksud kamu?"
"Aww, Momma-Gal, ini adalah bisnis hiburan malam." Jawab Agnes seolah menyuruhku membiasakan diri.
"Oh, I get it." Jawabku setelah mengerti bahwa kerja sampingan yang dimaksudkannya adalah melayani tamu 'di luar pub'.
Dalam hati aku menyumpah-nyumpah, karena sejak remaja aku sudah berjanji untuk tidak menjual diri meski kepepet. Aku memang hidup bebas, tapi bukan untuk cari duit.
Akhirnya, meski mendapat berbagai nasehat dari teman-teman seapartemen, aku memulai pekerjaanku dengan lancar. Aku cukup bahagia dengan penghasilan saat itu, juga dari tips yang diberikan para pengunjung hidung belang yang memintaku membuat janji dengan salah satu stripper. Hehe, memang cara jitu untuk menghindari permintaan ke ranjang dari para tamu adalah dengan mengalihkan sasaran ke para stripper. Tamu-tamu yang umumnya mabuk itu lebih mudah tergoda pada penampilan 'polos' para stripper itu dibandingkan dengan setelan rapi yang kukenakan pada jam kerja. Menyenangkan sekali suasana itu, sampai teman-teman seapartemen yang tadinya melarangku bekerja disitu juga mulai sering berkunjung ke pub CH sambil membawa teman-teman mereka yang lain. Hal seperti itu secara tidak langsung membuat reputasiku di mata Frank, manager pub, mulai naik. (Dan saat itulah awal dari keterlibatan saya dengan lingkaran setan "La Cosa Nostra" yang pernah saya ceritakan di episode The Huntress yang dulu-dulu. Semoga pertanyaan para pembaca yang dulu-dulu itu bisa terjawab juga.)
Semuanya berjalan lancar sampai beberapa lama. Hingga pada suatu malam, atau tepatnya dini hari, saat aku sedang beranjak pulang dari pub CH, Frank dan Agnes mengajakku berbicara di coffee shop hotel St Giles, di Oxford Road, yang tidak terlalu jauh dari situ. Karena merasa bahwa kedua atasanku itu memperhatikan hasil kerjaku yang bagus dan akan memberikan promosi atau kenaikan gaji, aku setuju saja. Dan dugaanku pun tidak meleset jauh. Di coffee shop itu, Frank mengatakan bahwa aku akan segera naik pangkat dari stage manager menjadi wakilnya.
"Wakil manager pub?" Tanyaku, "That's great."
"I know, Sari." Jawab Frank yang pundaknya digelendoti manja oleh Agnes, "Tapi aku memikirkan suatu hal."
Dalam hatiku, aku sudah bisa menebak apa yang diinginkan Frank, yaitu kehangatan tubuhku. Itu sudah dapat kurasakan dari perilaku Frank belakangan ini, yang selalu meletakkan tangan di pinggangku saat memantau para strippers di panggung. Namun aku juga tidak terlalu keberatan, karena selain aku membutuhkan kenaikan gaji itu, di usiaku saat itu jiwa avonturirku masih terlalu menggebu-gebu. Kapan lagi aku bisa bercinta dengan orang Italia yang terkenal ganteng-ganteng itu, dimana Frank adalah salah satunya.
"What is it?" Tanyaku meyakinkan.
"Aku dan Agnes ingin merayakan kenaikan posisimu ini bersama denganmu di kamar." Jawab Frank sambil mengerdipkan mata kiri.
"Oh, I would love it." Jawabku singkat, membuat kedua orang di hadapanku itu agak kaget meski girang.
Hangatnya suhu kamar kelas satu yang dipesan Frank di hotel itu terasa sangat nyaman dibandingkan dengan apartemen yang kusewa di bilangan Bakerstreet. Aku juga tidak protes (bahkan menikmati sekali) ketika Frank dengan ketrampilan Italianya menciumi tengkukku dari belakang. Rambutku yang (waktu itu) panjang sebahu disibakkannya ke kiri kanan, lalu lidah hangatnya menari menebarkan rasa geli di leher ini. Mmmmm... nikmatnya. Hal yang aku belum terlalu terbiasa adalah ikut sertanya Agnes dalam permainan itu. Ia berada di hadapanku kini, melucuti satu per satu kancing kemeja putih yang menempel di badanku sambil sesekali memijit meremas kedua payudara ini. Jilatan dan ciuman Frank tiba di belakang telingaku, memberikan rangsangan yang tak terperi. Mmmm... aku menggumam lirih menikmati. Tanpa kusadari, satu-satunya yang menempel pada tubuhku hanyalah tinggal kacamata minus yang bertengger di telingaku.
Kupejamkan mata rapat-rapat ketika Frank menggendong dan membaringkan tubuhku di atas ranjang bulu angsa yang empuk ini. Sejenak kubuka mata, menatap langit-langit yang berhiaskan ornamen kecil-kecil khas Inggris klasik. Kubiarkan diriku terhanyut dalam belaian-belaian lembut jemari lentik Agnes yang kini menjalar-jalar pada kedua pahaku. Kurasakan pula nikmatnya tangan-tangan kekar Frank meremas-remas pinggangku sambil menciumi perutku.
"Oops! Kamu jangan ikut bergerak!" Bisik Frank merdu ketika tanganku meremas otot-otot kekar di dada bidangnya.
"Kamu adalah ratu malam ini, nikmati sajalah." Bisik Agnes menambahkan.
Aku menurut saja, terbaring diam dan menyusupkan kedua tanganku di balik bantal di bawah kepalaku dan memejamkan mata.
Ohhh... aku menggelinjang-gelinjang kegelian ketika sebuah lidah menari-nari di bagian dalam pahaku yang agak terentang. Entah lidah Frank atau Agnes, semuanya terasa hangat, lunak dan lembab membelai-belai badanku yang telanjang. Terasa lidah-lidah itu menari-nari menggelitik pinggang ini. Sejujurnya, itu adalah kali pertama aku menyerahkan diri untuk dikerjai lebih dari satu orang.
Ngggghhhh... Aku kembali mengerang agak keras ketika merasakan apa yang bagiku terasa paling nikmat sepanjang hidupku. Ketika kedua puting susu ini sama-sama diselimuti oleh bibir-bibir lembut dan dilumat-lumat bersamaan. Uhhh... aku tak mampu menahan rasa terangsang yang amat sangat ini... jari-jariku mencengkeram ujung bantal... keningku mengerenyit ke bawah, mataku sayu setengah terpejam, gigiku terkatup rapat meski mulutku setengah terbuka mendesah dengan nafas berat dan tertahan-tahan.
Frank dan Agnes rupanya menyadari perubahan ekspresiku, mereka justru makin giat menjilat, mengulum, dan melumat-lumat puting-puting susu yang terasa mengejang kegelian ini. Terasa juga kedua pangkal payudaraku mendapat remasan-remasan lembut sementara kedua putingnya terus tersayat-sayat oleh lidah-lidah hangat dan lembut. Aduhhh... aku menggeliat-geliat keenakan. Nafasku tersengal-sengal, tiap kali aku akan menarik nafas panjang, nafas ini terhenti oleh sentakan rasa nikmat yang mengalir pada puting susu ini. Ohh... badan ini rasanya lemas sekali, dan otakku tak kuasa memikirkan apa-apa lagi selain kenikmatan dan kenikmatan. Kedua puting susu ini adalah bagian paling sensitif pada badanku, mungkin lebih sensitif daripada liang kewanitaanku sendiri, agak aneh memang. Aduhhh... rasanya seperti melayang-layang ketika sambil terus menghisap dan menjilat mereka menceritakan betapa indahnya kedua puting susu yang kini menjadi merah tua, tegang, dan mengkilap karena basah oleh liur mereka. Dan mereka tak berhenti menghisap... terus dan terus... sampai aku harus mendesah lemah memohon mereka untuk sedikit memberiku waktu menarik nafas. Namun, uhhh, mereka tidak menurut. Aku menjerit-jerit seperti kerasukan sambil mencengkeram bantal. Kewanitaanku ini terasa berdenyut-denyut minta diperhatikan. Dari dalamnya, membanjir cairan kewanitaan yang amat banyak, mungkin sudah membasahi ranjang. Aduuhhh... aku makin tak mampu mempertahankan diri lagi.
"Ahggggg....." Aku menjerit tertahan ketika tiba-tiba saja gelombang orgasme menghajarku. Sentuhan sekilas pada klitorisku membuatku meledak begitu saja, meski kewanitaan ini belum diapaapakan. Sesaat semuanya terasa putih terang. Namun Frank dan Agnes tidak berhenti. Dengan setengah terpejam aku menyaksikan bibir tipis Agnes mengulumi puting susu kananku dan jemarinya menjentik-jentik yang kiri. Sementara kini kepala Frank berada diantara kedua pahaku, menjilat-jilat dengan buas kewanitaanku yang telah basah kuyup oleh cairanku sendiri. Ahhh... Aku makin menggelinjang-gelinjang tak karuan. Tangan-tangan kekar Frank memegangi pinggangku agar gerakanku tak terlalu merepotkannya. Lidah itu... lidah itu mengoyak-ngoyak bibir kewanitaanku dengan rakus dan buasnya sampai aku seperti kehilangan kesadaran dan berteriak-teriak keras.
Agnes tetap menjentik-jentik kedua puting susu ini, mulutnya menghampiri mulutku. Karena rangsangan yang begitu deras, dan sisa orgasme pertama yang masih membelenggu kesadaranku, aku tak peduli lagi bahwa itu adalah bibir sesama wanita, aku segera menangkap mulutnya dengan mulutku dan kami berciuman dahsyat. Lidah lembut Agnes menerobos ke dalam mulutku, menjilati langit-langit rongga mulutku hingga aku makin menggelinjang-gelinjang. Tak tahan lagi, kudekap tengkuknya, kutarik erat-erat kepalanya agar mulutnya tetap menempel pada mulutku.
Seluruh tubuh ini terasa mengejang menerima sambaran orgasme kedua ketika Frank menjejalkan kejantanannya masuk ke dalam kewanitaanku. Ohh... baru kali ini aku merasakan orgasme di awal penetrasi. Mmmm... kejantanan ini begitu kokoh dan keras rasanya memenuhi seluruh sudut liang kewanitaanku. Pelan-pelan kejantanan itu bergerak menggesek-gesek. Membangun kembali rangsangan dalam tubuhku yang telah lunglai terhajar orgasme ini. Agnes menindih dan memeluk tubuhku dengan hangatnya sambil terus membenamkan puting-puting susuku bergantian ke dalam mulutnya. Ohhh... dengan setengah terpejam aku dapat melihat ekspresi wajah Agnes yang juga tampak meringis-ringis menahan nikmat sambil mengulumi puting susu ini. Rupanya kewanitaan Agnes sedang mendapat perlakuan yang sama dari Frank, yang juga sedang menyetubuhiku. Oh... pemandangan ini membuat birahi ini makin tak terkendali. Uhhh... hisapan pada puting susu ini... tikaman kejantanan Frank pada kewanitaanku, semuanya terasa berulang-ulang terus... kedua payudara ini terasa berat sekali, kedua putingku terasa kejang dan kaku namun terus terasa geli dan nikmat karena dilumat-lumat oleh Agnes... kewanitaanku terasa sudah tak mampu lagi menerima hunjaman-hunjaman Frank... Aduuhhhh... enak sekali rasanya badan ini... ngggg.... aku tak mampu lagi bertahan... uhhh... sedikit lagi... Aghhhhhhhhhhh!!!... disertai dengan erangan panjang, sebuah orgasme hebat kembali meledak dalam tubuhku. Lalu aku tak lagi mampu merasakan atau mengingat apa-apa. Kali ini aku benar-benar mengalami yang namanya jatuh pingsan akibat orgasme. Semuanya putih, lalu hitam dan hangat. Tidak terlihat atau terdengar apa-apa, hanya kenikmatan dan kenikmatan saja yang terasa.
Entah berapa lama kemudian, aku mulai tersadar dengan tubuh masih dipenuhi kenikmatan sisa-sisa dari orgasme-orgasme yang telah menaklukkanku tadi. Kepalaku masih terasa berat dan sekujur badanku terasa lemas sekali. Aku melirik ke samping, mendapati pemandangan indah yang lain, Frank sedang duduk di sofa dengan Agnes di pangkuannya membelakangi. Kedua tubuh itu bergerak naik turun dengan cepat. Tangan-tangan Agnes mencengkeram pegangan sofa, tangan-tangan Frank mencengkeram payudara Agnes, pinggul Agnes tampak menempel erat di depan pinggul Frank. Sekilas sempat kudengar Agnes mengerang-ngerang keenakan. Lama aku menonton adegan itu dengan tubuh lemas tak berdaya, sampai akhirnya keduanya berhenti diiringi rintihan Agnes dan lenguhan Frank. Keduanya mencapai klimaks. Aku merasakan tubuhku masih terlalu letih setelah apa yang baru saja terjadi padaku. Ingin rasanya bangun dan bangkit berdiri, namun rasa letih dan sisa-sisa kenikmatan yang ada membuatku kembali jatuh tertidur.
Semuanya berubah setelah malam itu. Kehidupan malam sempat menjadi duniaku di sana. Akrab sudah rasanya aku dengan bau alkohol, musik keras menghentak, geliat sensual para stripper, atau colekan-colekan nakal dari para hidung belang. Untung (atau sial) bahwa Frank rupanya kurang puas dengan performance-ku di hotel itu hingga ia tidak lagi pernah mengajakku 'berpesta' bersama Agnes atau strippers lainnya. Ini membuatku sempat punya banyak waktu sisa untuk mengakrabkan diri dengan orang-orang di sana, mempelajari struktur kerja dan 'aturan main' di lingkungan baru itu, termasuk manajemen mereka yang sederhana namun profesional. Secara sengaja aku berusaha menunjukkan prestasi dan disiplin sebaik mungkin, agar tabunganku cepat penuh dan aku bisa segera pulang. Harus kuakui, aku menyesal karena dengan masuknya aku dalam lingkungan ini membuat sahabat-sahabat yang tadinya se-apartemen mulai menjauh. Mungkin mereka menyayangi aku, dengan cara memperingatkan agar tidak terlibat terlalu jauh atau mempopulerkan diri secara berlebihan. Tapi... apakah jika suatu saat aku benar-benar membutuhkan uluran tangan mereka... mereka akan mampu? Akankah hidup ini harus ditentukan oleh pemikiran orang lain?
Aku tidak menyesal ketika mendapati tubuhku berpindah dari satu ranjang ke ranjang lain untuk mempertahankan hidup waktu itu. Bagiku yang penting adalah hasil akhirnya sekarang ini. Dimana aku berada, dan dimana mereka berada. Kadang-kadang aku jengkel dengan pendapat orang rata-rata yang rela mempertaruhkan segalanya hanya demi kemapanan di tempat yang tidak tinggi. Perubahan memang menyakitkan, tapi kesakitan itulah yang membuat diri kita dewasa, dan lebih siap menghadapi tantangan pada stage kehidupan yang lebih tinggi.
Seperti kata pepatah, "Nobody can predict the height you can soar. Even you will not know, until you spread your wings."