Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: WHERE COUNTRY IS BEST IN ASIA? · More of this
    Search
 

   

The Last Sanctuary
Prologue :

Pasir putih dan angin pantai. Kedua kaki mungil itu berlari menelusuri garis buih-buih yang terhempas ke tepian. Tawa kecil penuh keriangan terdengar dari bibir gadis itu. Tangannya bergerak terayun di samping tubuhnya. Angin mengibarkan gaun putihnya dan menyibakkan rambutnya. Gadis itu tampak begitu ceria. Kulitnya yang putih seakan bercahaya diterpa sinar mentari.
Kedua kaki mungil itu terus berlari. Terjatuh, tapi segera bangkit kembali. Tawa kecil penuh keriangan masih terdengar walau semakin jauh.
Gadis molek bergaun putih berhenti. Matanya menerawang ke lautan tanpa batas. Kedua kaki mungil bergerak kembali. Berlari dan terus berlari. Tertawa dan terus tertawa.
Pasir putih dan angin pantai. Gadis molek bergaun putih menanti setia. Sampai sebuah perahu menepi dan mengajaknya pergi.
Atas nama cinta.

CHAPTER I

Bab I

"Dita, sudah waktunya sarapan."
Mama memegang pundakku lembut dan memaksa tanganku berhenti menari di atas tuts-tuts keyboard. Kutolehkan wajahku dan tersenyum. Mata mama terlihat begitu sayu. Kerutan di wajahnya semakin dalam hari demi hari. Tapi pengertiannya atas gelengan kepala dan senyumanku masih tetap tajam seperti biasanya.
Dan juga air mata yang menitik di pipinya.
"Ayo, makan dulu. Tadi mama sudah suruh masakkan semur telur."
Lengan mama menyusup ke balik punggungku dan melingkarkan lenganku di pundaknya, "Hati-hati."
Ah, Mama. Aku tahu.
Kubiarkan Mama mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di atas tempat tidur. Kuangkat lenganku dan kusapu air matanya.
Jangan menangis, Ma. Sudah cukup air mata untukku.
Dan seperti biasanya, mama hanya tersenyum seolah mengatakan, "Mama baik-baik saja, kok."
Dan kubuka mulutku seperti burung kecil yang menunggu sang induk menyuapkan makanan ke mulutnya. Mama tertawa kecil melihat kemanjaanku.
"Bayi besar."
Bahuku berguncang. Dan beliau mengerti kalau aku tertawa.
Karena ia mamaku. Dan aku anaknya.

"Siang ini teman Frans datang. Jadi mungkin mama hanya punya waktu sedikit untuk menemani kamu," ucap mama setelah membersihkan noda makanan di bawah bibirku. Mama menatap wajahku yang berkerut lalu tersenyum dan mengecup dahiku.
"Tapi mama janji, nanti mama akan tidur bersamamu."
Secercah perasaan girang menjajak hatiku. Mama tertawa kecil melihat senyuman di bibirku lalu bangkit berdiri.
"Masih mau menulis?"
Kugelengkan kepalaku dan mengacungkan lenganku ke arah balkon. Mama mengangguk dan memapahku bangkit berdiri. Mama seorang wanita, dan sudah terlalu tua untuk melakukan pekerjaan seperti ini. Tapi beliau bahkan tak mengijinkan pembantu-pembantu itu yang mengerjakan segala sesuatu untukku. Katanya, ia masih punya banyak hutang yang harus dibayarnya untukku atas kepergiannya dua tahun yang lalu. Ah, Mama. Siapa yang mau menagih hutang itu? Tapi mama toh seorang wanita yang terlalu keras hati. Terbukti dari mendiang papa yang tak pernah bisa membawanya kembali, dan dari keinginannya untuk melayaniku.
Dan itu membuatku semakin sayang padanya.
Mama mendudukkanku di atas kursi goyang, menggerakkan kursi itu sedikit ke pinggir supaya sinar matahari tidak terlalu menyilaukanku, lalu meletakkan kotak kristik itu ke atas pangkuanku.
"Nanti kalau ada apa-apa pencet bel, ya?" ucapnya seraya sekali lagi mengecup keningku. Kuanggukkan kepalaku, tegas, berusaha meyakinkan padanya bahwa aku baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian aku mulai sibuk dengan hobiku yang kedua. Menyulam, sebuah pekerjaan yang menyenangkan.

Bab II

Suara-suara itu membangunkanku. Matahari sudah menghilang di balik atap. Mungkin sudah pukul satu siang, kataku dalam hati. Hawa terasa sedikit sejuk dengan angin yang menghembus semilir. Kugerakkan lenganku menyibakkan rambut yang menutupi wajahku.
Kenapa begitu ramai di bawah? Suara-suara tawa dan canda terdengar sampai ke atas. Kulihat beberapa pemuda dan pemudi melintasi pagar depan rumah sambil tertawa-tawa. Kepiluan yang kurasakan membuat bibirku tersenyum. Aku ingin seperti mereka. Ingin kuliah. Ingin bertemu teman-teman. Salah. Ingin punya teman-teman dulu. Baru kemudian bersama-sama jalan-jalan ke mall seperti yang di TV. Bergurau, bercanda, saling mendorong. Hihihi.. sepertinya begitu menyenangkan.
Tapi....
Kuletakkan kedua telapak tanganku ke lutut. Demi apapun yang ada di atas sana. Aku tak boleh meratapi nasibku seperti seorang cengeng. Aku gadis yang tegar. Jadi lebih baik aku tersenyum dan tetap menyimpan anganku dalam impianku.
Kuangkat kepalaku, merasakan semangat Joan of Arc yang menggebu dan membuat pundakku berguncang geli.
Dan saat itu kulihat dia.

Pemuda itu menatapku dengan alis berkerut. Beberapa saat kemudian kepalanya bergerak miring dan bibirnya tersenyum. Kurasakan wajahku memanas, kutolehkan kepalaku namun tak ada sesuatu yang bisa kuraih untuk melindungiku. Jadi kutarik saja tubuhku merapat ke sandaran kursi.
Tapi pemuda itu. Senyumannya. Kucondongkan tubuhku pelan-pelan. Astaga, ia masih di sana! Dan kini ia bahkan melambaikan tangannya padaku sambil menyeringai, "Hai!"
Aku bisa membaca gerakan bibirnya.
Dan mendadak aku mulai panik. Kubalikkan tubuhku dan berusaha menyingkir. Tapi aku lupa. Aku terjatuh dengan jeritan tertahan yang keluar dari bibirku dan suara gaduh dari kursi yang terbalik. Kugerakkan lenganku dan menarik tubuhku sebisa mungkin. Sikutku terasa nyeri dan aku seakan bisa memastikan luka yang menganga di situ. Kugigit bibirku dan menghela nafas lega saat punggungku tersandar di tembok kamar. Suara-suara itu semakin gaduh di bawah. Kali ini derapan kaki di tangga dan jeritan mama yang tertahan.

"Kamu tidak apa-apa, Dita?"
Kugelengkan kepalaku dan tersenyum. Mama mendecakkan bibirnya dan terlihat begitu gusar melihat darah di sikutku.
"Dasar bandel. Kamu harus belajar menggunakan bel."
Dan bahuku berguncang lagi.
Pemuda tadi benar-benar membuatku panik.
Tapi senyumannya begitu menawan.
Aku ingin kembali ke balkon. Tapi mama malah mengangkatku ke tempat tidur dan mengomeliku panjang lebar. Menyebalkan.

Bab III

Gadis molek bergaun putih itu membiarkan pemuda bersayap malaikat mengecup lembut bibirnya dan membaringkannya di atas permadani pasir putih. Lengan si pemuda menahan bobot tubuhnya dan bibir pemuda itu menelusuri leher jenjangnya dengan penuh kehangatan.
"Aku sayang kamu, selamanya."
Dan si gadis hanya melenguh saat lengan itu menelanjangi gaun atasnya dan bibir itu menyentuh kulit telanjangnya. Si pemuda membiarkan gadis dalam dekapannya mengerang dan terengah. Perlahan lengan pemuda itu mengangkat sebelah paha si gadis dan membiarkan gadis itu merona jengah atas ketelanjangannya.
Gadis molek bergaun putih mengigit bibir saat sesuatu menyesak memasuki liang kewanitaannya. Tangannya mencengkeram dada si pemuda, mencakar, menancapkan kuku-kukunya. Pinggul pemuda bersayap malaikat bergerak, menekan, menari dalam liang yang hangat.
Kedua tubuh telanjang itu kini berbalut pasir putih, namun mereka tak perduli. Karena saat itu hanya ada mereka, gadis molek bergaun putih dan pemuda bersayap malaikat.

Crakkk !!!!!

Gadis molek bergaun putih terhenyak dan menjerit merasakan kehangatan darah yang menyembur dari leher yang buntung di atasnya. Gagang sabit itu bergerak terayun menggulingkan tubuh pemuda bersayap malaikat jauh-jauh. Si gadis menjerit melihat tengkorak yang menyeringai dari balik jubah hitam. Kakinya menjejak tanah, tangannya terulur berusaha menggapai tubuh pemuda tanpa kepala.
Tapi tengkorak berjubah hitam lebih kuat, gagang sabit mengayun dan si gadis merasakan dingin yang luar biasa di kedua kakinya. Jeritan gadis molek bergaun putih membelah angkasa. Pita suaranya seakan tertarik putus dari tennggorokannya. Tengkorak berjubah hitam menyeringai semakin lebar. Tengkorak itu mengangkat jubahnya dan menusukkan sesuatu ke liang kemaluan si gadis. Gadis berusaha meronta, namun kedua kakinya telah tiada, tak mampu memberikan tenaga untuk berguling lepas. Tengkorak tertawa, terkekeh, menggerakkan benda keras itu semakin cepat. Berulang-ulang. Darah semakin membanjir. Pasir putih berubah kemerahan. Tengkorak mengerang membahana, gadis terhenyak, tengkorak-tengkorak lain bermunculan terkekeh-kekeh.
Gadis molek bergaun putih ingin segera mati. Tapi tengkorak-tengkorak berjubah hitam menjilati darahnya dan menghembuskan nyawa-nyawa kehidupan ke rongga hidungnya.
Membacakan mantera-mantera. Mati tidak, hidup tidak.
Tengkorak-tengkorak menari dan memainkan benda-benda keras milik mereka. Berpesta. Girang. Bermain-main.

Pasir merah darah dan langit yang menghitam. Gadis molek bergaun putih tergeletak tak berdaya. Mati tidak, hidup tidak. Tengkorak-tengkorak berjubah hitam beristirahat dan tertawa-tawa. Tengkorak yang pertama tertawa paling keras.
Gadis tak tahu harus memohon apa dan kepada siapa. Air mata sudah habis dari matanya. Hanya darah yang terus mengalir dari kedua kaki buntungnya, dan hawa kehidupan yang terus berhembus ke hidungnya.

"Kamu cipta-Ku. Dan tak ada cobaan yang terlalu berat dari-Ku."

Sebuah tangan api membelah angkasa, menarik tengkorak berjubah hitam pertama yang meronta-ronta. Tengkorak-tengkorak lain berlarian tercerai berai. Tangan api mengejar mereka.
Kini gadis itu sendiri lagi. Pasir kemerahan dan langit kelam menyelimutinya.

"Tapi mengapa Kau meninggalkan aku lagi...."
Gadis molek bergaun putih meratap, kebencian dan kesedihan menyatu dalam dirinya. Membuatnya bisu akan kata-kata. Darah perlahan mulai berhenti mengalir. Hawa-hawa kehidupan semakin tipis berhembus.
Dan kedua lengan kekar yang mengkilat mengangkatnya. Mendekap gadis molek bergaun putih dalam pelukan. Menempelkan kepala yang terkulai itu ke perisai dadanya. Setitik air mata jatuh ke pipi si gadis, membuatnya tersadar.
"Kau..kau..." tapi yang keluar hanya erangan dan desisan.
Pemuda berbaju besi mengangkat tubuh buntung si gadis dan membawanya berlalu. Gadis menoleh, menatap kepala pemuda bersayap malaikat yang seolah tersenyum dalam damai.

Aku terbangun dan merasakan angin dingin dari AC membuatku sedikit menggigil. Kunaikkan selimut itu menutupi tubuhku sampai ke mulut. Beberapa saat kemudian baru aku bisa mengingat mimpi itu. Begitu jelas. Membuatku terheran dan ingin menangis.
"Sebuah mimpi yang aneh." Ucapku dalam hati. Dan aku masih bersyukur karena air mata masih bisa mengalir di pipiku.
Hanya mimpi. Jangan terlalu dipermasalahkan.

Bab IV

Kuselesaikan draft terakhir dengan sedikit kacau. Mimpi semalam ternyata benar-benar menghantuiku. Aku tak dapat berinspirasi dengan benar sekarang. Yang ada hanyalah pertanyaan-pertanyaan bodoh yang cenderung berbau fiksi. Padahal fiksi bukan gayaku.
Kulirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Sebentar lagi mama akan naik ke atas. Kuayunkan lenganku dan menggiring kursi rodaku ke depan cermin.
"Mengapa aku masih tetap cantik?" ucapku dalam hati. Kuraih sisir di atas meja rias dan mulai merapikan rambutku. Dalam hati aku mulai berdendang. Mungkin jika aku masih seperti dulu, aku akan berputar-putar di depan cermin untuk mengagumi kecantikanku. Tapi toh hidup terasa lebih menyenangkan sekarang. Kupasang jepit rambut merah muda itu di rambutku. Kulihat bibirku tersenyum dari pantulan kaca cermin.
Pemuda kemarin. Apakah ia tersenyum karena aku cantik?
Tapi kalau dia tahu aku seperti ini....pasti dia akan lari. Memikirkan hal itu membuatku sedikit geli.
Alangkah bodohnya aku. Bukankah begini lebih baik?
Aku tak ingin melihat pandangan penuh belas kasihan pada diriku. Cukup mama dan papa Frans yang demikian. Jangan ada orang lain. Apalagi pemuda bersenyum simpatik itu. Amit-amit deh.
Aku Joan of Arc. Kubusungkan dadaku, menegakkan kepalaku dan menggerakkan bibirku tanpa suara.
"Aku gadis perkasa. Aku Joan of...."
"Hehehehe..."

Orang itu nyaris membuatku terguling untuk yang kedua kalinya.
Tapi pemuda itu segera meletakkan nampan berisi makan siangku dan berlari memegangi pundakku. Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri, aku berusaha berteriak walau tak ada suara yang keluar.
"Whoa, tenang. Tenang dulu. Relaks."
Mana mungkin aku bisa relaks dengan rasa panik dan malu yang menjalar diseluruh sarafku. Kugerakkan lenganku dan berusaha melepaskan pegangannya. Tapi pemuda itu hanya terkekeh dan mengangkat tubuhku dengan kekuatan yang cukup mengejutkan.
"Mungkin kamu lebih tenang di sini." Pemuda itu meletakkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku yakin wajahku memucat. Trauma masa lalu kembali terbayang.
Jangan. Jangan lakukan....jangan....
"Aku ambil makananmu dulu, oke."
Hah?

"Lalu kamu biasa disuapin atau makan sendiri?"
Pertanyaan yang seperti sia-sia karena beberapa saat kemudian pemuda itu tertawa begitu lepas dan menyadarkan kebengonganku.
"Mukamu..hahahaha....konyol."
Sial! Kulupakan semua rasa jengahku dan menamparnya sekuat tenaga. Pemuda itu terkejut. Kurasakan pundakku berguncang geli melihat wajah yang sebelah merah itu. Tapi aku sudah mulai lapar. Kuambil gagang sendok itu dan mengais-ngais makanan di depanku. Lewat sudut mataku aku dapat melihat pemuda itu mengusap-usap pipinya yang kemerahan. Tapi si menyebalkan itu tersenyum-senyum. Cuek, ah. Kuteruskan saja menyuapkan makanan itu kemulutku. Aku lapar. Lagipula...
"Lagi dong." Kok kepala itu sekarang ada di atas piring makanku?
Kuangkat sendok di tanganku dan melemparnya. Pemuda itu sudah lebih dahulu bangkit dan menghindar dengan gerakan konyol yang mau tak mau membuatku sangat geli.
"Nah, kan. Sekarang kamu malah tidak bisa makan."
Kuangkat daguku dan menyuapkan makanan itu dengan tanganku.
"Gadis keras kepala."
Pemuda itu menggelengkan kepalanya.
Nanti setelah makan. Kulempar piring ini ke kepalamu.
Aku tidak takut padamu. Tidak sedikitpun.

Bab V

"Namamu Dita, kan?"
Kutatap matanya dan senyuman itu memberikan kesan tulus dalam nada bicaranya. Kuanggukan kepalaku.
"Aku Michael, tapi kamu bisa memanggilku Ronan."
Hah? Ronan? Jauh sekali? Hihihihi...
Pemuda itu tertawa, "Juz kiddin."
Mengapa aku merasa begitu cepat akrab dengannya? Apakah karena dia begitu kocak, bengal, memaksa,. Apakah....
"Kedua orang tuamu sedang keluar bersama orang tuaku."
Oh. Jadi itu sebabnya mengapa bukan mama yang mengantar.
Tapi kenapa bisa pemuda ini yang....
"Aku bisa membuat mamamu percaya padaku." Ternyata pemuda itu bisa menangkap tanda tanya lewat mataku. Bagaimana ia bisa membuat mama percaya? Aneh benar pemuda satu ini.
"Lalu? Enaknya kita ngapain sekarang?"
Aku hanya mengangkat bahu. Aku juga tak tahu. Sudah lama berselang sejak seseorang yang terlihat sebaya menemaniku.
"Aku tahu!" mendadak Michael berseru, "Ayo main petak umpet!"
Aduh. Kok petak umpet, sih. Kulirik kedua kakiku yng terkulai lemas. Michael sejenak terlihat gugup dan menggaruk-garuk kepalanya, "Waah, maaf..maaf." Dan gayanya yang polos justeru membuatku merasa geli ketimbang marah.
Kuangkat lenganku dan menunjuk komputer.
"Mau ke sana?" Kuanggukkan kepalaku dan tersenyum. Michael tanpa ragu menggendongku dan mendudukkanku di atas kursi komputer. Sekejap aku merasakan sebuah kehangatan yang mengalir di tubuhku.

"Aku panggil kamu Mickey, kaya si tikus."
Michael tertawa membaca tulisan di monitor, lalu mengetikkan beberapa kata, "Tulis Miki saja, biar ngga repot."
Dan sejak saat itu aku memanggilnya Miki.
Sahabat baruku yang kocak dan konyol.

"Kamu anak temennya papa?" tulisku kemudian.
"Yap," Miki menjawab di sebelahku, "temen lama papamu."
"Papa tiriku," tulisku.
"Aku tahu. Aku sering ke sini kok dulu."
"Baguslah. Kamu bakalan sering ke sini?"
"Sepertinya begitu."
"Kok `sepertinya'?"
"Sebab aku ngambil spesialis di sini."
"Asik."
Miki tertawa melihat kata yang terakhir kutuliskan.
"Bayi besar. Seperti kata mamamu."
Dan pemuda itu tak mengelak saat kutampar pipinya. Miki malah tersenyum-senyum dan membuatku sedikit merasa bersalah.
"Maaf," tulisku kemudian.
"Ngga apa-apa. Bisa minta lagi?"
Sayang aku tak bisa menulis `hihihihi' terlalu banyak.
Sayang lagi, Miki harus pulang setengah jam kemudian untuk mengurus kepindahannya dari Jakarta.

Mama mengatakan padaku bahwa Miki seorang pemuda yang baik. Jadi tidak masalah untuk tinggal bersama kami serumah. Dan aku baru saja menyadari bahwa pemuda itu datang dan memasuki kamarku tanpa sepengetahuan mama. Dasar orang gila. Tapi aku tak mungkin menceritakannya pada mama, nanti beliau jantungan.
Aku hanya bisa memaki-maki tipu dayanya dalam hatiku, tapi aku menyukai idenya untuk bisa berkenalan denganku.
Dan akhirnya aku mempunyai seorang sahabat baru.
Setelah sekian lama.
Seorang pemuda konyol bersenyum simpatik.

CHAPTER II

Bab I

Hari-hari mulai kulalui bersama Miki. Hari-hari yang menyenangkan walau pemuda itu tak henti-hentinya memohon tamparanku lewat keisengannya.
Suatu hari, Miki datang membawa seikat bunga, menyerahkannya padaku seraya mengatakan, "Untuk dewiku." Dan saat aku berusaha mati-matian untuk tidak terlihat kegirangan dan tersipu-sipu, ia malah terkakak-kakak sambil memegangi perutnya.
"Sudah kuduga. Mukamu akan terlihat konyol."
Dan aku terpaksa melemparkan bunga itu ke wajahnya.
Di suatu saat yang lain, Miki akan menemaniku menulis berjam-jam lamanya sambil membaca literaturnya. Aku paling suka melihatnya saat ia serius, garis-garis wajahnya sebagai seorang lelaki tampak begitu nyata membayangkan kekokohan hati. Saat aku memperhatikannya dengan seksama, Miki pasti bisa merasakannya, tersenyum dan menutup wajahnya dengan buku. Untuk kemudian dimunculkan dalam bentuk tak karuan yang mau tak mau membuat perutku sakit kegelian.
Hari-hariku berlalu bersamanya dalam keceriaan. Aku merasakan telah menemukan dunia yang selama ini hilang dari genggamanku.
Mama dan papa Frans merasa senang dengan perubahan yang kualami akhir-akhir ini. Badanku semakin sehat dan aku sendiri mulai jarang termenung-menung di depan balkon. Aku lebih sering menyulam menghabiskan waktuku menunggu kepulanganya dari kuliah untuk menemaniku. Miki juga terlihat menikmati menghabiskan waktunya denganku, berbincang lewat tulisan dan menggodaku.
Pernah terbersit khayalan di benakku, bahwa aku seperti isteri yang menunggu kepulangan suaminya dari kerja apabila sedang asik menyulam. Dan khayalan itu terasa begitu menyenangkan.

Sabtu itu cerah sekali. Dan aku sudah bangun sekitar pukul tujuh, apalagi kalau bukan menunggu Miki menemaniku. Kupencet bel dan pembantu-pembantu itu datang untuk menolongku ke kursi roda. Mama sudah mengijinkan mereka masuk dan melayaniku. Mungkin karena aku lebih ceria sekarang. Aku sendiri sih lebih suka seperti ini. Mama tak boleh lagi terlalu keras hati untuk selalu berada di sampingku. Lagipula... lagipula kan ada Miki yang memanjakanku. Hihihi...
Dan pembantu-pembantu itu hanya nyengir kuda melihat pundakku yang berguncang. Jadi kusuruh saja mereka keluar. Lagipula hari ini aku ingin mencoba sesuatu.
Kugerakkan kursi rodaku ke depan cermin. Kusisir rambutku sambil mengagumi kecantikanku. Miki selalu tertawa apabila ia melihatku seolah berdendang dan tersipu-sipu sendiri di depan cermin. Kumiringkan kepalaku kekiri dan kekanan seperti apa yang biasa dilakukan pemuda itu. Dan aku tertawa melihat raut wajahku yang mendadak menjadi sok imut.

Kuputar knob shower di hadapanku dan membiarkan air hangat membasahi baju tidurku. Aku ingin mandi sendiri. Miki pasti akan girang mengetahui aku setidaknya bisa mandiri. Kutarik baju tidur itu dari betisku melewati kepalaku. Air hangat ini terasa lebih menyenangkan ketimbang handuk panas. Kubuka baju dalamku dan mendesah merasakan kenikmatan air itu menyapu ketelanjangan kulitku.
Sabun itu terlalu jauh. Mungkin aku bisa...
Kuangkat tubuhku dan menyeretnya turun dari kursi. Lantai kamar mandi ini ternyata tak sehangat air shower. Kugapai kotak sabun cair itu dan menyemprotkannya ke telapak tanganku. Sejenak aku merasa geli melihat kedua kakiku yang terkulai seperti boneka di atas lemari. Perlahan kusabuni sekujur tubuhku. Dalam hati kudendangkan lagu-lagu long march yang menambah semangat. Mungkin orang-orang akan mengira aku gila. Membuka mulut tanpa bersuara. Cuek saja lah. Ini kan hidupku.
Tapi masalah datang setelah air hangat itu membasuh sisa sabun terakhir yang menempel di tubuhku.
Bagaimana caraku keluar? Tunggu, mungkin begini.
Kujulurkan lengan kananku meraih pegangan pintu, tapi lengan kiri yang menopang tubuhku malah tergelincir.
Semua menjadi gelap. Pelipisku terasa sakit sekali.
Miki.....

Bab II

"Anak bodoh," Miki mencubit hidungku setelah mama dan papa Frans keluar dan menutup pintu kamar. Semula aku ingin tersenyum menanggapi candanya, tapi yang terjadi justeru sebaliknya. Pipiku terasa panas oleh air mata dan bibirku bergetar.
Pemuda itu malah tertawa semakin keras. Tapi kemudian ia membungkukkan tubuhnya dan mengecup keningku.
"Lain kali jangan bertindak yang aneh-aneh, ya?"
Kuangkat kedua lenganku dan merangkul lehernya, kususupkan kepalaku ke dadanya dan menangis sekerasnya.
"Aku bodoh, aku tak berguna..." seandainya ia bisa mendengarku.
"Hush. Kamu gadis yang tegar. Kamu lebih baik dari gadis manapun yang pernah kukenal."
Ia bisa mendengarku? Ataukah ia benar-benar sudah mengerti aku?
Telapak tangan pemuda itu terasa hangat menepuk punggungku dan menenangkanku.
"Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku sendiri."
Apakah ia juga mendengar yang satu itu.
"Aku akan lebih sering menemanimu."

Bukan..bukan yang itu. Yang pertama.

Esok paginya, pembantu-pembantu itu memandikanku seperti hari-hari yang lalu. Mama sempat mampir untuk menanyakan keadaanku dan apa yang kuperlukan hari ini. Beliau tampak lebih muda akhir-akhir ini. Mungkin kehadiran Miki dalam keluarga kami memberikan masukan yang begitu luar biasa bagi mama.
Malam itu mama memberikan sekotak baju baru. Dan aku merasa sangat senang dengan blazer hitam itu. Tapi, bagaimana aku akan mengenakannya? Dan untuk apa baju baru?
"Ini kamu pakai ke pesta besok malam. Oke?"
Pesta?
"Pesta ulang tahunmu, ingat?"
Astaga. Ternyata aku akan berulang tahun besok.
"Whua, bagaimana kabar tuan putri?"
Mama tersenyum melihat kehadirn Miki yang sudah seperti keluarga sendiri, "Ini, Dita dapat baju baru."
"Miki! Miki!! Aku ulang tahun besok!" Kurentangkan kedua lenganku ke arahnya. Miki mendekat dan membiarkan aku merangkulnya. Mama hanya tersenyum lalu melangkah keluar kamar.
Pemuda itu mengangkat blazer dari dalam kotak dan membantangkannya di pangkuannya, "Indah sekali."
Hihihi...kamu belum melihatku memakainya, bukan?
"Kamu pasti cantik sekali kalau memakainya, Tuan Puteri."
Mengapa pemuda ini selalu tahu apa yang kupikirkan?
Miki mengaduh saat kujepit lehernya dengan kedua lenganku.
Pemuda itu meletangkan tubuhku dan menatap mataku.
Kediaman sesaat membuatku terkesiap. Miki belum pernah memandangku setajam ini sebelumnya. Apakah ia akan......
"Bwahahahaah, mukamu tampak bego!"
Dan kutampar pipinya seperti biasa. Dan pemuda itu pun cengar-cengir seperti biasa.

"Dit, aku ingin membaca tulisan-tulisanmu."
Hah. Jangan dong, permintaan itu sama saja dengan membiarkanmu membaca kisah hidupku yang amburadul. Pemuda itu merasakan ketidak acuhanku dan mendekat.
"Ayo. Sedikit saja. Sebaris dua baris."
Tanpa sempat kusadari Miki sudah membopongku dan mendudukkan dirinya di kursi komputer dengan tubuhku di pangkuannya, "Kamu saja yang tunjukkan mana yang boleh kubaca."
Entah mengapa aku menurut saja dengan permintaannya.
File demi file. Waktu yang mengalir.
Desahan dari bibirnya. Topangan lengannya.
Dada yang hangat. Bau lelaki.

Bab III

Pemuda berbaju besi merawat si gadis molek dengan penuh perhatian, membalut luka kakinya dan memberikan nafas kehidupannya pada si gadis. Gadis molek bergaun putih menangis dan meratap tiap hari tiada henti. Rindu untuk berlari menelusuri pasir putih dan berpacu bersama angin pantai. Tapi pemuda berbaju besi selalu bisa meredakan tangisnya, menyadarkannya dengan meyakinkan bahwa hidup masih seindah dahulu.
Gadis menghabiskan waktunya menambal pakaian yang koyak dan menikmati sinar mentari yang bercanda bersama angin di permukaan kulitnya. Pemuda selalu hadir setiap kerinduan itu mulai menyeruak. Perlahan sang waktu berlalu, mentari terbit dan tenggelam. Bilur-bilur luka itu mengering dan menghilang, berganti tunas-tunas cinta yang siap untuk dituai. Gadis molek bergaun putih menanti dengan sabar. Ia sudah menemukan pasir putihnya dalam tatapan mata pemuda berbaju besi. Dimana ia bisa berlari dan bercanda, menangis dan tertawa. Ia sabar. Ia tak ingin kehilangan lagi.
Pemuda selalu mendekapnya tiap malam, memberikan kehangatan yang luar biasa. Kehangatan yang menenangkan yang seakan mengatakan, "Aku mencintaimu." Dan itu lebih dari cukup bagi hati yang terkoyak. Gadis tetap sabar. Menunggu dalam dekapan, dalam kehangatan.
Cinta menunggu dituai.

"Selamat tidur, Dita."
Kecupan itu menyadarkanku dari lelapku yang sekejap. Kulemparkan senyumku untuknya. Miki mengangkat tubuhnya dan hendak berlalu, tapi kupegang pergelangan tangannya. Kulirik ke arah jam yang bergantung di dinding.
Miki menatap jam itu dan tertawa, memalingkan wajahnya padaku.
"Selamat ulang tahun, Dita."
Bibirnya menempel di keningku. Tapi ini belum cukup. Kutarik lehernya dengan lenganku dan mengecup bibirnya. Tubuh pemuda itu bergetar sesaat. Tapi ia membalas kecupanku. Lengannya menyusup ke balik punggungku dan mengangkat tubuhku, bibirnya melumat bibirku. Hangat. Kupejamkan mataku menikmatinya. Nafasku mulai terengah.
Miki melepaskan rangkulanku dan tertawa renyah melihat kegusaran yang terpancar dari wajahku.
"Tidur, Bandel. Besok kamu akan kelelahan." Miki mengecup keningku sekali lagi. Menarik selimut sampai ke daguku dan menatap sekilas, tersenyum sebelum melangkah keluar kamar. Meninggalkanku kembali sendiri.

Aku menuai cintaku sendiri.
Tidak salah, kan?

Kulirik komputer yang masih menyala.
Astaga, sampai sejauh mana ia membuka file-file itu??
Masa laluku....
Pemuda bersayap malaikat......
Tengkorak-tengkorak itu.....

Bab IV

Aku berusaha menghindarinya seharian. Aku merasa malu untuk melihat wajahnya. Aku takkan sanggup menatap matanya. Tidak setelah ia membuka nyaris seluruh file-file itu. Mama sempat keheranan saat kutunjukkan tulisan "Aku tak ingin ketemu Michael" padanya.
"Kalian bertengkar?"
Kugelengkan kepalaku. Mama hanya mengela nafasnya dan menemaniku menyiapkan diri untuk pesta nanti malam. Dalam hati aku bersyukur karena Miki tidak muncul seharian. Yah, sebenarnya aku sedikit munafik. Aku mengharapkan ia datang dan memohon untuk masuk. Setidaknya akan ada sesuatu yang seru. Tapi Miki tidak muncul seharian, dan malah aku sendiri yang bertanya-tanya.
Mungkin ia sudah memandangku hina.
Yah, mungkin saja. Dari pemikiran itu, kutarik nafasku dalam-dalam dan menempelkan kepalaku di atas meja komputer, membiarkan angin dari jendela balkon menghembus wajahku.
Mana mungkin calon dokter itu tertarik pada gadis sepertiku.
Ya, kan?
Jadi lebih baik aku kembali menulis dan menulis, berteman dengan hantu-hantu yang tak mengenalku. Mungkin benar hanya mereka yang bisa mencintaiku. Karena mereka takkan tahu siapa aku.

Malam itu suasana rumah benar-benar ramai. Aku masih ada di kamar, mengagumi kecantikanku dengan blazer hitam yang membalut tubuhku. Aku tak ingin buru-buru turun walau mama sudah merasa tak sabar. Paling-paling juga tak satupun tamu yang kukenal selain penghuni rumah ini.
Iya kan. Dugaanku tepat. Yang hadir hanya oom-oom yang biasa menyedot uang papa Frans, dan tante-tante yang memandang sirik ke wajahku lalu tersenyum mencemooh ke kakiku.
Tapi si putri harus tetap tersenyum. Jadi papa Frans mengenalkanku pada semua kolega (benalu-benalu) nya. Senyumanku terasa dibuat-buat. Tapi mana mungkin aku bisa berkonsentrasi pada setiap perkenalan, sementara mataku mencari-cari dan hatiku gelisah.

Acara tiup lilin sudah usai. Tapi pemuda itu belum datang juga. Para tamu yang tadi bertepuk tangan dan bernyanyi dengan suara sumbang sudah menyibukkan diri untuk memenuhi perut mereka yang pasti sejak pagi belum diisi.
Miki, di mana kamu...
Tidak bahkan kehadiranmu?
Alangkah sepinya di tengah keramaian ini.

............

Kamar ini gelap. Lebih gelap dari biasanya. Mungkin karena kehidupanku sudah kembali pada asalnya. Sendiri dan kesepian. Aku tak boleh kecewa akan semua ini. Semua ini wajar-wajar saja. Kalau Miki pergi juga wajar-wajar saja.
Kugerakkan roda di kursiku ke depan kaca. Blazer ini indah sekali. Dan alangkah cantiknya aku. Tapi Miki takkan bisa melihatnya setelah aku melepasnya.
Mengapa aku harus menangis di tengah tumpukan kado ini?
Alangkah bodohnya aku. Hey, aku kan sudah pernah menjalani hidup seperti ini. Bukan sebentar, tapi dua tahun. Lalu mengapa aku tak bisa menjalaninya sekali lagi?
Tapi kecupan di bibir ini semalam...
Masa bodoh. Kuangkat kepalaku dan menatap pantulan wajah keangkuhan dan kekerasan kepalaku di cermin.
Aku Joan of Arc. Kubusungkan dadaku, menegakkan kepalaku dan menggerakkan bibirku tanpa suara.
"Aku gadis perkasa. Aku Joan of...."
"Hehehehe..."

Bab V

Miki?
Dan pemuda itu bersandar di ambang pintu sambil menutupi mulutnya. Pemuda yang satu ini.....
"Keluar ! Aku tak ingin melihat kamu!" ucapku lewat pandangan mataku. Tapi pemuda itu malah mendekat. Kuraih botol parfum di sampingku dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Tapi Miki sudah memegangi lenganku.
"Bayi besar yang emosionil."
Dan ia mengecup bibirku.
"Miki," aku mendesah dalam hatiku dan memejamkan mataku, membiarkan bulir air mata itu menetes di pipi. Kulingkarkan lenganku di lehernya, mendekapnya sebegitu erat memastikan itu bukan ilusi.
Jangan pergi dariku. Temani aku. Selamanya.
"Aku punya sesuatu untukmu," Miki meraih lengan kiriku dan sejenak membuatku tersentak saat ia melepaskan cincin itu dari jari manisku. Jangan ambil cincin itu!!!!
Kenangan pemuda bersayap malaikat begitu cepat bagaikan kilat terenggut dengan terlepasnya cincin itu. Kucoba meraih cincin itu tapi Miki menepiskan lenganku dengan sedikit kasar.
Jangan, Miki.....please........
Kututup kedua wajahku dengan telapak tanganku. Bahuku berguncang dan nafasku tersendat di tenggorokan. Satu-satunya memori yang tersisa dari orang yang pernah kukasihi.
"Jangan menangis, Dita. Semua sudah berlalu."
Kurasakan lengan kiriku tertarik, dan sesuatu menyusup di jari manisku. Kubuka mataku dan Miki mengecup pipiku. Begitu mesra dan begitu hangat. Anganku melayang jauh.
"Selamat ulang tahun, kekasihku."
Ini mimpi. Ini mimpi. Hanya mimpi!
Tapi Miki benar-benar di depanku sekarang. Mengecup bibirku dan menghentikan isakku. Michael.....
"Kamu sudah boleh bicara sekarang. Luka itu sudah lunas."
"Miki..." dan aku tak pernah lupa cara berbicara,
"aku mencintaimu."
Pemuda itu tersenyum dan dapat kulihat air mata yang menitik di pipinya.

Tuhan takkan mencobai umat-Nya diluar batas kemampuannya.

Epilogue :

Pasir putih dan angin pantai. Pemuda berbaju besi berlari dengan gadis molek bergaun putih dalam gendongannya. Menelusuri garis buih-buih yang terhempas ke tepian. Tawa kecil penuh keriangan terdengar dari bibir gadis. Kebencian dan kesedihan yang menyatu dalam dirinya dan membuatnya bisu akan kata-kata sudah sirna. Dekapan kehangatan dan kemesraan pemuda berbaju besi menyapu awan-awan kelabu itu.
Pemuda berhenti dan meletakkan tubuh gadis di atas pasir. Kepalanya menunduk dan mengecup mesra bibir gadis.
"Aku mencintaimu. Sekarang, selamanya."
"Tapi aku...."
"Apa adanya."
Gadis molek bergaun putih membiarkan bibir pemuda berbaju besi melumat bibirnya. Pasir putih dan angin pantai menjadi saksi dua tubuh yang saling menggapai kecintaan itu. Erangan, desahan, dan rintihan menyatu dengan debur ombak dan desau angin. Pemuda bercinta dengan si gadis bagaikan di alam mimpi. Sentuhan demi sentuhan, tekanan demi tekanan. Gadis merintih memuncakkan kenikmatan. Pemuda tersentak, mengejang dan terkulai. Matahari yang semakin tenggelam dan langit yang menghitam tersenyum dan tertawa riang.
Tiang api turun dari angkasa, membelah langit, bergemuruh dan memamerkan eksistensinya.
Gadis molek bergaun putih tersenyum dan terharu. Pemuda berbaju besi mengecup pipi gadis dan menatap tiang api yang perlahan membuyar.
"Ternyata Kau masih di atas sana....."

Cinta sudah dituai.
Apapun yang terhilang sudah kembali.
Seperti cakra, roda kehidupan yang berputar.
Tapi semoga sekarang terhenti dan tak berputar lagi.
Amin.

"Selamat malam, Sayang. Dan ingat, masa lalumu tidak seburuk yang kamu kira. Dan aku mencintaimu, karena aku mencintaimu."

Aku terlelap dalam bahagiaku.
Sayang masih terlalu singkat. Aku memang bukan penulis cerita yang baik. Maaf, maaf....1000 kali maaf.
Tapi aku yakin cerita fiksi yang ditulis sepenuh hati bisa menjadi sebuah kenyataan.
"Life, oh life.
Oh life..must go on...la la la la...."

-lagu kamar mandi-
dita, the dreampatcher
no more sanctuary

Visits: 29073
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 18830   Help/FAQ   Terms   Imprint