Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: 2,3,5,7,11,?,17 · More of this
    Search
 

   

LIBIDO SEORANG PRIA
Aku mempunyai seorang teman baik yang sekarang tinggal di Singapura, berkali
kali ia datang ke Jakarta mengunjungiku dan begitu juga aku maupun isteriku
sudah sering mampir dirumahnya yang terletak daerah elit Singapura. Hubungan
kami sangat akrab melebihi saudara, meskipun begitu sejujurnya saja aku juga
tertarik pada isteri Peter temanku itu, isterinya seorang wanita India yang
sangat cantik berusia sekitar 38 tahun, tetapi yach, karena belum pernah ada
kesempatan, jadi selama ini hanya berbicara yang baik baik saja sehingga
mereka tak merasa kalau aku ada minat yang bukan bukan pada mereka. Peter
sendiri tak pernah kulihat mencoba melirik isteriku yang sebenarnya juga tak
kalah cantiknya dengan Rani isterinya, kalau kulihat ia melirik isteriku,
pastilah akan kuatur agar aku dapat tukar isteri dengan Peter.

Undangan Peter agar aku datang untuk melihat pembukaan pameran mobil yang
diadakannya tak dapat kuhindarkan, apalagi dia tahu dengan jelas bahwa aku
suka mobil, jadi pastilah aku tak akan melewatkan kesempatan ini. Akhirnya
kuputuskan untuk ke Singapura dua atau tiga hari saja, isteriku kuajak
ternyata menolak karena dia banyak janji dengan teman temannya, jadi aku
terpaksa berangkat sendiri ke Singapura. Setelah ditinggal oleh isteriku
yang tergesa gesa ada urusan lain, aku duduk bengong diruang tunggu airport
sambil melamun, entah kenapa kok hari ini aku tak berjumpa dengan seorang
temanpun, padahal biasanya aku tak pernah kekurangan teman untuk diajak
berbicara.
Saat itulah pandanganku terdampar pada seorang wanita yang duduk tidak jauh
dariku, kulitnya putih dan wajahnya cantik dengan make up yang lengkap
sehingga membuat wajahnya menjadi makin menarik. Dari semuanya itu yang
paling menarik perhatianku adalah tubuhnya yang gemuk, entah mengapa aku
jadi ingin mencicipi wanita ini. Ketika kuperhatikan lagi, ternyata ia
ditemani oleh seorang pria yang dari cara berpakaiannya kelihatan kalau dia
ini orang berduit. Dugaanku mereka ini suami isteri, tetapi aku tak mengerti
apakah mereka berdua akan pergi sama sama, ataukah hanya salah satu yang
pergi. Aku sudah nekad mengambil keputusan, kalau ternyata si perempuan
hanya mengantar suaminya, maka aku akan membatalkan flightku dan mengejar si
wanita, tetapi jika si wanita yang berangkat dan suaminya tinggal, maka
lebih mudah bagiku untuk menggodanya. Yang paling sulit adalah bila mereka
pergi bersama sama, dan bukan ke Singapura !
Tetapi keberuntungan masih bersamaku, tak berapa lama, si pria berdiri
meninggalkan si wanita dengan tak lupa memberinya ciuman. Rupanya si pria
juga sama seperti isteriku yang tergesa gesa mengantarku. Setelah suaminya
pergi, si wanita juga berdiri dan menuju ketempat penjualan majalah untuk
membeli majalah. Akupun segera bergegas mendekatinya dan pura pura juga
mencari majalah. Kesempatan emasku tiba ketika ia menyodorkan uang lima
puluh ribuan untuk membeli dua majalah dan tak ada kembalinya, dengan cepat
aku mengeluarkan uangku untuk membayarnya. Dengan ramah ia mengucapkan
terimakasih dan berkata kalau nanti akan dibayarnya, aku hanya tersenyum dan
mulai mengajaknya berbicara. Dengan berhadap hadapan aku makin kepengen
menikmati kekenyalan si wanita yang sampai saat ini belum kuketahui namanya
itu, wajahnya sangat cantik dengan hidung mancung dan bibir yang sensual,
dadanya sangat montok. Ketika kuajak berkenalan ia mengulurkan tangannya
yang kurasakan sangat lembut, namanya Ratna. Ia juga akan ke Singapura untuk
urusan dinas, sedangkan pria yang tadi kulihat ternyata memang benar adalah
suaminya. Suaminya tak ikut karena mereka ternyata bekerja dibidang yang
berlainan, Ratna bekerja dibidang peralatan minyak sedang suaminya bekerja
sebagai bankir. Pembicaraan kami makin akrab, sampai kami harus naik
kepesawat, aku sudah tahu kalau Ratna belum punya anak, dan sudah menikah
selama 6 tahun. Karena kursi di pesawat SIA yang kami naiki banyak yang
kosong, maka aku berhasil untuk duduk disampingnya dan melanjutkan
pembicaraan kami selama penerbangan ke Singapura itu.
Ratna benar benar teman berbicara yang menyenangkan, ceritanya selalu
menarik dan yang paling menyenangkan cara berbicaranya blak blakan tanpa
sungkan meskipun kami baru berkenalan. Dengan separuh berbisik agar tak
didengar penumpang lain ia bercerita bagaimana suaminya kelabakan menghadapi
dia diranjang karena perutnya yang gendut membuat barangnya agak sulit
dijangkau. Sedangkan kalau dia diatas, maka suaminya yang kesulitan karena
badannya yang berat itu. Ia tertawa terkikik ketika aku bertanya, apakah dia
pernah mencapai kepuasan kalau caranya seperti itu. Pembicaraan kami jadi
semakin seram hingga tak terasa kami sudah mendarat di Changi. Aku rasanya
tak mampu untuk berdiri, karena kontolku yang ngaceng mendengar cerita
cerita Ratna. Ketika kutanya dihotel mana dia menginap, Ratna mengatakan
bahwa dia akan menginap di Holiday Inn, mendengar itu, kusarankan Ratna agar
dia tinggal saja di Hilton, biar aku yang traktir. Ratna menatapku sambil
tersenyum, akupun memandang wajahnya yang cantik itu sambil tersenyum seolah
olah kami sudah saling mengerti apa yang sama sama kami inginkan. Akhirnya
Ratna menyetujui penawaranku dan kami bersama sama naik taksi menuju hotel.
Didalam taksi Ratna menghubungi suaminya dengan handphone yang dibawanya, ia
memberi tahu kalau ia tak jadi menginap di Holiday Inn karena kepengen
mencoba Hilton saja. Ketika mengatakan hal itu tangan kirinya mencubit
pahaku, aku tersenyum dan balas meremas juga.
Dihotel sebenarnya Ratna sudah mengajakku untuk satu kamar saja, tetapi aku
menolaknya karena aku kuatir kalau Peter datang kekamarku dan tentunya tak
enak kalau dia tahu aku sekamar dengan perempuan lain yang bukan isteriku.
Akhirnya kami memilih kamar yang berhadap hadapan sehingga memudahkan bila
kami saling berkunjung.
Dengan diantar oleh room boy kami naik kelantai 21 dan masuk kekamar masing
masing. Baru saja aku melepas pakaianku, telepon kamarku sudah berdering,
ketika kuangkat ternyata Ratna yang memintaku untuk datang kekamarnya, aku
langsung mengiakan. Ketika aku membuka pintu kamarku, kulihat pintu kamar
Ratna agak terbuka, tanpa menoleh kiri kanan, aku langsung masuk kekamarnya
dan menutup pintu.
Ratna sedang berbaring diatas tempat tidur tanpa mengenakan sehelai kainpun.
Tubuhnya benar benar hebat, putih mulus dengan perut gendut yang membuat
nonoknya jadi tak kelihatan, hanya susunya yang sangat besar menonjol keatas
dengan pentilnya yang merah muda itu. Pandanganku langsung jadi nanar,
kontolku benar benar tegang sampai rasanya mau pecah karena desakan nafsuku
yang luar biasa, apalagi ketika Ratna merentangkan pahanya sehingga aku
dapat melihat rekahan nonoknya yang tertutup jembut lebat itu. Tanpa banyak
bicara lagi, langsung kulepaskan celana pendekku dan meloncat keatas tempat
tidur itu. Ratna menjerit kecil ketika melihat kontolku yang panjang itu, ia
langsung makin melebarkan kakinya sehingga nonoknya makin merekah merah .
Jembutnya sangat lebat dan liang nonoknya lebar sekali menampakkan itilnya
yang juga sudah ngaceng itu. Karena nafsuku, aku langsung saja menindihi
Ratna dan kuselipkan kontolku keliang nonoknya. Begitu kontolku mencapai
dasar nonoknya, Ratna langsung merintih keras sekali. Sebenarnya aku sama
sekali tak merasakan adanya jepitan dari liang nonok Ratna yang longgar itu,
tetapi nafsuku justru bangkit karena melihat postur tubuh Ratna yang luar
biasa itu, perutnya yang gendut membuat kontolku tak bisa leluasa untuk
kutusukkan kedalam liang nonoknya, untunglah kontolku panjang sehingga masih
bisa membuat dia merasa geli. Tetapi aku benar benar merasa hambar karena
kontolku hanya masuk separuh dikarenakan terganjal perutnya itu, meskipun
Ratna sudah mengangkat pinggulnya tinggi tinggi, tetap saja kontolku tak
bisa masuk seluruhnya. Tanpa menunggu permintaan Ratna, kucabut kontolku dan
kuminta Ratna untuk menungging, ketika kontolku pelan pelan memasuki liang
surganya, Ratna merintih rintih keenakan, aku sendiri baru merasakan
nikmatnya nonok Ratna yang hangat itu dengan posisi seperti ini. Ketika
kontolku sudah amblas seluruhnya, langsung kuraih susu Ratna yang montok itu
dan meremasnya dengan penuh nafsu. Ratna memutar mutar pantatnya membuat
kontolku seperti dipelintir, benar benar nikmat. Mungkin karena belum pernah
merasakan kontol seperti punyaku, Ratna tak dapat menahan rasa gelinya
sehingga tiba tiba ia menjerit lagi dan kurasakan nonoknya menjadi becek.
Akupun tak mau menunggu lebih lama lagi, kupercepat gerakan kontolku
sehingga akupun mengeluarkan air maniku bersama dengan Ratna. Ratna memang
tergolong perempuan gila seks, karena begitu dirasakannya kontolku mulai
lemas didalam liang nonoknya, ia segera berontak sehingga kontolku lepas
dari jepitan nonoknya. Tanpa menunggu dua kali, ia langsung mengulum
kontolku yang masih basah kuyup dengan sperma itu , lidahnya mnggelitik
ujung lubang kencingku dan jarinya yang gemuk itu pelan pelan meraba buah
pelirku. Aku terangsang kembali dengan ulah Ratna ini, kontolku kembali
ngaceng dan siap untuk tempur, tetapi aku ingat juga kalau aku harus
menelepon ke Indonesia karena aku kuatir isteriku mencari. Maka kubisikkan
pada Ratna agar sebaiknya kita pindah main di kamarku saja. Ratna menurut
saja, dengan berpakaian seadanya, ia ikut aku lari kekamarku
diseberang,.disitu kami melanjutkan permainan kami sampai pagi. Ratna benar
benar haus, sampai pagi ia bisa bertempur sampai enam kali.

Aku sangat menyukai pergi dengan menggunakan mobil, terutama untuk daerah
daerah yang belum pernah aku kunjungi dengan demikian aku dapat melihat
banyak pemandangan alam serta juga untuk menjaga stamina tubuh. Karena
dengan berkendaraan jarak jauh, pastilah dibutuhkan stamina yang tinggi dan
ini aku sukai. Ada lagi hal hal kecil yang aku sukai karena dengan
berkendaraan seorang diri, kadang kadang aku bisa mendapat rejeki berupa
perempuan cantik yang kerap kali kutemui diperjalanan. Hal ini aku alami
ketika suatu hari aku pergi ke Semarang dengan mengendarai Mercedesku,
semuanya berjalan dengan lancar, aku sempat mampir dibanyak tempat untuk
sekedar bersantai dan menikmati pemandangan alam. Tetapi tanpa diduga disatu
jalan pintas ditengah hutan yang aku sendiri kurang mengenal, aku terjebak
pohon roboh. Aku jadi kuatir, karena kota terakhir yang aku lewati sekitar
50 km dibelakangku, padahal saat itu hari sudah agak sore, dengan kesal aku
keluar dari mobil dan menunggu sebentar, aku sudah hampir memutuskan untuk
kembali kekota Pekalongan ketika kulihat ada sepeda motor datang
menghampiriku. Aku segera melambai lambaikan tangan memintanya berhenti.
Ternyata penumpangnya adalah seorang pria dan wanita, si pria seorang laki
laki dengan tubuh tinggi besar berkumis melintang dan wajah yang kasar
sekali, rupanya adalah seorang polisi hutan, hal ini kulihat dari
seragamnya, yang membuat aku berdebar adalah perempuannya. Si perempuan
benar benar menarik, badannya montok, tinggi besar, berkulit putih bersih
dan wajah yang menarik sekali. Hidung mancung, mata yang bulat dan bibir
penuh menampilkan sensualitas seorang wanita. Si pria dengan tersenyum
senyum yang aku lihat memuakkan sekali menanyakan apa keperluanku, kukatakan
apa dia bisa membantu menyingkirkan pohon yang roboh itu, kukatakan kalau
aku mau bayar berapa saja asal pohon dapat disingkirkan dan aku dapat
meneruskan perjalanan. Dengan wajah yang dibuat sesopan mungkin dia
menyatakan bahwa dia sanggup untuk mencari orang untuk meminggirkan pohon
tersebut. Mendengar itu aku langsung mengeluarkan uang 200 ribu untuk
kuberikan padanya.Kukatakan bahwa itu untuk uang muka, nanti kalau pohonnya
sudah minggir akan aku beri lagi. Menerima uang itu dia segera bertindak,
disuruhnya perempuan cantik yang rupanya isterinya itu untuk menunggu dan
dia segera pergi dengan sepeda motornya. Aku bersorak girang karena
ditinggal berdua dengan perempuan secantik ini ditengah hutan sepi, tetapi
aku tak berani semberono karena aku belum mengerti bagaimana perempuan ini.
Ternyata Narti nama isteri polisi hutan itu gampang diajak bicara bahkan
sedikit genit, apalagi ketika kutanya hal yang agak agak berbau porno,
berkali kali dia tertawa terkikik mendengar perkataanku. Aku benar benar
suka dengan perempuan ini, giginya putih dan rata sekali, susunya besar
sekali, karena kuperhatikan dari tempat dudukku, susunya yang putih itu
kelihatan menonjol sekali. Suasana yang sepi membuat nafsuku jadi naik
keotak, kontolku juga ngaceng tapi aku masih kuatir kalau Narti menolak.
Akhirnya tanpa pikir panjang aku pura pura kencing dipohon dekat mobilku,
aku yakin kalau dia memperhatikan aku, karena cara kencingku sengaja sedikit
kuarahkan padanya. Benar saja Narti tertawa melihat kontolku dan dia
melengos, melihat reaksinya itu aku makin berani, secara sengaja aku
mendekati dia sementara kontolku yang ngaceng masih kukeluarkan dari celana.
"Apa punya suamimu sebesar ini Nar ?" tanyaku penuh nafsu. Narti mendorong
badanku sambil berkata "Lebih besar lagi, sana Pak, nanti ada yang lihat lho
!" Aku tertawa sambil memasukkan kontolku, aku menganggap kata katanya tadi
itu hanya omong kosong, aku yakin dia juga suka denganku, hanya mungkin dia
masih takut kalau ketahuan suaminya yang memang wajahnya galak dan licik
itu. Dalam hati aku sudah memutuskan untuk malam ini bermalam dirumahnya
saja, karena aku benar benar ingin menikmati tubuh Narti yang montok itu.
Rupanya keberuntungan masih berpihak kepadaku, karena ternyata ketika
Hartono suami Narti kembali, dia belum menemukan cukup orang untuk
memindahkan pohon itu, mungkin agak malam baru ada cukup banyak orang.
Dengan nekad aku bertanya apakah aku bisa bermalam saja dirumahnya agar
besok pagi bisa melanjutkan perjalanan Seperti yang kuduga, dengan senang
hati Hartono mengajak aku kerumahnya, aku menarik nafas lega, ketika aku
menoleh ke Narti, Narti yang berdiri dibelakang suaminya tersenyum mendengar
aku akan bermalam dirumahnya. Kukeluarkan lagi uang 200 ribu dan kuberikan
pada Narti dengan pesan untuk belanjanya. Narti ragu ragu menerima, tetapi
aku paksa saja. Hartono sangat senang, dia terus tersenyum dan berbicara
panjang lebar, tetapi tak bisa menghilangkan kesan kejam dan licik dari
wajahnya. Aku sendiri sempat heran, kenapa orang secantik Narti bisa dikawin
pria seperti Hartono ini.
Kuiikuti sepeda motor Hartono yang bergoncengan dengan Narti untuk menuju
rumahnya, ternyata rumah mereka agak jauh ditengah hutan jati yang menjadi
tanggung jawab Hartono sebagai polisi hutan. Rumahnya cukup besar tetapi
masih terbuat dari bambu, dikelilingi oleh pohon jati yang besar. Meskipun
terpencil, ternyata rumah itu memiliki tenaga listrik yang berasal dari
diesel kecil. Menurut Hartono tenaga listrik diperlukan untuk komunikasinya
dengan pusat pengawasan hutan di Semarang. Aku mendapat kamar yang kecil
dengan dinding dari bambu, tetapi keadaan kamar itu cukup rapi dan bersih.
Ketika aku dan Hartono sedang berbincang, kulihat Narti lewat dengan hanya
memakai sarung yang menutupi buah dadanya, aku menelan ludah melihat
kemulusan pundaknya serta susunya yang menyembul keluar dari balik sarung
itu, aku pura pura tak memperhatikannya, karena aku kuatir kalau Hartono
jadi curiga kepadaku. Aku terus mengharap agar Hartono mau keluar sebentar
agar aku bisa mencari alasan untuk mengintai Narti yang sedang mandi tetapi
Hartono terus saja berbicara tanpa henti. Akhirnya aku jadi bosan dan putus
asa, aku memperkirakan bahwa tak mungkin aku dapat menikmati tubuh Narti
karena suasananya yang tak memungkinkan ini. Sampai Narti masuk kembali
setelah dari kamar mandi, aku masih terus bercakap dengan Hartono. Narti
kuperhatikan sedang mempersiapkan makan malam untuk kami. Makan malam
sederhana sekali tetapi Narti rupanya pandai memasak dan lagi pula dia ingin
menjamuku sehingga segala persediaan makanan dikeluarkan. Selesai makan aku
segera minta permisi untuk tidur. Rupanya kamarku bersebelahan dengan kamar
Narti dan Hartono, karena tadi kulihat Narti keluar masuk kekamar sebelah
begitu juga dengan Hartono. Setelah kurapatkan pintu aku duduk diatas tempat
tidur sambil melamun, saat itulah pandanganku tertambat pada sebuah lubang
kecil didinding bambu pembatas kamarku dan kamar Hartono, letaknya agak
tinggi sehingga aku harus mencari kursi untuk memanjat. Setelah aku yakin
bahwa pintu kamarku telah terkunci rapat, barulah aku berani mengintai
kekamar sebelah, aku jadi berdebar debar, karena aku bisa melihat
pemandangan dikamar sebelah dengan sangat leluasa sekali, aku dapat melihat
tempat tidur mereka dan semua bagian kamar itu tanpa ada yang tersisa.
Kubayangkan seandainya nanti Narti berganti pakaian atau apa dikamar itu,
pasti aku dapat melihatnya dengan jelas. Kuperhatikan Narti dan Hartono
masih bercakap cakap diluar, kadang kadang kudengar tertawa Narti yang
merangsang, mungkin mereka sedang bercumbu, agar mereka tak curiga kalau aku
tak tidur, maka aku sengaja mematikan lampu kamarku.
Tak lama kemudian kudengar pintu kamar Hartono dibuka dan langkah kaki
memasukinya, aku segera berjingkat menaiki kursiku dan mengintai, kulihat
Narti didalam kamar sendirian, entah dimana Hartono, tetapi tak lama
kemudian Hartono masuk kekamar dan menyusul Narti yang sudah berbaring
diatas tempat tidur itu. Hartono kulihat merangkul Narti dan berbisik bisik.
Setelah itu keduanya bangkit dari berbaringnya dan sama sama membuka
pakaiannya, hatiku berdebar keras. Seperti yang kuduga, mereka akan
bersetubuh ! Tubuh Narti yang telanjang bulat betul betul membuat liurku
bertetesan, mulus dan montok sekali, susunya seperti semangka dengan pentil
yang kecil sekali sementara perutnya langsing dengan selangkangan yang penuh
oleh jembut hitam keriting. Tetapi yang paling membuat aku takjub adalah
Hartono ! Kontol Hartono benar benar hebat, panjangnya melebihi panjang
kontolku ditambah lagi dengan ujungnya yang membengkak seperti jamur besar
sekali. Aku membayangkan betapa leganya Narti merasakan tusukan kontol
sebesar itu. Dasar orang desa, setelah sama sama telanjang, Narti langsung
tidur mengangkang sambil tangannya merentangkan liang nonoknya sendiri,
Hartonopun langsung menindih Narti dan menuntun kontolnya keliang nonok
Narti. Aku melotot melihat nonok Narti yang merah tua menganga menanti
kontol Hartono, begitu kontol Hartono masuk kedalam liangnya, Narti langsung
mengangkat kedua kakinya tinggi tinggi sambil direntangkan lebar lebar,
rupanya dia juga merasa kalau kontol suaminya terlalu gede. Dengan sangat
cepat Hartono menggerak gerakkan pantatnya maju mundur sementara Narti
dengan cepat pula memutar mutar pantatnya mengimbangi gerakan Hartono !
Suara Narti yang merintih rintih membuat aku jadi makin bernafsu, kontolku
rasanya tak tahan ingin mencari nonok untuk kusetubuhi, tetapi sungguh sial
nasibku, ditengah hutan tanpa nonok, aku justru harus menyaksikan adegan
persetubuhnan yang seperti ini. Hartono dengan kasar terus merojok nonok
Narti sambil mulutnya menciumi susu Narti, tiba tiba saja Hartono melenguh
seperti kerbau yang digorok dan gerakan pantatnya mengejang ngejang. Aku
yakin kalau Hartono sudah memuntahkan air maninya. Setelah berdiam diri
beberapa saat, Hartono langsung menggulingkan dirinya kesamping sehingga
kontolnya yang sekarang sudah mengkerut itu tampak menjijikkan karena penuh
dengan lendir air maninya. Kuperhatikan wajah Narti ternyata tak sedikitpun
terlihat kepuasan diwajah itu, justru yang terlihat adalah rasa kecewa,
rupanya Narti belum berhasil mencapai kepuasannya sementara Hartono sudah
loyo. Narti berbaring terlentang dengan kakinya terkuak lebar menampakkan
nonoknya yang berkilau karena lendir dari kontol Hartono, tangannya diam
diam menggosok gosok susunya. Hartono sendiri, tampaknya tak perduli dengan
isterinya, ia menarik selimut dan langsung tidur dengan membelakangi Narti.
Aku merasa inilah saatnya bagiku untuk beraksi, tetapi apakah aku harus
masuk kekamar Narti, bukankah itu terlalu berbahaya. Narti sendiri kelihatan
melamun sambil tetap berbaring telanjang bulat, ia menggoyang goyangkan
tubuh suaminya tetapi tak ada reaksi dari Hartono, dengan kecewa ia memukul
punggung Hartono dan tiba tiba saja ia bangkit dan turun dari tempat
tidurnya, diraihnya sarung diatas tempat tidur serta dilibatkan kebadannya
lalu ia keluar dari kamarnya. Aku berdebar, apakah mungkin ia akan masuk
kekamarku ini ? tetapi dugaanku keliru, rupanya Narti menuju kebelakang
rumahnya untuk membersihkan nonoknya.
Akupun segera menyusul keluar dari kamarku, saat itu aku hanya memakai
sarung yang dipinjamkan Narti sebagai selimut, didalamnya akupun tak memakai
apa apa. Kontolku yang ngaceng membuat sarungku jadi menonjol seperti orang
sunatan. Nafsuku yang sudah memuncak membuat aku jadi nekad luar biasa
disamping aku yakin sekali bahwa Narti pasti mau main denganku,
permasalahannya bagaimana agar suaminya tidak tahu. Ketika aku sampai dekat
sumur, Narti baru saja keluar dari kamar mandinya, aku langsung memeluknya
sambil berbisik agar jangan ribut. Narti terkejut melihatku, tetapi seperti
yang sudah kuduga, ia diam saja ketika tanganku meremas remas susunya serta
juga nonoknya yang masih basah itu, ketika kubisikkan agar dia menungging
supaya bisa memasukkan kontolku, Narti menurut saja, dengan posisi seperti
itu, kontolku dengan lancar berhasil memasuki liang surga Narti, rasanya
peret sekali karena Narti baru saja mencucinya, aku meraba raba mencari
susunya dan setelah ketemu langsung kuremas dengan penuh nafsu. Narti
sendiri juga membantu rasa nikmatku dengan mengelus elus buah pelirku
sementara dia sendiri asyik memutar mutar pantatnya. Tiba tiba Narti
berbisik "Pak ayo dikamar Bapak saja, nanti kelihatan orang kalau disini !"
Dengan penuh rasa kuatir aku bertanya "lalu kalau suamimu bangun gimana ?"
Narti menjawab, "tak mungkin dia bangun, kalau tidur seperti orang mati "
Dengan mengindap indap aku dan Narti masuk kekamarku, dari omongan Narti aku
yakin kalau Narti seringkali memasukkan laki laki dalam rumahnya, jadi
meskipun kelihatannya sangar, ternyata Hartono seorang pria yang bodoh, aku
tersenyum membayangkan hal ini. Dikamar, Narti langsung berbaring dan
menguakkan pahanya, kontolku dituntunnya memasuki nonoknya, aku sangat
menyukai suasana seperti ini, perempuan montok dengan tubuh putih mulus,
nonok yang merekah lebar siap menerima serangan kontolku. Begitu kontolku
masuk semua, Narti menyuruhku diam dan dia yang mulai memutar mutar
pantatnya pelan pelan tetapi mantap sekali. Aku memejamkan mata merasakan
kenikmatan yang diberikan oleh Narti ini, kuciumi bibirnya dan dia juga
balas menggigiti bibirku sambil memeluk badanku. Rasanya masih baru beberapa
menit Narti memutar pantatnya ketika tiba tiba ia mencakar punggungku dan
merintih pelan. Kurasakan nonoknya mengejang saat ia memuntahkan
kenikmatannya. Aku diam saja, karena memang aku kepengen dia puas barulah
nanti aku yang akan mencari kepuasanku sendiri. Benar saja, setelah
dirasanya sudah lega dan puas, Narti menyuruhku mulai menggoyangkan
kontolku, aku sendiri sudah sekian lama menahan nafsuku yang bergejolak,
maka tak lama aku sudah memuntahkan air maniku, kutancapkan dalam dalam
kontolku supaya benar benar dapat kunikmati kepuasan ini. Narti terus
mengelus elus punggungku dan menciumi aku. Rupanya dia benar benar senang
denganku disamping dia berhasil mencapai kepuasannya. Saat itulah dia
berbisik kepadaku, agar supaya besok pagi berpura pura badan sakit semua,
pasti nanti Hartono menyuruh Narti untuk memijat, saat itu bisa main sekali
lagi. Kucabut kontolku dan kuminta Narti kembali kekamarnya setelah
sebelumnya kuberi uang 300 ribu, dengan pelan pelan Narti keluar kamarku dan
menuju sumur untuk cuci lagi. Aku menutup pintu kamarku dan tidur pulas yang
kuingat adalah besok pagi harus berpura pura sakit agar supaya Narti bisa
memijatku, dan begitu Hartono berangkat, aku bisa menggarap Narti dengan
bebas !

Paginya aku terbangun setelah mendengar suara orang berbicara dikamar
sebelah, ketika kulirik jam tanganku rupanya hari sudah pukul 7 pagi, aku
segera meloncat dari tempat tidurku, tetapi aku segera insaf bahwa pagi ini
aku harus berpura pura sakit agar supaya bisa dipijat Narti. Dengan bergaya
seolah olah kelelahan aku keluar dari kamar dan langsung duduk dikursi meja
makan, Hartono segera menyambutku dengan ucapan selamat paginya yang
memuakkan, Narti sendiri juga menyapaku dengan menanyakan apakah tidurku
nyenyak. Aku menjawab bahwa badanku sakit semua entah karena apa. Seperti
yang sudah diperkirakan Narti, dengan cepat Hartono menyatakan kalau
sebaiknya aku tiduran saja biar nanti dipijit isterinya. Aku hanya
mengangguk seolah olah kesal dengan keadaanku, padahal dalam hatiku aku
bersorak gembira. Kulirik Narti yang hanya memakai sarung dilibatkan diatas
buah dadanya itu, aku yakin dia tak memakai apapun dibalik sarungnya itu,
aku meneguk teh yang tersedia dimeja dan segera kembali kekamarku. Sedang
aku berbaring melamun menantikan Hartono berangkat, tiba tiba kudengar suara
Hartono dan Narti yang berbisik bisik dikamar sebelah. Ketika kuintip,
astaga...... benar benar jago si Hartono itu, karena ternyata dia sempat
lagi mendayung nonok Narti. Dengan hanya memelorotkan celana panjangnya
sementara Narti telanjang bulat, dengan rakus Hartono menyodok nyodokkan
pantatnya sementara tangannya meremas remas pantat isterinya yang bulat dan
montok itu. Kaki Narti tergantung diatas pundaknya. Aku hanya dapat berkata
dalam hati, awas nanti kalau kamu sudah pergi pasti akan kulumat habis
isterimu itu.

Tak lama kemudian kudengar Hartono mengetuk pintu kamarku dan ketika
kupersilahkan masuk, Hartono masuk bersama Narti yang kulihat tambah cantik
dan segar setelah disetubuhi suaminya itu. Dengan sopan Hartono pamit dan
sekaligus juga mengantarkan Narti yang akan memijat aku. Dengan berpura pura
menahan rasa sakit, aku mengambil dompetku dan memberikan lagi uang pada
Hartono sebanyak 500 ribu, kusuruh dia memakainya untuk memindahkan pohon
yang menghalangi jalan itu. Mata Hartono mendelik melihat begitu banyak uang
yang kuberikan, ia segera bergegas berangkat tanpa menoleh lagi pada
isterinya, aku yakin kalau uang tersebut paling hanya diberikan sebagian
kecil pada mereka yang memotong pohon, sisanya masuk kantong pribadinya.
Kutoleh Narti yang saat itu sudah memakai daster, tanpa basa basi aku
langsung merengkuh tubuh Narti yang montok itu kedalam pelukanku dan
langsung kucium bibirnya yang penuh itu. Narti memeluk tubuhku erat erat,
Narti sangat pandai memainkan lidahnya, terasa hangat sekali ketika lidahnya
menyelusup diantara bibirku. Tanganku asyik meremas susu Narti yang kencang
dan padat itu, pentilnya kupuntir puntir membuat Narti memejamkan matanya
karena geli. Dengan sigap aku menarik daster Narti, dan seperti biasanya
Narti sudah tak mengenakan apa apa dibalik dasternya itu. Tubuh Narti benar
benar aduhai dan merangsang seleraku, tubuhnya tinggi besar, putih dengan
susu yang luar biasa montoknya ditambah nonok yang berjembut lebat
mencembung. Kalau tadi malam aku tak terlalu jelas melihatnya, maka kali ini
aku benar benar puas, ketika kubentangkan bibir nonoknya, itilnya yang
sebesar biji salak langsung menonjol keluar. ketika kusentuh dengan lidahku,
Narti langsung menjerit lirih. Aku langsung mencopot celanaku sehingga
kontolku langsung mengangguk angguk bebas. Ketika kudekatkan kontolku
kewajah Narti, dengan sigap pula Narti menggenggamnya dan kemudian
mengulumnya. Kulihat bibir Narti yang tebal itu sampai membentuk huruf O
karena kontolku yang besar itu hampir seluruhnya memadati mulutnya, Narti
sepertinya sengaja memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum
kontolku ia berkali kali melirik kearahku. Aku hanya dapat menyeringai
keenakan dengan servis Narti ini. Mungkin posisiku kurang tepat bagi Narti
yang sudah berbaring itu sementara aku sendiri masih berdiri disampingnya,
maka Narti melepaskan kulumannya dan menyuruhku berbaring disebelahnya.
Setelah aku berbaring dengan agak tergesa gesa Narti merentangkan kedua
kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka disekeliling kontolku, mulai
dari pelirku, terus naik keatas sampai keliang kencingku semuanya
dijilatinya, bahkan Narti dengan telaten menjilati liang duburku yang
membuat aku benar benar blingsatan. Aku hanya dapat meremas remas susu Narti
serta merojok nonoknya dengan jariku. Aku sudah tak tahan dengan kelihaian
Narti ini, kusuruh dia berhenti tetapi Narti tak memperdulikanku malahan ia
makin lincah mengeluar masukkan kontolku kedalam mulutnya yang hangat itu.
Tanpa dapat dicegah lagi air maniku menyembur keluar yang disambut Narti
dengan pijatan pijatan lembut dibatang kontolku seakan akan dia ingin
memeras air maniku agar keluar sampai tuntas. Ketika Narti merasa kalau air
maniku sudah habis keluar semua, dengan pelan pelan dia melepaskan
kulumannya, sambil tersenyum manis ia melirik kearahku. Kulihat ditepi
bibirnya ada sisa air maniku yang masih menempel dibibirnya, sementara yang
lain rupanya sudah habis ditelan oleh Narti. Narti langsung berbaring
disampingku dan berbisik "Bapak diam saja ya, biar saya yang memuaskan Bapak
!" Aku tersenyum sambil menciumi bibirnya yang masih berlepotan air maniku
sendiri itu. Dengan tubuh telanjang bulat Narti mulai memijat badanku yang
memang jadi agak loyo juga setelah tegang untuk beberapa waktu itu, pijatan
Narti benar benar nyaman, apalagi ketika tangannya mulai mengurut kontolku
yang setengah ngaceng itu, tanpa dihisap atau diapa apakan, kontolku ngaceng
lagi, mungkin karena memang karena aku masih kepengen main beberapa kali
lagi maka nafsuku masih bergelora. Aku juga makin bernafsu melihat susu
Narti yang pentilnya masih kaku itu, apalagi ketika kuraba nonoknya ternyata
itilnya juga masih membengkak menandakan kalau Narti juga masih bernafsu
hanya saja penampilannya sungguh kalem . Melihat kontolku yang sudah tegak
itu, Narti langsung mengangkangi aku dan menepatkan kontolku diantara bibir
nonoknya, kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sehingga akhirnya
kontolku habis ditelan nonoknya itu. Setelah kontolku habis ditelan
nonoknya, Narti bukannya menaik turunkan pantatnya, dia justru memutar
pantatnya pelan pelan sambil sesekali ditekan, aku merasakan ujung kontolku
menyentuh dinding empuk yang rupanya leher rahim Narti. Setiap kali Narti
menekan pantatnya, aku menggelinjang menahan rasa geli yang sangat terasa
diujung kontolku itu. Putaran pantat Narti membuktikan kalau Narti memang
jago bersetubuh, kontolku rasanya seperti diremas remas sambil sekaligus
dihisap hisap oleh dinding nonok Narti. Hebatnya nonok Narti sama sekali
tidak becek, malahan terasa legit sekali, seolah olah Narti sama sekali tak
terangsang oleh permainan ini. Padahal aku yakin seyakin yakinnya bahwa
Narti juga sangat bernafsu, karena kulihat dari wajahnya yang memerah, serta
susu dan itilnya yang mengeras seperti batu itu. Aku makin lama makin tak
tahan dengan gerakan Narti itu, kudorong ia kesamping sehingga aku dapat
menindihinya tanpa perlu melepaskan jepitan nonoknya. Begitu posisiku sudah
diatas, langsung kutarik kontolku dan kutekan sedalam dalamnya memasuki
nonok Narti. Narti menggigit bibirnya sambil memejamkan mata, kakinya
diangkat tinggi tinggi serta sekaligus dipentangnya pahanya lebar lebar
sehingga kontolku berhasil masuk kebagian yang paling dalam dari nonok
Narti. Rojokanku sudah mulai tak teratur karena aku menahan rasa geli yang
sudah memenuhi ujung kontolku, sementara Narti sendiri sudah merintih rintih
sambil menggigiti pundakku. Mulutku menciumi susu Narti dan menghisap
pentilnya yang kaku itu, ketika Narti memintaku untuk menggigiti susunya,
tanpa pikir panjang aku mulai menggigit daging empuk itu dengan penuh
gairah, Narti makin keras merintih rintih, kepalaku yang menempel disusunya
ditekan keras keras membuatku tak bisa bernafas lagi, saat itulah tanpa
permisi lagi kurasakan nonok Narti mengejang dan menyemprotkan cairan hangat
membasahi seluruh batang kontolku. Ketika aku mau menarik pantatku untuk
memompa nonoknya, Narti dengan keras menahan pantatku agar terus menusuk
bagian yang paling dalam dari nonoknya sementara pantatnya bergoyang terus
diatas ranjang merasakan sisa sisa kenikmatannya. Dengan suara agak gemetar
merasakan kenikmatannya, Narti menanyaiku apakah aku sudah keluar, ketika
aku menggelengkan kepala, Narti menyuruhku mencabut kontolku. Ketika
kontolku kucabut, Narti langsung menjilati kontolku sehingga cairan lendir
yang berkumpul disitu menjadi bersih. Kontolku saat itu warnanya sudah merah
padam dengan gagahnya tegas keatas dengan urat uratnya yang melingkar
lingkar disekeliling batang kontolnya. Narti sesekali menjilati ujung
kontolku dan juga buah pelirku. Ketika Narti melihat kontolku sudah bersih
dari lendir yang membuat licin itu, dia kembali menyuruhku memasukkan
kontolku, tetapi kali ini Narti yang menuntun kontolku bukannya keliang
nonoknya melainkan keliang duburnya yang sempit itu. Aku menggigit bibirku
merasakan sempit serta hangatnya liang dubur Narti, ketika kontolku sudah
menyelusup masuk sampai kepangkalnya, Narti menyuruhku memaju mundurkan
kontolku, aku mulai menggerakkan kontolku pelan pelan sekali. Kurasakan
betapa ketatnya dinding dubur Narti menjepit batang kontolku itu, terasa
menjalar diseluruh batangnya bahkan terus menjalar sampai keujung kakiku.
Benar benar rasa nikmat yang luar biasa, baru beberapa kali aku menggerakkan
kontolku, aku menghentikannya karena aku kuatir kalau air maniku memancar,
rasanya sayang sekali jika kenikmatan itu harus segera lenyap. Narti
menggigit pundakku ketika aku menghentikan gerakanku itu, ia mendesah minta
agar aku meneruskan permainanku. Setelah kurasa agak tenang, aku mulai lagi
menggerakkan kontolku menyelusuri dinding dubur Narti itu, dasar sudah lama
menahan rasa geli, tanpa dikomando lagi air maniku tiba tiba memancar dengan
derasnya, aku melenguh keras sekali sementara Narti juga mencengkeram
pundakku. Aku jadi loyo setelah dua kali memuntahkan air mani yang aku yakin
pasti sangat banyak. Tanpa tenaga lagi aku terguling disamping tubuh Narti,
kulihat kontolku yang masih setengah ngaceng itu berkilat oleh lendir yang
membasahinya. Narti langsung bangun dari tempat tidur, dengan telanjang
bulat ia keluar mengambil air dan dibersihkannya kontolku itu, aku tahu kali
ini dia tak mau membersihkannya dengan lidah karena mungkin dia kuatir kalau
ada kotorannya yang melekat. Setelah itu, disuruhnya aku telungkup agar
memudahkan dia memijatku, aku jadi tertidur, disamping karena memang lelah,
pijatan Narti benar benar enak, sambil memijat sesekali dia menggigiti
punggungku dan pantatku. Aku benar benar puas menghadapi perempuan satu ini.
Aku langsung memikirkan bagaimana caranya agar perempuan ini bisa ikut aku
ke Jakarta dan melayani aku sepuas puasnya, bila perlu biar dia kupekerjakan
dirumahku agar supaya aku dapat setiap waktu menikmatinya. Nanti aku akan
bicara pada suaminya, karena kunci utama adalah suaminya, kalau suaminya aku
beri pekerjaan yang enak, pasti isterinya juga
ikut..............................

Aku tertidur cukup lama, ketika terbangun badanku terasa segar sekali,
karena selama aku tidur tadi Narti terus memijit tubuhku. Ketika aku
membalikkan tubuhku, ternyata Narti masih saja telanjang bulat, kontolku
mulai ngaceng lagi melihat tubuh Narti yang sintal itu, tanganku meraih
susunya dan kuremas dengan penuh gairah, Nartipun mulai meremas remas
kontolku yang tegang itu. Entah darimana, ia memberikan semacam minyak untuk
menggosok kontolku, terasa hangat dibatang kontolku. Ketika kutanya minyak
apa itu, Narti menjawab bahwa itu minyak bulus, remasan Narti yang lembut
membuat kontolku makin membengkak, mungkin juga akibat pengaruh minyak bulus
itu. Sedang asyik asyiknya Narti mengurut kontolku, tiba tiba kudengar suara
perempuan memanggil manggil nama Narti sambil mengetuk pintu depan. Aku agak
terkejut, tetapi kulihat Narti tenang saja, " itu Luluk tetangga sebelah,
biar saya bukakan dulu" Setelah meraih sarung dan dilibatkan ketubuhnya,
Narti segera keluar untuk membukakan pintu, aku diam saja didalam kamar
sambil memandang kontolku yang sudah tegak lurus seperti Monas itu. Tak
berapa lama kudengar suara pintu ditutup dan langkah kaki menuju kedalam,
hatiku lega karena kupikir Narti akan berbincang lama dengan tamunya itu.
Tetapi diluar dugaanku, Narti masuk kembali kekamarku sambil mengajak
tamunya tadi, seorang gadis muda, aku terduduk kaget, karena tak menyangka.
Narti dan gadis muda tadi hanya tersenyum melihat aku terduduk itu. Melihat
ini semua, otakku bekerja cepat, kalau Narti berani mengajak perempuan lain
kekamarku padahal dia tahu aku sedang telanjang bulat, pasti perempuan ini
juga bisa disantap ! Tetapi yang membuat aku jadi bingung adalah perempuan
ini kelihatannya masih remaja sekali, umurnya paling belum 17 tahun, apakah
dia sudah berpengalaman ? Narti memperkenalkan padaku gadis remaja itu
katanya namanya Luluk, dia tinggal didekat rumah Narti dan Luluk juga pandai
memijat, sambil berkata Narti mengedipkan matanya. Aku mulai yakin bahwa
gadis remaja yang kelihatan segar sekali ini rupanya juga doyan kontol. Aku
hanya tersenyum sambil memperhatikan Luluk yang hanya tersenyum senyum itu.
Wajahnya cantik dengan hidung yang bangir dan badan langsing tetapi padat
sekali. Pakaiannya sederhana, tetapi tak dapat menyembunyikan kecantikan
alamiahnya. Aku tak berani bertanya macam macam pada Narti, tetapi aku
menduga bahwa Luluk pasti sudah pernah dimakan oleh Hartono suami Narti,
bahkan paling tidak mereka sering main bertiga sehingga Narti tak canggung
mengajak Luluk masuk. Memikir ini semua aku berkata, "Sebentar ya Luk, kamu
duduk dulu, saya mau meneruskan hajat yang belum selesai" langsung aku tarik
tangan Narti dan kubuka jariknya. Narti hanya menurut saja dan segera
terlentang ditempat tidur sambil mengangkat kakinya lebar lebar, ketika
kulirik Luluk, kulihat dia duduk dikursi sambil memperhatikan Narti. Tanpa
sungkan lagi aku langsung mengarahkan kontolku keliang nonok Narti dan
sekali tekan kontolku amblas. Narti merintih rintih sambil memutar mutar
pantatnya, sementara tangannya memeluk pinggangku erat erat. Aku dengan
penuh nafsu menggigiti susu Narti yang kenyal itu, nafsuku benar benar
memuncak, kurasakan peretnya nonok Narti menjepit kontolku, berkali kali
Narti berbisik katanya kontolku bertambah mekar. Aku diam saja karena
kurasakan kenikmatan yang tiada taranya ini. Seperti yang sudah kuduga,
Narti tak dapat menahan nafsunya lagi, dia tiba tiba saja mengerang dan
mengejang, kurasakan nonoknya menjepit kontolku keras sekali dibarengi
dengan licinnya liang nonok Narti. Rupanya Narti keok, aku yang sedang
tanggung meneruskan genjotanku agar kenikmatanku juga segera tiba, tetapi
Narti menahan pantatku sehingga aku tak dapat bergerak. Saat itu Narti
berkata kepada Luluk "Luk, ayo ikut, kok diam saja !" Ketika kulirik Luluk,
kulihat wajahnya merah padam, entah malu entah menahan nafsunya, yang jelas
mendengar ajakan Narti dia langsung berdiri dan membuka pakaiannya. Aku
menelan ludah melihat Luluk telanjang bulat didepanku, susunya putih dan
besar sekali untuk remaja seusianya, kencang dengan pentil yang mendongak
keatas. Perutnya rata dengan bukit nonok yang mencembung dihiasi jembut yang
cukup tebal. Begitu mendekat Luluk langsung menjilati liang nonok Narti dari
belakang, padahal kontolku masih tertanam diliang nonok itu. Kulihat Narti
memejamkan matanya sambil berbisik, "ayo pak Luluk sudah gatal, cepat tiduri
dia !" Tanpa menunggu dua kali aku mencabut kontolku dan turun dari tempat
tidur, Luluk hanya tersenyum melihat aku mencabut kontolku, tetapi dia
kembali asyik menjilati bibir nonok Narti. Melihat posisinya yang agak
menungging, maka aku berjongkok dan mendekati Luluk dari belakang, nonok
Luluk hanya berupa garis panjang agak kemerah merahan, tanpa disuruh aku
langsung menjilatinya, merasakan jilatanku, Luluk langsung mengangkangkan
kakinya sehingga mulutku lebih mudah mencapai bibir nonoknya, bahkan sampai
keitilnya yang sudah kaku itu. Aku yang sudah hampir "muntah" merasa tak
tahan lagi, langsung saja ku genggam tongkat wasiatku dan kutusukkan kenonok
Luluk. Nonok Luluk yang sudah basah dengan mudah menelan kontolku yang
termasuk besar itu, namun meskipun demikian, nonok Luluk tetap seolah olah
menggenggam kontolku dan sepertinya meremas remasnya, sungguh sungguh
nikmat, sampai sampai aku tak berani menggerakkan pantatku lagi karena
kuatir kalau spermaku muncrat. Dalam hal nonok, aku harus mengakui bahwa
kepunyaan Luluk lebih enak daripada kepunyaan Narti, tetapi kalau dari segi
seksinya, tetap Narti lebih meyakinkan. Kuremas remas susu Luluk yang kenyal
itu, Luluk hanya diam saja dan mulutnya tetap asyik menjilati nonok Narti ,
aku kagum pada Luluk yang mampu memuaskan dua orang sekaligus, pasti ini
didikan Narti ! Benar saja tak lama kemudian Narti merintih keras sambil
menggerak gerakkan kepalanya, rupanya ia sudah mencapai klimaksnya. Aku
melihat semua ini jadi tak tahan, tanpa dapat kucegah lagi, spermaku
memancar keluar dengan derasnya menghantam dinding nonok Luluk. Aku benar
benar lelah, tenagaku terkuras habis, tanpa memperdulikan Luluk lagi, aku
langsung mencabut kontolku sehingga air maniku meleleh keluar dari liang
nonok Luluk, aku langsung membaringkan diriku disamping Narti dan memejamkan
mataku untuk tidur, aku rasanya sudah tak perduli lagi dengan Hartono,
biarpun dia saat ini pulang aku tetap akan tidur dan menghilangkan penat
disekujur badanku ini. Tanpa kuduga, dengan lemah lembut kedua perempuan
yang sudah memuaskan aku itu sama sama memijati tubuhku. Narti memijat
punggungku sedang Luluk memijati kakiku. Aku merasa seperti dalam harem
saja, tanpa terasa aku sudah lelap dan tertidur menikmati semua rejekiku
ini...............

Nah, temen temen, selamat bermastur dengan ceritaku ini, komentarnya ya aku
tunggu di prentice98@yahoo.com

TAMAT

Visits: 100440
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 17513   Help/FAQ   Terms   Imprint