Lalu apakah aku menyukai peranku sebagai wanita penjaja seks. Ya aku menyukainya. Aku merasa diriku adalah orang yang paling beruntung. Aku dapat menikmati sesuatu yang di idam idamkan banyak orang dan di bayar pula.
Namun kini hari hari menjuial diri sudah lewat. Aku tidak lagi meminta bayaran. Penghasilanku dari sebuah Health Spa yang aku miliki sudah lebih dari cukup. Namun banyak hal hal yang sampai sekarang tidak dapat kupungkiri.
Obsesiku akan seks seiring dengan berjalan nya waktu semakin menggebu gebu. Di umurku yang sudah kepala 3 sekarang ini aku masih saja liar. Aku masih belum bisa menolak sebuah ajakan, rayuan atau seduction sehalus apapun yang kuterima.
Entahlah aku sendiri juga tidak mengerti. Seperti beberapa hari yang lalu misalnya, beberapa teman yang memang tau persis seperti apa sifatku mengundangku ke sebuah party. Dari awal aku sudah tahu party semacam apa yang mereka tawarkan. Party dimana tidak ada wanita lain. Party dimana aku akan menjadi santapan mereka.
Party dimana pakaian ku sudah pasti berterbangan seketika aku sampai disana. Keberatan kah aku menerima undangan mereka? tidak sama sekali tidak. Aku sama sekali tidak keberatan. Bahkan ketika temanku bilang aku harus mengenakan sesuatu yang sexy. Bahkan ketika dia tambahkan aku ga usah repot repot memakai bra. Semua ku ikuti.
Ketika ku sampai disana sudah ada 4 orang. Dua diantaranya adalah orang yang benar benar asing bagiku. Aku belum pernah berkenalan dengan mereka. Dua yang lain nya adalah kawanku. Kami minum dan bercanda. Bernyanyi dan lain lain nya. Tentu saja selalu ada canda saru dari kawan kawanku ini. Entah sekedar raba raba ataupun lebih.
Seperti biasa aku di daulat untuk telanjang. Huh dasar cowok pikirku, maunya selalu perempuan yang telanjang duluan. Tapi ini bukan masalah besar bagiku. Aku hanya tertawa ketika mereka mulai melucuti pakaianku. Rasa senang dan sensasi erotis yang sudah kurasakan sejak datang di tempat ini makin menghanyutkan ku.
Tanpa ampun mereka menjamah setiap bagian tubuh telanjangku. Inilah saat saat aku merasa menjadi wanita paling sexy di dunia. Duduk telanjang di tengah tengah sofa di kelilingi empat laki laki muda. Yang semuanya menjamah tubuhku. Di iringi pujian pujian atas tubuhku.
Aku bahkan mengikat rambutku yang keriting ini, dengan kedua tanganku. Dengan demikian tubuhku agak menjenting dan dadaku membusung sementara dua diantara mereka mengomentari tentang kenyalnya payudaraku. Ya rambutku yang panjang ini harus kuikat. Sebab tentu sebentar lagi mereka akan memintaku melakukan oral.
Semua berdasar atas kepasrahaan dan kerelaan. Kerelaanku melakukan oral berlama lama sudah terkenal diantara teman temanku. Tidak aku tidak pernah protes. Tidak akan ada alasan macam macam seperti kebanyakan wanita lain. Aku tidak akan bilang aku pegal ataupun lainnya. Tidak aku akan dengan rela melakukan hal ini.
Bahkan ketika kepalaku didorong demikian kuat hingga seluruh penis tertanam dalam mulutku. Bahkan ketika penis itu berlendir akibat baru saja di cabut dari vaginaku. Aku akan dengan kerelaan dan kepasrahan penuh melakukan nya.
Bahkan ketika ada yang menusukkan penis nya kedalam vaginaku, aku tetap setia melakukan oralku. Tanpa kuperdulikan siapa di bawah sana yang memberi kenikmatan pada kewanitaanku. Aku hampir tidak mempunyai rasa jijik. Aku bahkan rela melakukan jilatan jilatan hingga ke lubang anus laki laki. Aku tidak keberatan untuk menusukkan lidahku disana.
Bagaimana dengan Anal? oh aku tidak keberatan sama sekali. Sakit? memang sangat sakit pada mulanya. Hanya saja sekarang sekarang ini aku dan teman temanku tidak begitu menyukainya. Kenapa? Messy things! yah consequences of anal sex is messy things. and it is yuck! Thats it.
Sifatku ini yang membuat teman temanku begitu menyukaiku. Empat laki laki, thats means hours. Yah daya tahanku luar biasa memang. Aku tidak mengeluh. Bahkan ketika mereka tidak memberi ampun, ketika mereka bahkan tidak memberi kesempatan padaku untuk bernafas pada orgasmeku. Aku tidak pernah keberatan.
Aku ini tipe penikmat sejati. Walah peluh telah membasahi kami. Walau semua itu terkadang sakit dan ngilu. Paling banter aku mendesah dan meracau.