Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: 2,3,5,7,11,?,17 · More of this
    Search
 

   

Akhir Pekan yang Panjang II
Selesai mandi, aku sempat tidur sekitar 3 jam sebelum pergi ke pesta olahraga.
Sambil berjalan ke gymnasium tempat pertandingan, kubeli segelas besar kopi pekat untuk membantuku tetap bangun hari ini. Ketika Doni terlintas dipikiranku, aku jadi tersenyum2 membayangkan dia ngos-ngosan lari di lapangan basket.

Pertandingan basket ternyata baru saja akan dimulai, Doni dan Budi sedang berbicara dengan tim masing2 di pojok yang berseberangan.
Doni terlihat agak capai dan lesu, tetapi begitu dia melihatku, sebuah senyum lebar berkembang di mulutnya. Aku membalas dengan senyum juga dan sebuah blow-kiss.. aku yakin dia tahu bahwa apa yang terjadi tadi malam itu untuk membuat dia kalah dalam pertandingan basket ini.. ternyata dia tidak terlalu peduli rupanya.

Setelah permainan itu berlangsung sekitar 30 menit, mulai terlihat gejala2 stamina Doni sangat berkurang dibanding Budi. Nafasnya sudah habis, dan Doni seolah2 berdiri terus di tengah lapangan, tidak mau berlari mengejar bolah ke ujung2 lapangan.
Aku hampir tertawa mengikik keras2 ketika Doni jatuh tersandung sepatu sendiri.

Sepanjang pertandingan tim Budi selalu memimpin skor dengan nilai akhir 80-40. Rencanaku semalam sukses besar! Dengan senangnya aku memeluk Budi yang masih basah oleh keringat. Budi berbisik,"Ness, jangan lupa servis yang memuaskan sesudah pertandingan!"
"Jangan takut bud.. di tempat yang biasa"

Setelah penyerahan piala beres, semua orang berpindah ke acara olahraga di bagian lain gedung gymnasium itu. Aku sengaja menunggu pemain2 terakhir keluar dari kamar locker bola basket. Setelah merapikan diri dan meneguk lebih banyak kopi, aku masuk ke ruangan itu. Budi masih sedang mandi di ruangan shower, aku ikut melepaskan seluruh baju, dan mendekati Budi yang tersenyum.
"Ness, gua menang! dan kamu engga perlu melayani Doni!"
Kupikir dalam hati,"Kalo aja kamu tahu..."

Aku berlutut di depan Budi, dan mengambil kemaluannya ke dalam mulutku. Satu tanganku mengocok penis Budi, dan satu lagi mengusap-usap bolanya. Budi bersandar ke dinding sambil memegangi kepalaku.
Tak lama kemudian, Budi menarik tubuhku berdiri, lalu mendorongku ke pojok ruang shower itu menghadap tembok, sambil mengangkat satu kakiku dan melingkarkan di pinggangnya, dia mempenetrasi dari belakang, terasa nikmat sekali, penuh gesekan dan goyangan yang enak.
Kami mengadakan "pesta olahraga seks" kami sendiri di ruangan shower itu, sekitar satu jam kami bersenggama, untung tidak banyak orang di kampus di akhir pekan ini.

Ketika aku mengambil celana dalamku untuk dikenakan kembali, kusadari ada segumpal sperma dari Doni di selangkangan celana dalam itu. Kupakai kembali celana itu sambil berpikir sekarang ada sperma Doni dan Budi di tempat yang sama.

Setelah mengeringkan rambutku, kami berdua berjalan kaki ke arah pertandingan olahraga yang sedang berlangsung. Aku menonton pertandingan berenang sekitar setengah jam, tapi rasa kantuk ini benar2 kuat, kuberitahu Budi bahwa aku akan berjalan kaki pulang saja dan tidur siang.

Di tengah tidur siangku, sekitar jam 3 siang, tiba2 HP ku berdering. Aku pun menyumpah2 sambil mencari telepon itu dari tasku. Ternyata Doni yang menelepon, dia mendengar dari Budi bahwa aku pulang untuk tidur, dan dia khawatir aku sakit gara-gara tidak tidur semalam.
"Ah engga Don, aku cuman kecapaian aja, tadi malam kamu bener2 kuat sih."
"Haha.. kamu juga terus-terusan minta tambah lagi Ness."
Aku hanya bisa tersenyum.. lalu kami diam sesaat.
"Ness, gua tahu kamu kemaren kenapa datang ke apartementku. Pas elo muncul di pintu gua juga aku udah nyadarin"
"Engga marah, Don?"
"Hahahaa.. lho koq marah. Menurut gua sih ini untungnya di gua, ngapain sih nyimpen2 piala itu bikin apartemen gua penuh aja. Lebih enak tidur sama cewek cantik"
Kalau saja ada cermin di dekatku, pasti aku bisa melihat mukaku merah seperti lampu setopan.

"Ness, gua mikirin elo dari tadi lho.. elo pulang ke kota elo kapan sih ? Kita bisa ketemu lagi enggak ?.. eh jangan salah pikir dulu lho.. maksudku aku hanya ingin ngobrol dan hang out aja, janji engga bakal macam2 deh."
"Elo engga bakal nonton Pesta Olahraga ?"
"Ness, gua tadi malam bikin pilihan untuk tidur sama elo daripada tidur beneran supaya kita bisa menang tanding basket. Ya tentu aja sekarang juga gua lebih pengen ngobrol sama elo daripada nonton Pesta Olahraga"

Aku tersenyum mendengarkan itu.

"Aku dan Budi pulang besok siang setelah upacara penutupan"
"Great! gimana kalo kita ketemu untuk makan malem ? Tokh Budi juga masih sedang nonton volleyball sekarang. Nanti elo engga ada makanan lho!"
"Oke.. jam berapa Don ?"
"Jam 6 gua jemput yah, tapi gua tungguin di mobil gua deh.. kalo gua masuk ke apartemen elo, nanti bisa2 kita engga jadi makan malam nih hehee"
"Oke.. see ya"
"bye"

Sepertinya Doni agak jatuh hati denganku.. tak bisa dipungkiri aku pun menaruh hati dengannya..

==

Sejak jam 5 aku mempercantik diri untuk pergi makan malam bersama Doni. Pakaian bersih terakhir yang kubawa adalah sebuah jeans yang ketat dan tank top yang ketat pula. Rambutku dikepang ke belakang. Biasanya aku mengenakan baju yang lebih seksi dari itu untuk nge-date, tapi apa boleh buat, hanya ada pakaian itu.
Doni muncul tepat waktu jam 6, dan dia pun ternyata mengenakan baju casual saja, jeans dengan kemeja lengan pendek.
Kami pergi makan di sebuah restoran Korea di dekat kampus. Setelah makan kami pindah ke sebuah bar dan meneruskan ngobrol di sana. Sekitar jam 11, kami berdua sudah merasa sangat mengantuk dan capai, Doni mengantarkan aku pulang ke apartemen temanku.
Ketika kami tiba di lapangan parkir apartemen, sengaja aku menyuruh Doni parkir di tempat yang agak gelap dan sepi. Di dalam mobilnya aku memberi blowjob untuk mengakhiri date yang manis. Kira2 15 menit sebelum Doni mengeluarkan air mani-nya di mulutku. Aku cukup takjub dengan banyaknya air mani yang keluar, meskipun kemarin malam kami baru saja bermain seks semalaman. Kutelan semua sperma yang keluar, dan kejilat bersih kemaluan Doni. Lalu kami berciuman sebentar sebelum aku masuk ke apartemen temanku.

Budi sementara itu telah tidur dengan nyenyaknya di ruang tamu. Aku pun menyelinap masuk ke ranjangku setelah melepaskan bajuku. Nafsuku masih agak tinggi setelah mengorali Doni, ditandai dengan banyaknya cairan keluar dari vaginaku. Aku bermasturbasi di bawah selimut sambil berusaha meredam desahan-desahan supaya tidak kedengaran Budi. Malam itu aku orgasme sambil membayangkan Doni sedang meniduriku, badan kami yang telanjang bersentuhan basah oleh keringat.

Budi dan aku tiba kembali di kota kami sekitar jam 11 pagi, capek sekali rasanya akhir minggu panjang ini. Tapi aku senang sekali bertemu dengan Doni, orangnya menarik dan baik hati, juga pintar memuaskan wanita di ranjang. Apakah kami akan mulai pacaran ? atau jadi teman "spesial" saja seperti Budi dan beberapa cowok temanku lainnya ?

Visits: 17469
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 17219   Help/FAQ   Terms   Imprint