|
Welcome, guest. You are not logged in.
|
|
|

|
|
|
Health Spa - cerita8
Mungkin kami adalah kelompok wanita paling open minded di Indonesia. Ya aku dan beberapa temanku, seperti Mba Nita, Mba Ririn dan Mba Eka. Kami semua berada di usia yang sama, mid thirties. We make sex. Not make love. Kami setipe.
Sudah beberapa tahun belakangan ini kami jalan, kumpul , clubbing dan berpetualang bersama sama. We enjoy this lifestyle. Kadang kami bayar mereka yang kami suka. Kadang juga tidak. We get along together lah.
Hari ini kami ingin coba sesuatu yang baru. Awalnya adalah ide Mba Eka. Dia yang punya ide gila itu. Gimana kalau kita tiba tiba masuk ke tempat spa nya kaum Adam. Ketempat relax yang notabene berbau mesum nya kaum adam. Apa yang terjadi. Kami tertawa dan cekikikan membayangkan hal ini benar benar terjadi.
Akhirnya setelah panjang lebar berargumen tentang spa yang mana yang akan kita datangi, kami putuskan sebuah spa di daerah Jakarta Selatan. Sebuah tempat relaksasi kaum executive, bertarif cukup mahal. Seperti halnya spa lain nya disana juga di sediakan massage, whirlpool, sauna dan lain sebagainya.
Namun tempat ini di kemas sebagai tempat relaks kaum adam. Bukan rahasia lagi bahwa standard prosedur massage di tempat ini adalah termasuk menyelesaikan hasrat birahi.
Si resepsionis memandang kami dengan takjub ketika melihat kami masuk. Bahkan seorang security berjaga di dekat kami. "Jangan jangan ini perempuan perempuan mau mergokin suaminya" mungkin begitu yang ada di pikiran mereka.
"Ini untuk umum kan? Maksud saya wanita juga boleh masuk kan?" Mba eka bertanya kepada si resepsionis, yang di jawab dengan gugup.
Singkat cerita habis dari ruang resepsionis itu kami diantar ke locker room. Tempat berganti pakaian. Beberapa eksekutif muda sedang berganti pakaian disana dan melotot melihat kami. Aku pernah dengar satu dua kali ada wanita datang ketempat ini. Tapi tentu saja itu jarang sekali, mengingat therapist pemijat adalah merangkap penjaja seks untuk laki laki.
Di tempat ini disediakan celana pendek dan kimono. Namun sayang tidak disediakan kostum untuk wanita. Dan tidak ada pemisah antara locker laki laki dan wanita. Mungkin pengelola berpikir mana ada sih wanita yang cukup gila masuk ke sarang penyamun ini. Tapi entah kenapa hari ini kami bertiga memutuskan untuk melakukan hal gila ini.
Dua buah fitting room ada disana. Aku segera masuk ke salah satunya. Melepas semua pakaianku dan menggantinya dengan kimono dan celana pendek yang disediakan. Celana itu begitu pendek. Hanya beberapa senti dari pangkal pahaku. Begitupun dengan kimononya. Model V di dada nya begitu rendah, mustahil dapat menutupi payudara kami secara proposional.
Dengan kostum itu kami keluar dari locker room menuju whirl pool room yang berisi sekitar satu lusin laki laki yang semuanya mendadak sontak melotot ke arah kami. Pura pura tidak tahu kami tetap bercakap cakap seolah tak ada apa apa. Bahkan seorang diatara mereka yang sedang berendam dengan sengaja keluar dari kolam untuk sekedar lewat di depan kami dengan berpura pura menuju bar.
Kami bertiga duduk di meja bar dan memesan tonic water. Menyalakan rokok. Sekedar menyesuaikan suasana sebentar. Sambil menikmati tatapan liar para lelaki itu. Mereka benar benar menatap liar ke arah tubuh setengah telanjang kami.
Ah whirlpool itu begitu menggoda kami. Setelah menghabiskan minuman kami Mba Nita melepaskan kimononya. Begitu juga dengan ku. Hanya dengan celana pendek yang kami kenakan kami masuk berendam di dalam whirlpool itu. Hanya Mba Eka yang tetap mengenakan kimononya.
Sebentar saja di sekitar kami sudah berkerumun para lelaki itu. Mereka masuk ke dalam whirlpool air hangat berukuran 3x3 meter itu. Tak pernah kami bayangkan sebelumnya ada tempat seperti ini. Tempat dimana kami bebas telanjang tanpa mendapat masalah. Mereka pun begitu sopan. Hanya mata mereka yang liar melihat kepolosan dada kami. Tak ada satupun yang berusaha untuk menjamah atau mendekat.
Obrolan ringan pun terjadi. Omongan basa basi ini itu. Dengan semua orang disana telanjang dada. Well terkadang mereka memuji keberanian kami. Tapi semuanya dalam decent manner. Memang jelas orang orang ini orang orang yang berduit dan berpendidikan. Kalau tidak mana mungkin mereka bisa menghabiskan uang beberapa juta rupiah untuk tempat seperti ini.
Sensasi itu begitu hebat. Sensasi dimana semau mata dapat menatap kami dengan leluasa. Nude in public. Serasa berada di luar negeri. Really arousing and tempting. Sisi exisibisionist kami benar benar meguasai kami saat itu. Satu dua diantara mereka yang tidak tahan segera meninggalkan kami untuk masuk ke ruang massage. Mungkin akan mereka selesaikan dengan therapist yang ada disana.
Semuanya terjadi begitu decent. Manner mereka betul betul hebat. Tak ada kekurang ajaran. Tak ada apa apa. Memang mereka berusaha untuk lebih dekat. Namun ketika kami menjaga jarak dengan tidak memberikan no telepon atau apapun yang mereka minta, dan menjawab semuanya sekedar sopan mereka pun mundur teratur.
Ini juga terjadi di ruang sauna dan ruang steam. Hanya tatapan yang mereka berikan tanpa ada sentuhan yang berarti. Hanya obrolan dan sapaan basa basi yang mereka bicarakan. Tanpa ada minat untuk lebih jauh. Mungkin ada namun mungkin mereka tidak tahu bagaimana cara menyikapi kami di tempat seperti ini.
Hanya saja kemana kami pergi selalu serombongan laki laki mengikuti di sekitar kami. Beberapa diantara mereka bahkan menyapa kami. Bahkan seorang laki laki terang terangan (atau tidak) melakukan onani di balik handuk yang di kenakan nya di ruang sauna.
Gerakan tangan nya begitu jelas. Tentu saja kubantu dia dengan meraba tubuhku yang di penuhi peluh. Aku tahu persis dia menatap ku. Kuberikan sentuhan sentuhan ringan di tubuhku sendiri. Dia tersenyum ke arahku dan aku membalas senyumnya. Kubiarkan fantasinya bermain atas tubuh telanjangku.
Kuperhatikan di ruang itu ternyata bukan ia sendirian yang melakukan itu. Ada dua lagi di pojokan sana yang melakukan hal yang sama. Wajah mereka yang memerah menggambarkan hal itu dengan jelas.
Aku keluar dari ruangan sauna itu ketika mereka telah selesai. Kuberikan senyumku untuk mereka. Dan segera aku membersihkan keringat ini dengan air hangat di shower. Selesainya aku membilas tubuhku. Seseorang menghampiriku dan mengatakan bahwa ia adalah Guest Relation Manager disana.
Dia mengenalkan diri sebagai Ogi. Umurnya kutaksir sekitar 35. Dia mengatakan bahwa jarang ada wanita datang kesini. Ada sesekali namun hampir tak pernah. Bahkan ia tak ingat kapan terakhir kalinya ada wanita yang datang ketempat ini. Dia bilang kepadaku bahwa tidak ada therapist yang biasa menangani wanita disini. Namun ia yakinkan kalau ia juga adalah seorang well trained therapist.
Aku tersenyum saja. Aku tanyakan kepadanya apakah ada yang lain untuk teman temanku. Dia katakan hanya ada satu orang lagi. Ah ya sudah terpaksa salah satu diantara kami harus menunggu. Karena cuma ada dua disini. Dua duanya manager pula. Bukan memang therapist asli.
Well disini ada superior room, dimana ada dua dipan pijat, kamar mandi, Big Screen TV, sauna pribadi dan lain lain. Ogi tanpa persetujuan kami membawa kami kesana (Biasanya tamu di tawarkan untuk memilih kamar yang mana)
Ogi dan teman nya begitu sopan. Tidak terlihat eager nya melihat tubuh telanjang kami di ruangan itu. Pijatan yang di lakukan nya bertenaga dan profesional. Tidak ada suatu halpun yang mengesankan ke kurang ajaran. Bahkan ketika telapaknya sesekali menyentuh pangkal selangkanganku. Bahkan ketika aku mendesah ketika ia memijat kedua payudaraku. Semuanya dilakukan dengan sempurna tanpa ada kesan ia ingin mengambil keuntungan.
Begitu juga dengan teman nya yang memijat Mba Nita. Tak ada kekurang ajaran. Tak ada pemanfaatan keadaan. Semuanya profesional. Bahkan ketika Mba Eva menggoda mereka dengan menyilahkan mereka berbuat semuanya terhadap kami. Mereka hanya menanggapi dengan sopan. Walau muka Mba Nita sudah demikian merah menahan Birahi. Aku yakin begitu juga denganku. Karena kami berdua sudah tidak dapat berkata kata.
Bahkan ketika Mba Nita menarik tangan therapistnya ke selangkangan nya. Ia hanya menusukkan jarinya ke kewanitaan Mba Nita sambil tetap berdiri disampingnya. Tak ada upaya untuk bertindak lebih jauh. Hanya jarinya saja yang bekerja. Walau Mba Nita sudah mendesah tidak karuan minta untuk di puaskan lebih.
Bahkan ketika Mba Nita merubah posisinya menjadi duduk dan memeluknya, dan tak lupa meremas selangkangan nya, ia tetap saja tak bergeming. Hanya jarinya saja yang bermain di selangkangan Mba Nita. Walau jelas penis nya sudah tegak berdiri ia tidak serta merta menubruk Mba Nita. Bahkan ketika Mba Nita begitu bernafsu ingin mengoralnya ia menolak dengan halus.
"Ngga usah Mba, ga papa biar Mba aja" katanya walaupun dengan senyum yang di paksakan.
Alhasil Mba Nita harus puas dengan permainan jari saja.
Keadaan Aku sendiri tak jauh berbeda. Harus kuakui memang disiplin luar biasa yang mereka punya. Walau kurasakan basah di ujung selangkangan nya. Walau kurasakan begitu keras dan tegaknya mereka. Tetap saja mereka menahan hasrat itu. Sampai kami berdua benar benar hanya di puaskan dengan jari.
Hampir berbarengan kami mencapai orgasme dengan permainan jari mereka. Kini giliran Mba Eka. Tidak tanggung tanggung Mba Eka langsung mendaulat kedua laki laki gagah itu untuk memijat nya. Namun tidak untuk memijat karena Mba Eka hanya duduk di dipan pijat dan langsung menarik tangan ogi ke selangkangan nya. Ogi langsung beraksi disana.
Mba Eka memeluk Ogi yang berdiri di antara kakinya. Desahnya begitu jelas begitu parau menandakan tangan Ogi yang begitu terampil bermain di dalam kewanitaan nya. Ogi memang piawai. Tusukan dan garukan nya benar benar teratur dan dalam ritme yang pas. Sementara teman nya meremas payudara Mba Eka.
Aku ga tega. Kuhampiri Teman Ogi dan kupeluk ia dari belakang. Kubalikan badan nya dan aku berjongkok di hadapan nya. Memberikan oralku yang terbaik untuknya. Sementara Mba Nita setengah memaksa Ogi dan meyakinkan Ogi kalau Mba Eka tak akan keberatan bila ia melakukan penetrasi.
|
|
|
|
|
Top
|
|
|
|
|
|
|
|