"Kita mau kemana Jay?" tanyaku suatu ketika. Waktu itu jay menyuruhku untuk bersiap siap.
"Kalimantan"
"Ooh... Berapa hari" Tanyaku sambil mempersiapkan koper. Sementara itu jay terus duduk di sudut tempat tidurku. Memperhatikanku beres beres.
"Karen, ini agak lain" katanya sambil terus menatapku.
"Maksudnya?" kataku sambil terus membereskan koperku.
"Kita ke hutan" katanya pendek
"Ngapain?"
Jay menjelaskan bahwa disana ada sebuah camp yang sedang melakukan explorasi minyak. Sebuah team advance yang berisi para insinyur dan ini benar benar remote area. Dia juga menambahkan kalau perjalanan yang di tempuh itu sekitar 2 jam dari Balikpapan dengan menggunakan helikopter.
"Cuma sekali ini tamunya agak banyak" Jay berkata pelan pelan.
"Berapa memang?" kataku sambil terus berkemas kemas.
"9 Orang. Expat semua. Dari Jerman"
Aku tertegun. Membayangkan apa yang akan terjadi disana. Jay tiba tiba punya client seperti ini. 9 orang harus kulayani dalam satu hari.
"Kamu jangan lupa bawa lubricant" jay berkata dengan hati hati.
Aku hanya menangguk.
"Karen, kamu gak keberatan kan?"
"Gak papa Jay"
8 Jam kemudian aku sudah sampai di lokasi. Sebuah perkemahan dimana para insinyur minyak ini sedang mempelajari dan melakukan pemetaan untuk membuat kilang disana. Mereka bersorak dan bersiul ketika melihat kami turun dari helikopter.
Hari itu sabtu sore menjelang malam. Para pekerja sudah meninggalkan site sepertinya. Hanya tinggal para insinyur bule ini. Mata mereka begitu lapar menatap tubuhku. Rupanya sudah dua bulan mereka ada disana.
Aku di bawa ke sebuah tenda yang cukup besar. Disana ternyata sudah ada dua buah kasur. Mereka semua berbicara bahasa jerman yang tidak ku mengerti. Salah seorang dari mereka mengangsurkan sekaleng bir dingin. Yang langsung ku habiskan.
Satu per satu mereka mendekati dan mengamati tubuhku, sambil terus berkata kata dalam bahasa jerman. Aku hanya tersenyum ketika bergantian mereka memeluk tubuhku dari depan dan belakang, ketika mereka mulai menjamah tubuhku.
Mereka mulai membuka pakaianku satu persatu. Jelas sekali mereka semua sudah sangat mabuk. Mereka begitu kesepian. Tubuh telanjangku di remas dari berbagai arah. Aku merasakan banyak tangan di sekujur tubuhku. Di dadaku, di selangkanganku, bahkan aku merasakan jari menusuk anusku.
Aku hanya mendesah dan coba untuk tersenyum. Aku di baringkan di kasur yang telah mereka siapkan. Segera saja kurasakan sesuatu menembus selangkanganku. Sesuatu yang sangat besar. Tidak hanya itu seseorang dengan segera duduk di atas dadaku dan mencoba memasukkan penisnya ke dalam mulutku. Sementara tangan tangan lain terus menggerayangi seluruh tubuhku.
Begitulah selama beberapa jam tubuhku menjadi santapan kebuasan nafsu birahi mereka. Setiap saat selalu ada penis di selangkangan, mulut, tangan bahkan anusku.