"Stop! Stop di sini," serunya. Wajahnya terlihat cerah. Sepintas kulihat, ia seperti seorang kanak-kanak yang baru diberi mainan kesukaannya. Tersenyum, kuputar setir mobil, menepi dan berhenti pinggir jalan. Gadis itu mebuka pintunya, dan tanpa menungguku, ia berlari dan lenyap. Kulangkahkan kakiku keluar, dan menemukan sosoknya di balik deretan pohon jati. Gadis itu berputar, melompat dan berlari kecil sambil tertawa-tawa. Kukira mirip film India yang biasa disiarkan TV Swasta. Geli, kuikuti langkahnya, menuju ke tengah hutan jati.
Kudapati ia tengah berjongkok di depan sebuah batang pohon mati setinggi dua puluh sentimeter, kering dan menghitam.
"Sini, Ray! Sini!" panggilnya, melambaikan sebelah tangannya. Di wajahnya, masih juga raut yang ceria. Bergegas, kuhampiri ia. Belum seberapa dekat, gadis itu meraih pergelangan tanganku, memaksaku berjongkok.
"Lihat," ucapnya lirih, "di tengah batang pohon itu."
Kupicingkan mataku, dan tersenyum saat melihat sebuah tunas tanaman berdaun empat yang mencuat dari tengah batang pohon mati. Sedikit terkejut aku kemudian, saat merasakan kepalanya menempel di bahuku. Lengannya menyusup ke sela ketiakku, merangkulku dengan lembut.
"Ingatkah kamu, kamu pernah bilang sama aku, kalau di dunia ini ada sesuatu yang bisa hidup dari kematian?"
"Pop.....," bisikku, memanggil namanya. Sedikit rasa haru yang tak bisa kusembunyikan, tersirat dalam nada suaraku.
"Ah, sok sendu," mendadak gadis itu terkekeh, melepaskan pelukannya dan bangkit berdiri. Sesaat kemudian, ia sudah berlarian lagi kesana-kemari. Satu ketika, ia membalikkan tubuhnya menghadapku, matanya mengerling nakal.
"Hey, Ray," serunya, "kamu masih ingat danau kecil tempat pertama kali kita berciuman? Di bibir?"
Aku tertawa dan mengangguk. Tanpa menungguku berdiri, gadis itu sudah berlari. Aku tak perlu buru-buru, aku sudah tahu ke arah mana ia akan menuju. Itu bukan danau, bisikku dalam hati. Itu hanya sebuah rawa payau. Ah, romantisme dan imajinasi masa muda membuat segalanya tampak indah.
Sepuluh tahun yang lalu...
Tempat yang sama. Dua anak manusia yang sama. Suasana mendung hari itu. Semendung hati pemuda belasan tahun yang baru pertama kali mengecap pahitnya pengkhianatan. Ya, itulah aku. Sosok yang pathetic kala itu. Menganggap semua yang ada di dunia ini sebagai satu kesialan.
Saat itu, aku tak bisa menyalahkan keperihan yang datang. Bagaimana tidak? Aku yang berada di tengah hutan, merentangkan kedua lengan lebar-lebar, menengadah sambil memejamkan mata ke arah langit-adalah orang yang sehari sebelumnya percaya bahwa cinta sejati benar-benar ada. Tentu saja sampai kutemukan pemuda itu di dalam kamarnya, dengan hanya mengenakan kaus singlet dan celana pendek. Bekas-bekas kecupan di leher, yang biasa kutemukan di leherku sendiri, kulihat padanya. Sangat menyedihkan, saat aku menoleh dan melihat gadisku dalam terkejutnya, tak ada lain yang dikatakannya kemudian, selain `maafkan aku'.
Pertanyaan yang kuajukan ke langit saat itu, pada-Nya, adalah `apakah benar cinta hanya akan membawa kesengsaraan'? Ataukah kesengsaraan itu sendiri bagian dari penguatan sebuah cinta? Yang harus dihadapi, disabari, dimengerti dan dikomunikasikan untuk pencapaian kata sepakat, demi kelangsungan sang cinta?
BULLSHIT!
Yang ada setelah cinta-yang diagung-agungkan itu-hanyalah kesedihan, isak tangis, rasa perih dalam hati.
"...dan Ray, kamu seharusnya tidak memberikan seratus persen cintamu padanya."
Kata-kata itulah nasihat terbaik yang kudengar sejak kejadian menyakitkan itu. Dan kata-kata itu keluar dari bibir si gendut Poppi. Sahabat satu deret rumah yang selalu berbagi suka duka denganku, bahkan sejak aku masih kanak-kanak.
-o-
Dulu, masih kuingat saat kami berdua sama-sama berperan sebagai `anak itik buruk rupa' di sekolah. Cemooh, sindiran, dan tatapan sinis yang kami hadapi dengan canda dan tawa. Hanya kami berdua saat itu, tak ada yang lain-karena memang tak ada satupun yang mau menjadikan kami bagian dari mereka.
Orang-orang selalu tertawa saat melihat kami jalan berduaan, berboncengan dengan sepeda pancal, bercanda di sudut sepi kantin. Mereka bilang kami adalah pasangan yang `pantas'-sebuah sindiran-yang kalaupun dikatakan jujur, maka akan sangat salah. Sebab kami adalah sepasang sahabat sejati. Hanya sekedar sahabat. Bahkan saat aku menyadari pentingnya menjadi `sosok' untuk dapat diterima dalam pergaulan level atas-terima kasih pada seorang gadis yang menolakku, yang kemudian menjadi pemicu untuk mengubah segalanya tentang diriku-dan berubah ke arah lebih sempurna, Poppi masih tetap berada di sisiku.
Ia menyaksikan segalanya dari prosesi anak itik menjadi angsa emas. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana `sosok-sosok penting' satu demi satu berjatuhan di kakiku, berlutut dan memohon diriku untuk masuk ke dalam lingkungannya. Gadis-gadis yang kemudian menyebutku sambil memutar mata dan menyatukan jemari di depan dada-dan bagaimana kemudian aku mempermainkan mereka satu-satu, menjilat dan mengunyah kemaluan mereka, ...
...untuk kemudian mencampakkan dalam isak dan tangis.
Poppi hanya akan tertawa saat menyaksikan kejadian itu, saat gadis-gadis dengan wajah sendu dan penuh penderitaan mengemis cintanya padaku.
"Kamu memang benar-benar luar biasa," itu yang akan dikatakannya padaku. Sadar, kuakui memang perubahan yang luar biasa terjadi di diriku saat itu. Angsa emas, yang telah lahir untuk meraih apa yang menjadi mimpinya.
Kesadaran yang membingungkan kemudian, adalah bahwa lingkungan baruku tak pernah bisa menerima sosok Poppi di dalam mereka.
"Sampah!"
"Jelek!"
"Buruk!"
Saat Poppi perlahan menyingkir dari kehidupanku, kurasakan sesuatu yang hilang itu. Persahabatan kami. Dan kurengkuh kembali Poppi, meninggalkan kekecewaan di hati sahabat-sahabatku yang baru. Saat itu, Poppi hanya tersenyum dan bertanya, "Apa kamu ngga malu kelihatan jalan sama aku?"
"Tidak, karena persahabatan yang sejati lebih daripada segalanya."
Tawa darinya, merupakan janji tak tertulis, bahwa perahabatan kami akan kekal selamanya. Meskipun aku sudah menjadi seekor angsa emas, dan Poppi masih seekor anak itik buruk rupa.
Saling membantu, saling menjunjung dan menggendong, itu yang terjadi di hari-hari selanjutnya. Di sisi-sisi kehidupan yang paling menyakitkan, kami akan menyediakan tempat di hati masing-masing untuk bersama-sama saling menghibur. Saat kakakku pergi dari rumah bersama pasangan lesbinya, saat ayah dan ibuku memutuskan jarak dua ribu kilo untuk menemukan perasaan berkeluarga yang nyaris lenyap, Poppi akan ada di siiku, menghibur dan mengatakan, "Semuanya akan baik-baik saja, Ray."
Saat ayahnya dan adik laki-lakinya tewas dalam sebuah kecelakaan kereta api di tahun 1992, saat beberapa pemuda mencemoohnya dengan mengatakan, "Jangan lihat-lihat kenapa sih? naksir ya? Ngaca dong!"-aku akan menyediakan dadaku untuk tangisnya, mengelus dan mengatakan, "Semuanya akan baik-baik saja, Pop."
Semuanya demikian, sampai aku mengenal cintaku. Cinta yang untuk selanjutnya akan kupandang dengan sebelah mata, dengan cibiran di bibir dan kata-kata, "Bullshit! Ngga ada yang namanya cinta!"
Poppi lenyap begitu saja dari kehidupanku. Tak ada lagi ngobrol-ngobrol lewat telepon sampai jam tiga pagi, membicarakan tentang gadis-gadis bodoh dan gossip-gossip selebritis sekolah yang sangat digemari Poppi. Aku menjauh, saat menyadari bahwa cintaku membutuhkan lebih banyak perhatian dari sekedar menghabiskan waktu bersama Poppi.
Sahabatku itu, ia menyadari hal itu, tak lagi menghubungiku. Dan bodohnya, saat itu aku benar-benar merasa bahwa menjauhnya kami adalah sebuah kewajaran. Bagaimana tidak? Aku sudah punya seorang kekasih yang bisa mendengarkan semua keluhanku-bahkan lebih dari yang bisa ditampung oleh Poppi. Kekasihku memelukku, mencumbuku, dan kami bercinta segera setelah semua permasalahan terselesaikan. Poppi tak menyediakan hal itu, dan kutahu aku memang takkan pernah meminta, bahkan berharap darinya.
Dua tahun lamanya aku hidup sendiri, mencari petunjuk-petunjuk penyelesaian setiap permasalahanku dari diriku sendiri dan kekasihku. Tak ada orang lain. Tak ada ayah ibu-meski mereka sudah berbaikan. Dan tak ada Poppi.
Lalu kejadian yang membuatku menderita setiap malam tiba itu terjadi.
Betrayal. Pengkhianatan.
-o-
Kembali aku memandangnya saat itu, menikmati pepohonan di belakangnya, yang seolah menjadi bingkai sosoknya yang terlihat begitu lama hilang dari hidupku.
"Pop, aku ingin dipeluk dan dimaafkan," itu yang kukatakan, yang pula menjadi awal dari semua yang tak pernah ingin kulakukan. Poppi memelukku, di tepi hutan pohon jati, di pinggir sebuah rawa payau, yang menghijau karena lumut dan ditumbuhi enceng gondok di sekelilingnya. Saat itulah aku menangis pertama kali, sebagai seorang pria yang patah hati.
Poppi tak menganggap itu sebagai suatu hal yang memalukan, bahkan ia berkata, "Ray, menangislah kalau itu perlu. Karena menangis akan membuat beban di hati terasa lebih ringan."
Kata-katanya, belaiannya, dan hembusan nafasnya di ubun-ubun kepalaku, yang membuat aku menarik tubuhku dari pelukannya. Saat ia memandang dengan tatapan kasih sayang persahabatannya, kukecup ia.
Tepat di bibirnya.
Dan bisikku padanya, "Hidupku akan dimulai dalam kematian hati...."
-o-
Chapter II
Kudapati ia tengah memandang ke arah hamparan tanah retak di bawah kakinya. Sedikit sendu juga kala kusadari kekeringan yang membentang itu. Seolah tiada lagi kenangan yang patut diingat akan tempat yang dulunya terlihat sangat indah itu.
"Kering, Ray," bisiknya. Kulangkahkan kakiku sampai di sampingnya, dan menganggukkan kepala.
"Apa yang kamu harapkan dari tahun-tahun yang berlalu?" tanyaku.
Poppi menoleh. Ia memandangku dengan lirikan nakalnya.
"Hmmm, eternity? As a beautiful place, which existence is eternal, as memory does," ...
...katanya kemudian, lalu tersenyum meminta pendapatku.
"Ah," sahutku, terkekeh sejenak, "beauty is in the eye of the beholder."
Poppi menatapku, masih dengan senyuman yang sama. Tapi kutangkap kelegaan itu dari pancaran sinar matanya. Gadis itu lalu menekuk lututnya, berjongkok dan mengulurkan tangan, meraih segumpal tanah kering. Kepalannya membuat kepingan tanah itu berubah menjadi serpihan-serpihan halus, berjatuhan di atas rumput kering.
"Kalau aku tutup mata, mungkin nggak ya, danau kecil itu kembali?" Kudengar ia berkata, menimbulkan perasaan ingin tahu di hatiku.
"Mau mencoba?" ucapku kemudian. Poppi menoleh dan mengangguk. Tangannya menggapai pergelangan tanganku, mengajakku berjongkok untuk yang kedua kalinya di hutan jati itu.
"Coba, pejamkan mata. Kukira dengan kamu di sini, segalanya menjadi lebih mudah," katanya kemudian. Saat kutolehkan wajahku ke arahnya, kulihat ia sudah memejamkan mata. Bibirnya meruncing ke depan, alisnya berkerut. Tanpa sadar aku tersenyum. Poppi memiliki kedewasaan itu di wajahnya.
Kupalingkan wajahku ke arah tanah kering, dan kupejamkan mata. Semenit dalam kesunyian, seolah bisa kudengar kicau burung di kejauhan, desis angin yang lembut, gemerisik daun pepohonan, bahkan hembusan nafas kami dan degupan jantung yang berdetak santai.
"Lihat, danau itu kembali pada kita," kudengar ia berbisik.
Dan memori itu kembali. Tanah kering yang retak, yang sudah dimakan oleh waktu dan musim, berubah dalam proses transformasi yang lembut, menjadi kumpulan air yang lalu membentang. Titik-titik kehijauan mulai muncul ke permukaan, bersama tunas-tunas enceng gondok yang dengan cepat mulai berdaun.
Kuhela nafasku. Menyadari memang, bahwa keindahan akan sebuah kenangan akan tetap berada di hati yang mengalaminya, bahkan saat kenyataan tak seindah semula.
Sampai kemudian lamunanku buyar, saat genggamannya di jemariku mengencang, dan kudengar isaknya.
Tahun-tahun yang berlalu....
Tak ada kata yang terucap setelahnya, hanya sebuah dekapan yang hangat dariku. Kata `sorry' yang terucap kemudian, merupakan cerminan rasa bingung dalam diriku sendiri.
Apa-apaan kamu, Ray? Poppi itu sahabatmu! Poppi itu bukan gadis yang bisa dan akan kau permainkan sesuka hatimu-kata hatiku menjeritkan alasan-alasan sok suci. Untuk sesaat kemudian kejujuran dalam hatiku mengatakan yang sebenarnya... bahwa dia bukan levelmu, bahwa dia, si itik buruk rupa, tak layak menerima kecupan dari si angsa emas.
"Kalau kamu merasa tenang dengan itu. Aku tak masalah."
Kata-kata yang mengalir dari bibirnya membuatku malu seketika. Bagaimana aku bisa menghakiminya sedemikian rupa hanya dengan menatap perbedaan fisikal antara kami, saat aku bisa merasakan ketulusan itu dalam kata-katanya? Kukutuk hatiku dalam benak, dan kubiarkan pelukannya membuatku nyaman.
Ketulusan, itu yang kuperlukan untuk mengobati pengkhianatan. Dan itulah yang kekecap kemudian saat kukecup kembali bibirnya. Pejaman mata dan kenikmatan lahir batin. Rasa sayang yang tiada bisa terukur, yang hanya bisa dinyatakan dalam kelembutan kehangatan yang membuat tubuhku bergetar.
Ia menyayangiku... ia mengasihiku... ia mencintaiku..... kata hatiku menjerit-jerit seperti orang gila. Di tengah lingkar hatiku, kemunafikan dan narcisme yang kugeluti saat menjadi sosok angsa emas, bergelut dengan rasa dan keinginan untuk dicintai dan mencintai.
Yang terjadi selanjutnya, adalah sebuah proses transformasi lain, yang kubentuk untuknya. Untuk Poppi. Sentuhan demi sentuhan, pelajaran demi pelajaran. Canda tawa dan kemesraan. Kolam renang dan gym yang menjadi tujuan setelah pulang sekolah. Pelajaran berdansa, dunia hiburan malam, liukan-liukan yang menggandeng romantisme bersama keringat yang mengucur. Angsa-angsa emas lain yang menawarkan bantuan dengan sukarela. Sebuah proses membentuk mahakarya, oleh seorang maestro sejati. Dan Poppi mulai berubah. Perlahan tapi pasti, dengan atau tanpa disadarinya, ia sudah menjadi seekor angsa emas. Berat badan yang menurun drastis, tatanan fisik yang mengagumkan, pergaulan yang mencuatkan reputasi.
Hanya enam bulan, waktu yang dibutuhkannya untuk memperoleh pernyataan-pernyataan cinta dari pemuda-pemuda yang dahulu mencibir saat melihatnya.
Hanya enam bulan pula, waktu yang kubutuhkan untuk menyadari bahwa perubahan fisiknya membawa perubahan pula dalam caranya berpikir. Aku tak pernah tahu, siapa yang mengenalkannya pada sosok itu. Seorang pria dewasa, dengan atribut, pangkat dan kemewahan seorang abdi negara-sosok yang paling di-idolai wanita di jamannya. Sosok yang kemudian mampu membuat Poppi berkata pada suatu hari, "Keluar? Wah, Ray, nanti ada acara sama teman-teman. Sori ya? Besok lusa saja, oke?"
Saat itulah kusadari, bahwa aku tak lagi menemukan sosok Poppi yang dulu sangat kuakrabi. Yang bersamaku sekarang, adalah sosok seorang gadis populer, yang menghabiskan waktunya untuk mempertahankan apa yang sudah dicapainya. Yang menganggapku tak lebih dari seekor lalat pengacau, saat ia ...
...melihat masa depan yang lebih cerah di depan mata.
Kebahagiaan hubungan kami yang kudapati di hari-hari selanjutnya, hanya pada saat salah seorang sahabatku berkata, "Gila kamu, Ray. Itu Poppi si gendut? Kok bisa begitu, ya? Hebat memang kamu."
Yah, pikirku, aku memang hebat. Maestro. Sang guru sendiri. Bahkan sampai sanggup mengubah seorang gadis luar dalam. Fisik dan batin. Tak ada seorangpun yang mampu mengetahui rasa kecewa di dalam hatiku, saat kusadari ucapan kakak kelasku, yang sudah membantuku menjadi seekor angsa emas.
"Orang yang ingin berubah, pasti ada jalannya. Hanya saja, jangan sampai takabur. Merubah diri dari luar itu mudah, tapi mempertahankan isi yang lama itu susah. Saat kamu mencapai tingkatan yang lebih tinggi, godaan untuk mengubah pendirianmu akan sangat banyak. Itu mengapa tak sembarang orang bisa berubah dan bertahan dalam perubahan itu untuk jangka waktu yang lama."
Dan di suatu taman, pada sebuah pesta kebun, ketika kulihat kupu-kupu itu beterbangan dari satu bunga ke bunga yang lain. Aku mengerti mengapa orang menyukai kupu-kupu dan keindahannya. Karena ulat yang berubah menjadi kupu, tetap mengambil kehidupannya dari tanaman, bahkan yang sesederhana bunga padang liar. Tidak mengerubungi makanan manusia, atau dia akan ditepuk seperti seekor lalat. Ia tetap seekor kupu-kupu, dengan kodratnya untuk mencari dari tanaman. Itu mengapa orang bisa mencintainya sampai detik kematiannya.
Poppi meninggalkanku tepat enam bulan tiga minggu hubungan kami. Dengan alasan ketidak cocokan, dan diriku yang dianggap terlalu mengekangnya.
Aku hanya angkat bahu kala itu. Lagipula aku sudah menduga semuanya, saat seminggu sebelumnya kulihat ia bersama pria energik bertubuh kekar itu-lengkap dengan seragam dan atribut yang diandalkannya untuk memperoleh seluruh gadis di kota-berduaan di sebuah cofee shop plasa.
"Tapi kita tetap sahabat, kan, Ray?" begitu epilog yang ditawarkannya padaku.
"Oh, tentu. Kapanpun kamu butuh aku, aku akan selalu ada," sahutku sambil tersenyum. Tulus. Saat kusadari, bahwa ketika masa-masa itu datang, saat orang-orang menganggapnya lalat dan menepuknya jatuh, ia akan membutuhkan seorang sahabat yang baik untuk membawanya kembali menghidup udara dengan rasa lega. Bagaimanapun, Poppi dari awal adalah sahabatku yang terbaik. Sejahat apapun ia kemudian, tetap kenangan yang indah masa-masa persahabatan
itu terpatri dihatiku.
Berpelukan, kurasakan sedikit keperihan yang mengusik hatiku.
Dua hari setelah perpisahanku dengan Poppi, kutemukan cinta pertamaku terkapar di atas tempat tidur. Wajahnya yang kusut dan senyum menyesalnya menunjukkan padaku bahwa orang-orang telah menepuknya jatuh. Saat kupeluk, ia merintih, menangis dan menyesali kepergiannya dariku.
Tak bisa lain kulakukan, selain menggelengkan kepala, mengelus rambutnya, dan mengatakan apa yang seharusnya kukatakan pada seorang gadis yang merasa hidupnya tak bermakna lagi.
"Kamu akan baik-baik saja. Aku di sini."
Seperti cerita-cerita roman klise, tentang memaafkan sebuah kesalahan, dan memulai lembaran yang baru atas nama cinta-kuterima ia kembali bersamaku. Sisi yang jauh di lubuk hatiku, sisi yang masih memendam cinta padanya, yang tak terusik oleh emosi dan kesakitan, meyakinkan diriku bahwa aku takkan sanggup melihat cinta pertamaku hidup dalam cemoohan, dalam penderitaan. Saat Poppi menjalani kehidupannya, akupun menjalani kehidupanku.
-o-
Chapter III
"Ray, mau ngga meluk aku seperti dulu?" kudengar Poppi berbisik. Kubuka mataku, melepaskan genggaman jemarinya, dan menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Isaknya membasahi kemeja yang baru kubeli sehari sebelumnya. Ah, masa bodoh, pikirku sedikit geli-rasa yang seharusnya tak kurasakan, seandainya aku masih memiliki kata `kesedihan' dalam diriku.
Kala kupeluk ia, kusadari bahwa aku tidak lagi memeluk si angsa emas hasil karyaku, bukan lagi pinggang yang ramping, tubuh yang gemulai, sosok yang menggairahkan. Melainkan sosok seorang wanita yang terlalu tua di usianya yang masih sangat muda. Gumpalan-gumpalan lemak yang berlipat di pinggangnya. Lengan yang menunjukkan sebuah perjuangan keras menghadapi hidup susah. Rambut yang tebal dan kasar, dengan beberapa helai rambut putih di beberapa tempat.
"Ray, kukira aku ngga bisa lagi ya mendapatkan cintamu," bisiknya sambil terisak, "lagipula aku sudah gembrot begini. Kamu masih gagah. Masih keren."
"Sssshhh," desisku, menghentikan ucapan-ucapan pathetic-nya, "orang tak melihat kecantikan itu dari luarnya. Orang melihat cantik dari dalam."
Kurasakan pundaknya berguncang. Poppi tertawa. Dalam nada tawanya tersirat jelas kesinisannya dalam mencerna kata-kataku. Diam menyelimuti kami berdua. Angin kembali berhembus, kali ini lebih kencang. Beberapa helai daun melayang dan menyapu lenganku. Setitik air yang turun dari langit membuatku tersenyum.
"Ah, hujan?" ucapku, "Kita ngga bisa lama-lama di sini."
Poppi menarik tubuhnya, menatapku dengan pandangan ...
...menuduh.
"Kenapa? Kamu ngga selera ya meluk aku?"
Kukerutkan alisku, merasa sedikit tak senang dituduh demikian. Orang-orang yang seperti inilah yang membuat orang lain memandang rendah padanya. Orang-orang tanpa rasa percaya diri, tanpa optimisme, pesimis di segala hal.
Merasakan pandangan dan diamku, Poppi menundukkan kepalanya.
"Sori, aku ngga bermaksud berkata begitu."
"Ngga apa-apa," ucapku, tersenyum saat melihatnya demikian. Aku jadi teringat pada sosok Poppi si gendut, yang menundukkan kepala, saat mengadu padaku bahwa seorang pemuda telah menghinanya-gara-gara buku catatan sekolah miliknya, yang dipinjamkan oleh salah seorang temannya pada si pemuda, dimintanya kembali dengan kasar.
Kuangkat lenganku dan mengusap keningnya dengan punggung tangan, persis juga seperti yang sering kulakukan dulu saat menghiburnya. Sebuah tindakan tanpa kata yang seolah menyatakan `kamu cewek bodoh'. Poppi mengangkat wajahnya dan tersenyum. Gadis itu meraih lenganku, menempelkannya di pipi. Sesaat kemudian, kurasakan titik-titik air berjatuhan lebih banyak.
"Aku dulu mencarimu, Ray. Dan aku kehilangan kamu," bisiknya lirih, dengan tanganku masih di pipinya, "kurasa aku memang layak untuk ditinggalkan."
"Hush," senyumku, "aku ngga ninggalin kamu, kan? Kamu deh yang ninggalin aku."
Poppi melepaskan tanganku, bibirnya meruncing ke depan.
"Iya, ya? Aku yang ninggalin kamu?"
"Hahaha," tawaku, "baiklah, aku yang ninggalin kamu. Dasar tukang maksa."
Poppi tersenyum, "Ngga kok. Aku yang ninggalin kamu. Dan itu sebuah kesalahan yang terbesar yang pernah kulakukan seumur hidupku, di samping hubunganku dengan Duta."
Aku tak menyahut. Mungkin aku tak perlu munafik, saat kukatakan dalam hati aku memang mengakui kesalahannya. Kesalahan yang akhirnya membuatnya menjadi seekor lalat, yang kemudian membuatnya ditepuk di sana-sini.
Seekor lalat pengacau...
Saat kubaca lagi kata demi kata yang tertulis di surat undangan itu, aku tersenyum, sekaligus merasa kecewa. Poppi akan menikah, dengan pemuda yang sudah merebutnya dariku. Tentu saja aku senang, hanya sayang sekali pesta pernikahan itu dilangsungkan di Batam, sebuah tempat yang bahkan aku sendiri tak pernah memikirkan untuk menginjakkan kakiku di sana. Dalam imajinasiku, terbayang sosok Poppi yang mengenakan pakaian serba putih, berjalan diiringi bocah-bocah pembawa keranjang bunga. Ia pasti akan kelihatan sangat cantik, pikirku. Betapapun besar keinginanku untuk berada di sana, kurasa itu tak memungkinkan, mengingat kesibukanku kuliah dan kerja. Sebagai balasan, kutuliskan surat ucapan selamat padanya, mengambil alamat yang tertera di dalam surat undangan, seiring dengan permintaan maafku, dan bahwa aku akan membayarnya dalam sebuah kunjungan suatu saat nanti.
Aku terkenang saat-saat kami masih bersama, hingga kelulusan SMA. Dua tahun setelahnya, tak pernah ada kabar berita dari Poppi. Akupun sudah tak terlalu mengingatnya, bersama dengan lupaku pada cinta pertamaku-yang akhirnya meninggalkanku lagi dengan perasaan bodoh yang tiada taranya. Perasaan yang membawaku ke dunia yang kugeluti sekarang. Kata Jay, sahabatku, aku hidup dalam dunia kelamin wanita. Di sana vagina, di sini vagina. Lucu memang, tapi itulah kenyataannya. Pelampiasan-pelampiasan kekesalan pada kenyataan hidup yang amburadul, digabungkan dengan kemampuan seekor angsa emas.
Kupikir, mungkin kalau aku masih bersama dengan Poppi si gendut, aku takkan seliar ini. Tapi aku memutuskan untuk takkan memikirkan kepusingan itu lagi saat mengirimkan suratku padanya.
Poppi sudah menjadi seorang isteri, dan aku yakin ia akan berusaha sebaiknya untuk itu. Dalam hati aku turut berdoa, semoga si angsa emas itu bisa memunculkan kembali sikap rendah hatinya, dan membuang congkaknya, kembali ke isi yang semula, meskipun dalam kemasan baru-Poppi si gendut.
Hari-hari berikutnya, aku kembali dalam kehidupanku yang warna-warni, tanpa mengingat akan Poppi, bahkan tanpa mengharapkan bahwa ia akan mengingatku.
Sampai awal Maret 2002, saat terkejutku kala menemukan sosoknya di depan pintu rumahku. Pagi-pagi benar saat itu, sepulangku dari kencan semalam bersama seorang gadis pegawai kantor valas. Semula kukira salah seorang klien atau bahkan ibu RT yang memang sering protes karena aku acap membawa gadis tak dikenal menginap semalam dua malam di rumah.
"Halo, Ray," sapanya sambil tersenyum kala itu. Aku pun kaget seketika. Dalam hidupku, mungkin aku pernah melupakan sosok seseorang, apalagi yang telah mengalami perubahan, tapi tidak dalam masalah suara.
"Po...Poppi?" tanyaku padanya, memandang tak percaya.
Itu bukan Poppi yang pernah kukenal. Bukan Poppi si gendut yang lucu dan menggemaskan. Bukan pula Poppi si angsa emas yang molek menggairahkan.
"Kaget?" tanyanya, menyeringai. Dan saat itulah kusadari bahwa ia memang benar-benar Poppi. Seringai nakal yang tak mungkin pernah kulupa seumur hidupku. Seringai dari salah seorang sahabat terbaikku.
...
...Poppi.
"Pooooopppp!!!" seruku, lalu menghambur ke arahnya. Kami tertawa dan saling berpelukan. Tak perduli aku, bahwa yang kuhadapi adalah sosok seorang wanita bertubuh gemuk dengan wajah penuh kerutan. Yang kutahu, yang kupeluk adalah sosok sahabatku yang lama, yang begitu kurindukan. Bukan Poppi si angsa emas, tapi Poppi si gendut.
Beberapa saat kemudian, aku dan Poppi sudah bersenda gurau di teras depan rumah. Aku tak bisa melepaskan pandangan mataku darinya, rasa senang di hatiku yang tak bisa kututupi saat menyadari kehadirannya. Sebuah kerinduan yang menyeruak.
Sampai satu ketika, aku menoleh dengan rasa ingin tahu.
"Apa, Ray? Nungguin babu sebelah?" tanya Poppi sambil nyengir.
"Hey!" seruku protes, "aku hanya ingin melihat keponakanku."
Saat itulah kulihat rautnya berubah. Dari keceriaan, menjadi kekelaman sendu yang tiada berbatas. Diamnya membuatku merasa kikuk. Kulihat ia melayangkan pandangannya jauh entah kemana. Tatapan yang kosong.
"Pop?" panggilku padanya. Lalu tanpa menoleh, Poppi menggerakkan bibirnya, mengatakan apa yang menjadi bagian tersedih dari keseluruhan cerita ini.
-o-
Empat tahun sudah hubungan yang dijalin oleh Poppi dan Duta, sebelum mereka menikah. Hubungan yang manis, dan bisa membuat semua orang merasa sirik. Yang seorang adalah gadis yang jelita, dan yang seorang lagi adalah pemuda bertubuh kekar dengan wajah cakap dan seragam mentereng. Jarak jauh bukan masalah, selama cinta itu masih ada di diri mereka. Kebanggaan Poppi saat pesta dansa diselenggarakan, saat bergaul dengan sahabat-sahabatnya, saat menikmati pandangan-pandangan iri hati dari gadis-gadis di sekelilingnya. Senyum selalu di bibirnya. Bahagia sudah menjadi miliknya utuh.
Suatu ketika, menjelang tahun kedua hubungan mereka, Poppi menyerahkan apa yang menjadi miliknya yang paling berharga pada Duta. Di sebuah hotel, setelah pesta dansa usai. Kecupan demi kecupan, rayuan demi rayuan, janji demi janji yang mengalir, membuai si gadis, menerbangkannya ke angkasa tanpa bisa ditahan.
Bercinta dengan pujaan hati, dambaan jiwa. Sepenuh hati, setulus penyerahan diri yang bisa dilakukannya pada sang cinta.
Tangisan yang datang kemudian, hanyalah tangisan kebahagiaan. Duta pun tidak menterlantarkan Poppi, dan mencintainya dengan tiada berubah. Hubungan pun semakin manis dari hari ke hari. Adegan-adegan percumbuan dan hubungan seksual menjadi bunga-bunga yang mewarnai taman cinta mereka.
Suatu ketika pula, tahun ketiga hubungan mereka, Poppi hamil. Terkejutnya si gadis, dan kebahagiaan si pemuda, menjadi awal percekcokan.
"Aku tak mau putus kuliah. Aku tak mau terlihat buruk. Aku tak mau! Aku masih ingin menjalani masa mudaku!" begitu seru Poppi, di tengah isak penolakannya untuk mempertahankan sang janin yang tiada berdosa. Sementara Duta, yang sudah berjanji mati untuk bertanggung jawab dengan menikahi Poppi, tak bisa lain hanya menggelengkan kepala. Cintanya, yang juga berarti kebahagiaan gadisnya, adalah satu-satunya alasan, mengapa ia memejamkan mata dan mengangguk. Menyetujui keputusan eksekusi si janin.
Rayuan demi rayuan dari Poppi, perlahan membuat kasih sayang yang sempat hilang dari Duta kembali pada si gadis. Hati-hari pun kembali dengan kemanisan. Walau tanpa sesadar mereka berdua, mereka telah memendam biang kerok yang akan terus terbawa seumur hidup mereka.
Suatu ketika, di tahun keempat hubungan mereka, lagi-lagi Poppi hamil. Duta berkutat dalam keinginannya untuk menikahi Poppi, dan mempertahankan darah dagingnya. Satu sisi yang menyakitkan si pemuda, Poppi, si selebritis dan gadis idola di kantor, masih juga berkutat untuk mempertahankan persepsi orang-orang akan kecantikan dan kesuciannya. Dari perkutatan yang tiada habis, akhirnya Poppi menjebol tabungannya sendiri, dan berangkat ke pinggir kota untuk mengoret si janin tanpa sepengetahuan Duta. Pemuda yang baru tahu
belakangan, seminggu setelahnya, hanya bisa meratap dan menyesali nasib si jabang yang tak pernah mengecap udara dunia.
Hubungan yang merenggang membuat Duta stress berat. Pekerjaannya semakin kacau, hingga sepuluh hari setelahnya, Duta salah menembak buruannya. Membunuh seorang tua tak berdosa yang sedang duduk-duduk menikmati angin sore di atas becak sumber penghidupannya. Orang-orang membencinya. Atasan-atasan yang semula hendak mengkadernya menjadi salah seorang penerus mulai memicingkan sebelah mata.
Duta yang malang diliburkan, dua minggu kemudian, sebuah penghakiman yang tak seimbang, dengan alasan mengingat prestasi dan bisik-bisik amplop di belakang layar. Dalam masa liburnya yang secara tak langsung menjadi pencoretan atas reputasi dan masa depannya, Duta seolah gila. Menjadi liar.
Poppi menghibur dengan segala cintanya, berusaha menenangkan dan memperoleh kembali kasih sayang si pemuda yang terrenggut oleh sentakan-sentakan emosional dan tuduhan-tuduhan menyakitkan.
Suatu malam, seminggu setelah palu mahkamah militer diketuk, keributan itu terjadi lagi.
"Semua gara gara kamu! GARA-...
...GARA KAMU!! KAMU BIKIN AKU STRESS!"
Satu tamparan kemudian, Duta menggagahi kekasihnya dengan liar. Poppi meronta dan merintih kesakitan. Duta yang liar, dengan bau alkohol di hembusan nafasnya, tak perduli lagi. Mabuk, si pemuda semburkan `celaka' itu di rahim kekasihnya.
"Ini tidak bisa dikoret, belum dua bulan. Maaf," begitu kata dokter Satyo pada Poppi, setelah si gadis merasa menstruasinya terlambat seminggu. Poppi mengerang, memohon sampai terjatuh di lantai. Namun kata-kata yang sama tetap terucap dari sang dokter.
"Resikonya jelas, kerusakan rahim, dan incapability of breeding."
Poppi merintih, meratapi nasibnya.
Saat Duta mengetahui hal itu, dalam keadaan sadar, si pemuda juga menyadari kesalahannya. Satu keputusan segera dicapai, sebelum semua orang menyadari perubahan di diri si gadis. Menikah, sebagaimana seharusnya sejak dulu kala.
Pernikahan yang meriah. Para pejabat dan handai taulan yang berkumpul bersama, menikmati prosesi dengan takzim dan penuh kebahagiaan. Lalu segalanya berangsur membaik. Kandungan yang membesar, mengiringi kembalinya Duta pada bagian yang hilang dari hidupnya. Prestasi demi prestasi mulai digalang si pemuda kembali. Orang-orang mulai bisa memaafkan kesalahannya. Orang-orang jahat beringsut ketakutan saat si pemuda beraksi.
Tak ada yang sebahagia Duta. Bahkan setelah menyadari bahwa Poppi juga mulai menerima kodratnya sebagai seorang wanita yang memberikan keturunan bagi sang suami. Kehidupan rumah tangga yang harmonis.
Suatu ketika, saat kandungan sudah semakin dekat di hari H, sebuah berita mengejutkan menjadi pencetus keluarnya momok yang mengerikan.
"INVALID? Bagaimana bisa?"
"Bisa jadi gara-gara pengoretan yang kurang sempurna," begitu alasan sang dokter yang memeriksa kondisi janin di dalam tubuh Poppi. Duta hanya menganga, tak sempat ia melihat raut wajah sang isteri yang sepucat kertas. Dan tentu saja Poppi tak bisa menceritakan bahwa pergulatan batinnya, ketakutannya, di hari-hari pertama setelah vonis `anak itu harus dilahirkan' dijatuhkan oleh sang dokter-membuatnya tanpa sadar menenggak obat-obat dan jamu `pengais rahim'.
Walau setelahnya ia berhasil meredakan egois-nya, segala sesuatu telah terlambat... janin itu sudah mengalami mutasi.
"Jadi, sebelum terlambat, ini mau dilahirkan, atau dikeluarkan?"
Duta terduduk lemas di atas kursi. Poppi menjerit dan terguling pingsan.
Penarikan janin yang terjadi selanjutnya, mengikutsertakan sang momok.
Proses itu tak sesempurna yang diharapkan.
Poppi, mengeluarkan bayi invalid itu dari tubuhnya.
Poppi jadi invalid, kemudian. Incapable of breeding.
Dendam roh anak yang tergugur seolah membalas dendam pada sang bunda.
"ITU SALAHMU! SALAHMU!!! KAMU... KAMU YANG SELALU MENGGUGUR SANA MENGGUGUR SINI!!!"
Duta stress berat. Hilang sudah harapannya untuk menimang bocah lelaki yang sehat, yang akan menjadi penerusnya membasmi kejahatan. Poppi meraung, meratapi nasibnya.
Kebahagiaan itupun hilang. Lenyap.
Lama setelahnya, derita itu tak jua beringsut pergi. Reputasi sang pembasmi kejahatan terus menanjak, dalam kegilaannya membasmi bersih semua oknum tanpa belas kasihan. Mata-mata berbulu lentik mulai melirik menggoda, mencemooh pada sang isteri yan invalid. Dan bukannya Duta tak tahu akan hal itu. Pergi pagi dan pulang malam mulai dijalaninya. Tak pernah lagi ia menyentuh Poppi di tempat tidur. Dan sang isteri yang menderita kesedihan berat, tak bisa lagi mengontrol dirinya. Makan kebanyakan, tidur kebanyakan, menangis kebanyakan.
Hilanglah si angsa emas.
Hanya seekor.... lalat pengacau.
"Kamu setidaknya harus punya keturunan, baru afdol," begitu kata sang atasan pada Duta. Walau hanya berniat bercanda, namun Duta memendamnya dalam hati.
Tahun kedua setelahnya.. semua cerita cinta yang manis berakhir, dengan kepulangan Poppi ke toko kelontong kuno milik dua renta, dengan sepucuk surat penghakiman yang menyakitkan. Kedua orang renta, menyaksikan kepedihan sang anak, hanya bisa geleng kepala. Dalam hati, entah mereka bersyukur atau malah kecewa, mereka tak juga pungkiri bahwa sejak si angsa emas kepakkan sayapnya, mereka berdua tak lebih dari serpihan masa lalu si angsa emas yang tak layak untuk diingat. Bagaimanapun, orang tua tetaplah orang tua, mengasihi sang anak lebih penting daripada mengurusi rasa sakit hati.
Demikianlah, hari-hari yang berlalu. Rasa sakit dan kecewa, bercampur momok-momok bocah tak berbentuk yang memanggil setiap malam, membuat Poppi tak ubahnya seperti sesosok mayat hidup. Membuat orang-orang menggelengkan kepala pilu saat menyaksikan tatapan matanya yang kosong, dan air mata yang menitik tanpa sadar kemudian. Bahkan gadis-gadis kampung yang dulu sempat mencibir saat si angsa emas mengumbar kecongkakannya, mau tak mau merasa kasihan, saat mendengar teriakan memilukan kala malam menjelang pagi dari toko kelontong.
Hingga pada suatu siang yang mendung, saat Poppi membongkar lemari di gudang untuk mencari botol sari kedelai. Secarik kertas menyembul dari bawah lemari, menyita perhatiannya. Poppi berdebar, menduga-duga, apakah kertas itu benar ...
...seperti apa yang diingatnya. Jemarinya bergetar, meraih ujung kertas itu.
Sebuah amplop. Poppi memejamkan mata, dan mulai menggerung, menangis sesunggukan. Kelebat ingatan itu kembali tanpa kompromi. Tentang sosok seorang sahabat dari masa lalu. Sosok seorang pemuda yang begitu ia kasihi, dulu, dan yang begitu mengasihinya, entah sekarang bagaimana. Yang sudah mengajarkannya tentang cara-cara menjadi seekor angsa emas. Pemuda yang penuh keajaiban itu.
"Tidak...," bisik si gadis, hendak membuang amplop itu jauh-jauh. Tapi kerinduan yang memuncak, membuat jemarinya tanpa sadar membuka amplop.
Sebuah kertas mengkilat terjatuh dari sisi amplop yang terbuka, berputar di udara beberapa kali, untuk kemudian jatuh di atas lantai.
Menatap ke arah si gadis, sosok seorang pemuda yang menyeringai, dengan jemari tangan kanan membentuk tanda `victory'. Di sudut kanan atas, beberapa tulisan tangan yang masih jelas terbaca: `with love, tender, and care'.
Poppi tersenyum di tengah isaknya. Betapa ia merindukan sosok pemuda itu, sudah tak terbantah lagi. Hatinya merintih dalam galau. Teringat ia betapa ia telah menyakiti si pemuda dengan pisau-pisau tajamnya. Merenggangkan hubungan yang manis di antara mereka. Lalu memutuskannya untuk mencari jalan sendiri.
"Ray...," Poppi berbisik, memanggil nama yang sudah lama tak pernah disebutkannya lagi.
"Kapanpun kamu butuh aku, aku selalu ada....," kata-kata itu terngiang di telinga Poppi. Si gadis mengeluh lagi: apakah aku masih pantas? masih layak?
-o-
"...apakah aku masih pantas? Apakah aku masih layak?" begitu Poppi menghabisi ceritanya di teras depan rumahku. Kutatap ia dengan pandangan dan hati yang tersenyum simpul. Di depan mataku, kulihat ia sudah sangat jauh dewasa, bahkan melebihi perkiraanku semula. Dari air mata yang mengalir di pipinya, aku seolah bisa menggambarkan penderitaan model apa yang dialaminya selama ini. Terkadang, nasib memang bisa membawa manusia sampai ke batas terjauh dari yang disebut penderitaan batin. Hanya satu hal saja yang bisa membuat seseorang bisa melalui segalanya dengan langkah tegap dan mantap, dengan senyum yang mengembang di bibir-dan aku tak yakin bisa memberikan lebih pada Poppi dari sekedar kehangatan berteman. Masa-masa profesiku sebagai seorang `curer' sudah berlalu. Romantisme itu sudah lama hilang dari
sisi hidupku.
"Pop......"
"Eh," mendadak ia membalikkan wajahnya, menyeka air mata dan tersenyum.
"Ray, kita jalan-jalan yuk?" ucapnya padaku.
"Ke mana?" sahutku, tersenyum kala melihat perubahan di dirinya.
`Entahlah. Sejauh mungkin dari kota."
"Hahahaha... aku jadi ingat suatu tempat, tapi, apa nggak terlalu jauh?"
"Sejak kapan kamu kenal kata terlalu jauh?"
Aku tertawa, dan Poppi tertawa. Tawa itu pula yang membawa kami kembali ke hutan jati, di perbatasan antara dua propinsi, ke rawa payau yang sudah mengering dimakan waktu.
-o-
Chapter IV
Hujan turun semakin lebat saat kami berlarian menuju mobil. Derai tawa keluar dari mulut kami masing-masing. Di dalam mobil, kuraih handuk kecil di jok belakang, dan menyerahkannya pada Poppi. Gadis itu lalu mengeringkan tubuhnya, dengan mata dan senyum yang tak lepas dariku. Kutopang daguku dengan lengan, membalas tatapannya dengan senyum juga.
"Aku heran," kataku kemudian, "apa yang membuat kamu bisa berpikiran untuk menemuiku? Sori, bukan maksudku mengatakan kamu tak layak atau sebagainya. Aku hanya penasaran saja."
Poppi tersenyum, menyodorkan handuk di tangannya padaku.
"Entahlah. Mungkin aku hanya sekedar gambling."
"Gambling?" tanyaku sambil menggosokkan handuk kecil di rambut.
"Hmmm. Baiklah, bukan gambling. Aku percaya, kamu pasti takkan menolakku."
"Kenapa begitu?" tanyaku menyeringai.
Tangan Poppi terangkat, jemarinya menyentuh keningku.
"Saat aku terdiam, memandangi fotomu di lantai. Aku melakukan hal yang serupa. Menyentuh dengan ujung jari. Tahu apa yang kurasakan? Tahu apa yang kudengar? Di benakku saat itu, wajahmu di dalam foto seolah tampak nyata, menggenggam jariku, dan membisikkan begini: Pop, kita adalah teman selamanya. Saat semua berpaling darimu, dan membuatmu sakit dan menderita, teman sejati adalah satu-satunya yang tersisa, yang masih menatap kepadamu dengan tersenyum, yang akan mengulurkan lengannya untuk memapahmu, dan mengiringimu melalui segalanya.
Itu yang kurasakan, dan itu yang kudengar...."
Aku tak bisa mengatakan apapun. Sejujurnya, apa yang dikatakannya memang tak salah sama sekali. Bahkan sejak dulu sampai sekarang, aku masih mengagungkan hubungan persahabatan, daripada hubungan percintaan. Seperti kata orang juga, cinta bisa putus dan berakhir, namun persahabatan yang baik kekal selamanya.
"... ternyata aku tak salah. Waktu pertama aku melihatmu di depan pagar, kurasakan bagian-bagian yang hilang seolah mengumpul lagi. Ada satu nih, Ray, yang mencuat keluar waktu ketemu kamu. Yang membuatku bisa sedemikian ceria."
"Ah? ...
...Apa?" tanyaku, tersenyum penasaran.
"Poppi si gendut," sahutnya, menyeringai nakal.
"Hahahahaha," tawaku dan tawanya membaur di dalam mobil.
Sesaat kemudian kupeluk ia erat-erat.
"Pop, aku selamanya temanmu," bisikku padanya. Dan ia mengangguk. Kulepaskan pelukanku, mendorong tubuhnya sedikit ke belakang, lalu menempelkan jemariku di keningnya.
"Dan.... Get a life!"
Poppi tersenyum dan mengangguk.
Hari itu sudah senja di hutan jati. Hujan yang mengguyur memuat segalanya tampak kabur. Kulajukan mobil pelan-pelan. Tak tahu aku, kapan akan tiba di Surabaya. Aku pun tak ingin memikirkannya. Aku dan Poppi punya banyak cerita masa lalu untuk dikenang. Tentang teman-teman masa kecil. Tentang sekolah dan guru-guru. Tentang gadis-gadis yang sudah ku-ombang-ambingkan. Tentang pemuda-pemuda yang bertekuk lutut di kaki Poppi dan mengemis cintanya. Dan tentang kami berdua.
Dalam hatiku, kuakui Poppi bukan lagi si angsa emas yang penuh pesona, bukan pula Poppi si gendut yang rendah diri. Poppi, adalah satu dari sekian banyak gadis yang memperoleh pelajaran berharga dari sang mahaguru: pengalaman.
Saat ia menganggukkan kepalanya, berjanji tanpa kata-kata untuk meneruskan kisah hidupnya, apapun yang terjadi, kusadari satu hal... dia sudah menjadi sosok seorang gadis perkasa. Supergirl.
"Hey, Ray, mengapa kamu tak pernah mengajakku bercinta?" tanya Poppi, mengejutkanku. Bengong, sejenak aku tak tahu harus menjawab apa.
"Eh, begini, anggap saja aku seorang pemuda yang luar biasa baiknya."
"Hihihi."
*smile*