peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

'Bapak itu menyimpan kami' - ceritaku.1



'Bapak itu menyimpan kami'


Bapak itu menyimpan kami
Bagian Satu

Deni memandang gelisah ke arah jalanan yang masih penuh sesak dalam kemacetan regular sore hari. Benaknya terasa begitu kacau saat itu. Bagaimana kalau bapak itu mencegatnya di pinggir jalan dan begitu saja menggorok kepalanya? Bagaimana kalau ternyata orang yang digambarkannya bukan pelaku aslinya? Bagaimana kalau ia tak pernah lagi menatap indahnya mentari? Sekitar seperempat jam Deni berkutat dengan pemikirannya sebelum Sersan Wardi mengejutkannya dari belakang. "Hey. Jangan melamun."
Deni membalikkan tubuhnya dan menerima sekaleng Coca Cola yang disuguhkan kepadanya. "Thanks."
Sersan Wardi tersenyum dan menenggak minumannya sendiri.
"Pak," bisik Deni lirih seolah tak ingin orang-orang lain di kios itu mendengar pembicaraan mereka, "kok saya jadi takut, ya?"
Sersan Wardi terkekeh dan menepuk pundak pemuda di sebelahnya. "Sudahlah. Jangan khawatir. Dengan saya kamu akan aman-aman saja." Sersan Wardi menyingkap rompi hijau tuanya dan Deni merasa bulu kuduknya meremang melihat benda hitam berkilat yang terselip di pinggang si Sersan.
"Ya, kalau Bapak merasa begitu," ucapnya sambil lalu dan meneguk minumannya. Sersan Wardi tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.
"Mungkin suatu hal yang susah untuk menemukan pelaku di antara sekian banyak manusia yang berkeliaran di kota ini." Deni mengangguk mendengarkan pernyataan itu. Dalam hati Deni membenarkan ucapan itu. Lagipula belum tentu pelaku itu tahu di mana ia berada sekarang.

Mendadak Deni merasa seseorang menghembus daun kupingnya.

Pemuda itu menoleh ke belakang dan melihat tidak ada siapapun di sana. Hanya pemilik kios dan seorang bapak gemuk berpakaian safari yang masih memilih-milih minuman dalam kotak pendingin. Deni memandang ke sekelilinnya dan mengira-ngira, apakah hembusan itu hanya perasaannya sendiri.
"Ada apa, Dik?" Sersan Wardi memandang ke arahnya dengan tatapan penuh tanya. Deni menggelengkan kepalanya, "Entahlah, Pak. Tadi saya seakan merasakan sesuatu." Sersan Wardi tertawa dan merangkul Deni seraya berkata, "Itu hanya karena kamu merasa tegang." Beberapa saat kemudian raut wajah Sersan Wardi berubah tegang, "Apa ini?" Deni merasakan sesuatu direnggut dari punggungnya. Cepat pemuda itu membalikkan tubuh menghadap Sersan Wardi yang sudah memegang sehelai kertas tipis di tangannya. Wajah Sersan itu terlihat tegang saat membaca surat itu, kemudian matanya memandang ke sekeliling, tangannya perlahan merogoh ke balik rompi hijau tuanya. Deni mengambil kertas di tangan si Sersan dan merasakan keringat dingin mengalir di tengkuknya saat membaca isi surat itu. Huruf-huruf di kertas itu disusun dengan menggunting huruf dari berbagai judul berita surat kabar. Walaupun berbeda satu huruf dengan lainnya, namun huruf-huruf itu tersusun rapi.

"I SEE YOU, I TOUCH YOU"

Bapak tadi! Deni memutar tubuhnya dan mencari-cari, tapi bapak berpakaian safari tadi sudah menghilang.

Bagian Dua

Nungki terbangun hari itu dengan tangan masih memeluk buku kecil bergambar Hello Kitty. Gadis itu mengerjapkan matanya sebentar berusaha memulihkan kesadarannya. Rumah itu terasa sepi. Dalam hati Nungki bertanya-tanya kemana Joe pergi. Nungki menggeliat dan mengangkat tubuhnya. Matanya menatap ke arah buku yang terjatuh karena gerakannya barusan, dan rasa keingintahuannya menyeruak kembali. Ia sudah menghabiskan hampir setengah dari isi buku itu semalaman. Nungki mencoba mengingat-ingat semua yang dituturkan gadis bernama Vika di buku hariannya. Dari tahun 1993 sampai dengan awal tahun 1994 buku itu bercerita tentang kesepian gadis Vika, di mana kedua orang tuanya, terutama ibunya, jarang sekali memberikan perhatian yang cukup padanya. Dan bagaimana pergaulan Vika yang menurut Nungki nyaris mirip dengannya. Selalu kesepian di tengah keramaian. Dari buku harian itu pula Nungki mengetahui bahwa pada tahun 1993 ibu gadis itu, isteri Joe, meninggal karena sebab yang bahkan gadis Vika sendiri tidak tahu mengapa.

"Dan sejak ulang tahun Vika, Vika tidak pernah lagi menjumpai Mama. Kitty, Vika tidak mengerti ke mana Mama pergi. Apakah Mama tidak sayang lagi pada Vika? Kata Papa, Mama sudah pergi dan nggak akan kembali lagi.?"

…dan sebuah alinea yang berbunyi demikian

"Kitty, Vika benci Papa. Vika tahu Mama sudah meninggal. Kenapa? Karena Vika mendengar sendiri Papa menangis malam itu sambil bilang, 'Hanah. Kenapa kamu harus meninggal'. Vika kan bukan anak kecil lagi yang bisa dibodohi seperti itu. Tapi masalahnya, kenapa Papa tidak pernah mengunjungi makam Mama? Apakah Papa dan Mama berkelahi? Lalu mengapa Mama meninggal? Jelas saja dong, Vika tidak berani bertanya pada Papa. Nanti Papa marah, Vika kan takut. Satu lagi, Kitty. Vika sering mendengar Papa menangis malam-malam."

Nungki mengingat benar kata demi kata yang sempat membuatnya menangis sesunggukan karena kerinduan kepada ibunya yang mendadak menyeruak dalam hatinya. Tapi meninggal tanpa sebab? Itu merupakan sesuatu hal yang benar-benar mengundang rasa ingin tahunya.

Dan kini ia berniat melanjutkannya. Nungki ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan gadis itu. Mungkin ia akan menemukan juga penyebab ...



...mengapa Joe menyekapnya di ruangan itu, seperti penyebab mengapa ia mendengar erangan-erangan aneh kemarin malam.

"29 Maret 1994

Di luar hujan. Kenapa ya, Kitty. Vika merasa takut sendirian akhir-akhir ini. Suara tangis Papa terdengar semakin sering. Dulunya sih dua kali seminggu-an begitu. Tapi sekarang Vika nyaris bisa mendengarnya setiap hari. Anehnya, mengapa Papa selalu kelihatan biasa saja menjelang pagi?"

Nungki merasa bulu kuduknya merinding. Mungkin ada sesuatu yang salah dengan kematian isteri Joe yang membuatnya sebegitu gelisah hingga menangis tiap malam. Apakah Joe membunuh isterinya? Nungki meneruskan membuka lembaran berikutnya. Ternyata lembaran itu adalah lembaran terakhir yang terisi tulisan. Nungki menghela nafasnya kecewa, tapi ia meneruskan membaca.

"1 Juni 1994

Hari ini Opa dan Oma akan menjemput Vika. Bayangkan, Vika akan ke luar negeri. Asik, loh Kitty. Kata Papa sih, Opa dan Oma mau ngajak Vika jalan-jalan. Pokoknya Kitty jangan khawatir dech, nanti Vika bawain oleh-oleh dari sana. Ikut? Jangan dech. Kitty di sini saja nemanin Papa, biar Papa ngga kesepian."

Dan itu adalah tulisan yang terakhir. Rupanya Vika hanya satu setengah tahun menulis di bukunya. Nungki berpikir sejenak. Lalu mengapa tidak ada lagi tulisan di buku ini, sementara di atas meja rias foto itu bertuliskan tahun 1996? Nungki merenung sejenak. Mungkin Vika akhirnya menetap di sana dan melupakan buku hariannya.
Berpikir demikian Nungki menghela nafas dan menutup buku kecil di tangannya. Sama sekali tidak ada petunjuk. Gadis itu mulai gelisah. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Banyak hal yang belum jelas di pikirannya. Yang pasti, firasatnya mengatakan kalau ia berlama-lama di tempat ini, sesuatu yang mengerikan akan terjadi padanya.

Bagian Tiga

Joe melepaskan baju safari dan kaca mata gelap yang ia kenakan. Tersenyum puas setelah memberikan peringatan pada pemuda itu. Joe melangkahkan kakinya menuju tong sampah di sudut gang, membuang baju dan kaca mata itu, lalu melangkah menuju mobil barunya. Joe terkekeh saat melangkah masuk. Mereka akan menghabiskan waktu mencari mobil Timor hitam yang sudah dipajang di depan etalase toko itu.
Joe menginjak pedal gas dan berlalu. Dari kaca spion ia masih melihat pemuda itu kebingungan membalikkan tubuh ke sana ke mari mencari-cari siapa yang menempelkan kertas itu di punggungnya. Dengan masih tersenyum puas Joe melajukan mobilnya pulang.

Joe membawa bungkusan makanan itu dengan hati-hati dan membuka pintu ruang tamu. Bibirnya bersiul riang. Hari ini ia telah melakukan sesuatu yang menurutnya menyenangkan. Joe melangkah menuju ke arah dapur yang masih terlihat kemerahan di sudut-sudutnya. Lelaki itu meletakkan bungkusan makanan di atas meja dan mengeluarkannya satu demi satu. Sebelum pening di kepalanya kembali kumat.
"Arrgghh!!" Joe memegangi kepalanya dan menjambak rambutnya. Teriakan dan erangan itu melintas lagi di kepalanya.
"Tolong…. Jangan… tolong…." Joe memukulkan tangannya keras-keras ke atas meja, menimbulkan suara berdebum yang mengejutkan. Beberapa saat kemudian suara-suara itu hilang dari benaknya. Joe mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya tanpa ia sadari. "Sinting," makinya lalu meneruskan mengeluarkan bahan makanan dari bungkusan di atas meja.

Joe meletakkan nasi goreng instan itu di atas baki dan tersenyum puas. Ia bertanya-tanya sedang apa gadis baru itu saat ini? Oh, ya. Joe membalikkan tubuhnya dan meraih gulungan koran di atas mesin cuci piring. Aku akang mengejutkannya. Dengan hati-hati Joe mengangkat baki makanan dan melangkah melintasi lorong menuju ke kamar putrinya yang sudah meninggal.
Joe menaruh baki makanan di atas lantai dan mengambil segepok kunci dari kantung celananya, memasukkan anak kunci itu dan memutar gagang pintu. Bibirnya tersenyum saat melihat gadis itu masih di atas tempat tidur. Sejenak benaknya melayang pada saat Hanah masih hidup. Saat-saat yang sama ketika ia mengantarkan makanan untuk isterinya yang bahkan tak sempat dimakamkan itu.

Gadis di depannya hanya memandang tak berkedip saat ia meletakkan baki makanan itu di atas meja, "Hai, selamat siang." Gadis itu mengangguk padanya. Gadis ini berani, pikir Joe dalam hatinya. Sejenak ia merasa sayang apabila harus mencungkil keluar mata gadis yang masih menatapnya itu. Tapi rasa sayang itu takkan bisa mengalahkan rasa sayangnya pada malaikat kecilnya yang sudah menanti tak sabar di dalam bathtub.
"Joe." Joe mendengar gadis itu menyapanya, "Ya?"
"Joe," gadis itu mengulang namanya, "kemana anak dan isterimu pergi? Apakah mereka meninggalkanmu?"

Joe terkesiap. Rasa pening itu kembali merasukinya. Hanah. Vika.

"Tidaaakkk!!!" Joe menjerit histeris, tangannya terayun dan baki makan di atas meja terjatuh menimbulkan bunyi berkelontang. Gadis di atas tempat tidur melompat dan terjatuh ke sudut ruangan. Joe menjambaki rambutnya dengan wajah berkerut.
Rasa ...



...pening itu hilang dalam sekejap. Joe melepaskan tangannya, mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap adis yang sudah menyudutkan tubuhnya dengan berurai air mata.
"Ah, mereka?" Joe menenangkan dirinya dan membereskan tumpahan nasi goreng di lantai. "Mereka ada di kamarku."
Gadis itu tetap di sudut ruangan. Joe melirik ke kanan dan ke kiri sebelum menemukan buku kecil itu terselip di balik bantal. Joe mengulurkan tangannya dan mengambil buku kecil itu. Ingatan demi ingatan saat ia memberikan buku itu pada malaikat kecilnya terulang kembali, tanpa sadar Joe menangis dengan tersenyum.
"Vika," desahnya seperti membisik. Dimasukkannya buku kecil itu ke saku belakang celananya, dan kembali menatap gadis di sudut kamar. "Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Itu kan makan siang kamu?" Gadis itu hanya terdiam dengan bahu masih bergetar. Joe menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sebelum menutup pintu, Joe teringat sesuatu. Diambilnya gulungan koran dari balik bajunya dan melemparkan gulungan koran itu ke arah si gadis seraya berkata, "Oh, ya. Ini cowok kamu, bukan? Jangan khawatir, sebentar lagi ia akan menemani kamu di sini." Dengan tersenyum puas Joe menutup pintu dan melangkah menelusuri lorong di depan kamar. Belum sampai di sudut lorong, Joe mendengar jeritan histeris dari gadis di dalam kamar. Joe menyeringai puas dan menuju kamarnya sendiri, di mana kedua buah hatinya sudah menunggu.

Joe menatap malaikat kecilnya dan tersenyum. Air mata mengalir di pipinya. "Ini punya kamu kan, Sayang?" Walau mayat rusak itu masih tetap diam, namun Joe seakan bisa melihat malaikat kecilnya mengangguk dan tersenyum. Sebuah suara terngiang di telinganya, "Thanks, Papa." Dan Joe menyeringai seraya meletakkan buku kecil di tangannya ke samping bathtub. Joe melangkah menuju meja kerjanya yang terletak di samping pintu masuk kamar. Tangannya membungkar laci meja tersebut dan mengeluarkan sebotol cairan berwarna bening.

Bagian Empat

Malam itu Sersan Wardi mengantarnya pulang. Deni masih merasa galau di hatinya akan kejadian siang tadi. "Pak, kini kita sudah yakin kalau orang itu pelakunya. Tapi bagaimana kalau orang itu mendatangi saya lagi, Pak?" Sersan Wardi menatap ke arahnya, "Jangan khawatir, kami akan menyiapkan enam orang dari regu penyergap untuk memastikan keselamatan Adik. Istirahat saja dahulu, besok kita akan pikirkan apa yang harus kita lakukan."
Deni mendengus dan melangkah keluar dari mobil. Dua pasang mata memandang di kejauhan. Seringainya tajam.

"Kamu sudah gila ya?" Deni menundukkan kepala saat ayahnya mengumpat ke arahnya. Ibunya masih menangis saat memegangi tubuh ayahnya, "Jangan, Pa. Itu bukan salahnya dia." Sang ayah mendengus gusar dan mengumpat lagi, "Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada kamu? Kamu pikir kamu akan selamat? Anak gila!"
Deni mengangkat kepalanya dan berlari menuju kamar. Aku tahu kalau ini memang berbahaya, pikir pemuda itu dalam hati, tapi semua ini sudah terjadi dan aku terlibat langsung di dalamnya. Dengan pikiran kalut Deni membenamkan kepalanya ke dalam bantal.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Salah seorang bapak berpakaian preman menguap, "Uaaahhh. Kelihatannya sepi-sepi saja." Bapak lain, yang duduk di sebelahnya terkekeh, "Yah mau gimana lagi, Pak Udin, namanya juga tugas." Bapak yang dipanggil Udin ikut tertawa, "Saya mau kencing dulu."
Udin membuka pintu mobil dan melangkah keluar, melempar rokok di jemarinya ke aspal dan melangkah ke balik sebuah pohon, tepat di depan rumah yang sedang mereka amati.

"Tarjo!" Tarjo menggeliat, rasa kantuknya mendadak sirna saat mendengar rekannya berseru. Cepat dirogohnya senjata di atas dashboard dan bergegas keluar. Dari kejauhan beberapa mobil terlihat menghampiri mereka, "Ada apa, Pak?" Tarjo, yang merupakan pemimpin tim buser itu mengangkat senjatanya sebatas kuping dang berlari miring ke balik pohon, "Celaka!" Suasana langsung menjadi ribut setelah beberapa orang itu melihat tubuh Udin yang bersimbah darah dengan tengkorak kepala yang hancur di bagian belakang. Suara mobil terdengar meraung dari kejauhan. Tarjo langsung bersikap tegas, "Kalian cepat kejar suara mobil itu! Yang lain ikut saya masuk ke dalam rumah."

Tarjo mendobrak pintu rumah dan berlari menuju kamar demi kamar diikuti ketiga anak buahnya. Tangannya menunjuk ke sana dan kemari tanpa suara dan semenit kemudian suara dua pintu didobrak terdengar serentak.
"Pak, di sini!" Tarjo mendengar salah seorang anak buahnya berseru. Bergegas Tarjo menghampiri kamar tersebut dan melihat kedua bapak dan ibu pemilik rumah terlentang di atas tempat tidur. Tarjo mengulurkan jemarinya dan memeriksa denyut nadi kedua tuan rumah tersebut, "Mereka masih hidup!" Tarjo menghela nafas lega dan masih sempat mencium bau menyengat kloroform.

Bagian Lima

Joe melarikan mobil bekas yang baru dibelinya tadi siang secepat mungkin. Bibirnya menyeringai saat ia melirik ke tubuh pemuda yang menggeletak di sampingnya. ...



..."Polisi? Hahaha," Joe terkekeh. Benaknya masih mengingat bagaimana tadi polisi yang sedang kencing itu dipukulnya kuat-kuat dengan tuas dongkrak. Hanya sekedar peringatan.
Joe memutar setir mobilnya dan memasuki halaman sebuah supermarket yang buka dua puluh empat jam. Joe menahan nafasnya saat dua buah mobil melaju dengan kecepatan tinggi di belakangnya. Setelah memastikan kedua mobil itu menghilang di kejauhan, Joe memundurkan lagi mobilnya dan meninggalkan areal parkir dengan bibir tersenyum puas. Apa sih susahnya menjebol rumah dengan teknologi jaman sekarang? Dan polisi-polisi itu begitu tolol. Mereka hanya mengawasi pintu depan. Dengan rasa bangga yang berlebihan Joe melajukan mobilnya kembali ke rumah dengan santai.

Bagian Enam

Nungki terbangun dengan badan terasa pegal. Matanya masih terasa perih akibat sisa-sisa air mata yang sudah meninabobokkannya sejak tadi siang. Nungki merasa sekujur tubuhnya lelah, diraihnya surat kabar yang sudah membuat hatinya galau tadi. Nungki kembali membaca kata demi kata di sudut kanan bawah. Benaknya terasa bingung. Apa yang Deni lakukan? mengapa ia bisa ikut terlibat? Siapa di belakang semua ini? Nungki merasa kepalanya pening. Apa yang akan dilakukan Joe pada Deni? Sejenak Nungki mengingat raut wajah Deni yang selalu mengajaknya bercanda di ruang baca. "Ah, Deni," Nungki menghela nafasnya. Sekarang ia harus mencari jalan keluar dari tempat ini.
Nungki memandang ke sekeliling ruangan, dan matanya terhenti pada daun pintu. Aku bisa membukanya, pikir Nungki dalam hati. Sekarang hanya alatnya saja. Nungki mebuka laci meja rias. Hanya ada peniti dan tali nylon. Sambil lalu Nungki mengambil benda-benda itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya. Nungki memandang ke arah bekas nasi goreng yang tumpah tadi siang dan nyaris bersorak girang melihat sendok besi yang tergeletak di atas lantai. Nungki mengambil sendok itu dan mulai sekuat tenaga memutar paku perekat kaki tempat tidur yang memliki lubang di mata pakunya. Beberapa menit kemudian Nungki menyeringai sambil menimang-nimang kaki tempat tidur itu di genggamannya.
Sekarang pintu itu. Nungki meletakkan ujung sendok di engsel pintu dan mulai mendorong engsel itu keluar perlahan-lahan dengan bantuan kaki tempat tidur. Setengah jam kemudian kedua engsel itu sudah terlepas. Nungki menarik gagang pintu sekuat tenaga. Dan pintu itu terjatuh dengan suara berdebum yang nyaring. Nungki menahan nafasnya. Menduga-duga apakah Joe ada di rumah saat itu.
Setelah meyakinkan semuanya sepi-sepi saja, Nungki malangkah keluar. Lorong itu tampak kelam, tidak ada lampu yang menyala. Mendadak Nungki mendengar suara mobil berhenti. "Celaka!" ucap gadis itu lirih. Segera diangkatnya daun pintu dan menarik daun pintu itu seolah tidak pernah terjatuh dari luar. Nungki merasa keringat mulai bercucuran di tubuhnya. Sekarang ia harus mencari tempat sembunyi.
Nungki menelusuri lorong di mana ia berada, melewati kamar mandi dan menemukan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Mungkin di sini tempat yang bagus. Nungki membuka pintu dan melangkah masuk. Dua detik kemudian gadis itu memekik melihat gentong berisi potongan-potongan tubuh manusia. Nungki merasa kakinya melemas dan semuanya menjadi begitu gelap.

Bagian Tujuh

Deni terbangun dan merasakan kekakuan menjalari seluruh tubuhnya. Pemuda itu membuka matanya yang terasa berat dan memandang nanar ke arah kegelapan. Mendadak lampu ruangan itu menyala, Deni menyipitkan matanya. Pemuda itu mendengar suara tertawa. Setelah beberapa saat, Deni membuka matanya dan terkesiap ketakutan melihat gentong-gentong kaca yang berisi larutan formalin dan potongan-potongan tubuh manusia. Deni terkejut saat melihat di sudut ruangan seorang gadis, yang tak lain adalah Nungki, tergeletak terlentang di atas sebuah kain putih lebar. Deni mencoba meronta, tapi tali yang mengikat tubuhnya di kursi kayu itu sangat kuat. Pemuda itu mengerang saat seseorang menjambak rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang.
"Hey, bagaimana koleksiku? Bagus bukan?"
Deni menggelengkan kepalanya dan orang itu melepaskan jambakannya. Deni merasa seseorang menghembus kupingnya dan suara tawa itu kembali terdengar. Deni berusaha menolehkan kepalanya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat orang yang ia tubruk dua hari yang lalu berada di belakangnya sambil menggenggam sebuah pisau kecil yang berkilat di tangannya.
"Terkejut? Kurasa tidak," orang itu berkata kepadanya, lalu mengitarinya dan menghadapinya. Deni memandang lirikan liar di mata orang itu, "Siapa kamu? Apa semua ini?"
Joe memandang sekelilingnya dan merentangkan kedua tangannya lalu memutar-mutar tubuhnya. "Ini? Ini? Ini adalah prosesi kelahiran kembali malaikat kecilku."
Deni merasa bingung apa yang dimaksudkan oleh orang itu. "Lalu Nungki, gadis itu, untuk apa kamu menculiknya?"
Joe bisa menangkap getaran gusar di mata pemuda itu. Joe tertawa dan mengambil sebuah spet dari atas meja. "Untuk ini." Joe mengambil lagi sebuah ampul dari atas meja, mengetuk-ngetuk ampu itu lalu mematahkannya. Deni melihat bagaimana Joe tersenyum-senyum ...



...menusukkan jarum spet itu dan menyedot semua cairan yang ada di dalam ampul.
"Kamu tahu ini?" Joe menyeringai ke arah Deni yang tidak menunjukkan reaksi apapun. Joe melanjutkan, "Ini adalah sejenis amfetamin yang sudah dilarang beredar di pasaran. Kamu tahu mengapa dilarang? Soalnya amfetamin ini adalah pain killer dosis tinggi. Hebatnya, obat ini tidak menyebabkan rasa kantuk bagi yang disuntikkan." Joe merasa bulu kuduknya meremang mendengar penjelasan itu.
"Gila!" pemuda itu memaki kalang kabut, "Apa yang akan kamu lakukan dengan obat itu."
Joe tertawa keras. "Hahaha, kita lihat saja. Kuharap kamu juga menikmati pertunjukan ini." Joe melangkah menuju ke arah tubuh Nungki yang masih tergeletak di sudut ruangan.

"TIDAK!!"

Deni menjerit histeris saat menyaksikan Joe menyuntikkan cairan itu ke pergelangan tangan gadis yang sudah sejak lama disukainya itu. Suara erangan keluar dari bibir gadis itu saat ia terbangun merasakan kenyerian yang merasuki tubuhnya.

Bagian Delapan

Nungki merasakan kenyerian itu menjalar dari tangan ke otaknya. Gadis itu membuka matanya dan melihat Joe sudah berlutut di atasnya. Nungki berusaha menjerit dan meronta, namun tubuhnya terasa lemah dan tangannya yang tergeletak di samping tubuhnya tak bisa bergerak.
"Jangan banyak bergerak, percuma saja, aku sudah memberikan obat bius untuk membuatmu lemas."
Nungki memandang penuh kengerian dan terkesiap saat melihat seorang pemuda terikat di kursi seraya mendelikkan matanya. Nungki berusaha menggerakkan bibirnya memanggil pemuda itu. Tapi tak ada satupun suara yang keluar.
"Jangan berbuat macam-macam padanya!" Nungki mendengar Deni berseru nyaring. Tanpa terasa air mata mengalir ke pipi gadis itu. Nungki berusaha menggerakkan lengannya sedikit demi sedikit, tapi kembali tubuhnya terasa tak mengikuti kehendaknya.
Joe tertawa dan membalik ke arah Nungki, lalu melirik jam di pergelangan tangannya, "Kukira sudah waktunya." Lalu lelaki itu menoleh ke arah Deni dan menyeringai, "Kamu sudah siap?"
Deni melihat joe mengangkat pisau kecil di tangannya dan menusuk ke mata gadis di bawahnya. Deni menjerit sejadi-jadinya.

Bagian Sembilan

Nungki tak tahu apa yang terjadi, mendadak ia merasa sesuatu memasuki kepalanya dan sesuatu terenggut dari tubuhnya. Nungki hanya merasa pandanganya menjadi nanar dan ia bisa mendengar Joe tertawa. "Iblis! Setan!" Nungki mendengar Deni berteriak seperti menangis, sementara gadis itu sendiri tak tahu apa yang tengah terjadi. Dan semuanya terasa jelas ketika ia melihat Joe yang menyeringai di atasnya sambil menggenggam sesuatu yang bulat.

Mataku! Mataku!!!!

Nungki membelalakkan matanya dan ketakutan yang amat sangat menjalar di tubuhnya. Tidak!! Itu mataku!! Air membanjir di pipinya. Nungki melihat Joe memandangnya dan mengangkat pisau kecil itu kembali.
"Kurang satu dan bye bye."
Saraf-saraf Nungki menegang.
Deni menjerit lagi untuk yang kesekian kalinya.

Bagian Sepuluh

Nungki mengayunkan jarum peniti itu sekuat tenaga. Joe berteriak saat matanya kirinya terasa perih. Lelaki itu bangkit berdiri dan mengerang kalang kabut, "Aaaaarrrhhh!!! Ahhkk!!"
Tubuhnya memutar dan kedua tangannya memegangi mata kirinya yang berlumuran darah. Nungki merasa tubuhnya bergetar menyaksikan kengerian di depan matanya. Tubuhnya kembali terasa lemas setelah kekuatan bawah sadarnya membuatnya berhasil merogoh kantung celananya dan menusukkan peniti itu ke mata Joe.
Joe terus mengerang dan memaki. Lelaki itu membuka telapak tangannya dan denga wajah beringas memandang ke arah gadis yang wajahnya juga berlumuran darah di bawahnya. Joe membungkuk dan meraih pisau kecil yang terjatuh dilantai, memandang berang, "Anak anjing! lihat apa yang sudah kaulakukan!! Aku akan membunuhmu." Joe melangkah mendekati Nungki yang tak berdaya.

Deni terkesiap menyaksikan semua itu di depan matanya. Dan kini lelaki itu akan membunuh Nungki. Joe mengerang sekuat tenaga dan menggerakkan kursi yang didudukinya. "Arrrrgggg!!" Kursi itu terjatuh bersama tubuhnya dan menghantam gentong berisi potongan tubuh manusia di sebelahnya.

Segalanya berlangsung amat cepat. Gentong itu menggelinding menumpahkan semua potongan tubuh di dalamnya. Joe membalikkan tubuhnya dan terkesiap saat potongan-potongan tubuh itu berserakan di lantai.
"Tidak! Tidak!" Joe membungkukkan tubuhnya, memunguti semua potongan tubuh di lantai dan melemparkannya ke dalam bathtub. Deni menunggu hingga Joe tepat di depannya lalu menghantamkan kepalanya sekuat tenaga di kaki lelaki itu. Joe mengerang dan terjungkal ke dalam bathtub. Pisau kecil di genggamannya terjatuh ke lantai.

Nungki memandang penuh kengerian dengan sebelah matanya saat gentong itu terjatuh dan Joe tergelincir ke dalam bathtub. Mendadak Joe melangkah keluar dari dalam bathtub dengan wajah mengerikan, berlumuran darah ...


...dan cairan formalin yang mengalir dari sudut bibirnya. "Hgggnnn….kubunuh kalian."

Dan itulah kata-kata terakhir dari Joe yang mereka dengar sebelum Joe terjungkal kembali ke dalam bathtub.

Bagian Sebelas

Deni memandangi paramedis yang mengangkut Nungki ke dalam ambulans dengan hati pilu. Gadis itu kini telah kehilangan sebelah matanya. Deni memikir dalam hati apa yang akan dilakukannya setelah semua ini berlalu.

Di dalam, Sersan Wardi menutupi mulutnya dengan saputangan seraya memandang jijik ke arah tubuh Joe yang menelungkup di dalam bathtub. Mata lelaki itu membeliak menyiratkan rasa penasaran. Dan mayat rusak itu. Sersan Wardi membuang wajahnya saat melihat mayat wanita yang sudah setengah membusuk itu seolah merangkul tubuh Joe dengan sebelah tangannya. Dengan rasa mual, Sersan Wardi melangkah ke luar rumah. Tak ingin mengingat apa yang baru saja disaksikannya.

Halaman rumah itu penuh dengan orang-orang yang sibuk membersihkan TKP dan memasang police line. Perlahan sinar matahari mulai tampak menjingga di cakrawala, seolah hendak menyapu bersih semua kenangan buruk di hari setiap orang.

Walau kenangan itu akan tetap ada untuk selamanya.

TAMAT

lega dech....

Pasti banyak pertanyaan tentang cerita ini.
Anyway, Dee akan menjawab pertanyaan kamu satu-satu (janji dech) bila mail ceritaseru.org sudah sehat. Dee juga kangen ama kalian-kalian yang sering e-mail ke Dee ^-^
Selama itu use ur imaginations, guys..OK?

Visits: 12294


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top