Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Persaudaraan Muslim
Oleh : Armansyah
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Cukup banyak himbauan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah untuk menjalin hubungan
persahabatan dan persaudaraan diantara kaum Muslimin, antara lain bisa dilihat
misalnya dalam :
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu saling bersaudara.”
(Qs. al-Hujurat 49:10)
“Dan orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian dari mereka adalah
penolong [wali] bagi sebagian yang lain.” (Qs. at-Taubah 9:71)
Dalam beberapa Haditsnya Rasulullah Saw pun bersabda :
“Janji keselamatan bagi kaum Muslim berlaku atas mereka semua, dan mereka semua
seia-sekata dalam menghadapi orang-orang selain mereka. Barangsiapa melanggar janji
keamanan seorang Muslim, maka kutukan Allah, Malaikat dan manusia sekalian tertuju
kepadanya dan tidak diterima darinya tebusan atau pengganti apapun pada hari kiamah
kelak.”
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh ia menganiayanya dan
tidak pula membiarkannya dianiaya. Barangsiapa mengurusi keperluan saudaranya sesama
Muslim, niscaya Allah akan memenuhi keperluannya sendiri. Dan barangsiapa
membebaskan beban penderitaan seorang Muslim, maka Allah akan membebaskan
penderitaannya dihari kiamat kelak. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Mukmin,
maka Allah akan menutupi aibnya dihari kiamat.”
“Hindarkan dirimu dari persangkaan buruk, sesungguhnya yang demikian itu adalah
sebohong-bohong perkataan. Jangan mencari-cari aib orang lain, jangan memata-matai,
jangan bersaingan menawar barang dengan maksud merugikan orang lain, jangan saling
menghasut, jangan saling bermusuhan dan jangan saling membenci. Jadilah kalian
hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidaklah halal bagi seorang Muslim mendiamkan
saudaranya sesama Muslim lebih dari 3 hari.”
“…Lantaran itu, damaikanlah diantara dua saudara kamu dan berbaktilah kepada Allah
agar kamu diberi rahmat.”
(Qs. al-Hujurat 49:10)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian dari prasangka itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintai-intai dan
janganlah sebagian dari kamu mengumpat sebagian yang lain; apakah suka seseorang
dari kamu memakan daging bangkai saudaranya ? Tentu kamu akan merasa jijik kepadanya
! Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Pengampun, Penyayang.”
(Qs. al-Hujurat 49:12)
Telah diketahui secara pasti bahwa hanya dengan Islam dan beriman secara
sungguh-sungguh, seorang hamba dapat meraih puncak keridhoan Allah azza wajalla.
Ulama-ulama dari Ahlus-Sunnah bersepakat bahwa hakikat Islam dan Iman adalah
pengucapan 2 kalimah syahadat, pembenaran adanya hari kebangkitan, mendirikan sholat
5 waktu karena Allah, melaksanakan ibadah Haji bila mampu, berpuasa dibulan Ramadhan
serta mengeluarkan zakat.
Bukhari dalam kumpulan hadistnya telah meriwayatkan beberapa sabda Rasulullah Saw :
“Barangsiapa bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, menghadap kiblat kita,
mengerjakan sholat kita dan memakan hasil sembelihan kita, maka ia adalah seorang
Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama sebagai Muslim lainnya.”
Berdasarkan ayat-ayat Allah dan fatwa Nabi Muhammad Saw diatas, adalah tidak pada
tempatnya kita selaku manusia yang mengaku beragama Islam dan mengaku telah beriman
secara Kaffah menciptakan suasana rusuh dan mengobarkan semangat perpecahan
dikalangan sesama Muslim.
Maukah kita mendapatkan kecaman dari Allah dan Rasul-Nya ?
Umat Islam sudah cukup lama terombang-ambing dalam gelombang perpecahan aneka ragam
alirannya dan masing-masing pihak merasa hanya kaumnya sajalah yang paling benar
serta layak memasuki syurga dan selain kaum mereka ini maka kaum lainnya berada pada
posisi salah dan halal neraka baginya.
Tidak urung ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist-hadist Nabi justru dijadikan ujung tombak
untuk menghantam lawan bicaranya sesama Muslim, entah itu mereka yang menisbatkan
diri dalam jemaah Ahlus-Sunnah, Syi’ah, Muktazilah, Khawarij, Ahmadiyah dan
sebagainya.
Tidakkah mereka sadar bahwa yang mereka perdebatkan ini tidak lain adalah sesuatu
penafsiran terhadap hal yang sama dalam sudut pandang yang berbeda.
Imam Ali bin Abu Thalib r.a, adalah contoh teladan kedua sesudah Rasulullah Saw yang
mengajarkan mengenai hakikat persaudaraan sesama Muslim, menghargai keutuhan
persatuan umat dibawah panji-panji kebenaran Tauhid.
Beliau menolak mengikuti keinginan sebagian dari para sahabat untuk melakukan
pemberontakan terhadap pemerintahan Khalifah Abu Bakar sepeninggal Rasulullah Saw,
dan disaat ia menjabat selaku Khalifah, sikap ini terus dipertahankannya bahkan
dalam medan pertempurannya menghadapi gerakan ‘Aisyah pada peristiwa perang Jamal
dan disaat menghadapi pemberontakan kelompok Muawiyah.
Imam Ali bin Abu Thalib r.a, begitu mengedepankan rasa persaudaraan antar umat
Muslim diatas perasaan dirinya pribadi sehingga beliaupun rela mendapat kecaman dari
sejumlah orang atas sikapnya yang lunak dengan Muawiyah yang mengakibatkan pecahnya
pemberontakan kaum Khawarij sampai terbunuhnya beliau dalam salah satu kesempatan.
Tindakan dan sikap yang diambil oleh Khalifah ke-4 yang juga menantu Nabi Muhammad
Saw ini sudah pasti bukan tindakan yang tidak disertai pertimbangan dan kearifan
yang tinggi, sebagai salah seorang sahabat besar dan keluarga terdekat dari
Rasulullah, Imam Ali bin Abu Thalib r.a, tentunya merupakan orang yang paling
mengerti mengenai Islam dan ia bukan seorang yang pengecut.
Dengan demikian, hendaklah kiranya kaum Muslimin sekarang ini sudi untuk merenung
dan menganalisa secara bijak mengenai perpecahan yang terjadi diantara mereka,
perpecahan yang mengarah kepada permusuhan dan kebencian bukan menjadi satu rahmat
namun justru merupakan malapetaka.
Kehormatan seorang Muslim haruslah dijunjung tinggi meskipun mungkin Muslim tersebut
memiliki sudut pandang berbeda dengan kita terhadap hal-hal tertentu, ini bukan
alasan untuk mengkafirkan mereka apalagi menumpahkan darahnya dengan mengatasnamakan
kebenaran.
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdu Dzar :
“Telah berkata Nabi Saw kepadaku, bahwa malaikat Jibril berkata: ‘Barangsiapa
diantara umatmu meninggal dunia dalam keadaan tiada menyekutukan Allah dengan
sesuatu apapun, maka ia akan masuk syurga.”; kemudian aku bertanya: ‘Kendatipun ia
pernah berzina dan mencuri ?”; Jawab Nabi Muhammad Saw: “Ya, walaupun ia pernah
berbuat hal itu.”
Hadist diatas ini bukan bertendensikan menghalalkan tindakan kejahatan atas umat
Muhammad Saw akan tetapi memiliki orientasi kepada pengagungan harkat dan martabat
seorang Muslim.
Jelas bahwa Allah tidak lalai dari apa yang kita kerjakan, suatu perbuatan yang
negatif, apabila dilakukan secara terus menerus tentunya akan menyebabkan
ketergeseran derajat kemanusiaan seseorang dihadapan Allah, dan lambat laun seorang
Muslim-pun dapat menjadi seorang yang fasik atau munafik dan tidak menutup
kemungkinan dia malah menjadi kafir kepada Allah sehingga jaminan Allah ini menjadi
hilang atas dirinya.
Diberbagai tempat kita meributkan masalah ke-Khalifahan, orang Syi’ah merasa lebih
tinggi dari ahlus-Sunnah dan sebaliknya kaum ahli-Sunnah pun tidak jarang malah
memperolok-olokkan kaum Syi’ah dan bahkan beberapa diantaranya sampai mengkafirkan
mereka hanya karena mereka lebih mencintai ahli Bait Nabi Muhammad Saw dan
mengeluarkan kritikan-kritikan pedas atas beberapa Muslim generasi awal.
Fenomena Ahmadiyah juga menggelitik sejumlah umat Islam untuk mendeskreditkan
sebagian dari mereka sampai mengeluarkan fatwa tidak syahnya status ke-Islaman semua
Jemaah ini.
Dikalangan ahlus-Sunnah terdapat banyak Madzhab yang dipimpin oleh Imamnya
masing-masing, diantaranya yang terbesar adalah Imam Hambali, Syafi’i, Maliki dan
Hanafi, ke-4 Jemaah ini memiliki banyak sekali perbedaan-perbedaan didalam
penafsiran atas ayat-ayat Allah dan juga petunjuk Rasul-Nya, dimulai dari masalah
Thaharah, Sholat, Puasa, Nikah, Talak dan seterusnya.
Dibalik beberapa kesamaannya, masing-masing mereka memberikan argumen dari sudut
pandang yang berbeda tentang banyak hal yang sama.
Padahal, apabila kita ingin berbicara jujur, perselisihan yang terjadi antar umat
Islam dan antar Jemaah maupun Mazhab hanyalah karena masing-masing memiliki
penafsiran berbeda tentang al-Qur’an dan Hadist Rasul, namun apakah hal ini bisa
menjadikan satu alasan untuk memberikan vonis kekafiran kepada mereka ?
Andaikanlah diantara penafsiran sebagian dari mereka ini menyimpang dari apa yang
seharusnya, namun ini tetap saja belum mengeluarkan status ke-Islaman yang melekat
pada diri mereka, tentunya selama mereka tetap berpegangkan kepada satu Kalimah
“Tidak ada Tuhan tempat mengabdi selain Allah, Tuhan yang memiliki nama-nama terbaik
dan memiliki sifat-sifat suci, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.”
Kehormatan seorang Muslim tetap terjamin meskipun dia mengucapkan kalimah “La ilaha
illa Allah” sebagai penyelamat dari suatu usaha pembunuhan, dan ini diceritakan oleh
banyak perawi Hadist.
Muslim dalam salah satu hadist yang diriwayatkannya dari berbagai saluran ada
menceritakan :
“Bahwa suatu hari ‘Utban bin Malik al-Anshari mengunjungi Rasulullah Saw dan meminta
agar beliau mau singgah kerumahnya dan sholat didalamnya, karena ia ingin
menjadikannya Musholla. Dalam satu pembicaraan diantara mereka, Nabi menanyakan
keberadaan salah seorang dari sahabat ‘Utban yang bernama Malik bin Ad-Dukhsyun bin
Ghunm bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf yang diketahui sebagai orang yang munafik.
Beberapa sahabat keheranan dan mencoba mengingatkan Nabi bahwa ‘Utban itu adalah
orang yang munafik, tapi Nabi mengeluarkan jawaban : “Jangan berkata demikian,
tidakkah kamu melihatnya telah berucap “La ilaha illa Allah” semata-mata demi
keridhoan Allah ?”; diantara para sahabat masih ada yang penasaran dan mencoba
kembali mengeluarkan argumennya : “Memang benar ia mengucapkan yang demikian, namun
tidak disertai dengan ketulusan hatinya, sungguh kami sering melihatnya pergi dan
berkawan dengan orang-orang munafik.”
Nabi menjawab : “Tiada seorangpun bersaksi bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah dan
bahwa aku adalah Rasul Allah yang akan dimasukkan kedalam api neraka atau menjadi
umpannya.”
Demikianlah seharusnya kita didalam berpijak, tidak mudah melemparkan tuduhan kepada
seseorang atau sekelompok kaum hanya karena berbeda pendapat dengan diri kita,
sedangkan bagi orang yang jelas-jelas seperti Malik bin Ad-Dukhsyun saja Rasulullah
Saw tidak melemparkan ucapan kekafiran atasnya dan malah mengedepankan rasa baik
sangka sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.
Satu keselarasan yang bisa kita kemukakan disini satu ayat al-Qur’an :
“Sesungguhnya orang-orang Mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan
orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada
Allah, Hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima ganjaran dari Tuhan
mereka, tidak ada ketakutan terhadap mereka, dan tidak berduka cita.”
(Qs. al-Baqarah 2:62)
Nyata sekali bahwa jangankan kepada orang yang mengakui ke-Rasulan Muhammad Saw bin
Abdullah, bahkan bagi mereka yang tidak mengakui kenabian Muhammad pun yang dalam
istilah kita sekarang ini termasuk dalam kategori Unitarian tetap mendapatkan
jaminan dari Allah untuk memperoleh ganjaran disisi-Nya selama mereka tidak
mengadakan Tuhan-Tuhan dalam bentuk apapun selain Allah yang Maha Esa, yang Tidak
beranak dan tidak diperanakkan, yang tidak memiliki kesetaraan dengan apapun dalam
keyakinan mereka.
Kita seringkali terlalu banyak memperturutkan rasa ke-egoismean semata didalam
menghadapi orang yang tidak sejalan dengan kita yang akibat dari semua ini akan
menyulut konflik berkepanjangan dan tidak berkesudahan.
al-Qur’an dalam surah ali Imran (3) ayat ke 159 menganjurkan untuk mengadakan
musyawarah didalam mencapai jalan keluar terbaik, selain itu ; juga dalam Surah yang
lain, al-Qur’an pun memberikan kebebasan bagi manusia untuk melakukan dialog
pertukar pikiran secara baik-baik dan saling menghargai.
Seorang manusia dilarang mencemooh manusia lainnya berdasarkan firman Allah dalam
surah al-Hujurat (49) ayat 11 dan beberapa firman Allah berikut ini pun harus
menjadi renungan tambahan bagi kita :
“Sesungguhnya mereka yang suka akan tersebarnya keburukan dikalangan kaum beriman
akan mendapatkan azab yang pedih didunia dan akhirat…”
(Qs. an-Nur 24:19)
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena
Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian kamu atas satu kaum
menyebabkan kamu berlaku tidak adil.
Berbuatlah adil, ini lebih mendekatkan kamu kepada ketakwaan; takutlah kamu kepada
Allah sebab Allah amat mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(Qs. al-Maidah 5:8)
Kita mungkin sering jengkel dengan penafsiran segelintir jemaah terhadap ayat-ayat
al-Qur’an dan juga al-Hadist, mereka memutar balikkan semuanya sekehendak hati
mereka sehingga masing-masing merasa bahwa ayat-ayat dan Hadist-hadist tersebut
memperkuat aliran mereka, namun sesuai amanat al-Qur’an, yang demikian tidak berarti
harus kita sikapi dengan anarkis dan menghilangkan sudut keobjektifitasan kita.
Dalam salah satu literatur Syi’ah (persisnya maaf saya lupa), saya pernah bertemu
hadis yang mirip dengan hadis versi Ahlussunnah menyangkut pembagian 73 firqah dalam
Islam, tetapi uniknya matannya kebalikan, jadi yang 72 itu berdasar literatur
tersebut masuk surga semua dan satu yang dineraka.
Meskipun tetap perlu diperdebatkan namun ini rasanya relatif lebih bisa diterima,
karena inti dari al~Qur’an adalah Tauhid, jadi selama kelompok-kelompok Islam
tersebut masih menganut konsep monotheisme maka selama itu juga mereka tetap
mendapat jaminan untuk masuk kedalam syurga, sekecil atau setipis apapun Tauhid
mereka.
Sementara yang satu kelompok, tentunya yang sudah barang tentu wilayahnya sudah
jelas bergeser dari batasan Tauhid yang mutlak sebagaimana menjadi misi dari para
Nabi dan Rasul.
Marilah kita saling bahu membahu antar sesama saudara seiman didalam menegakkan
ajaran Allah, para pengikut ahli Bait menjalin hubungan baik dengan mereka yang
mengaku sebagai pengikut sunnah Nabi; dan keduanya ini pun haruslah mau untuk tidak
memutuskan tali silaturahmi terhadap mereka yang berasal dari jemaah Ahmadiyah dan
begitulah seterusnya secara wajar.
Kita boleh bertukar pikiran dan kita juga tidak dilarang untuk saling berdebat, mari
kita kemukakan dalil-dalil yang kita miliki dan kita yakini menunjang apa yang kita
jalani, jikapun tidak terdapat jalan keluar terbaik, marilah kita benci pendapatnya
saja namun bukan orangnya.
“Apabila kamu berbantahan disatu permasalahan, hendaklah kamu mengembalikannya
kepada Allah dan Rasul apabila adalah kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
(Qs. an-Nisa’ 4:59)
Banyak orang mengatakan bahwa melakukan Bai’at terhadap pemimpin itu wajib hukumnya,
namun ber-bai’at terhadap Allah dan Rasul-Nya Muhammad Saw jauh melebihi dari
kewajiban berbai’at kepada siapapun.
Jika mencintai ahli Bait adalah suatu keharusan, maka berpegang kepada Sunnah itu
pun merupakan bagian dari keimanan.
Mari kita hargai hasil ijtihad dari masing-masing manusia sebagaimana kita juga
ingin orang lain menghargai pendirian yang kita yakini.
Tulisan ini tidak untuk ditujukan pembenaran suatu klaim dari jemaah tertentu dan
tidak pula dimaksudkan untuk menyudutkan suatu pandangan tertentu pula, semua ini
hanyalah karena terdorong rasa kerinduan terhadap hadirnya kembali duplikasi
Muhammad dan Ali bin Abu Thalib r.a yang mencintai persaudaraan dan kesatuan umat
Islam.
“Sesungguhnya mereka yang memperdebatkan ayat-ayat Allah dengan tidak ada alasan
yang datang kepada mereka, tidak ada didada-dada mereka melainkan kesombongan yang
mereka tidak akan sampai kepadanya.”
(Qs. al-Mu’min 40:56)
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan didalamnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggunganjawabnya.”
(Qs. al-Israa 17:36)
Demikianlah kiranya, semoga ada hikmah yang dapat dipetik, apabila terdapat
kesalahan maka ini murni berasal dari diri saya pribadi, mohon maaf apabila terdapat
kata yang kurang berkenan dihati.
Wassalamu’alaykum, Wr. Wb.,