Akhirnya dia menggeram dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Santi, cairan itu nampak menetes dari daerah itu bercampur dengan cairan kewanitaannya. Santi hanya sempat beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran Pak Andang mencicipi
vaginanya. Mula-mula dia meminta Santi membasahi penisnya dulu, setelah dikulum sebentar, dia menindih Santi sambil memasukkan penisnya, pinggulnya mulai bergerak naik- turun diatas tubuhnya, Santi yang gairahnya mulai pulih juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Pak Andang melumat bibir mungil Santi yang mengap-mengap itu meredam desahannya. Waktu itu aku sudah keluar sekali, kuambil tissue mengelap tanganku yang basah. Mang Obar mengambil aqua gelas yang kusiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa sebelahku.
"Gimana Mang, sip ga ?"
"Enak banget Bos, Mamang ga pernah mimpi bisa dapet kesempatan ini,
sering-sering bikin yang kaya gini ya!" komentarnya dengan antusias
"Tenang Mang, jangan boros tenaga dulu, ntar masih ada satu lagi loh !"
nasehatku, kemudian aku menjelaskan apa yang harus dilakukan pada Sandra kalau dia datang nanti.
Pak Andang tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Santi kini diatasnya. Dia lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya diatas penis yang mengacung bagai pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya sehingga penis itu mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya. Mang Nurdin berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke mulutnya. Santi mulai menjilatinya dimulai dari
kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu, buah zakarnya yang
besar dia emut beberapa saat.
"Uuuhh...ayo Neng, enak gitu...mmm !" desah Mang Nurdin
Semakin hanyut dalam lautan birahi, Santi tidak malu-malu lagi mengemut
penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang- goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya, dengan gemas Pak Andang menjulurkan kedua tangannya mencaplok gunung kembar itu serta meremasnya.
Saat itu Endang baru saja selesai dengan Ivana, setelah menyemprot perut Ivana dengan spermanya dia minum dulu dan langsung menuju Santi, sementara itu Mang Obar mulai mencicipi Ivana. Endang duduk di sebelah kanannya dan meminta ijin Pak Andang yang sedang menguasai kedua payudaranya untuk memberinya jatah satu saja. Sepertinya dia menggigit putingnya karena badan Santi mengejang dan mendesah tertahan di tengah
aktivitasnya mengoral Mang Nurdin, dia mengenyot dan kadang menarik-narik puting itu dengan mulutnya.
"Ooohh...isep Neng...iseepp !!" tiba-tiba Mang Nurdin mendesah panjang dan makin menekan kepala Santi ke selangkangannya.
Spermanya menyembur di dalam mulut Santi, mungkin karena badannya berguncang-guncang hisapan Santi tidak sempurna, cairan itu meleleh sebagian di pinggir mulutnya. Mang Nurdin beranjak pergi meninggalkan Santi setelah di cleaning service, diambilnya segelas aqua dari meja untuk diminum.
Tiba-tiba goyangan Santi makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang, kepalanya menengadah sambil mendesah panjang, kedua tangannya memegang erat lengan Pak Andang. Dia telah mencapai klimaks, tapi Pak Andang belum, dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas menusuk Santi.
Tubuh Santi melemas kembali dan ambruk ke depan menindihnya. Saat itu Endang sudah pindah ke belakangnya, dia meremas pantat yang sekal itu sambil mengorek duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang, tangannya menuntun penisnya memasuki liang dubur itu diiringi rintihan pemiliknya.
Tubuh Santi kini dihimpit kedua buruh itu seperti sandwich, kedua penis itu menghujam- hujam kedua lubangnya dengan ganas.
"Ooohh....oooh...aakkhh !" gairah Santi mulai bangkit lagi, vaginanya berdenyut-denyut memijat penis Pak Andang yang sudah di ambang klimaks.Pak Andang lalu melenguh panjang menyemburkan maninya di dalam vagina Santi akhirnya dia terbaring lemas di kolong tubuh Santi dengan nafas terengah- engah.
Setelah ditinggalkan Pak Andang, Santi cuma melayani Endang saja, namun pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga dia menjerit-jerit.
Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung di remas dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai keduanya klimaks, sperma Endang tertumpah di pantatnya sebelum keduanya ambruk tumpang tindih. Keadaan Santi sudah babak- belur, tubuhnya bersimbah peluh, bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus, sperma bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Aku jadi kasihan melihatnya, maka aku menghampirinya dengan membawa air dan tissue. Kuangkat tubuhnya dan kusandarkan pada lenganku, dengan tissue kuseka keringat di dahinya, minuman yang kuberikan langsung diteguknya habis.
"Udah ya San, kalau dah ga kuat jangan dipaksain lagi, ntar pingsan lu!" saranku
Namun dia cuma tersenyum sambil menggeleng, ga apa-apa katanya cuma perlu istirahat sedikit, dia juga bilang rasanya seperti diperkosa massal saja barusan itu. Waktu itu Pak Usep menghampiri kami bermaksud menikmati Santi, tapi kusuruh dia bersabar karena kondisinya belum fit.
Karena tubuh Santi yang sudah lengket-lengket itu, aku menyuruhnya mandi agar lebih segar. Setelah agak pulih, kubantu dia berdiri dan memapahnya ke kamar mandi, kunyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum keluar kami berpelukan, kucium dia sambil mengorek vaginanya dengan dua jari, cairan sperma meluber keluar begitu kukeluarkan tanganku, sehingga aku harus cuci tangan.
"Dah mandi dulu yang bersih, supaya nanti siap action !" kataku
Dia cekikikan sambil menyeprotkan shower ke arah kakiku, aku melompat kecil dan keluar sambil tertawa-tawa. Begitu aku keluar, waw...gile, Ivana mantan pacarku itu sedang dikerjai kelima orang itu, dia sudah tidak di sofa lagi, melainkan sudah di lantai beralas karpet, the hottest gangbang i've ever seen ! Untuk lebih lengkapnya lebih baik kita ikuti kisah Ivana dari awal.
Ivana, Endang dan Pak Usep duduk mengapit Ivana masing- masing di kanan dan kirinya. Ivana terlihat tegang sekali beberapa kali dia memanggil- manggil namaku.
"Kenapa Na, kok sekarang tegang gitu katanya mau ngebalas pacarlu itu!" kataku
"Oh, jadi Neng udah punya pacar yah !" kata Pak Usep
"Ngga, baru putus kok" jawabnya malu-malu
"Putusnya kenapa Neng ?" tanya Endang
Ivana cuma menggeleng tanpa menjawabnya.
"Udah ah lu, kalau ga mau dijawab jangan maksa !" kata Pak Usep pada rekannya
"Eh, Neng sama pacar yang dulu pernah ngentotan ga ?" tanya Endang cengengesan
Rona merah jelas sekali pada wajah Ivana yang putih mulus, dia hanya mengangguk pelan sebagai jawabnya sambil tersenyum malu-malu.
"Kalo gitu pernah diginiin dong Neng hehehe !" Pak Usep tertawa-tawa meremas buah dada Ivana.
"Diginiin juga pernah !" Endang meraih selangkangannya dan meremasnya dari luar.
Ivana menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. Pak Usep makin gemas memijati payudaranya, si Endang sengaja meniupkan udara ke kupingnya untuk memambangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil tangannya membantu Pak Usep meremas payudara yang satunya. Ivana hanya diam menikmatinya dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap kaosnya, Ivana sepertinya menurut saja, dia mengangkat lengannya membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana
panjang selututnya.
"Ini dibuka aja ya Neng" pinta Endang
Ivana mengangguk, maka Endang pun dengan cekatan membuka bra-nya
sehingga dia telanjang dada. Endang langsung melumat yang kanan dengan rakus.
"Pentilnya bagus ya Neng, kecil, merah lagi" komentar Pak Usep sambil
memilin-milin putingnya
Pak Usep menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang Ivana membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya dengan mengecup lehernya membuat tanda kemerahan disitu, rambut Ivana yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu.
Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kirinya dan pelosok tubuh lainnya. Mendadak Pak Usep menghentikan kegiatannya dan memanggil Endang yang lagi asyik nyusu dengan mencolek kepalanya.
"Eh, Dang, kita taruhan yu, yang menang boleh ngentot si Neng duluan !" tantangnya
"Taruhan apaan Pak, saya mah ayu aja"
"Coba tebak, si Neng ini jembutan ga ?" tanyanya dengan nyengir lebar
Muka Ivana jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini, aku juga jadi terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarku ini dikerjai orang lain.
"Hmmm...ada ga Neng ?" tanya Endang sambil menatapi selangkangan Ivana
"Eee...nanya lagi, orang disuruh tebak !" omel Pak Usep menyentil kepalanya Ivana senyum mesem dan menjawab tidak tahu menjawab si Endang.
"Ada aja deh !" tebak si Endang
"Yuk kita tes, bener ga !" kata Pak Usep dengan menyusupkan tangannya ke balik celana Ivana
"Eemmhhh..." desis Ivana saat merasakan tangan Pak Usep merabai kemaluannya
"Weleh...sialan, bener juga lu Dang !" gerutunya karena ternyata kemaluan Ivana memangnya berbulu, lebat lagi.
Endang tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan tubuh Ivana. Merekapun kembali menggerayangi tubuhnya. Tangan Pak Usep tetap didalam celananya mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi. Endang mulai membuka sabuk yang dikenakan Ivana dan menurunkan resletingnya, sebelumnya dia menyuruh Pak Usep menyingkirkan tangannya dulu.
Cairan vagina membasahi jari- jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Endang turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk menarik lepas celana Ivana. Tampak kemaluan Ivana dengan bulu-bulu yang tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Jadilah Ivana telanjang bulat terduduk separuh berbaring di sofa.
Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka. Si Endang masih berjongkok di antara kedua paha Ivana, tentu dia bisa melihat jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi demikian."Duh, cantik banget sih Neng ini, bikin saya ga tahan aja !" kata Pak Usep sambil mendekap tubuhnya.
Bibirnya mencium pipi Ivana, lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu, belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya. Wajah Endang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. Tubuh Ivana bergetar ketika jemari Endang mulai menyentuh bibir kemaluannya, pasti dia bisa merasakan nafas Endang menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Endang membuka kedua
bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana yang sedang dilumat Pak Usep, keringatnya mulai bercucuran.
"Wah...asyik, saya baru pernah liat memeknya amoy, dalemnya merah muda, seger euy !" komentar Endang mengamati vagina itu.
"Pak Usep, mau liat ga nih, bagus banget loh !" sahut Endang padanya
"Hmmm...iya bagus ya, kamu aja dulu Dang, saya mau netek dulu !" kata
Pak Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya, waktu dia keluarkan cairan lendirnya menempel dijari itu.
Pak Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik menuju putingnya, dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin- milin putingnya yang lain.
"Hhhnngghh...Mang, oohh !" Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala Pak Usep.
Ivana makin menggelinjang saat wajah Endang makin mendekati selangkangannya dan
"Aaaahh...!" desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua pahanya mengapit kepala Endang.
Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya, klitorisnya tak luput dari lidah itu, sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan saling bersahut- sahutan dengan desahan Santi yang saat itu baru ditusuk Mang Obar.
"Oi, kalian berdua kok belum buka baju sih, kasih liat dong kontolnya ke Neng Ivana pasti dah ga sabar dia !" kataku pada Endang dan Pak Usep.
Pak Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil, dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu memamerkannya pada Ivana
"Nih, Neng kontol Mamang gede ya, sama pacar Neng punya gede mana ?" tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu
"Gede yah Mang...keras" jawab Ivana yang tangannya sudah mulai mengocoknya
Ivana yang tadinya malu-malu hilang rasa malunya saking terangsangnya, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar, yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu.
Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Endang masih seperti kelaparan, belum berhenti menjilati vaginanya sementara Ivana sudah mengapir dan menggesek-gesekkan pahanya pada kepala Endang menahan birahinya yang meninggi.
"Cepetan dong, kan kamu harusnya nusuk duluan, kalo ngga mau saya tusuk juga nih !" kata Pak Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana.
"Iya sabar atuh Pak, ini udah mau nih" kata Endang yang mulai menanggalkan pakaiannya
"Yuk Neng, basahin dulu nih...isep !" dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil memegangi kuncirnya.
Ivana agak ragu memasukkan penis Endang, mungkin agak jijik kali belum pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Endang terus mendesaknya, apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk. Sebentar kemudian Endang mengeluarkan penisnya, diangkatnya kaki Ivana ke sofa sehingga dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Usep.
Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.
"Aaakkhh...!" demikian keluar dari mulutnya hingga penis Endang mentok ke dalam vaginanya.
Endang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama makin cepat. Endang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai, kedia tangannya memegangi betis Ivana.
"Ah-ah-ah....uuhh...!!" desah Ivana dengan mata terpejam
"Enak ya Neng ?" kata Pak Usep dekat telinganya
Sejak Endang menggenjot Ivana, Pak Usep terus saja menyangga tubuhnya
sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan
jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas
kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena
daritadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis Pak Usep,
dia mengocok-ngocok penis itu karena hornynya. Kedua kakinya menjepit
pinggang Endang, seolah minta disodok lebih dalam lagi.
Tanpa mencabut penisnya, Endang memiringkan tubuh Ivana sehingga
posisinya berbaring menyamping, satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow...seru
sekali melihat paha Endang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan
penisnya keluar masuk dari samping. Pak Usep menempelkan penisnya ke wajah
dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat
risih memasukkan benda itu dalam mulutnya, hanya berani mengocoknya dengan
tangan, sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Endang di
mulutnya tadi, belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak
terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu, dan dia juga
tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri, makannya
dia tidak pernah mau ngeseks dengan orang-orang kaya gitu, cukup kali
ini saja, pertama dan terakhir demikian tegasnya.
"Jilatin dong Neng, jangan cuma main tangan aja !" pinta Pak Usep tidak
sabar merasakan mulutnya
"Ngga Mang...jijik...ga mau..ahh !" gelengnya dengan sedikit mendesah.
"Lho, gimana sih si Neng ini, tadi kan dia dikasih, masa saya ngga ?"
"Ayo dong Neng, sebentar aja kok !" Pak Usep terus mendesak dengan
menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan
tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana, karena
mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Usep
menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya dimulut, Pak Usep memaju-mundurkan
kepalanya dengan menjambak kuncirnya.
"Emmhh..eehmm...Mang...saya... mmm !" Ivana berusaha protes tapi malah
tersendat-sendat karena terus dijejali penis.
"Mmmm...gitu dong Neng baru namanya anak manis, udah lama Mamang ga
diginiin uuh !" Pak Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana.
Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu, pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU, tapi sekarang berbeda, aku malah terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku makin cepat mengocok penisku, apalagi waktu itu Santi juga sedang main kuda-kudaan diatas penis Pak Andang sambil mengoral penis Mang Nurdin dengan bernafsu.
Akhirnya Ivana orgasme duluan, badannya berkelejotan dan mulutnya terdengar erangan tertahan. Pak Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu penisnya membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh.
Badannya menegang beberapa saat lamanya, Pak Usep menambah rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Endang pun menyusul sekitar tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Sambil orgasme dia memegang erat-erat lengan kokoh Pak Usep yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu. Si Endang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia langsung beralih ke Santi seperti yang telah kuceritakan di atas, posisinya segera digantikan Mang Obar yang baru recovery setelah istirahat. Pak Usep memberikan
minum pada Ivana mengambilkan tissue mengelap keringatnya.
"Euleuh...si Endang teh gimana, buang peju sembarangan aja !" gerutu
Mang Obar yang baru tiba melihat ceceran sperma di perut Ivana.
Pak Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih, Ivana juga ikut tertawa kecil.
"Udah, gampang Mang, dibersihin aja kan beres !" hiburku padanya
Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap Pak
Usep, mulutnya berpindah- pindah antara payudara kiri dan kanan.
"Ooohh...oohhh !!" desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan
ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Obar.
Tangan satunya di bawah sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal,
diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat
tangannya merayap ke kemaluan, tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan
jari Mang Obar yang mengusap- usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di
belakangnya, Pak Usep sangat getol mencupangi leher, tenguk dan bahunya.
"Hehehe...liat nih udah basah gini !" sahut Mang Obar mengeluarkan
jarinya dari vagina Ivana "Emm...enak pisan !" dijilatinya cairan yang
blepotan di jari itu
Kemudian Pak Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuannya
dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vaginanya dan membuka
bibirnya
"Masukin Neng, pelan-pelan !" suruhnya
Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya,
lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam
vaginanya. Namun kerena besar penis itu baru masuk kepalanya saja, itu
sudah membuat Ivana merintih- rintih dan meringis menahan nyeri.
"Duh...sakit nih Mang, udah ya !" rintihnya
"Wah, kagok dong Neng kalo gini mah, ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok !" kata Pak Usep
"Nanti juga enak kok Neng, sakitnya bentar aja !" timpal Mang Obar
Beberapa kali Pak Usep menekan tubuh Ivana juga menghentakkan pinggulnya, akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya, mata Ivana sampai berair menahan sakit. Pak Usep mulai menggoyangkan tubuhnya
"Arrgghh...uuhhh...sempit amat...enak !" gumam Pak Usep di tengah kenikmatan penisnya dipijat vagina Ivana.
Sementara Mang Obar meraih kepala Ivana, wajahnya mendekat dan
hup...mulut mereka bertemu, lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Ivana,
dia hanya pasrah saja menerimanya, dengan mata terpejam dia coba menikmatinya lidahnya, entah secara sadar atau tidak turut beradu dengan lidah lawannya.