"Duh, cantik banget sih Neng ini, bikin saya ga tahan aja !" kata Pak Usep sambil mendekap tubuhnya.
Bibirnya mencium pipi Ivana, lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu, belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya. Wajah Endang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. Tubuh Ivana bergetar ketika jemari Endang mulai menyentuh bibir kemaluannya, pasti dia bisa merasakan nafas Endang menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Endang membuka kedua
bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana yang sedang dilumat Pak Usep, keringatnya mulai bercucuran.
"Wah...asyik, saya baru pernah liat memeknya amoy, dalemnya merah muda, seger euy !" komentar Endang mengamati vagina itu.
"Pak Usep, mau liat ga nih, bagus banget loh !" sahut Endang padanya
"Hmmm...iya bagus ya, kamu aja dulu Dang, saya mau netek dulu !" kata
Pak Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya, waktu dia keluarkan cairan lendirnya menempel dijari itu.
Pak Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik menuju putingnya, dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin- milin putingnya yang lain.
"Hhhnngghh...Mang, oohh !" Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala Pak Usep.
Ivana makin menggelinjang saat wajah Endang makin mendekati selangkangannya dan
"Aaaahh...!" desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua pahanya mengapit kepala Endang.
Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya, klitorisnya tak luput dari lidah itu, sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan saling bersahut- sahutan dengan desahan Santi yang saat itu baru ditusuk Mang Obar.
"Oi, kalian berdua kok belum buka baju sih, kasih liat dong kontolnya ke Neng Ivana pasti dah ga sabar dia !" kataku pada Endang dan Pak Usep.
Pak Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil, dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu memamerkannya pada Ivana
"Nih, Neng kontol Mamang gede ya, sama pacar Neng punya gede mana ?" tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu
"Gede yah Mang...keras" jawab Ivana yang tangannya sudah mulai mengocoknya
Ivana yang tadinya malu-malu hilang rasa malunya saking terangsangnya, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar, yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu.
Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Endang masih seperti kelaparan, belum berhenti menjilati vaginanya sementara Ivana sudah mengapir dan menggesek-gesekkan pahanya pada kepala Endang menahan birahinya yang meninggi.
"Cepetan dong, kan kamu harusnya nusuk duluan, kalo ngga mau saya tusuk juga nih !" kata Pak Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana.
"Iya sabar atuh Pak, ini udah mau nih" kata Endang yang mulai menanggalkan pakaiannya
"Yuk Neng, basahin dulu nih...isep !" dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil memegangi kuncirnya.
Ivana agak ragu memasukkan penis Endang, mungkin agak jijik kali belum pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Endang terus mendesaknya, apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk. Sebentar kemudian Endang mengeluarkan penisnya, diangkatnya kaki Ivana ke sofa sehingga dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Usep.
Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.
"Aaakkhh...!" demikian keluar dari mulutnya hingga penis Endang mentok ke dalam vaginanya.
Endang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama makin cepat. Endang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai, kedia tangannya memegangi betis Ivana.
"Ah-ah-ah....uuhh...!!" desah Ivana dengan mata terpejam
"Enak ya Neng ?" kata Pak Usep dekat telinganya
Sejak Endang menggenjot Ivana, Pak Usep terus saja menyangga tubuhnya
sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan
jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas
kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena
daritadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis Pak Usep,
dia mengocok-ngocok penis itu karena hornynya. Kedua kakinya menjepit
pinggang Endang, seolah minta disodok lebih dalam lagi.
Tanpa mencabut penisnya, Endang memiringkan tubuh Ivana sehingga
posisinya berbaring menyamping, satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow...seru
sekali melihat paha Endang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan
penisnya keluar masuk dari samping. Pak Usep menempelkan penisnya ke wajah
dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat
risih memasukkan benda itu dalam mulutnya, hanya berani mengocoknya dengan
tangan, sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Endang di
mulutnya tadi, belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak
terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu, dan dia juga
tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri, makannya
dia tidak pernah mau ngeseks dengan orang-orang kaya gitu, cukup kali
ini saja, pertama dan terakhir demikian tegasnya.
"Jilatin dong Neng, jangan cuma main tangan aja !" pinta Pak Usep tidak
sabar merasakan mulutnya
"Ngga Mang...jijik...ga mau..ahh !" gelengnya dengan sedikit mendesah.
"Lho, gimana sih si Neng ini, tadi kan dia dikasih, masa saya ngga ?"
"Ayo dong Neng, sebentar aja kok !" Pak Usep terus mendesak dengan
menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan
tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana, karena
mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Usep
menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya dimulut, Pak Usep memaju-mundurkan
kepalanya dengan menjambak kuncirnya.
"Emmhh..eehmm...Mang...saya... mmm !" Ivana berusaha protes tapi malah
tersendat-sendat karena terus dijejali penis.
"Mmmm...gitu dong Neng baru namanya anak manis, udah lama Mamang ga
diginiin uuh !" Pak Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana.
Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu, pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU, tapi sekarang berbeda, aku malah terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku makin cepat mengocok penisku, apalagi waktu itu Santi juga sedang main kuda-kudaan diatas penis Pak Andang sambil mengoral penis Mang Nurdin dengan bernafsu.
Akhirnya Ivana orgasme duluan, badannya berkelejotan dan mulutnya terdengar erangan tertahan. Pak Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu penisnya membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh.
Badannya menegang beberapa saat lamanya, Pak Usep menambah rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Endang pun menyusul sekitar tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Sambil orgasme dia memegang erat-erat lengan kokoh Pak Usep yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu. Si Endang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia langsung beralih ke Santi seperti yang telah kuceritakan di atas, posisinya segera digantikan Mang Obar yang baru recovery setelah istirahat. Pak Usep memberikan
minum pada Ivana mengambilkan tissue mengelap keringatnya.
"Euleuh...si Endang teh gimana, buang peju sembarangan aja !" gerutu
Mang Obar yang baru tiba melihat ceceran sperma di perut Ivana.
Pak Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih, Ivana juga ikut tertawa kecil.
"Udah, gampang Mang, dibersihin aja kan beres !" hiburku padanya
Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap Pak
Usep, mulutnya berpindah- pindah antara payudara kiri dan kanan.
"Ooohh...oohhh !!" desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan
ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Obar.
Tangan satunya di bawah sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal,
diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat
tangannya merayap ke kemaluan, tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan
jari Mang Obar yang mengusap- usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di
belakangnya, Pak Usep sangat getol mencupangi leher, tenguk dan bahunya.
"Hehehe...liat nih udah basah gini !" sahut Mang Obar mengeluarkan
jarinya dari vagina Ivana "Emm...enak pisan !" dijilatinya cairan yang
blepotan di jari itu
Kemudian Pak Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuannya
dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vaginanya dan membuka
bibirnya
"Masukin Neng, pelan-pelan !" suruhnya
Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya,
lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam
vaginanya. Namun kerena besar penis itu baru masuk kepalanya saja, itu
sudah membuat Ivana merintih- rintih dan meringis menahan nyeri.
"Duh...sakit nih Mang, udah ya !" rintihnya
"Wah, kagok dong Neng kalo gini mah, ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok !" kata Pak Usep
"Nanti juga enak kok Neng, sakitnya bentar aja !" timpal Mang Obar
Beberapa kali Pak Usep menekan tubuh Ivana juga menghentakkan pinggulnya, akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya, mata Ivana sampai berair menahan sakit. Pak Usep mulai menggoyangkan tubuhnya
"Arrgghh...uuhhh...sempit amat...enak !" gumam Pak Usep di tengah kenikmatan penisnya dipijat vagina Ivana.
Sementara Mang Obar meraih kepala Ivana, wajahnya mendekat dan
hup...mulut mereka bertemu, lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Ivana,
dia hanya pasrah saja menerimanya, dengan mata terpejam dia coba menikmatinya lidahnya, entah secara sadar atau tidak turut beradu dengan lidah lawannya.Limabelas menit lamanya batang Pak Usep yang perkasa menembus vagina
Ivana, runtuhlah pertahanan Ivana, sekali lagi badannya mengejang dan
mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis Pak Usep dan sofa di
bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). Ivana memeluk
erat-erat kepala Mang Obar yang sedang mengenyot payudaranya.
Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Ivana, rupanya
Pak Usep juga telah orgasme. Desahan mereka mulai reda, keduanya
melemas kembali. Nampak olehku ketika Pak Usep melepas penisnya, dari vagina
Ivana menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cintanya. Waktu
beristirahat baginya cuma sebentar karena Mang Obar langsung menyambar
tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan.
Segera saja tubuhnya memacu naik-turun diatasnya. Ivana menggelinjang
setiap kali dia menghentakkan tubuhnya. Saat itu Mang Nurdin dan Pak
Andang mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu.
Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu diatas tubuh mantan pacarku
itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.
Setelah itu aku kehilangan sedikit adegan karena sedang mengantar Santi
ke kamar mandi, maka adegan yang hilang ini kuceritakan berdasarkan
penuturan Mang Nurdin yang kuanggap paling akurat. Dari sofa, Mang Obar
menurunkan Ivana ke karpet, dia berlutut di antara paha Ivana dan terus
menyodoknya. Mang Nurdin membungkuk agar bisa mengemut payudara yang
menggiurkan itu. Pak Andang berlutut di samping kepalanya dan menjejalkan
penisnya ke mulutnya, sambil diemut dia memegangi payudara Ivana.
Endang dan Pak Usep yang nganggur kembali mendatanginya, merekapun ikut bergabung mengerjai Ivana. Tangan-tangan hitam kasar menggerayangi tubuh mulus itu, ada yang mengelus pahanya, ada yang meremas payudaranya, ada yang memelintir putingnya, beberapa diantaranya sedang dikocok penisnya oleh Ivana. Ikat rambutnya sudah terbuka sehingga rambutnya tergerai sebahu lebih. Pemandangan itulah yang kulihat ketika keluar dari kamar mandi.
Lebih dari lima menit dia menjadi objek seks kelima buruhku. Mulanya aku sangat menikmati tontonan ini, terlebih ketika sperma mereka muncrat di tubuhnya, ada yang nyemprot di dada, perut, dan mukanya. Namun aku mulai merasa kasihan ketika mereka memaksanya membersihkan penis-penis mereka dengan mulutnya, beberapa bahkan menjejalkan paksa ke dalam mulutnya, aku terpaksa turun tangan menyudahinya ketika kulihat air matanya mulai menetes. Aku tahu semasa pacaran denganku dulu dia memang tidak terlalu suka oral seks dan menelan sperma, jijik katanya, apalagi sekarang dengan yang hitam-hitam gitu, tentu saja aku tidak tega melihatnya dipaksa-paksa sampai menangis.
"Udah-udah Mang, cukup...jangan diterusin lagi, nangis nih dia !" kataku membubarkan mereka
Kemudian aku sandarkan dia di kaki sofa dan memberinya minum, kulap sperma yang membasahi mukanya. Dia memelukku dan menangis sesegukan, aku balas memeluknya dan menenangkannya, tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang masih lengket-lengket.
"Duh...maaf banget Neng, abis tadi kita kirain Neng nikmatin, ga taunya nangis beneran !" kata Mang Obar
"Iya, kalo tau Neng ga suka ngemut kontol, kita juga ga maksa, tadi Neng reaksinya malu-malu sih, jadi kita juga tambah nafsu" tambah Pak Usep
"Sori, sori, Na gua lupa bilang tadi, abis mandi lu pulang aja yah !" hiburku mengelus-elus rambutnya
"Ngga, ga papa kok Win, gua enjoy, cuma tadi gua kaget aja dipaksa-paksa gitu, gua kan ga suka oral" katanya setelah lebih tenang sambil membersihkan air mata.
Legalah kami mendengar dia berkata begitu, kami kira dia bakal trauma atau shock. Aku lalu menyuruhnya mandi dan membantunya bangkit, dia pun berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Aku dan para buruhku duduk-duduk di ruang tamu merenggangkan otot, kupersilakan mereka menyantap snack dan minuman sambil menunggu Sandra. Aku ngobrol- ngobrol tentang pendapat mereka sekalian memberi pengarahan apa yang harus dilakukan untuk menghukum Sandra yang terlambat nanti. Sandra memang bukan type yang
malu-malu seperti Ivana, tapi aku tetap harus memperingatkan mereka agar tidak bertindak kelewatan, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan gara-gara mewujudkan fantasi gilaku.
"Win, Ivana diapain aja sampe nangis gitu ?" terdengar suara Santi bertanya dari belakang, dia berjalan ke arahku dengan handuk kuning terlilit di tubuhnya, rambutnya masih agak basah
"Ga kok, cuma belum biasa dikeroyok aja, jadi sedikit...ya gitulah !" jawabku sambil meraih pinggangnya mengajak duduk di sebelahku.
Mang Nurdin mengajak Santi duduk disebelahnya saja, tapi Santi menolaknya
"Nggak ah Pak, mending simpen tenaga aja buat si Sandra !" tolaknya
Ketika kami ngobrol-ngobrol ada yang misscall ke HP-ku, si Sandra, semenit kemudian disusul bunyi bel, nah pasti ini dia, pikirku.
Aku menyuruh buruh-buruhku sembunyi di dapur dengan membawa pakaian masing- masing, aku berencana membuat surprise sekaligus hukuman baginya.
Kupakai celana pendekku untuk menyambutnya (iya dong, kalau ternyata bukan Sandra, masa aku menyambutnya memakai celana dalam).
"Hai, sori yah telat" katanya begitu pintu terbuka "gua jadi ga usah main sama buruh- buruhlu yah"
"Udah malam gini, kita baru aja bubar, masuk !" ajakku
"Ngapain aja seharian tadi ?"
"Nge-bowling di BSM, pada minta nambah game melulu sih, kan ga enak
kalo gua pulang dulu, sori banget"
Sandra orangnya cantik, rambut panjang kemerahan direbound, tinggi kurang lebih 160 cm, dadanya tegak membusung 34 B, lebih montok daripada Ivana dan Santi, tampangnya sedikit mirip Vivian Chow, artis HK tahun 90an itu loh, dengan modal itu dia pantas bekerja paruh waktu sebagai SPG.
Hari itu dia memakai baju putih lengan panjang dengan dada rendah dan rok selutut dari bahan jeans.
Sandra
"Hi, baru lembur nih !" sapanya pada Santi
Kubiarkan mereka berbasa-basi sebentar sampai aku menarik rambutnya dari belakang sehingga dia merintih kaget
"Udah arisannya nanti lagi, kaya ga tau lu punya salah aja !"
"Aww...aduh, ngapain sih sakit tau !" rintihnya
Mohon pembaca jangan salah paham mengira aku ini psikopat atau apa, dalam bermain sex dengannya aku memang sering memakai cara kasar, karena dia juga menikmati dikasari, cuma sebatas main jambak dan tampar sih, tidak sampai masokisme dengan pecut, lilin, dan sejenisnya. Karena dia suka variasi seks kasar inilah aku mengajukan tantangan padanya.Aku mendekapnya dan menciumi bibir dan lehernya habis-habisan sampai nafasnya mulai memburu. Dia pun mulai meraba selangkanganku. Setelah memberi syarat dengan gerakan tangan ke arah dapur, mendadak aku melepas ciumanku dan menepis tangannya dari selangkanganku
"Heh, dasar gatel, datang- datang udah pengen kontol, kalo lu mau kontol gua kasih lu lima sekaligus !" makiku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur di lantai
Dia menjerit kecil dan begitu menengok ke belakang disana sudah berdiri para buruhku yang bugil yang senjatanya sudah di reload, mengacung tegak siap untuk pertempuran selanjutnya. Sebelum sempat bangun dia sudah diterkam kelima orang itu.
"Heeaaa...sikat !" seru mereka sambil menyerbunya
"Win...sialan lu, gila !!" jeritnya
"Huehehehe...tenang San, gua masih nyisain buat lu kok, kan lu suka dikasarin, coba deh biar tau rasanya diperkosa, dijamin sensasional abis !" aku menyeringai padanya
Sandra meronta-ronta, tapi dia tidak bisa menghindar karena kedua kaki dan tangannya dipegangi mereka, malah itu hanya menambah nafsu mereka.
Mereka tertawa-tawa sambil mengeluarkan komentar jorok bagaikan gerombolan serigala melolong-lolong sebelum menyantap mangsanya.
Keributan disini memancing Ivana melongokkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi, kupanggil dia, tapi dia bilang nanti, mandinya belum selesai. Pak Usep meremasi payudaranya yang masih terbungkus pakaian
"Waw...teteknya gede nih, asyik !" komentarnya
Mang Obar dan Pak Andang yang memegangi kakinya juga tak mau kalah, mereka menyingkap roknya sehingga terlihatlah celana dalamnya yang warna hitam dan pahanya yang putih mulus, tangan- tangan mereka segera mengelus-elus pahanya dan terus naik ke pangkal pahanya, bukan cuma itu, jari-jari itu juga mulai menyelinap lewat pinggir celana dalam itu menggerayangi kemaluannya. Mang Nurdin menyusupkan tangannya lewat bawah kaosnya sehingga dada kirinya menggelembung dan ada yang bergerak-gerak. Si Endang meraih tangan Sandra dan menggenggamkannya pada penisnya.
"Kocok Neng, kocokin yang saya !" suruhnya
"Erwin...mhhpphh...Win...gua...mmm !" desahnya di tengah cecaran bibir Pak Usep yang akhirnya melumat bibirnya.
Aku menyaksikan adegan ini dari jarak satu meteran sambil duduk merangkul Santi.
"Win, dasar kelainan seks lu, tega amat lu ngeliat kita digituin tiko!" katanya sambil mencubit pahaku
"Tapi lu suka kan, gua liat tadi lu hot gitu goyangnya, ngaku lo !" sambil memencet payudaranya.
"Buka ah handuknya ngehalangin aja !" kutarik lepas handuk yang melilit badannya
"Lu juga dong buka, biar adil !" balasnya sambil melepasi pakaianku
"Sepongin San, sambil nonton si Sandra dismack down nih !" suruhku
Dengan posisi duduk di sebelahku, dia merunduk menservis penisku, jilatan dan kulumannya menyemarakkan acara yang sedang kusaksikan, seperti popcorn yang menemani nonton di bioskop. Sambil menikmati liveshow dan sepongan, tanganku memijati payudaranya dan menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya.
Rontaan Sandra semakin lemah, dia sudah pasrah bahkan hanyut menikmati ulah mereka. Aku berasumsi dia sudah tenggelam dalam hasrat seksualnya, hasrat terliar dalam dirinya, dia menikmati pagutan bibir Mang Nurdin tanpa ada paksaan, mengocok penis Endang dengan sukarela, juga ketika Pak Usep menempelkan penisnya ke mulutnya, tanpa diminta dia sudah menjilat dan mencium penis itu.
"Telanjangin euy, biar kita bisa ngeliat bodinya !" kata salah seorang dari mereka
"Iya bugilin, bugilin, ewe...ewe !!" timpal yang lain
Mereka bersorak-sorak dan mulai melucuti baju Sandra, pakaiannya beterbangan kesana-kemari hingga akhirnya tak satupun tersisa di tubuhnya yang indah selain arloji, cincin, dan gelang kakinya.