peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

-*¤][ Tiga Keris Kerajaan Jawa ][¤*- - keriswarisan



-*¤][ Tiga Keris Kerajaan Jawa ][¤*-

Tiga bilah keris sakti warisan Eyang Braja masih tersimpan di gandok tengah rumahku. Konon, ketiganya mempunyai kekuatan yoni yang ampuh sebagai pusaka bertuah tinggalan zaman kerajaan di Jawa Dwipa. Satu diyakini tinggalan Majapahit, sedangkan dua lainnya berasal dari Pajang dan Pajajaran. Meski demikian, aku tidak terlalu banyak mengerti bagaimana orang-orang yang dianggap waskitha itu dapat mengenali perbedaan antara keris yang satu dengan yang lain, bahkan bisa menentukan kapan dan zaman apa keris
pusaka itu dibuat.

Bagiku zaman apa saja kalau tidak ada yang memberitahuku pasti aku tak pernah paham. Tetapi demikian, aku yakin bahwa tiga benda adalah barang-barang kuno yang sangat langka dan kini jarang ada orang yang bisa membuatnya lagi. Jadi dapat pula disebut sebagai barang antik tinggalan budaya spiritual dan metafisika hingga penilaiannya pun sangat subjektif. Sama halnya dengan batu akik misalnya jika si pembeli merasa sreg, maka akan berani membayar mahal, meski tidak masuk akal. Hanya saja aku akan berpikir,
jika aku yang disuruh membeli dengan uang ratusan juta rupiah.
Beberapa waktu aku merasa agak kecewa bahwa dua buah benda pusaka yang berupa keris dari Majapahit dan Pajajaran itu agak berkarat. Maka dengan segala cara aku berusaha membersihkan noda-noda karatan itu, tetapi hasilnya tetap nol. Setiap kali aku bersihkan, maka dalam waktu sebulan telah timbul karat baru, tetapi aku tetap saja membersihkannya. Malah sekarang ini sepertinya akan menjadi hobby untuk mengisi waktu senggangku. Karena barang bertuah ini merupakan tinggalan Eyang, maka dengan senang hati aku
merawatnya dengan teliti. Meski aku juga belum pernah melihat wajah Eyang. Namun orang-orang pernah bercerita bahwa beliau adalah orang yang disebut linuwih dan berilmu tinggi.
Eyang Brajamusti disebut tokoh dan sesepuh warga di lereng Gunung Kendeng ini, dulunya pernah berguru pada seorang yang berilmu tinggi di seantero Jawa. Beliau juga dikenal sebagai dukun yang welas asih dan tampa pamrih untuk menolong sesama, meski beliau harus memilih menyendiri di puncak Kendeng hingga wafat dan dimakamkan di sana. Sekali waktu aku diajak ayah untuk nyekar {berziarah} di pusara Eyang.
Meski ayah tak begitu tertarik dengan hal-hal berbau mistik seperti merawat pusaka itu, maka ketika aku dewasa barulah ia memberitahuku jika di gandok tengah tersimpan tiga keris tinggalan Eyang. Hal yang tentu saja terasa aneh, karena ketika kakek mengajariku untuk mengenal benda-benda itu, namun ayahku melarangnya. Kini setelah puluhan tahun sepertinya benda tinggalan Eyang itu menjadi tali asih yang menghubungkan aku dengan para leluhurku.
Keris yang disebut tinggalan kerajaan Majapahit itu bentuknya sangat sederhana. Aku tidak begitu tertarik dengan bentuknya, tetapi konon menurut orang ngerti yang juga ahli pusaka justru keris inilah yang paling tua dan paling ampuh di antara ketiga benda milik kami.
Tiap keris tentu diyakini ada daya magis tersendiri terhadap pemiliknya. Ada yang dapat mempengaruhi si pemilik sehingga menjadi penaik darah ada yang dapat membawa lancarnya rezeki, pangkat, derajat tinggi, jodoh, melancarkan kelahiran dll. Tentu saja ada orang yang percaya namun tak jarang juga yang menganggap bahwa itu tahayul dan klenik. Seperti juga aku yang kini mulai menyukai benda pusaka, barulah bisa menarik sebuah kesimpulan jika waktu pembuatan dan tempat pembuatan benda ini bisa membawa
karakteristik tersendiri.
Dengan demikian, bagi seorang ahli akan bisa dengan mudah melihat pada zaman apa keris itu dibuat. Bahkan ada yang melihat adanya sebuah ilmu sehingga dapat mengetahui jika benda itu punya kekuatan sakti dan supranatural seperti legenda pusaka tanah Jawa, sebut saja Keris Nagasasra Sabuk Inten. Keris Empu Gandring. Setan Kober dll.
Tentang cerita yang punya hubungan dengan keampuhan benda pusaka ini memang lamat-lamat pernah aku dengar sendiri dari kakekku yang kala itu menerima warisan dari Eyang Braja. Kala itu kakek Dipayana adalah seorang dalang ternama dan sehabis main di Solo, beliau dibuntuti oleh seseorang hingga sampai di rumah. Setelah ditanya apa maksud orang itu hingga jauh-jauh ia dari Jawa Tengah dan membuntuti kakekku, ternyata ia hanya ingin melihat keris yang dipakai oleh kakek Dipayana.
"Bagaimana kisanak tahu jika keris yang aku pakai ini bagus?" tanya kakek pada orang asing itu.
"Maafkan saya Ki! Namun saya punya aji-aji yang bisa mengenal sebuah keris pusaka yang bagus. Jika ilmu itu saya rapalkan, maka saya akan bisa mencium aroma harum. Makin bagus sebuah keris itu makin harum pula baunya. Nah, kalau panjenengan mau ilmu itu, maka saya rela memberikan ajaran ilmu tersebut," jawab orang itu.
Membuat hati kakek Dipayana menjadi berbunga. Dengan gembira beliau menerima ajaran ilmu tersebut sebab dirasakan tidaklah sangat berbahaya, malah punya manfaat. Maka sejak itulah kakek Dipa juga menjadi salah seorang yang tahu bagaimana sebuah benda pusaka seperti keris mempunyai daya kasekten dan bisa disebut bagus atau tidak.


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top