peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

KEUTAMAAN AHLU BAIT 2 - kitab.mafahim.al-mushahhah



KEUTAMAAN AHLU BAIT 2
Ahlu bait, keluarga Rasulullah saw dan keturunannya
KEUTAMAAN AHLU BAIT 2 - super shining
Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda :
"Amma ba'du, perhatikan wahai manusia! Sesungguhnya aku hanyalah manusia (seperti kalian) yg sudah hampir didatangi utusan Tuhan-ku (malaikat maut), lalu aku menyambut. Dan aku tinggalkan pd kalian dua hal yg besar : (yakni) Kitabullah swt (al-Qur'an), di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka berpedomanlah dg kitab Allah swt dan berpegang teguhlah dengannya.
Dan kemudian Nabi saw bersabda :"Dan semua keluargaku, aku mengingatkan kalian kpd Allah swt pada (hak) keluargaku. Aku mengingatkan kalian kepada Allah swt tentang (hak) keluargaku."

Lalu sayyidina Husain ra bertanya :"Siapakah keluarga Baginda saw, wahai Zaid?"
Bukankah istri-istri Baginda saw termasuk keluarganya?"
Dan sayyidina Zaid ra menjawab :"Istri-istri Baginda saw termasuk keluarga Nabi saw (ahlul bait). Akan tetapi, keluarga Nabi saw adalah orang-orang yg haram menerima sedekah."

Sayyidina Husain ra bertanya lagi :"Siapa mereka?"
Dia menjawab :"Keluarga sayyidina Ali ra, keluarga sayyidina Uqail ra, keluarga Ja'far ra dan keluarga sayyidina 'Abbas ra."
Sayyidina Husain ra bertanya :"Semua mereka ini haram menerima sedekah?" Berkata sayyidina Zaid ra :"Benar."
(HR. Imam Muslim & Imam Ahmad).

Dalam firman Allah swt :
"Dan barang siapa yg memuliakan tanda-tanda suci_agama Allah, maka sesungguhnya yg demikian itu adalah menunjukkan ketaqwaan hati."
(QS. al-Hajj : 32)

"Sesungguhnya Allah menghendaki akan menghilangkan kotoran dari padamu semua, hai ahlal bait, yakni keluarga Rasulullah dan membersihkan engkau semua sebersih-bersihnya."
(QS. al-Ahzab : 33).

Dalam sebuah hadits lain, Nabi saw bersabda :"Wahai mausia, aku tinggalkan pada kalian perkara yg apabila kalian berpegang dengannya, pasti kalian tidak akan tersesat : kitab Allah swt dan keturunanku."
(HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam hadits yg lain, dari Jabir bin Abdullah yg mengatakan, ia mendengar
sendiri dari Rasulullah saw dlm suatu khotbah bersabda :"Hai, manusia, barang siapa membenci kami_ahlul bait_pada hari kiamat Allah akan menggiringnya sebagai orang Yahudi."
(HR. Thabrani, dlm kitab al-Ausath).

Ad-Dailami mengetengahkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw memberi tahu umatnya :"Barang siapa yg hendak bertawassul (berwasilah) dn ingin mendapat syafaatku pd hari kiamat kelak, hendaknya ia menjaga hubungan sillatur-rahim dg ahli bait_ku dn berbuat menggembirakan mereka."

Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda :"Pada hari kiamat aku akan menjadi syafi' (penolong) bagi empat golongan yg menghormati keturunanku ;yg memenuhi kebutuhan mereka; yg berupaya membantu urusan mereka pd waktu diperlukan dan mencintai mereka sepenuh hati."
(HR. Ahmad).

Rasulullah saw juga bersabda :"Siapa yg membenci ahlal_bait ia adalah orang munafik."
(HR. Ahmad).

Berkaitan dgn hadits ini Imam Ahmad bin Hanbal mengetengahkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw telah mengatakan juga :
"Surga diharamkan bagi orang yg berlaku zalim terhadap ahlul bait_ku dan menggangguku melalui keturunanku."
(HR. Ahmad).

Dalam hadits lain juga Rasulullah saw bersabda :"Mereka (ahlul bait) adalah keturunanku, diciptakan dari darah dagingku dan dikaruniai pengertian serta pengetahuanku. Celakalah orang dari umatku yg mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubungan dgn ku melalui (pemutusan hubungan dg) mereka. Kepada orang-orang seperti itu Allah tdk akan menurunkan syafaatku."
(HR. Ahmad).

Ada sebuah riwayat, pd tahun 149 H, Syaqiq al-Bakri, seorang alim berangkat ke Baitullah untuk menunaikan haji. Namun, di tengah perjalanan, ia berhenti sebentar di kota Qadisiyah bersama rombongannya. Dlm hiruk pikuk di tempat peristirahatan, Syaqiq memperhatikan orang2 hilir mudik yg corak pakaiannya beragam.
Tiba2, pandangannya tertumpu pd seorang pemuda. Wajahnya cerah cemerlang bercahaya, menampakkan pesona dan kharisma. Padahal seluruh tubuhnya dibalut karung goni yg kasar. Kakinya pun
pun hanya mengenakan terompah kayu. Pemuda ini duduk sendirian tersisih dari keramaian. Dlm hati, Syaqiq berkata bahwa pemuda itu pastilah berpura-pura menjadi seorang sufi. Dengan begitu, orang akan iba melihatnya. Terbesit di hati Syaqiq untuk menguji pemuda itu. Jika ketahuan, Syaqiq justru malah akan mencela dn mengkritik tajam atas sikap kepura-puraannya pemuda itu.

Namun, tatkala Syaqiq mendekati, tiba2 ia mendengar pemuda itu berkata,"Hai Syaqiq, tidakkah kau tahu bahwa Allah swt telah berfirman dlm
kitab-Nya yg mulia,"Hai orang2 yg beriman, jahilah banyak buruk sangka (terhadap orang lain) karena setengah dari buruk sangka itu berdosa.."
(QS. Al-Hujurat : 12).

Setelah membacakan firman itu, pemuda tersebut bangun dan beranjak dari tempatnya. Tentu saja Syaqiq teringgung dgn perkataan pemuda tadi. Tapi, ia sendiri bingung, entah dari mana pemuda itu dapat membaca isi hatinya. Sungguh ajaib, dia mengetahui nama Syaqiq, padahal Syaqiq sendiri sama sekali tdk pernah bertemu dengannya. Syaqiq yakin,
pemuda itu salah seorang shaleh yg termasyur. Merasa ingin mengenal lebih jauh, Syaqiq segera mengejarnya di belakang. Tapi rupanya dia lebih cepat dari Syaqiq. Sampai ia pun tdk lagi melihatnya."Kemanakah ia menghilang di antara kerumunan orang di situ?" batin Syaqiq.
Gagal menemui pemuda tadi, Syaqiq segera melanjutkan perjalanan bersama rombongan dari Qadisiyah menuju Arafah. Begitu sampai sana, tanpa diduga, sekali lagi Syaqiq bertemu dengan pemuda itu. Kali ini Syaqiq melihat kalau dia sedang khusyu' mengerjakan shalat. Sementara anggota2 badannya bergoncang dan air matanya mengalir.
Syaqiq terharu, iapun berusaha mendekati pemuda tadi dn duduk de dekatnya, menunggu dia selesai shalat. Syaqiq kagum. Dlm hati ia berkata bahwa pemuda itu sangat khusyu'
shalatnya. Begitu shalat selesai, pemuda itupun lalu menoleh ke arah Syaqiq dan berkata,"Hai, Syaqiq, bacalah firman Allah,"Dan sesungguhnya Aku (Allah) adalah Maha Pengampun kpd siapa saja yg kembali kepada-Ku, beriman kepada-Ku, mengerjakan amal shaleh, kemudian dia mencari jalan yg benar."
(QS. Thaha : 82).
Dlm hati, Syaqiq terus merenung membaca firman tersebut. Sementara, seperti biasa, kali ini pemuda itu telah hilang lagi. Bahkan Syaqiq kerepotan mencarinya, mengingat begitu ramai orang hilir mudik.
Tapi begitu Syaqiq di Mina, dia lagi2 menjumpainya. Kali ini dia pergi mengambil sebuah teko, di tangannya ada tempat mengambil air. Syaqiq segera mendatanginya. Pemuda itu lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil air.
Sementara air agak jauh sedikit untuk dijamah tangan. Tdk disangka2 tempat air itu terlepas dari tangannya lalu jatuh ke tanah. Entah apa yg akan dilakukannya saat itu. Pemuda itu malah langsung mengangkat kepalanya ke arah langit seraya memohon,
"Kepada Engkau aku kembali
bila aku merasa kehausan. Dari pada-Mu juga kuminta makanan bila aku merasa kelaparan. Ya Allah, ya Tuhan-ku, aku tidak punya bekas selainnya, janganlah Engkau ambil dia dari tanganku."
Begitu selesai memanjatkan doa, ajaib, tempat air itu berangsur naik, seolah-olah ada mata air yg sedang mengisinya dari bawah. Pemuda itu lalu menyelupkan tangannya ke dlm tempat air itu. Dia lalu meminum air itu sepuas2nya, bahkan air itu bisa digunakan untuk berwudhu. Ia pun langsung menunaikan shalat 4 raka'at.
Usai shalat, dia lantas menggenggam pasir dr tempat itu, dn dibubuhkannya ke dlm wadah itu serta dikocok2kannya dng air yg ada di dlm wadah itu, lalu dia pun meminumnya. Sungguh Syaqiq terkagum2 oleh ulah si pemuda tadi. Takjub bukan main terhadap apa yg telah diperbuatnya. Dia minum apa yg ada dlm bekas itu setelah Syaqiq melihatnya membubuhi segenggam pasir di dlmnya.
Syaqiq lantas memutuskan untuk mendekatinya dn berkata,"Berilah aku sedikit rezeki yg diberikan Allah kepadamu!"
Syaqiq penasaran, ingin tahu banyak apa yg sebenarnya di dlm wadah yg dimakan pemuda itu. Pemuda itu pun lantas menoleh ke arah Syaqiq. Namun tatapannya seolah berkata bahwa sesuatu tengah terjadi pd diri Syaqiq. "Wahai Syaqiq, nikmat Allah itu terlalu banyak yg diberikan pd kita, baik yg nampak maupun tidak. Bersihkanlah hatimu dan jangan suka menduga apa-apa."
Pemuda itu lalu memberi Syaqiq wadah itu dan dia pun meminumnya. Rasanya seperti bubur sawiq yg manis, dan enak serta baunya harum pula.

Syaqiq senang bukan main. Apalagi rasa bubur sawiq yg dimakannya itu lezat tak terkira.
"Demi Allah, aku belum pernah merasakan bubur sawiq yg begitu lezat seumur hidupku seperti yg sedang kumakan ini. Aku terus mencium bubur itu sampai aku merasa kenyang. Bahkan rasa kenyang di perutku bisa tahan berhari-hari, sampai-sampai aku tdk menginginkan makanan lain saat itu," batin Syaqiq.
Setelah kenyang dan puas, dia pun mengembalikan wadah pemuda itu. Si pemuda itu lalu pergi. Seperti yg sudah-sudah
kali ini pun tak kelihatan lagi batang hidungnya sampai berada di Mekkah. Pd salam satu malam di Mekkah, Syaqiq sekali lagi melihat pemuda itu di pinggir kubah air zamzam. Dia sedang berdiri menunaikan shalat penuh khusyu', rentang waktu shalatnya lama sekali. Hingga Syaqiq mendengar keluh kesah dan suara tangisannya yg sungguh memilukan siapa saja yg berada di sampingnya.
Pemuda itu pun terus shalat, rakaat demi rakaat, sampai muncul waktu fajar, barulah dia berhenti. Kemudian disambung pula dengan tasbih
dan berdzikir. Tatkala waktu subuh tiba, pemuda itu turut berjama'ah dengan rombongan Syaqiq. Selepas subuh, dia lalu thawaf mengelilingi Ka'bah tujuh kali putaran. Kemudian ia menepikan dirinya dari tempat thawaf menuju ke suatu tempat di pinggir masid.

Syaqiq penasaran dan mengikutinya dari belakang untuk melihat apa yg akan diperbuatnya sesudah itu. Syaqiq melihat dia duduk dan orang-orang banyak mengelilinginya. Syaqiq menduga, mereka mungkin para pengikut dan pengawal-pengawalnya.
Orang2 tersebut ternyata datang dari berbagai tempat dn mereka bertemu setiap tahun di sana. Sebab dlm perjalanan menuju Baitullah, Syaqiq tdk melihat seorangpun dari mereka dalam rombongan. Syaqiq lalu ikut duduk di situ mengelilinginya. Sementara orang2 semakin ramai berdatangan membanjirinya dari berbagai arah di masjid itu. Rasa penasaran Syaqiq akan siapa sebenarnya pemuda itu semakin menjadi. Selama ini Syaqiq telah menjumpai bermacam-macam keanehan terjadi pd pemuda itu.
Namun tdk terlintas sedikit pun dlm benaknya untuk bertanya siapakah gerangan dirinya.

"Wahai saudaraku, boleh aku bertanya sedikit?" Syaqiq menghampiri salah seorang yg mengerumumi pemuda itu.
"Boleh."
"Siapa pemuda ini?" tanya Syaqiq
"Kamu belum tahu?"
Syaqiq menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia adalah MUSA bin JA'FAR bin MUHAMMAD bin ALI ZAINAL ABIDIN bin HUSAIN bin ALI BIN ABI THALIB, (keturunan Fathimah az-Zahra putri Rasulullah saw)."
jawab lelaki yg ditanya Syaqiq seraya tersenyum.
"Oh, dari keturunan Ali Zainal Abidin bin Husain."

Orang yg di sebelah Syaqiq itu tersenyum seraya berujar,"Orang yang baik dari keturunan yang baik."
Semoga Allah menurunkan rahmat dan berkah dari mereka sekalian serta mengaruniakan manfaat bagi kita di dunia dan di akherat. Aamiin...

Dinukil dari kitab : Anisul Mu'minin/Shafwak Sa'dallah al-Mukhtar.

(Zahid Mushaffi al-Fandany).
Visits: 414


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top