Bismillaahir rahmaanir rahiim
Sebelumnya penulis akan menulis ulang nasab penulis :
Zahid al-Mushaffi al-Fandani bin Slamet bin Mulqasim bin Sanmukmin bin Kasan Mukmin bin Ahmad 'Ali bin Bangen bin Pangeran Nuriman.
KASAN MUKMIN (KAKI GATHE)
Kakek penulis menceritakan, bahwa Kaki Gathe adalah seorang ustadz dan mengasuh sebuah mushalla di dekat rumah beliau. Sekarang, tanah mushallanya dibuat rumah oleh cicitnya Pardi bin Nini Par, dulu tanah ini digunakan untuk mendirikan mushalla dan shalat berjama'ah.
Beliau berputra Sanmukmin yang menurunkan 8 anak laki2 dan perempuan :
Nini Raji, Nini Congkog, Kaki Tirtasentika, Mulqasim (kakek penulis), Nini Jemi, Kaki Kasari, Nini Jasiyah dan terakhir Nini Par.
Sepengetahuan penulis, cucu Mbah Gathe yg masih mendirikan
shalat cuma Kaki Tirtasentika dan Nini Par. Sedangkan yg lain, tidak ada. Kakek penulis, menceritakan Bahwa Mbah Ahmad 'Ali, adalah seorang yang sakti. Pernah terjadi suatu peristiwa, beliau ketika beristrikan wanita di ds. Peniron, Pejagoan. Di sana dimusuhi oleh orang, dan dikabarkan meninggal dunia. Lalu seorang utusan dari desa Peniron, mau mengabarkan lelayu (orang kematian) di tempat istri pertamanya. Rupanya Mbah Bangen, masih hidup di rumah istri pertama. Terus, siapa yg meninggal di desa itu?
Nah, dari cerita ini, berarti anak Mbah Bangen yg bernama Ahmad 'Ali mempunyai ilmu "medar sukma", yang bisa mewujudkan rohnya menjadi badan kasar sebanyak 7 orang. Atau kata orang punya ilmu "sifat selawe (25)."
Terus cucu dari Mbah Bangen, Mbah Kasan mukmin, juga orang sakti, beliau bisa menumbal tanah angker, wingit menjadi tawar. Kakek penulis berkata, kalau Mbah Kasan Mukmin pernah berujar,"Anak cucuku dengan izin Allah tidak akan diganggu setan selamanya."
Sementara Mbah Bangen pernah melawan satu kompi pasukan Belanda di kali Progo Yogyakarta, dan pasukan Belanda kocar-kacir dapat dilalahkan. Ini adalah karamah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh, untuk jihad fi sabiilillah.
Wallahu a'lam..
Walau kakek penulis "Mulqasim", bukan seorang sholeh, tapi beliau begitu hafal ketika membaca sebuah kitab karangan para wali "Layang Ambiya", katanya kitabnya sebesar bantal tidur. Saya pernah menanyakan, katanya disimpan pak Mantan kepala desa. Tapi penulis belum mengkorfirmasikan. Suatu saat penulis akan tanyakan kepada beliau,
baik tentang nasab penulis yg tertera di situ "Pangeran Nuriman" dan juga tentang kitab itu.
Adapun sebagian isi kitab Layang Ambiya adalah :
1. Diriwayatkan kera-kera yang dikutuk Allah yang tadinya adalah manusia, karena mengingkari kerasulan Musa as, maka salah seorang dari mereka berkata kepada Nabi Musa as,"Wahai Nabi Musa, aku ingin menjadi manusia (lagi)?
Lalu Nabi Musa as menjawab,"Akan ku doakan kamu menjadi seorang manusia kembali, tapi kamu akan menjadi kaum zaman akhir."
Lalu si kera menjawab
"Kalau begitu, aku tidak mau!"
"Kenapa begitu," Musa as heran.
"Karena kaum zaman akhir itu "becik wedhuse, salah karo kitabe (lebih baik kambingnya, dan kitab kaum zaman akhir palsu)."jawab kera itu.
Di sinilah penulis merasa ingin mengulang kembali kata-kata kakek penulis. Dulu, penulis belum sama sekali mengenal Islam secara mendalam, tapi penulis sudah paham bahwa Al qur'an hak (tdk palsu). Jadi sedikit tdk setuju dengan pendapat kakek kalau kitab Al qur'an itu salah.
Ternyata penulis mengalami sendiri sekarang ini, bahwa kaum (segolongan) umat zaman akhir ternyata menyelewengkan makna Al qur'an, kitab-kitab karangan para ulama pendahulu dipalsukan, dikurangi isi dan ditambah, yang akhirnya "salah kitab" tdk original/asli.
Mendingan seekor kambing, dipandang hina tapi memberikan susu kepada yg haus, memberi kenyang kepada orang lapar, makanannya rumput (kerendahan), tapi bebas dari racun dan menimbulkan penyakit.
Malah yang lebih ganas lagi adalah segolongan umat zaman akhir yang mengatakan al-Qur'an sekarang adalah palsu, yang aslinya sekitar 17.000 ayat, bukan 6666 ayat seperti yang kita kenal. Ada juga yg tdk berpegang pd al-Qur'an malah kitab bikinan sendiri.
Na'udzubillah min dzalik...
2. Santri zaman akhir, itu santri blenderan, pradan, gundhul-anggundhuli.
Blenderan : dipoles dengan dalih kembali kepada kitabullah dan sunnatur-rasul, padahal itu hanya di mulut-mulut mereka, yang sebetulnya makna yang dimaksud adalah kepalsuan (kebatilan).
Santri pradan : walaupun dengan kecurangan, mengubah-ubah kitab terdahulu, dan sedemikian rupa, para dai-dainya kalau perlu disekolahkan di Arab Saudi, biar dengan begitu banyak orang tergiur. Akibatnya, banyak mereka perkataannya baik, tapi tingkah lakunya buruk (mengkafirkan, menganggap sesat saudaranya) dan banyak menimbulkan perpecahan umat.
Santri gundhul-anggundhuli : seorang dai zaman sekarang yg tidak mengamalkan ilmunya dgn ikhlas (ada taushiyah ada uang), mereka sudah loba
(serakah) kepada dunia, berebut ladang dakwah, dgn menguasai masjid, dll.
Jadi, istilah "sepi ing pamrih, rame ing gawe" (tidak mengharap imbalan dalam mendakwahkan Islam ini) sdh tidak berlaku lagi.
3. Dikatakan juga pada kitab itu : zaman akhir ; tanah hilang berkahnya, sungai kehilangan lubuknya, pasar hilang kumandang suaranya, dan wanita hilang sifat malunya.
Tanah hilang berkah, berarti kesuburan sdh tidak ada, yang dengan itu ia memberi makan pemiliknya, justru malah menjadi malapetaka, kita saksikan rumah2 tertimbun tanah saat longsor, dan yg sedang hangat adalah "kasus Lapindo".
Tanah Lapindo yang sudah menenggelamkan ratusan desa dan rumah.
Saudaraku,
Sungai hilang lubuknya : diibaratkan mereka yang ahli ilmu yang tinggal hanya sekelas kyai atau santri. Lebih-lebih sekarang banyak pemuda-pemuda yang bodoh sudah berfatwa yg menyesatkan, hampir sekarang kita banyak kehilangan Ulama (yg diibaratkan lubuk yg banyak airnya) yang terkenal mumpuni dan teladan umat. Mereka satu persatu diwafatkan oleh Allah swt.
Pasar hilang kumandangnya : pasar (tempat berkumpulnya orang-orang), dlm hal ini masjid, sudah tdk ada lagi di sana pengajian-pengajian, menuntut ilmu dan tempat memperoleh petunjuk.
Tapi kosong jama'ah shalat, dan orang di sekitar masjid tdk tertarik pergi ke masjid, walau berdiri megah dengan biaya ratusan juta. Tidak ada orang yg i'tikaf, membaca al-Qur'an, tapi saudaraku,
Masjid-masjid "sepi" dari manusia krn manusia pada sibuk dengan masalah dunia (perut, makan, pakaian) dan berlomba-lomba membangun rumah yg megah, yang paling-paling akan ditinggalkan ketika mati, menghadap sang Khaliq. Tinggal anak cucu yang diberi giliran memakai. Ini berarti, ada hikmah Allah dibalik peristiwa.
Wanita sudh hilang rasa malunya : kita lihat wanita berpakaian tapi mereka masih telanjang, atau di film-film, bahkan di tempat-tempat hiburan
mereka sudah berani telanjang di depan umum, sampai terlihat kemaluan. Perempuan sdh tidak sungkan lagi berzina, bahkan di dunia maya sudah jutaan wanita yg memperlihatkan perzinahan.
Na'udzubillah min dzalik...
3. Sehari ada gempa 7 kali, kamu jangan goyah (tetap berpegang pada "waton").
"Waton" itu adalah tiang yg menyangga bangunan. Agama Islam ini waton (pegangan), bangunannya adalah kehidupan ini. Gempa itu adalah : kesesatan dan bid'ah, serta ajaran-ajaran/paham-paham baru yg merusak keutuhan agama.