peperonity Mobile Community
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
New to peperonity.com?
Your username allows you to login later. Please choose a name with 3-20 alphabetic characters or digits (no special characters). 
Please enter your own and correct e-mail address and be sure to spell it correctly. The e-mail adress will not be shown to any other user. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
This password protects your account. To avoid typos it must be entered twice. Please enter 5-20 alphabetic characters or digits (no special characters). Choose a password that is not easy to guess! Never disclose your password to anyone. 
Stay logged in
Enter your username and password to log in. Forgot login details?

Username 
CAUTION: Do not disclose your password to anybody! Only enter it at the official login of peperonity.com. We will never ask for your password in a message! 
Login
Stay logged in

Share photos, videos & audio files
Create your own WAP site for free
Get a blog
Invite your friends and meet people from all over the world
All this from your mobile phone!
For free!
Get started!

You can easily invite all your friends to peperonity.com. When you log in or register with us, you can tell your friends about exciting content on peperonity.com! The messaging costs are on us.
Meet our team member Sandy and learn how to create your own mobile site!

MAKNA MAULID NABI SAW - kitab.mafahim.al-mushahhah



MAKNA MAULID NABI SAW
Bukti kecintaan terhadap Rasulullah saw
MAKNA MAULID NABI SAW - upload
Sebagaimana kita ketahui, bahwa keimanan kpd Allah swt dan Rasul-Nya saw, tdklah sempurna kecuali setelah terpenuhinya dua rukun yg harus ada : "Keyakinan yg bertempat di akal, dan kecintaan yg memenuhi hati.
Keimanan dgn akal yg kosong dr kecintaan tdk dianggap sebagai keimanan di mizan Allah swt di hari pembalasan kelak. Dn keimanan yg hanya diwakili oleh cinta tanpa ditopang oleh keyakinan akal, tdk dianggap sebagai keimanan di mizan Allah swt.

Bahasan kali ini adalah berkisar pada rukun kedua :"yaitu cinta, yaitu kecintaan kepada Rasulullah saw, yg merupakan kecintaan kpd Allah swt.

Rasulullah saw bersabda :"Tidaklah seorang di antara kalian beriman sampai aku mejadi orang yg lebih dicintai olehnya
dari pada hartanya, putranya dan manusia seluruhnya."

Rasul saw mengatakan ini bukan karena kesombongan atau egoisme, tapi merupakan penyampaian perintah Allah swt.
Perhatikan, wahai hamba-hamba Allah!
Dan ini merupakan fakta yg tdk mungkin dipungkiri, baik oleh seorang mukmin ataupun kafir sekalipun;
"Barang siapa mencintai sesuatu, dia akan merasa rindu kepada apa-apa yg mengingatkan kepada sesuatu itu."

Silahkan gambarkan dalam benak kita :"Setiap kali melewati suatu tempat, atau melewati hari,
atau tanggal lahir kekasihnya (yg dicintai), dia akan diliputi kerinduan kpd kekasihnya, ini hal yg manusiawi dan mendasar, yg tdk perlu didiskusikan kebenarannya.

Saudaraku,
Jika kita sedang rindu/kasmaran dg kekasih, maka jika terlihat oleh kita baju, sandal atau kitabnya, dll maka akan membara api kerinduan di dalam hati, kadang2 sampai tdk terasa diciumnya baju, sandal atau kitab kekasihnya, sebagai ungkapan emosional jiwanya kala itu. Sehingga timbullah ingin bertemu atau minimal mengenang
saat bersamanya dan sebagainya.
Dan tdk mengingkari hal-hal ini kecuali orang-orang yg hatinya batu, bahkan lebih keras dan kasar dari batu.

Marilah kita lihat hati yg dipenuhi rasa cinta kepada Rasulullah saw :
"Saat seorang mengunjungi goa dimana Rasul saw pernah ber-tahannuts di dalamnya, maka kerinduan kpd Rasul saw akan berapi-api. Atau saat melihat baju Rasul saw, atau terompahnya, maka krn saking terharunya ia menangis rindu, sampai tdk sadar ia menciumi baju atau terompahnya. Ya, sekedar pelampiasan emosional/sentimental perasaan jiwa, karena kangen kepada Rasul saw.

Contoh lain :
Di dalam kitab-Nya Allah swt berfirman :"Dan jadikanlah maqam Ibrahim tempat bershalat."

Allah swt memerintahkan untk thawaf mengelilingi Ka'bah yg terbuat dari batu, yg secara kasat mata tdk memberikan manfaat dan juga madharat.
Nah, ini tdk lain karena Allah swt hendak mengingatkan kita, mengajari kita untuk senantiasa memperingati peringatn kejadian masa lalu yg bisa menimbulkan makna Ubudiyah yg ditauladankan oleh para Nabi as di bumi ini.

Allah swt menginginkan kita untuk
selalu dzikir/teringat yg berkaitan dengan athifah (emosi/sentimen) kita dgn kasih sayang, yg terus menerus menyumbangkan dan meningkatkan kecintaan kita kepada-Nya.

Dlm hal ini Rasulullah saw saat dlm perjalanan kembali dari Tabuk, dan sewaktu mulai tampak rumah-rumah di kota Madinah dari kejauhan, lalu Rasul saw berkata :"Ini Thaabah. Kemudian beliau saw memalingkan wajahnya yg mulia ke arah gunung Uhud, seraya berkata :"Ini adalah Uhud, gunung yg mencintai kita, dan kita mencintainya."

Coba perhatikan ghazal (ungkapan perasaan/emosional Rasul saw), perkataannya begitu sentimental. Bukankah Uhud hanya sebuah gunung Batu? Kenapa Rasul saw mengatakan :"..gunung yg mencintai kita dan kita mencintainya."

Tak lain adalah karena gunung tersebut mengandung di dalamnya suatu ingatan kejadian peristiwa atas para syuhada yg dimakamkan di kakinya, mengandung darah-darah suci para syuhada. Suatu peringatan yg sangat berkenan di hati yg mendalam.

Adapun kita, saat kita mendengar tanggal hari
kelahiran beliau saw, seorang Nabi yg sempurna, pembawa keselamatan umat manusia dunia dan akherat, yg memperjuangkan kita untuk selamat dari kebodohan, kemusyrikan dan kezaliman dunia. Yang mencintai umatnya, hingga saat beliau saw nyawa di tenggorokan apa yg diucapkannya adalah,"Ummatii, ummatii..." (umatku...umatku...!!!!).
Habibullah swt, yg kelahirannya sangat kita harapkan supaya memintakan syafa'at kelak di hari kiamat. Apa mungkin kita melewatinya hari itu tanpa bergerak/berbuat apapun
untuk memperingatinya.

Hingga dalam memperingati kelahiran beliau saw hanya dengan hati saja, tanpa melakukan apa-apa. Sungguh naas...yang katanya mencintai beliau saw sebagai nabinya. Kita demi melampiaskan emosi kecintaan kita bisa dengan kata-kata, luapan tangisan, atau kerinduan yg mendalam. Lalu diucapkanlah selawat dan salam dgn diiringi nasyidah untuk memujinya. Atau dgn melakukan sedekah, puasa atau lainnya sebagai manifestasi kecintaan kepadanya dan sunnah-sunnah beliau saw,

Sebagaimana Rasul saw juga berpuasa di dlm memperingati kelahirannya.
Duduk membaca sirah Rasul saw bersama saudara-saudara, dan rayakan juga dengan berbagai cara, hanya saja yg bersesuaian dengan syari'at.

Ini masalah yg sudah kita pahami bersama, dan tidak bertujuan untuk didiskusikan lagi dengan orang-orang yg berhati batu, karena tdk ada gunanya. Orang-orang yg hatinya lebih keras dari bebatuan gunung Uhud.

Dan kalian tdk akan menjumpai orang2 yg berhati batu, hatinya berkeping-keping di hadapan Allah 'Azza wa jalla di waktu sahar sebelum fajar, memanjatkan istighfar dengan isak tangis dan khusuk mengharap rahmat Allah swt.
Kalian tdk akan mendapati mereka shalat dg penuh kekhusukan,
Dan ketika shalatnya usai, lalu ia memanjatkan doa dengan mengangkat kedua tangannya ke arah langit, karena mereka katakan perbuatan itu adalah bid'ah!!!!

Padahal, Rasulullah saw bersabda :"Sesungguhnya Tuhanmu sangat pemalu dan pemurah, apabila hamba-hamba-Nya mengulurkan tangannya (berdoa) menjawabnya dengan sia-sia."

Dan di malam Badr, Rasul saw mengangkat tangannya yg mulia ke arah langit berdoa, dan sewaktu shalat Istisqa'.

Pendapat al-Imam Abu Manshur al-Maturidi, dlm kitab at-Tauhid (hal. 75-76), menuliskan :
"Adapun menghadapkan telapak tangan ke arah langit dlm berdoa perintah ibadah.
Dan Allah memerintahkan para hamba untuk beribadah kpd-Nya dg jalan apapun yg Dia kehendaki, jg memerintahkan mereka untk menghadap ke arah manapun yg Dia kehendaki. Jika orang berprasangka bahwa Allah di arah atas, dg alasan krn seseorang saat berdoa menghadap wajah dan tangannya ke arah atas, maka orang semacam ini tdk berbeda
dg kesesatan orang yg berprasangka bahwa Allah swt berada di arah bawah dg alasan krn seseorang yg sdng sujud menghadapkan wajahnya ke arah bawah lebih dekat kpd Allah swt. Orang2 semacam ini sama sesatnya dg yg berkeyakinan bahwa Allah berada di berbagai penjuru ; di timur atau di barat sesuai seseorang menghadap di dalam shalatnya. Juga sama sesatnya dg orang yg berkeyakinan bahwa Allah berada di Mekkah krn Dia dituju dlm ibadah haji."
Penulis : Zahed al-Mushaffi al-Fandany
Bekasi Timur, 15 Januari 2012

Al-hafidz az-Zabidi berkata :"Langit dikhususkan dlm berdoa, agar tangan di arahkan kepadanya krn langit-langit adalah kiblat dlm berdoa, sebagaimana Ka'bah dijadikan kiblat bagi orang yg shalat di dlm shalatnya. Tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah berada di arah Ka'bah."
(Itthaf as-Sadah al-Muttaqin, juz 5, hal. 34-35).
Visits: 423


This page:





Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top