SOLO CITY, THE PROFILE and THE HISTORY
Solo city has enough interesting history. In the very beginning, Solo City, or which in the past was known as Sala Village, was a swampy forest area. But about 260 years ago it was chosen to be the new center of the kingdom, after King Pakubuwono II who ruled Mataram Kartosuro Kingdom chose Sala Village to be the new center of the kingdom, named Kasunanan Hadiningrat Palace, on 17 February 1745 AD or 14 Asyura 1670 (Javanese Calendar).
In the development nowadays, Solo City has changed to be one of the biggest center of trade, industry and tourism in Central Java.
Solo City is about 44 km2 wide area, 98 m above sea level and has 26 Celcius degree average of the temperature of weather. The number of population about 600.000 of people.
The process of the Solo City development with it classical history goes continually. Looks like the King Pakubuwono II moved the centre og the kingdom made a special value. Even in the development of political map, in Solo City was formed two palaces, those are Kasunanan Palace and Mangkunegaran Palace. And in the beginning of The Republic Indonesia government, Solo city was pointed to be the capital of Surakarta Residency, consist of 7 districts : Sukoharjo, Boyolali, Surakrta/Solo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen & Klaten.
As a developing city, even it has changed to be a modern city, the original culture still always be sustained by the government, because the two palaces of Kasunanan and Mangkunegaran are the assets of Javanese culture which need to be conserved.
(Indonesian ver)
KOTA SOLO, PROFIL & SEJARAHNYA
Kota Solo memiliki nilai histories yang cukup menarik. Pada awalnya daerah Solo atau dulu dikenal sebagai Desa Sala wujudnya masih berupa hutan berawa-rawa. Namun sekitar 260 tahun yang lalu terpilih menjadi pusat pemerintahan yang baru, setelah Kerajaan Mataram Kartasura yang saat itu diperintah Paku Buwono II memilih Desa Sala sebagai pusat pemerintahan baru pengganti Kerajaan di Kartasura. Dan pembangunan hutan berawa-rawa di Desa Sala menjadi kerajaan baru bernama Keraton Kasunanan Hadiningrat dilakukan 17 Februari 1745 Masehi atau 14 Suro 1670 (Kalender Jawa).
Dalam perkembangannya sekarang ini, Kota Solo telah berubah menjadi salah satu pusat perdagangan, industri dan pariwisata yang terbesar di kawasan Jawa Tengah. Dengan luas daerah yang mencapai 44 km2 sera ketinggian 98 m dpl (diatas permukaan laut) ditambah temperature udara rata-rata 26 derajat celcius, dalam perkembangnnya sekarang ini, telah dihuni penduduk dengan jumlah populasi lebih kurang sebanyak 600.000 orang.
Proses perkembangan Kota Solo dengan sejarahnya yang cukup klasik, memang membawa perubahan yang terus berkelanjutan, tampaknya Raja Paku Buwono II yang menggeser pusat kerajaannya kea rah timur kurang lebih 10 km dari Kerajaan Mataram Kartasura membawa nilai tersendiri. Bahkan dalam perkembangan peta politik saat itu, di Kota Solo muncul dua kerajaan, yaitu Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Dan saat awal pemerintahan Indonesia, Kota Solo ditunjuk menjadi Ibukota Karesidenan Surakarta dengan membawahi Karanganyar, Sragen, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri dan Klaten.