ARTIKEL: Wanita Berdayaguna

Liberalisme dan sekularisme sudah banyak menancap dipemikiran dan tingkah laku wanita indonesia saat ini. Perubahan gaya hidup untuk mengikuti zaman yang kianmodern dan hak asasi manusia yang semakin bebas tanpa terkendali, terutama menyangkut persamaan dan kesetaraan hidup pada wanita, yang juga sering dibumbui dengan mengatakan kaum wanita adalah masyarakat kelas dua. Semua itu sering kali menjadi alasan para wanita ´modern´ saat ini agar disamakan semua hak-haknya dengan kaum pria.
Bagi kaum wanita ´modern´ ini, pekerjaan wanita seperti mengasuh anak, menjaga rumah, memasak dll, bukan lagi dominasi dan kewajiban kaum wanita saja. Dan bekerja diluar rumah mencari uang, juga bukan hanya kaum pria saja yang mampu. Para wanita ´modern´ ini benar-benar berjuang agar persamaan hak dan kesetaraan disemua aspek kehidupan, harus sama dengan kaum pria.
Mungkin sebaiknya kita pikirkan dulu hal besar itu baik-baik, ibarat saat kita berbelanja sebuah produk ditoko, kita harus meneliti dulu baik-baik dan bijak. Jangan sampai nanti setelah produknya dibeli, tetapi sampai dirumah dengan beberapa kali pakai, produk yang baru kita beli RUSAK karena banyaknya CACAT yang ada diproduk itu. Atau mungkin MUTUNYA RENDAH dan JAMINAN GARANSINYA KURANG.
Coba kita membuat perbandingan dulu dengan berpikir tanpa beban dan tuntutan, kenapa kaum pria dan wanita, pada bentuk fisiknya saja sudah berbeda? Kalaupun ada sedikit persamaan, pastilah bukan hal-hal yang terlalu khusus untuk diperdebatkan. Atau pada persamaan-persamaan fisik itu, diperlukan ´´proses´´ agar terlihat sama. Pria yang umumnya berotot dan maskulin, sedangkan wanita yang lemah lembut, feminim dan sensitif. Dari sini saja sudah terlihat jelas perbedaan-perbedaannya dan tentu, kegunaannya juga. Walau ada juga beberapa pria yang berusaha sedapat mungkin menjadi wanita, tentu pria tadi akan terlihat aneh dan kurang waras.
Bukankah lebih ISTIMEWA jika seorang wanita yang mampu melahirkan generasi-generasinya (sedangkan pria tidak mungkin) dijaga, dilindungi dan dirawat seperti RATU. Tidak perlu susah payah bekerja diluar rumah banting tulang cari uang. Bukankah lebih ISTIMEWA lagi jika kaum wanita menjadi PEMIMPIN di istana rumah sendiri. Bukankah semua itu jauh lebih menyenangkan? Dan kalaupun ingin membantu suami dan keluarga untuk bekerja mencari tambahan rejeki, seharusnya memperhatikan juga psikologis suami yang lebih dominan tanggung jawabnya dalam mencari rejeki, serta tidak mengabaikan tugas-tugas sebagai pemimpin dirumah.
Semua zat, wujud ataupun hal-hal yang ada didunia ini pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi bukan untuk ditambah-tambah dan dikurangi, semua itu untuk saling mengisi dan bersinergi antara pria dan wanita. Agar kebahagiaan hidup dapat dicapai dan dinikmati dengan mudah.
Nurul F.
15-july-2005