Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: What you want? · More of this
    Search
 

   

ARTIKEL: Adil Untuk Semua
ARTIKEL: Adil Untuk Semua - adil.syahran
Keadilan adalah hak semua manusia. Dan semua orang pasti sangat senang dengan sikap adil orang lain, jika tidak senang atau tidak puas dengan keadilan, maka orang tersebut pasti memiliki kelainan rohani dan fisik. Sikap berlaku adil wujud dari kesadaran moral dan spiritual, kedewasaan pikiran dan lingkungan persekitarannya sebagai seorang manusia, bukan hewan atau makhluk yang lebih lebih rendah derajatnya dan kepintarannya. Sungguh hina seorang manusia atau sekelompok manusia yang mengabaikan sikap adil. Layaknya hewan yang rakus dan tidak punya rasa malu.

Jika seorang manusia mengabaikan sikap adil seperti; Tidak mau mendengarkan pembelaan orang lain yang difitnah, apalagi jika ikut-ikut memfitnah dengan menyebutnya dengan gelar dan nama-nama yang tidak pantas serta tanpa bukti yang kuat. Jelas sekali bahwa sikap seperti itu bukanlah sikap orang yang sudah dewasa dalam berpikir dan sangat-sangat hipokrit. Sikap tidak suka dengan keadilan seperti itu pasti memiliki kepentingan-kepentingan pribadi yang sangat tertanam dipikirannya seperti ingin mempertahankan kedudukannya yang terbukti tidak produktif. Jika orang tersebut adalah tokoh masyarakat atau ´pemimpin spiritual´. Pasti bukan hanya ketidakadilan saja yang ditimbulkan, tapi bencana dan mala petaka yang besar akan menimpa lingkungan sekitarnya.

Seorang tokoh masyarakat atau tokoh spiritual haruslah pandai dan profesional menangani suatu masalah yang terjadi disekitarnya, bukan malah memperkeruh masalah dengan sikap provokatif hanya karena nama, lambang atau jargon yang diteriakkan oleh para penjilat. Jika seorang tokoh masyarakat tidak pandai dan tidak profesional menangani masalah, bagaimana mungkin dapat menyelesaikan tadi dengan adil dan bijaksana.

Untuk bisa berlaku adil dan bijaksana seorang manusia haruslah membandingkan bukti-bukti dan pengakuan serta pembelaan orang-orang yang terkait dengan masalah itu. Selanjutnya memilah bukti-bukti tadi, agar proses mencari keadilan itu tidak dicemari dengan bukti-bukti palsu dan
pengakuan yang tidak benar dari kedua pihak. Kemudian memutuskan hasilnya tanpa melihat pangkat dan kedudukan pihak manapun, memutuskan permasalahan dengan sebenar-benarnya, adil dan bijaksana. Semua itu dapat dimulai dengan MENDENGAR. Apa sih, susahnya untuk hanya sekedar mendengar? Padahal manusia yang normal memiliki dua telinga dan satu mulut. Dua buah telinga untuk lebih banyak mendengar, daripada satu mulut untuk lebih sedikit berkomentar.Bukan malah sebaliknya. . . . . . .

Syahran
15-july-2005

Visits: 342
   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 23437   Help/FAQ   Terms   Imprint