
Beberapa hari lalu saya sempat mendengarkan seorang kenalan lama saya yang sedang membacakan sebuah pengumuman yang diberi sedikit PIDATO disebuah tempat ibadah. Walaupun PIDATONYA terdengar menyindir & mengkritik tapi disampaikan dengan cara yang sedikit malu-malu. Pidatonya yang sempat saya tangkap saat itu adalah mengenai KONSISTENSI, entah kenapa dia membawa masalah itu ke publik, sedangkan caranya berpidato saja sudah tidak konsisten. Belum lagi jika dikaitkan dengan hal-hal yang dia lakukan beberapa waktu lalu yang jelas-jelas menunjukkan sikap yang tidak konsisten hanya karena SMS seharga Rp.35Ø-. Kalau pak Amien Rain menyebut orang seperti itu ibarat MENJILAT LUDAH SENDIRI.
Jika ingin berbicara mengenai Konsistensi, memang bukanlah sifat BAKU seorang manusia. Perlu diperhatikan juga TUJUAN seseorang mengapa harus bersikap konsisten. Karena jika tujuanya saja sudah salah, jika dilakukan dengan cara apapun, pasti salah juga.Konsisten bisa juga ditempatkan pada orang yang Konsisten memerangi pemimpin yang gila jabatan dan gila hormat dengan tujuan ingin memperbaiki sebuah komunitas.
Jika ingin menjadi agen perubahan seharusnya tidak dengan tambal sulam saja, karena kebocoran dan kebobrokan bisa disebabkan oleh usangnya landasan dan arah serta pengarahnya sendiri. Seluruh landasan dan cara-cara yang terbukti gagal dengan uji coba atau kompetisi, sudah seharusnya di Reformasi. Unsur-unsur yang sudah usang tidak perlu lagi ditempatkan pada posisi yang sama, karena persentase jatuh kelubang yang sama jelas sangat besar. Sedangkan urgensi dari tujuan sebenar sudah sangat mendesak dan membutuhkan nafas segar. Sedangkan 'doktrin' BERSABAR tidak pantas ditempatkan pada KEPASRAHAN, karena hal itu sudah termasuk MEMBIARKAN, entah itu DIBIARKAN hancur oleh pengkultusan seorang manusia atau DIBIARKAN hancur oleh kelalaian seorang atasan. BERSABAR seharusnya ditempatkan sebagai sikap PREVENTIF tetapi tetap melakukan Reformasi dan perbaikan disemua sisi dengan cara yang lebih bijak & strategis dari sebelumnya.
Konsep seperti inilah yang seharusnya diterapkan oleh agen-agen perubahan, merubah keadaan diluar serta merubah kondisi didalam juga, REFORMASI INTERNAL. Bukannya malah bertingkah seperti orang suci yang selalu menganggap dirinyalah yang selalu benar.
Syahran
Khamis, 13 Oktober 2005