Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: What you want? · More of this
    Search
 

   

ARTIKEL: Ustadznya Dungu, Muridnya Jahil
ARTIKEL: Ustadznya Dungu, Muridnya Jahil - syahran.xx
Menurut saya, kedunguan ibarat sebuah Wabah penyakit yang menyerang individu-individu tertentu, terutama para pengajar dan pemimpin kelompok relijius.
Seperti halnya sebuah wabah yang menyerang fisik manusia, hanya saja wabah yang abstrak ini lebih cenderung mendistorsi kreativitas seseorang dalam berwacana dan berpikir secara Rasional, Produktif dan Efektif. Sehingga ketika berhadapan dengan diskursus terbuka dan memberikan presentasi pemikirannya, argumen-argumen yang diutarakan benar-benar tidak relevan, asal bunyi dan miskin kecerdasan.
Kemudian, apa faktornya? saya membagi menjadi dua faktor. yang pertama faktor internal, tentu saja karena individu yang lemah & tidak profesional, serta tidak pandai berintrospeksi. Faktor yang kedua adalah faktor external, biasanya subjek dikelilingi dengan persekitaran yang tidak bermoral, banyaknya tekanan dari orang-orang yang tidak bermoral seperti Provokator, Penjilat & Penggila Jabatan.
Itulah efek samping dari 'Real-Pragmatis', efek tersebut sudah benar-benar menggerogoti akal & jiwanya.

Ada sebuah fenomena yang sempat saya cerna pada PILKADA didaerah saya, sebuah sindrom 'Real-Pragmatis' yang akut dan sangat mendominasi situasi serta terpampang apa adanya. ketika sebuah Organisasi kehilangan "senjata pamungkasnya" tidak ada lagi yang mampu mereka lakukan kecuali memikirkan strategi yang konservatif & miskin siasat, untuk bisa 'sedikit' berpengaruh pada kontes PILKADA.
Di internal mereka, tidak ada lagi yang bisa memberikan inspirasi & kontribusi yang konstruktif, mereka benar-benar sudah kekeringan tukang pikir, kekurangan orang-orang pintar & intelektual, yang tersisa hanyalah Parasit yang akan selalu memprovokasi mereka dengan kegilaan & kepentingan pribadi mereka. Setiap langkah yang mereka lakukan selalu dilematis atau serba salah.
Ada juga yang melacurkan idiologinya sebagai seorang muslim, doktrin-doktrin spiritual yang katanya 'Konsisten' & 'Prinsipil' malah mereka lacurkan juga atas nama 'Persatuan', disatu sisi mereka beridiologi monoteisme, tapi karena kedunguan pemimpin & ustadznya serta kejahilan pengikutnya, idiologi Pluralisme yang divonis oleh Majelis Ulama Indonesia sebagai idiologi yang Haram bagi muslim,
mereka malah menyanjung tinggi idiologi Pluralisme tersebut. semua itu mereka 'persembahkan' demi Persatuan...... KEMUNAFIKAN PERSATUAN!. kata persatuan hanya dijadikan lipstik murahan.
Dahulu mereka mendoktrin dirinya & pendukungnya dengan tauhid & monoteisme, sekarang di PILKADA malah bersuara lantang mendukung Pluralisme & mengangkat calon pemimpin kafir menjadi penguasa mereka, sungguh ironis.
Haruskah orang-orang dungu yang telah dipengaruhi oleh provokator-provokator tersebut terus-terusan didukung? apakah kita sudah kehilangan akal sadar kita??? padahal orang dungu tersebut ibarat KERBAU RABUN YANG KEHILANGAN TANDUKNYA, hidungnya dicucuk & diikat dengan tali "Persatuan" serta ditarik-tarik dan digiring kemana saja provokator tersebut inginkan.
Sahabat Rasulullah SAW yang bernama Umar bin Khathab berkata ketika diangkat menjadi Khalifah, jika Umar salah, maka kalian dapat meluruskannya dengan pedang.

REFORMASI, RESTRUKTURISASI dan REGENERASI adalah SUNNATULLAH, tidak perlu dianggap ancaman maupun menanggapinya dengan sikap paranoid. Dimanapun itu, ketikan orang yang seperti Kerbau Rabun yang Kehilangan Tanduknya tersebut gagal, lemah & kering, sudah seharusnya diganti dengan yang benar-benar Humanis, Profesional, Energik & lebih mengerti apa itu persatuan, sebelum menjadi TAMBAH PARAH.
Bukan juga Persatuan yang disampaikan dengan berteriak-teriak ditempat umum, disekolah maupun dimimbar masjid dengan teriakan yang memekakkan telinga,
PERSATUAN!!!
PERSATUAN!!!
PERSATUAN!!!
seperti anjing yang menggonggong disiang bolong, hampir serupa dengan orang bar-bar yang memakai surban, jubah atau gamis. benar-benar memalukan!.

Semua kegilaan & ketololan ini harus dihentikan, tidak progresif. Seharusnya kita merekonstruksi & menguatkan posisi yang ada diatas (kepemimpinan/kepengurusan) dengan reformasi internal, restrukturisasi & regenerasi. serta merapikan & menetralisir unsur-unsur negatif yang ada dibawah seperti unsur provokatif itu tadi.
Para provokator itu sejatinya adalah PENGECUT, dia gerah melihat orang lain walaupun kawannya sendiri, lebih pintar, lebih jenius & lebih cerdas daripada dirinya. pelan tapi pasti, dia akan terus berusaha menyuntikkan racun muslihatnya kedalam pikiran orang-orang yang ada disekitarnya dengan berbagai cara. Targetnya, mengadu domba & mendapatkan pengaruh, diperhatikan & ingin dianggap hebat.
Ia akan menipu orang lain mengenai hakikat dirinya. ketika berada disituasi yang relijius, dia mengganti kulit berubah menjadi orang ahli ibadah, tapi ketika diminta membaca kitab suci saja, dia menghindar & melarikan diri karena bacaannya masih terbata-bata. hal itu sudah cukup menjadi bukti betapa dangkalnya ibadahnya, betapa tipisnya imannya, betapa kotor pikiranya & betapa besar kemunafikanya.
Pribadi yang munafik & provokatif seperti itulah yang harus dinetralkan & dirapikan, bukan pribadi yang berilmu & beriman. karena orang yang berilmu & beriman selalu memiliki pondasi yang kuat akan agamanya, pondasi yang dibangun dilingkungan yang agamis sedari kecil. pondasi ini akan lebih dominan mempengaruhi jiwa & akalnya. ketika menyimpang, akan dengan sendirinya kembali kelandasan agamanya.


Syahran.
7-Februari-2006

   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 22541   Help/FAQ   Terms   Imprint