LENTERA: Telaah Untuk H. Ridwan & Hasanuddin

TABAYYUN
Mudahnya seorang manusia menerima informasi atau berita dari satu pihak saja, bisa merusak pegangan kepercayaan orang lain maupun dirinya sendiri & bisa juga menyinggung masalah ukhuwah, walaupun pihak yang memberikan informasi tersebut dari golongan yang dihormati, tapi dihormati karena hal-hal materi & kekuasaan, bukan karena hal-hal yang bersifat moralitas, tauhid yang benar & tanpa tercemar.
Allah SWT berfirman didalam al-Qur'an:
"Wahai orang-orang yang beriman! jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Teliti." (Al-Maidah: 8)
Ketika informasi diterima dan dicerna hanya dari satu pihak saja, maka ketidak adilanlah yang dihasilkan, lalu sikap tidak adil ini adalah bagian terpenting dari KEDZALIMAN. begitu juga dengan sikap tidak teliti, tidak akurat & terburu-buru adalah sifat jelek manusia pada umumnya. Sedangkan sikap cek and ricek, cermat serta melakukan investigasi pada informasi tersebut adalah mutlak dilakukan.
Jangan sampai juga kelalaian, keteledoran & sikap eksklusif menjadikan informasi tersebut FITNAH kepada orang lain, apalagi fitnah kepada orang-orang kecil yang tidak memiliki kekuasaan & kekuatan. Berbeda dengan pemimpin yang gila jabatan, mereka memiliki motivasi lebih besar untuk memfitnah & menyebarkan berita bohong kepada orang lain karena cendrung mempertahankan kedudukan sebagai pemimpin.
Diakhirat nanti, sikap jelek, berat sebelah & eksklusifme tersebut akan dipertanggung jawabkan juga, Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan & hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya." (Al-Isra': 36)
Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya." (Al-Hujurat: 6)
Jika informasi yang didapat hanya setengah-setengah, sungguh bijaksana jika informasi tersebut hanya dianggap isyu belaka & tidak dibawa ke khayalak ramai, sampai ada kejelasan dari semua pihak yang terlibat dari informasi tersebut.
Allah SWT berfirman:
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (permasalahannya)." (An-Nahl: 43)
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya dengan sabdanya:
"Barangsiapa berfatwa (memberikan anjuran) tidak dengan selektif (berhati-hati) maka dosanya ditanggung oleh orang memberi fatwa." (HR. Ahmad, Abu Dawud & Ibn Majah)
Rasulullah SAW bersabda:
"Ketahuilah, celaka orang-orang yang berlebih-lebihan [tiga kali]." (HR. Muslim)
Seorang pemikir islam bernama Syeikh Ibnu Utsaimin berkomentar mengenai pentingnya mendengarkan kesemua saksi & keterangan orang-orang yang terlibat dalam sebuah permasalahan:
"Saya menasehati setiap orang agar dia mampu menjadi orang yang paling terakhir berbicara, supaya dia bisa menjadi penengah diantara pendapat yang banyak. Dan supaya dia mendapatkan dari pendapat-pendapat yang berbeda itu, PANDANGAN YANG JELAS". (Kitab Alfaazh wa ma Faahim fi Mizaanis Syariah).
Ibnu Mas'ud pernah berkata: "Wahai para manusia, barang siapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui, maka katakanlah (jelaskanlah). Dan barangsiapa yang tidak mengetahui tentang ilmu itu, maka supaya mengatakan: Allah yang lebih tahu".
Syahran.
10-Februari-2006.