Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: WHICH IS UR FAVOURITE LEADER OF PAKISTAN? · More of this
    Search
 

   

EKSPEDISI: 14 Hari di Sulawesi
EKSPEDISI: 14 Hari di Sulawesi - peta sulawesi
Pertengahan bulan februari lalu, saya & beberapa orang kepercayaan saya melakukan 'Tur Politis' di Sulawesi dengan Rute Nunukan-Ujung Pandang-Bone-Makassar-Pare Pare-Nunukan.

Saat berangkat dari pelabuhan Nunukan ke Ujung Pandang dengan menaiki kapal AWU, saya sempat bertemu dengan teman lama yang kuliah di Makassar. Kami sempat berdiskusi seputar SEPILIS. Kebetulan juga dia adalah salah satu anggota HMI MPO di Makassar. Bagi anda yang membaca tulisan ini & cukup ahli dengan HMI MPO, SEPILIS dan INTEKTUAL MUSLIM AHLU SUNNAH pasti sudah tahu bagaimana isi diskusi kami saat itu.

Setelah tiba dipelabuhan Ujung Pandang, saya & Kru 'Tur Politis' saya langsung berangkat kekabupaten Bone tepat pada malam hari. Di Rute Tur kami, sebagian post persinggahan & tempat sosialisasi memang cukup melelahkan tapi juga menyenangkan bagi saya, namun pada post-post tertentu sebagian Kru saya tidak terlihat menikmati suasana, terutama sewaktu masih melakukan perjalanan dari Ujung Pandang ke kota Bone, dimana transportasi darat kami yang berupa mobil Kuda & Kijang melewati tiga kawasan perbukitan yg
memiliki tanjakan tinggi ditambah dengan tikungan-tikungan yang tajam serta turunan yang terjal dan kondisi jalan yang sempit, berkabut dan sunyi sepi karena jalan tersebut membelah hutan-hutan diperbukitan. Sehingga sebagian Kru saya mengalami pusing, mual & muntah-muntah dengan 'lancarnya' akibat mabuk darat. Sedangkan saya yang memiliki fisik & antibodi yang prima serta cepat beradaptasi dikondisi extrim, hanya mampu tersenyum & sesekali tertawa melihat 'aksi' mereka beradaptasi.
Kami tiba dikabupaten Bone, kecamatan Awangpone, desa Carebbu destinasi utama kami tepat pukul 4 subuh. Setiap hari selalu dipenuhi dengan kesibukan-kesibukan sosialisasi, inilah Tur yang memiliki jadwal paling padat yang pernah saya sertai. Tapi semua kelelahan & kebosanan bersosialisasi bisa terobati dengan mandi disungai yang alami serta memiliki air yang jernih & bersih, mandinya setiap pagi & sore setiap hari. Cukup menjadi pengecas tenaga dipagi hari & penghilang kelelahan disore hari.

Banyak juga tantangan & hambatan ketika melakukan sosialisasi didaerah pedesaan, beberapa tantangannya adalah jalan yang tidak semulus perkotaan, penduduk yang sulit di-modern-kan terutama yang sudah berusia tua. Sedangkan yg berusia muda malah terjangkit dengan virus globalisasi yaitu Atheisme.
Sewaktu sosialisasi ketika kami ingin memberikan sebuah kerja bakti sosial berupa renovasi toilet umum, kendala pun kembali muncul. Bahan baku yang ingin dipergunakan sangat sulit ditemukan. Sebagian peralatan pertukangan & semen harus dibeli dipasar yang jauhnya 2 sampai 3 kilometer, sedangkan bahan baku pasir untuk semenisasi harus diambil sendiri didasar sungai. Tetapi, semua rintangan & hambatan tersebut memberikan kami pengalaman-pengalaman baru yang tidak mungkin didapat didaerah lain.

Setelah Tur kami rampungkan di Bone, kami melanjutkan perjalanan ke kota Makassar. Saya sempat jalan-jalan keberbagai pusat perbelanjaan disana & bersosialisasi kebeberapa Perguruan Tinggi seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar & Universitas Islam Makassar.
Sewaktu berada disalah satu pusat perbelanjaan yang bernama Makassar Trading Centre (MTC) saya sempat mengikuti perbincangan ringan disalah satu toko telpon seluler, saat itu sedang duduk berdiskusi 2 orang dosen, 1 orang yang mengaku alumni disalah satu Perguruan Tinggi di Makassar & beberapa mahasiswa setempat.
Mereka membicarakan mengenai isyu maraknya intelijen-intelijen asing yang masuk keperguruan tinggi di Makassar dengan misi mencari bibit-bibit agen rahasia mereka. Ulasan yang mereka utarakan cukup relevan dengan bukti-bukti dokumen, keterangan saksi-saksi & motif yang cukup terarah. Salah satu dosen menerangkan, memang wajar karena dengan melihat gaji seorang intelijen asing yang tidak bisa dikatakan sedikit seperti yang telah di dokumentasikan oleh METRO TV & majalah SABILI.
Kemudian kebutuhan para mahasiswa untuk membiayai kuliah mereka yang juga tidak bisa dikatakan kecil & biaya kehidupan mereka sehari-hari, ditambah lagi fasilitas kota Makassar yang memiliki banyak tempat-tempat perbelanjaan yang tentu akan menggiurkan para mahasiswa. Belum lagi jika dikaitkan pada gaya kehidupan-kehidupan yang negatif seperti klub malam, narkoba, judi serta kelompok-kelompok preman. Salah satu alumni juga sempat berkomentar bahwa aksi-aksi penjaringan bibit-bibit intelijen ini sudah
Berlangsung sejak mantan persiden RI Soeharto masih berkuasa & lokasi perekrutan tidak hanya pada Perguruan Tinggi saja tapi juga ke Organisasi-organisasi & yayasan-yayasan.
Saya juga sempat larut dalam diskusi nonformal tersebut, dengan sedikit gaya seorang intelek saya pun sempat bertanya, "kalau intelijen asing yang bermain, intelijen dari negara mana yang paling dominan merekrut mahasiswa-mahasiswa Makassar saat ini" salah satu dosen menjawab dengan logat Makassar yang bernada serius "negara australia & singapura mi".
Saya & Kru saya tidak terlalu lama berada di Makassar, jadwal kami disana hanya 3 hari walau sebenarnya saya masih punya urusan organisasi pengkaderan yang ingin saya selesaikan. Tapi karena padatnya jadwal & sedikitnya waktu serta keterbatasan ruang gerak, terpaksa harus saya tunda, lagi.

Setelah kota Makassar, kami lanjutkan lagi Tur kami ke kota Pare pare. Sebagian Kru sudah ada yang pulang lebih dulu ke Nunukan karena mengalami masalah kesehatan akibat kelelahan sewaktu di Bone. Dalam perjalanan ke Pare pare banyak pengalaman-pengalaman baru yang kami alami, terutama masalah dengan polisi lalu lintas & petugas dinas perhubungan.
Mobil yang kami gunakan hanya satu yaitu mobil Kijang yang diisi 10 orang dewasa & 3 anak-anak ditambah lagi barang-barang bagasi yang tidak sedikit jumlahnya, jadi boleh dibayangkan betapa padatnya isi mobil Kijang tersebut sehingga kami sendiri tahu betul resikonya jika dijalan bertemu dengan polisi atau petugas dinas perhubungan.
Kekhawatiran kami berubah menjadi kenyataan, sewaktu ingin keluar dari kota Makassar, mobil kami dihentikan oleh beberapa orang polisi yang kelihatannya sedang melakukan razia. Perasaan kami sudah tidak enak & bercampur gugup, tapi anehnya bukan polisi yang datang kemobil kami untuk melakukan pemeriksaan, tetapi seorang pria yang mengaku dari puskesmas setempat yang datang & ingin memberikan imunisasi kepada dua orang anak dari salah satu Kru kami yang kebetulan duduk didepan jadi mudah terlihat polisi.
Setelah pemberian imunisasi selesai, kamipun dibiarkan melanjutkan perjalanan. Sambil tertawa kami pergi secepat mungkin meninggalkan 'razia anak kecil' itu tadi.
Namun, disalah satu post polisi didekat daerah Maros, kami mendapatkan sebuah pengalaman berharga lagi. Ditempat itu polisi memang sudah benar-benar melakukan razia kendaraan & kamipun 'terjerat'. Supir kami bersiap-siap dengan surat-surat kendaraannya, tapi anehnya diatas surat-surat tersebut ditaruh uang 10 ribu rupiah. Ternyata uang itu digunakan untuk menyogok polisi yang memeriksa mobil kami, hanya dengan 10 ribu rupiah kami bebas tanpa pemeriksaan sedikitpun,
Malah surat-surat yang diberikan oleh supir kami pun tidak jadi diperiksa karena diatasnya ada uang 10 ribu rupiah. Begitu juga didaerah lain ketika mobil kami di stop oleh salah satu petugas dinas perhubungan, sopir kami hanya memberikan uang 10 ribu rupiah & petugas itupun tertawa lalu pergi meninggalkan mobil kami tanpa memberikan hukuman apa-apa. Andai saja kaset di Handycam kami masih ada ruang, pasti akan kami shooting aksi sogok yang terjadi pas ditengah jalan yang terbuka itu tadi.
Tanpa melalui 'dibawah meja' lagi.
Melihat aksi konyol itu, saya hanya bisa menggelengkan kepala, sebegitu MISKINNYA petugas-petugas disana.

Tiba di Pare pare kami tidak melakukan sosialisasi, karena jadwal disitu hanya untuk istirahat & rekreasi selama 2 hari 1 malam sambil menunggu kapal Agoa Mas tiba untuk berangkat kembali ke Nunukan. Tidak jauh dari tempat penginapan kami ada sebuah pantai yang bernama pantai Lumpue, saya sudah dua kali kepantai itu. Kali pertama kondisi pantai cukup bersih & nyaman walau semua pasirnya berwarna hitam tapi tetap puas bermandi air laut.
Tetapi pada Tur ini, pantai tersebut berubah karena sampah yang hanyut & berserakan ditepi pantai. Kali ini saya tidak mandi lagi dipantai itu seperti dulu, hanya sempat berphoto satu kali saja.
Pada malam hari setelah shalat isya dimasjid, saya sempat jalan-jalan sendirian disekitar daerah tempat kami menginap. Tapi karena sudah lupa dengan jalan-jalan didaerah itu sebab hampir 4 tahun saya tidak kedaerah itu lagi, saya pun tersesat!
Saya masuki sebuah jalan kecil yang saya kira menuju ketempat penginapan Kru kami tapi saya malah berputar-putar saja didaerah itu yang lokasinya gelap jadi jalan-jalan & perumahan menjadi tidak jelas letaknya. Sambil bingung & keringatan saya berpura-pura bertingkah santai agar tidak ketahuan oleh warga sekitar kalau saya lagi kesasar.
Setelah 'puas' berputar-putar, saya berinisiatif kembali ke masjid tadi & memikirkan ulang jalan pulang sewaktu saya kemasjid untuk sholat isya. Setelah sampai ketempat Kru saya menginap, saya pun tertawa didepan mereka sambil berkata " Waduuuh, tadi gue kesasar tau gak" langsung saja mereka jawab dengan tawa.

Besoknya setelah kapal Agoa Mas tiba dipelabuhan Pare-pare kamipun berangkat & meninggalkan Sulawesi tanpa hambatan yang berarti karena dikapal Agoa Mas kami menyewa salah satu kamarnya anak buah kapal. Televisi, tempat tidur, air minum & tempat mandi serta toilet sudah tersedia secara eksklusif.

Sebenarnya ada banyak pengalaman-pengalan yang ingin saya tuliskan disini mengenai Tur saya di Sulawesi, tapi karena jaringan internet yang biasa saya gunakan sedang mengalami kekacauan tekhnis (IM3) jadi tidak memungkinkan saya online dengan stabil.


Syahran.
Khamis, 9-Maret-2006

   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 20775   Help/FAQ   Terms   Imprint