Welcome, guest. You are not logged in.
Language / Choose language
 
Username Password  
Today: WHICH IS UR FAVOURITE LEADER OF PAKISTAN? · More of this
    Search
 

   

ARTIKEL: Karunia Allah Seharusnya di Syukuri
ARTIKEL: Karunia Allah Seharusnya di Syukuri - otak
Dalam dunia ini kondisi mental dan psikologis setiap muslim semakin berbeda-beda, dimana ada Intelektualis ada juga yang Dungu, ada yang Zuhud ada juga yang Gila Jabatan, ada yang masih berjalan dijalan yang lurus ada juga yang telah Sesat. Saya membagi mereka menjadi dua kelompok muslim yang berbeda, yaitu KELOMPOK POSITIF dan KELOMPOK NEGATIF. Dikelompok Positif sudah tentu tidak mengalami masalah yang serius dalam hidup (dunia) dan matinya (akhirat). Sedangkan pada dikelompok Negatif, sebenarnya
memiliki beberapa potensi yang baik juga tapi lebih dominan kekurangannya. Terlepas dari itu semua, sebenarnya kedua kelompok itu hanya menjalankan peranan mereka saja dikehidupan ini.
Walau demikian, saya ingin mengkritisi beberapa fenomena yang biasa terjadi. Dikelompok Negatif, ada sebagian besar individu yang mengklaim merekalah yang benar dan paling benar, mereka membaca kitab tapi tidak memiliki kepintaran untuk memahaminya, mereka melihat tapi tidak mengerti apa yang sedang mereka lihat,
mereka berceramah dimimbar-mimbar tapi tidak mampu mengerti apa yang mereka ceramahkan, mereka meyulitkan sesuatu yang sebenarnya bisa dipermudah. Orang-orang seperti itu hanya akan membawa musibah demi musibah dikehidupan mereka dan orang lain. Sabda Rasulullah SAW:
"Kalian harus mengikuti jalan yang lurus dan mudah, karena barangsiapa menentang perkara agama ini, maka ia dapat dikalahkan dengan mudah" (HR. Al-Marwazi, Hakim, Baihaqi dan Ahmad)

Coba perhatikan lingkungan daerah kita, pasti terdapat kelompok Negatif disekitar kita,
mereka merasa sudah sholeh, alim dan bertakwa hanya dengan simbol-simbol dan seremonial saja, contohnya dengan simbol Surban dikepala, Jubah dan Tasbih. Dengan simbol tersebut mereka merasa sudah memiliki pondasi yang benar daripada orang lain dalam berdakwah. Tapi mereka tidak sadar bahwa tingkah laku demikian itu adalah hal-hal yang diada-adakan dan sangat berlebihan yang nantinya akan berujung pada musibah bencana. Mereka tidak bisa membedakan mana kebenaran dan mana kepalsuan. Rasulullah SAW bersabda:
"Jauhkanlah dirimu dari sikap berlebih-lebihan dalam beragama, karena sesungguhnya orang yang berlebih-lebihan dalam beragama sebelummu itu telah binasa" (HR. Bukhari dan Muslim)

Dikelompok yang satunya lagi, yaitu kelompok Positif yang sudah semakin sulit ditemukan, setiap muslimnya memiliki konsistensi dalam beragama, cerdas dalam berdakwah dan dinamis dalam berjihad. Mereka inilah Agen Perubahan sejati yang kuat, pintar lagi sholeh dengan idiologi dan pondasi keislamannya yang benar dan tanpa tercemar
oleh Kefasikan yang Ghuluw. Mereka akan selalu melawan arus dunia yang tidak mendukungnya dalam menegakkan agama Allah, mereka bersumpah akan berjuang dan konsisten sampai maut menjemput. mereka akan menantang dunia yang semakin Hedonis, pemimpin yang gila jabatan, orang fasik yang jahil lagi dungu dan fitnah para Ulama Su'. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah senantiasa tetap tinggi maka itulah yang berada dijalan Allah" (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits tersebut hanya menyebutkan orang yang menegakkan agama Allah saja, jadi bagi kaum PLURALIS yang juga menegakkan dan mendukung agama kafir serta mengangkat orang kafir menjadi penegaknya, maka mereka bukanlah orang-orang yang berada dijalan Allah, mereka adalah orang-orang yang sesat dan difase tertentu mereka telah kafir seperti anak panah yang keluar dari busurnya karena menyekutukan agama Allah dengan agama lain melalui Pluralisme, Pondasinya Syetan Laknatullah!.

Rasulullah SAW telah membedakan antara orang yang berilmu dengan yang bodoh serta memberitahukan betapa pentingnya ilmu bagi peradaban umat islam. Beliau bersabda:
"Perumpamaan ummat ini seperti empat orang: Seorang yang dikaruniai harta dan ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkan ilmunya dengan hartanya, Seorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah tetapi tidak dikaruniai harta lalu dia berkata 'Wahai Tuhan, seandainya aku punya harta seperti sifulan niscaya aku bisa beramal dengannya seperti amalnya', maka kedua orang ini mendapatkan pahala yang sama (ini merupakan keinginan dari orang tersebut untuk bisa beramal kebaikan seperti saudaranya tanpa mengharapkan lenyapnya
ni'mat yang didapatkan), Seorang yang dikaruniai harta tetapi tidak dikaruniai ilmu lalu dia membelanjakannya dalam kemaksiatan kepada Allah. Dan seorang yang tidak dikaruniai ilmu dan tidak pula dikaruniai harta lalu dia berkata, 'Seandainya aku punya harta seperti sifulan niscaya aku bisa membelanjakannya seperti dia membelanjakannya dalam kemaksiatan', maka dosa kedua orang ini adalah sama" (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Jika Allah telah memberikan karunianya berupa kepintaran dan kecerdasan, janganlah kamu cemburu, iri dan dengki dengan kepintaran, kecerdasan maupun kesholehannya dalam hal agama dan kehidupan. Sehingga kamu mencoba untuk menipu kerabat serta lingkungannya dengan cara menambah-nambah perkataan-perkataan yang sebenarnya tidak ada didalam al-Qur'an dan Hadits Rasulullah SAW, serta memberikan mereka hujjah dengan hadits-hadits yang lemah dan palsu, itu bukanlah keikhlasan dalam beragama
karena kebodohan kamu mempelajarinya. Allah SWT berfirman dalam al-Qur'an:
"Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari mereka sendiri." (QS. Al-Baqarah: 109).

Diantara kebodohan dalam beragama adalah sikap menambah-nambah simbol agama seperti masalah surban tadi, mereka menganggap memakai surban adalah ibadah yang akan mendatangkan pahala hanya dengan berlandaskan kepada Hadits yang sekiranya mereka
pelajari dengan lebih teliti dan ikhlas, maka kepalsuan dan bid'ah akan terbongkar.
Diantara Hadits yang paling banyak diikuti oleh orang-orang yang fasik tersebut adalah:
"Perbedaan antara kita dengan orang-orang musyrik adalah mengenakan surban diatas songkok" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Pelajarilah dengan seksama, Hadits tersebut adalah hadits lemah, karena Imam Tirmidzi sendiri melemahkan Hadits itu dan berkata setelah menyebutkannya:
"Ini adalah hadits Gharib (aneh), sanadnya tidak baik. Kami tidak mengenal Abu Hasan Al-Asqalani dan tidak pula Ibnu Rukanah" mereka adalah perawi hadits tersebut. Adz-Zahabi dalam biografi Abu Ja'far berkata, "Ia tidak dikenal, sementara yang meriwayatkan darinya hanyalah Abu Hasan. Lalu siapa pula Abu Hasan?" beliau berkata pula tentang biografi Abu Hasan, "Ia menyendiri dalam meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Rabi'ah al-Kilabi dalam sanad yang palsu" yaitu hadits tadi.
Lalu Al-Khatib berkata juga "Ia tidak Tsiqah (terpercaya)" walau hadits-hadits mengenai surban cukup banyak dan Imam An-Nawawi serta Suyuthi telah menyebutkan bahwa hadits lemah bisa saja menjadi kuat bila memiliki jalur perawian yang banyak, selama jalur-jalur perawian itu tidak ada perawi yang matruk (diabaikan) atau dituduh pendusta. Sementara semua hadits-hadits surban yang dianggap sunnah dan bukan tradisi arab semata, adalah hadits-hadits lemah dan bahkan sangat lemah,
Jalur-jalurnya adalah orang-orang yang dituduh berdusta dan perawi-perawi yang diabaikan. Perawi seperti itu TIDAK DAPAT MENGUATKAN SUATU DALIL. Kemudian jika kita tinjau dari sudut pandang sejarah yang faktual, bukankah surban dan jubah sering dipakai juga oleh Abu Jahal dan Abu Lahab yang jelas-jelas musyrik dan kafir laknatullah???

Jika kita memikirkan lebih dalam bahwa kecemburuan, iri dan dengki terhadap kepintaran seseorang yang berilmu dan beriman, maka sifat tersebut adalah benar-benar sebuah kesesatan yang sesat dan menyesatkan. Mu'awiyah berkata:
"Semua orang aku bisa membuatnya ridha kecuali orang yang mendengki kenikmatan karena tidak ada yang dapat membuatnya ridha kecuali lenyapnya kenikmatan itu"
Seorang arab badui pula berkata:
"aku tidak melihat orang zhalim yang menyerupai orang yang terzhalimi kecuali pendengki, sesungguhnya dia melihat nikmat yang kamu dapatkan sebagai kutukan bagi dirinya"
Orang-orang yang cemburu, iri dan dengki terhadap karunia Allah SWT seperti kepintaran orang lain yang juga adalah makhluk ciptaannya, tentu orang tersebut sangat cocok disebut sebagai orang yang PALING BURUK AQIDAHNYA.

Syahran
Sabtu, 18 Maret 2006.

   
 Top


Advertise on our site! Click here

 powered by Peperoni.de Users online right now: 13110   Help/FAQ   Terms   Imprint